• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN KONSEPTUAL

Dalam dokumen bPyvIRMAo314zSAl Prosiding Seminar Pappiptek (Halaman 110-113)

BERPRESTASI TAHUN 2009

2. TINJAUAN KONSEPTUAL

Sejarah keberadaan koperasi di Indonesia secara resmi telah berumur 63 tahun. Koperasi dinyatakan sebagai lembaga ekonomi yang mampu memanifestasikan azas ekonomi kekeluargaan, sebagaimana tertera dalam UUD 1945.Koperasi bekerja berdasarkan doktrin atau prinsip koperasi (Marcus, 1992; Book, 1994; Situmorang, 2000; Situmorang dan Tamba, 2000, Situmorang, 2009).Sebagai badan hukum, koperasi menjalankan bisnis sebagaimana bentuk perusahaan lainnya. Untuk memajukan koperasi, salah satu upaya yang dilakukan adalah memberikan insentif dengan menetapkan beberapa koperasi sebagai Koperasi Berprestasi14, inovatif, dan jejaring yang luas. Dengan jumlah koperasi mencapai lebih dari 177 ribu unit, dalam era global, koperasi Indonesia belum satupun menembus pasar global berdasarkan omset (Rahardjo, 2010). Sebagai badan usaha, koperasi harus dapat menunjukkan performa berdasarkan prinsip bisnis dan ekonomi karena koperasi menggunakan input dan menghasilkan output, baik dalam bentuk barang maupun jasa. Output bisnis utama koperasi adalah nilai transaksi dengan anggota yang dikenal sebagai volume usaha koperasi. Pada umumnya koperasi adalah multi-business, bergerak dalam berbagai bidang usaha. Semakin tinggi volume usaha maka semakin berperan koperasi sebagai badan usaha yang berwatak sosial. Sejalan dengan teori produksi maka fungsi usaha dapat diestimasi berdasarkan tenagakerja dan modal sendiri dan modal luar.

14

101 3. MODEL ANALISIS

3.1. Model Umum

Estimasi fungsi usaha koperasi dalam kajian ini menggunakan model multiple regression dimana volume usaha adalah sebagai peubah dependen dan faktor-faktor anggota, tenagakerja, modal dalam, modal luar adalah peubah independen. Asumsi model ini adalah ragam tetap dari kesalahan regressi (homoskedasitas), residu adalah independen, nilai residual plot terdistribusi secara normal (Makridakis, 1989; Anderson et al, 2004; Keller, 2005). Pemenuhan asumsi ini menyatakan estimasi sebagai BLUEs (Best Linear Unbiased Estimators), menurut Teorema Gauss-Markov (Johnston, 1972; Supranto, 1984; Nachrowi dan Usman, 2006). Bentuk power function persamaan (1) umumnya adalah

VU = âAngαTK MS ML ………..……… (1) VU = volume usaha koperasi berprestasi (Rp miliar)

ANG = jumlah anggota koperasi (orang) TK = tenaga kerja koperasi (orang) MS = modal sendiri koperasi (Rp miliar)

ML = modal luar koperasi berprestasi (Rp miliar).

Huruf â adalah konstanta dan masing-masing α, , dan , adalah koefisien estimasi yang menggambarkan dimensi hubungan faktor-faktor yang mempengaruhi usaha koperasi. Anggota menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi usaha sejalan dengan prinsip koperasi yang menjadikan anggota sebagai ciri utama koperasi. Bila terjadi multikolinieritas, model akan dikoreksi dengan menghilangkan satu atau lebih peubah independen yang memiliki kolonieritas (Nachrowi dan Usman, 2006). Hubungan usaha dan faktor-faktornya berbentuk power function yang menunjukkan hubungan tidak linier dengan pertimbangan bahwa semua faktor independen dan berinteraksi satu dengan lainnya untuk mempengaruhi volume usaha koperasi.

Persamaan (1) dapat diubah menjadi bentuk hubungan liniear dengan bentuk persamaan logaritma alami (natural logarithm atau Ln) dengan model Ln-Ln yang ditunjukkan oleh persamaan berikut.

δnVU = lnâ + αlnAng + lnTK + lnεS + lnεδ ……….…..…..(β) Manakala estimasi persamaan (2) tidak memuaskan, misalnya hubungan yang semestinya positif tapi hasil estimasi negatif atau terjadi multikolinieritas, maka persamaan (3) dapat dimodifikasi dengan mengeluarkan salah satu faktor yang dianggap mengganggu atau menjadikan salah satu faktor independen dalam skala rasio. Misalnya, persamaan (2) diubah menjadi

δnVU = lnâ + α lnTK + lnεSA + lnεδ …………..……….. (γ) di mana MSA adalah rasio MS dan Anggota (MS/Ang)

3.2. Pengujian Asumsi: Multikolinieritas, Kelayakan, Homoskedasitas, dan Normalitas Untuk memenuhi criteria BLUES, model diuji dengan non-multikolinieritas, kelayakan, homoskedasitas, dan normalitas. Uji multikolinieritas adalah untuk mengetahui siginifikansi kolinieritas antar peubah bebas dengan VIF dan Tol (Tolerance). Jika VIF dan Tol mendekati nilai satu, tidak ada kolinieritas. Uji kelayakan model dilakukan dengan metode SDRESID (Studenitized Delete/Press Residual) dan ZPRED (Standardized Predicted Value). Uji homoskedasitas dilakukan dengan metode ZRESID (Regression

102 Standardized Residual) dan ZPRED. Uji normalitas dengan SRP (Standardized Residual Plots’) dan NPP (Normal Probability Plot).

3.3. Elastisitas dan Peramalan

Untuk mengetahui respon dan peramalan (forecasting) usaha dari perubahan faktor-faktor yang memengaruhinya adalah dengan elastisitas usaha. Angka elastisitas menunjukkan berapa persen perubahan volume usaha apabila setiap faktor yang memengaruhinya (TK, MS, ML) berubah sebesar 1 (satu) persen. Persamaannya adalah

…… ………….……… (4)

dimana Fi adalah faktor ke i dan adalah elastisitas volume usaha dari faktor ke i. Berdasarkan persamaan (4), maka α, , dan masing-masing adalah elastisitas usaha atas tenagakerja, rasio modal sendiri dan anggota, dan modal luar koperasi. Pertumbuhan bisnis koperasi dapat diramal dengan penjumlahan dari interaksi elastisitas dan perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi volume usaha. Persamaannya adalah (Solow, R. 1956; Barro, 1991; Aghion and Howitt, 1992; Elias, 1992; Barro and Sala-i-Martin. 1998;)

g

volush

= ∑

i

є

i

.g

i ………..…… (5)

dimana gvolush adalah pertumbuhan volume usaha (dalam %) dan gi adalah pertumbuhan faktor ke i (dalam %).

3.4. Skala Ekonomi dan Efisiensi Penggunaan Kapital Koperasi

Estimasi skala ekonomi salah satu keunggulan dari persamaan (4) karena secara langsung dapat diketahui dari penjumlahan pangkat dari masing-masing faktor yang mempengaruhi volume usaha. Estimasi skala ekonomi tersebut adalah

SE = ∑ i ………. (6)

dimana SE adalah skala ekonomi. Bila SE < 1, kondisinya adalah Decreasing Return to Scale (DRS). Bila SE = 1, kondisinya Constant Return to Scale (CRS) dan bila SE > 1, kondisi Increasing Return to Scale (IRS).

Efisiensi penggunaan kapital biasanya dinyatakan dalam ICOR (increamental capital output ratio) diketahui dari dengan persamaan (1), yakni (Ferguson and Gould, 1975; Doll and Orazem, 1984)

………..………. (7)

Kebalikan dari ICOR pada persamaan (7) tersebut adalah ΔQ/ΔK, yakni

………..………. (8)

dimana Q = VU, K adalah MSA atau ML, Q/K adalah produk rata-rata dari K. Dengan menggunakan persamaan (7) dan (8) maka

103 3.5. Metode

Jenis data yang dipakai dalam analisis ini adalah penampang (cross-section) dan sumber data sekunder yang diterbitkan oleh Kemenneg KUKM tahun 200915. Terdapat sebanyak 75 pengamatan yang terdiri dari 15 Koperasi Simpan Pinjam (KSP), 30 Koperasi Produsen (KK), 10 Koperasi Produsen (KP), 10 Koperasi Pemasaran (KM), dan 10 Koperasi Jasa (KJ). Jumlah pengamatan ini sangat memadai untuk suatu pendugaan (Lampiran 1). Asumsi dalam penciptaan usaha, kelima jenis koperasi adalah sama. Uji hipotesis adalah dengan uji-t dengan α = 5%. εetode estimasi dengan Ordinary Least Square (OLS) dan komputasi dengan “SPSS”, sebagai salah satu software yang penggunaannya sangat luas di kalangan akademisi, terutama untuk pengolahan cross-section data. Peubah dependen adalah volume usaha (VU) yang menunjukkan nilai transaksi koperasi terkait anggota atau kemampuan koperasi menciptakan bisnis. Sedangkan peubah-peubah independen (bebas) adalah tenagakerja (TK). rasio modal sendiri koperasi dan anggota (MSA), dan modal luar koperasi (ML).

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

Dalam dokumen bPyvIRMAo314zSAl Prosiding Seminar Pappiptek (Halaman 110-113)