• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 . Dampak teori konstrutivisme bagi siswa yang belajar

3. Dampak teori konstruktivisme bagi guru fisika

Kaum konstruktivisme beranggapan bahwa mengajar bukan memindahkan pengetahuan dari otak guru ke siswa. Kaum ini mengatakan bahwa mengajar adalah lebih merupakan kegiatan yang membantu siswa sendiri membangun pengetahuannya. Maka peran guru fisika zaman ini seharusnya adalah hanya sebagai mediator dan fasilitator, tidak lagi mentransfer pengetahuan yang ia miliki ke siswanya. Jadi dengan kata lain tugas guru hanya sebagai pembantu siswa dalam proses mengkonstruksi pengetahuannya sendiri demi hasil yang lebih baik.

Tugas guru sebagai mediator dan fasilitator (Suparno, 2007: 15) adalah sebagai berikut:

a. Menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan siswa ambil tanggungjawab dalam membuat perencanaan belajar, melakukan proses belajar dan membuat penelitian. Dengan kata lain guru hanya sebagai penyedia berbagai hal yang di luar jangkauan siswa misalnya dengan mengajarkan cara belajar fisika yang baik itu adalah dengan perbanyak latihan.

b. Menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang meransang keingintahuan siswa dan membantu mereka untuk mengekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikansikan ide ilmiahnya (Watt &

Pope, 1989 dalam Suparno, 2007:15). Hal ini dapat dilakukan dengan mengajak siswa berpergian kesuatu tempat yang dapat dijangkau dengan tidak mengorbankan pelajaran yang lainnya. Misalnya siswa diminta naik perahu bersama untuk menyeberangi sungai Kapuas. Kemudian guru lansung bisa mengkaitkan kegiatan ini dengan topik pelajaran fisika tentang vektor.

c. Menyediakan sarana yang meransang siswa berpikir secara produktif. Menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung belajar siswa. Guru dapat memotivasi siswa untuk belajar fisika karena fisika sebenarnya merupakan salah satu ilmu alam semesta ini yang sangat dekat dengan siswa. Guru perlu menyediakan pengalaman konflik (Tobin, Tippins & Gallard, 1994 dalam Suparno 2007: 15). Pengalaman konflik yang bisa guru sediakan misalnya dengan bertanya kepada siswa mengapa sinar matahari seakan-akan tidak pernah berakhir?

d. Memonitor, mengevaluasi dan menunjukkan apakah pemikiran siswa itu jalan atau tidak. Hal ini perlu dilakukan untuk melihat sejauh mana perkembangan belajar siswa. Dengan demikian guru dapat melihat kelemahan dan kelebihan yang telah dimiliki oleh siswa, sehingga segera melakukan perbaikan untuk mengatasi kelemahan siswa dan terus meningkatakan kelebihan yang telah dimiliki siswa.

Secara ringkas pendekatan mengajar yang konstruktivis dapat diungkapkan dalam sikap dan praktik berikut (Suparno, 2000 dalam Suparno 2007:17).

Sebelum guru mengajar

a. Guru mempersiapkan bahan yang mau diajarkan dengan saksama. Dengan mempelajari isi bahan secara mendalam dan juga latar belakang historis dan beberapa teknologi terkait. Hal ini sangat penting untuk dilakukan karena tanpa ini kita sebagai guru pasti tidak bisa berbuat banyak saat kita berhadapan dengan siswa.

b. Guru mempersiapakan alat-alat peraga/praktikum yang akan digunakan agar pembelajaran lancar. Untuk guru yang berada di daerah kita harus belajar lebih kreatif untuk merancang alat sederhana dalam menjelaskan topik yang memang butuh alat. Namun hal yang mesti diingat alat itu harus masuk akal atau realistis.

c. Guru mempersiapkan pertanyaan dan arahan untuk meransang siswa aktif belajar. Persoalan konkrit sehari-hari dapat digunakan untuk meransang siswa berpikir. Misalnya bertanya kepada siswa saat siswa pergi kesekolah naik apa? Coba kalian (bagian yang pakai motor/bagi yang tidak naik angkot coba kalian lihat jarum spidometer mobil yang kamu tumpang berapa) amati berapa kecepatan rata-rata motor yang kamu kendarai hingga kamu sampai di sekolah?

d. Guru perlu mempelajari pengetahuan awal siswa. Lewat pengetahuan awal ini dia bisa membantu siswa mengembangkan pengertiannya. Hal ini dapat dilakukan dengan bertanya hal-hal dasar kepada siswa contohnya apakah definisi gaya itu dan bagaimana persamaanya? Dari jawaban ini guru dapat

mengetahuan sedikit kelemahan dan kelebihan siswannya sehingga guru dapat menyesuaikan pengejaran fisika dengan metode yang paling cocok untuk dipilih.

Selama proses pembelajaran

a. Siswa dibantu aktif belajar, menekuni bahan. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan pertanyaan di awal pelajaran. Kemudian siswa diberi waktu beberapa menit untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan guru tersebut.

b. Siswa dipacu bertanya. Misalnya guru berkata ‘‘apakah siswa sudah mengerti dengan penjelasan bapak atau ibu’’ kalau belum mengerti silahkan bertanya.

c. Siswa diberi kesempatan untuk mengungkapkan pikirannya sehingga guru mengerti apakah gagasan mereka itu tepat atau tidak. Saat siswa mengungkapkan gagasannya guru hendaknya tidak lansung memberikan tanggapan yang berlebihan apabila gagasan siswa kurang benar. Siswa perlu diberi kesempatan beberapa menit untuk mengkonstruksi sendiri pengetahuan yang mereka dapat. Biarkan mereka memahami pelajaran dengan caranya sendiri.

d. Guru perlu mengadakan evaluasi yang terus-menerus dan menyertakan proses belajar dalam evaluasi itu. Evalusi ini penting dilakukan karena sebagai tolak ukur keberhasilan guru mengajar pada hari bersangkutan. Ini dapat dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan lisan atau

tertulis setelah pelajaran selesai. Misalnya apakah yang kalian ketahui tentang gerak lurus beraturan?(Suparno, 2007: 18).

Sesudah proses pembelajaran

a. Guru perlu memberikan pekerjaan rumah, mengumpulkannya serta mengoreksinya. Tanpa koreksi PR tidak banyak gunanya, karena siswa yang keliru tetap keliru bila tidak ditunjukkan dimana dia keliru.

b. Guru memberikan tugas lain untuk pendalaman materi. Misalnya dengan menugaskan siswa untuk mencari tahu di lingkungan mereka yang ada kaitannya dengan pelajaran hari ini.

c. Tes yang membuat siswa berpikir, bukan hafalan perlu dikembangkan guru. Misalnya menugaskan siwa untuk menganalisis kejadian disekitar lingkungan mereka sesuai dengan pemahaman yang mereka punyai.

Sikap yang perlu dipunyai guru

a. Siswa dianggap bukan tabularasa, tetapi sebagai subyek yang sudah tahu sesuatu.

b. Bila ditanya dan tidak dapat menjawab, guru tidak perlu marah dan mencerca mereka. Lebih baik mengakuinya dan mencoba mencari bersama. Perlu diingat oleh semua pengajar bahwa pada umumnya manusia tidak suka dikritik ataupun disalahkan apalagi kalau dicerca. c. Guru mengerti konteks bahan yang mau diajarkan sehingga dapat

menjelaskan secara kontekstual. Hal ini penting dilakukan karena pengajaran yang mau diterapkan berdasarkan pada KTSP, di mana guru

diberi keleluasaan dalam menentukan proses belajar mengajar yang mau dipakai.

d. Dalam belajar yang terpenting bukan bahan selesai, tetapi siswa belajar untuk belajar sendiri. Siswa perlu mengkonstruksi sendiri pengetahuannya agar mereka mempunyai pengalaman untuk belajar ketahap yang lebih mendalam lagi atau untuk melatih mereka dalam berpikir.

e. Guru memberi ruang untuk boleh salah bagi siswanya. Siswa masih dalam proses belajar, maka mereka boleh membuat kesalahan. Dari kesalahan itu mereka mereka dapat dibantu berkembang (Suparno, 2007: 19). Misalnya saat guru mengajukan pertanyaan guru langsung berkata ‘‘siswa-siswiku kalian jangan takut salah, jadi jawab saja pertanyaan saya sesuai dengan apa yang kalian ketahui’’. Hal semacam ini penting dilakukan karena berdasarkan pengalaman penulis saat guru bertanya kita bukannya tidak mau menjawab tapi takut dimarah atau jawaban kita belum selesai guru sudah langsung memotong perkataan kita.