• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebab-sebab Terjadinya Defisit Anggaran Pemerintah

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.8. Sebab-sebab Terjadinya Defisit Anggaran Pemerintah

1. Mempercepat pertumbuhan ekonomi, untuk mempercepat pembangunan diperlukan investasi yang besar dan dana yang besar pula. Apabila dana dalam negeri tidak mencukupi, biasanya negara elakukan pilihan dengan meminjam ke luar negeri untuk menghindari pembebanan warga negara apabila kekurangan itu ditutup melalui penarikan pajak.

2. Rendahnya daya beli masyarakat, masyarakat di negara berkembang seperti Indonesia yang mempunyai pendapatan per kapita rendah, dikenal mempunyai daya beli yang rendah pula. Sedangkan barang-barang dan jasa-jasa yang dibutuhkan, harganya sangat tinggi karena sebagian produksinya mempunyai komponen impor, sehingga masyarakat yang berpendapatan rendah tidak mampu membeli barang dan jasa tersebut. Barang dan jasa tersebut misalnya listrik, sarana transportasi, BBM, dan lain sebagainya. Apabila dibiarkan saja menurut mekanisme pasar, barang-barang itu pasti tidak mungkin terjangkau oleh masyarakat dan mereka akan tetap terpuruk. Oleh karena itu, negara memerlukan pengeluaran untuk mensubsidi barang-barang tersebut agar masyarakat miskin bisa ikut menikmati.

3. Pemerataan pendapatan masyarakat, pengeluaran ekstra juga diperlukan dalam rangka menunjang pemerataan di seluruh wilayah. Indonesia yang mempunyai wilayah sangat luas dengan tingkat kemajuan yang berbeda-beda di masing-masing wilayah. Untuk mempertahankan kestabilan politik, persatuan dan

kesatuan bangsa, negara harus mengeluarkan biaya untuk misalnya, pengeluaran subsidi transportasi ke wilayah yang miskin dan terpencil, agar masyarakat di wilayah itu dapat menikmati hasil pembangunan yang tidak jauh berbeda dengan wilayah yang lebih maju. Kegiatan itu misalnya dengan memberi subsidi kepada pelayaran kapal perintis yang menghubungkan pulau-pulau yang terpencil, sehingga masyarakat mampu menjangkau wilayah-wilayah lain dengan biaya yang sesuai dengan kemampuannya.

4. Melemahnya nilai tukar, Indonesia yang sejak tahun 1969 melakukan pinjaman luar negeri, mengalami masalah apabila ada gejolak nilai tukar setiap tahunnya. Masalah ini disebabkan karena nilai pinjaman dihitung dengan valuta asing, sedangkan pembayaran cicilan pokok dan bunga pinjaman dihitung dengan rupiah. Apabila nilai tukar rupiah menurun terhadap mata uang dollar AS,maka yang akan dibayarkan juga membengkak. Sebagai contoh APBN tahun 2000, disusun dengan asumsi kurs rupiah terhadap dollar AS sebesar Rp. 7.100,-, dalam perjalanan tahun anggaran telah mencapai angka Rp. 11.000,- lebih per US$ 1.00. Apa artinya? Bahwa pembayaran cicilan pokok dan bunga pinjaman yang diambil dari APBN bertambah, lebih dari apa yang dianggarkan semula. Pengeluaran Akibat Krisis Ekonomi Krisis ekonomi Indonesia yang terjadi tahun 1997 mengakibatkan meningkatnya pengangguran dari 34,5 juta orang pada tahun 1996, menjadi 47,9 juta orang pada tahun 1999.3 Sedangkan penerimaan pajak menurun, akibat menurunnya sektor-sektor ekonomi sebagai dampak krisis itu, padahal negara harus bertanggung jawab untuk menaikkan

daya beli masyarakat yang tergolong miskin. Dalam hal ini negara terpaksa mengeluarkan dana ekstra untuk program-program kemiskinan dan pemberdayaan masyarakat terutama di wilayah pedesaan yang miskin itu.

5. Pengeluaran karena inflasi, penyusunan anggaran negara pada awal tahun, didasarkan menurut standar harga yang telah ditetapkan. Harga standar itu sendiri dalam perjalanan tahun anggaran, tidak dapat dijamin ketepatannya. Dengan kata lain, selama perjalanan tahun anggaran standar harga itu dapat meningkat tetapi jarang yang menurun.

Apabila terjadi inflasi, dengan adanya kenaikan harga-harga itu berarti biaya pembangunan program juga akan meningkat, sedangkan anggarannya tetap sama. Semuanya ini akan berakibat pada menurunnya kuantitas dan kualitas program, sehingga anggaran negara perlu direvisi.

2.9 Hubungan Teoritis antara Defisit Anggaran, PDB dengan Inflasi

Menurut perspektif ahli moneter, penawaran uang akan mendongkrak inflasi. Jika kebijakan moneter diterapkan terhadap defisit anggaran, penawaran uang terus meningkat dalam waktu yang lama. Permintaan agregat meningkat sebagai hasil dari pembiayaan defisit ini, yang menyebabkan output meningkat di atas tingkat output alamiah. Permintaan tenaga kerja yang meningkat akan menaikkan upah, yang pada gilirannya menyebabkan pergeseran penawaran agregat kearah menurun. Setelah

kurun waktu tertentu ekonomi kembali ke tingkat output alami. Akan tetapi, ini terjadi dengan biaya pada tingkat harga lebih tinggi secara permanen.

Menurut pandangan ahli moneter, defisit anggaran bisa menyebabkan inflasi, tetapi hanya sampai tingkat di mana defisit anggaran tersebut ditalangi (Hamburger dan Zwick, 1981). Dalam model ahli moneter (dan neo-klasik), perubahan tingkat inflasi sangat tergantung pada perubahan penawaran uang. Umumnya, defisit anggaran tidak menyebabkan tekanan yang bersifat inflasi, tetapi mempengaruhi tingkat harga melalui dampaknya pada agregat uang dan ekspektasi publik, yang pada gilirannya memicu pergerakan harga. Hubungan sebab-akibat penawaran uang didasarkan pada teori uang terkenal Milton Friedman, yang menyatakan bahwa inflasi kapan saja dan di mana saja selalu merupakan fenomena moneter.

Teori tersebut menjelaskan bahwa pertumbuhan harga secara terus menerus dan menetap selalu didahului atau disertai dengan peningkatan berkelanjutan dalam penawaran uang. Ekspekatasi hubungan sebab-akibat bekerja melalui kendala anggaran antar waktu, yang mengimplikasikan bahwa pemerintah harus mengalami defisit masa sekarang, dan pada masa mendatang akan mengalami surplus anggaran (Walsh, 1998). Satu cara yang mungkin untuk menghasilkan surplus adalah dengan meningkatkan pendapatan dari pencetakan uang (seignorage), sehingga publik mungkin mengharapkan pertumbuhan uang masa mendatang. Hubungan defisit-inflasi juga dibahas dengan mempertimbangkan efek langsung defisit-inflasi pada utang yang belum dilunasi, pendapatan pajak dan pembelanjaan pemerintah. Interaksi

dinamis antara defisit pemerintah dan inflasi bisa berlangsung dalam salah satu dari dua arah. Efek inflasi mengurangi nilai riil utang yang menonjol, atau inflasi memperburuk posisi fiskal pemerintah disebabkan keterlambatan penagihan, yang mengurangi pendapatan riil pemerintah (Dornbusch, 1990). Penurunan pendapatan itu sendiri diterima sebagai faktor pendukung dalam proses inflasi oleh peningkatan penawaran uang untuk membiayai defisit yang dipicu inflasi ini (Tanzi, 1991’ Aghevli & Khan, 1978).

Penelitian empiris tentang hubungan antara defisit dan inflasi menghasilkan hasil-hasil yang saling bertentangan. Walaupun arah sebab-akibat umumnya diterima dari defisit ke inflasi namun bukti empiris tentang sebab-akibat satu arah ini tidak konklusif (misalnya, Abizadeh & Yousefi, 1998; Ahking & Miller, 1985; Barnhart & Darrat, 1988; Dwyer, 1982; Hamburger & Zwick, 1981; Hondroyannis & Papapetrou, 1997). Walaupun beberapa studi memberikan hasil yang mendukung ide bahwa inflasi disebabkan defisit, namun dalam banyak studi tidak ada bukti yang signifikan. Di lain pihak, Aghevli dan Khan (1978), Ahking dan Miller (1985), Barnhart dan Darrat (1988), Hondroyiannis dan Papapetrou (1997) menemukan hubungan sebab-akibat dua-arah antara defisit dan inflasi. Sebagian besar studi empiris menyesuaikan pendekatan ad hoc dengan menggunakan teknik ekonometrika.

Tampaknya hubungan “defisit anggaran-inflasi” ternyata menunjukkan interaksi dua-arah, yaitu bukan hanya defisit anggaran melalui dampaknya pada uang dan ekspektasi menimbulkan tekanan inflasi, tetapi inflasi yang tinggi juga kemudian

mempunyai efek feedback yang mendongkrak defisit anggaran. Pada dasarnya, proses ini bekerja melalui keterlambatan yang signifikan dalam penagihan pajak. Masalahnya terletak pada fakta bahwa saat pengumpulan pajak dan saat pembayaran yang seharusnya dilakukan tidak bertepatan dengan pembayaran yang biasanya dilakukan di hari kemudian. Menurut pandangan ini, inflasi tinggi selama keterlambatan waktu seperti ini akan mengurangi beban pajak riil. Karena itu mungkin dialami fenomena penguatan-sendiri sebagai berikut: berlarut-larutnya defisit anggaran menjadikan inflasi membubung tinggi, yang pada gilirannya menurunkan pendapatan pajak riil; kemudian penurunan dalam pendapatan pajak riil mengharuskan peningkatan lebih jauh pada defisit anggaran dan seterusnya. Dalam literatur ekonomi ini biasanya disebut sebagai efek Olivera-Tanzi.

Seperti yang ditunjukkan Sachs dan Larain (1993), bukti dari negara-negara sedang berkembang pada tahun 1980-an menguatkan kesimpulan bahwa proses penguatan-sendiri ini juga bisa mengganggu stabilitas ekonomi dan menyebabkan inflasi yang sangat tinggi. Beberapa peneliti juga mengajukan bahwa pembiayaan defisit anggaran dengan menggunakan akumulasi utang domestik ternyata hanya menangguhkan pajak inflasi. Jika pemerintah menalangi defisit anggarannya dengan mencetak uang sekarang, maka di masa mendatang beban menangani stok utang pemerintah yang sudah ada sebelumnya akan lebih mudah. Pembayaran bunga yang menambah pengeluaran pemerintah di periode berikutnya tidak akan menimbulkan tekanan tambahan pada otoritas fiskal dan defisit tidak akan meningkat seiring

berjalannya waktu. Seperti yang ditegaskan Sachs dan Larrain (1993), “meminjam hari ini bisa menangguhkan inflasi, tetapi dengan risiko inflasi yang bahkan lebih tinggi di masa mendatang”.

Sargent dan Wallace (1981) mengamati bahwa bila otoritas fiskal menetapkan anggaran secara tersendiri, otoritas moneter hanya bisa mengontrol ketepatan-waktu inflasi. Baru-baru ini muncul teori dengan arah baru, yang juga bisa dipandang sebagai perluasan dari hipotesa inflasi ditangguhkan. Menurut teori fiskal baru tentang tingkat harga (lihat Komulainen & Pirttila, 2000 dan Carzoneri, Cumby & Diba, 1998) ada dua aturan untuk penentuan harga. Yang pertama disebut dengan rezim “dominan moneter”, dimana kebijakan moneter menentukan tingkat harga, dan kebijakan fiskal akan bereaksi terhadap kebijakan moneter. Pemerintah menyeimbangkan batasan antar-waktunya dengan menerima inflasi sebagaimana terjadi. Sebaliknya, dalam rezim “dominan fiskal”, tingkat harga ditentukan oleh batasan anggaran antar-waktu. Jika surplus masa mendatang tidak cukup untuk menutupi defisit, tingkat harga harus disesuaikan ke level lebih tinggi, yang menurunkan nilai riil utang pemerintah. Kebijakan moneter akan bereaksi terhadap rezim “dominan fiskal”: penawaran uang bereaksi terhadap perubahan tingkat harga untuk membawa persamaan permintaan uang kepada titik keseimbangan (Carlston & Fuerst, 1999).

Dokumen terkait