• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LATAR BELAKANG MUNCULNYA PERKEBUNAN NENAS DI

3.2 Tantangan Yang Dihadapi Dalam Pengembangan Perkebunan Nenas

3.2.3 Infrastruktur

Harga hasil produksi dan penyakit tanaman nenas sudah menjadi tantangan bagi petani perkebunan nenas namun selain itu juga infrstruktur juga menjadi salah satu kendala yang dihadapi.

Infrastruktur merupakan kebutuhan dasar pengelolaan perkebunan nenas dari penanaman sampai pemasaran. Dalam hal ini membahas bagaimana masyarakat mengalami kesulitan pengelolaan perkebunan nenas karena terbatasnya infrastruktur.

Infrastrukur dasar yang dibutuhkan oleh masyarakat dalam mengelola perkebunan nenas yaitu, jalan, listrik, pendistribusian hasil produksi, transportasi, dan alat-alat pertanian yang digunakan mengelola lahan perkebunan.

Keterbatasan infrastruktur ini sudah pernah ditangani pada awal tahun 1993 dengan adanya peran dan tindakan dari pemerintah untuk pembangunan jalan dan

31Wawancara: Bonggas Pasaribu, Sekretaris Dinas Pertanian Kabupaten Tapanuli Utara (14 Maret 2019).

listrik yang mendukung perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar. Namun sampai pada tahun 2008 masyarakat masih terkendala dalam infrastruktur pengelolaan perkebunan terutama dalam pendistribusian nenas dan alat alat pertanian yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Masyarakat membutuhkan tindakan pemerintah dalam pendistribusian nenas terutama dalam penstabilan harga nenas sehingga masyarakat tetap boleh mendapatkan harga sesuai harga pasar. Masyarakat meminta pemerintah pemasaran nenas diperhatikan seperti pendistribusian dan penstabilan harga buah seperti hasil tanaman lainnya. Masyarakat juga mengharapkan adanya pengawasan terhadap agen agen liar di daerah setempat yang sangat mempengaruhi pendistribusian nenas dan juga mempengaruhi harga nenas yang diterima oleh masyarakat pemilik perkebunan nenas.

Dalam infrastruktur perlengkapan alat perkebunan yang dibutuhkan masyarakat yaitu alat-alat yang dibutuhkan untuk membuka lahan baru untuk memperluas lahan perkebunan nenas. dan juga untuk mengelola lahan perkebunan nenas yang sudah butuh diremajakan ataupun dihentikan dan diolah kembali karena tanaman nenas yang sudah terserang penyakit.

Menurut penjelasan bapak S. Simanjutntak, sebagai pemilik perkebunan mengharapakan pemerintah segera memberi bantuan kepada masyarakat untuk mengatasi maslah penyakit yang menyerang tanaman nenas. hal ini karena penyakit tanaman tersebut cukup menimbulkan kerugian besar bagi masyarakat. Masyarakat hanya bisa mengandalkan perekonomian dari perkebunan nenas, kalau tidak segera

ditangani mengenai penyakit yang menyerang, bagaimana masyarakat memenuhi kebutuhan hidup.32

32Wawancara, S. Simanjuntak, Desa Onan Runggu 1 (14 Maret 2019)

BAB IV

DAMPAK PERKEBUNAN NENAS PADA MASYARAKAT DARI (1995-2008)

Perkembangan suatu daerah dapat dilihat dari kehidupan masyarakatnya terutama bagaimana perekonomiannya yang berdampak terhadap aspek kehidupan lainnya. Salah satu penghasilan utama masyarakat Kecamatan Sipahutar yaitu perkebunan nenas yang dikelola oleh masyarakat sebagai pemilik perkebunan nenas itu sendiri.

Dilihat dari perkembangan dan pertambahan luas lahan nenas dari tahun 1995-2008, menggambarkan pengaruh perkebunan nenas dirasakan oleh masyarakat.

Masyarakat mengaku bahwa sumber mata pencaharian utama mereka adalah bertanam nenas. Masyarakat rata-rata mengelola 1-3 ha perkebunan nenas per keluarga. Masyarakat mengerjakan perkebunan masing-masing. Ketika ekonomi berkembang maka akan berdampak terhadap kehidupan masyarakat secara keseluruhan begitu juga dengan kesejahteraan masyarakat.

Dampak dari perkembangan perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar dirasakan oleh masyarakat dengan peningkatan terhadap berbagai aspek kehidupan masyarakat seperti:

4.1 Dampak Terhadap Perekonomian Masyarakat

Perekonomian merupakan aspek penting dalam kehidupan sehari-hari, yang yang menjadi salah satu indikator dalam pembahasan kesejahteraan masyarakat. Hal ini terlihat dari bagaimana manusia berhubungan dengan cara hidup dan komsumsi terhadap barang dan jasa.

Perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar yang menjadi sumber mata pencaharian utama sangat berdampak terhadap kehidupan ekonomi masyarakat. Di awali sejak tahun 1995 kehidupan masyarakat Kecamatan Sipahutar bergantung pada hasil produksi perkebunan, sehingga masyarakat sangat terbantu dengan adanya tanaman ini.

Pada tahun 1995 awal pengembangan perkebunan nenas, pendapatan masyarakat masih terbatas untuk mencukupi kebutuhan pokok. Masyarakat masih belajar bagaimana pengelolaan tanaman nenas sebagai komoditi perkebunan.

Perjuangan masyarakat mengawali perkembangan perkebunan nenas memberikan keyakinan kepada masyarakat dalam meningkatkan perekonomian.

Sebelum tahun 1995 masyarakat memenuhi kebutuhan secara sederhana.

Perekonomian masyarakat bersumber dari hasil hutan kemenyan dan tanaman palawija. Hutan kemenyan tidak dimiliki semua masyarakat, sehingga mencoba menanami tanaman palawija. Akan tetapi hasil yang didapat tidak memuaskan dan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan. Hal ini karena kurang mendukungnya kondisi kandungan tanah untuk tanaman palawija.

Masyarakat juga melakukan penanaman tanaman palawija tersebut dengan sistem tumpang sari antara beberapa jenis tanaman di atas satu lahan. Akan tetapi hasil yang diperoleh juga tidak maksimal. Hal ini membuat hasil pertanian tidak menjanjikan untuk dijadikan sebagai sumber ekonomi masyarakat.

Masyarakat hidup dengan sederhana dengan memiliki rumah yang belum permanen. Hal ini juga berkaitan dengan fasilitas yang ada di dalam rumah sangat sederhana. Tingkat komsumsi masyarakat akan barang sangat rendah akibat ketidakmampuan masyarakat untuk membeli.

Pada tahun 1995 tanaman nenas sudah dijadikan sebagai tanaman utama dalam perkebunan. Tahun 1998 masyarakat sudah merasakan hasil perkebunan nenas dengan pemasaran hasil produksi di pasar lokal atau pasar setempat. Masyarakat semakin berpengalaman dalam pengelolaan perkebunan nenas. Pengembangan perkebunan nenas semakin luas setiap tahunnya, begitu juga perkembangan harga nenas. Diawali dari harga Rp 7.000 per 10 biji nenas pada tahun 1998-2000 sampai pada harga nenas Rp 2000-Rp 3000 per biji pada tahun 2005-2008. Pemasaran hasil perkebunan nenas juga semakin meluas dari pemasaran lokal sampai ke daerah lain seperti Siantar, Medan, Jakarta. Hal ini semakin meyakinkan mengenai perekonomian masyarakat Kecamatan Sipahutar.33

33 Badan Pusat Statistik Kabupaten Tapanuli Utara

Terjadi peningkatan penghasilan masyarakat dari hasil perkebunan yang dihasilkan. Dalam satu bulan perkebunan nenas dipanen sebanyak dua kali dengan hasil panen kurang lebih 500-700 biji per 1 ha. Ketika harga buah nenas Rp 2000- Rp 3000, maka masyarakat mampu menghasilkan Rp. 1000.000- Rp 2.100.000 dalam dua minggu per ha. Hal ini tentunya merupakan peningkatan perekonomian masyarakat.

Peningkatan perekonomian ini terlihat dari kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan hidup, tidak sebatas kebutuhan pokok saja. Masyarakat mampu memiliki bangunan rumah yang bersifat permanen, kendaraan pribadi, kemampuan menyekolahkan anak, dan lain sebagainya.

Hal lain yang dapat dilihat yaitu, masyarakat mampu mengadakan kegiatan yang berhubungan dengan adat istiadat. Hal ini tentu butuh biaya yang besar. Dalam adat Batak Toba ketika mengadakan suatu upacara adat akan memerlukan banyak biaya seperti perlengkapan adat, konsumsi untuk para undangan. Kegiatan adat Suku Batak Toba umumnya mengharapkan undangan dengan jumlah besar dengan prinsip semakin banyak undangan yang hadir maka yang mengadakan adat tersebut semakin terhormat. Hal ini seakan merupakan sebuah kewajiban dan kebanggan bagi masyarakat Suku Batak Toba. Masyarakat Sipahutar mampu mengerjakannya dengan adanya hasil dari perkebunan nenas.

Peningkatan perekonomian masyarakat ini juga terlihat dari kemampuan masyarakat untuk rekreasi bersama keluarga. Masyarakat tidak terlepas dari penggunan barang-barang seperti televisi, sepeda motor, handphone, perhiasan,

maupun mobil untuk kepentingan pengangkutan nenas. Daya beli masyarakat juga semakin meningkat terlihat dari meningkatnya jumlah warung di Kecamatan Sipahutar yang menyediakan bahan pokok dan juga kebutuhan lainnya. Tentunya berdirinya warung di daerah ini dapat terjadi karena semakin meningkatnya perekonomian masyarakat.

Peningkatan perekonomian mempengaruhi kemampuan masyarakat untuk menyekolahkan anak ke jenjang yang lebih tinggi. Masyarakat pada awalnya hanya mampu menyekolahkan anak ke jenjang Sekolah Lanjutan Menengah Atas (SLTA).

Akan tetapi setelah adanya perkembangan perkebunan nenas masyarakat mampu menyekolahkan ke jenjang perguruan tinggi.

4.2 Dampak Terhadap Pendidikan Masyarakat

Peningkatan ekonomi berdampak terhadap peningkatan pendidikan. Hal ini berkaitan dengan kemampuan masyarakat membayar uang sekolah dan kebutuhan sekolah lainnya. Perkembangan perkebunan nenas di Kecamatan Sipahutar memberi dampak besar terhadap masyarakat baik dibidang ekonomi dan juga dengan bidang pendidikan. Dilihat dari perkembangan pendidikan masyarakat sejak berkembangnya perkebunan nenas dari tahun 1995-2008 semakin meningkat.

Sebelum perkembangan perkebunan nenas masyarakat sudah merasa puas dengan tingkat pendidikan yang telah dicapai yaitu jenjang Sekolah Lanjutan Menengah Atas ( SLTA). Akan tetapi setelah meningkatnya ekonomi masyarakat,

para orangtua terdorong untuk menyekolahkan anak-anak mereka sampai ke jenjang perguruan tinggi.

Anak-anak tidak lagi terlalu dilibatkan untuk mengurus perkebunan nenas.

Para orangtua mendorong anak-anak untuk mengikuti banyak kegiatan yang mendukung mutu pendidikan mereka. Begitu juga dengan kemauan anak semakin meningkat untuk meraih pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Pada tahun 2000 terdapat peningkatan jenjang pendidikan masyarakat dari tingkat Sekolah Lanjutan Menengah Pertama (SLTP) sampai tingkat pendidikan Sekolah Lanjutan Menengah Atas (SLTA) bahkan sampai perguruan tinggi. Hal ini terjadi karena adanya dampak dari hasil pengeloaan perkebunan nenas. Masyarakat lebih mampu menyekolahkan anak mereka dengan mengandalkan hasil dari perkebunan nenas yang mampu mencukupi pembiayaan pendidikan anak.

Menurut Ibu R. Hutagaol, pendidikan di Kecamatan Sipahutar semakin meningkat dengan adanya perkembangan perkebunan nenas. Tanaman ini memberikan hasil kepada masyarakat. Hal ini dapat dilihat dari keadaan pendidikan anak-anak di Kecamatan Sipahutar sudah semua mendapat pendidikan minimal pada tingkat sekolah menengat atas. Sebelum tahun 1995 masyarakat sulit mencari dana untuk menyekolahkan anak ke jenjang sekolah menengah atas, namun dengan perkembangan perkebuanan nenas yang semakin luas, masyarakat sudah mampu

menyekolahkan anak ke luar daerah Kecamatan Sipahutar ke jenjang yang lebih tinggi.34

Hal ini sangat diharapkan masyarakat supaya ada perubahan daerah Kecamatan Sipahutar untuk lebih maju. Peningkatan pendidikan bagi masyarakat Kecamatan Sipahutar memberi pengaruh kepada perkembangan perkebunan nenas.

Anak yang telah berpendidikan memberi pandangan yang lebih luas terhadap masyarakat tentang manfaat buah nenas dan pengelolaan nenas untuk lebih bermanfaat.

Tabel VI:

Peningkatan Pendidikan Berdasarkan Jumlah Siswa Dan Jenjang Pendidikan Di Kecamatan Sipahutar

Pada awalnya sebelum perkembangan perkebunan nenas, masyarakat sangat sulit melanjutkan pendidikan kejenjang perguruan tinggi sehingga memilih untuk merantau dan bekerja. Akan tetapi setelah perkembangan perkebunan nenas, masyarakat mampu melanjutkan pendidikan anak ke jenjang perguruan tinggi. Oleh karena itu sejak tahun 2007 tidak sulit menemukan keluarga yang sudah menyekolahkan anak ke perguruan tinggi.

34 Wawancara: R. Hutagaol, Desa Siparendean (9 Maret 2019)

4.3 Dampak Terhadap Kehidupan Sosial Masyarakat

Kehidupan sosial adalah kehidupan yang di dalamnya terdapat unsur-unsur sosial/kemasyarakatan (interaksi dengan orang disekitarnya). Kehidupan sosial akan dipengaruhi keadaan masyarakat seperti ekonomi, pendidikan, agama, pekerjaan dan hal lainnya.

Masyarakat Kecamatan Sipahutar merupakan kecamatan yang penduduknya mayoritas Suku Batak Toba. Hubungan antar masyarakat berjalan dengan baik.

Terlihat dari kehidupan sosial sehari-hari baik dalam suatu kegiatan besar ataupun kegiatan kecil.

Masyarakat Kecamatan Sipahutar sangat menjunjung tinggi adat budayanya.

Salah satu kehidupan sosial terjaga dengan baik dengan dijaganya budaya silsilah dalihan natolu (tiga tungku), sehingga setiap masyarakat tetap terikat antara masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Budaya dalihan natolu (tiga tungku) ini berlaku setiap saat dan setiap kondisi, baik ketika upacara adat maupun dalam kehidupan setiap hari.

Masyarakat menyelesaikan setiap masalah dengan sistem kekeluargaan dan dengan sistem adat istiadat dalam masyarakat. Namun kehidupan sosial tidak terlepas dari kehidupan ekonomi masyarakat. Masyarakat harus mampu mengikuti segala kegiatan adat yang dilaksanakan.

Setiap orang tentu ingin menunjukkan kebutuhan akan aspek sosial budayanya jika mereka mampu. Demikian juga dengan masyarakat Sipahutar.

Peningkatan kemampuan ekonomi berpengaruh terhadap perilaku sosial budayanya.

Hal ini terlihat dari semakin banyaknya acara adat yang mampu dilakukan, dengan baik dan semakin meriah. Kegiatan adat-istiadat pada masyarakat Batak Toba memerlukan biaya yang besar baik yang mengadakan adat ataupun undangan.

Peningkatan ekonomi tentu membuat mereka lebih mampu melakukannya.

Terjadi juga perkembangan perkumpulan-perkumpulan baik untuk marga, STM yang tentunya meningkatkan interaksi antar masyarakat. Dalam kehidupan sosial masyarakat terutama sistem upacara adat-istiadat, masyarakat mampu memberikan sumbangan yang merupakan bantuan sekaligus tanggung jawab dana antara masyarakat ketika adanya suatu upacara adat. Dengan adanya hasil dari perkebunan membantu masyarakat saling mencukupi dalam suatu upacara adat.

Masyarakat mampu mengadakan pertemuan-pertemuan marga ataupun mengikuti arisan dengan menghabiskan biaya yang cukup besar.

Akan tetapi ada juga dampak lain yang timbul setelah perkembangan perkebunan nenas, yaitu terjadinya pergeseran sikap, seperti gotong royong (marsiurrupan) semakin menurun. Masyarakat sudah lebih mengutamakan tenaga yang dibayar untuk bekerja di perkebunan nenas. Masyarakat mulai memperhitungkan nilai dari setiap hal yang dikerjakan. Marsiurupan bukan lagi hal yang dikerjakan, tetapi setiap orang pekerja akan dihitung dengan nilai uang.

Masyarakat yang membutuhkan tenaga kerja akan bersaing dalam mendapatkan pekerja dari masyarakat. Sama halnya dengan pekerja akan memperhatikan sistem pengupahan yaitu perbandingan besar upah yang akan didapatkan. Hal ini menimbulkan kerenggangan hubungan sosial kekeluargaan masyarakat. Terjadi persaingan untuk mendapat tenaga pekerja, yang berpengaruh terhadap sistem pengupahan.

Masyarakat juga menunjukkan kemampuan untuk memiliki barang-barang seperti peralatan rumah, kendaraan, televisi dan handphone. Hal ini akibat masyarakat merasa gengsi terhadap apa yang orang lain miliki. Adanya sifat konsumtif masyarakat yang semakin meningkat. Masyarakat mampu memenuhi kebutuhan pokok dan diluar kebutuhan pokok.

Setelah perkebunan nenas berkembang, masyarakat melakukan pekerjaan masing-masing. Hal ini karena masyarakat memiliki perkebunan nenas milik sendiri dan hasil dari perkebunan mancukupi masyarakat untuk memiliki alat-alat yang modern dan tidak menggunakan banyak tenaga manusia. Kehidupan sosial tolong menolong dalam masyarakat semakin berkurang. Hal ini mengakibatkan timbulnya egoisme dalam kehidupan masyarakat. Masyarakat dulunya menikmati buah nenas tanpa meminta bayaran. Akan tetapi saat nenas sudah menjadi nilai ekonomi, ada rasa sungkan untuk mengambil buah nenas orang lain tanpa membeli.

Menurut Bapak Bungaran Napitupulu, pendistribusian hasil produksi untuk pemasaran, masyarakat bersaing untuk mendapatkan toke ataupun tengkulak. Toke yang mau diperebutkan adalah toke yang memberikan tawaran harga yang berbeda dengan toke lainnya. Harga yang ditawarkan lebih tinggi ataupun berbeda antara toke yang satu dengan yang lainnya. Masyarakat pada akhirnya kurang puas dengan hasil yang didapatkan dari toke yang memberikan harga berbeda bagi masyarakat.

Tengkulak juga memiliki keegoisan untuk menanggapi permintaan harga oleh masyarakat. Hal ini mengakibatkan masyarakat berusaha toke mendapatkan toke yang menawarkan harga paling tinggi. Hal ini mengakibatkan satu masyarakat dengan masyarakat lainnya melakukan persaingan dan mengakibatkan terkikisnya nilai sosial masyarakat.35

Tidak bisa dipungkiri bahwa dengan perkembangan kemajuan jaman menjadi sebuah tantangan bagi masyarakat dalam memepertahankan kehidupan sosial.

Perkembangan teknologi mempengaruhi perkembangan perkebunan nenas dengan semakin mudahnya masyarakat dalam mengelola perkebunan dalam jumlah lahan yang luas dengan tenaga manusia yang sedikit. Perkembangan teknologi membuat sistem tolong menolong dalam mengelola perkebunan semakin berkurang.

Perkembangan perkebunan nenas juga mengakibatkan semakin banyaknya rentenir dalam masyarakat. Keharmonisan masyarakat yang terlihat dari kehidupan

35Wawancara, Bungaran Napitupulu, Desa Siabal-abal 1 (8 Maret 2019)

saling berbagi semakin terkikis. Masyarakat semakin memperhitungkan segala sesuatunya dengan nilai.

4.4 Dampak Terhadap Pengembangan Fasilitas Masyarakat

Fasilitas yang terdapat dalam suatu daerah adalah salah satu penilaian bagaimana perkembangan daerah tersebut. Begitu juga dengan daerah Kecamatan Sipahutar dapat dilihat dari perkembangan fasilitas yang ada dalam masyarakat.

Pada tahun 1995, perkembangan perkebunan nenas terlihat dengan adanya perkembangan pembangunan jalan dan listrik ke desa-desa pedalaman yang merupakan daerah perkebunan nenas. Hal Ini terjadi dengan permintaan masyarakat kepada pemerintah untuk memperlancar pengelolaan perkebunan nenas, terutama dalam hal panen dan pendistribusian hasil produksi.

Setelah perkembangan perkebunan nenas, masyarakat membutuhkan pembangunan jalan kedesa-desa pedalaman sesuai lokasi perkebunan. Hal ini karena masyarakat harus mengangkut hasil perkebunan dari lokasi perkebunan. Begitu juga dengan mobil pengangkut yang membutuhkan sarana jalan untuk menjangkau setiap lokasi perkebunan.

Hasil dari produksi perkebunan tentunya berpengaruh terhadap peningkatan berbagai aspek kehidupan masyarakat selain fasilitas jalan juga terjadi peningkatan terhadap fasilitas pendidikan. Dapat dilihat dari bertambahnya jumlah sekolah di

Kecamatan Sipahutar. Sekolah ini didirikan karena kebutuhan dan minat masyarakat untuk menyekolahkan anak. Hal ini tentunya didukung juga dengan adanya perekonomian masyarakat dari hasil perkebunan nenas.

Pada tahun 2006 tesebar 39 sekolah dasar negeri, 5 SMPN, 3 SMP Swasta, 1 SMU Negeri, dan 2 SMK Swasta, perkembangan sekolah ini juga diikuti dengan bertambahnya jumlah siswa yang mengikuti pendidikan.

Fasilitas masyarakat semakin bertambah baik, seperti bangunan gereja yang diperbaiki dan dilengkapi dengan aula. Masyarakat membutuhkan aula untuk acara dan pertemuan besar seperti upacara adat. Hal ini bisa terjadi dengan hasil swadaya masyarakat untuk memperbaiki fasilitas yang mereka butuhkan. Masyarakat mampu mengerjakannya karena adanya ekonomi yang semakin baik.

Kegiatan masyarakat semakin lancar dengan adanya angkutan umum maupun milik pibadi. Hal ini membantu masyarakat untuk melakukan perjalanan ke kota maupun ke daerah diluar Kecamatan Sipahutar. Masyarakat semakin mudah mendapatkan kebutuhan dengan adanya toko atau warung yang semakin banyak berdiri di Kecamatan Sipahutar. Tentunya hal ini bisa berkembang karena daya beli masyarakat semkain meningkat dan tingkat kebutuhan masyrakat semakin banyak.

Perkembangan yang lainnya dapat dilihat dari berkembangnya warung kopi yang menjadi tempat perkumpulan para bapak. Dalam masyarakat Sipahutar terutama para bapak mempunyai kebiasaan untuk berkumpul di warung kopi setiap hari Sabtu

di sore harinya. Mereka menyatakan bahwa perkumpulan di hari Sabtu itu sangat diperlukan untuk membahas perkembangan harga nenas dan perkembangan pendistribusian nenas.

Perkembangan perkebunan nenas ini juga berpengaruh terhadap fasilitas usaha tani masyarakat. Fasilitas usaha tani ini merupakan suatu usaha yang membantu masyarakat untuk memudahkan mendapatkan bahan pertanian maupun alat-alat pertanian. Usaha tani ini merupakan kerjasama antara masyarakat yang saling membutuhkan dalam mengembangkan usaha pertanian atau perkebunan masing masing dengan membentuk suatu kelompok. Kelompok usaha tani ini beranggotakan maksimal 20 kepala keluarga, dan setiap kelompok memberi waktu untuk mengadakan rapat pada saat saat tertentu. Kelompok usaha tani ini juga dipantau oleh PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) yang membimbing masyarakat bagaimana mengelola pertanian sesuai jenis tanamannya dengan arahan dari pembibitan, pemupukan sampai pada pemanenan.36

Masyarakat menikmati fasilitas yang sudah tersedia karena adanya perkembangan perkebunan nenas. Masyarakat mampu mengikuti perkembangan setiap waktu secara perlahan baik ekonomi dan pendidikan. Masyarakat juga mampu melengkapi keperluan sekolah anak secara baik dan bahkan ada yang menyekolahkan

36Wawancara: R. Sianipar, anggota Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Sipahutar (14 Maret 2019)

ke luar Daerah Kecamatan Sipahutar. Perkembangan fasilitas masyarakat membantu pengembangan kehidupan masyarakat dalam mencapai kesejahteraan.

Pada tahun 1997 telah didirikan sebuah pabrik pengalengan nenas oleh pihak swasta. Pabrik ini didirikan karena perkembangan perkebunan nenas yang cukup cepat. Pabrik ini membantu masyarakat untuk penjualan hasil produksi nenas dengan harga yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Namun pada akhir tahun 1999 pabrik ini tutup karena kebutuhan jumlah nenas yang akan di olah tidak mencukupi.

Kebutuhan pabrik akan nenas mencapai 30 ton dalam satu hari untuk menyeimbangkan pengolahan dan pendistribusian nenas. Akan tetapi nenas di Kecamatan Sipahutar hanya mampu mencapai 8-10 ton per hari sehingga perusahaan tidak sanggup bertahan lama jika hanya mengelola 8-10 ton per hari. Masyarakat juga menganggap harga nenas yang ditawarkan oleh perusahaan kepada masyarakat terlalu murah yaitu Rp 300/kg. Masyarakat berusaha mengalihkan penjualan nenas ke pasar lokal. Keadaan ini mengakibatkan pabrik yang dibangun di Kecamatan Supahutar mengalami kebangrutan37.

Fasilitas dalam masyarakat semakin terpenuhi dengan adanya perkembangan toko-toko, warung, dan juga perkembangan transportasi dalam masyaratkat. Hal ini tentunya tidak terlepas dari perkembangan perkebunan nenas.

37Wawancara, S. Simanjuntak, Desa Onan Runggu 1 ( 14 Maret 2019)

BAB V

KESIMPULAN

5.1 Kesimpulan

Kecamatan Sipahutar merupakan salah satu dari 15 kecamatan di Kabupaten Tapanuli Utara. Kecamatan ini memiliki masyarakat mayoritas Suku Batak Toba dan sangat menjunjung erat budaya serta adat Batak Toba.

Sebelum tahun 1950 masyarakat memenuhi kebutuhan hidup dengan hasil hutan kemenyan yang dimiliki sebagian masyarakat. Masyarakat juga sudah bercocok tanam, namun hanya sebatas memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan tanaman palawija dan juga tanaman muda seperti sayur. Masyarakat yang mayoritas petani hanya memahami bercocok tanam dengan penanaman tumpang sari.

Keterbatasan perekonomian masyarakat mengakibatkan tingkat pindidikan rendah. Selain faktor ekonomi, sebelum tahun 1995 fasilitas pendidikan juga masih terbatas.

Pada awalnya masyarakat tidak mampu meningkatkan perekonomian diakibatkan pengetahuan masyarakat akan mengelola lahan pertanian sangat terbatas.

Masyarakat mengeluh akan kondisi tanah yang kurang subur untuk ditanami tanaman muda. Hal mengakibatkan masyarakat melakukan percobaan penanaman dengan tumpang sari antara beberapa jenis tanaman yang berbeda.

Masyarakat melakukan perubahan pola pertanian dengan memahami jenis tanaman yang bernilai ekonomi yang bisa diperjualbelikan. Masyarakat belajar dengan pengalaman sendiri dalam kehidupan sehari-hari bagaimana sistem bercocok tanam dengan setiap tanaman yang berbeda. Pada tahun 1991 masyarakat tertarik dengan adanya tanaman pekarangan yang dikenal oleh masyarakat yaitu tanaman nenas, namun terjadi kendala dalam pengelolaan.

Masyarakat tertarik karena tanaman nenas ini bisa dibudidayakan dengan cara yang mudah dan peluang harga yang baik. Hal ini mendorong masyarakat untuk

Masyarakat tertarik karena tanaman nenas ini bisa dibudidayakan dengan cara yang mudah dan peluang harga yang baik. Hal ini mendorong masyarakat untuk

Dokumen terkait