• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak yang Ditimbulkan dari adanya Politik Dinasti

PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN

2.3. Dampak yang Ditimbulkan dari adanya Politik Dinasti

Untuk memperkuat kekuasaan serta mempertahankan kekuasaan para oknum tertentu membuat kekuatan yang berasal dari keluarga ataupun kerabat yang mempunyai pengaruh sering disebut istlah dinasti politik. Pada hakikatnya kekuasaan mampu memberi perintah kepada siapapun sesuai keinginan penguasa. Hal ini membuat para pemimpin mempertahankan kekuasaan demi kepentingan pribadi dengan cara mencalonkan orang-orang yang merupakan saudara, kerabat, istri bahkan

anaknya. Tentu ini akan membuat suatu pemerintah yang abuse of power yang terjadi, hal ini akan membuat ketidak adilan dalam kehidupan bermasyrakat. Pada penelitian penulis menganalisis masalah yang serupa pada kekuasaan di desa Mangaledang yang kekuasaan di dominasi oleh satu keluarga dalam empat kali priode yaitu marga siregar.

Namun dalam penelitian ini berbanding terbalik dengan pandangan terhadap dinasti politik yang menganggap dinasti politik akan menciptakan kolusi, korupsi dan nepotisme. Pada kepempinan kepala desa yang dipegang satu keluarga empat priode masyarakat merasa bahwa ada keadilan, kesetaraan dan kesempatan yang sama dalam membangun desa, dimana kepala desa merangkul semua yang berbeda pandangan pada masa pemilihan untuk ikut serta dalam memberi buah pikir untuk kemajuan desa tanpa memandang marga. Misalnya pada pembangunan di desa Mangaledang kepala desa selalu memberikan kesempatan kepada semua untuk mendiskusikan dan membawanya dalam rapat untuk di bahas bersama untuk memutuskan sesuai hasil musyawarah bersama. Oleh karena itu penulis berasumsi bahwa politik dinasti tidak semua negatif tergantung kepada pemimpinnya.

Sejalan dengan perkembangan zaman, pembangunan juga semakin ikut mengalami perubahan dan peningkatan mulai baik dibidang teknologi dan pengetahuan. Hal ini juga mempengaruhi sumber daya manusia yang juga semakin membuat masyarakat mengubah pola pikir yang jauh lebih baik dan menantang yang didasarkan pada pengetahuan yang didapatnya dibangku sekolah. Dari perubahan tersebut timbullah keinginan untuk berkuasa supaya mampu membuat sebuah kebijakan untuk melengkapi nafsu kekuasaanya. Hal ini orang semakin tak acuh untuk mempedulikan kepentingan orang lain dan hanya fokus pada kepentingan pribadi ataupun golongan. Terlepas dari persoalan itu, output dari perkembangan zaman yang seharusnya masyarakat lebih dituntut untuk lebih kristis dan mampu menciptakan perubahan, sehingga akibatnya banyak pemimpin yang berkuasa hanya

karena ambisi semata bukan berdasarkan pada kopoten dan kapabilitas yang menghuni.

Seperti yang disampaikan oleh salah satu warga desa Mangaledang mengatakan”jabatan perangkat desa masih banyak masih belum mampu secara mandiri dalam bidangnya dan mereka menduduki jabatan tersebut hanya karena ada hubungan kedekatan antara kepala desa, hal ini membuat sebuah pemerintahan di desa banyak yang tidak efektif sehigga kelancaran pembangunan terhambat, hal ini desebabkan karena faktor pendidikan yang masih rendah”

Kualitas dan kopetensi yang dimiliki aparat desa yang masih rendah tentu akan mempengaruhi cara pelayanan yang tidak baik. Pelayanan yang adalah sebuah hak yang mesti diterima oleh sesuai tujuan utama dari pembangunan desa yaitu mensejahtrakan masyarakat. Dalam politik dinasti keadilalan dan pelayanan publik merupakan sebuah janji yang impelementasinya jauh dari apa yang diharapkan, tetapi kekuasaan komitmen yang mutlak dipertahankan.

Politik dinasti politik akan mencederai nilai-nilai demokrasi itu sendiri karena kekuasaanya diperoleh semata-semata karena dukungan keluarga dan kerabat bukan berdasarkan kemampuan dan programnya. Hal ini akan merugikan banyak pihak yang ingin berkontribusi bagi pembangunan desanya karena terjanggal oleh kekuasaan dinasti politik yang menempatkan saudara dan kerabatnya pada jabatan-jabatan tertentu yang mampu mempengaruhi perilaku pemilih masyarakat. Politik dinasti merupakan cara yang strategis bagi oknum tertentu yang haus akan kekuasaan walaupun kebanyakan mereka tidak memiliki integritas dan kemampuan yang menghuni dalam bidang pemerintahan, hal ini membuat perilaku yang apatis terhadap kemajuan dan pembangunan desa dan lebih memilih untuk pasrah dan tidak mau tahu.

Masyarakat Mangaledang seoalah terbiasa dengan hak seperti ini, karena beberapa priode masyarakat hanya dipertontonkan oleh pergantian kekuasaan yang hanya berasal dari keluarga itu sendiri, sehingga masyarakat terbelah di desa tersebut.

Mereka yang menjadi oposisi tidak banyak berbuat apa-apa dan hanya pasrah dengan sebuah keputusan kepala desa, disebabkan karena mereka yang opisi hanya tunduk pada kenyataan ketidak mampuan untuk mengalahkan pemimpin yang mungki rasa tidak sesuai dengan keinginan mereka. Politik dinasti di desa Mangadelang mengisahkan sebuah kekuasaan yang bertahan lama dan mampu mempengaruhi tokoh-tokoh yang ada dalam masyarakat itu. Kekuasaan yang diperoleh berdasarkan dinasti politik tentu akan membuat suatu pemerintahan yang tidak baik serta mencederai nilai-nilai demokrasi.

Pro dan kontra terhadap dinasti politik namun beberapa kelemahan yang menjadi fokus penelitian pada dampak dinasti politik yaitu pemimpin yang terpilih atas dasar dinasti politik secara tidak langsung akan memberikan beban politik sehingga dalam perengkrutan aparat desa masih bayang-bayang beban balas budi sehingga akan mencipatakan aparat desa yang kurang professional dalam bidangnya.

BAB V PENUTUP Kesimpulan Dan Saran

5.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan tentang politik dinasti dalam kepemimpinan desa ( Studi di Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara), maka dengan ini dapat penulis tarik kesimpulan sebagai berikut:

Sejarah politik dinasti politik yang terjadi di desa Mangaledang Lama kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara bermula dari Daman Huri Siregar yang terpilih menjadi kepala desa mulai tahun 2001 - 2011 (dua periode), setelah itu ada keinginan untuk berkuasa dengan cara mewariskan kekuasaannya kepada adik kandungnya sendiri lewat pemilihan kepala desa.

Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya politik dinasti di desa Mangaledang Lama yang dilakukan oleh satu keluarga yaitu Daman Huri Siregar dan Wildan Sykuri Siregar berdasarkan hasil penelitian di lapangan dan wawancara dari beberapa informan bahwa bertahannya kepemimpinan yang dipimpin oleh Daman dan Wildan Siregar disebabkan beberapa faktor diantaranya mereka memiliki modal ekonomi yang mapan, berasal dari keluarga yang mampu secara finansial, memiliki modal sosial seperti jaringan yang kuat dikalangan masyarakat sehingga mendapatkan dukungan dari masyarakat, memiliki modal simbolik yaitu marga siregar dimana dalam desa tersebut marga siregar dikenal sebagai marga penguasa karena marga mayoritas di dominasi oleh marga siregar sehingga jika dibandingkan dengan marga

lain sangat jauh kalah jumlahnya dengan marga siregar. Selanjutnya loayalitas pemilih yang masih tetap setiap pada keluarga Damri karena dimasa kekuasaannya dia begitu dekat dengan masyarakat dan baik sehingga masyarakat percaya dan yakin bahwa adiknya akan meneruskan hal yang sama.

Dampak dari dinasti politik di desa Mangaledang yaitu kekuaasaan hanya berputar - putar di keluarga itu sendiri, sehingga kesempatan/peluang untuk orang lain untuk mendapatkan hak dalam ranah politik dan pemerintahan tidak didapatkan.

Maka dari itu politik dinasti akan sangat merugikan orang lain serta berdampak pada sistem pemerintahan yang baik dan sistem demokrasi karena peluang untuk orang-orang yang mampu dan punya kapabilitas tidak memproleh peluang dalam proses politik.

5.2.Saran

Adapun saran penulis dalam penelitian ini berdasarkan kesimpulan diatas sebagai berikut:

1. Adanya undang - undang yang mengatur tentang dinasti politik yang membatasi perpanjangan periode kepala desa yang berasal dari keluarga yang sama untuk menghindarkan terjadinya penyelewangan kekuasaan.

2. Adanya sosialisasi kepada masyarakat bahwa dinasti politik akan menciptakan budaya korupsi.

3. Adanya pengawasan dan penegakan hukum bagi pelanggaran pemilu untuk mencegah terjadinya politik dinasti yang berkelanjutan.

4. Membuat aturan yang langsung dikomandoi dari pihak kecamatan selaku pimpinan wilayah untuk mengawasi praktek – praktek dinasti politik yang memanfaatkan fasilitas publik untuk kepentingan politik.

Daftar Pustaka Buku

Ar-Ruzz. (2007). Gerakan Sosial Petani Melawan Hegemoni Negara. Yogyakarta.

Anton Nomba, dkk, Kembali ke Akar: Kembali ke Konsep Otonomi Masyarakat Asli, Jakarta: Forum Pengembangan Aspirasi Masyarakat, 2002

Abdul Wahab, Solichin,Analisis Kebijaksanaan, Dari Formulasi K Implementasi Kebijakan Negara. Jakarta : Bumi Aksara. 2004

Bambang Cipto. 1999. Indonesia Memasuki Era Politik Dinasti : Dari Bilik Suara Kemasa Depan Indonesia Potret Konflik Pasca Pemilu Dan Nasib Reformasi.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet Ke-I.

Bambang Cipto. 1999. Indonesia Memasuki Era Politik Dinasti : Dari Bilik Suara Kemasa Depan Indonesia Potret Konflik Pasca Pemilu Dan Nasib Reformasi.

Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, Cet Ke-I.

Himawan S Pambudi, dkk, 2003, Politik Pemberdayaan; Jalan Mewujudkan Otonomi Desa, Lapera Pustaka Utama, Yogyakarta. Hlm. 5-6

Hidayat, I. (2004). Pemberdayaan Komunitas (Vol. 3 No.3). Malang: Setara Press.

J. Lofland, Analyzing Social Settings: A Guide to Qualitatitve Obsertvation and Analysis, Belmont, CA: Wadsworth, 1971, hlm 112.

Jeremias T. keban, Enam Dimensi Strategis Administrasi Publik : Konsep, Teori dan Isu. Yogyakarta : Penerbit Gava Media. 2008. Hlm. 45

Koentjaraningrat (ed.). 1977 (Masyarakat Desa di Indonesia. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia) hal :162

K. Robert Yin, Studi Kasus (Desain dan Metode), Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2000, hlm 1.

Leo,Agustino,Dasar-dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta. 2008

Lexy J. Moleong. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Susmanto, Kembali Ke Akar ; Kembali Ke Konsep Masyarakat Asli, Forum Pengembangan Partisipasi Masyarakat, Jakarta 2001, hlm 13.

Maran, R. R. (1985). Teoei-Teori Politik. Jakarta.

Marijan Kacung. 2010. Sistem Politik Indonesia Konsolidasi Demokrasi Pascca Orde Baru. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Samodra Wibawa, Kebijakan Publik, Intermedia Jakarta. 1994

Sulistyo Basuki,Metode Penelitian. Jakarta: Wedatama Widya Sastra dan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. . 2006

Moleong, L. J, 2004. Metodologi Penelitian Kualitatif, Bandung : PT Remaja Rosdakarya.

Mac Iver, 1999, Jaring-Jaring Pemerintahan (The Web of Goverment), diterjemahkan oleh Laila Hasyim, Aksara Baru, Jilid 1, hlm 33-35.

Purwo Santoso ed., Pembaharuan Desa Secara Partisipatif (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2003), hlm 2.

PutuLaxman Pandit ,Penelitian Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Jakarta, CV.Kumandang. 2003.

Siahaan, H. (n.d.). Pengantar Sejarah dan Teori Sosiologi. Jakarta :Kencana.

Sarundajang, Arus Balik Kekuasaan Pusat ke Daerah,(Jakarta Pustaka SInar Harapan, , Cetakan 1, Juli, 1999), hlm 32

Ulber Silalahi, Metode Penelitian Sosial, PT Refika Aditama, Bandung. 2009

Usman Husaini dan Akbar Setiady Purnomo.2009. Metedologi Penelitian Sosial. Jakarta: PT. Bumi Aksara.

William N. Dunn, diterjemahkan oleh Samodra Wibawa dkk, Pengantar Analisis Kebijakan Publik, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. 1998

Widodo.2017. MetedologiPenelian Populer &Praktis.Depok: PT.

Rajagrafindo Persada.

Wijaya, HAW, Pemerintahan Desa/ Marga: Berdasarkan Undang-Undang Nomor22 tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah (Suatu Telaah AdministrasiNegara). PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta, 2002. Hlm.65

Skripsi

Sri Purwanti. 2018. Politik Dinasti Dalam Kepemimpinan Desa (Studi di Desa Wawasan Kecamatan Tanjung Sari Kabupaten Lampung Selatan). Skripsi.

Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung.

Ilham Ramadan. 2018. Politik Dinasti Di Aceh (Studi Kasus Kabupaten Nagan Raya).Skripsi. Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Darussalam Banda Aceh.

Jurnal

Etha Pasan. 2013. Politik Dinasti Dalam Pemilihan Presiden Di Filipina Tahun 2001 – 2011. Jurnal Interdependence. Vol 1, No 3 pp 222-235.

Fridayana Yudiaatmaja. 2013. Kepemimpinan: Konsep, Teori Dan Karakternya.

Media Komunikasi FIS. Vol 12. 29-38

Susanti Herna Martien.2017.Dinasti Politik dalam Pilkada di Indonesia.

JournalofGovernmentandCivilSociety.

Foto Bersama dengan Ketua BPD

Foto Bersama dengan Kepala Desa Petahana

Foto Bersama dengan salah satu warga yang menjadi Klien Kepala Desa

1. Nama : Wildan Syukri Siregar

Dokumen terkait