• Tidak ada hasil yang ditemukan

dan Tatapan ke Depan

Dalam dokumen GN: Jurnal Gandrung Vol. 2 No. 1, Juni 2011 (Halaman 125-139)

Kalau Mbak Mai tidak keberatan, mari kita mulai dari latar belakang sosial Mbak.

Saya asli kelahiran Madura, anak keempat dari lima bersaudara. Bapak dan ibu saya wiraswasta, lebih tepatnya pedagang kelontong. Bapak dan ibu saya berasal dari latar belakang yang sangat berbeda. Sekalipun keluarga ibu masih terhitung masih keturunan Sultan Cendana, Dipoanyar, Bangkalan, namun ibu saya lebih terasa berasal dari keluarga santri. Kakek saya dari ibu adalah kiai pengasuh sebuah pondok pesantren. Sementara, bapak saya adalah keturunan bangsawan. Nama lengkap bapak saya dengan gelar kebangsawanannya adalah Raden Muhammad Munir, karena ayahnya adalah seorang Raden Panji.

Menurut saya, dua garis keturunan ini membawa konsekuensi yang sangat berbeda. Keluarga ibu cenderung ke pendidikan pesantren dengan mengabaikan pendidikan sekolahan. Sebaliknya, keluarga bapak sangat peduli dengan pendidikan formal.

Bapak saya yang seorang raden dengan sadar membuang jauh- jauh kebangsawanan dari keluarganya. Bapak saya adalah lulusan IAIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Saat beliau kuliah di Yogyakarta, beliau sangat terpengaruh oleh pemikiran modern Muhammadiyah yang sedang berada dalam puncak kejayaannya. Ketika bapak saya selesai kuliah, bapak saya berjanji bahwa tidak boleh ada sesuatu yang bersifat feodal di keluarganya. Semua anaknya tidak diberi gelar raden. Salah satu dari pengaruh Muhammadiyah itu adalah keengganannya untuk ikut tahlilan. Ketika diajak tahlilan, bapak saya selalu menolak. Memang, bapak saya saat itu justru melawan tradisi-tradisi orang NU. Ini sangat berbeda dengan keluarga dari ibu yang segala detail hidupnya sangat NU. Meskipun secara

ideologis sangat berbeda, tetapi tidak ada masalah yang serius antara bapak dan ibu saya.

Bapak saya memang identik dengan pemikiran Muhammadiyah, meskipun kemudian beliau mengkritisi pemikiran Muhammadiyah juga. Bapak saya sendiri pernah dicurigai oleh warga kampung di mana kami tinggal sebagai agen Muhammadiyah karena memang tidak pernah ikut tahlilan. Bagi bapak saya, untuk berdoa saja mengapa harus membuat acara yang mengeluarkan biaya banyak, bahkan sampai harus berhutang. Mereka yang mengadakan acara itu hutang di toko bapak saya, jadi beliau tahu itu. Orang yang hutang itu mengundang bapak untuk dijamu di acaranya. Jadi, ada semacam pemberontakan dalam batin bapak saya terhadap tradisi seperti ini.

Bapak saya yang berasal dari keturunan Raden Panji ini memiliki perhatian tinggi terhadap pendidikan. Sementara keluarga ibu saya, meski secara ekonomi lebih baik daripada keluarga bapak saya, justru pendidikannya paling tinggi hanya paklik, adik laki- laki ibu, Malik Madani.1 Bapak saya diterima dengan sangat baik oleh Pak Malik ini. Pak Malik Madani ini adalah paman saya dari ibu, tapi banyak yang menyangka beliau adalah kakak bapak saya.

Bagi keluarga ibu saya, pendidikan tidak terlalu penting karena berasal dari keluarga pesantren. Kakek saya dari ibu adalah pedagang tembakau. Anak-anaknya diberi toko tembakau satu- satu. Itulah mengapa sekali pun berasal dari keluarga mampu, ibu saya hanya tamatan sekolah dasar.

Lalu, siapa sih yang paling mempengaruhi latar belakang pendidikan Mbak Mai?

Keluarga dari bapaklah yang sangat mempengaruhi latar belakang pendidikan saya. Di keluarga saya, pembagian wilayah kerja itu sudah sangat kentara. Bapak saya mengurusi segala hal tentang pendidikan dan kehidupan sosial keluarga, sedang ibu saya mengurusi segala hal tentang kehidupan spiritual keluarga. Saya masih ingat, sejak saya sekolah dasar, bapak saya sangat memantau pendidikan anak-anaknya. Bapak senang membaca buku sehingga semenjak saya kecil, saya sudah mengenal majalah Tempo, Bobo, Hai, Kawanku, dll. Sejak kecil, saya dan kakak-kakak sudah tampak

1 Dr. K.H. Malik Madani, MA. adalah Katib Aam PBNU dan doktor hukum

perbedaan orientasi pendidikan dibanding dengan keluarga yang lain. Kualitas bacaan kami juga sudah berbeda. Saya, misalnya, sejak kecil sudah membaca majalah Hai, sekali pun itu bukan bacaan bagi anak-anak.

Mbak Maimunah sekolah di sekolah umum apa agama?

Mulai pagi sampai pukul satu siang, saya belajar di sekolah umum, tetapi oleh bapak, saya juga didaftarkan ke madrasah yang merupakan sekolah dasar agama, di mana jam masuknya antara pukul satu siang sampai sore hari. Jadi, sejak kecil saya juga terdidik dengan pendidikan agama. Saya diajari menulis Arab, seni baca al- Qur’an atau yang biasa disebut qira’ah. Lalu, setelah jam enam sore, saya mengaji. Saya baru bisa belajar untuk mata pelajaran sekolah di waktu subuh. Aktivitas seperti itu terjadi sampai saya kelas enam SD. Setelah lulus SD, saya bersekolah di SMP Negeri Bangkalan I, kemudian ke SMA Negeri Bangkalan I. Sewaktu masuk SMP, saya tidak lagi sekolah di madrasah karena setiap hari saya harus pulang- pergi ke sekolah dari rumah. Rumah saya di luar kota Bangkalan, tepatnya di Tanah Merah. Sekali pun demikian, mengaji masih terus berjalan karena dilakukan di malam hari. Di dalam pendidikan mengaji saya itu, saya diajari tentang apa itu perempuan, bagaimana menjadi perempuan yang baik, etika kehidupan sosial, dll. Pada saat ngaji itulah saya mendapatkan pengetahuan-pengetahuan dasar Islam. Selepas dari SMA, saya melanjutkan pendidikan ke UGM mengambil sastra Perancis, kemudian S2 ilmu sastra di UI. Selepas UI, saya kuliah S2 lagi di University of Sydney, Australia. Saya tertarik dengan Mbak Mai karena dengan latar belakang keluarga yang sangat agamis, Mbak Mai tertarik pada isu-isu

queer sebagai concern akademik.

Saya melihat queer itu bukan sebagai sesuatu yang terlarang. Saya ingin mengawali dengan pengalaman saya tentang sesuatu yang dianggap pinggir, non-mainstream, karena queer itu kan non- mainstream. Sebagai mahasiswa sastra Perancis, di UGM, saya meneliti sastra Maroko saat semua skripsi mahasiswa di fakultas saya hampir selalu mengacu kepada sastra-sastra Perancis. Sementara, sastra yang ditulis dalam bahasa Perancis di negara- negara Islam bekas jajahan Perancis, atau yang kita kenal dengan sastra maghreb, tidak pernah dibahas oleh mahasiswa lainnya. Padahal, para pengarang itu menulis karyanya dalam bahasa

Perancis. Saya kemudian menghubungi Kedutaan Besar Maroko di Jakarta. Saya mendapatkan support data yang cukup untuk menulis skripsi tentang sastra Maroko. Langkah saya itu kemudian menjadi awal bagi mahasiswa lain untuk menulis skripsi tentang sastra maghreb, sastra-sastra dari Tunisia, Aljazair, dll.

Saya menulis skripsi tentang sastra karya Tahar Ben Jelloun. Kebetulan, beberapa waktu lalu, sang penulis datang ke Indonesia. Novelnya berjudul Malam Keramat. Dia mengkritik mengapa perempuan mendapatkan bagian waris lebih kecil daripada laki- laki. Di dalamnya, dikisahkan seorang bapak yang menjadikan anak perempuannya sebagai laki-laki agar harta warisannya tidak jatuh ke tangan pamannya. Novel ini mendapatkan penghargaan di Perancis.

Dari sini semakin menyadarkan saya ada sesuatu yang menantang pada apa yang berada di pinggiran. Ada sesuatu yang khas dalam sastra-sastra Islam dengan background dualisme budaya Maroko. Maroko dibentuk dengan dualisme kebudayaannya, yang pertama adalah budaya Islam dan kedua adalah budaya Prancis.

Lalu, ketika saya di UI, kembali saya tertarik pada sesuatu yang tidak dihiraukan orang. Di UI, saya menulis tesis tentang sastra Melayu yang ditulis oleh orang-orang Tionghoa, di bawah bimbingan Ibu Melani. Saya menemukan ada tiga macam penulis sastra Melayu: penulis Belanda, penulis pribumi, dan penulis peranakan. Penulis yang sangat pro terhadap pribumi itu adalah Herman Cromer, penulis Belanda. Penulis pribumi dan peranakan justru enggan menulis tentang keadaan pribumi. Dari situ saya menarik kesimpulan bahwa ras pribumi belum tentu mau melakukan pembelaan terhadap dirinya sendiri. Justru orang lain, penulis Belanda, yang menuliskan segala bentuk penghisapan dan penindasan yang berdampak buruk bagi pribumi.

Ketika ke Sydney, saya mengambil studi tentang fi lm. Awal- nya, saya mau melanjutkan tema tesis saya di UI itu. Tetapi, profe- sor saya di sana berkata bahwa tema tesis saya itu sedang ditulis oleh Ariel Heryanto. Ariel sedang menulis tentang fi lm- lm yang saya siapkan untuk tesis saya di Sydney. Saya ditanya oleh profesor saya tentang fi lm apa saja yang saya bawa, saya menjawab bahwa saya juga membawa fi lm- lm queer Indonesia. Itulah sesungguhnya titik awal saya mulai serius melakukan studi tentang queer.

Bisa nggak Mbak Mai menceritakan tesis Mbak di University of Sydney tentang fi lm queer Indonesia?

Dulu kan fi lm yang mengangkat homoseksualitas hampir tidak ada. Ada sih, seperti Istana Kecantikan atau Titian Rambut Dibelah Tujuh, tapi fi lm- lm itu memotret homoseksualitas dengan sangat samar. Yang paling terlihat hanya di fi lm Istana Kecantikan, tetapi fi lm itu sangat dipenuhi dengan homofobia. Tapi setelah Soeharto lengser, muncul fi lm Arisan di mana homoseksualitas diangkat dengan sangat bagus. Hebatnya lagi, fi lm itu booming. Sejak itu, muncul fi lm- lm dengan tema yang sama.

Menurut Mbak Mai, apa sih yang menyebabkan topik tentang queer

muncul begitu pesat di ruang-ruang publik pasca-Orde Baru? Menurut saya, itu bukan hanya karena urusan pergantian rezim saja. Ada fenomena yang lebih mendalam lagi yang menjadi faktor mengapa queer begitu pesat tumbuh di ruang publik setelah rezim Orde Baru. Pasca-Orde Baru, orang-orang lebih berani memunculkan wacana-wacana baru di ruang publik. Ditambah lagi, banyak anak muda yang baru pulang dari luar negeri membawa wacana-wacana baru dan berani menampilkannya. Sebetulnya, banyak faktor yang mempengaruhi hal tersebut. Ada keberanian yang muncul yang menggugat hal-hal yang selama tiga puluh tahun dilarang dan ditekan oleh rezim. Begitu rezim runtuh, suara-suara perlawanan itu muncul. Saya rasa, keberanian itulah kuncinya. Banyak kalangan yang melihat adanya keterkaitan yang erat antara orientasi seksual dan identitas gender seseorang dengan identitas dan hak-hak kewarganegaraan. Menurut Mbak Mai, adakah fenomena booming isu queer di wilayah publik pasca-Orde Baru terkait dengan perlawanan masyarakat untuk memperoleh hak- haknya secara penuh sebagai warga negara?

Saya tidak mengamati secara spesifi k tentang masalah ini. Tapi isu seksualitas tetap menjadi isu sensitif terkait dengan penilaian baik-buruk seseorang dalam konteks keberadaannya sebagai warga negara. Misalnya, sempat beredar sms gelap yang menyatakan bahwa Presiden SBY adalah seorang gay. Tuduhan dalam sms tersebut membuat SBY marah. Hal ini menunjukkan bahwa orientasi seksual nonhetero adalah sebuah aib menyangkut kewarganegaraan seseorang, apalagi jika hal itu menyangkut seorang warga negara yang dianggap sangat terhormat seperti

seorang presiden.

Menurut saya, berakhirnya rezim Orde Baru melahirkan dua hal yang saling berlawanan. Di satu sisi, mulai terbukanya isu- isu queer di ruang publik, tetapi di sisi lain ada berkembangnya kelompok-kelompok ekstrim, misalnya, di Aceh ada Perda Syariah, di mana homoseksualitas dianggap sebagai kriminal, lalu pembubaran konferensi ILGA (International Lesbian, Gay and Trans Association) Asia di Surabaya,2 dsb. Jadi, ada gerakan yang semakin terbuka, namun ada juga lembaga sosial atau ormas yang semakin ekstrim, di mana dua arus ini bergerak berlawanan. Satu kelompok mengarah kepada isu-isu mutakhir yang lebih terbuka terhadap hak-hak LGBTIQ (lesbian, gay, biseksual, transgender, interseks, dan queer), sedangkan kelompok lain sangat resisten terhadap isu- isu tersebut.

Pengalaman saya pribadi, saya merasa semakin bebas bicara soal queer. Mahasiswa menerima hal itu. Setidaknya di dunia akademis, situasinya menjadi lebih terbuka.

Lepas dari ketertarikan akademik, apakah Mbak Mai memiliki pemaknaan tertentu atas queer?

Saya tidak tahu apakah karena memang sejak S1 studi saya sudah mengambil semangat non-mainstream, tetapi bagi saya, orang mau menjadi apapun itu terserah yang menjalani. Mau menjadi gay ataukah lesbian, saya rasa itu terserah mereka. Teman-teman saya protes kepada saya, mengapa harus tema queer yang diangkat. Menurut saya, tema-tema queer semestinya memiliki kesempatan dan tempat yang sama untuk diangkat dalam studi sebagaimana tema-tema mainstream lainnya.

Di samping itu, menurut saya, nasib kelompok homoseks sangat terabaikan jika tidak bisa dikatakan disingkirkan, sejak masa Orde Baru. Saya tidak tahu apakah ini disebut sebagai keberpihakan

2 Pada 26-27, ILGA Asia menggelar konferensi. Acara ini dilaksanakan di hotel Oval Surabaya. Awalnya, acara konferensi ini akan diselenggarakan di hotel Mercure, tapi kemudian berpindah ke hotel Oval karena mendapatkan ancaman dari kelompok Islam radikal yang menamakan dirinya FUI (Forum Umat Islam) Jawa Timur. Akhirnya, acara konferensi tidak jadi dilaksanakan karena pada hari H, FUI dan beberapa kelompok Islam radikal lain menyerang panitia dan peserta di lokasi konferensi. Mereka meminta agar acara dibubarkan. Aparat keamanan yang ada di lokasi kejadian membiarkan kekerasan berlangsung dan tidak mengambil tindakan untuk mengamankan panitia dan peserta dari serangan.

atau apa, mungkin juga tidak. Saya berangkat dari keprihatinan mengapa topik ini jarang dibahas. Saya pernah membuat makalah di UI tentang representesasi homoseksual dalam novel Herlinatiens yang berkisah tentang kehidupan seorang lesbian.3 Dosen saya di UI bilang, mengapa makalah ini tidak dijadikan sebagai tesis. Tesis tentang lesbianisme itu belum ada. Tetapi, waktu itu, saya lebih tertarik untuk membahas tentang sastra Melayu-Tionghoa. Jadi, pada awalnya saya tidak berekspektasi jika topik ini perlu dibela atau diperjuangkan. Ketika kemudian saya mengangkat tema queer, pada awalnya karena saya melihat bahwa secara akademik topik ini tidak pernah dibahas.

Apakah concern studi Mbak Mai tentang queer ini mempunyai makna tersendiri bagi Mbak Mai pribadi?

Mungkin iya. Misalnya, saya melakukan penelitian di Papua. Banyak orang bertanya, mengapa orang berjilbab mau bergaul dengan waria dan homoseks di Papua. Saya sebenarnya ingin menyampaikan pesan kepada orang-orang Islam yang masih homofobia bahwa tidak masalah sebenarnya orang Islam yang berjilbab mengkaji sesuatu yang oleh umum dianggap tabu. Tabu ini kan sebetulnya queer. Bagi saya sendiri, itu adalah proses pembelajaran. Saya sekarang tertarik dengan “swinger”, orang yang suka tukar-menukar pasangan. Coba kita sekarang searching di Google dan ketik keyword “pasutri,” yang akan muncul adalah nama- nama pasangan suami-istri yang ingin menukarkan pasangannya. Apa yang terjadi dengan masyarakat kita saat ini? Bagaimana mereka memahami seks yang bersih? Itu kan menurut saya sebuah gejala yang saat ini secara luas bisa diakses dengan mudah. Perlu diketahui bahwa mereka itu adalah orang-orang kelas menengah ke atas. Maksud saya, dalam masyarakat kita ini, banyak hal yang kita tidak tahu. Ada seorang Muslimah taat yang tertular HIV oleh suaminya sendiri, padahal karakter suaminya ini tertutup seperti orang-orang Muslim fundamentalis itu, berjenggot, dengan jidat berwarna hitam karena sering shalat, menggunakan baju gamis, dan celana cingkrang. Ini membuka pemikiran saya bahwa orang yang tampak alim itu tidak selalu memiliki kehidupan seksual

3 Herlinatiens (Herlina Tien Suhesti) adalah seorang sastrawan kelahiran Ngawi, 26 April 1982. Novel pertamanya adalah Garis Tepi Seorang Lesbian. Novel ini menjadi bestseller dan mengangkat namanya dalam jajaran sastrawan di tanah air.

yang bersih.

Saya sebenarnya banyak dikritik mengapa jilbaban kok pene- litiannya seperti itu. Bagi saya, mau jilbaban atau tidak, yang harus dinilai adalah perbuatannya.

Semangat teori queer itu seperti apa sih, Mbak?

Teori queer itu sebenarnya merefl eksi gay and lesbian studies. Gay and lesbian studies itu mengacu pada teori strukturalisme. Kemudian, muncul teori postmodernisme dengan tokoh- tokohnya seperti Derrida dan Foucault. Nah, sejak munculnya teori postmodern ini, muncul pula teori yang bernama queer. Gay and lesbian studies itu dipelopori oleh peristiwa Stonewall4 yang memunculkan Gay and Lesbian Movement. Di dalam konsep Gay and Lesbian Movement ini, belum muncul istilah waria. Hanya ada dua jenis saja, yaitu gay dan lesbian. Lalu, pertanyaannya adalah bagaimana posisi waria, interseks, dan yang lain-lain? Tidak ada jawaban di situ. Jika kita melihat fi lm Kinsey, di situ kan hanya dijelaskan tentang homoseksual eksklusif, heteroseksual iksklusif, dan posisi in between. Sementara, waria dan interseks tidak ada.

Nah, teori queer itu dimunculkan untuk merevisi konsep itu. Gay dan lesbian oleh banyak kalangan dianggap sebagai gaya hidup Barat. Konsep ini semata-mata merujuk ke Barat sehingga yang lokal, seperti waria, tidak mendapatkan tempat. Mereka tidak pernah jelas kotaknya dalam gay and lesbian studies. Teori queer itu mencoba mengakomodasi hal tersebut. Misalnya, di Papua New Guinea ada ritus inisiasi sperma dari orang-orang yang sudah tua atau orang-orang yang sudah dewasa.5 Ini kan tidak ada dalam gay and lesbian studies. Jika gay studies masih terjebak pada oposisi biner homo dan hetero saja, tetapi queer menjadi sebuah payung dari apapun yang tidak masuk kategori normal, di mana normal

4 Stonewall adalah peristiwa demonstrasi kelompok homoseks melawan

razia polisi di Stonewall Inn, di wilayah Greenwich, berdekatan dengan New York City. Peristiwa yang terjadi pada 28 Juni 1969 ini seringkali dirujuk sebagai titik awal gerakan komunitas homoseks melawan sistem pemerintahan yang memberangus minoritas seksual. Peristiwa ini menandai awal dari apa yang disebut dengan gay rights movement di Amerika Serikat dan di dunia.

5 Pada beberapa suku di Papua dan New Guinea terdapat ritus inisiasi yang melibatkan hubungan genito-oral dan genito-anal antara remaja dan laki-laki dewasa. Alasan dibalik ritus ini adalah dalam rangka melengkapi dualisme kosmologis atau sarana untuk membantu remaja laki-laki mencapai maskulinitasnya.

ini adalah mainstream. Saya menjadi queer karena saya tidak normal menurut ukuran mainstream, karena sebagai perempuan yang sudah seusia ini, saya belum kawin. Queer itu menjadi sangat luas daya cakupnya. Queer juga bisa disematkan pada janda karena seorang janda dianggap tidak bisa meng-confi rm atau memenuhi heterosexual expectation. Ada norma-norma yang harus dipenuhi menurut masyarakat. Ketika kita tidak dapat memenuhi norma- norma tuntutan masyarakat tersebut, kita bisa dikategorikan sebagai queer.

Memang, ada yang mengkritik bahwa queer itu sangat naif karena rakus. Semua kategori yang tidak normal bisa masuk dalam queer. Karena sangat cair seperti itu, banyak yang menganggap bahwa queer itu tidak memiliki landasan yang cukup kokoh. Banyak juga kalangan feminis yang curiga terhadap queer ini. Banyak kalangan feminis yang melihat teori queer menghancurkan perjuangan perempuan. Kaum feminis merasa sudah berjuang untuk mengangkat posisi perempuan di depan laki-laki. Perjuangan itu sangat panjang. Tiba-tiba queer hadir dan menghapus semangat perjuangan kaum feminis yang dibangun di atas konsep hubungan oposisional antara laki-laki dan perempuan, di mana yang pertama menindas yang terakhir. Queer meleburkan itu semua karena ia bisa dipakai oleh perempuan, laki-laki, waria, atau siapapun. Queer dianggap sebagai netral gender. Inilah yang dianggap kalangan feminis bisa membahayakan perjuangan perempuan yang dibangun di atas konsep gender. Tapi menurut saya, justru itu kehebatan queer.

Begitu kita mengangkat waria sebagai contoh dalam menggambar- kan teori queer sebagai koreksi atas gay and lesbian studies, kita sesungguhnya mulai memasukkan isu gender dalam studi-studi seksualitas. Sejauh mana sih waria sebagai kategori ini mampu menjembatani studi-studi tentang gender dengan seksualitas?

Waria itu menarik memang. Pak Dédé 6 selalu mengingatkan

6 Dédé Oetomo adalah salah seorang pendiri dan aktivis Lambda Indonesia (1982), organisasi gay pertama di Indonesia. Dia juga pendiri dan aktivis GAYa NUSANTARA (1987), organisasi gay pelanjut organisasi yang pertama. Dia diakui sebagai tokoh utama dalam gerakan gay di Indonesia. Tahun 1998, dia mendapatkan

Felipa de Souza Award dari International Gay and Lesbian Human Rights Commission, dan pada 2001, dia mendapat Utopia Award for Pioneering Gay Work in Asia. Saat ini, di samping menjadi Ketua Dewan Pembina pada Yayasan GAYa NUSANTARA,

kepada saya bahwa waria itu sebenarnya adalah identitas gender. Tetapi jika dalam konteks HIV, waria tidak dibahas dalam situasi seperti itu. Dalam konteks HIV, waria tidak dibahas dalam perspektif identitas gendernya, tapi perilaku seksualnya yang masuk dalam kotak LSL (laki-laki berhubungan seks dengan laki- laki) karena tujuan pembahasannya adalah kesehatan. Itu semua tergantung pada sudut pandang kita dalam membahas waria. Jika tujuannya adalah untuk kesehatan, maka yang harus dinilai adalah perilaku seksual dari waria itu. Jadi, membicarakan waria dengan

Dalam dokumen GN: Jurnal Gandrung Vol. 2 No. 1, Juni 2011 (Halaman 125-139)

Dokumen terkait