• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 . Dampak teori konstrutivisme bagi siswa yang belajar

E. Metode Mengajar Guru

1. Metode Ekperimen atau Laboratorium

Secara umum metode eksperimen adalah metode mengajar yang mengajak siswa untuk melakukan percobaan sebagai pembuktian, pengecekan bahwa teori yang sudah dibicarakan itu memang benar. Jadi lebih untuk mengecek supaya siswa semakin yakin dan jelas akan teorinya. Metode ini sering disebut metode laboratorium (praktikum) karena percobaan biasanya dilakukan di laboratorium. Biasanya metode ekperimen bukan untuk menemukan teori, tetapi lebih untuk menguji teori atau hukum yang sudah ditemukan oleh para ahli. Namun dalam praktek guru dapat pula melakukan

ekperimen untuk menemukan teorinya atau hukumnya. Intinya guru anggap saja teori atau hukum itu belum ditemukan, dan siswa diminta untuk menemukannya. Tentu guru sudah tahu teori atau hukum sebelumnya dan bagi guru arah eksperimen jelas! Dengan metode ini siswa dapat merasa bangga dan yakin karena seakan-akan menemukan sendiri.

Metode eksperimen dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu eksperimen yang terencana atau terbimbing dan eksperimen bebas. Dalam banyak pembelajaran fisika di SMA kebanyakan eksperimen dipilih yang terbimbing atau terencana. Alasan utamanya dengan model eksperimen terbimbing hasilnya akan cepat selesai dan lebih teratur dan terarah, sehingga siswa tidak mudah bingung. Terlebih siswa-siswa di daerah terpencil seperti di Kabupaten Sintang, kalau metode ini dipakai maka harus mengunakan ekeperimen terbimbing. Dalam eksperimen hal yang semestinya diketahui guru adalah seluruh jalan percobaan sudah dirancang oleh guru sebelum percobaan dilakukan oleh siswa. Langkah – langkah yang harus dibuat siswa, peralatan yang harus digunakan, apa yang harus diamati dan diukur semuanya sudah ditentukan sejak awal. Lain halnya dengan eksperimen bebas, pada eksperimen bebas guru tidak memberikan petunjuk pelaksanaan percobaan secara rinci. Dengan kata lain siswa harus banyak berpikir maka eksperimen bebas ini kurang efektif kalau memang mau diterapkan pada anak SMA.

2. Metode Demonstrasi a. Pengertian

Demonstrasi berasal dari kata demonstration yang artinya pertunjukkan. Model pembelajaran dengan mengunakan metode demonstrasi diartikan sebagai model mengajar dengan pendekatan visual supaya siswa dapat mengamati proses, informasi, peristiwa, alat dalam pelajaran fisika. Tujuannya sangat jelas agar siswa lebih memahami bahan yang diajarkan lewat suatu kenyataan yang dapat diamati sehingga mudah dimengerti. Model demonstrasi dapat menolong siswa untuk mengamati sesuatu yang nyata dan bagaimana cara bekerjanya proses tersebut.

Model demonstrasi ini dapat bersifat konstruktivis bila dalam demonstrasi guru tidak hanya menunjukkan proses atau alatnya, tetapi disertai banyak pertanyaan yang mengajak siswa berpikir dan menjawab persoalan yang diajukan. Maka demonstrasi yang baik selalu diawali oleh pertanyaan-pertanyaan dari guru, sehingga siswa berpikir dan membuat hipotesis ataupun ide awal. Setelah itu baru guru menunjukkan demontrasinya dan siswa dapat mengamati apakah yang mereka pikirkan dan jawabkan itu sama dengan yang mereka amati. Selama proses demonstrasi berlangsung baik diawal ataupun diakhir demonstrasi guru tetap boleh terus bertanya kepada siswa dengan pertanyaan yang terus berkesinambungan itu, siswa diharapkan dapat terbantu untuk mengembangkan gagasannya dan aktif berpikir.

Dengan demikian, siswa bukan hanya melihat, tetapi aktif memikirkan, mengolah proses itu dalam pikirannya, dan mengambil kesimpulan. Hal ini penting dilakukan agar siswa tidak pasif dan pembelajaran yang konstruktivis dapat terwujud.

b. Bagaimana merencanakan demonstrasi yang baik

Agar demonstrasi sungguh berjalan dengan baik sesuai dengan yang direncanakan dan sungguh dapat membantu siswa mengerti, perlulah guru mempersiapkan apa yang mau didemonstrasikan, peralatannya dan juga kesiapan penyajiannya. Hal-hal yang dapat guru persiapkan antara lain:

• Guru mengidentifikasi prinsip atau konsep fisika yang mau diajarkan. Kemudian membuat design demonstrasi macam apa yang mau digunakan untuk menjelaskan prinsip atau konsep fisika yang mau diajarkan.

• Bila prinsip yang mau dijelaskan panjang, sebaiknya dipotong menjadi lebih pendek dan kecil sehingga mudah dijelaskan. Namun terkadang demonstrasi perlu perbagian makanya guru harus pandai membaca situasi.

• Rencanakan agar siswa sungguh terlibat dalam proses demonstrasi, misalnya siswa diminta maju ke depan kelas untuk melakukan pengukuran sendiri.

• Rencanakan peralatan yang digunakan secara teliti. Bila kelas kita luas, maka peralatan demonstrasi dipilih yang lebih besar sehingga nampak dari belakang.

• Cobalah peralatan demonstrasi itu sebelum pelajaran dimulai, sehingga guru siap dan tidak grogi dalam pelajaran sesungguhnya karena alat tidak berfungsi dengan baik.

• Persiapkan pertanyaan bagi siswa agar lebih terarah.

• Demonstrasi sebaiknya tidak lamban sehingga dapat membuat siswa bosan; juga tidak terlalu cepat sehingga siswa tidak mengerti apa-apa. Yang terpenting guru mengerti situasi siswa.

c. Hal yang perlu diperhatikan selama demonstrasi berlansung

Trowbridge & Bybee (1996) dalam Suparno (2007: 144) secara rinci menekankan apa yang perlu diperhatikan selama guru melakukan demonstrasi, yaitu:

• Sebaiknya siswa yang duduk di kursi bagian belakang diminta maju ke depan agar demonstrasi dapat mereka lihat dengan jelas.

• Bicaralah yang keras agar siswa dapat mendengar apa yang guru katakan.

• Libatkan siswa dalam proses, misalnya ikut mengamati, mengukur, mencatat hasil dan lain-lain.

• Mulailah dengan pertanyaan awal, suruh siswa membuat hipotesis, baru mulai ditunjukkan demonstrasi.

• Jelaskan apa yang guru lakukan, tujuannya dan prosesnya.

• Bila guru bertanya kepada siswa, beri waktu mereka untuk berpikir terlebih dahulu.

• Gunakan papan tulis untuk menulis tujuan dari demo ini sehingga siswa menjadi jelas dan lebih terfokus.

• Dalam mengambil kesimpulan, biarkan siswa menyimpulkan lebih dulu.

• Kadang demonstrasi perlu diulang beberapa kali agar jelas bagi siswa. • Dalam pelaksanaan demonstrasi perlu step by step, jangan

loncat-loncat sehingga siswa dapat menangkap apa yang guru demonstrasikan.

d. Beberapa model demonstrasi

Berdasarkan siapa yang aktif melakukan demonstrasi, apakah guru atau siswa, dapatlah dikelompokkan beberapa model demonstrasi, yaitu: • Guru yang berdemonstrasi dan siswa sebagai pengamat. Di sini siswa

kurang berpartisipasi.

• Demonstrasi dilakukan bersama oleh guru dan siswa. Misalnya siswa ikut mengukur, mengamati, mengumpulkan data, menjawab, menunjukkan alatnya dan lain sebagainya.

• Dilakukan oleh sekelompok siswa, yaitu mereka yang telah ditunjuk sebelumnya sehingga mereka dapat mempersiapkan diri dengan baik.

• Dilakukan oleh siswa secara pribadi, yaitu siswa yang telah ditunjuk dan siswa yang menawarkan diri namun guru harus membimbing sebelumnya agar kesalahan tidak mencolok saat presentasi dapat diminimalisir.

• Dilakukan oleh tamu undangan yang telah ditunjuk sebelumnya untuk mendemonstrasikan peralatan yang berhubungan dengan topik yang sedang dipelajari.

e. Kelebihan metode demonstrasi

Banyak guru suka menggunakan metode ini untuk mengajar fisika karena mereka beranggapan bahwa metode ini:

• Murah karena peralatan yang disediakan sedikit, sedangkan dalam praktikum biayanya lebih mahal karena peralatannya banyak. Untuk sekolah-sekolah yang ada di daerah khususnya di Kabupaten Sintang maka metode ini cukup baik untuk diterapkan.

• Sekolah di daerah sangat terbatas peralatannya sehingga praktikum sepertinya sulit untuk dilakukan. Selain itu peralatan untuk praktikum belum tentu ada dijual di pasaran tedekat.

• Dalam pelaksanaan demontrasi waktunya cukup singkat dibandingkan dengan praktikum karena demonstrasi biasanya guru sendiri yang melakukannya.

• Keamanan alat untuk demonstrasi cukup terjamin walaupun demonstrasinya harus menggunakan peralatan yang mudah pecah karena yang melakukan guru sendiri.

• Guru tetap dapat memberikan pertanyaan rangsangan kepada siswa untuk berpikir kristis.

f. Kelemahan metode demonstrasi dan cara mengatasinya Beberapa kelemahan metode demonstrasi (Sund, 1973:168):

• Demonstrasi tidak selamanya berhasil atau sukses meskipun sudah diuji sebelumnya. Dengan kata lain kemungkinan gagalnya cukup besar. Dengan demikian sebaiknya guru yang melakukan demonstrasi.

• Tidak semua topik dalam mata pelajaran fisika dapat diajarkan ke siswa dengan metode demonstrasi.

• Tidak semua guru mau repot karena demonstrasi perlu kreativitas yang tinggi.

• Jika merangkai alat dan membaca skalanya bisa salah. • Demonstrasi perlu skill dan ketelitian yang cukup memadai

Dari hal yang telah disebutkan di atas maka terlihat jelas bahwa faktor guru sangat menentukan berjalan atau tidaknya demonstrasi. Namum demikian sebaiknya demonstrasi dilakukan oleh guru dan siswa agar siswa tidak hanya jadi penonton, minimal libatkan mereka untuk mencatat data ataupun mengamati dengan seksama agar mereka mengerti dan bisa menarik kesimpulan.