• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Terhadap Pengembangan Fasilitas Masyarakat

BAB IV DAMPAK PERKEBUNAN NENAS PADA MASYARAKAT

4.4 Dampak Terhadap Pengembangan Fasilitas Masyarakat

Fasilitas yang terdapat dalam suatu daerah adalah salah satu penilaian bagaimana perkembangan daerah tersebut. Begitu juga dengan daerah Kecamatan Sipahutar dapat dilihat dari perkembangan fasilitas yang ada dalam masyarakat.

Pada tahun 1995, perkembangan perkebunan nenas terlihat dengan adanya perkembangan pembangunan jalan dan listrik ke desa-desa pedalaman yang merupakan daerah perkebunan nenas. Hal Ini terjadi dengan permintaan masyarakat kepada pemerintah untuk memperlancar pengelolaan perkebunan nenas, terutama dalam hal panen dan pendistribusian hasil produksi.

Setelah perkembangan perkebunan nenas, masyarakat membutuhkan pembangunan jalan kedesa-desa pedalaman sesuai lokasi perkebunan. Hal ini karena masyarakat harus mengangkut hasil perkebunan dari lokasi perkebunan. Begitu juga dengan mobil pengangkut yang membutuhkan sarana jalan untuk menjangkau setiap lokasi perkebunan.

Hasil dari produksi perkebunan tentunya berpengaruh terhadap peningkatan berbagai aspek kehidupan masyarakat selain fasilitas jalan juga terjadi peningkatan terhadap fasilitas pendidikan. Dapat dilihat dari bertambahnya jumlah sekolah di

Kecamatan Sipahutar. Sekolah ini didirikan karena kebutuhan dan minat masyarakat untuk menyekolahkan anak. Hal ini tentunya didukung juga dengan adanya perekonomian masyarakat dari hasil perkebunan nenas.

Pada tahun 2006 tesebar 39 sekolah dasar negeri, 5 SMPN, 3 SMP Swasta, 1 SMU Negeri, dan 2 SMK Swasta, perkembangan sekolah ini juga diikuti dengan bertambahnya jumlah siswa yang mengikuti pendidikan.

Fasilitas masyarakat semakin bertambah baik, seperti bangunan gereja yang diperbaiki dan dilengkapi dengan aula. Masyarakat membutuhkan aula untuk acara dan pertemuan besar seperti upacara adat. Hal ini bisa terjadi dengan hasil swadaya masyarakat untuk memperbaiki fasilitas yang mereka butuhkan. Masyarakat mampu mengerjakannya karena adanya ekonomi yang semakin baik.

Kegiatan masyarakat semakin lancar dengan adanya angkutan umum maupun milik pibadi. Hal ini membantu masyarakat untuk melakukan perjalanan ke kota maupun ke daerah diluar Kecamatan Sipahutar. Masyarakat semakin mudah mendapatkan kebutuhan dengan adanya toko atau warung yang semakin banyak berdiri di Kecamatan Sipahutar. Tentunya hal ini bisa berkembang karena daya beli masyarakat semkain meningkat dan tingkat kebutuhan masyrakat semakin banyak.

Perkembangan yang lainnya dapat dilihat dari berkembangnya warung kopi yang menjadi tempat perkumpulan para bapak. Dalam masyarakat Sipahutar terutama para bapak mempunyai kebiasaan untuk berkumpul di warung kopi setiap hari Sabtu

di sore harinya. Mereka menyatakan bahwa perkumpulan di hari Sabtu itu sangat diperlukan untuk membahas perkembangan harga nenas dan perkembangan pendistribusian nenas.

Perkembangan perkebunan nenas ini juga berpengaruh terhadap fasilitas usaha tani masyarakat. Fasilitas usaha tani ini merupakan suatu usaha yang membantu masyarakat untuk memudahkan mendapatkan bahan pertanian maupun alat-alat pertanian. Usaha tani ini merupakan kerjasama antara masyarakat yang saling membutuhkan dalam mengembangkan usaha pertanian atau perkebunan masing masing dengan membentuk suatu kelompok. Kelompok usaha tani ini beranggotakan maksimal 20 kepala keluarga, dan setiap kelompok memberi waktu untuk mengadakan rapat pada saat saat tertentu. Kelompok usaha tani ini juga dipantau oleh PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) yang membimbing masyarakat bagaimana mengelola pertanian sesuai jenis tanamannya dengan arahan dari pembibitan, pemupukan sampai pada pemanenan.36

Masyarakat menikmati fasilitas yang sudah tersedia karena adanya perkembangan perkebunan nenas. Masyarakat mampu mengikuti perkembangan setiap waktu secara perlahan baik ekonomi dan pendidikan. Masyarakat juga mampu melengkapi keperluan sekolah anak secara baik dan bahkan ada yang menyekolahkan

36Wawancara: R. Sianipar, anggota Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Sipahutar (14 Maret 2019)

ke luar Daerah Kecamatan Sipahutar. Perkembangan fasilitas masyarakat membantu pengembangan kehidupan masyarakat dalam mencapai kesejahteraan.

Pada tahun 1997 telah didirikan sebuah pabrik pengalengan nenas oleh pihak swasta. Pabrik ini didirikan karena perkembangan perkebunan nenas yang cukup cepat. Pabrik ini membantu masyarakat untuk penjualan hasil produksi nenas dengan harga yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Namun pada akhir tahun 1999 pabrik ini tutup karena kebutuhan jumlah nenas yang akan di olah tidak mencukupi.

Kebutuhan pabrik akan nenas mencapai 30 ton dalam satu hari untuk menyeimbangkan pengolahan dan pendistribusian nenas. Akan tetapi nenas di Kecamatan Sipahutar hanya mampu mencapai 8-10 ton per hari sehingga perusahaan tidak sanggup bertahan lama jika hanya mengelola 8-10 ton per hari. Masyarakat juga menganggap harga nenas yang ditawarkan oleh perusahaan kepada masyarakat terlalu murah yaitu Rp 300/kg. Masyarakat berusaha mengalihkan penjualan nenas ke pasar lokal. Keadaan ini mengakibatkan pabrik yang dibangun di Kecamatan Supahutar mengalami kebangrutan37.

Fasilitas dalam masyarakat semakin terpenuhi dengan adanya perkembangan toko-toko, warung, dan juga perkembangan transportasi dalam masyaratkat. Hal ini tentunya tidak terlepas dari perkembangan perkebunan nenas.

37Wawancara, S. Simanjuntak, Desa Onan Runggu 1 ( 14 Maret 2019)

BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Kecamatan Sipahutar merupakan salah satu dari 15 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara. Kecamatan ini memiliki masyarakat mayoritas Suku Batak Toba dan sangat menjunjung erat budaya serta adat Batak Toba.

Sebelum tahun 1950 masyarakat memenuhi kebutuhan hidup dengan hasil hutan kemenyan yang dimiliki sebagian masyarakat. Masyarakat juga sudah bercocok tanam, namun hanya sebatas memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan tanaman palawija dan juga tanaman muda seperti sayur. Masyarakat yang mayoritas petani hanya memahami bercocok tanam dengan penanaman tumpang sari.

Keterbatasan perekonomian masyarakat mengakibatkan tingkat pindidikan rendah. Selain faktor ekonomi, sebelum tahun 1995 fasilitas pendidikan juga masih terbatas.

Pada awalnya masyarakat tidak mampu meningkatkan perekonomian diakibatkan pengetahuan masyarakat akan mengelola lahan pertanian sangat terbatas.

Masyarakat mengeluh akan kondisi tanah yang kurang subur untuk ditanami tanaman muda. Hal mengakibatkan masyarakat melakukan percobaan penanaman dengan tumpang sari antara beberapa jenis tanaman yang berbeda.

Masyarakat melakukan perubahan pola pertanian dengan memahami jenis tanaman yang bernilai ekonomi yang bisa diperjualbelikan. Masyarakat belajar dengan pengalaman sendiri dalam kehidupan sehari-hari bagaimana sistem bercocok tanam dengan setiap tanaman yang berbeda. Pada tahun 1991 masyarakat tertarik dengan adanya tanaman pekarangan yang dikenal oleh masyarakat yaitu tanaman nenas, namun terjadi kendala dalam pengelolaan.

Masyarakat tertarik karena tanaman nenas ini bisa dibudidayakan dengan cara yang mudah dan peluang harga yang baik. Hal ini mendorong masyarakat untuk menanam tanaman nenas dengan jumlah yang lebih luas. Pada awal penanaman nenas masyarakat menjadikan tanaman nenas sebagai tanaman tumpangsari. Masyarakat belajar mengetahui bagaimana pertumbuhan dan perawatan tanaman nenas.

Pada tahun 1995 penanaman tanaman nenas sudah menyebar di sebagian besa daerah di Kecamatan Sipahutar. Masyarakat sudah memulai menanami satu lahan dengan tanaman nenas tanpa tumpangsari dengan tanaman yang lain. Masyarakat belajar dari pengalaman sehari-hari bagaimana cara bertanam nenas, karena pada saat itu belum ada penyuluhan pertanian dari pemerintah.

Pengembangan perkebunan nenas ini semakin luas sehingga pada tahun 2000 lahan penanaman nenas sudah mencapai 1.700 ha. Hampir setiap keluarga memiliki 1-3 ha lahan perkebunan nenas. Masyarakat semakin belajar bagaimana pengelolaan perkebunan nenas sehingga semakin yakin untuk memperluas penanaman tanaman nenas.

Perkembangan perkebunan nenas tidak terlepas dari peran pemerintah dalam pembangunan fasilitas seperti jalan kedaerah pedalaman dan juga listrik. Hal ini dilakukan karena kegagalan penanaman nenas pada tahun 1991 akibat terbatasnya fasilitas. Masyarakat menyampaikan permintaan pembangunan fasilitas utama yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat dalam pengembangan perkebunan nenas.

Perkembangan perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar, memberikan peningkatan perekonomian dan sebagai penunjang kesejahteraan masyarakat.

Masyarakat mengalami perubahan perekonomian, tingkat pendidikan , maupun kehidupan sosial dalam masyarakat. Masyarakat mampu mengikuti kegiatan sosial yang membutuhkan biaya bebsar seperti acara adat, arisan dan perkumpulan lainnya.

Perkembangan perkebunan nenas mempengaruhi kehidupan masyarakat secara merata di Kecamatan Sipahutar. Mayoritas masyarakat Kecamatan Sipahutar mengelola perkebunan nenas. Masyarakat memiliki wawasan yang semakin luas dengan mendapat pengaruh dari masyarakat luar. Mereka semakin terbuka dengan pengetahuan-pengetahuan baru, bagaimana meningkatkan perekonomian dengan dasar pengelolaan perkebunan nenas. Masyarakat mampu menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. Hal ini juga terjadi dengan kehidupan sosial dalam masyarakat. Masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pokok dan diluar pokok.

Tingkat konsumsi masyarakat juga semakin meningkat seperti memiliki barang-barang mewah.

Perkebunan nenas ini menjadi solusi yang menjawab permasalahan ekonomi dalam masyarakat walaupun tidak terlepas dari tantangan. Tantangan yang dihadapi

masyarakat terjadi sejak awal pengembangan perkebunan nenas sampai pada tahun 2008. Masyarakat menggunakan sistem pengelolaan perkebunan dengan memanfaatkan teknologi, dan juga pupuk kimia.

Penggunaan pupuk kimia digunakan secara terus-menerus menimbulkan penyakit pada tanaman nenas yang menyerang bagian akar sampai bagian buah.

Masyarakat tidak bisa menuntaskan penyakit yang sedang menyerang sehingga melibatkan pemerintah untuk mencarai solusi pemberantasan penyakit pada tanaman nenas.

Masyarakat menyadari bahwa penyebab dari penyakit tanaman nenas adalah penggunaan pupuk kimia yang berlebihan. Masyarakat mencoba beberapa strategi untuk mengatasi penyebaran penyakit tanaman nenas dengan cara mencabut dan membakar tanaman nenas yang sudah terjangkit penyakit.

Pada awal 2010 masyarakat sudah bekerjasama dengan kampus yang memiliki kompetensi dalam penelitian penyakit pada tanaman. Penelitian ini dikerjakan oleh mahasiswa IPB (Institut Pertanian Bogor) namun belum ditemukan solusi untuk mengatasinya. Begitu juga badan penyuluh pertanian di Kecamatan Sipahutar juga belum mendapakan cara mengatasi penyakit yang menjangkit pada tanaman nenas.

5.2 Saran

Penulis menyarankan, masyarakat semakin memperluas pengalaman bagaimana mengelola perkebunan nenas untuk mendapatkan hasil lebih besar.

Masyarakat harus bekerjasama dengan pemerintah untuk menciptakan sesuatu produk baru dengan bahan baku nenas. hal ini agar masyarakat mendapatkan kesempatan besar untuk mengolah nenas dalam bentuk produk makanan lain seperti selai nenas, dodol nenas. Masyarakat juga menjalin kerjasama dengan dinas perindustrian. Begitu juga pemerintah berperan membantu masyarakat untuk mengontrol harga nenas di pasar.

Penulis juga menyarankan, masyarakat mencatat setiap proses perkembangan perkebunan nenas dan faktor yang mempengaruhinya. Hal ini dikerjakan supaya masyarakat mengingat kembali bagaimana proses pengembangan perkebunan nenas sampai dampak yang dihasilkan. Masyarakat harus belajar dari perjalanan pengembangan perkebunan nenas. Hal ini berguna untuk mencegah kesalahan yang sudah pernah terjadi kembali dikerjakan masyarakat.

Penulisan sejarah kehidupan masyarakat suatu daerah juga diperlukan supaya masyarakat belajar bagaimana perkembangan kehidupan di daerahnya. Hal ini terlebih lagi kepada generasi muda supaya mampu belajar hal-hal penting dalam perkembangan daerahnya dan bagaimana memberikan kontribusi untuk perkembangannya.

DAFTAR PUSTAKA

A. Sumber Buku

Abdullah, Taufik. 1996. Sejarah Lokal Di IndonesiaI. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Evizal, Rusdi. 2013. Dasar-dasar Produksi Perkebunan. Bandar Lampung: Graha Ilmu.

Geertz, Clifford. 2016. Involusi Pertanian: Proses Perubahan Ekologi Di Indonesia (terjemahan). Depok: Komunitas Bambu.

Ghani, Mohammad Abdul. 2016. Jejak Planters di Tanah Deli (Dinamika Perkebunan Sumatera Timur 1863-1996). Bogor: Penerbit IPB Press.

Kartodirjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia.

Jakarta: Gramedia.

Loeb, Edwin M. 2013. Sumatra: Sejarah Dan Masyarakatnya (terjemahan).

Yogyakarta: Ombak

Nasution, Nasrudin. 1984. Repelita IV Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara 1984/1985-1988/1989. Medan.

Nihin. 2000. Tantangan Era Baru Berbagai Penyikapan dan Penyikapannya. Jakarta:

PT. Mardi Mulyo.

Ninik, Lidwina. 1991. Pengaruh Zat Pengaruh Tumbuh Pada Perbanyakan In Vitro Tanaman Nenas. Palembang: Fakultas Pertanian Unsri.

Sibarani, Robet. 2017. Marsirimpa Kearifan Lokal Gotong Royong Pada Masyarakat Batak Toba Di Kawasan Danau Toba. Medan: Asosiasi Tradisi Lisan.

Simanjuntak, Bungaran. 2011. Pemikiran Tentang Batak: Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara. Yogyakarta: Yayasan Obor Indonesia

—————————, 2015. Arti dan Fungsi Tanah Bagi Masyarakat Batak Toba, Karo, Simalungun. Jakarta: Buku Obor.

Soekanto, Soejono. 2001. Hukum Adat Indonesia. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sunarjono, Hendro. 1997. Prospek Berkebun Buah. Jakarta: Penebar Swadaya.

Tim Karya Tani Mandiri. 201. Pedoman Bertanam Buah Nanas.Bandung: Nuansa Aulia.

Yasin, Fachri. 2003. Agribisnis Riau (Pembangunan Perkebunan Berbasis Kerakyatan). Pekan Baru Riau:Unri Press Pekan Baru.

A. Sumber Skripsi

Evalina. ―Analisis Usaha Pengolahan Nenas Di Tapanuli Utara‖. Skripsi. Medan:

Program Studi Agribisnis, Fakultas Pertanian USU, 2018.

B. Sumber Internet:

(http:bonapasogitTapanuliUtara.blogspot.com/2011/11-mengenal-daerah tapanuli.

diakses pada Selasa, 08 November 2018, pukul 21.00).

(https:brainly://.co.id.kehidupan+sosial. diakses pada Sabtu, 25 Mei 2019, pukul 15.12).

Lampiran 1.

Gambar 1. Peta Desa Siabal-abal I

Sumber: Kepala Desa Siabal-abal 1

Gambar 2. Peta Kecamatan Sipahutar

Sumber: BPS Kab. Tapanuli Utara

Gambar 3. Tugu Nenas Kecamatan Sipahutar

Sumber: Dokumentasi Pribadi (9 Maret 2019)

Gambar 4. Perkebunan nenas di Desa Siabal-abal I

Sumber:Dokumentasi Pribadi (9 Maret 2019)

Gambar 5. Perkebunan nenas di Desa Onan Runggu I.

Sumber;Dokumentasi pribadi (9 Maret 2019)

Gambar 6. Perkebunan nenas di Desa Siabal-abal I. Berusia 7 tahun.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (14 Maret 2019)

Gambar 7. Perkebunan nenas Di Onan Runggu I.

Sumber: Dokumentasi Pribadi (14 Maret 2019)

Gambar 8. Penyusunan buah nenas untuk pengangkutan ke luar Kecamatan Sipahutar

Sumber: Dokumentasi Pribadi (14 Maret 2019)

Gambar 9. Kegiatan Penjualan Nenas Sipahutar Di Pasar V Padang Bulan Medan

Sumber: Dokumentasi Pribadi (20 Maret 2019)

Gambar 10. Nenas Sipahutar

Dokumentasi Pribadi (14 Maret 2019)

Dokumen terkait