BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
E. Dampak Terapi
jumlah keseluruhan pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari kemudian dikalikan 100%.
8. Identifikasi DTP meliputi : butuh obat tambahan, adanya interaksi antar komponen dalam obat dalam resep yang diberikan, munculnya efek samping, dosis yang diberikan kurang, dosis yang diberikan berlebih. Masing-masing DTP yang ditemukan disajikan dalam bentuk persentase.
9. Identifikasi masalah utama penyebab terjadinya medication error fase administrasi dan drug therapy problems yang terjadi dilakukan dengan melihat korelasi antara ME dan DTP yang ditemukan dengan hasil wawancara terhadap dokter, perawat apoteker, dan pasien, atau dapat juga dengan melihat
lembar catatan medik pasien sebagai pelengkap informasi dan disajikan dalam bentuk persentase.
I. Kesulitan Penelitian
Dalam proses pengambilan data pada penelitian mengenai evaluasi masalah utama kejadian medication error fase administrasi dan drug therapy problems pada pasien RS Bethesda Agustus-September 2008, peneliti mengalami beberapa kesulitan, antara lain kurangnya pengalaman peneliti dalam membaca catatan rekam medik pasien sehingga peneliti kesulitan dalam membaca tulisan dokter maupun perawat yang terdapat pada rekam medik. Selain itu peneliti juga terkadang mengalami kesulitan dalam mencari rekam medik yang dibutuhkan karena sedang digunakan oleh perawat atau dokter. Untuk mengatasi kesulitan tersebut, peneliti mencoba bertanya kepada perawat yang pada saat itu sedang berjaga di bangsal jika ada hal yang kurang dimengerti dari catatan rekam medik, serta peneliti mencari waktu yang tepat dimana rekam medik pasien sudah tidak digunakan oleh perawat. Peneliti juga mengalami kesulitan saat mengikuti perkembangan pasien secara langsung di bangsal yang dilakukan dengan wawancara singkat dengan pasien/keluarga pasien. Hal tersebut dapat terjadi karena keadaan atau kondisi pasien yang masih lemah atau saat pasien sedang tidur. Kesulitan ini tidak sepenuhnya dapat diatasi oleh peneliti, karena adanya keterbatasan waktu saat pengambilan data (bersamaan dengan masa perkuliahan).
Peneliti juga mengalami kesulitan dalam proses evaluasi data karena terdapat banyak keterbatasan yaitu data yang diambil dari rekam medik tidak
semuanya lengkap. Ada kemungkinan dokter maupun perawat tidak mencantumkan beberapa catatan ke dalam lembar rekam medik seperti tidak dicantumkannya diagnosis pasien maupun kekuatan (dosis) obat. Proses evaluasi data pada pasien hanya berdasarkan catatan yang terdapat pada rekam medik pasien yang bersangkutan.
35
Penelitian mengenai Evaluasi Masalah Utama Kejadian Medication Errors Fase Administrasi dan Drug Therapy Problems pada Pasien Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Agustus-September 2008 (Kajian Terhadap Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari) ini merupakan bagian dari penelitian payung dengan judul ”Evaluasi Masalah Utama Kejadian Medication Errors Fase Administrasi dan Drug Therapy Problems pada Pasien Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008”. Penelitian payung ini memuat tujuh subjudul lain yang masing-masing dikerjakan oleh peneliti yang berbeda.
Gambaran mengenai kedudukan penelitian ini dalam penelitian payung dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2. Bagan Kedudukan Penelitian Kajian Terhadap Penggunaan Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari dalam Penelitian Payung
Evaluasi Masalah Kejadian Medication Errors dan
Drug Therapy Problems pada Pasien RS. Bethesda Yogyakarta Periode Agustus 2008
Obat Golongan Kardiovaskuler
Obat Golongan Cerebrovaskuler
Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari dan
Reproduksi
Obat Golongan Antiemetic
Obat Gangguan Alergi dan Sistem
Imun Obat Gangguan Sistem Pernafasan Obat Gangguan Sistem Neuromuskular Obat Golongan Endokrin
Selama periode Agustus-September 2008, didapatkan jumlah kasus pasien yang ada di bangsal kelas III Rumah Sakit Bethesda yaitu sebanyak 97 kasus. Dari 97 kasus tersebut, terdapat 21 kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari. Selama periode tersebut tidak didapatkan kasus pasien rawat inap yang menggunakan obat gangguan sistem reproduksi, sehingga pada penelitian ini hanya mengevalusi masalah utama kejadian medication error fase administrasi dan drug therapy problems pada pasien RS Bethesda yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari periode Agustus-September 2008.
Pada penelitian ini dibahas mengenai profil kasus pasien di bangsal kelas III Rumah Sakit Bethesda yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari yang meliputi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, dan diagnosis utama, profil obat secara umum yang digunakan oleh 21 kasus pasien dan profil obat secara khusus yaitu profil obat gangguan sistem saluran urinari yang meliputi jumlah obat, jenis obat, bentuk sediaan, aturan pakai obat (meliputi kekuatan obat, frekuensi, dan durasi) serta masalah-masalah penyebab utama terjadinya medication error fase administrasi dan drug therapy problems yang muncul pada penggunaan obat gangguan sistem saluran urinari pada pasien RS Bethesda Agustus-September 2008.
A. Profil Kasus Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari
Profil kasus pasien di bangsal kelas III Rumah Sakit Bethesda yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari Agustus-September 2008
meliputi persentase kasus pasien berdasarkan kelompok umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, dan diagnosis utama.
1. Persentase kasus berdasarkan kelompok umur
Umur kasus pasien yang dirawat di bangsal kelas III RS Bethesda dan yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari dikelompokkan menjadi 2 kelompok yaitu kelompok umur dewasa (17-<65 tahun) dan lansia (>65 tahun).
Berdasarkan data pada gambar 3, dapat diketahui bahwa jumlah kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda lebih banyak pada pasien yang berumur 17-<65 tahun yakni sebesar 81%, sedangkan pada data dapat diketahui bahwa persentase kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari berumur >65 tahun adalah sebesar 19%.
Gambar 3. Distribusi Kelompok Umur Pasien di Bangsal Kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari
Pengelompokkan umur kasus pasien pada penelitian ini digunakan untuk menggambarkan kondisi kasus pasien di bangsal kelas III RS Bethesda yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari.
2. Persentase kasus berdasarkan jenis kelamin
Masing-masing kasus pasien di bangsal kelas III RS Bethesda yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari dikelompokkan berdasarkan jenis kelaminnya, yaitu kelompok laki-laki dan kelompok perempuan. Kasus pasien yang dirawat di bangsal kelas III RS Bethesda dan yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari paling banyak berjenis kelamin laki-laki yaitu sebesar 81%, sedangkan yang berjenis kelamin perempuan sebesar 19%.
Gambar 4. Pengelompokkan Jenis Kelamin Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem
Saluran Urinari
Pada penelitian ini tidak dapat dihubungkan antara jenis kelamin dengan pemakaian obat gangguan sistem saluran urinari. Hal ini dikarenakan tidak adanya perbedaan penggunaan obat gangguan sistem saluran urinari, baik dalam hal jenis obat, dosis, aturan penggunaan maupun cara penggunaan pada kelompok jenis kelamin laki-laki dan kelompok jenis kelamin perempuan.Pengelompokkan jenis kelamin kasus pasien pada penelitian ini digunakan untuk menggambarkan kondisi kasus pasien di bangsal kelas III RS Bethesda yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari.
3. Persentase kasus berdasarkan tingkat pendidikan
Masing-masing kasus pasien di bangsal kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari dikelompokkan berdasarkan tingkat pendidikan, yaitu kelompok tingkat pendidikan belum/tidak tamat SD, SD, SLTP, SLTA, Akademik, dan kelompok tanpa adanya keterangan tingkat pendidikan pasien.
Gambar 5. Pengelompokkan Tingkat Pendidikan Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menggunakan Obat Gangguan
Sistem Saluran Urinari
Berdasarkan data pada gambar 5, dapat diketahui bahwa jumlah kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda lebih banyak pada tingkat pendidikan SLTA yaitu sebesar 38,1%.
Pengelompokan kasus berdasarkan tingkat pendidikan ini digunakan untuk menggambarkan profil kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari.
4. Persentase kasus berdasarkan pekerjaan
Masing-masing kasus pasien di bangsal kelas III RS Bethesda Yogyakarta yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari dikelompokkan berdasarkan jenis pekerjaan, yaitu kelompok dengan jenis pekerjaan sebagai buruh, petani, pegawai swasta, dan tanpa adanya keterangan jenis pekerjaan pasien.
Gambar 6. Pengelompokkan Jenis Pekerjaan Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem
Saluran Urinari
Berdasarkan data pada gambar 6, dapat diketahui bahwa jenis pekerjaan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda lebih banyak pada jenis pekerjaan sebagai pegawai swasta yaitu sebesar 38,1%.
Pengelompokan kasus berdasarkan jenis pekerjaan ini digunakan untuk menggambarkan profil kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari.
5. Persentase kasus berdasarkan diagnosis utama
Kasus pasien di bangsal kelas III RS Bethesda yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari dibagi menjadi 3 kelompok besar, yaitu kasus dengan satu diagnosis utama, kasus dengan dua diagnosis utama, dan kasus dengan tiga diagnosis utama.
Diagnosis terbanyak dalam penelitian ini adalah batu ureter yaitu sebanyak 7 kasus atau sebesar 33,3%. Kasus lain memiliki diagnosis lebih dari satu diagnosis. Macam-macam diagnosis dapat dilihat dalam tabel VI.
Tabel VI. Pengelompokkan Diagnosis Utama Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari
No. Diagnosis Utama Jumlah
Kasus
Persentase (%)
Dengan Satu Diagnosis
1 Chronic Renal Failure (CRF) 3 14,3
2 Orchitis 1 4,8
3 Renal kolik dekstra 1 4,8
4 Retensi urin post cateter supra pubis 1 4,8
5 Uretrolithiasis dekstra 1 4,8
6 Cholesystitis 1 4,8
Dengan Dua Diagnosis
7 Retensi urin, hematuria 1 4,8
8
Kolik renal sinistra, Obstruksi uretra
sinistra 1 4,8
9
Batu ureter pyleum sinistra, Calexis
medial sinistra 1 4,8
10
Renal kolik dengan hidronefrosis, batu
ureter pyleum 1 4,8
11 Suspect CRF, obstruksi uropathy 1 4,8
12 Retensi urin, relaps hemolisis 1 4,8
13
Congestive Heart Failure (CHF), Cor
Pulmo Chronis (CPC) dekompensata 1 4,8
14 Appendiks akut, ISK/BSK 1 4,8
Dengan Tiga Diagnosis
15 Diabetes melitus, CRF, Glaukoma 1 4,8
16
Batu ureter sinistra, meteorism,
hidronefrosis 1 4,8
17
Abdominal pain, peritonitis umum,
appendiks akut perforata 1 4,8
18 Observasi dyspnea, palpitasi, CRF 1 4,8
B. Profil Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari
Profil obat pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda Agustus-September 2008, dapat ditinjau dari terapi obat secara keseluruhan (umum) dan secara khusus (terapi obat gangguan sistem saluran urinari). Secara umum profil obat kasus pasien digambarkan dengan jumlah dan jenis obat yang diberikan secara keseluruhan, sedangkan secara khusus digambarkan dengan jumlah obat, jenis obat, dan aturan pakai (meliputi dosis, frekuensi pemberian dan durasi pemberian) dari obat gangguan sistem saluran urinari.
1. Profil obat kasus pasien secara umum
Secara umum jumlah dan jenis obat yang digunakan pada 21 kasus pasien di bangsal kelas III RS Bethesda yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari Agustus-September 2008 dapat dilihat pada tabel VII.
Berdasarkan tabel VII diketahui bahwa jumlah obat yang pasien dapatkan yaitu minimal 3 jenis obat dan maksimal adalah 13 jenis obat. Banyaknya jumlah dan jenis obat yang diterima oleh pasien bergantung pada penyakit serta kondisi klinis pasien tersebut. Berdasarkan pada tabel VII, dapat diketahui bahwa kasus pasien yang menerima 8 jenis obat yaitu sebanyak 4 kasus atau sebesar 19%, kasus pasien yang menerima 3, 11, 12, dan 13 jenis obat sebanyak 1 kasus, kasus pasien yang menerima 5 dan 10 jenis obat sebanyak 2 kasus, dan kasus pasien yang menerima 6, 7, dan 9 jenis obat sebanyak 3 kasus.
Tabel VII . Jumlah Jenis Obat yang Digunakan pada 21 Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari
Agustus-September 2008
Jumlah Jenis Obat Jumlah
Kasus
Persentase % 3 jenis obat
Renax®, seftriakson, ketoprofen 1 4,8
5 jenis obat
Ketorolak, sefoperazon Na, siprofloksasin, ofloksasin, kalium diklofenak 1 4,8 amlodipin, CaCO3, asam folat, furosemid, Cernevit® 1 4,8
6 jenis obat
metampiron, Legres®, amoksisilin, sefotaksim, ranitidine, metamizol Na 1 4,8 seftriakson, metronidazol, ranitidin HCl, ketorolak, siprofloksasin,
asam mefenamat
1 4,8 asam asetilsalisilat, CaCO3, asam folat, nifedipin, diazepam, furosemid 1 4,8
7 jenis obat
furosemid, bromhexine HCl,
K I aspartat, kaptopril, paracetamol, ranitidine, attapulgite
1 4,8 CaCO3, asam folat, furosemid, digoxin, Exforge®, clonidin, alprazolam 1 4,8
ranitidine, Spasmium®, seftriakson, metronidazol, ketoprofen, ketorolak, metoclopramid
1 4,8
8 jenis obat
Spasmium®, paracetamol, ofloksasin, seftazidim,
metoclopramid HCl, ranitidine, asam traneksamat, ketorolak
1 4,8 siprofloksasin, ketorolak, seftriakson, Dycinon®,
asam traneksamat, sefiksim, Nutriflam®, ketoprofen
1 4,8 ketorolak, asam traneksamat, sefiksim, sulfas atrofin,
metamizol Na, kaptopril, Qten®, Alupent®
1 4,8 seftriakson, CaCO3,
asam folat, sefiksim, Ketosteril®, Nutriflam®, ATP, ketorolak
1 4,8
9 jenis obat
ranitidin, ketorolak, seftazidim, metronidazol, Stabactam®, kalium diklofenak, rebamipid, ketoprofen, sefditoren pivoksil
1 4,8 seftazidim, ketoprofen, Calcusol®, sefaklor, Calensol,
Alinamin F®, Mulax®, Ketesse, Provital plus®
1 4,8 paracetamol, asam traneksamat, xylladella, ranitidin, ketorolak, seftriakson,
ketoprofen, Nutriflam®, sefiksim
1 4,8
10 jenis obat
glimepirid, CaCO3, asam folat, nifedipin, irbesartan, Zypras®, insulin, sefadroksil, imidapril HCl, Epotrex®
1 4,8 seftriakson, ketorolak, furosemid, asam traneksamat, ranitidin, Nutriflam®,
ketoprofen, sefiksim, Zypras®, losartan
1 4,8
11 jenis obat
domperidon, Curcuma®, sefadroksil, paracetamol, vit.K, seftriakson, Multivitaplex, ranitidin, ketorolak, metronidazol, Enzyplex®
1 4,8
12 jenis obat
heksamina, domperidon, siprofloksasin,
Aspar K, furosemid, paracetamol, Nutriflam®, ketoprofen, sefiksim, seftriakson, ketorolak, asam traneksamat
1 4,8
13 jenis obat
CaCO3, asam folat, irbersartan, Sandostatin, pantoprazol, vit.K, amlodipin, seftriakson,
asam traneksamat, ketorolak, Ketosteril®, Nutriflam®, furosemid
2. Profil obat kasus pasien secara khusus
a. Jumlah dan jenis obat yang berhubungan dengan gangguan sistem
saluran urinari yang diterima pasien
Pasien yang menerima obat gangguan sistem saluran urinari dikelompokkan menjadi 4, yaitu pasien yang menerima 1 jenis obat ; 2 jenis obat ; 3 jenis obat ; dan 4 jenis obat.
Jumlah dan jenis obat yang berhubungan dengan gangguan sistem saluran urinari yang digunakan oleh 21 kasus pasien dapat dilihat pada tabel VIII.
Tabel VIII. Jumlah dan Jenis Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari yang Digunakan pada 21 Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda
Agustus-September 2008
Jumlah dan Jenis Obat yang Diterima Pasien Jumlah Kasus Persentase (%) 1 jenis obat sefadroksil sefiksim furosemid 1 4,8 1 4,8 4 19,0 2 jenis obat seftazidim → ofloksasin siprofloksasin → ofloksasin Renax®→ seftriakson sefotaksim → amoksisilin seftriakson → sefiksim seftriakson → metronidazol 1 4,8 1 4,8 1 4,8 1 4,8 2 9,5 1 4,8 3 jenis obat
seftazidim →Stabactam® → metronidazol seftriakson → siprofloksasin → metronidazol sefadroksil → seftriakson → metronidazol siprofloksasin → seftriakson → sefiksim seftazidim → sefaklor → Calcusol® seftriakson → sefiksim → Ketosteril® seftriakson→ furosemid → Ketosteril®
1 4,8 1 4,8 1 4,8 1 4,8 1 4,8 1 4,8 1 4,8 4 jenis obat
b. Jenis obat
Jenis obat yang berhubungan dengan gangguan sistem saluran urinari yang digunakan pada kasus pasien di bangsal kelas III RS Bethesda adalah jenis obat dari golongan obat antiinfeksi, diuretika kuat, antiseptik, obat saluran kemih dan kelamin golongan lain, serta suplemen dan terapi penunjang.
1) Antiinfeksi
Kelas terapi antiinfeksi digunakan untuk mencegah dan mengatasi terjadinya infeksi pada pasien. Penggunaan antiinfeksi ini harus dengan dosis dan durasi pemakaian yang tepat karena apabila pemakaiannya tidak tepat maka dapat menyebabkan terjadinya resistensi mikroba terhadap obat antiinfeksi tersebut.
Kelas terapi antiinfeksi yang digunakan terdiri sub-kelas terapi antibakteri dan antiprotozoa. Sub-kelas terapi yang paling banyak digunakan adalah antibakteri. Adapun golongan dan jenis antiinfeksi yang digunakan oleh pasien dapat dilihat pada tabel IX.
Tabel IX . Golongan dan Jenis Obat Antiinfeksi yang Digunakan pada Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem
Saluran Urinari Agustus-September 2008
No. Golongan
Antiinfeksi
Jenis Obat Jumlah
Kasus Persentase % Antibakteri 1. Kuinolon siprofloksasin 3 14,3 ofloksasin 2 9,5 2. Penisillin amoksisilin 1 4,8
3. Sefalosporin gen 1 sefadroksil 2 9,5
4. Sefalosporin gen 2 sefaklor 1 4,8
5. Sefalosporin gen 3 seftriakson 10 47,6
sefiksim 6 28,6 seftazidim 3 14,3 sefotaksim 1 4,8 6. Kombinasi Stabactam ® 1 4,8 Antiprotozoa 7. Amubasid metronidazol 4 19,0
Dari tabel IX, dapat diketahui bahwa penggunaan obat antiinfeksi terbanyak adalah pada kelas terapi antibakteri golongan sefalosporin generasi ketiga seperti seftriakson, sefiksim, seftazidim, dan sefotaksim. Dari golongan sefalosporin generasi ketiga tersebut yang paling banyak digunakan adalah seftriakson dengan persentase sebesar 47,6%.
Seftriakson merupakan antibiotik golongan sefalosporin generasi ketiga dan termasuk antibiotik beta laktam yang bekerja dengan cara menghambat sintesis dinding sel mikroba.
Penggunaan obat antibakteri banyak digunakan pada kasus pasien dengan gangguan sistem saluran urinari karena salah satu penyebab penyakit pada gangguan sistem saluran urinari adalah adannya infeksi dari bakteri, sehingga diperlukan antibiotik untuk membunuh bakteri tersebut.
2) Diuretik kuat
Diuretik kuat yang digunakan pada kasus pasien di bangsal kelas III RS Bethesda adalah furosemid. Furosemid merupakan diuretik kuat yang banyak digunakan dalam pengobatan pada kasus pasien dengan gangguan sistem saluran urinari yaitu sebanyak 8 kasus atau 38,1%. Golongan dan jenis diuretik kuat yang digunakan dapat dilihat lebih jelas pada tabel X.
Tabel X. Golongan dan Jenis Obat Diuretik Kuat yang Digunakan pada Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda yang Menggunakan Obat
Gangguan Sistem Saluran Urinari Agustus-September 2008 Golongan Obat Jenis Obat Jumlah
Kasus
Persentase (%)
Diuretik kuat Furosemid 8 38,1
Penggunaan jenis obat diuretik kuat pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS
Bethesda ini adalah untuk kasus pasien yang mengalami gangguan sistem saluran urinari yaitu pada pasien yang menderita penyakit gagal ginjal kronik. Diuretik kuat ini digunakan untuk membantu mengeluarkan cairan yang berlebih dari tubuh pasien. Diuretik kuat yang banyak digunakan adalah furosemid. Furosemid bekerja dengan menghambat reabsorpsi dari dari natrium dan klorida di ”loop” Henle ascending dalam tubulus ginjal.
3) Antiseptik
Golongan dan jenis obat antiseptik yang digunakan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda dapat dilihat pada tabel XI.
Tabel XI. Golongan dan Jenis Obat Antiseptik yang Digunakan pada Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda yang Menggunakan Obat Gangguan
Sistem Saluran Urinari Agustus-September 2008
Golongan Obat Jenis Obat Jumlah Kasus Persentase (%)
Antiseptik heksamina 1 4,8
Obat antiseptik digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi kronik saluran kemih. Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa obat antiseptik yang digunakan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda Agustus-September 2008 adalah heksamina dengan persentase sebesar 4,8%.
4) Obat saluran kemih dan kelamin golongan lain
Golongan dan jenis obat saluran kemih dan kelamin golongan lain yang digunakan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda dapat dilihat pada tabel XII.
Tabel XII. Golongan dan Jenis Obat Saluran Kemih dan Kelamin Golongan lain yang Digunakan pada Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari Agustus-September
2008
Golongan Obat Jenis Obat Jumlah Kasus
Persentase (%)
Obat saluran kemih dan kelamin golongan lain
Ketosteril® 2 9,5 Calcusol® 1 4,8
Dari tabel XII, dapat diketahui bahwa obat saluran kemih dan kelamin golongan lain yang digunakan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda Agustus-September 2008 adalah Ketosteril® dengan jumlah kasus yaitu sebanyak 2 kasus dengan persentase sebesar 9,5% dan Calcusol® dengan jumlah kasus yaitu sebanyak 1 kasus dengan persentase sebesar 4,8%.
5) Suplemen dan terapi penunjang
Golongan dan jenis obat suplemen dan terapi penunjang yang digunakan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda dapat dilihat pada tabel XIII.
Tabel XIII. Golongan dan Jenis Obat Suplemen dan Terapi Penunjang yang Digunakan pada Kasus Pasien di Bangsal Kelas III Rumah Sakit Bethesda yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem Saluran Urinari Agustus-September 2008
Golongan Obat Jenis Obat Jumlah
Kasus
Persentase (%)
Suplemen dan terapi penunjang
Renax® 1 4,8
Dari tabel di atas, dapat diketahui bahwa suplemen dan terapi penunjang yang digunakan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari di bangsal kelas III RS Bethesda Agustus-September 2008 adalah Renax® dengan jumlah kasus sebanyak 1 dengan persentase sebesar 4,8%.
c. Bentuk Sediaan
1) Antiinfeksi
Bentuk sediaan antiinfeksi yang paling banyak digunakan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari RS Bethesda Agustus-September 2008 adalah bentuk injeksi, dapat dilihat pada tabel XIV.
Tabel XIV. Bentuk Sediaan Antiinfeksi yang Digunakan Pada Kasus Pasien yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem saluran Urinari RS Bethesda
Agustus-September 2008
No. Bentuk Sediaan Jumlah Kasus Persentase (%)
1. Tablet (oral) 13 61,9
2. Injeksi 15 71,4
2) Diuretik Kuat
Bentuk sediaan diuretik kuat yang banyak digunakan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari RS Bethesda AgustusSeptember 2008 adalah bentuk injeksi, dapat dilihat pada tabel XV.
Tabel XV. Bentuk Sediaan Diuretik Kuat yang Digunakan Pada Kasus Pasien yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem saluran Urinari RS Bethesda
Agustus-September 2008
No. Bentuk Sediaan Jumlah Kasus Persentase (%)
1. Tablet (oral) 4 19,0
2. Injeksi 5 23,8
3) Antiseptik
Bentuk sediaan obat antiseptik yang banyak digunakan pada kasus pasien yang menggunakan obat gangguan sistem saluran urinari RS Bethesda Agustus-September 2008 adalah bentuk tablet (oral), dapat dilihat pada tabel XVI.
Tabel XVI. Bentuk Sediaan Obat Antiseptik yang Digunakan Pada Kasus Pasien yang Menggunakan Obat Gangguan Sistem saluran Urinari RS Bethesda
Agustus-September 2008
Bentuk Sediaan Jumlah Kasus Persentase (%)