PERKEMBANGAN PERKEBUNAN NENAS DI KECAMATAN SIPAHUTAR KABUPATEN TAPANULI UTARA (1995-2008)
Dikerjakan O
L E H
Nama: HOKHOP P. SIANIPAR Nim : 150706036
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
PERKEMBANGAN PERKEBUNAN NENAS DI KECAMATAN SIPAHUTAR KABUPATEN TAPANULI UTARA (1995-2008)
Skripsi Sarjana Dikerjakan Oleh:
Nama : Hokhop P. Sianipar NIM : 150706036
Diketahui Oleh:
Pembimbing
Dra. Junita Setiana Ginting M. Si NIP 196709081993032002
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana Sastra dalam Bidang Ilmu Sejarah.
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2 0 1 9
Lembar Persetujuan Ujian Skripsi
PERKEMBANGAN PERKEBUNAN NENAS DI KECAMATAN SIPAHUTAR KABUPATEN TAPANULI UTARA (1995-2008)
Dikerjakan Oleh:
Nama : Hokhop P. Sianipar NIM : 150706036
Telah disetujui untuk diajukan dalam ujian Skripsi oleh:
Pembimbing
Dra. Junita Setiana Ginting M. Si Tanggal: 22 Juni 2019 NIP 196709081993032002
KetuaProgram Studi IlmuSejarah
Drs. Edi Sumarno, M. Hum Tanggal:
NIP 196409221989031001
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAHFAKULTAS ILMU BUDAYAUNIVERSITAS SUMATERA UTARAMEDAN
2019
LEMBAR PERSETUJUAN KETUA PROGRAM STUDI
DISETUJUI OLEH :
FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2019
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH Ketua Program Studi,
Drs. Edi Sumarno, M. Hum Tanggal: 24 Juni 2019 NIP 196409221989031001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa atas berkat dan karuniaNya, sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi ini. Penulis tidak lupa untuk selalu bersyukur untuk segala berkat yang Tuhan berikan kepada penulis.
Penulisan skripsi ini adalah sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar sarjana pada Program Studi Ilmu Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara. Skripsi ini berjudul Perkembangan Perkebunan Nenas Di Kecamatan Sipahutar (1995-2008). Tulisan ini memaparkan bagaimana perkembangan perkebunan nenas yang merupakan milik rakyat di Kecamatan Sipahutar yang diawali dari tahun 1995 sampai pada masa 2008.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan pada penulisan skripsi ini, karena itu penulis mengharapkan saran, kritik dan masukan demi perbaikan. Akhir kata, penulis berterima kasih atas perhatian semua pihak yang telah memberi bantuan dan masukan. Semoga Tuhan memberikan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua.
Medan, Juni 2019 Penulis
Hokhop P. Sianipar Nim: 150706036
UCAPAN TERIMA KASIH
Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan karena adanya dorongan, motivasi, bantuan, kritik, saran, dan doa kepada penulis. Pada kesempatan ini penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan telah memberi pengaruh besar baik selama perkuliahan serta dalam menyelesaikan penulisan skripsi ini:
1. Bapak Dr. Budi Agustono, MS., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara serta kepada Para Wakil Dekan I, II dan III beserta Staf pegawai Fakultas Ilmu Budaya, USU.
2. Bapak Drs. Edi Sumarno, M.Hum., selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya USU dan juga kepada Ibu Dra. Nina Karina, M.SP., selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah yang turut membantu dalam kelancaran penulisan ini.
3. Ibu Dra. Junita Setiana Ginting, M.Si, selaku dosen pembimbing skripsi. Jasa dan bantuan beliau tidak akan penulis lupakan, serta terima kasih atas kesabaran di dalam membimbing menyelesaikan skripsi ini.
4. Terimakasih kepada Ibu Dra. Nurhabsyah M.Si, sebagai dosen penasehat akademik penulis yang memberi semangat dan motivasi kepada penulis.
5. Seluruh Bapak/ Ibu dosen staf pengajar Program Studi Ilmu Sejarah yang telah membagikan ilmunya kepada penulis, baik dari segi pengetahuan, pengalaman, serta wawasan selama penulis menjadi mahasiswa baik didalam
maupun di luar jam pelajaran. Tidak lupa juga kepada Staf Administrasi Departemen Sejarah, Bang Ampera Wira yang telah banyak membantu penulis selama penulis menjadi mahasiswa.
6. Terima kasih kepada petugas Perpustakaan Daerah Kabupaten Tapanuli Utara, Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Utara, Bapak Camat Kecamatan Sipahutar, serta Perpustakaan Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan data dan pelayanan dengan baik selama penulis melakukan penelitian.
7. Terimakasih kepada orangtua penulis kepada Ayah Mangiman Sianipar dan Ibu Nursaini Pandiangan yang telah luar biasa memberikan dorongan dan motivasi kepada penulis melalui kasih sayang serta doa. Begitu juga dengan kakak penulis yaitu Pertua Sianipar, Karolina Sianipar, Prengki Sianipar dan dua adik penulis yaitu Dodo Briman Sianipar dan Firman Santoso Sianipar yang selalu memberi semangat dan motivasi kepada penulis melalui doa dan kepedulian mereka.
8. Terimakasih kepada kakak pembimbing rohani penulis Tuti Gunawati Hutasoit dan saudara satu kelompok rohani yaitu Sari Nauli Sinaga dan Ellis R. Siregar yang selalu memberikan waktu dan kesempatan untuk mendoakan dan mendukung penulis.
9. Terimakasih kepada adik-adik bimbingan rohani yaitu: Kevin Simangunsong, Hendri Manik, Leo Ginting, Sondang Manik, Theo Harefa, Putri Simatupang, Santio Haloho, Theresia Hutagalung, Ruth Tampubolon, Lorena Zendrato,
Cindy Simamora, Citra Simanjuntak, Pelita Barus, Primus Sinaga dan Elisabet Simorangkir yang selalu setia mendoakan dan memberi motivasi kepada penulis.
9. Terimakasih kepada teman teman penulis pengurus UKM KMK USU UP FIB periode 2019 yang selalu memberi motivasi dan doa kepada penulis yaitu:
Santi Hutagalung, Yanti Pasaribu, Sarah Pangaribuan, Putri Malau, Sri Nababan, Moni Tamsar, Hendri Manik, Putri Simatupang, Dosma Tondang, Tini Hutabarat, Kevin Simangunsong, dan Pelita Barus.
10. Terimakasih kepada rekan kerja penulis di 13 Unit Pelayanan UKM KMK USU 2019, yang memberikan dorongan dan motivasi serta doa untuk penulis.
11. Terima kasih kepada teman satu perjuangan penulis yaitu: Jonpiter Sihombing, Putri Siahaan dan Kiki Simanungkalit yang selalu memberi semangat dan motivasi kepada penulis.
12. Terimakasih kepada teman satu kos yang selalu meberi dorongan dan mengingatkan penulis untuk tetap semangat yaitu: Himpu Sinaga, Ory Surbakti, Bunga Samosir, Selvana, Wuryanti Sinaga, Reno Simanjuntak, Sabar Siahaan.
13. Terimakasih kepada teman-teman satu perjuangan Ilmu Sejarah 2015, yang memberi dorongan dan motivasi kepada penulis.
Akhir kata, untuk semua yang membantu baik terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam penulisan skripsi ini penulis ucapkan terima kasih.
Medan, Juni 2019
Penulis
Hokhop P. Sianipar
Nim: 150706036
ABSTRAK
Penelitian ini berjudul Perkembangan Perkebunan Nenas di Kecamatan Sipahutar (1995-2008). Perkembangan perkebunan nenas ini berawal pada tahun 1995. Perkebunan ini merupakan milik rakyat dan dikelola oleh pemilik perkebunan itu sendiri. Untuk memenuhi kebutuhan hidup masyarakat menghasilkan usaha-usaha yang dikerjakan oleh masyarakat. Masyarakat yang mata pencahariannya bertani pada akhirnya menemukan komoditi yang tepat untuk dikembangkan sebagai tanaman yang bernilai ekonomi yaitu tanaman nenas.
Tanaman nenas ini menjadi tanaman utama di Kecamatan Sipahutar dan merupakan sumber mata pencaharian utama. Perkebunan nenas ini di kembangkan sejak tahun 1995. Nenas Sipahutar dikenal sampai ke luar daerah seperti, Siantar, Medan, Jakarta dan daerah lainnya.
Tulisan ini membahas bagaimana kehidupan masyarakat di Kecamatan Sapahutar sebelum melakukan pengembangan perkebunan nenas. Perkembangan perkebunan nenas ini memberikan pengaruh terhadap kehidupan masyarakat baik secara ekonomi, pendidikan dan sosial terutama pada masa 1995-2008.
Metode yang digunakan dalam melakukan penelitian sejarah ini adalah menggunakan metode sejarah, yaitu Heuristik, Kritik, Interpretasi dan Historiografi.
Peneliti mengumpulkan data dengan metode lapangan dan metode kepustakaan.
Kata kunci: Kecamatan Sipahutar, perkembangan, perkebunan nenas.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
UCAPAN TERIMAKASIH... ii
ABSTRAK ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR TABEL ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 5
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 6
1.4 Tinjauan Pustaka ... 6
1.5 Metode Penelitian... 9
BAB II LATAR BELAKANG MUNCULNYA PERKEBUNAN NENAS DI KECAMATAN SIPAHUTAR KABUPATEN TAPANULI UTARA .... 12
2.1 Letak Geografis ... 12
2.2 Gambaran Demografi ... 13
2.3 Fasilitas Yang Tersedia ... 16
2.4 Kehidupan Masyarakat di Kecamatan Sipahutar ... 19
2.4.1 Kehidupan Ekonomi ... 22
2.4.2 Pendidikan Masyarakat... 25
2.4.3 Kehidupan Sosial ... 27
BAB III PERKEMBANGAN PERKEBUNAN NENAS DI KECAMATAN
SIPAHUTAR DARI (1995-2008) ……….………..30
3.1 Proses Pengembangan Perkebunan Nenas………...32
3.2 Tantangan Yang Dihadapi Dalam Pengembangan Perkebunan Nenas... 40
3.2.1 Harga buah nenas ... 41
3.2.2 Penyakit tanaman nenas ... 45
3.2.3 Infrastruktur ... 47
BAB IV DAMPAK PERKEBUNAN NENAS PADA MASYARAKAT DARI (1995-2008)... 50
4.1 Dampak Terhadap Perekonomian Masyarakat ... 51
4,2 Dampak Terhadap Pendidikan Masyarakat ... 54
4.3 Dampak Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat ... 57
4.4 Dampak Terhadap Pengembangan Fasilitas Masyarakat ... 61
BAB V KESIMPULAN... 65
5.1 Kesimpulan ... 65
5.2 Saran ... 69
DAFTAR PUSTAKA ... 70 DAFTAR INFORMAN
LAMPIRAN
Daftar Tabel
Tabel I. Jumlah Penduduk Dan Rumah Tangga Di Kecamatan Sipahutar Tahun 2006-2008 ... 15 Tabel II. Jumlah Sekolah Negeri Dan Swasta Di Kecamatan Sipahutar
Tahun 2006-2007 ... 18 Tabel III. Jumlah Rumah Ibadah Di Kecamatan Sipahutar
Tahun 2006-2007 ... 18 Tabel IV. Tingkat Produksi Nenas Berdasarkan Luas Lahan Per Tahun Di Kecamatan Sipahutar Tahun 2004-2008 ... 39 Tabel V. Perubahan Harga Nenas Dari Tahun 2000-2008 Per 10
Buah Nenas ... 44 Tabel VI. Peningkatan Pendidikan Berdasarakan Jumlah Siswa Dan
Jenjang Pendidikan Di Kecamatan Sipahutar
Pada Tahun 2005-2008 ... 56
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah
Perkebunan di Indonesia dimulai sejak kedatangan kolonialisme ke Indonesia dengan perkembangan perkebunan pada abad 11 yang didukung oleh perdagangan antar wilayah negara dengan skala kecil. Komoditas perkebunan pertama yang dikembangkan di Indonesia adalah komoditas rempah-rempah untuk keperluan bangsa kolonial pada masa itu. Perkebunan ini semakin berkembang sesuai perjalanan waktu, dan di abad 19 komoditas yang dikembangkan semakin beragam.1
Pada tahun 1997 berkembang juga perkebunan yang bersifat perkebunan rakyat (smallholder). Perkebunan tidak menunjuk atau membatasi pada komoditas tertentu, melainkan berlaku pada semua komoditas tanaman, yang pemasarannya bukan lagi secara lokal melainkan dipasarkan secara pasar nasional sampai pasar global. Maka dikenal dengan adanya perkebunan tebu, perkebunan sawit, pekebunan nenas, perkebunan singkong, perkebunan pisang dan sebagainya.2
Sistem pengembangan pembangunan desa juga terjadi pada tahun 1982 di Sumatera Utara yang melibatkan beberapa kecamatan di daerah tingkat dua. Daerah Tapanuli Selatan, Nias, Tapanuli Tengah, Tapanuli Utara dan Deli Serdang dengan jumlah desa yang harus dibangun cukup besar. Dalam sistem ini pemerintah mengambil peran dalam pembangunan dengan beberapa penerapan yang diterapkan.
1Mohhammad Abdul Ghani, Jejak Planters di Tanah DELI, Bogor:IPB Press, 2016, hal.8 2Rusdi Evizal, Dasar-Dasar Produksi Perkebunan, Bandar Lampung:Graha Ilmu, 2013, hal.1
Salah satunya adalah penataan lingkungan, peningkatan usaha-usaha ekonomi desa dan peningkatan pertanian yang menjadi dasar pengembangan perkebunan di Tapanuli Utara3.
Dalam komoditas perkebunan tersebut terdapat perkebunan nenas yang saat ini juga menjadi salah satu perkebunan yang dikembangkan di Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara. Buah nenas adalah sejenis tumbuhan yang berasal dari Amerika tropis yakni, Brazil, Argentina dan Peru. Buah ini juga merupakan tumbuhan yang sudah dibudidayakan di beberapa daerah Indonesia khususnya di Tapanuli Utara dan menjadi salah satu tanaman andalan. Nenas yang ada di Tapanuli Utara khususnya di Kecamatan Sipahutar terkenal dengan rasa manis dan ukurannya yang besar membuat tanaman ini semakin banyak peminatnya baik bagi masyarakat lokal maupun dari luar daerah.4
Kecamatan Sipahutar merupakan salah satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Utara provinsi Sumatera Utara yang mempunyai luas 408.22 km2, memiliki 25 Desa, dengan letak geografis Sipahutar 02001 Lintang Utara dan 98057 Bujur Timur5.
Masyarakat Sipahutar adalah petani dengan komoditi tanaman pohon kemenyan dan nenas. Dalam bagian ini peneliti membahas nenas Sipahutar karena
3Pemerintahan Provinsi Daerah Tingkat 1 Sumatera Utara, Repelita IV Provinsi Daerah Tingkat I Sumatera Utara (1984/1985-1988/1989), hal.XV-4.
4Hendro Suharjono, Prospek Berkebun Buah,Jakarta: Penebar Swadaya,1997, hal.109
5Batak Bona Pasogit, mengenal-daerah Tapanuli (http:bonapasogitTapanuliUtara.blogspot.com /2011/11- mengenal-daerah Tapanuli. diakses pada Selasa, 08 November 2018, pukul 21.00).
mempunyai kelebihan. Nenas merupakan tanaman yang membawa nama daerah Sipahutar dikenal di berbagai daerah karena kualitas berdasarkan ukuran dan rasanya.
Perkebunan nenas tersebut merupakan perkebunan milik rakyat yang dikelola dan dikerjakan oleh pemilik lahan sendiri.
Perkebunan ini bersifat perkebunan rakyat seperti perkebunan yang dirintis pertama kali pada tahun 1977 oleh Bank Dunia dengan nama program Nucleus Estate Smallholder (NES). Sebelum diperluas dalam skala nasional, pilot proyek PIR dilaksanakan pada tahun 1973 di Sumatera Utara dengan terbentuknya Proyek Pengembangan Perkebunan Rakyat Sumatera Utara (P3RSU). Hal ini semakin berhasil dikembangkan setelah berhasilnya kerjasama Pemerintah RI dengan Republik Federal Jerman KFW (Kreditanstalt Fur Wiederaufbau) di Ophir, Pasaman, Sumbar oleh PTP VI Sumatera Utara yaitu program Nucleus Estate Smallholder Participation (NESP) Ophir.6
Dalam masa tahun 1995 sampai dengan tahun 2008 beberapa hal yang terjadi dalam perkembangan perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar. Hal ini diawali dengan pemasaran nenas secara lokal hingga dipasarkan keberbagai daerah di Indonesia hingga kebeberapa negara. Pada tahun 2005 berdiri pabrik pengalengan nenas di daerah Tapanuli Utara.
6Mohammad Abdul Ghani, Jejak Planters di Tanah Deli (Dinamika Perkebunan Sumatera Timur 1863-1996). op.cit, hal. 98
Pada awalnya pemasaran nenas Sipahutar dilakukan hanya untuk daerah sekitar saja. Akan tetapi seiring berkembangnya perkebunan nenas dengan kualitas yang semakin baik dengan rasa manis dan ukurannya yang lebih besar membuat sebuah pabrik pengalengan didirikan oleh pihak swasta. Pemasaran nenas Sipahutar semakin meluas ke berbagai daerah begitu juga ke beberapa negara seperti Amerika dan Taiwan. Hal ini membangkitkan semangat para petani nenas dan menambah kesejahteraan masyarakat Tapanuli utara khususnya masyarakat Kecamatan Sipahutar baik dalam perekonomian dan kehidupan sosial.
Dari uraian diatas, peneliti tertarik untuk meneliti perkembangan perkebunan nenas di kecamatan Sipahutar. Hal ini karena perkembangan perkebunan nenas telah memperkenalkan nama daerah Sipahutar ke daerah lain. Selain itu juga berdampak bagi kehidupan masyarakat Sipahutar dari tingkat perekonomian dan kehidupan sosialnya. Nenas Sipahutar mudah ditemukan di berbagai daerah di luar daerah Tapanuli Utara. Para pedagang buah menjadikan nenas Sipahutar sebagai daya tarik bagi para pembeli dan para penikmat buah nenas. Sebagai tanaman andalan, nenas dijadikan maskot daerah Sipahutar. Penelitian nenas di kecamatan Sipahutar ini sudah pernah dilakukan oleh seorang mahasiswa Fakultas Pertanian USU, tetapi tidak membahas bagaimana kehidupan masyarakat. Peneliti sebelumnya hanya membahas tentang bagaimana pengelolaan perkebunan nenas dari pembibitan sampai dengan pemanenan hasil perkebunan. Untuk itu peneliti akan melakukan penelitian bersangkutan dengan perkembangan perkebunan nenas dan dampaknya bagi
masyarakat. Adapun judul penelitian ini yaitu ‘Perkembangan Perkebunan Nenas di Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara (1995-2008)’.
Ruang lingkup penelitian ini adalah kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara. Pembatasan waktu yaitu tahun 1995-2008. Tahun 1995 merupakan awal pengembangan perkebunan nenas ini dan tahun 2008 perkebunan ini sudah melakukan kegiatan ekspor hasil perkebunan ke luar negeri.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan suatu arah penelitian yang akan membantu peneliti untuk bekerja sesuai tujuan dan tetap fokus akan masalah yang akan diteliti.
1. Bagaimana latar belakang munculnya perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara?
2. Bagaimana perkembangan perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar (1995- 2008)?
3. Bagaimana dampak perkebunan nenas pada masyarakat di Kecamatan Sipahutar pada (1995-2008)?
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian Tujuan penelitian
1. Menjelaskan latar belakang munculnya perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara.
2. Menjelaskan perkembangan perkebuan nenas di Sipahutar (1995-2008).
3. Menjelaskan dampak perkebunan nenas pada masyarakat Supahutar dari (1995- 2008).
Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan informasi tentang perkebunan rakyat, khususnya perkebunan nenas dan untuk penelitian lanjutan, sebagai referensi bagi peneliti yang berkaitan dengan penelitian ini.
2. Sebagai bahan informasi tentang perkembangan perkebunan nenas dan dampaknya bagi masyarakat di Kecamatan Sipahutar dalam kurun waktu tahun 1995-2008.
1.4 Tinjauan Pustaka
Dalam melakukan sebuah kegiatan penelitian serta penulisan, perlu dilakukan tinjauan pustaka. Tinjauan pustaka ini dilakukan dengan menggunakan buku-buku maupun skripsi dan hasil penelitian orang lain yang berkaitan dan relevan dengan topik yang dibahas oleh peneliti.
Bungaran Antonius Simanjuntak dalam Pemikiran Tentang Batak: Setelah 150 Tahun Agama Kristen di Sumatera Utara (2011), menjelaskan tentang mencapai peningkatan perekonomian daerah perlu diadakan pengembangan pertanian terutama perkebunan dengan model perkebunan inti rakyat. Namun ditemukan beberapa kendala dalam pengembangan pertanian maupun perkebunan tersebut seperti teknologi, mutu produksi, pemilihan komoditi, dana dan penyesuaian lahan dengan komoditi. Buku ini membantu peneliti mengetahui faktor yang mempengaruhi pengembangan perkebunan dari keterbatasan teknologi maupun dari potensi masyarakat.
Mohammad Abdul Ghani dalam Jejak Planters Di Tanah Deli (Dinamika Perkebunan Sumatera Timur) (2016), menjelaskan adanya perubahan komoditas perkebunan dengan perkembangan hasil produksi dari tahun ke tahun. Perkebunan yang diawali dengan kedatangan kolonialisme yang mengubah pola pertanian dan perkebunan di Indonesia berpengaruh sampai sistem perkebunan di Sumatera Utara.
Hal ini juga berpengaruh dengan kehidupan masyarakat Indonesia dalam pengelolaan perkebunan maupun penyesuaian komoditas sesuai dengan pasar secara global dan kondisi lahan perkebunan yang mendukung. Buku ini membantu peneliti mengetahui alasan masyarakat mengembangkan perkebunan dan pergantian komoditas.
Evalina dalam Analisis Usaha Pengolahan Nenas Tapanuli Utara (2008), menjelaskan tentang perkembangan perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar dilihat dari pertambahan kuantitas nenas yang dihasilkan yang berpengaruh pada jumlah nenas yang didistribusikan ke berbagai daerah di Indonesia. Penulis juga dalam
skripsinya menjelaskan cara membudidayakan nenas, cara panen, sampai pengelolaan secara teknisnya sampai dengan pendistribusiannya. Akan tetapi penelitian ini tidak membahas secara rinci bagaimana kondisi masyarakat dalam perkembangan perkebunan nenas sesusi rentetan waktu, sehingga dalam tulisan ini penulis akan membahas bagaimana pada awalnya perkebunan nenas dapat di kembangkan dan juga bagaimana keadaan masyarakat dalam mengawali perkembangan perkebunan nenas sampai pada keadaan masyarakat yang berkembang melalui perkembangan perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar. Skripsi ini membantu peneliti mengetahui proses pengembangan perkebunan secara pengelolaannya dari pembibitan nenas sampai pendistribusian hasil.
Lidwina Ninik dalam Pengaruh Zat Pengatur Tumbuh Pada Perbanyakan In Vitro Tanaman Nenas (1991), menjelaskan tentang bagaimana system media dan pengembangan nenas untuk hasil yang lebih baik, dilihat dari bagaimana pengaruh lingkungan sampai pemahaman dalam penggunaan media yang akan digunakan oleh pengelola perkebunan nenas. Buku ini membantu peneliti untuk mengetahui kualitas nenas dipengaruhi oleh lingkungan dan media yang digunakan.
Rusdi Evizal dalam Dasar-Dasar Produksi Perkebunan (2013) menjelaskan tentang sejarah perkebunan di Indonesia serta perkembangannya, dilihat dari bertambahnya komoditas tanaman dan bagaimana teknik pengelolaan perkebunan yang diawali dari penyesuaian pemilihan lahan perkebunan sesuai dengan komoditas tanaman sampai hal panen dan pasca panen perkebunan. Buku ini membantu peneliti
mengetahui perkembangan perkebunan dari tahun ketahun dengan penyesuaian komoditas tanaman serta teknik pengelolaan sampai pasca panen.
Facri Hasin dalam Agribisnis Riau (Pembangunan Perkebunan Berbasis Kerakyatan) (2003), mejelaskan tentang pengaruh perkebunan berbasis kerakyatan terhadap kesejahteraan masyarakat dan bagaimana hasil perkebunan mampu membuat masyarakat setempat aktif dalam pengelolaan perkembangan perkebunan berbasis kerakyatan. Perkebunan juga mampu mengubah pola pikir dan pengetahuan masyarakat terutama bagaimana penyesuaian iklim maupun penyesuaian lingkungan alam terhadap komoditi yang akan dikembangkan. Buku ini membantu peneliti mengetahui bagaimana pengaruh perkembangan sebuah perkebunan bagi kehidupan masyarakat.
Dari sumber yang diuraikan di atas, mempermudah peneliti dalam melakukan persiapan penelitian serta memberi pertimbangan dengan hasil yang akan di dapati di lapangan. Buku-buku tersebut membantu peneliti untuk mengetahui dasar-dasar pengelolaan perkebunan nenas dan bagaimana dampak perkembangan perkebunan bagi masyarakat.
1.5 Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan dengan metode, untuk mempermudah dalam penelitian serta penulisan. Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode sejarah.
Metode sejarah memiliki 4 tahapan yaitu: yang pertama heuristik, yaitu pengumpulan data menggunakan sumber tertulis dan sumber lisan. Peneliti
mengumpulkan data dengan melakukan studi lapangan dan studi pustaka. Studi lapangan dilakukan dengan teknik wawancara. Dari 25 desa, peneliti menetapkan 3 desa sebagai sampel penelitian dengan kriteria desa memiliki lahan nenas luas dan lahan sedikit. Setiap desa yang dijadikan sampel memilih 5 orang setiap desa sebagai sampel dengan kriteria pemilik lahan luas dan pemilik lahan sedikit. Wawancara sudah dilakukan kepada 15 narasumber yang dipilih dari masyarakat Sipahutar terutama pemilik perkebunan, pekerja, masyarakat yang merupakan konsumen, pengepul nenas, dinas pertanian, dan juga beberapa narasumber yang terlibat dalam pendistribusian nenas Sipahutar. Dalam studi pustaka peneliti menggunakan data tertulis melalui buku, skripsi, dan hasil penelitian yang berkaitan dengan topik penelitian yang sedang diteliti. Peneliti mengunjungi perpustakaan Universitas Sumatera Utara, Perpustakaan Fakultas, Perpustakaan Daerah Tapanuli Utara.
Setelah data terkumpul tahap kedua yaitu kritik, semua data yang telah terkumpul, diolah sesuai data yang dibutuhkan. Dengan pemilahan data ini peneliti menggunakan kritik intern dan ekstern dengan menggunakan sumber-sumber yang sudah ada. Dalam kritik intern peneliti melakukan perbandingan data sumber tertulis untuk melihat dan mempertimbangkan kebenarannya, penulisannya dan juga dengan isi buku sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Untuk kritik ekstern peneliti membandingan informasi yang telah terkumpul dengan memperhatikan keaslian informasi dari narasumber dengan kebenarannya yang terjadi (faktualisasi).
Tahap yang ketiga yaitu interpretasi, yaitu pemilahan data yang terkumpul.
Memilih data yang dibutuhkan atau data yang tidak dibutuhkan peneliti. Data yang
dipilah, dipilih berdasarkan keperluan peneliti dengan memperhatikan data yang berkaitan dengan penelitian yang sedang dikerjakan peneliti.
Setelah melalui tahap ketiga maka dilanjutkan dengan tahap terakhir yaitu historiografi, yaitu penuangan hasil penelitian dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini hasil penelitian dijadikan tulisan skripsi dengan dasar data yang sudah dipilih. Dalam tulisan tersebut menjelaskan tentang perkembangan perkebunan nenas Sipahutar tahun 1995-2008 dengan memperhatikan kehidupan dan kesejahteraan masyarakat di Kecamatan Sipahutar Kabupaten Tapanuli Utara.
BAB II
LATAR BELAKANG MUNCULNYA PERKEBUNAN NENAS DI KECAMATAN SIPAHUTAR KABUPATEN TAPANULI UTARA
2.1 Letak Geografis
Kecamatan Sipahutar merupakan salah satu dari 15 kecamatan yang terdapat di Kabupaten Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara, dengan ibukota desa Sipahutar. Kecamatan Sipahutar memiliki luas 408.22 km2 dan terdiri dari 25 desa.
Kecamatan ini memiliki jarak 23 Km dari ibukota Kabupaten Tapanuli Utara. Secara geografis Kecamatan Sipahutar berada pada 02001’-02014’ LU dan 98057’-99016’
BT, dengan batas-batas wilayah:
- Sebelah Utara : Kecamatan Siborongborong - Sebelah Selatan : Kecamatan Pangaribuan - Sebelah Barat : Kecamatan Tarutung - Sebelah Timur : Kabupaten Toba Samosir
Kecamatan ini merupakan daerah dataran tinggi yang mendukung pertanian penduduk, mempunyai iklim yang sama dengan kecamatan sekitarnya yaitu iklim tropis. Curah hujan sekitar 300 mm dan memiliki temperatur udara sekitar 170C-290C serta kelembapan udara 85,04% RH. Iklim tersebut mendukung pertanian di Kecamatan Sipahutar.7
7Badan pusat statistik Tapanuli Utara.
Kecamatan ini dilintasi jalan raya yang menghubungkan antara Kecamatan Pangaribuan ke Kecamatan Siborongborong dan juga kecamatan Pangaribuan ke Kecamatan Tarutung, sehingga daerah ini adalah merupakan daerah lintasan.
2.2 Gambaran Demografi
Kecamatan Sipahutar merupakan kecamatan yang masyarakatnya mayoritas Suku Batak Toba dan menggunakan bahasa Toba dalam kehidupan sehari-hari.
Penduduk selain Suku Batak Toba merupakan masyarakat pendatang dari luar daerah Kecamatan Sipahutar. Masyarakat saling menjaga kehidupan sosial dengan baik dengan saling menghargai antara satu dengan yang lain. Masyarakat pendatang menyesuaikan diri dengan belajar bahasa Toba.
Kehidupan budaya terjaga dengan baik, bahkan masyarakat pendatang menyesuaikan diri dengan membuat (manuhor)8 marga dan mencari marga yang serumpun dengan marga penduduk asli. Masyarakat pendatang pada umumnya mengikuti kegiatan yang dikerjakan dengan menyesuaikan adat istiadat masyarakat setempat.
Ketika masyarakat mengadakan suatu upacara adat, maka masyarakat yang lain turut membantu untuk memperlancar upacara adat tersebut. Masyarakat
8Manuhor marga merupakan sebutan untuk orang yang bukan Suku Batak Toba namun diberi marga, dan marga yang diberikan, sesuai marga ayah angkat.
pendatang juga memberikan kontribusinya dengan menghadiri upacara adat dan memberikan bingkisan (tuppak)9 kepada keluarga yang mengadakan upacara adat.
Masyarakat Kecamatan Sipahutar mayoritas beragama Kristen, namun ada juga yang menganut agama Islam, Hindu, dan Katolik yaitu mereka yang merupakan masyarakat pendatang. Hal ini tidak menjadi pemisah dalam masyarakat dalam melakukan kehidupan sosial.
Untuk memenuhi kebutuhan hidup, masyarakat bekerja sebagai petani, dengan mengolah lahan milik sendiri. Masyarakat mengenal sistem gotong-royong (marsiurupan)10 pada waktu tertentu ketika akan mengerjakan banyak hal.
Untuk memperbaiki taraf perekonomian masyarakat, orangtua mengarahkan anaknya untuk merantau ke luar daerah. Hal ini dilakukan karena kurangnya lapangan pekerjaan di Kecamatan Sipahutar.
Pada umumnya masyarakat memiliki tingkat pendidikan sekolah menengah pertama, dan beberapa lulusan sekolah menengah atas. Hal ini merupakan suatu kelemahan masyarakat karena tergolong pendidikan yang rendah. Masyarakat terkendala dalam ekonomi dan juga ketersediaan fasilitas pendidikan yang kurang.
9Tuppak adalah sumbangan bentuk uang, tetapi sesuai keberadaan masing-masing dalam sebuah acara adat, atau dengan sebutan lain yaitu sebagai tanda kasih.
10Marsiurupan berasal dari Bahasa Toba yang artinya saling membantu atau tolong-menolong yang dikerjakan oleh masyarakat tanpa hitungan upah.
Tabel 1:
Jumlah Penduduk dan Rumah Tangga di Kecamatan Sipahutar Tahun 2006-2008.
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara
Setiap tahun terjadi peningkatan jumlah penduduk seperti pada tahun 2006- 2008. Pada tahun 2005 (21.990 penduduk), 2006 (22.121 penduduk), 2007 (22.214
No Nama desa 2006 2007 2008
Penduduk Rumah tangga
Penduduk Rumah
tangga
Penduduk Rumah
tangga
1 Onanrunggu I 1.166 276 1176 280 1193 293
2 Sipahutar III 819 166 825 168 837 176
3 Siabal-abal I 1.655 363 1669 368 1694 385
4 Siabal-abal II 1.830 392 1846 397 1873 415
5 Aek nauli III 554 104 558 106 566 111
6 Aek nauli III 911 178 919 181 933 189
7 Aek nauli I 1.009 215 1.017 218 1031 228
8 Sabungan ni huta IV 693 145 699 147 709 154
9 Siabal-abal III 1,129 264 1139 268 1156 281
10 Sipahutar II 521 126 525 128 533 134
11 Sipahutar I 1.069 247 1078 250 1094 262
12 Onan runggu III 1.427 316 1439 320 1460 335
13 Onan runggu II 1.372 296 1384 300 1404 314
14 Onan runggu IV 605 121 510 123 517 129
15 Sabungan ni huta I 948 200 956 203 970 212
16 Sabungan ni huta II 1.211 264 1231 268 1249 280
17 Sabungan ni huta III 445 91 449 92 455 96
18 Sabungan ni huta IV 758 158 764 160 775 167
19 Tapian na uli II 1.096 267 1105 271 1121 284
20 Tapian nauli III 463 97 467 98 473 103
21 Tapian nauli I 795 176 801 178 813 186
22 Siabal-abal IV 624 161 630 163 639 171
23 Aek nauli IV 1.110/ 213 1120 216 1.136 /226
Jumlah 22.121 4.836 22.307 4.903 22.631 5131
penduduk), dan 2008 (22.538 penduduk). Jumlah penduduk ini tersebar di 23 Desa di Kecamatan Sipahutar.
2.3 Fasilitas Yang Tersedia
Fasilitas merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat.
Fasilitas masyarakat adalah fasilitas umum yang dibentuk ataupun dibangun untuk kepentingan bersama oleh masyarakat. Fasilitas yang terbatas tentunya menjadikan perkembangan suatu daerah terbatas. Fasilitas dalam masyarakat pada umumnya dikerjakan ataupun dibangun oleh pemerintah.
Sebelum tahun 1995 pembangunan fasilitas sebagai sarana dan prasarana di kecamatan Sipahutar masih sangat sedikit. Pembangunan 1991 pada umunya hanya terdapat jalan besar yang menghubungkan antara kecamatan Sipahutar dengan kecamatan di sekitarnya. Dan juga jalan-jalan kecil yang menghubungkan antar desa di kecamatan Sipahutar.
Peranan pemerintah memberikan fasilitas untuk pendidikan, dengan adanya beberapa sekolah seperti 39 sekolah dasar negeri yang sangat mendukung untuk pembangunan kehidupan masyarakat yang dibangun di 22 Desa yang terdapat di Kecamatan Supahutar, kemudian terdapat 4 Sekolah Menengah Pertama Negeri, dan 1 Sekolah Menengah Atas Negeri.11
11Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara
Pembangunan sekolah ini sangat membantu pertumbuhan pendidikan dan meningkatkan pengetahuan masyarakat Kecamaan Sipahutar. Masyarakat Sipahutar semakin berkembang dan mulai lebih membentuk pemikiran. Setiap keluarga mampu menyekolahkan anaknya dari jenjang sekolah dasar, sekolah menenengah pertama, namun masih sangat berjuang untuk bisa mengikuti sekolah menengah atas. Orangtua berharap setiap anak yang disekolahkan bisa merantau dan membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat terlebih dalam keluarga.
Demikian juga dengan perkembangan listrik di Kecamatan Sipahutar masih sangat terbatas untuk bisa dinikmati oleh masyarakat. Sekitar Kecamatan Sipahutar, terlebih lagi sangat terbatas di daerah atau desa yang masih pedalaman atau jauh dari kota. Hal ini juga yang menjadi salah satu faktor yang menghambat perkembangan pertanian khususnya perkebunan nenas.
Fasilitas lain yang sudah ada yaitu gereja yang menjadi tempat ibadah bagi umat Kristiani. Sebelum tahun 1995 terdapat 90 Gereja Protestan dan 2 Gereja Khatolik. Tentunya gereja ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat untuk melakukan ibadah setiap minggunya. Masyarakat Sipahutar yang mayoritas beragama Kristen memanfaatkan gedung gereja untuk melakukan persekutuan. Gereja yang berjumlah 90 ini tersebar di seluruh desa di Kecamatan Sipahutar. Selain fasilitas gereja untuk yang beragama Kristen, pemerintah juga membangun Mesjid untuk yang beragama Islam. Di Kecamatan Sipahutar terdapat 1 mesjid yaitu Mesjid Addakwah yang
terdapat di Desa Onan Runggu 1. Mesjid ini berdiri pada tahun 1994 dan beralamat di Jalan Sipahutar Siborongborong.12
Fasilitas yang mendukung kesehatan masyarakat, pemerintah membangun dua puskesmas yang terdapat di desa Sabungan Ni Huta II. Pelayanan puskesmas belum maksimal karena keterbatasan alat kesehatan di puskesmas Sipahutar.
Fasilitas merupakan hal yang penting untuk menunjang perkembangan suatu daerah. Semakin lengkap fasilitas maka akan semakin besar kesempatan masyarakat untuk mengembangkan pertanian maupun usaha lainnya. Perkembangan fasilitas yang ada bisa berasal dari peranan pemerintah, pergerakan dari masyarakat ataupun dari pihak-pihak tertentu.
Tabel II:
Jumlah Sekolah Negeri dan Swasta di Kecamatan Sipahutar Tahun 2006-2007
Tahun
Sekolah
SD SMP SMU SMK
Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Swasta Negeri Sswasta
2006 39 - 4 3 1 - - 2
2007 39 - 5 4 1 - 2
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara Tabel III:
Jumlah Rumah Ibadah di Kecamatan Sipahutar Tahun 2006-2007
Tahun Rumah Ibadah
Gereja Katolik Gereja Protestan Masjid
2006 2 94 1
2007 8 106 1
Sumber: Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara
12Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara
2.4 KEHIDUPAN MASYARAKAT DI KECAMATAN SIPAHUTAR
Sebagai motor penggerak dalam perkembangan suatu daerah ditentukan oleh penduduknya dalam kualitas dan juga bidang yang dikembangkan. Penduduk Kecamatan Sipahutar bergerak di bidang pertanian, yang mengelola lahan yang dimiliki setiap keluarga. Penduduk Kecamatan Sipahutar menggunakan bahasa daerah Batak Toba dalam kehidupan sehari-hari dan mayoritas beragama Kristen.
Suatu daerah bisa berkembang ketika memiliki sumber daya manusia yang mampu mengelola sumber daya alam dengan baik. Tentu hal ini perlu diperhatikan pemerintah dalam memperlengkapi kebutuhan penduduk dalam pengelolaan sumber daya yang ada. Sampai tahun 1992 masyarakat Kecamatan Sipahutar masih mayoritas mempunyai pendidikan pada tingkat rendah yaitu sekolah dasar sampai sekolah menengah pertama.
Masyarakat yang merupakan mayoritas Suku Batak Toba, saling berhubungan dalam aspek kehidupan sehari-hari. Masyarakat tampak memiliki persamaan dalam persepsi berbagai hal seperti ekonomi, pendidikan dan kehidupan sosial lainnya. Pada akhirnya hal ini membuat perkembangan masyarakat sulit untuk berkembang, dikarenakan semua merasa sama tanpa ada dasar untuk memulai sebuah perkembangan untuk menigkatkan kesejahteraan masyarakat.
Masyarakat hidup dengan mengandalkan hasil hutan kemenyan. Akan tetapi lahan kemenyan tidak dimiliki setiap masyarakat. Masyarakat bekerja dengan sistem upah di hutan kemenyan milik masyarakat lainnya. Pada umumnya yang bekerja adalah laki-laki.
Bapak Radot Tampubolon mengatakan bahwa masyarakat seakan terbawa keadaan yang sudah turun temurun tanpa memikirkan jauh kedepan dengan hanya perekonomian yang hanya bisa dikatakan cukup untuk kebutuhan hidup sehari-hari terutama kebutuhan dapur. Namun ketika diperhadapkan dengan keadaan yang semakin berkembang membuat masyarakat harus memikirkan cara lain untuk menambah hasil perekonomian. Masyarakat memang tidak bisa lari dari kehidupan pertanian karena selama ini juga masyarakat hidup dalam lingkungan dan cara hidup pertanian. Namun masyarakat harus belajar bagaimana meningkatkan perkonomian dengan mengolala lahan pertanian.13
Daerah Kecamatan Sipahutar merupakan daerah pertanian yaitu melakukan kegiatan mengolah dan memanfaatkan tanah sebagai lahan penanaman suatu tanaman yang menjadi sumber utama penghasilan penduduk. Sudah menjadi budaya yang turun temurun dari nenek moyang mewariskan sistem penghidupan pertanian bagi penduduk di kecamatan ini. Pada awalnya mengolah dan memanfaatkan lahan sebagai penanaman berbagai tanaman dengan sistem tumpang sari, yaitu menanam tanaman dengan berbagai jenis sekaligus di atas lahan yang sama.
Sistem penanaman tumpang sari ini juga merupakan warisan dari nenek moyang yang dipelajari secara alami. Masyarakat mempelajari sistem alam kapan akan mengelola lahan dan penanaman sesuai jenis tanamannya.
13Wawancara, Radot Tampubolon, Desa Siabal-abal 1 (8 Maret 2019)
Hal ini mengakibatkan masyarakat tidak paham secara baik bagaimana mengatasi pengelolaan pertanian disaat prediksi alam tidak sesuai dengan perkiraan masyarakat. Setelah tanaman kemenyan, masyarakat menanam tanaman yang dapat diolah sebagai makanan sehari-hari seperti singkong, sayur, bawang dan tanaman lainnya yang ditanam diatas lahan yang terbatas. Seiring berjalannya waktu pada tahun 1970 sebagian masyarakat sudah megenal tanaman kopi dan menanamnya, sehingga semakin menambah penghasilan penduduk Kecamatan Sipahutar.
Penduduk terkendala dalam pengelolaan lahan untuk dijadikan sebagai lahan pertanian karena lahan yang berada di Kecamatan Sipahutar merupakan lahan hutan dan sangat terbatas peralatan yang dipergunakan oleh penduduk. Sebagai langkah awal pada tahun 1991 beberapa masyarakat mencoba menanami lahan dengan tanaman nenas namun gagal. Mereka tidak mampu untuk mengembangkannya karena terbatasnya alat dan prasarana yang dibutuhkan. Masyarakat membutuhakan alat mengelola lahan yang lebih efektif untuk mengelola lahan yang lebih luas.
Pada tahun 1993 pemerintah telah melakukan pembangunan dengan dasar permintaan kebutuhan utama masyarakat yaitu listrik dan jalan sampai daerah pedalaman. Setelah adanya pembangunan tersebut masyarakat mencoba kembali membuka lahan untuk penanaman nenas.
Pada awal penanaman nenas masyarakat lebih aktif mengelola lahan karena melihat adanya potensi pengembangan perekonomian dari hasil tanaman nenas karena di daerah sekitar Kecamatan Sipahutar belum ada membudidayakannya selain
dijadikan tanaman pekarangan. Masyarakat yang awalnya hanya menikmati pertanian seadanya, sudah beranjak untuk perkembangan pertanian yang lebih baik.
Perkebunan nenas pada akhirnya dapat dikembangkan tahun 1995, dengan memberikan dampak yang baik bagi kehidupan masyarakat. Dilihat dari keadaaan sebelum tahun 1995, adanya perubahan dalam meningkatnya kesejahteraan masyarakat seperti keadaan sosial, ekonomi, pendidikan, maupun fasilitas masyarakat pada umumnya. Diawali dengan perjuangan mengelola lahan sampai mempelajari bagaimana akhirnya mempertahankan dan meningkatkan hasil tanam perkebunan nenas14.
2.4.1 Kehidupan Ekonomi
Perekonomian suatu daerah sangat menentukan tingkat kesejahteraan masyarakat. Perekonomian suatu daerah ditentukan dari pendapatan dan sumber pencaharian masyarakat. Setiap daerah memiliki keunggulan perekonomian sendiri dibandingkan dengan daerah yang lainnya. Daerah Kecamatan Sipahutar merupakan salah satu daerah yang mata pencaharian utama adalah perkebunan nenas milik masyarakat itu sendiri.
Pada tahun 1991 masyarakat Sipahutar pada umumnya memenuhi kebutuhan hidup dengan mengandalkan hasil hutan seperti kemenyan, dan juga dengan bertani dengan sistem tumpang sari antara nenas dengan tumbuhan palawija.
14Wawancara, Bungaran Napitupulu, Desa Siabal-abal 1 (8 Maret 2019)
Masyarakat tidak semua memiliki hutan kemenyan, hanya terdapat di beberapa desa di Sipahutar seperti Desa Siparendean dan Sipahutar 1. Masyarakat yang tidak memiliki hutan kemenyan hanya sebagai pekerja dengan hasil yang tidak begitu memadai.
Sistem tumpang sari yang dilakukan masyarakat sangat sederhana, dengan menanami satu lahan dengan beberapa tanaman seperti nenas, bawang, ubi, dan dengan jumlah yang hanya cukup untuk dikomsumsi sehari-hari. Ibu Silitonga menjelaskan bahwa sistem tumpangsari ini sudah dikerjakan sejak dahulu dan terus menerus dikerjakan. Hal ini mengakibatkan pengetahuan masyarakat dalam pertanian tidak mengalami peningkatan. Dengan adanya perkembangan jaman membuat tantangan dan kebutuhan hidup semakin banyak mengakibatkan masyarakat semakin memikirkan cara untuk meningkatkan perekonomian.15
Pada masa seperti itulah masyarakat mencoba menanami berbagai jenis tanaman khususnya tanaman muda. Akan tetapi usaha yang dikerjakan masyarakat tidak memberikan hasil yang memuaskan karena kandungan tanah sebagai lahan pertanian tanaman palawija kurang mendukung. Kandungan tanah di daerah Kecamatan Sipahutar tergolong terjal dan gersang. Oleh karena itu masyarakat hanya bisa melakukan penanaman diatas lahan sempit dengan memilih lahan yang bisa ditanami tanaman palawija.16
15Wawancara, R. Silitonga, Desa Onan Runggu 1 (7 Maret 2019)
16Wawancara, Edison Napitupulu, Desa Siabal-abal 1 ( 7 Maret 2019)
Dengan tuntutan dan kebutuhan semakin besar, masyarakat tidak berhenti mencoba meningkatkan kualitas pertanian. Dilihat dari hasil pertanian tumpangsari sangat tidak menjanjikan untuk mencukupi kebutuhan hidup setiap keluarga.
Terutama masyarakat yang sudah memiliki anak yang harus dupenuhi kebutuhannya terutama kebutuhan hidup dan pendidikan. Karena banyaknya kebutuhan yang harus dipenuhi membuat masyarakat memiliki motivasi dalam meningkatkan perekonomian, berusaha mengembangkan pertanian nenas dari tanaman tumpang sari menjadi tanaman yang di usahai dalam satu lahan dengan khusus penanaman nenas dan dengan penambahan luas lahan.
Dalam pengembangan pertanian nenas pada tahun 1991 masyarakat terkendala dalam fasilitas pemasaran nenas dan fasilitas yang dibutuhkan.
Pengembangan ini sudah diawali membuka lahan 0,5 Ha per keluarga di desa Onan Runggu 1, namun pengangkutan dari lahan ke tempat pemasaran di pasar setempat daerah Sipahutar sangat sulit dikerjakan. Sedangkan hasil produksi pertanian sudah mempunyai hasil panen 200-300 buah nenas per dua minggu setiap 0,5 Ha. Hal ini juga mengakibatkan surutnya kembali semangat masyarakat dalam pengembangan perkebunan nenas. Dan pada akhirnya terhenti pada awal tahun 1993, dan kembali menjadikan tanaman nenas sebagai tanaman tumpang sari.
Dengan surutnya pengembangan pertanian nenas, masyarakat tetap berada dalam keadaan ekonomi yang terpuruk dan mengeluh akan perhatian pemerintah dalam pengembangan pertanian di daerah kecamatan Sipahutar yang sangat kurang.
Pada tahun 1993 masyarakat memenuhi kebutuhannya dengan hasil pertanian tumpang sari dan pekerja upah di hutan kemenyan milik masyarakat lainnya.
2.4.2 Pendidikan Masyarakat
Pada tahun 1991 dengan keadaan penghasilan yang belum bisa dikategorikan baik membuat pendidikan anak di Kecamatan Sipahutar mayoritas lulusan SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas). Hal ini karena belum cukupnya penghasilan setiap bulannya untuk menyekolahkan anak ke jenjang SMA bahkan masih sangat sedikit yang mampu menempuh pendidikan dalam perguruan tinggi.
Menurut masyarakat keadaan ini belum bisa terperbaiki dikarenakan belum adanya sarana atau mata pencaharian yang menjanjikan bagi masyarakat. Masyarakat cenderung ketakutan akan keadaan perekonomian yang berakibat susahnya memberikan anak bisa mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi terutama mereka yang memiliki kemampuan dan memiliki potensi untuk menikmati pendidikan yang lebih tinggi.
Orangtua hanya bisa memberikan saran kepada anak-anak mereka untuk pergi merantau ke kota besar di luar Sumatera untuk memperbaiki taraf hidup. Masyarakat Sipahutar yang memang mayoritas suku Batak Toba tidak ingin melihat anak anak mereka lebih buruk dari pada orangtua. Namun dengan keadaan perekonomian membuat anak hanya dapat menikmati pendidikan yang masih taraf rendah.
Anak yang pada akhirnya merantau belum tentu menjamin masa depan yang baik. Pada kenyataannya semakin berkembangnya jaman membuat tantangan dalam mencari pekerjaan semakin banyak persaingan. Anak yang memiliki tingkat pendidikan yang rendah tidak mampu bersaing dan pada akhirnya kembali ke kampung halaman.
Dengan kenyataan yang terjadi membuat masyarakat semakin kuatir akan keadaan dan keterpurukan yang diakibatkan pendidikan yang rendah. Anak yang memiliki pendidikan rendah juga membuat pola pikir mereka sempit dan memanfaatkan waktu untuk bermain dan mengerjakan hal-hal yang tidak berguna.
Orangtua paham betapa pentingnya pendidikan itu, namun yang bisa dikerjakan adalah memberikan pendidikan kepada anak pada tingkat sekolah menengah pertama. Hal ini pun sangat susah dikerjakan oleh sebagian besar masyarakat dikarenakan ekonomi yang tidak mendukung. Bahkan sebagian besar masyarakat kesulitan memenuhi kebutuhan dapur setiap harinya. Masyarakat tidak bisa memaksakan untuk memberikan pendidikan yang tinggi kepada anak.
Pada kenyataannya masyarakat juga mengeluh akan anak yang pendidikannya rendah, dikerenakan moral anak yang kurang berpendidikan sangat kurang. Anak tersebut lebih memikirkan diri sendiri dan terus menuntut banyak keinginan yang sangat sulit orangtua penuhi.17
17Wawancara, Ibu M. Hutagaol, Desa Siabal-abal 1 (8 Maret 2019)
Pendidikan memang dasar utama dalam melakukan perubahan dalam masyarakat. Pendidikan juga merupakan kebutuhan dasar yang sangat dibutuhkan setiap orang, karena dengan pendidikan akan mampu membentuk gaya hidup dan pola pikir yang lebih maju. Namun untuk mendapatkan pendidikan sangat dibutuhkan banyak hal seperti kemauan, kemampuan daya pikir, dan tentunya kemampuan ekonomi yang mendukung.
Banyak hal terjadi dalam masyarakat, terutama pendidikan yang sangat kurang, menjadikan adanya tindakan dari masyarakat untuk memperbaiki. Pada tahun 1994 masyarakat lebih giat untuk mengelola pertanian mereka dengan tetap mengajukan harapan kepada pemerintah untuk melakukan pembangunan sarana seperti jalan dan listrik ke pedalaman yang dapat membantu masyarakat meningkatkan hasil produksi pertanian terutama produksi perkebunan nenas yang dikelola setiap keluarga.
2.4.3 Kehidupan Sosial
Kehidupan sosial masyarakat selalu berkaitan dengan unsur yang terdapat dalam masyarakat. Perbedaan dan persamaan mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Kehidupan sosial itu sendiri dikerjakan oleh masyarakat yang mendiami suatu daerah yang hidup bersama dalam wilayah yang sama. Kehidupan sosial dapat dipengaruhi oleh budaya, agama, ras, bahasa, suku dan lainnya juga.
Masyarakat Sipahutar adalah masyarakat yang masih sangat kental dengan adat istiadat. Masyarakat adalah mayoritas suku Batak Toba. Selain satu suku, masih
banyak kesamaan yang dimiliki masyarakat membuat kehidupan sosial terjaga dengan baik seperti agama dan pekerjaan. Masyarakat hidup dalam keharmonisan, terutama dalam kegiatan upacara adat besar seperti adat pernikahan, upacara kematian, mangukkal holi (membongkar tulang belulang orangtua yang sudah lama meninggal) dan lainnya.
Ciri khas budaya batak juga masih terjaga dengan baik, terutama menjaga silsilah (partuturan)18 antar marga dan nomor dari tiap marga yang sama. Begitu juga dengan pembagian hak dalam adat (jambar)19, selalu diperhatian dan dikerjakan sesuai aturannya. Adat yang terus dijaga dan diperhatikan tentunya menjaga kehidupan sosial masyarakat. Hal ini membuat masyarakat pendatang menyesuaikan diri dengan membuat marga (manuhor marga), dan mencari marga yang sama dan serumpun.
Dalam sosial masyarakat dalam kehidupan sehari-hari selalu memelihara sopan santun antara yang muda dengan yang tua, yang menjadikan setiap masyarakat saling peduli dan saling memperhatikan. Ketika ada upacara yang dikerjakan satu keluarga maka penduduk sekitar akan datang membantu dan saling tolong menolong (marsiurupan) tanpa meminta upah ataupun gaji.
Pengelompokan sangat menentukan kehidupan sosial masyarakat Sipahutar yang juga didominasi dengan marga yang sama atau masih serumpun. Salah satu
18Partuturan merupakan sistem kekerabatan Batak Toba. Digunakan untuk tutur sapa maupun interaksi dalam kehidupan masyarakat Batak Toba.
19Jambar adalah istilah dalam Batak Toba yang menunjuk kepada hak atau bagian yang ditentukan bagi seseorang atau sekelompok orang.
contonnya adalah masyarakat di desa Siabal-abal mayoritas mempunyai marga Napitupulu dan desa Onan Runggu memiliki masyarakat mayoritas bermarga Simanjuntak, sehingga rasa kekeluargaan sangat terjaga dengan baik. Bagaimana semestinya orang batak yang memiliki adat dan tata krama selalu dijalankan tanpa ada motivasi buruk antar sesama masyarakat.
Jika dilihat dari kehidupan anak-anak muda di Kecamatan Sipahutar pada masa sebelum tahun 1995 sudah mengenal yang namanya hidup rukun, dan saling menghargai antara yang satu dengan yang lainnya. Ketika dalam masyarakat terjadi suatu perselisihan, maka akan diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Kehidupan sosial terjaga dengan baik, saling mengenal antar warga dan saling bertegur sapa dan tolong menolong.
BAB III
PERKEMBANGAN PERKEBUNAN NENAS DI KECAMATAN SIPAHUTAR (1995-2008)
Pada awalnya masyarakat di Kecamatan Sipahutar sudah melakukan kegiatan pertanian. Masyarakat menanami lahan dengan sistem tumpang sari, yaitu menanami berbagai jenis tanaman di atas lahan yang sama. Hasil pertanian hanya mampu memenuhi kebutuhan dapur karena hasil pertanian sangat sedikit. Hal ini akibat jenis dan kandungan tanah tidak cocok untuk berbagai jenis tanaman khususnya palawija.
Selain keadaan pertanian yang kurang baik keadaan ekonomi masyarakat juga kurang baik, dengan pendapatan Rp 400.000- Rp 600.000 per bulan yang hanya bisa mencukupi kebutuhan dapur.20
Masyarakat memenuhi kebutuhan dari hasil hutan kemenyan yang dimiliki sebagian warga seluas sekitar 1000 ha di Kecamatan Sipahutar. Masyarakat memperoleh hasil kerja dengan sistem upahan. Pada umumnya yang bekerja adalah laki-laki karena banyak resiko yang akan dihadapi dan juga membutuhkan tenaga yang lebih kuat.
Masyarakat berupaya mengerjakan usaha pertanian dengan mencoba mengembangkan tanaman palawija. Akan tetapi hal ini sangat susah dikembangkan karena komposisi tanah yang tidak cocok untuk penanaman tanaman palawija.
20Wawancara, S. Simanjuntak, Desa Onan Runggu 1 (14 Maret 2019)
Masyarakat berusaha mencari dan mencoba tanaman yang akan di kembangkan sesuai kecocokan dengan jenis dan kandungan tanah.21
Masyarakat mengerjakan usaha pertanian di atas lahan yang terbatas. Hal ini diakibatkan masyarakat terkendala dalam perluasan lahan pertanian, dan pemilihan jenis tanaman yang cocok.
Seiring berjalannnya waktu maka semakin banyak juga kebutuhan yang harus dipenuhi. Tantangan masyarakat semakin banyak dalam pemenuhan kebutuhan hidup. Akan tetapi sumber mata pencaharian masyarakat tidak mencukupi.
Pada tahun 1978 masyarakat tertarik dengan penanaman nenas yang dijadikan tanaman pekarangan dan tanaman tumpang sari oleh salah seorang masyarakat Desa Onan Ruggu 1 yaitu Bapak Simanjuntak. Bapak Simanjuntak melihat kualitas nenas yang ditanam dengan rasa manis dan ukuran besar. Hal ini membuat Bapak Simanjuntak melakukan perluasan penanaman tanaman nenas. Pada tahun 1985 Bapak Simanjuntak sudah melakukan pembibitan nenas yang menjadi bibit nenas yang diperjual belikan dan tersebar di seluruh desa di Kecamatan Sipahutar.
Setelah beberapa tahun masyarakat Kecamatan Sipahutar melihat kecocokan pengembangan penanaman tanaman nenas. dengan dicobanya memperhatikan pertumbuhan nenas yang dijadikan sebagai tanaman pekarangan disekitar rumah kemudian dikembangkan menjadi tanaman tumpang sari.
21Wawancara, S. Simanjuntak, Desa Onan Runggu 1 (14 Maret 2019)
Melihat hasil kualitas nenas yang baik, masyarakat tertarik untuk perbaikan ekonomi melalui tanaman nenas. Masyarakat pada awalnya menanam nenas untuk dikomsumsi sendiri. Namun masyarakat melihat cukup banyak tertarik dengan buah nenas. Masyarakat menjadikan nenas sebagai tanaman yang memiliki nilai ekonomi.
3.1 Proses Pengembangan Perkebunan Nenas
Masyarakat desa Onan Runggu yang menjadi desa yang pertama kali mengembangkan sistem penanaman nenas dari tanaman pekarangan, menjadi tanaman tumpangsari dan pada akhirnya menjadi tanaman perkebunan yang diusahai masyarakat itu sendiri. Mereka dapat memperhitungkan bagaimana untung rugi dalam pengembangan penanaman nenas. Banyaknya peminat buah nenas di pasar juga menjadi salah satu latar belakang masyarakat mengembangkan perkebunan nenas.
Diawali dari tiap keluarga menanami 0,5 ha, semakin diperluas hingga setiap keluarga memiliki 1-3 ha lahan yang ditanami nenas. Pada tahun 1995 bibit tanaman nenas sudah disebarkan ke desa lainnya di Sipahutar sehingga hampir keseluruhan masyarakat di 25 desa Kecamatan Sipahutar memiliki lahan yang ditanami nenas.
Perkebunan nenas yang dikembangkan sejak tahun 1995 diawali dengan penanaman nenas di lahan yang masih terbatas. Pada awalnya tanaman nenas dibudidayakan di salah satu desa di Kecamatan Sipahutar yaitu Desa Onan Runggu 1, yang merupakan daerah pembibitan nenas diperkirakan pada tahun 1985. Yang pada
awalnya nenas hanya dijadikan sebagai tanaman pekarangan kemudian menjadi tanaman yang ditumpangsarikan dengan tanaman lainnya.
Menurut penuturan Bapak S. Simanjuntak Kepala Desa Onan Runggu 1 yang menjabat tahun 2019, menjelaskan bahwa nenas di Desa Onan Runggu 1 sudah ada sejak 1964 yang berasal dari Palembang. Nenas ini dijadikan sebagai tanaman di pekarangan rumah yang dijadikan sebagai tanaman hias. Nenas dari Palembang ini tidak sengaja dibawa untuk dijadikan bibit, namun hanya dijadikan sebagai tanaman pekarangan.22
Menurut penjelasan Bapak S. Simanjuntak bahwa nenas pada akhirnya dijadikan tanaman tumpangsari dikarenakan adanya kualitas yang baik dari nenas yang ditanam disekitar pekarangan rumah. Kemudian dilakukan proses pembibitan dan pada akhirnya ditanami di atas lahan yang lebih luas.
Pengembangan penanaman nenas pertama dilakukan oleh Bapak Simanjuntak.
Yang dikelola dalam lahan yang masih sangat terbatas, namun setelah diperhatikan bahwa hasil penanaman nenas memberikan hasil yang memuaskan dilihat dari kualitas buah nenas besar dan manis. Kemudian Bapak Simanjuntak memperluas penanaman nenas sehingga menarik perhatian masyarakat untuk menanam nenas di lahan masing-masing terutama masyarakat Onan Runggu. Bapak Simanjuntak juga membuat lahan pembibitan untuk perluasan penanaman nenas. Hasil pembibitan ini kemudian diperjual belikan untuk masyrakat.
22Wawancara, S. Simanjuntak, Desa Onan Runggu 1 (14 Maret 2019)
Dengan hasil yang diperoleh dari penanaman nenas membuat masyarakat sekitar Desa Onan Runggu 1 membeli bibit nenas yang telah di hasilkan oleh Bapak Simanjuntak. Setelah melakukan penanaman nenas dengan cara tumpangsari oleh masyarakat, yang kemudian ditanami diatas lahan yang lebih luas.
Kemudian semakin meluas di seluruh desa Onan Runggu pada tahun 1990 dengan luas lahan tiap keluarga 0,5 ha. Masyarakat belajar dengan cara mengenali tanaman nenas, bagaimana pengelolaan penanaman nenas sampai pemanenan.
Masyarakat belajar mengetahui, tanaman nenas akan dipanen pada tahun ke 3 setelah penanaman bibit nenas.
Kemudian pada tahun 1995 pertanian nenas sudah menyeluruh di daerah Kecamatan Sipahutar yang menyebar di 22 desa. Namun tidak di semua desa menghasilkan kualitas yang sama terutama kualitas rasa. Diperkirakan hal ini diakibatkan adanya perbedaan kandungan tanah tiap daerah.
Pengembangan sarana dan pra sarana yang telah diberikan oleh pemerintah, mendukung pengembangan perkebunan nenas pada awal tahun 1995. Pembangunan jalan dan listrik membuat semangat dari masyarakat untuk semakin memperluas lahan pengembangan perkebunan nenas.
Masyarakat dari desa lain juga mengembangkan perkebunan nenas dengan bibit nenas yang berasal dari desa Onan Runggu. Pada tahun 1995 seluruh desa di kecamatan Sipahutar sudah melakukan pengembangan perkebunan nenas. Hal ini juga bisa dikerjakan baik pemilik modal besar maupun kecil karena mudahnya
pengelolaan tanaman nenas. Keadaan letak topografi Kecamatan Sipahutar juga sangat cocok untuk tanaman nenas disertai iklim dan cuaca yang sangat mendukung.
Secara sederhana, seluruh pengelolaan perkebunan nenas dengan lahan luas atau tidak, dikelola secara tradisional oleh pemilik perkebunan itu sendiri.
Masyarakat memiliki kemampuan secara otodidak untuk mengelola perkebunan nenas dari pembibitan sampai pemanenan. Pemanenan dikerjakan sebanyak 2 (dua) kali dalam 1 (satu) bulan dan pemupukan yang dikerjakan sebanyak 2 kali dalam setahun. Masyarakat memahami dari pertumbuhan tanaman nenas yang memang masih baik dengan lahan yang memang baru diolah dan ditanamai nenas untuk pertamakali mengakibatkan pemupukan cukup dikerjakan sebanyak 2 kali dalam satu tahun.23
Masyarakat juga memahami apa yang akan dikerjakan. Jika melihat kondisi tanaman nenas menurun kualitasnya, mereka segera bertindak untuk mengembalikan kwaliatas yang diharapkan. Dengan belajar dari setiap harinya, masyarakat sudah memahami apa yang harus dikerjakan ketika mendapati suatu masalah dalam tanaman nenas.
Tanaman nenas dipanen pada tahun ketiga sejak tahun penanaman dan pada hasil pemanenan pertama nenas lebih besar, dengan rasa yang lebih manis. Pada tahun yang keempat, tanaman nenas akan bercabang. Pada satu pokok tanaman nenas akan bercabang dua sampai tiga cabang.
23Tim Karya Tani Mandiri, Pedoman Bertanam Buah Nanas, Bandung:cv. Nuansa Aulia, 2010 hal. 11
Pada tahun kelima dan tahun berikutnya tanaman nenas akan terus bercaban.
Akan tetapi untuk menjaga kualiatas nenas baik, akan dilakukan pemotongan cabang nenas dan hanya menyisakan empat sampai lima cabang. Hal ini dilakukan untuk mencegah pembusukan pada buah nenas. Cabang yang terlalu banyak mengakibatkan tanaman nenas terlalu rapat, sehingga mengganggu pertumbuhan nenas.
Nenas yang berasal dari kecamatan ini dapat dikenali dengan ciri seperti, buah nenas dengan ukuran yang besar berdiameter kurang lebih 15 cm – 17 cm dengan tinggi buah mencapai 20 cm-24 cm, rasa manis, mengandung banyak air, warna cerah, dan berat buah mencapai 1-3 kg untuk ukuran 1 buah.24
Di awal pengembangan perkebunan nenas, pemilik perkebunan nenas menggunakan alat-alat pertanian tradisional seperti canggkul, sabit, babat dan parang.
Hal ini mengakibatkan susahnya untuk membuka lahan baru yang pada dasarnya adalah hutan ataupun tanah terjal yang belum pernah diolah sebelumnya sebagai lahan pertanian. Masyarakat hanya bisa mengolah lahan sebagai tempat penanaman nenas sebatas yang bisa dikelola setiap keluarga dengan kemampuan alat tradisional.
Jika diperkirakan dengan luas lahan yang belum diolah, sangat menjanjikan untuk dijadikan sebagai lahan pengembangan perkebunan nenas oleh rakyat.
Masyarakat yang mampu mempekerjakan orang lain berusaha untuk mengolah tanah dan memperluas lahan perkebunan nenas.
24Wawancara, S. Simanjuntak, Desa Onan Runggu 1 (14 Maret 2019)
Pada tahun 1998 masyarakat sudah menikmati hasil perkebunan nenas dengan lokasi pemasaran awalnya di daerah atau pasar lokal sekitar Kabupaten Tapanulai Utara. Pemasaran ini ada yang dilakukan oleh pemilik perkebunan itu sendiri terutama bagi mereka yang sudah memiliki mobil pickup25 yang efisien mengangkut 1000 biji nenas. Mereka pemilik perkebunan nenas yang tidak memiliki alat kendaraan, melakukan penjualan melalui pengepul. Pengepul di daerah ini merupakan masyarakat yang sudah memiliki mobil pengangkut dan juga memiliki perkebunan nenas.
Pada tahun 1998 berdiri sebuah pabrik pengalengan milik swasta di Desa Sipahutar 1. Pabrik ini mengelola nenas untuk pengalengan dengan jumlah sangat besar, mencapai 20 ton nenas segar setiap harinya. Pabrik ini hanya bertahan selama dua tahun, sehingga pada tahun 2000 pabrik ini tutup. Hal yang mengakibatkan pabrik ini tutup yaitu, tidak tercukupinya kebutuhan pabrik akan buah nenas. Pada saat itu buah nenas hanya bisa tersedia kurang lebih 5-8 ton perhari. Pabrik ini tidak mampu mendapatkan bahan baku nenas yang cukup karena perkebunan nenas di Kabupaten Tapanuli sebagai daerah yang dekat belum ada.
Pada tahun 2002 pabrik pengalengan nenas kembali dibangun namun berada di Kecamatan Siborongborong yaitu PT. Alami Agro Industry. Pabrik ini didirikan dengan bekerjasama dengan pemilik perkebunan nenas yang ada di Kabupaten
25Pickup adalah kendaraan truk ringan yang memiliki kabin tertutup dan bak terbuka di belakang untuk membawa barang bawaan atau kargo.
Tapanuli Utara dengan sasaran utama Kecamatan Sipahutar. PT. Alami Agro Industry berusaha melakukan penyuluhan perluasan penanaman nenas ke Daerah di Kabupaten Tapanuli Utara.
Pabrik ini membutuhkan 30 ton buah nenas segar setiap harinya, namun tidak tercukupi. Buah nenas yang tersedia hanya mencapai 8-10 Ton perharinya. Hal ini mengakibatkan pabrik PT. Alami Agro Industry tutup pada tahun 2008. Tutupnya pabrik pengalengan nenas mengakibatkan masyarakat kembali melakukan pemasaran dengan memanfaatkan pasar lokal.
Pemerintah melakukan hubungan dengan pihak pabrik untuk menghimpun hasil produksi perkebunan nenas yang ada di Kabupaten Tapanuli Utara untuk mencukupi bahan baku. Akan tetapi hasil yang diharapkan tetap tidak mencukupi bahan baku yang dibutuhkan. Begitu juga dengan harga yang diberikan oleh PT.
Alami Agro Industry, sangat rendah dengan harga Rp 400 – Rp 700 per kilogram. Hal ini mengakibatkan masyarakat mengeluh dengan harga yang ditawarkan tidak sesuai dengan usaha yang dikerjakan oleh masyarakat.
Pada tahun 2005 pemasaran nenas dari Kecamatan Sipahutar sudah dipasarkan keluar dari Kecamatan Sipahutar bahkan juga ke luar Kabupaten Tapanuli Utara seperti Siantar, Medan dan Jakarta. Selain penjualan persediaan yang dibutuhkan pabrik pengalengan nenas, nenas juga dipasarkan dengan melalui agen setempat dan khusus pemasaran ke kota Jakarta menggunakan transportasi khusus