PEMBAHASAN HASIL PENELITIAN
4.1. Latar Belakang Terjadinya Politik Dinasti
Politik dinasti yang dimaksud dalam penelitian adalah proses peralihan kekuasaan yang bersifat kekeluargaan yang hanya cenderung pada kekeluargaan itu sendiri tanpa ada pergantian kekuasaan diluar keluarga tersebut. Oleh karena itu pada penelitian ini lebih fokus kepada proses terpilihnya kepala desa Mangadelang lama, perilaku pemilih terhadap calon kepala desa yang berasal dari keluarga mantan kepala desa dengan calon kepala desa dari masyarakat biasa, faktor serta dampak yang ditimbulkan dari dinasti politik itu sendiri terhadap desa Mangadelang Lama.
Politik dinasti semua berawal dari kehausan kekuasaan yang tidak bisa lagi terkontrol dalam diri manusia, apalagi ditambah dengan faktor dan hubungan yang mendukung untuk melakukannya. Kesempatan itu kebanyakan dimanfaatkan oleh orang yang mempunyai kedudukan dan kekuatan ekonomi yang cukup. Persoalan hubungan ini adalah berlaku wajar karena pada dasarnya hubungan sosial adalah hubungan antar posisi atau status dimana masing-masing membawa perannya masing-masing. Peran ini ada berdasarkan fungsi masyarakat atau kelompok, ataupun aktor tersebut dalam masyarakat, sehingga apa yang terjadi adalah hubungan antar posisi dikeduanya. Ada dua bentuk hubungan yang menguatkan posisi patron/berkuasa:
Pertama : hubungan Jasa (Balas Jasa) Hubungan Jasa (balas jasa) yang dimaksudkan disini adanya hubungan timbal balik antara Tuan tanah (patron) dan Masyarakat
(klien) yang menepati tanah tersebut. Tuan tanah selaku patron menyediakan tempat atau lahan yang kemudian dikelolah oleh masyarakat di desa tersebut kemudian secara tidak langsung menjadikan hubungan ini terikat. Masyarakat selaku pengelolah tanah yang menempati tanah tersebut merasa berhutang budi. Sesuai yang dikatakan oleh Harold Lasswell bahwa elit yang berkuasa merupakan suatu kelas yang terdiri atas mereka yang berhasil mencapai kedudukan dominasi yang dianggap bahwa elit adalah individu individu yang menduduki posisi puncak dalam berbagai institusi. Menurutnya pula invidu-individu yang termasuk dalam kelompok elit merupakan golongan yang relatif sangat terpadu, homogen dan erat berhubungan satu dengan lainnya. Tuan tanah (patron) selama ini memang mendominasi kekuasaan di desa Mangaledang lama, dari hubungan balas jasa ini kemudian pengaruhnya dapat menjalar ke berbagai sektor lainnya seperti sektor politik dan ekonomi. Ini tidak terlepas dari adanya kemudian resiko yang tertanam jelas dalam diri masyarakat bahwa dari hubungan balas jasa ini ada yang mesti menjadi balasan kepada kepala desa (patron) yakni patuh terhadap apa yang diperintahkan kepala desa (patron).
Kedua : Hubungan Politik Berangkat dari Hubungan Jasa (balas jasa) pola hubungan patron klien di desa Mangaledang lama kepada suatu hubungan politik yang adanya kepentingan yang di ingin dicapai oleh tuan tanah (patron) melalui balasan jasa dari masyarakat (klien) yang menempati tanahnya tersebut. Hubungan politik ini kemudian di anggap semakin memperkuat kedudukan seorang Daman Huri (patron) di desa tersebut dalam setiap ajang politik, , mulai dari pemilihan presiden sampai pada tingkat pemilihan kepala desa. Hubungan inilah yang kemudian dianggap sebagai hal yang melegitimasi kekuasaan dari Daman Huri (patron) dalam menentukan calon kandidat kepala desa di desa Mangaledang dalam pemilihan kepala desa pada tahun 2020, dengan mengusung kembali adiknya sebagai calon kepala desa setelah dua periode berturut-turut dibawah kekuasaanya. Pemilihan
kepala desa di desa Mangaledang lama pada tahun 2020, berhasil mengantarkan kembali menjadi kepala desa mangaledang lama setelah sebelumnya pada tahun 2012 terpilih untuk pertama kalinya. Wildan Syukuri merupakan Calon yang diunggulkan pada pemilihan kepala desa pada periode ini, adik dari mantan kepala desa (patron) di desa Mangaledang lama.
Kekuasaan yang dipegang oleh keluarga Daman Huri dan Wildan Sykuri sudah lama. Hal tersebut di awali sejak tahun 2001 sampai dengan sekarang masih dipimpin oleh satu keluarga yang mempunyai hubungan persaudaraan. Jenis dinasti politik yang terjadi desa ini adalah model regenerasi. Yaitu seperti halnya arisan keluarga. Salah satu yang menjadi ciri – ciri dari dinasti ini adalah memimpin tanpa adanya jeda. Artinya sekelompok keluarga menjadi pemimpin dalam suatu daerah itu tanpa adanya jeda. Salah satu yang menjadi faktanya adalah sama yang terjadi di desa Mangaledang Lama ini. kejadian bisa dikatakan dinasti paling lama terjadi yaitu selama 4 periode atau hampir mendekati 20 tahun.
Dinasti di desa ini bermula dari Daman Huri Siregar yang terpilih menjadi kepala desa pada waktu itu untuk periode 2001 – 2011. Beliau memimpin desa ini selama 10 tahun. Setelah memimpin selama 2 periode, kekuasaan untuk meneruskan kepemimpinan desa ini diperebutkan oleh banyak calon kepala desa. salah satu yang menjadi calon kepala desanya adalah adik kandung dari mantan kepala desa sebelumnya. Kemudian calon lain yang dianggap kuat adalah istri dari sekretaris desa. hal ini menjadi perbincangan hangat dalam lapisan masyarakat di warung – warung kedai. Karena dua calon dianggap menjadi orang terkuat dalam pemilihan kepala desa yang akan datang. Hal itu tidak bisa dielakkan, karena banyak masyarakat yang mencium alasan mantan kepala desa mencalonkan adiknya karena tidak rela kursi kepala desa jatuh ke tangan orang lain. Sehinggga dengan memenangkan adiknya kursi panas yang perebutkan banyak orang tetap bertahan di
pihak keluarga mereka. Ternyata betul dalam pemilihan PILKADES 2011 ini, adik kandung dari mantan kepala desa sebelumnya yang bernama Wildan Syukri Siregar menjadi pemenang untuk memimpin desa tersebut dengan periode 2012 – 2017.
Seiring dengan perjalanan kepemimpinan beliau, isu yang dinasti politik kembali diperbincangkan masyarakat desa. Pada tahun 2020 karena beliau akan mencalonkan kembali menjadi kepala desa sebagai petahana. Kali ini isu yang dihembuskan kepada masyarakat adalah untuk melanjutkan kembali pembangunan – pembangunan yang dicanangkannya belum selesai dilakukannya pada masa kepemimpinannya. beliau merasa mampu untuk memajukan perekonomian masyarakat desanya. Dan lagi kembali beliau sebagai petahana memenangkan PILKADES di desa tersebut untuk periode jabatan 2020 – 2026.
Hal ini seiring dengan hasil wawancara yang dilakukan penulis di desa tersebut dengan salah satu warga menuturkan bahwa:
“awal mula terjadinya politik dinasti di desa ini diawali dengan kepemimpinan Daman Huri Siregar. Beliau menjabat kepala pemerintahan di desa ini telah resmi dilanti pada tahun 2001 -2006. Kemudian, selama 5 tahun beliau memegang kendali pemerintahan di desa ini. Beliau mencalonkan kembali dalam pemilihan kepala desa.
Akhirnya kembali beliau memenangkan perpilihan Pilkades di desa ini dengan masa periode kepemimpinan 2006 – 2011. Sepanjang perjalanan beliau selama 2 periode atau 10 tahun belaiu menjadi menjadi pemimpin di desa ini dan masa jabatannya berakhir pada masa tahun 2011. Pada waktu itu ada beberapa orang yang menjadi calon pemimpin di desa ini salah satunya Wildan Syukri Siregar yang tidak lain adik kandung dari mantan Kepala desa sebelumnya. Pada tanggal yang ditentukan dilakukan kembali pemilihan kepala desa untuk melanjutkan kepemimpinan di desa ini. Setelah dilaksanakan pemilihan diitentukan akhirnya yang memenangkan pemilihan kepala desa ini adalah Wildan Syukri Siregar yang tak lain adik kandung
dari mantan kepala desa dengan masa periode 2012 – 2017. Sepanjang perjalanan karir kepemimpinan beliau pada tahun 2017 berakhir lah masa jabatannya sebagai kepala desa. Beliau ingin mencalonkan diri lagi dalam pemilihan kepala desa pada tahun 2020. Pada tahun 2018 – 2019 ada kekosongan pemerintahan di desa ini dan yang menjadi Plt. dalam 2 tahun ini adalah Erlina Hasibuan yang tak lain Sekretaris desa nya. Kemudian pada tahun 2020 akhirnya perpilihan kepala desa dilaksanakan.
Ternyata beliau kembali memenangkan Pilkades di desa ini untuk periode 2020-2026 dan mengalahkan pesaing – pesaingnya”.
Hal ini tentu menjadi kekhawatiran bagi para calon lain untuk maju dalam pencalonan kepala desa karena merasa akan kalah dengan calon petaha ataupun calon dari keluarga mantan kepala desa disamping popolaritas dan pengaruh kekuasaan menjadi nilai tambah. Disamping itu persepsi masyarakat terhadap pemimpin tersebut cenderung negatif walaupun tidak semua dinasti politik melakukan penyimpangan.
Jika kuasa para dinasti di sejumlah daerah bertambah besar, maka akan kian marak korupsi sumber daya alam dan lingkungan, kebocoran sumber-sumber pendapatan suatu daerah. (AG Paulus : 2005).
Penulis, menemukan berdasarkan dari hasil penelitian yang dilakukan di desa tersebut hal ini yang menjadi persoalan ketika keluarga dinasti politik ini selalu memegang kendali pemerintahan terutama di tingat desa seperti yang terjadi di desa Mangaledang Lama ini. bahkan bukan tidak mungkin di desa ini akan rentan terjadi penyelewengan anggaran dana desa. karena tidak ada pengawasan yang kuat baik dari BPD (Badan Pemusyawaratan Desa). pada dasarnya BPD ini adalah parlemen nya desa yang mana fungsi nya adalah mengontrol dan mengawasi pembangunan yang dilakukan di desa tersebut apakah sudah sesuai dengan selayaknya.
Hal-Hal Yang Mengakibatkan Munculnya Dinasti Politik Adalah:
Pertama adanya keinginan dalam diri atau pun keluarga untuk memegang kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud adalah pendistribusian kekuasaan kepada kerabat ataupun anggota keluarganya atau dengan isitilah dinasti politik. Model kekuasaan tersebut akan berpotensi memberikan dampak buruk dalam proses demokrasi. Seperti yang diungkapkan Greene (2010), dinasti politik “akan meningkatkan kekhwatiran ketidaksetaraan dalam distribusi kekuasaan politik, yang mungkin mencermikan ketidaksempurnaan dalam repsentasi demokratis. Hal ini diperkuat oleh salah satu informan penelitian yang juga merupakan salah satu kandidat yang kalah dalam pertarungan melawan kepala desa yang berasal dari keluarga kepala desa sebelumnya pada penuturannya pada penulis mengungkapkan bahwa ”calon kapala desa yang berasal dari keluarga kepala desa (politik dinasti) memiliki banyak keunggulan misalnya: sumber daya, popularitas dan jaringan kepada tokoh-tokoh masyarakat. Sementara saya pada waktu itu dengan susah payah mempromosikan diri saya kepada masyarakat agar mau dipilih pada saat pada hari H-nya namun karena tidak ada sesuatu yang mampu mengikat masyarakat dari saya ditambah dengan kemampuan finansial maupun jaringan yang kuat sehingga kesempatan saya untuk menang pada saat itu kecil”
Kedua, adanya kelompok terorganisir karena kesepakatan dan kebersamaan Dalam kelompok sehingga terbentuklah penguasa kelompok dan pengikut kelompok Praktek politik dinasti yang dilakukan sebuah keluarga yang bermarga siregar mengacu pada praktek politik monopoli kekuasaan yang dilakukan dari generasi kegenerasi dengan memperlakukan lembaga public layaknya sebagai milik keluarga sendiri. Seperti yang ditemukan dalam penelitian Querubin (2016) menjelaskan
”Koneksi kekerabatan atau keluarga dalam ranah politik sangat menguntungkan bagi kandidat yang akan mencalonkan diri”. Hal ini dikarena calon kepala desa yang berasal dari keluarga kepala desa/incumbent akan lebih memanfaatkan pelayanan
public sebagai alat mempromosikan diri berdasarkan dalil – dalil kekuasaan yang dimlikinya dengan tujuan melayani masyarakat.
Ketiga, adanya kolaborasi antara penguasa dan pengusaha untuk menggabungkan kekuatan modal dengan kekuatan politisi. Lagi – lagi ini akan menyulitkan bagi siapapun yang ingin bertarung dalam kontestansi politik ketika kekuatan penguasa, pengusaha dan kekuatan politik disatukan. Tentu hal ini akan menciptakan ruang yang tidak seimbang bagi siapapun yang berdiri dan punya kemampuan serta kapasitas dalam memimpin. Seperti hal yang di sampaikan salah satu informan pada penelitian ini : untuk bisa bersaing dan memenangkan pilkades di desa ini sangat sulit karena adanya hubungan erat yang sudah dibangun antara mantan kepala desa yakni Daman Huri Siregar dengan beberapa orang yang memiliki kekuatan modal untuk mendongkrak elektabilitas dari saudaranya Wildan Syukri Siregar agar kepemimpinan di desa ini tidak bergeser kepada orang lain. Fenomena yang seperti ini lah yang terjadi di desa Mangaledang Lama ini bahwa perpaduan antara penguasa dan pemilik modal menjadi tidak terkalahkan untuk menanam dinasti politik yang sudah dibangun dari sejak lama.
Keempat, adanya pembagian tugas antara kekuasaan politik dengan kekuasaaan modal sehingga mengakibatkan terjadinya korupsi. Pada pembagian kekuasaan ini sering terjadi pada orang - orang yang berdekatan dengan kekuasaan sehingga makna kekuasaan tersebut tidak sesuai dengan tujuan utama yaitu mensejahtrakan masyarakat namun lebih ke strategis kekuasaan dalam membuat susunan, aturan dan menjalin hubungan antara pemodal untuk mengkorupsikan uang rakyat. Pada kontestansi pilkades yang terjadi di desa Mangaledang Lama, mantan kepala desa memanfaatkan memomentumnya sebelum berakhir masa jabatannya dalam mensosialisasikan kepada masyarakat dengan calon kepala desa yang akan memimpin desa “memanfaatkan jabatannya sebagai kepala desa dalam mendekatkan
diri kepada masyarakat ”dengan menggandeng berbagai pemodal yang ada di desa tersebut untuk menggerakkan massa untuk memilih saudaranya tersebut. Seperti yang dituturkan oleh salah satu informan peneliti bahwa orang yang mempunyai hubungan kedekatan dengan kepala desa akan mempunyai tujuan yang sama. Hal ini bisa terjadi karena pada waktu saat pemilihan pilkades pemilik modal memberikan dukungan penuh. Sehingga pada saat mempunyai kekuasaan, antara pemilik modal dengan penguasa akan saling memberikan keuntungan. Tidak jarang model hal seperti ini, masyarakat lah yang terkena imbasnya, akibatnya segala kebijakan atau pembangunan yang diatur desa ini tentu terlebih dahulu akan mengkoordinasikan kembali kepada orang orang terdekat penguasa.
Dampak yang disebabkan dari dinasti politik ini adalah akan banyak menimbulkan masalah seperti penyelewengan anggaran dengan semena – mena.
Selain itu model pemimpin lokal seperti ini akan mempunyai pengaruh dalam lapisan masyarakat. Sehingga keluarga dinasti ini akan banyak ikut duduk di pos – pos pemerintahan desa. Akibatnya banyak banyak masyarakat yang lebih kompeten untuk menduduki perangkat desa tidak diberikan kesempatan untuk mengabdikan dirinya di desa tersebut dikarenakan kepentingan dari keluarga dinasti desa kepala desa. di samping itu, cita – cita kenegaraan menjadi tidak terlaksana karena pemimpin atau jabatan tidak mempunyai kapabilitas untuk menjalankan tugas.