• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAN AGROINDUSTRI DENGAN LUAR NEGERI TERUTAMA JEPANG

Dalam dokumen bPyvIRMAo314zSAl Prosiding Seminar Pappiptek (Halaman 189-194)

DAN KOMUNIKASI

DAN AGROINDUSTRI DENGAN LUAR NEGERI TERUTAMA JEPANG

Pembentukan grand scenario dalam pembuatan jaringan dalam kaitannya Agrobisnis dan agroindustri sangat penting. Grand scenario dirancang dan dibentuk untuk menjadi pedoman kerja pembentukan jaringan, baik yang berskala nasional maupun internasional. Untuk menembus pasar Jepang, maka beberapa langkah dalam grand scenario yang dapat dilakukan adalah sebagai berikut.

180 3.1. Membangun Jaringan Kerja Sama dalam Negeri

Jaringan kerjasama agrobisnis adalah sebuah jaringan yang terfokus pada sektor pertanian dalam arti luas. Mulai dari sub sektor hortikultura, tanaman pangan, berkembangnya komunitas – komunitas petani, peternak, nelayan dan petani ikan, menuju terbentuknya lembaga – lembaga koperasi dan asosiasi bagi masing –masing komoditas. Komunitas – komunitas dan lembaga ini diharapkan bisa membangun jaringan kerjasama fungsional secara horizontal sesama petani, vertikal dengan asosiasi bersama pemerintah serta sektor dan bidang lain. Selain itu, para pelaku Agrobisnis juga akan didorong untuk membangun jaringan hulu, tengah, hilir dan hubungan kecil, sedang, besar secara sehat dan saling menguntungkan di dalam negeri.

Pembuatan jaringan kerjasama tersebut di atas harus dilakukan. Urgenitas dari pembuatan jaringan sangatlah tinggi yang diantaranya :

a. Memudahkan akses informasi yang akan diperoleh oleh masyarakat terutama informasi pemasaran

b. Memudahkan kontrol kerja dan prestasi masyarakat sebagai pengumpul produksi c. Memudahkan pelaku pasar dalam menembus pasar – pasar nasional maupun luar

negeri terutama Jepang

3.2. Membuat Jaringan Kerja Sama Antar Negara

Jaringan kerjasama pada prinsipnya sangat membantu dalam menyukseskan kegiatan ekspor – impor yang dilakukan Indonesia. Khususnya untuk kegiatan ekspor, urgenitas dari pembuatan jaringan ini antara lain :

a. Memudahkan akses pasar luar negeri

b. Memudahkan pelaku pasar nasional untuk menembus pasar – pasar internasional utamanya negara Jepang dan negara – negara maju lainnya di dunia.

c. Memudahkan dalam membentuk hubungan bilateral dan multilateral 3.3. Regionalisasi

Krisis ekonomi Indonesia saat ini setidaknya membuat bangsa Indonesia lebih memperhatikan secara lebih serius dalam pengembangan Agrobisnis nasional. Di satu sisi, sebagaimana disinyalir oleh banyak pakar pertanian, bahwa pembangunan sektor pertanian pada era baru masih terkonsentrasi hanya pada upaya peningkatan produksi pangan, khususnya beras. Sementara itu, pengembangan sub sektor pertanian lainnya seperti holtikultura, perkebunan, peternakan, perikanan dan juga kelautan masih relatif terbengkalai padahal pada komoditi tersebut Indonesia memiliki berbagai keunggulan komparatif dan bahkan keunggulan kompetitif untuk masuk dalam pasar internasional.

Berbagai potensi dan keunggulan yang dimiliki masih belum optimal termanfaatkan. Ketidakmampuan dalam mengembangkan dan memasarkan produk Agrobisnis menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan domestik maupun peluang ekspor produk Agrobisnis berkualitas. Hal ini menyebabkan defisit neraca perdagangan Indonesia yang kemudian menjadi salah satu faktor utama pemicu krisis berlangsung. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka perlu ditelusuri langkah terobosan strategis guna meningkatkan kinerja pemasaran produk Agrobisnis nasional khususnya di pasaran internasional. Membaiknya kinerja pemasaran ini diyakini akan berdampak sangat kuat pada upaya pengembangan sektor produksi dalam negeri, baik dalam konteks kuantitas, kualitas, variabilitas dan kontinuitas.

181 3.4. Mengadakan Lokakarya Internasional

Lokakarya internasional merupakan sarana atau media untuk memperkenalkan agrobisnis di penjuru dunia, karena agrobisnis adalah bisnis berbasis usaha pertanian atau bidang lain yang mendukungnya, baik di sektor hulu maupun di hilir. Penyebutan "hulu" dan "hilir" mengacu pada pandangan pokok bahwa Agrobisnis bekerja pada rantai sektor pangan (food supply chain). Agrobisnis dengan perkataan lain adalah cara pandang ekonomi bagi usaha penyediaan pangan. Sebagai subjek akademik, Agrobisnis mempelajari strategi memperoleh keuntungan dengan mengelola aspek budidaya, penyediaan bahan baku, pascapanen, proses pengolahan, hingga tahap pemasaran.

3.5. Melakukan Publikasi Melalui Media Dalam dan Luar Negeri

Menjelang akhir abad 20terjadi perubahan yang cukup drastis bagi dunia bisnis yaitu dengan adanya media teknologi informasi internet sebagai media alternatif untuk menjalin kontak bisnis diseluruh dunia. Teknologi internet membawa perubahan radikal dalam dunia bisnis yaitu informasi bisnis dari seluruh dunia dapat diakses hanya dari sebuah komputer di meja kerja kantor sendiri, dirumah bahkan diperjalanan dengan menggunakan handphone terbaru serta dapat berkorespondensi dengan menggunakan e-mail. Informasi yang diperoleh serupa penawaran produk dari luar negeri maupun dalam negeri dapat langsung dilanjutkan dengan transaksi secara on-line yaitu langsung memesan dan membayar melalui komputer sendiri tentu dengan syarat pembayaran menggunakan kartu kredit.

Dengan demikian, teknologi internet telah mendobrak batasan ruang, jarak dan waktu dalam transaksi bisnis dengan mitra bisnis diseluruh dunia. Namun disisi lain pemakaian internet khususnya dibidang Agrobisnis belum banyak dimanfaatkan oleh pelaku bisnis di Indonesia. Hal ini terbukti dengan sedikitnya permintaan atau penawaran dari Indonesia yang tampil pada website World Trade Center di beberapa negara seperti Korea maupun Hongkong sedangkan pelaku Agrobisnis dari Pakistan, India dan beberapa negara di Afrika aktif mengisi ruang offer to buy maupun offer to sell. Guna mensosialisasikan website Agrobisnis yang dapat dimanfaatkan oleh pelaku Agrobisnis di Indonesia, sebaiknya pemilik website Agrobisnis di Indonesia seperti departemen-departemen maupun asosiasi-asosiasi pengusaha secara aktif menginformasikan keberadaan websitenya melalui media massa, seminar, diklat Agrobisnis maupun terjun langsung kepada koperasi Agrobisnis.

3.6. Menajamkan Fungsi Saluran Pemasaran

Pemasaran adalah merupakan kegiatan untuk memindahkan barang atau jasa dari produsen ke konsumen. Fungsi pemasaran yang dilakukan meliputi: pembelian, penjualan, pengangkutan, pergudangan, pembiayaan, penanggungan resiko, dan standarisasi serta informasi pasar. Menurut Downey dan Erickson, 1992 bahwa penyaluran barang dari produsen ke konsumen akhir sering dinamakan sebagai saluran pemasaran. Jenis dan kerumitan saluran tersebut tergantung pada jenis komoditinya.

Kotler dalam Soekartawi (1993) mengatakan bahwa ada lima faktor yang menyebabkan mengapa pemasaran itu penting diantaranya adalah : 1) jumlah produk yang dijual menurun, 2) Pertumbuhan penampilan perusahaan juga menurun, 3) Terjadinya perubahan yang diinginkan konsumen, 4) Kompetisi yang semakin tajam, 5) terlalu besarnya pengeluaran untuk penjualan.

Swastha dan Sukotjo (1983) mengemukakan bahwa ada lima macam saluran dalam pemasaran masing-masing konsumsi yaitu :

182 1. Produsen Konsumen akhir

2. Produsen Pengecer Konsumen akhir. 3. Produsen Pedagang besar Pengecer Konsumen akhir. 4. Produsen Agen Pengecer Konsumen akhir

5. Produsen Agen Pedagang besar Pengecer Konsumen akhir

Pada hakekatnya pemasaran pertanian mencakup pasar hasil produksi pertanian dan pasar sarana produkasi yang diperlukan oleh petani. Sistem pemasaran dianggap efisien apabila memenuhi dua syarat yaitu : 1) mampu menyampaikan hasil-hasil dari petani produsen ke konsumen dengan biaya semurah mungkin, 2) Mampu mengadakan pembagian yang adil dari pada keseluruhan harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang ikut serta dalam kegiatan produksi dan tataniaga.

4. KESIMPULAN

Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :

1. Pemerintah Indonesia seyogyanya mencontoh Jepang dalam membangun jaringan Agrobisnis dan Agroindustri sebagai home based ketahanan pangan nasional.

2. Perlu pengkajian tentang kebijakan pemerintah ini tentang impor komoditi pertanian dalam arti luas.

3. Peluang Agrobisnis dan Agroindustri dengan Jepang sangat tinggi, hanya saja persyaratan – persyaratan seperti kualitas, kuantitas, safety product dan lain – lain harus dipenuhi atau dipersiapkan.

REFERENSI

Anonim, 2011. Agrobisnis. http://id.wikipedia.org/wiki/Agrobisnis. Diakses tanggal 26 juni 2011

Daryanto, A. 2009. Dinamika Daya Saing Industri Peternakan. IPB Press. Bogor

Didu, M.S. 2000. Mencari Format Baru Agroindustri Millenium III. Journal.ipb.ac.id diakses tanggal 25 juni 2011.

Downey, W.D. dan Erickson S.P 1992. Manajemen Agrobisnis. Edisi kedua, Erlangga, Jakarta.

Fatah, L. 2007. The Potentials of Agro-Industry for Growth Promotion and Equality Improvement in Indonesia. Asian Journal of Agriculture and Development, Vol. 4, No. 1

Lewis, W.A. 2000. Development Strategy in a Limping World Economy. New York: Oxford University Press.

Mangunwidjaja, D dan Sailah, I. 2005. Pengantar Teknologi Pertanian. Penebar Swadaya. Depok

Ruttan, V.W. and Y. Hayami. 1984. Induced Innovation Model of Agricultural Development. Baltimore: Johns Hopkins University Press.

Saragih, B. 1998. Agrobisnis, Pardigma Baru Pembangunan EKonomi Berbasis Pertanian. Penerbit Yayasan Mulia Persada Indonesia dan PT. Surveyor Indonesia bekerjasama dengan Pusat Studi Pembangunan, Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor.

183 Soekartawi, . 1993. Agrobisnis Teori dan Aplikasinya. CV. Radjawali, Jakarta.

Swastha, B. Dan Sukotjo. I. 1983. Pengantar Ekonomi Perusahaan Modern. Libarty, Yogyakarta.

Udo, H. M. J. and Brouwer, B. O. 1991. Consepts and Practices for systematically analysing the livestock component of farming system. Livestock and feed development in the tropics, proceedings of the international seminar. Brawijaya University, Malang Indonesia.

184

MEMBANGUN BLOG SEBAGAI MEDIA KONSULTASI ONLINE

DALAM PERSPEKTIF MANAJEMEN PENGETAHUAN : KASUS

BIOTEKNOLOGI PERTANIAN DAN KOMODITAS CABAI

Dalam dokumen bPyvIRMAo314zSAl Prosiding Seminar Pappiptek (Halaman 189-194)