Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Magister Ilmu Politik Dalam Program Studi Magister Ilmu Politik
Universitas Sumatera Utara OLEH
MUHAMMAD TAHER 187054004
PROGRAM PASCASARJANA ILMU POLITIK FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
2021
(Studi Kasus : Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara Dengan ini penulis menyatakan bahwa tesis ini disusun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Ilmu Politik pada program studi Magister Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Sumatra Utara adalah benar merupakan hasil karya penulis sendiri.
Adapun pengutipan-pengutipan yang penulis lakukan pada bagian-bagian tertentu dari hasil karya orang lain dalam penulisan tesis ini, telah penulis cantumkan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata ditemukan seluruh atau sebagian tesis ini bukan hasil karya penulis sendiri atau adanya plagiat dalam bagian – bagian tertentu, penulis bersedian menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang penulis sandang dan sanksi – sanksi lainya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.
Medan, 10 Mei 2021 Penulis
Muhammad Taher
MUHAMMAD TAHER (187054004)
POLITIK DINASTI DALAM KEPEMIMPINAN DESA (Studi Kasus : Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas
Utara) ABSTRAK
Praktek politik dinasti merupakan salah satu strategis untuk melanggengkan kekuasaan lewat saudara, istiri/suami ataupun kerabat. Kehadiran politik dinasti pada suatu daerah bukan sesuatu hal yang baru dalam proses perpolitikan di Indonesia. Persepektif orang terhadap politik dinasti cenderung negatif dan kebanyakan menganggap kekuasaan yang di dapat atas dinasti politik adalah korup dan tidak adil namun dalam penelitian ini membantah semua argument tersebut karena proses dari kekuasaan itu diperoleh atas demokrasi dan suara rakyat berdasarkan kecintaan dan kinerja dari kepala desa tersebut.Dalam menganalisis praktek politik dinasti yang terjadi di Desa Mangadelang peneliti menggunakan beberapa teori untuk menjelaskan serta menguatkan argurmentasi pada penelitian ini seperti : teori kekerabatan, patron-klien dan kekuasaan. Adapun metode penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini adalah jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif dengan tujuan untuk menganalis informasi-informasi dari beberapa informan yang penulis tentukan yang kemudian mendeskripsikan atau menggambarkan penemuan tersebut. Dinasti politik yang dimaksud dalam penelitian ini adalah praktek politik dinasti yang secara regenerasi yaitu peralihan kekuasaan yang turun temurun tanpa jeda dalam empat priode kepemimpinan. Faktor bertahannya kekuasaan yang terjadi di Desa Mangadelang Lama yaitu faktor struktur sosial patron-klien yang masih dikendalikan oleh kekuatan jaringan kepala desa dengan kekuatan ekonomi dan kentalnya hubungan persaudaraan dimana mayoritas marga di desa Mangelang Lama adalah marga Siregar.
Sedangkan dampak dari praktek politik dinasti menciptakan demokrasi yang tidak sehat yaitu para calon yang biasa yang berasal dari masyarakat biasa dan tidak punya kemampuan secara finansial ditambah dengan tidak mempunyai pengaruh dalam desa tersebut akan selalu tersingkirkan oleh calon petahana atau berasal dari keluarga mantan kepala desa yang sudah mempunyai popolaritas dan lebih dulu dikenal masyarakat.
Kata Kunci : Dinasti Politik, Kepemimpinan, Pilkades
desa yang memimpin desa Mangaledang lama mulai tahun 2001 sampai 2026 dipegang oleh satu keluarga empat priode secara berturut-turut tanpa jeda. Oleh karena itu penulis ingin meneliti apa yang menyebabkan bertahannya kekuasaan keluarga Daman Huri Siregar di desa mangaledang lama.
Dalam tesis ini memaparkan berbagai perilaku pemilih, faktor dan dampak yang timbulkan oleh dinasti politik di desa mangaledang dengan mengacu pada teori patron-klien, kekerabatan dan teori kekuasaan sebagai teori yang menjelaskan permasalahan politik dinasti itu sendiri.
Alhamdulilah, puji Sykur Kehadiran Allah SWT, dengan segala rahmat ilmu, kesehatan dan perlindungan dari ilahi Rabbi bagi penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penyusunan tesis ini.
Sholawat beserta salam kepada Nabi Muhammad SAW karena dengan meneladani akhlak dan ajaran dari Baginda Rasulullah penulis dapat mengenyam pendidikan hingga saat ini.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Prof.
Dr. M. Arif Nasution, MA selaku ketua komisi pembimbing yang telah banyak memberikan arahan dan bimbingan hingga selesai tesis ini. Terima kasih juga saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Dr. Marlon Sihombing, MA selaku anggota komisi pembimbing yang banyak memberikan masukan untuk perbaikan dan kemajuan tesis ini.
Terima kasih yang tak terhingga saya ucapakan kepada kedua orang tua saya mamah dan papah saya yang tak henti-hentinya mendoakan saya dan selalu mendukung perjuangan saya mulai awal masuk kuliah hingga sampai selesai, terima kasih juga kepada abang – abang dan adik – adik saya yang selalu mendukung dan memberi motivasi kepada saya.
Kepada kepala desa Mangaledang Lama yang sudah banyak memberikan informasi tentang perkembangan desa selama kepemimpinan beliau dan kepada seluruh informan yang turut berpatisipasi dalam melengkapi dan memberikan informasi tentang seputaran dinasti politik yang terjadi di desa Mangaledang Lama.
Terima kasih yang sebesar-besarnya penulis sampaikan kepada seluruh staf pengajar di program Magister Ilmu Politik yang telah banyak mengajarkan berbagai ilmu dan pengetahuan semasa perkuliahan. Terima kasih juga untuk Kakak ku Nina dan Abanganda Ilham yang sudah banyak membantu dan memberikan kemudahan dalam proses administrasi mulai dari awal hingga selesai. Terima kasih juga kepada kawan-kawan seperjuangan saya MIP REGULAR maupun MIP TKP yang bersedia berbagi ilmu dan pengalaman mulai dari awal kuliah hingga akhir perkualiahan.
Kepada semua pihak yang telah mendukung terwujudnnya proses penyusunan tesis ini yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu namanya, penulis mengucapkan terima kasih, semoga Allah SWT membalas kebaikan yang telah diberikan dengan pahala yang berlipat ganda.
Medan, 10 Mei 2021
(Muhammad Taher)
Daftar Isi
Cover ... i
Pernyataan ... ii
Abstrak Indonesia ... iii
Abstrak Inggiris ... iv
Halaman Pengesahan ... v
Halaman Persetujuan ... vi
Karya ... vii
Kata Pengantar... viii
Daftar Isi ... ix
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1. Latar Belakang ... 1
1.2. Rumusan Masalah ... 10
1.3. Tujuan Penelitian ... 10
1.4. Manfaat Penelitian ... 11
1.5. Kerangka Pemikiran Teoritis ... 12
1.5.1. Penelitian Terdahulu ... 12
1.5.2. Kerangka Teori ... 14
BAB II METODE PENELITIAN ... 38
2.1. Jenis Penelitian ... 38
2.2.Sumber data ... 39
2.3.Lokasi dan Subjek Penelitian ... 40
2.4. Teknik Pengumpulan Data ... 41
2.5. Teknik Analisis Data ... 43
BAB III HASIL PENELITIAN DAN PENYAJIAN DATA ... 46
2.1. History Lahirnya Desa Mangaledang Lama ... 46
3.2. Kondisi Sosial Penduduk ... 49
3.1. Kondisi Masyarakat ... 51
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 53
4.1. Latar Belakang Terjadinya Politik Dinasti ... 53
4.2. Faktor Penyebab Terjadinya Politik Dinasti ... 63
4.3. Dampak yang ditimbulkan dari adanya politik dinasti ... 77
BAB V PENUTUP ... 82
5.1. Kesimpulan ... 82
5.2. Saran ... 83
Daftar Pustaka ... 85 Lampiran Daftar Pertanyaan ... I Lampiran Turnitin ... II Lampiran Riwayat Hidup ... III
Daftar Tabel
Tabel 3.1. Jumlah Penduduk ... 49 Tabel 3.2. Tingkat Pendidikan Masyarakat Mangaledang Lama ... 50
Daftar Gambar
Gambar 1.1. Periode kepala desa Mangaledang Lama ... 7 Gambar 1.2. Pengaruh Kepemimpinan ... 18 Gambar 3.1. Struktur Kepemimpinan Kepala Desa ... 48
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang
Secara umum politik dinasti adalah politik yang proses pencalonannya berasal dari keluarga yang sedang memimpin dan sifat kekuasaan yang hanya berada di lingkaran keluarga itu sendiri.
Politik dinasti diberi pengertian sebagai sebuah kekuasaan politik yang dijalankan oleh sekelompok orang yang masih terikat dalam hubungan kekeluargaan. Politik dinasti juga indentik dengan kerajaan, sebab kekuasaan akan diwariskan secara turun temurun dari ayah kepada anak, agar kekuasaan akan tetap berada di lingkaran keluarga. Artinya kekuasaan yang telah lama dikendalikan oleh elite lokal dalam suatu daerah akan berusaha memperjuangkan agar lingkaran kekuasaan tidak keluar dari lingkungan keluarga. Politik dinasti telah lama hadir di negara-negara demokrasi dan meningkatkan kekhawatiran terjadinya ketidaksetaraan distribusi kekuasaan politik yang dapat mencerminkan ketidaksempurnaan dalam representasi demokratis dalam politik yang disebut dengan kekuasaan melahirkan kekuatan. Hal ini mengingatkan kembali kekhawatiran, bahwa setiap kelas menampilkan kecenderungan untuk menjadi turun-temurun, bahkan ketika posisi politik terbuka untuk semua, kedudukan keluarga penguasa akan dianugerahi berbagai keuntungan (Synder, dkk, 2009:115).Setiap warga negara mempunyai hak untuk memilih dan dipilih ketika ingin mencalonkan diri dalam kontestasi politik.
Politik dinasti dan dinasti politik adalah dua hal yang berbeda. Dinasti politik adalah sistem reproduksi kekuasaan yang primitif karena mengandalkan darah dan keturunan dari hanya beberapa orang. Sedangkan politik dinasti adalah proses mengarahkan regenerasi kekuasaan bagi kepentingan golongan tertentu (contohnya keluarga elite) yang bertujuan mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan. Politik dinasti merupakan musuh demokrasi karena dalam demokrasi, rakyatlah yang
memilih para pemimpinnya. Secara realitas demokrasi yang ideal, seharusnya masyarakat yangmenjadi peran utama dalamproseses demokrasi karena rakyatlah yang menentukan pemimpinmpinya. Namun pada prakteknya banyak masyarakat terhalang akibat adanya dinasti politik yang terjadi dalam sitausi daerah karena peran utama dalam ini masyarakat telah dibawah kendali para penguasa atau elit-elit setempat sehingga mereka memilih bukan secara objektif melainkan memilih karena ada beban sosial kepada calon tertentu.
Pada waktu pemrintahan orde baru dinasti politik banyak memberikan pengaruh yang sangat nyata bagi kehidupan politiik di Indonesia misalnya liberalisasi politik ditingkat nasioanal maupun daerah yaitu pemerintahan yang sebelumnya menjadi non-demokrasi menjadi demokrasi. Sistem politik di Indonesia lebih cenderung ke dinasti politik dimana partai-partai yang lebih banyak berperang pada pembangunan nasional maupun pada pemilihan umum, memmberikan kesan yang negative dimana sistem pemilihan ketua maupun struktur partai orang-orang dekat ataupun kerabat dari ketuaumum sebelumnya misalanya salah satu contoh partai democrat yang sebelumnya dipimpinolrh SBY dan sekarang dipimpin oleh AHY anaknya sendiri walaupun dalam pelaksanaannya dikatakan demokrasi tetapi raelitasnya bahwa pengaruh sang ayah terhadap anak memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap anak dan terbukti pada kongres luar biasa memilih AHY secara aklamasi. Dan selanjutnya ketua umum partai, Megawati mengkaderkan anaknya Puan Maharani sebagai penerusnya. Dan hal serupa juga terjadi di provinsi Banten yang jejak jejak politik dinasti nya lebih kentara. Mayoritas keluarga Ratu Atut Chosyah Gubernur Banten menduduki kekuasaan baik itu eksekutif dan legislatif. Sehingga kekuasaan tersebut tidak seimbang jauh dari nilai – nilai demokrasi itu sendiri.
Menguatnya jaringan politik yang dibangun oleh dinasti politik berdasarkan kedekatan politik keluarga menyebabkan tertutupnya rekrutmen politik bagi orang-orang di luar dinasti. Hal ini sebagaimana dijelaskan oleh Turner (dalam Bathoro, 2011:118), bahwa suatu jaringan mempunyai pengaruh penting terhadap dinamika transisi kekuasaan politik yang bisa berdampak terhadap tertutupnya rekrutmen politik. Politik dinasti sebagimana yang diistilahkan dengan Dinasti Rente
adalah gambaran umum yang sering terjadi di Indonesia. Politik telah menjadi lahan bisnis, rente ekonomi sehingga korupsi menjadi ramai terjadi. Artinya ini tidak terlepas dari kekuasaan yang dikendalikan oleh aktor – aktor yang berpengaruh. Fenomena Politik dinasti di Indonesia adalah sudah tidak menjadi hal yang aneh lagi untuk didengar, hal ini juga dapat dilihat dalam konteks keluarga Soeharto. Soeharto memang tidak menempatkan keluarga nya dalam pemerintahan, tetapi lebih menyasar pada pembangunan dinasti ekonomi melalui kekuasaan politik. Berbicara politik dinasti tidak hanya di tingkat nasional saja, fenomena seperti ini juga banyak di tingkat lokal seperti desa. Politik dinasti ini muncul dari lingkungan keluarga kepala pemerintahan yang sedang berkuasa atau bisa dilakukan oleh salah satu keluarga dekat. Hal ini seperti menjadikan sebuah strategi politik untuk memperoleh kekuasaan agar tetap berada di pihaknya. Sehingga dengan demikian kekuasaan tersebut bisa lebih lenggang untuk diwariskan kepada orang lain yang mempunyai hubungan keluarga dengan pemerintah sebelumnya.
Akibat dari politik dinasti ini adalah timbulnya banyak pemimpin lokal menjadi politisi yang mempunyai pengaruh. Sehingga semua keluarga termasuk anak dan istri berbondong-bondong untuk dapat terlibat dalam sistem pemerintahan. Dengan politik dinasti membuat orang yang tidak kompeten memiliki kekuasaan. Tapi hal sebaliknya pun bisa terjadi, dimana orang yang kompeten menjadi tidak dipakai karena alasan bukan keluarga. Di samping itu, cita-cita kenegaraan menjadi tidak terealisasikan karena pemimpin atau pejabat negara tidak mempunyai kapabilitas dalam menjalankan tugas.
Politik dinasti berpotensi kuat menyuburkan budaya korupsi. Tapi pencegahan dinasti politik dengan membuat aturan hukum yang dibat oleh Mahkamah Konstitusi, juga dengan kerja-kerja politik untuk mencegah suburnya dinasti tersebut. Politik dinasti jelas bertentangan dengan budaya demokrasi yang sedang tumbuh di negeri tercinta dan akan mengebiri demokrasi kita. Sebab, politik dinasti pasti mengabaikan kompetensi dan rekam jejak. Bahkan, politik dinasti bisa mengebiri peran masyarakat dalam menentukan pemimpin. Bermula dari budaya politik kekerabatan itulah, praktik politik dinasti semakin menggurita. Praktik politik dinasti pada saatnya akan mengganggu proses
checks and balances antar lembaga negara. Fungsi saling mengontrol pasti tidak sepenuhnya terealisasikan apabila pos-pos jabatan dikendalikan oleh orang – orang terdekat dari politik dinasti.
Padahal, untuk menyemai nilai-nilai demokrasi, fungsi kontrol penting. Jika kontrol terhadap pemerintah lemah, terjadilah budaya kolutif dan koruptif. Yang menyedihkan, politik dinasti sengaja dibingkai dalam konteks demokrasi. Dalam demokrasi prosedural sekarang, masyarakat seakan diberi peran politik kekerabatan itu sebagai gejala neopatrimonialistik. Benihnya sudah lama berakar secara tradisional. Yakni berupa sistempatrimonial, yang mengutamakan regenerasi politik berdasarkan ikatan genealogis, ketimbang merit system, dalam menimbang prestasi. Oleh karena itu, patrimonialistik ini terselubung oleh jalur prosedural.
Desa merupakan suatu wilayah kesatuan yang memiliki pemerintahan sendiri yang kepalai oleh seorang kepala desa. Dan system pemilihan kepala desa itu sendiri dilakukan dengan pemilihan secara demokratis. Pada kenyataannya demokrasi itu sendiri terciderai oleh praktek – praktek dinasti politik yang sering terjadi di Indonesia. Ketidak demokrasinya dalam system pemilihan kepala desa maka akan menimbulkan ketimpangan di dalam lapisan masyarkat yang notabenenya masyarakat kecil dan kurang mampu. Semestinya masyarakat menerima pelayanan yang sama dan pemberlakuan yang sama sebagai pertama tempat pengaduan masyarakat tetapi terhalangi karena adanya system politik dinasti dimana orang-orang yang merupakan sebagai saudara dan semarga yang menjadi prioritas utama.
Hal ini terjadi karena praktik politik di Indonesia sebagai negara yang demokratis masih terdapat peninggalan dari orde baru dimana masih terjadinya praktik politik dinasti dalam kepemimpinan suatu daerah bahkan bisa dikatakan sejak berdirinya negera tersebut. Desa Mangaledang Lama adalah satu contoh desa yang melakukan praktik politik dinasti. Lebih dari 3 periode, dinasti ini menduduki jabatan starategis di pemerintahan desa dan hingga kini masih eksis sampai sekarang. Berikut lingkup nama – nama kepala desa yang merupakan pernah memimpin di
desa Mangaledang lama dalam beberapa periode ini dan dipandang sudah ada unsur melakukan praktek politik dinasti
Gambar 1.1. Periode Kepala Desa Mangaledang Lama
Periode II Kepala Desa (DHS)
Tahun (2006-2011)
Periode III Kepala Desa (WSS)
Tahun (2012-2017)
t Periode IV
Kepala Desa (WSS) PLT : 2018-2019 Tahun (2020-2026)
Periode I Kepala Desa (DHS) Tahun (2006-2011)
Fenomena dinasti politik di desa Mangaledang Lama ini jika kita perhatikan grafik diatas menunjukkan bahwa system kekuasaan dilakukan secara mewariskan kekuasaan. Politik dinasti menunjukkan bahwa kekerabatan keluarga merupakan alat kekuasaan itu sendiri. Oleh karena itu kekuasaan yang bersumber dari hubungan keluarga ataupun kerabat tidak akan memberikan kontribusi yang maksimal bagi masyarakat terutama dalam pelayanan dan keadilan ditengah masyarakat. Politik dinasti merupakan serangkaian strategis oknum – oknum tertentu yang ingin melanggengkan kekuaasaanya melalui saudara ataupun kerabat, tentu akan merugikan orang lain karena yang seharusnya pemimpin itu berdiri dan tampil sebagai kepala dan bapak bagi semua golongan, suku ataupun marga tetapi dalam kekuasaan dinasti susah untuk didapatkan.
Selain itu, dinasti politik lebih cenderung pada kekuasaan korup karena sifatnya inklusif dan tertutup membuat sebuah dinasti politik susah dicari kesalahan karena kerjanya terstruktur dan sistematis sehingga susah untuk ditemukan ataupun dibongkar praktek penyalahan kekuasaannya, karena setiap individu saling menjaga rahasia satu sama lain. Pelaksanaan pilkades di desa Mangaledang banyak pihak yang dirugikan terutama orang-orang yang berkeinginan untuk maju sebagai calon kepala desa, hal ini akan membuat kekhawatiran ditengah masyarakat karena mendapatkan kesempatan yang tidak setara atau tidak fair. Jika dibandingkan dengan calon kepala desa yang yang mempunyai hubungan dengan keluarga dinasti. Strategi calon kepala desa yang berasal dari dinasti politik lebih mapan, terstruktur dan memiliki potensi lebih besar untuk menang.
Seperti halnya yang terjadi pada desa Mangaledang Lama. Desa mangaledang lama ini merupakan salah satu desa yang berada di Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara. Desa tersebut salah satu desa yang memperagakan praktik politik dinasti dari banyak desa di Kabupaten Padang Lawas Utara ini. Desa mangaledang lama tersebut memang identik dengan tingginya
hubungan kekerabatan dibanding dengan desa – desa yang lain. Hal ini dapat dibuktikan dengan realita kepemimpinan yang ada di desa Mangaledang Lama yang bertahan dalam beberapa periode dan masih mempunyai hubungan kekeluargaan dengan pemimpin – pemimpin sebelumnya.
Dari uraian diatas terlihat bahwa kepemimpinan kepala desa di desa Mangeladang Lama ini hanya di pimpin oleh satu keluarga dengan 4 kali periode berturut - turut. Artinya kekuasaan hanya dijalankan oleh yang bermarga siregar yang merupakan saudara dari pemimpin sebelumya. Jika melihat dari peristiwa itu marga siregar mampu menggerakkan masyarakat untuk melanggengkan kekuasaanya. Cara tersebut memanfaatkan marga sebagai identitas politiknya dan keluarga – keluarga yang dekat dengan marga siregar yang mempunyai pengaruh kuat untuk meloloskan ambisi kekuaasaannya. Sehingga tidak ada ruang demokrasi untuk orang lain yang ingin berpatisi untuk dipilih dan memilih dalam kontestansi politik yang dilaksanakan setiap enam tahun sekali di desa Mangaledang Lama ini. Di desa Mangaledang sampai saat ini kekuasaan masih dikendalikan oleh bermarga siregar yang merupakan satu keluarga dengan mantan kepala desa sebelumnya yang sudah empat periode dikuasai oleh satu keluarga. Berdasarkan uraian diatas peneliti sangat tertarik dan merasa penting untuk melakukan dan mengkaji tentang politik dinasti dalam kepemimpinan desa di desa Mangaledang Lama tersebut.
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan tesis ini adalah :
1. Bagaimana asal-usul terjadinya politik dinasti di Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara?
2. Faktor apa saja yang menyebabkan terjadinya politik dinasti di Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara ?
3. Apa saja dampak yang ditimbulkan dari adanya politik dinasti di Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara?
1.3 Tujuan Penelitian
Suatu penelitian supaya terdapat sasaran yang jelas dan sesuai dengan apa yang dikendekai, maka perlu ditetapkan tujuan penelitian diantara adalah sebagai berikut :
1. Untuk mendeskripsikan dan menjelaskan bagaimana asal-usul terjadinya politik dinasti di Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara.
2. Untuk menganalisis faktor yang menyebabkan terjadinya politik dinasti di Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara.
3. Untuk memahami dampak yang terjadi dari munculnya Politik Dinasti di Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan penelitian, maka kita dapat mengharapakan kegunaan atau manfaat dari hasil penelitian. Kegunaan penelitian ini dapat dibagi atas dua bagian, yakni kegunaan teoritis dan kegunaan praktis
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran kepada masyarakat tentang hal yang ditimbulkan dari praktik politik dinasti ini.
2. Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi semua kalangan masyarakat yang membutuhkan khususnya Desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara.
1.5. Kerangka Pemikiran Teoritis 1.5.1. PenelitianTerdahulu
Adapun penelitian–penelitian terdahulu yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilakukan oleh peneliti yang dapat dijadikan sebagai pembanding diantaranya adalah :
Penelitian yang dilakukan oleh Martien Henna Susanti dengan judul “Dinasti Politik dalam Pilkada di Indonesia ”Journal of Government and Civil Society, Vol.1, No.2, September 2017.
Menurutnya dalam penelitian“Dinasti Politik dalam Pilkada di Indonesia” adalah Kehadiran politik dinasti yang mempengaruhi berbagai aspek mulai dari daerah sampai ketingkat nasioanal. Yang secara berasamaan sistem kekuasaan akan terjaling dengan baik sehingga mampu mengasuai dan mematikan peranan poluitik sendiri.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Etha Pasan dengan Judul “Politik Dinasti Dalam Pemilihan Presiden di Filipina Tahun 2001–2011 ”Jurnal Interdependence. Vol1, No. 3 pp 222-235.
Penelitian ini melihat konstitusi Filipina di Bab II ayat 26 terdapat larangan bagi keberadaan politik dinasti, namun dalam kenyataannya politik dinasti masih terjadi pada pemilihan presiden sebagaimana telah terjadi sejak tahun 2001-2011. Politik dinasti yang terjadi pada pemilihan umum ini menimbulkan pro dan kontra dalam masyarakat. Terlepas dari itu keberadaan politik dinasti telah melemahkan demokrasi Filipina. Terpilihnya Gloria MacapagalArroyo dan Beniqno Simeon Aquino menunjukkan inkonsistensi antara aturan dan praktek yang terjadi. Pasal tersebut menegaskan perihal larangan terhadap politik dinasti dan bahwa negara harus menjamin akses yang sama bagi setiap warga negara terhadap kesempatan untuk pelayanan publik. Pada pasal ini dijelaskan mengenai batasan atau lingkup mengenai politik dinasti, yakni orang-orang yang memiliki hubungan langsung atau hubungan keluarga, atau kerabat yang memiliki kedekatan khusus dilarang mencalonkan diri sebagai pemimpin secara berturut-turut pada kantor yang sama disuatu daerah, distrik, legislatif, provinsi, kota, atau kotamadya (barangay). Politik dinasti yang berkembang di Filipina telah lama menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Masyarakat yang menolak politik dinasti beranggapan politik dinasti mempersempit ruang bagi masyarakat lain untuk terpilih karena adanya
dominasi dari dinasti keluarga penguasa. Penolakan terhadap politik dinasti ini juga di dasarkan pada perilaku pemimpin yang berasal dari dinasti keluarga yang selama ini terbukti lebih memperhatikan kelompoknya dibandingkan dengan luar dinastinya.
1.5.2. Kerangka Teori 1.5.2.1. Politik Dinasti
Politik dinasti adalah kekuasaan yang berjalan pada hubungan saudara atau keturunan marga tertentu dan lebih cenderung pada kekuasaan kuno/tidak modern. (E.clubok, N. Wilensky & F. 1996 : 1053). Pada umumnya rakyat biasa yang bukan dari hubungan keluarga kekuaasaan kurang dilibatkan dan diminta pertimbangannya tentang kebijakan politik. Politik dinasti seringkali disebut kekuaasaan keluarga yang hanya rotasi kekuaasaan berjalan pada lingkaran keluarga/hubungan keluarga. Politik dinasti sama hampir sama dengan sistem kekuasaan namun yang membedakan keduanaya adalah sistem pemilihannya. Kerajaan bersifat turun temurun sementara politik dinasti adalah kekuasaan diproleh dari pilihan rakyat. Hal tersebut tidak semata-mata kita memandangnya sebagai hal yang negatif tetapi ada sisi posistifnya juga. Dalam arti jika suatu pemilihan dilakukan dengan jujur, adil serta demokratis oleh masyarakat begitu juga dengan pemimpinnya maka akan berdampak pada kemajuan pembangunan dan kesejahtraan daerah tersebut hal itu menunjukkan sisi positif, tetapi apabila sebaliknya yang terjadi menunjukkan negatif.
Dampak positif dan negatif dari dinasti politik sudah menjadi hal yang lumrah pada fakta kehidupan masyarakat/kondisi status sosial masyarakat, serta sistem penegakan hukum disetiap daerah yang kehidupan politik/hukumnya berbeda. Namun itu tidak akan menjadi kendala untuk menegakkan keadilan apabila penegakkan hukumnya berlaku sama dan tidak pandang bulu.
Penegakkan hukum yang tidak adil akan memberikan efek buruk bagi kehidupan bermasyarakat.
Marcus Mietzner (2009) dalam paper yang berjudul Indonesia’s 2009 Elections: Populisme, Dynasties and the consolidation of the party system, menyatakan bahwa politik dinasti lebih dominan pada praktek politik masa-masa ini di Indonesia. Dalam penunturannya peraktek politik dinasti tidak baik untuk demokrasi yang saat ini dianut oleh bangsa Indonesia karena akan menciptakan pemerintahan yang tidak baik, yang artinya pengawasan kekuasaan akan semakin lemah karena kekuasaan itu sendiri telah dikeliling oleh saudara dan kerabat dekat. Hal ini akan menjadi buruk bagi
demokrasi yang seharusnya yang diharapkan dalam sebuah sistem demokrasi adalah sistem control dan pengawasan kuat oleh pihak-pihak diluar kekuasaan.
Dinasti politik zaman modern ini dikenal sebagai permainan para elit untuk melanggengkan kekuasaan dengan memanfaatkan popularitasnya serta fasilitas yang dimilikinya untuk mewariskan kekuaasaanya pada saudara atau hubungan keluarga, atau sering disebut pertalian darah atau perkawinan pada orang-orang yang berada dilingkaran kekuasaan. Pada realitasnya jaringan politik yang dibangun oleh oknum-oknum yang melakukan praktek politk dinasti dengan melakukan pendekatan politik pada masyarakat melalui jajaran pemerintahan yang notabenya adalah pendukung penguasa akkhirnya orang-orang diluar politik dinasti akan susah untuk bertarung dan rekrutmen bagi orang lain cenderung tertutup. Hal ini dipertegas oleh Turner (Bathoro, 2011: 118) “bahwa suatu jaringan mempunyai pengaruh penting terhadap dinamika transisi kekuasaan politik yang bisa berdampak terhadap tertutupnya rekrutmen politik”. Adapun yang menjadi faktor yang menyebabkan munculnya politik dinasti sebagai berikut: posisi dalam partai, kekuatan jaringan, kekuatan modal, dan demokrasi tidak sehat.
Istilah lain politik dinasti menurut Querubin adalah kekuasaan yang dipegang anggota keluarganya lebih dari satu generasi dalam jabatan politik kekuasaan. Misalnya beberapa contoh adalah “keluarga Kennedy dan Bush di Amerika serikat, keluarga Gandhi di India, keluarga Aquino dan Ortega di Philippines, serta keluarga the Lopez dan Lleras di Colombia”. Secara umum politik dinasti tidak sejalan dengan kaidah-kaidah demokrasi, salah satu Negara yang membuat aturan tegas tentang pelarangan politik dinasti yaitu Negara Filipina dalam undang-undang tersebut menyebutkan” Politik dinasti dilarang”. Hal-hal itu mengatur bahwa tidak boleh berhubungan dalam satu kerja/kantor yang sama yang berasal dari keluarga yang sama atau ada hubungan kedekatan keluarga, baik dikantor legislatif ataupun dikantor pemerintahan. Politik dinasti berbeda, politik dinasti secara konseptual suatu tindakan yang memberikan keistimewaan kepada keluarga tertentu.
Sedangkan dinasti politik adalah lebih merujuk kepada tindakan perilaku politik.
Pada dasarnya politik dinasti dibagi menjadi tiga model yaitu dinasti regenerasi, lintas kamar dengan lintas cabang kekuasaan dan lintas daerah. Pada penelitian ini penulis lebih fokus pada model dinasti regenerasi dimana kekuasaannya hanya berputar dilingkaran satu keluarga itu.
1.5.2.2. Teori Kekuasaan
Pada dasarnya kekuasaan adalah hal yang lebih yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau sekelompok untuk dipengaruhinya untuk mengikuti keinginan atau tujuan orang yang mempunyai kekuasaan. Ada beberapa jenis kekuasaan yaitu:
a. Kekuasaan eksekutif, yaitu kekuasaan yang dijalankan oleh pemerintahan yang secara teknis menjalankan roda kekuasaan pemerintahan
b. Kekuasaan legislatif, yaitu kekuasaan yang berwenang melakukan pengawasan terhadap kinerja pemerintahan serta mengesahkan undang-undang.
c. Kekuasaan yudikatif, yaitu kekuasaan yang menyelesaikan perkara hukum demi menjamin tegakknya hukum di Indonesia.
Dalam menjalankan kekuasaannya ada tiga komponen unsur yang mempengaruhi penguasa, yaitu unsur pemimpin itu sendiri, pengikut atau situasi. Berikut gambar keterkaitan dari unsur satu dengan unsur lainnya.
Gambar 1.2. Pengaruh Kepemimpinan
PEMIMPIN
PENGIKUT SITUASI
Dari gambar diatas kita dijelaskan bahwa pemimpin sebagai orang yang berkuasa bisa mempengaruhi pengikutnya. Dan biasanya pengikut menggiring opini untuk menciptakan pengikut lainya untuk mempengaruhi sehingga menimbulkan sehingga pengikut menjadi membabi buta dan akhirnya tidak menjadi rasional. Bahkan pengikut mempengaruhi pemimpin untuk membisikkan kekuasaan supaya tetap bertahan lama. Pemimpin memanfaatkan situasi dengan menciptakan suasana untuk merekayasa situasi, dengan menggunakan kekuasaan yang dipegangnya hal ini menjadi tembakan jitu yang sangat menguntungkan pribadinya untuk melanggengkan kekuasaan. Dari tiga komponen diatas mempunyai pengaruh yang sangat kuat untuk mempengaruhi perilaku dan mengubah tingkah laku seseorang.
Kekuasaan adalah kedudukan yang sah yang diberikan Negara kepada seseorang untuk diikuti dan ditaati semua orang yang sifatnya mewajibkan masyarakat untuk mematuhi segala peraturan/kebijakan yang dibuatnya. Menurut Michael Foucault mempunyai pandangan berbeda tentang kekuasaan yang menurut”Kekuasaan bukan sesuatu yang dikuasai Negara atau yang dapat diatur karena bersifat dimensi dari suatu hubungan kekuasaan”. Michael melihat kekuasaan dalam persepektif Marxian dan Weberian yang menurutnya kekuasaan itu bahwa dalam satu relasi kepemilikan harta atau sesuatu yang berharga yang dianggap sekelompok kecil mayarakat akan mengalami kepunahan. Kuasa itu feleksibel dan muncul dimana-mana dimana memiliki relasi pada ornag-orang kuat dan itu terjadi secara nyata tanpa campur tangan dari manusia. Kekuasaan adalah sebuah metode yang teratur yang didalamnya terdapat sistem, aturan, susunan dan regulasi.
Pada kekuasaan ini memanfaatkan orang-orang dalam yang berada dalam kekuasaan untuk mengatur jalannya untuk melanggengkan kekuasaannya. Menurut Foucault kekuasaan adalah
sesuatu hal yang adil dalam kehidupan dalam masyarakat hal ini karena memiliki hubungan- hubungan yang saling keterkaitan satu hal dengan yang lainnya. Ada beberapa model pendistribusian kekuasaan menurut Foucault yaitu:
a. Model elite berkuasa adalah pendistribusian kekuasaan yang tertunjuk pada orang-orang tertentu dan bersifat pada sekelompot orang. Menurut Gartano Mosca menyebutkan distribusi kekuasaan dibagi menjadi dua kelas yaitu “kelas rakyat berkuasa dan kelas yang dikuasai”.
b. Model Pluralis yaitu pendistribusian kekuasaan pada banyak orang atau kelompok sosial dan tidak tertunjuk pada elit saja.
c. Model Kekuasaan Popular yaitu lebih memanfaaatkan kebijakan dan keputusan untuk mengawasi elit-elit dan para kaum kelompok sosial lainya, model ini perannya sangat besar sehingga mempunyai kekuatan yang sangat besar dalam mendistribusikan kekuasaannya.
Kekuasaan terdapat di semua bidang kehidupan, kekuasaan mencakup kemampuan untuk memerintah (agar yang diperintah patuh) dan juga untuk memberi keputusan-keputusan yang secara langsung maupun tidak langsung mempengharuhi tindakan-tindakan pihak lain. Dalam setiap hubungan antar manusia maupun antar kelompok sosial selalu tersimpul pengertian-pengertian kekuasaan dan wewenang. Pada dasarnya hubungan kekuasaan politik adalah kemampuan individu atau kelompok untuk memanfaatkan sumber-sumber kekuatan yang bisa menunjang sektor kekuasaannya dalam rangka mencapai tujuan tertentu. Sumber-sumber tersebut bisa berupa media massa, media umum, mahasiswa, elit politik, tokoh masyarakat ataupun militer. Hubungan kekuasaan merupakan suatu bentuk hubungan sosial yang menunjukkan hubungan yang tidak setara (asymetric relationship), hal ini disebabkan dalam kekuasaan terkandung unsur “pemimpin“ (direction) atau apa yang oleh Weber disebut “pengawas yang mengandung perintah“ (imperative control). Dalam hubungan dengan unsur inilah hubungan kekuasaan menunjukkan hubungan antara apa yang oleh Leon Daguit disebut “pemerintah” (gouvernants) dan “yang diperintah” (gouvernes).
Max Weber mengatakan, kekuasaan (power ) adalah kesempatan seseorang atau sekelompok orang untuk menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauannya sendiri, dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golongan-golongan tertentu. Kekuasaan harus membawa kesejahteraan bagi masyarakat dan bukan mendatangkan dominasi yang mengakibatkan ketidak adilan dan diskriminasi politik bagi masyarakat. Hak milik kebendaan dan kedudukan adalah sumber kekuasaan. Birokrasi juga merupakan salah satu sumber kekuasaan, disamping kemampuan khusus dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan ataupun atas dasar peraturan-peraturan hukum yang tertentu. Jadi kekuasaan terdapat dimana-mana, dalam hubungan sosial maupun didalam organisasi-organisasi sosial. Terkait dengan kekuasaan dalam pemerintahan desa, Max Weber membagi kekuasaan dalam tiga tipe, yaitu;
a. Kekuasaan tradisional, yaitu kekuasaan yang bersumber dari tradisi masyarakat yang berbentuk kerajaan dimana status dan hak para pemimpin juga sangat ditentukan oleh adat kebiasaan. Tipe jenis ini melembaga dan diyakini memberi manfaat ketentraman pada warga.
b. Kekuasaan kharismatik. Tipe yang keabsahannya berdasarkan pengakuan terhadap kualitas istimewa dan kesetiaan kepada individu tertentu serta komunita bentukkannya, tipe ini di miliki oleh seseorang karena kharisma kepribadiannya. Kekuasaan tipe ini akan hilang atau berkurang apabila yang bersangkutan melakukan kesalahan fatal. Selain itu, juga dapat hilang apabila pandangan atau paham masyarakat berubah.
c. Kekuasaan rasional-legal, yaitu kekuasaan yang berlandaskan sistem yang berlaku. Bahwa semua peraturan ditulis dengan jelas dan diundangkan dengan tegas serta batas wewenang para pejabat atau penguasa ditentukan oleh aturan main. Kepatuhan serta kesetian tidak ditujukan kepada pribadi pemimpin, melainkan kepada lembaga yang bersifat impersonal.
Dalam masyarakat demokratis kedudukan wewenang berupa sistem birokrasi, dan ditetapkan untuk jangka waktu terbatas (periode). Hal ini untuk mencegah peluang yang berkuasa menyalahgunakan kekuasaannya sekaligus menjamin kepntingan masyarakat atas kewenangan legal tersebut. Ketiga tipe kekuasaan tersebut menurut Weber salah satunya terdapat di setiap masyarakat.
Pemerintahan Desa dalam konteks ini memiliki kekuasaan paling dekat pada poin ketiga yaitu tipe rasional legal, tetapi dalam aplikasinya mungkin tidak sepenuhnya sesuai dengan konsep ideal Weber. Foucault mengemukakan teorinya mengenai wacana sebagai pengetahuan yang terstruktur:
aturan, praktik yang menghasilkan pernyataan bermakna pada satu rentang historis tertentu. Ia berpendapat bahwa konsep kekuasaan telah berubah dibandingkan dengan abad ke-19. Ciri kekuasaan pada saat itu, ada yang cenderung brutal, dioperasikan secara terus-menerus, menekankan ketaatan pada tata cara dan penuh dengan simbolisme, dan yang terakhir berada di ruang publik.
Kekuasaan, menurut Foucault, bukan milik siapa pun, kekuasaan ada di mana-mana kekuasaan merupakan strategi.
Kekuasaan adalah praktik yang terjadi dalam suatu ruang lingkup tertentu ada banyak posisi yang secara strategis berkaitan satu dengan yang lain dan senantiasa mengalami pergeseran. Kekuasaan menentukan susunan, aturan, dan hubungan dari dalam. Kekuasaan bertautan dengan pengetahuan yang berasal dari relasi-relasi kekuasaan yang menandai subjek.
Karena Foucault mengutkan kekuasaan dengan pengetahuan sehingga kekuasaan memproduksi pengetahuan pengetahuan yang menyediakan kekuasaan, ia mengatakan bahwa kekuasaan tidak selalu bekerja melalui penindasan dan represi, melainkan juga normalisasi dan regulasi
1.5.2.3. Teori Kekerabatan
Kekerabatan adalah bagian yang terpenting dalam kehidupan bermasyarakat dalam menjalankan kehidupannya. Kekerabatan mencakup anggota keluarga, hubungan darah, hubungan perkawinan dan perluasan keluarga seperti suku dan marga. Kekerabatan menurut David Scheneider sistem berdasarkan hubungan persaudaraan atau adanya hubungan sedarah dari keluarga, hal ini dibangun oleh orang-orang eropa dan amerika serika. Sudah menjadi kebiasaan mereka, seperti satu
keluarga ayah, ibu dan anak-anak tidak menjadi ha lasing sehingga mereka menggunakan cara kekerabatan. Konsep seperti juga terjadi pada kekuasaan tingkat provinsi bahkan paling bawah ditingkat desa. Dengan semakin menguatnya praktek kekuasaan keluarga akan menciptakan pemerintahan yang tidak stabil dan merugikan banyak pihak.
Jika politik kekerabatan dibiarkan berkembang dan menguatkan kekuasaannya akan menjadi kekhawatiran bagi masyarakat. Negara dijalankan oleh sekelompok orang tertentu yang mempunyai hubungan keluarga/teman maka akan sulit mewujudkan suatu keadilan dan pemerintahan yang bersih serta akan mencederai sistem demokrasi. Konsep kekerabatan yang dimaksud dalam tesis ini adalah cara perekrutmen orang-orang yang mempunyai pengaruh yang ada di desa untuk dijadikan ala melanggengkan kekuasaan keluarga. Politik kekerabatan banyak menyalahi prosedur yang telah diatur, mereka lebih mempertimbangkan orang yang mempunyai kedekatan baik dari marga dan keturunan.
Politik kekerabatan atau politik keluarga akan semakin kuat di desa Mangadelang terlihat dari kepala desa yang menjabat sekarang dari empat priode berasal dari keluarga itu sendiri. Hubungan kekerabatan dengan incumbentdengan tokoh-tokoh masyarakat tentu akan membuat nepotisme dan favoristisme serta akan semakin kelihatan politik kekerabatan yang lebih memfokuskan pada satu keluarga tertentu atau marga tertentu saja.
Adapun alasan peneliti menggunakan teori kekerabatan untuk menganalisis bagaimana kekuatan kekerabatan keluarga Daman Huri Siregar dan Wildan Syukuri Siregar sampai bertahan kekuasaannya sampai sekarang sehingga sukses dalam kontestansi politik ditingkat sampai empat kali priode berturut-turut jatuh ditangan satu keluarga.
1.5.2.4. Patron-Klien
Patron dan klien memiliki arti yang berbeda. Patron berarti pemimpin yang memiliki otaritas atau kekuasaan serta memiliki pengaruh yang kuat. Sedangkan Klien berarti anggota atau suruhan.
Yang mempunyai keterkaitan dalam suatu organisasi artinya dalam sebuah organisasi atau kelompok
masyarakat pasti memiliki pemimpin yang memerintah ataupun menyuruh agar tujuan organisasi tersebut terarah ataupun memiliki tujuan yang sama. Begitu juga dalam pemerintahan, kepala desa merupakan patron yang memiliki kekuasaan untuk membuat peraturan dalam desanya untuk mengatur warganya sedangkan mereka yang menurut pada aturan-aturan tersebut dijadikan sebagai Klien. Dan sering disebut juga patron sebagai pengarah dan penolong bagi bawahannya.
Istilah patron menurut Khan, 1998 berasal dari bahasa latin “patronus” atau “pater” yang berarti ayah. Hal ini dimaksudkan bahwa dialah seorang pengayom bagi bawahan yang memberikan dampak serta melindungi dan mendukung kegiatan orang – orang tersebut. sedangkan klien dalam bahasa latin “cliens” yang berarti penurut atau pengikut. Konsep daripada patron selalu berhubungan dengan dengan klien artinya tanpa pengikut maka tidak seorang patron. Sehingga kedua memiliki hubungan khusus dengan istilah “clientelism”. Paradigma ini selalu berlaku dalam sebuah organisasi yang disamakan dengan pemimpin dan anak buah yang disebut dengan patron-klien. Biasanya patron lebih bersifat kebapaan dan selalu memberikan perhatian kepada anggota yang tidak mampu, hal ini yang membuat sikap klien memberikan berbagai bentuk kesetiaan bahkan dukungan politik kepada atasannya.
Selanjutnya menurut Brever dalam pandangannya patron adalah orang-orang yang memiliki kedudukan tinggi baik dalam pemerintahan maupun pada penguasaan ekonomi, sehingga orang- orang tersebut mampu mempengaruhi ataupun menyuruh klien yang menggunakan jasa ataupun modalnya. Berdasarkan ketergantungan tersebut patron tersebut merasa lebih berkuasa dan mengembangkan sayap kekuasaannya di berbagai aspek sosial atas dasar itu para praktek dinasti politik memanfaatkan hal diatas sehingga masyarakat terbebani oleh jasa dan perlakuan dari pemimpin sehingga rata-rata masyarakat memilih dan memberikan dukungan bukan lagi berdasarkan rasionalitas pemilih tetapi lebih kepada balas budi.
Pada konteks ini, jika merujuk pada persoalan dinasti politik yang terjadi desa Mangadelang bahwa patron-klien sangat berpengaruh atas terpilihnya kepala desa secara berturut-turut dan selanjutnya dilanjtkan oleh adik kandung kepala desa sebelumnya karena masa priode sebelumnya
habis. Pada persoalan ini, hubungan patron dengan klien sangat berpengaruh karena patron yang merupakan kepala desa dan juga penguasaan sumber ekonomi masyarakat di desa Mangadelang sehingga kliean yang merupakan mayoritas masyarakat dalam naungan kekuasaan kepala desa Mangadelang akan cenderung mengikuti perintah dari kepala desa.
Dari penjelasan diatas disimpulkan bahwa patron dan klien memiliki hubungan yang saling ketergantungan yang sama-sama melakukan pertukaran antara satu dengan yang lain yang memiliki kepentingan dalam konteks sebagai hubungan patron-klien yang bersifat khusus atau pribadi. Hal ini mereka sama-sama mempunyai peran dan tujuan, dua-duanya memiliki persekutuan yang masing- masing sekutu merasa diperlukan sehingga keduanya saling ketergantungan. Pada kaitan ini, penelitian melihat bagaimana hubungan antara masyarakat Mangadelang lama dengan pemimpin (kepala desa) yang berkuasa saat ini yang notabenya keluarga dari kepala desa Mangadelang Lama salah satu keluarga yang berpengaruh pada desa atas penguasaan sumber ekonomi dan yang banyak memperkerjakan masyarakat Mangadelang lama pada perkebunannya.
Desa sebagai kesatuan masyarakat yang terkecil mememgang peranan yang peting dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 sebagai petunjuk dalam implementasi kebijakan mengenai desa sebagaimana dituliskan sebelumnya belum sepenuhnya dipahami oleh para pelakunya yakni masyarakat desa itu sendiri. Namun terlepas dari kurangnya pemahaman masyarakat desa mengenai substansi dariUndang-Undang desa tersebut, kehadiran kebijakan baru mengenai desa ini telah mampu membangkitkan gejolak di tengah masyarakat.
Bersamaan dengan momentum politik nasional telah mempercepat bergulirnya wacana terkitUndang- Undang Desa ke seluruh lapisan masyakat. Meskipun banyak pandangan yang mengatakan bahwa muatan politis kebijakan baru mengenai Undang-Undang desa ini lebih kental, tetapi dengan disahkannya telah membangkitkan harapan-harapan baru bagi masyarakat desa.
1.5.2.5. Desa
Desa menurut definisi universal, adalah sebuah tempat/kawasan permukiman diarea perdesaan (rural).Indonesia, istilah desa adalah pembagian wilayah administratifIndonesia dibawah
kecamatan, yang dipimpin oleh Kepala Desa. Desa adalah kesatuan wilayah yang dihuni oleh sejumlah keluarga yang mempunyai sistem pemerintahan sendiri. Desa merupakan satuan pemerintahan terkecil yang melaksanakan fungsi-fungsi pelayanan kepada masyarakat. Desa juga merupakan wadah partisipasi rakyat dalam aktivitas politik dan pemerintahan. Desa seharusnya merupakan media interaksi politik yang simpel dan dengan demikian sangat potensial untuk dijadikan cerminan kehidupan demokrasi dalam suatu masyarakat negara. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat yang diakui dalam sistem pemerintahan nasional dan berada di daerah kabupaten. Desa secara etimologi berasal dari bahasa Sansekerta, desa yang berarti tanah air, tanah asal atau tanah kelahiran. Istilah desa hanya dikenal di Jawa, sedangkan di luar Jawa misalnya di Sumatra, Kalimantan dan Sulawesi, sebutan untuk wilayah dengan pengertian serupa desa sangat beraneka ragam,sesuai dengan asal mula terbentuknya area desa tersebut, baik berdasarkan pada prinsip-prinsip ikatan genealogis, atau ikatan teritorial, dan bahkan berdasarkan tujuan fungsional tertentu (semisal desa petani atau desa nelayan, atau desa penambang emas) dan sebagainya.
Desa sebagai sebuah identitas budaya, ekonomi dan politik yang telah ada sebelum produk- produk hukum masa kolonial dan sesudahnya, diberlakukan, telah memiliki asas-asas pemerintahan sendiri yang asli, sesuai dengan karakteristik sosial dan ekonomi, serta kebutuhan dari rakyatnya.
Konsep desa tidak hanya sebatas unit geografis dengan jumlah penduduk tertentu melainkan sebagai sebuah unit teritorial yang dihuni oleh sekumpulan orang dengan kelengkapan budaya termasuk sistem politik dan ekonomi yang otonom/ berdiri sendiri (kelompok sosial yangg memiliki hak dan kekuasaan menentukan arah tindakannya sendiri). Pembagian daerah Indonesia atas daerah-daerah besar dan daerah kecil, dengan bentuk dan susunan pemerintahan yang ditetapkan dengan undang- undang, dengan memandang dan mengingati dasar permusyawaratan dalam sistem pemerintahan negara dan hak asal usul yang bersifat istimewa. Negara kesatuan RI menghormati kedudukan daerah-daerah yang bersifat istimewa tersebut dengan segala peraturan negara yang mengenai daerah-daerah itu akan mengingati hak asal usul daerah tersebut. Bagi desa, otonomi yang dimiliki berbedadengan otonomi yang dimiliki oleh daerah propinsi maupun daerah kabupaten dan daerah
kota. Otonomi yang dimiliki oleh desa adalah berdasarkan asal-usul dan adat istiadatnyabukanberdasarkan penyerahanwewenang dari Pemerintah. Desa adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus kepentingan masyarakat setempat berdasarkan asal-usul dan adat-istiadat setempat yang diakui dalam sistem Pemerintahan Nasional dan berada di Daerah Kabupaten. Landasan pemikiran yang perlu dikembangkan saat ini adalah keanekaragaman, partisipasi, otonomi asli, demokrasi, dan pemberdayaan masyarakat. Prinsip-prinsip praktek politik demokratis dapat dimulai dari kehidupan politik di desa. Unsur-unsur esensial demokrasi dapat diterjemahkan dalam pranata kehidupan politik di level pemerintahan formal paling kecil.
Institusi desa sudah sejak lama diatur dalam kebijakan pemerintahan, bahkan jauh sebelum negara Indonesia lahir. Meskipun dengan beragam nama sesuai sebutan masyarakat setempat, pengaturan mengenai institusi desa mempunyai tempat yang penting dalam kemajuan bangsa ini.
Oleh karena perlu bagi kita untuk melihat ke belakang, melihat sejarah bagaimana cita-cita proklamasi mengenai desa. Terdapat beberapa fase peraturan desa yang berlaku di Indonesia, yaitu:
1. Peraturan Desa sebelum 1945
Peraturan desa pertama kali dibuat pada masa Hindia Belanda, dengan dikeluarkannya RegeringsReglement (RR) atau peraturan pokok yang mengatur tentang pemerintahan di Hindia Belanda pada tahun 1854. Pasal 71 pada peraturan tersebut sebagaimana disebutkan menyatakan bahwa “Desa, kecuali dengan persetujuan penguasa yang ditunjuk dengan peraturan umum, memiliki kepala desa dan pemerintahan desa. Kepala desa diserahi tugas pengaturan dan pengurusan rumah tangga dengan memperhatikan peraturan wilayah atau pemerintah dari kesatuan masyarakat yang ditunjuk oleh peraturan umum. Pengaturan mengenai desa dalam RegeringsReglement (RR) ini didasarkan atas kesadaran dari penguasa Hindia Belanda melihat kenyataan bahwa masyarakat asli Indonesia telah ada satuan-satuan sosial yang memiliki corak pemerintahan sendiri-sendiri jauh sebelum orang Belanda datang ke Nusantara ini. Oleh karena itu peraturan mengenai desa yang
termuat dalam RegeringsReglement (RR) ini lebih kepada memberikan pengakuan tentang keberadaan satuan-satuan sosial tersebut.
Tahun 1925, RegeringsReglement (RR) diganti dengan peraturan baru yang dinamakan IndischeStaatresgering. Pergantian secara prinsip tidak mengubah ketentuan mengenai desa yang diatur dalam RegeringsReglement (RR) sebelumnya. Pada pasal 128 IS lebih memperjelas otonomi dan pengakuan pemerintahan Hindia Belanda pada keberadaan desa teemasuk pada pranata yang ada di dalamnya (Suryadininggrat 1992 dalam Savitri 2000).
Menjelang berakhirnya kekuasaan Hindia Belanda di Indonesia sempat dibuat Ordonensi desa yakni Desa Ordinentie, namun belum sempat berlaku munyusul kalahnya Belanda melawan Jepang sehingga Hindia Belanda harus mengakhiri kekuasaannya di Indonesia. Selama kekuasaan pemerintahan tentara Jepang (1942-1945) praktis tidak banyak perubahan mengenai peraturan tentang desa, kecuali mengenai pemilihan kepala desa. Pemerintahan tentara Jepang mengeluarkan peraturan yang disebut dengan OsamuSeirei No. 7 tahun 1944. Peraturan ini mengganti ordonensi pemilihan kepala desa yang dibuat pemerintahan Hindia Belanda tahun 1907. Peraturan ini membatasi masa jabatan kepala desa menjadi 4 tahun saja, sementara dalam ordonensi sebelumnya tidak ada pembatasan masa jabatan kepala desa.
2. Peraturan Desa tahun 1945 – 1965
Semasa persiapan kemerdekaan Indonesia, Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) sebagai badan persiapan kemerdekaan Indonesia telah menaruh perhatian terhadap desa dan telah masuk dalam pembahasan konstitusi negara. Muhammad yamin disebut sebagai orang pertama yang menyinggung keberadaan desa dalam rapat Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Saat itu Muhammad Yamin mengutarakan pendapatnya mengenai susunan pemerintahan “bawahan” yang berisikan badan-badan masyarakat seperti desa, pemerintahan
“atasan” atau pemerintahan pusat yang berada di Ibu Kota, dan diantara itu adalah pemerintahan
“tengahan” yakni pemerintah daerah.
Peraturan desa dalam konstitusi negara akhirnya masuk dalam pasal 18 Undang-Undang Dasar (UUD) Tahun 1945 yang menyatakan bahwa: pembagian daerah Indonesia atas daerah besar dan kecil, dengan bentuk susunan pemerintahannya ditetapkan dengan Undang-Undang dengan memadang dan mengingat dasar pemusyawaratan dan sistem pemerintahan negara dan hak asal-usul dalam daerah yang bersifat istimewa.
Dalam hal ini terlihat negara Republik Indonesia menghormati kedudukan daerah-daerah istimewa tersebut dan segala peraturan negara yang mengenai daerah-daerah itu akan mengingati hak-hak asal-usul daerah tersebut. Sampai 20 tahun setelah Indonesia merdeka tidak ada peraturan khusus yang mengatur tentang desa secara menyeluruh yang di buat oleh pemerintah Indonesia sehingga aturan ordonensi desa sejak masa Hindia Belanda masih berlaku. Dalam kurun waktu tersebut peraturan yang dibuat hanya parsial seperti menyangkut pemilihan kepala desa.
Pada tahun 1965 barulah pemerintah Indonesia membuat undang-undang mengenai desa untuk menggantikan ordonensi desa dan peraturan lainnya. Tepatnya tanggal 1 September 1965 diundangkan Undang-Unang Nomor. 19 Tahun 1965 tentang Desapraja sebagai bentuk peralihan untuk mempercepat terwujudnya daerah tingkat III di seluruh wialyah Republik Indonesia. UU Desapraja ini dibuat dengan semangat untuk mengganti seluruh perundang-undangan kolonial dan menjalankan politik unifikasi hukum menegani desa di seluruh Indonesia. Berbeda dengan aturan yang telah ada sebelumnya yang memberikan pengakuan secara hukum pada keberadaan satuan- satuan sosial yang telah ada, Undang-UndangDesapraja mengandung maksud untuk melakukan rekayasa pembentukan, penggabungan, dan pemecahan satuan-satuan sosial yang telah ada.
Konsep desa dalam Undang-UndangDesapraja ini menekankan pentingnya melihat desa sebagai unit sosial dari pada teritori semata. Undang-Undang ini menyebutkan bahwa Desapraja adalah kesatuan masyarakat hukum yang tertentu memiliki batas-batas daerahnya, berhak mengurus rumah tangganya sendiri, memilih penguasanya dan mempunyai harta benda sendiri. Dengan pengertian seperti di atas maka desa dipandang sebagai badan hukum publik. Walaupun sepanjang 1945-1965 peraturan khusus mengenai desa hanya Undang-UndangDesapraja ini, tetapi peraturan-
peraturan menganai desa terutama mengenai aspek otonomi sudah di bahas dalam peraturan- peraturan mengenai pemerintah daerah seperti: Undang-Undang Nomor. 1 tahun 1945 Tentang Komite Nasional Daerah, Undang-Undang Nomor. 22 Tahun 1948 Tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang Nomor. 1 Tahun 1957 Tentang Pemerintahan Daerah, dan peraturan Undang- Undang Nomor 18 Tahun 1965 tentang Pokok-Pokok Pemerintahan Daerah. Peraturan tersebut diatas menganggap desa atau daerah setingkat desa sebagai daerah otonom.
Dalam berjalannya Undang-UndangDesapraja ini tidak pernah berlaku karena pada tahun 1969 dikeluarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1969 yang menyatakan tidak berlakunya sejumlah Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu), termasuk Undang- UndangDesapraja, karena isinya dianggap bertentangan dengan Undang- Undang Dasat Tahun 1945.
3. Peraturan Desa tahun 1979-1999
Pada tahun 1979 tepatnya pada tanggal 1 Desember ditetapkan Undang-Undang tentang Desa yakni Undang-Undang Nomor.5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa. Undang-Undang ini semasa berlaku sukses melakukan penyeragaman mengenai desa, semua desa atau lembaga yang setingkat desa yang diakui oleh aturan-aturan sebelumnya, digabung, dipisah dan diseragamkan dalam konsep desa yang terkandung dalam Undang-Undang Nomor 5 tahun 1979 ini. Berdasarkan sosiologis dan antropologis desa dilihat sebagai satuan sosial masyarakat lokal yang diikat oleh kesamaan tempat tinggal, kekerabatan, dan hubungan darah ataupun keduanya. Oleh karena itu desa mempunyai banyak ragam, setidaknya ditilik dari penyebutannya.
Pada zaman orde baru penyebutan “desa” selain karena politik unifikasi hukum, tetapi juga karena politik pembangunan. Politik sentralisasi dalam pelaksanaan pembangunan mengharuskan pemerintah mengucurkan dana kepada daerah untuk menjalankan program-program pembangunan yang diantaranya banyak dirancang oleh pemerintah pusat. Mekanisme pengucuran dana kepada daerah mengacu pada jumlah desa yang ada. Karenanya para gubernur diminta menyerahkan data
jumlah desa yang ada kepada pemerintah pusat untuk mengatasi keterbatasan data mengenai jumlah desa di seluruh Indonesia.
Terjadinya sentralisasi kekuasaan kepada kepala desa. Selain menjalankan fungsi eksekutif kepala desa juga menjalankan fungsi legislatif yakni menjadi ketua Lembaga Masyarakat Desa (LMD) dan menetapkan keputusan desa. Selain itu kepala desa juga menjalankan fungsi sosial dan budaya untuk mengembangkan masyarakatnya. Hal ini menunjukan peran kepala desa sangat demikian besar.
Pengesahan UU Desa No 6 tahun 2014 sebagai tanda pengakuan kembali terhadap otonomi desa memberikan harapan baru bagi masyarakat desa. Namun pada sisi lain apakah pengakuan otonomi desa yang bergulir saat ini benar-bennar akan sampai pada tujuan dan sesuai dengan kehendak rakyat selama ini ataukah sebaliknya. Pengakuan terhadap otonomi desa sendiri diartikan sebagai kewenangan penuh bagi desa untuk mengatur dan mengurus kepentingan desa sendiri menurut prakarsa diri berdasarkan aspirasi masyarakat sesuai dengan kebijakan yang berlaku (Undang-Undang Desa Nomor. 6 tahun 2014 dan Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2019).
Hakekat otonomi sendiri dimaknai sebagai upaya pengembangan manusia-manusia indonesia yang otonom, yang memberikan kekuasaan bagi terkuaknya potensi-potensi terbaik yang dimiliki oleh setiap individu secara optimal (basri, 1999).
Desa sebagai kesatuan masyarakat yang terkecil mememgang peranan yang peting dalam pelaksanaan pembangunan nasional. Undang-Undang No. 6 Tahun 2014 sebagai petunjuk dalam implementasi kebijakan mengenai desa sebagaimana dituliskan sebelumnya belum sepenuhnya dipahami oleh para pelakunya yakni masyarakat desa itu sendiri. Namun terlepas dari kurangnya pemahaman masyarakat desa mengenai substansi dariUndang-Undang desa tersebut, kehadiran kebijakan baru mengenai desa ini telah mampu membangkitkan gejolak di tengah masyarakat.
Bersamaan dengan momentum politik nasional telah mempercepat bergulirnya wacana terkitUndang- Undang Desa ke seluruh lapisan masyakat. Meskipun banyak pandangan yang mengatakan bahwa
muatan politis kebijakan baru mengenai Undang-Undang desa ini lebih kental, tetapi dengan disahkannya telah membangkitkan harapan-harapan baru bagi masyarakat desa.
BAB II
METEDOLOGI PENELITIAN
2.1. Jenis Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode penelitian kualitatif, karena penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan dan menjelaskan suatu fenomena sosial yang sedang terjadi di masyarakat. Metode kualitatif ini akan menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.
Penelitian kualitatif dapat di evaluasi secara akurat apabila segala tahapan nya diikuti dengan baik. Sehingga para pembaca memahami betul bentuk permasalahan yang dibahas oleh peneliti dan pembaca dapat memberikan penilaian tentang yang ditulis oleh peneliti. Agar penelitian kualitatif sempurna, maka yang harus diperhatikan adalah aturan – aturan yang sudah ditetapkan yang meliputi: kebermaknaan, kesesuaian antara amatan dan teori, kesamarataan, konsistensi serta ketepatan pembuktian.
2.2. Sumber Data
Sumber data merupakan asal darimana data tersebut diperoleh oleh peneliti, dan dalam penelitian ini terdapat 2 (dua) sumber data yaitu : Sumber data primer yang dimaksud dengan sumber data dalam penelitian adalah subyek dari mana data dapat diperoleh, karena dalam penelitian kualitatif dekriptif bahwasanya sumber data diperoleh untuk dapat menguatkan argumentasi peneliti dalam menganalisa kasus tersebut. Dalam penelitian ini penulis menggunakan dua sumber data yaitu :
a. Sumber data primer, di mana data yang di peroleh langsung dikumpulkan oleh peneliti dari sumber pertamanya dan ini salah satu narasumber untuk memperoleh asumsi awal peneliti dan bisa memberikan pandangan yang berkaitan dengan kepemimpinan kepala desa Mangadelang lama sehingga kekuasaan di desa Mangadelang lama langgeng sampai empat priode.
b. Sumber data sekunder, yaitu data yang dikumpulkan oleh peneliti sebagai penunjang dari sumber pertama. Dapat juga dikatakan data yang terdapat dalam pelbagai jurnal yang telah meneliti terkait topik maupun permasalahan peneliti, maupun dari sumber-sumber yang diperoleh dari media digital (internet).
2.3. Lokasi dan Subjek Penelitian
Tempat penelitian ini dilakukan di Desa Mangaledang Lama tepatnya berada di Kabupaten Padang Lawas Utara Sumatera Utara. Adapun alasan pemilihan lokasi ini adalah, pertama, desa ini merupakan salah satu desa yang termasuk menerapkan praktik politik dinasti diantara sekian banyak desa. Kemudian desa ini adalah desa tempat tinggal penulis sehingga dengan letak strategis nya memudahkan penulis untuk melakukan pengamatan atau penelitian langsung.
Dengan kondisi yang demikian, peneliti pada saat melakukan penelitian lebih mengetahui situasi dan kondisi desa tersebut. Adapun jadwal penelitian dilakukan dengan tujuan untuk
menjadwalkan peneliti dengan waktu yang tepat. Terhitung sejak awal penelitian sampai dengan selesai melakukan penelitian. Proses pengumpulan data dimulai dari bulan September 2020.
Berikut data Informan yang dapat memberikan informasi dan bersedia menjadi narasumber :
3.1. Informan Kunci : Ali Bahron Siregar : Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Sekretaris desa Mangaledang Lama
4.1. Informan Pendukung :
3.3. Para calon Kepala desa Mangaledang Lama 4.3. Anggota masyarakat desa Mangaledang Lama 5.3. Tim pemenangan dari calon petahana
6.3. Pemuda dan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi NNB desa Mangaledang Lama.
Adapun alasan peneliti dalam memilih informan kunci dan informan pendukung adalah karena Informan tersebut terlibat secara langsung mulai kondisi sosial masyarakat dan mengetahui betul perkembangan desa yang sedang dipimpin oleh petahana. Oleh karena itu, untuk menyelesaikan tugas akhir ini, maka kelompok masyarakat disini diwawancarai sebagai informan yang betul paham tentang kondisi desa ini sehingga nanti didapatkan hasil seperti apa tanggapan masyarakat terhadap dinasti politik yang sudah berlangsung sejak beberapa tahun di desa ini.
5.2. Teknik Pengumpulan Data
Menurut Sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.
Pengumpulan data dalam penelitian Ini dilakukan dengan beberapa teknik yaitu : a. Kepustakaan (Library Research)
Penelitian dilakukan melalui studi perpustakaan dan studi literature dengan cara mempelajari beberapa buku-buku, jurnal, peraturan perundang– undangan, majalah, surat kabar dan
artikel lainnya yang berhubungan tentang dinasti politik untuk memperbanyak teori serta memperkaya data-data yang mendukung tesis ini.
b. Riset Internet (Online Research)
Peneliti menggunakan internet untuk mendapatkan informasi serta data yang berkaitan dengan kebutuhan penulis untuk menunjang data yang di kumpulkan untuk keberlanjutan dalam tesis ini.
c. Fokus Group Discussion (FGD) atau diskusi kelompok kepada orang-orang yang pernah menjadi imbas dari politik dinasti tersebut. Diantaranya sebagai berikut:
1. Masyarakat yang bersemberangan dengan calon kepala desa yang tepilih karena pengaruh dinasti politik atau pengaruh ikatan satu marga atau berasal dari satu keluarga dari mantan kepala desa sebelumnya, dalam hal ini tidak ada kaitan sama sekali dari keturunan marga siregar.
2. Erlina Hasibuan sebagai calon kepala desa nomor urut 2
3. Syahrin Harahap sebagai calon yang mendaftar pada nomor urut 3
d. Wawancara Mendalam
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data dalam metode survei yang menggunkan tanya jawab secara lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Wawancara dalam penelitian terjadi dimana peneliti sedang berbincang - bincang dengan narasumber dengan tujuan menggali informasi melalui pertanyaan - pertanyaan dan mengunakan teknik tertentu. Dalam penelitian ini subjek wawancara adalah ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Sekretaris Desa, Kepala Desa yang sedang menjabat, dan anggota masyarakat desa Mangaledang Lama Kecamatan Portibi Kabupaten Padang Lawas Utara.
e. Dokumentasi
Dalam hal ini peneliti mengkaji dan mengolah data dari dokumen – dokumen yang ada di balai kantor kepala desa yang berhubungan tentang permasasalahan peneliti diantaranya daftar nama – nama kepala desa yang pernah memimpin serta histori desa tersebut.
2.5.Teknik Analisis Data
Teknik analisis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data penelitian kualitatif yang penulis lakukan sebelum terjun kelapangan yaitu mengumpulkan data berupa informasi dari masyarakat yang berkaitan dengan topik penelitian, setelah memproleh gambaran tentang permasalahan penelitian maka penulis rancangan penelitian yang kemudian data dan informasi yang diperoleh maka menganalis dengan beberapa tahan analisis sebagai berikut:
1. Data Reduction (Reduksi data) sebagai suatu proses pemilihan,serta yang menjadi pusat perhatian, penyederhanaan, serta transformasi data yang muncul dari catatan-catatan yang di lakukan pada saat di lapangan, sehingga data itu memberi gambaran yang lebih jelas tentang hasil dari wawancara maupun dokumentasi.
2. Data Display (Penyajian data), yang merupakan sekumpulan informasi yang tersusun dan memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan serta pengambilan tindakan. Dalam penelitian kualitatif penyajian data dilakukan dalam bentuk uraian singkat, karena dalam penelitian menggunakan teknik analisa deskriptif. Melalui penyajian data tersebut, di harapkan agar data dapat terorganisasikan sehingga akan semakin mudah dipahami.
3. Conclusion Drawing atau Verification (kesimpulan atau verifikasi), peneliti membuat kesimpulan berdasarkan data yang telah diproses melalui reduksi dan display data yang telah di jelaskan pada poin sebelumnya. Penarikan kesimpulan yang dikemukakan bersifat sementara dan akan berubah bila tidak di temukan kaitan antara hal yang menjadi perumusan masalah.
Namun apabila kesimpulan yang di kemukakan pada tahap awal di dukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data maka kesimpulan yang di kemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Adapun gagasan