• Tidak ada hasil yang ditemukan

Iskandar P Nugraha dan Maimunah Munir

Dalam dokumen GN: Jurnal Gandrung Vol. 2 No. 1, Juni 2011 (Halaman 99-125)

Abstrak: Di atas segala ketertutupan aktivitas seksual, stigma, dan diskriminasi, dinamika kehidupan seksual kelompok LSL dalam konteks perkotaan/urban Jayapura yang sedang berubah dengan cepat, baik mereka dari latar belakang lokal maupun pendatang, adalah cukup dinamis. Hal ini antara lain ditunjukkan dengan aspek-aspek seksualitas termasuk terbentuknya jaringan seksual. Kuatnya heteroseksualisme telah menyebabkan identitas seksual tidak dikenal. Praktek seksual yang cair dan lintas gender karena kehidupan seksual yang ganda berpotensi pada perilaku seksual berisiko dan dapat berkontribusi bagi epidemi transmisi HIV di Papua. Aspek urban, mobilitas, dan migrasi, ditambah lagi den- gan diperkenalkannya sarana teknologi komunikasi modern telah memberikan suatu cermin identitas dan perilaku-perilaku seksual yang mengarah pada pembentukan kesadaran identitas seksual le- wat pembentukan komunitas-komunitas di kalangan ini.

Kata kunci: LSL, identitas seksual, jaringan seksual, heteroseksual- isme, transmisi HIV/AIDS.

Pengantar

Seting perkotaan yang sedang berubah dengan cepat karena berbagai faktor modernisasi, ditambah dengan diperkenalkannya teknologi komunikasi, tampaknya banyak pengaruhnya bagi pe- rubahan aspek-aspek masyarakat, termasuk di antaranya pada di- namika kehidupan seksual, identitas maupun jaringan seksual pada kelompok-kelompok tertentu. Perkembangan Kota Jayapura, ibu- kota propinsi wilayah paling timur Indonesia, sebagai kota pelabu- han, pusat pemerintahan dan pendidikan terpenting di Papua, be- gitu cepat dengan ditandai oleh makin heterogennya penduduk

akibat tingginya laju migrasi, baik dari dalam maupun dari luar Papua. Kenyataan ini makin menjadi-jadi sejak diberlakukannya status Otonomi Khusus Papua tahun 2001, di mana di satu pihak kota ini makin mengarah pada karakter masyarakat urban, seperti kota-kota urban lainnya di Indonesia, dan di pihak lain memberi- kan konsekuensi-konsekuensi sosial lebih jauh dibanding situasi kota ini dua dekade sebelumnya, ketika masih menjadi daerah yang terisolasi di Indonesia.

Tingkat migrasi yang tinggi dan masuknya para pekerja dari luar berpadu dengan berdirinya pusat-pusat pendidikan. Kita juga menyaksikan perkembangan cepat proses perubahaan identitas ke- Melanesiaan Papua yang kian ke arah peleburan ke dalam akultur- asi budaya yang berkembang di bagian barat Indonesia. Pengala- man dan kehidupan di perkotaan yang seperti ini, bagi masyarakat lokal Papua, memberikan mereka suatu komparasi yang berbeda dengan norma-norma komunitas tradisional, di mana kesempa- tan-kesempatan seksual di kota lebih dapat dimungkinkan berkat kontak-kontak yang baru dengan latar budaya yang baru pula. Pe- nelitian-penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa melalui pengalaman dari migran, suatu gaya atau model seksualitas dapat dibawa masuk ke suatu tempat. Dalam hal ini, konteks dan seting perkotaan modern di kota Jayapura telah memungkinkan kelom- pok laki-laki, apakah heteroseksual, LSL, atau waria, memiliki ke- mungkinan yang lebih besar dalam menemukan pasangan seksual daripada dalam seting rural/pedesaan. Budaya pada masyarakat yang masih amat tertutup membicarakan seksualitas membuat kesempatan-kesempatan di kota besar lebih terbuka. Karakter kota yang makin heterogen dan tingginya mobilitas penduduknya, dita- mbah dengan diperkenalkannya medium teknologi komunikasi, tampaknya telah ikut memberi arti bagi dinamika dan perubahan- perubahan pada perilaku seksual kelompok laki-laki perkotaan, di mana di dalamnya termasuk kelompok LSL (Laki-laki seks dengan laki-laki).

Disusun berdasarkan hasil wawancara terhadap responden dari kelompok LSL yang memiliki mobilitas tinggi dalam seting perkotaan kota Jayapura, tulisan ini mencoba memaparkan temuan mengenai aspek-aspek dalam kehidupan seksualitas mereka, me- nyangkut persoalan identitas seksual,1 perilaku-perilaku seksual

beserta segala perubahan-perubahannya seiring dengan perubahan cepat modernisasi kota ini. Apakah modernisasi, globalisasi, dan persinggungan Jayapura dengan dunia luar telah menolong kelom- pok ini bagi upaya-upaya menegosiasikan seksualitas mereka dan bagi pencarian kesadaran identitas seksual sebagai homoseksual adalah pertanyaan mendasar dalam studi ini.. Proses Indonesian- isasi kota Jayapura, perubahan dramatis berkat otonomi daerah serta akses internet dalam konteks globalisasi, tampaknya harus di- lihat sebagai faktor-faktor penting yang mengubah dinamika tadi, mulai dari kemunculan keinginan-keinginan pribadi, kebutuhan mencari kesenangan dan identitas seksual di sebagian masyarakat- nya. Temuan ini kiranya dapat digunakan untuk dapat mengenali aspek apa saja yang bermanfaat dalam upaya pengidentifi kasian perilaku-perilaku seksual berisiko mereka guna pencegahan IMS dan epidemi HIV yang kini telah menjadi persoalan yang serius di Papua.

Homoseksualitas & Homo Erotik di Papua

Sejumlah studi antropologi telah mengidentifi kasi bahwa praktik-praktik homoseksualitas dan homo erotik telah lama dikenal dalam konteks budaya tradisional Papua, yakni sebagai bagian dari budaya Melanesia. Diketahui bahwa sampai dengan tahun 1980-an, praktek homoseksualitas dikenal dalam ritual atau upacara-upacara adat inisiasi pada beberapa suku.2 Pada suku-suku tertentu seperti masyarakat suku Dani di daerah pegunungan, juga ada kebiasaan untuk menyatukan laki-laki yang telah beranjak dewasa tinggal pada satu rumah Honai yang ditempati oleh remaja-remaja laki lainnya. Beberapa responden mengakui bahwa praktek seksualitas pertama dengan laki-laki lain bisa terjadi saat tinggal di Honai ini.

Konsumsi miras juga telah menjadi kebiasaan pada masyarakat lokal sebelum dan selama melakukan hubungan seks. Dari beberapa cerita yang dikumpulkan, diketahui bahwa laki-laki lokal atau pendatang yang menikah dan menyukai laki-laki lain, akan merasa aman bila mereka melakukan seks minum alkohol secara bersama-

individu berpikir mengenai dirinya dalam konteks ketertarikan seksual npada subyek yang sama atau bagian dari kelompok itu, berdasarkan pengalaman sendiri, pandangan maupun reaksinya. Southeast Asian Consortium on Gender, Sexuality and Health: 2004.

2 Lihat Herdt (1984). Untuk contoh kasus-kasus beberapa suku, lihat misalnya, Dumatubun (2003); Morin (2001).

sama terlebih dahulu. Namun demikian, dalam masyarakat Papua modern, homoseksualitas, seperti halnya di tempat-tempat lainnya di Indonesia, telah dilihat sebagai sesuatu yang abnormal, tabu, dan melawan kesusilaan. Oleh sebab itu, keberadaan mereka tertutup dan sulit dilacak dalam seting perkotaan.

Terkecuali studi khusus mengenai laki-laki, waria dan pasan- gannya, sangat sedikit bahan yang telah dihasilkan mengenai di- namika seksualitas di kalangan LSL di perkotaan Papua, terutama yang secara spesifi k mengangkat kota Jayapura.3 Literatur akade- mik dan riset mengenai kelompok LSL, khususnya di Papua perko- taan masih belum banyak dilakukan sehingga menimbulkan kesul- itan untuk mengetahui, misalnya, siapa sebenarnya mereka, berapa jumlah mereka sesungguhnya, bagaimana jaringan sosial dan sek- sual mereka, dan bagaimana mereka membangun jaringannya. Lebih jauh lagi, bagaimana mereka merespon situasi epidemi HIV dan berapa tingkat prevalensi HIV di kalangan ini; apakah mer- eka dapat disebut sebagai satu penyumbang prevalensi di kalangan masyarakat umum? Semua aspek ini belum banyak diketahui dan menginsafk an kita bahwa area LSL masih terbuka untuk penelitian lanjutan yang mendalam.

Sebuah studi pendahuluan mengenai kelompok LSL di Jay- apura memperlihatkan sekilas mengenai dinamika kehidupan seksual kelompok ini. Walaupun mereka masih amat tertutup, diketahui jaringan seksual LSL yang cukup dinamis. Meskipun de- mikian, jaringan itu masih tumpang-tindih dengan jaringan seksual kelompok lain (laki-laki, perempuan, dan waria), karena diketahui mereka juga banyak yang berhubungan dengan perempuan atau waria. Keberadaan mereka sulit diketahui karena kebanyakan juga tidak mengidentifi kasi diri sebagai gay atau homoseksual. Seperti tampak dari beberapa pengakuan responden, mereka melakukan hubungan seks dengan perempuan, memiliki pacar perempuan, menikah atau berencana menikah, dan pada saat yang sama, mem- bina hubungan atau melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain. Seks anal dikenal dan dilakukan baik dengan perempuan atau laki-laki dengan sebutan seks “panta lubang”.

Pengkonsumsian alkohol juga menjadi satu aspek untuk me- dium jaringan seksual. Mengkonsumsi alkohol diyakini mening-

3 Penelitian yang cukup luas untuk waria , lihat misalnya Butt dan Morin (2007); Djoht (2003).

katkan keberanian/rasa percaya diri sebelum melakukan hubungan seks. Adalah umum ditemui pendapat bahwa seks anal tanpa pro- teksi tidak memiliki risiko dibandingkan dengan seks vaginal dan dilakukan dengan perempuan. Semua ini adalah temuan menarik yang berhubungan dengan perilaku seksual berisiko yang tidak sedikit pengaruhnya dalam menyumbangkan laju transmisi yang “lintas gender” di Papua. Diketahuinya bahwa ada inkonsistensi dalam penggunaan kondom telah menyebabkan pemahaman atas kondom dan persepsi mereka begitu penting.4

Penelitian ini

Didasarkan pada dasar tersebut dan sebagai bagian dari riset yang didanai oleh KPAN/HCPI berjudul Perilaku Seksual Beresiko dan Strategi Pencegahan IMS dan HIV di Kalangan Laki-laki dengan Mobili- tas Tinggi di Kota Jayapura,5 dilakukan penelitian untuk upaya-upa- ya mengidentifi kasi perilaku-perilaku seksual beresiko di Jayapura, termasuk pada kelompok LSL yang memiliki mobilitas tinggi, di samping kelompok laki-laki heterosek, waria dan pasangannya.

Hasil STHP 2006 telah memberikan pengetahuan umum men- genai praktik seksual yang tidak aman, jumlah pasangan seksual, awal memulai hubungan seks, tingginya IMS yang tidak diobati dan tingginya prevalensi HIV di kalangan laki-laki Papua. Temuan yang baru ini yang mengkhususkan pada kota Jayapura adalah un- tuk melengkapi hasil tersebut, serta untuk memberi masukan yang lebih dalam untuk intervensi program penanggulangan epidemi HIV di Papua yang menyangkut laki-laki lokal di Papua.

Riset selama bulan Agustus-September 2010 ini memberi pengetahuan yang lebih dalam mengenai kelompok laki-laki se- cara umum. Sebagai bagian dari temuan di lapangan, artikel ini mendiskusikan dinamika seksual kelompok LSL. Tulisan ini lebih akan memaparkan isu-isu seputar identitas dan jaringan seksual, baik dari penduduk lokal (etnis Papua serta lahir dan tumbuh di sana) maupun pendatang. Meskipun terstigma secara sosial atau diperlakukan diskriminatif serta tertutup terhadap keluarga, te- man dan kolega kerja, kelompok LSL perkotaan tetap eksis, bahkan mampu menegosiasikan seksualitas mereka.

Ketika riset ini dilakukan, telah ada pendekatan yang dilaku-

4 Lihat Nugraha (2007).

kan organisasi PKBI dan BKKBN bagi kelompok LSL di Jayapura dengan mengadakan pertemuan-pertemuan di kalangan kelompok ini. Namun harus diakui bahwa organisasi formal sosial berbasis komunitas gay dan laki-laki homoseksual seperti halnya GAYa NU- SANTARA, yang dapat menjadi penghubung bagi pintu masuk ke dalam komunitas ini belum ada di Jayapura. Oleh karenanya, ke- banyakan responden yang direkrut untuk penelitian ini awalnya diperoleh lewat kontak-kontak pertemuan dari chatt ing online, yang mulai terbina sejak 2008 dan kemudian dilanjutkan/di-update sebelum penelitian ini dilaksanakan.

Di antara yang bersedia bertemu tatap muka dengan pe- wawancara dan memenuhi kriteria penelitian ditawari kesediaan- nya untuk diwawancarai dan diminta merekomendasikan respon- den lain pada jaringannya. Kriteria responden adalah mereka yang memiliki ketertarikan secara seksual dengan laki-laki dan mengaku telah memiliki pengalaman seksual dengan laki-laki sebelumnya. Sejumlah 15 orang responden terlibat dalam penelitian ini dengan renician sebagai berikut: Dari berbagai latar belakang etnis (10 lokal Papua dan 5 pendatang), tingkat pendidikan (lulus SMA hingga perguruan tinggi), dan latar belakang profesi (mahasiswa, kary- awan, profesional/swasta, PNS, kepolisian) dan golongan umur (antara 18 sampai 43 tahun). Status perkawinan responden pun be- ragam, ada sebagian yang menikah dan memiliki anak. Di antara mereka pun ada yang memiliki pacar perempuan, pacar laki-laki dan perempuan serta melakukan hubungan seks pada saat yang bersamaan. Bagi yang belum menikah, kebanyakan mereka menya- takan berencana menikah dan memiliki anak.

Pemilihan responden lokal dan pendatang ini diharapkan da- pat memberi nuansa perbedaan interpretasi terhadap seksualitas dalam konteks perkotaan. Pandangan dan pengalaman seksual di Jayapura maupun di tempat lain jelas berbeda, apalagi antara kel- ompok lokal dengan pendatang yang baru bermukim di Jayapura. Untuk mendapatkan data deskriptif-naratif sebanyak mungkin, tidak ada struktur pertanyaan yang diterapkan. Proses wawancara lebih sebagai penceritaan bebas, dilakukan secara rahasia, anoni- mus dan berdasarkan persetujuan dari mereka.

Wawancara dilakukan di ruangan tertutup di hotel yang dis- epakati dan/atau di atas kendaraan sewaan yang berjalan, demi menjaga kerahasiaan dan keterbukaan, tanpa merasa diawasi. Un- tuk memperoleh gambaran siapa mereka, sebelum mereka mulai

bercerita, mereka diminta memberi isian demografi tentang siapa mereka, identitas seksualitas mereka, pengetahuan mengenai IMS/ HIV, tes darah, dan pengobatan.

Penceritaaan riwayat seksualitas pribadi setiap responden di- arahkan pada negosiasi identitas yang dicerminkan lewat praktik- praktik seksual (termasuk yang tidak aman dan berisiko) seraya menjelaskan alasan-alasan bagi ketertarikan serta perasaan yang mereka berikan kepada laki-laki lain sebagaimana yang mereka in- terpretasikan. Di samping itu, dilihat pula seberapa jauh mereka menggunakan jaringan seksual baik yang tradisional maupun yang modern (internet) untuk mendapatkan pasangan seks berpengaruh terhadap pembentukan identitas seksual, baik individual maupun kolektif.6 Mereka diminta mengungkapkan semua aspek tersebut selengkap mungkin dalam kerangka riwayat kehidupan seksual mereka selama ini. Untuk melengkapi hasil tersebut, dilakukan pengamatan terhadap jaringan seksual mereka, baik yang tradis- ional maupun lewat jaringan sosial media modern (online/inter- net).

Identitas Seksual

Herdt (1997) mendefi nisikan identitas seksual sebagai cermi- nan konstruksi sosial dari individu-individu yang telah dipengaruhi dan dipertajam oleh faktor-faktor budaya serta dampak psikologi yang diakibatkannya. Crossley (2005) menganggap bahwa identitas seksual selalu relatif karena kecenderungan kita mendefi niskan itu terhadap orang lain. Identitas seksual dinegosiasikan secara relatif dalam konteks tertentu oleh si pelaku sosial, yakni bagaimana mer- espon keberbedaan (Morrish & Sauntson 2007). Oleh sebab itu, formasi hubungan seksuali dapat saja diekspresikan sebagai suatu orientasi seksual yang diinginan tanpa harus merekonstruksi hidup mereka di seputar identitas itu (Harrison 2000).

Lembaran demografi yang diisi responden disiapkan agar re- sponden mendeskripsikan sendiri tentang apa identitas seksualitas mereka sebelum wawancara dimulai. Ternyata, hanya terdapat 4 orang responden yang langsung mengidentifi kasi diri sebagai ho- moseksual dan semuanya berlatar belakang pendatang. Responden yang lainnya (sebanyak 11 orang) menuliskan diri mereka sebagai heteroseksual, biseksual, atau menuliskan kedua identitas itu ber-

sama-sama. Pengidentifi kasian diri terhadap identitas seksualitas ini jelas menunjukkan bahwa pada umumnya mereka tidak men- genal penggunaan pelabelan diri sebagai homoseks. Ini juga bisa menunjukkan praktik seksualitas mereka yang cair dan fl eksibel sebagaimana terlihat pada deskripsi naratif mereka.

Anggapan menarik yang muncul dari sebagian besar mereka adalah bahwa laki-laki homoseks yang berpenampilan normal sep- erti mereka, tidak bisa seratus persen menjadi homoseks, kecuali kalau mereka menjadi waria. Pernyataan ini memberi gambaran bahwa identitas seksual masih terkait dengan penampakan dan peran gender sesuai fi sik. Seks yang dilakukan dengan laki-laki lain adalah bentuk kesenangan semata.

Sebagian responden mengaku hanya melakukan seks dengan laki-laki lain ketika berada di daerah lain atau ketika bepergian. Di antara mereka ada yang hanya melakukan seks tersebut den- gan orang yang sudah dikenalnya, misalnya, dalam acara minum- minum (sesudah acara-acara keluarga/adat), sementara yang lain berusaha melakukannya dengan orang yang berbeda-beda/tidak sama dan berusaha tidak melakukannya lagi dengan orang yang sama agar kerahasiaan terjaga.

Tidak melakukan hubungan seksual dengan laki di tempat asalnya merupakan temuan umum pada kelompok yang bermobili- tas tinggi, terutama karena jenis pekerjaan, kepentingan adat atau karena pendidikan. Terjadinya hubungan seksual tersebut diakui karena merekalah yang didekati oleh orang-orang yang mereka anggap sebagai orang homoseks. Di antara mereka hampir semua memiliki pacar perempuan, berencana menikah atau telah menikah dan bercita-cita memiliki anak. Pada umumnya, mereka tidak men- cari hubungan yang berlanjut dengan laki-laki lain. Mereka mela- belkan hal itu sebagai bagian dari pertemanan yang mengasyikan antara dua orang laki-laki dan tidak mempermasalahkan perihal praktik seksual sejenis.

Pada beberapa responden diakui bahwa pengalaman seksual pertama kali dengan laki-laki lain terjadi di luar Papua, ketika men- jadi mahasiswa perantauan. Sebagian mengaku bahwa hubungan seksual sejenis baru diperkenalkan oleh orang pendatang. Dari mereka, seolah tidak ada pengakuan bahwa ketertarikan itu juga datang dari diri mereka sendiri. Tema-tema “dikerjain,” “diperko- sa,” dll. muncul dalam cerita mereka, meskipun mereka juga men- gakui menikmatinya.

Responden yang mengidentifi kasi diri sebagai heteroseksual dan/atau biseksual mengatakan bahwa memiliki pasangan sek- sual dengan laki-laki tidak harus dipertentangkan dengan identi- tas heteroseksual mereka, sebab persoalan identitas bukanlah hal yang serius. Identitas mereka sebagai laki-laki (bapak bagi yang su- dah menikah) jauh lebih penting. Tapi ketika diminta menjelaskan mengenai identitas seksual sebagai homoseks, semua responden menganggap bahwa bila rahasia itu terbuka, akan langsung me- nyebabkan pengucilan mereka dari keluarga atau teman, dan da- pat berakibat fatal seperti kehilangan keluarga atau pekerjaan. Jadi, menjadi tidak jelas apakah pengakuan identitas seksualitas menjadi sesuatu yang tidak penting ataukah karena ketakutan terhadap ber- bagai konsekuensi buruk yang mungkin mereka hadapi.

Kebanyakan dari kelompok ini mengakui bahwa mereka bu- kan pihak yang memulai, tapi diperkenalkan lebih dulu. Pengala- man pertama kali dengan laki-laki kebanyakan diakui terjadi secara kebetulan, misalnya, di hotspot seks di kota (tidak khusus kelom- pok LSL, tapi juga wanita pekerja seks dan waria) atau di tempat kuliah/kerja. Sebelumnya, mereka sudah melakukan hubungan seks juga dengan perempuan. Seorang responden mengaku melakukan hubungan seksual dengan laki-laki pertama kali ketika berada di mes di hutan, karena pekerjaannya di perusahaan penggergajian kayu di pedalaman. Melakukan seks dengan laki-laki lain juga di- akui dilakukan karena perempuan tidak tersedia. Dan, hubungan seksual itu tidak membuat mereka menjadi seorang homoseks.

Mereka akan mencari kesempatan untuk melakukan hubun- gan seksual dengan laki-laki siapa saja bila ada kesempatan, di saat uang sama, mereka juga akan melakukannya dengan perempuan. Mereka tidak saja mengakui bahwa seks dengan laki-laki hanya fun, namun juga itu memiliki sensasi sendiri yang tidak ditemui bila mereka berhubungan seks dengan perempuan. Seks dengan laki-laki, lebih lanjut, dianggap suatu hal yang menantang karena dilakukan untuk melawan norma-norma dan sembunyi-sembunyi. Seks dengan laki-laki terasa agak spesial karena memberi kepuasan tersendiri dalam kehidupan seksual mereka.

Di antara mereka yang diketahui menikah, sudah melakukan hubungan seks dengan laki-laki sebelumnya. Sekalipun berhubun- gan seks dengan laki-laki lain bisa mendapatkan kepuasan tersend- iri, hal itu tidak menghentikan rencana mereka untuk menikah dengan perempuan. Mereka tidak menganggap hubungan dengan

laki-laki sebagai hal penting. Ini terlihat dalam petikan jawaban salah seorang responden di bawah ini.

Pekerjaan [saya] sangat mobile, sering bepergian ke kota lain di dalam maupun luar Papua, terutama ke Sorong dan Makassar. Selain punya pacar tetap laki-laki, saya juga menjalin hubungan dengan perempuan. Pacaran dengan pasangan perempuan ini sudah berjalan 3 bulan dan ada rencana menikah dan punya anak. Kami juga sudah melakukan hubungan seks. Pacaran dengan pasangan laki-laki di kota lain [Manokwari] ini sudah berjalan 3 tahun.

Dalam hubungan seksual, mereka hanya mau mengambil peran “top”, yakni melakukan penetrasi seksual karena posisi terse- but dianggap menggambarkan perilaku laki-laki maskulin sejati, yakni peran gender sebagai laki-laki yang dikenal. Diketahui pula, mencari kenikmatan seksual dengan laki-laki, terutama dengan pasangan tetap laki-lakinya, sering dilakukan dalam konteks perte- manan antarlaki-laki, di mana seks baru terjadi sesudah keduanya mabuk. Sebagaimana lazimnya di Papua, laki-laki yang menikah biasanya mudah mendapat izin ke luar rumah untuk pergi minum- minum dan akan beralasan menginap di rumah orang lain/teman karena terlalu mabuk.

Responden-responden yang lain dapat dimasukkan pada kel- ompok yang kedua, yaitu mereka yang mengidentifi kasi sebagai re- sponden lokal yang biseksual. Mereka menceritakan pengakuannya mengenai ketertarikan secara fi sik dan emosional dengan laki-laki lain. Namun kesadaran mereka terhadap identitas homoseksual tidak ada atau mengingkarinya dan selalu berupaya untuk meng- hilangkannya. Walaupun memiliki perasaan yang kuat terhadap laki-laki, mereka juga diketahui menikah atau berencana akan me- nikah. Meskipun telah menikah, perasaan kuat terhadap laki-laki masih amat tinggi dan hal itu tidak disesalkan, seperti juga tidak menyesal melakukan perkawinan dengan perempuan untuk mer-

Dalam dokumen GN: Jurnal Gandrung Vol. 2 No. 1, Juni 2011 (Halaman 99-125)

Dokumen terkait