• Tidak ada hasil yang ditemukan

DANA BAGI HASIL PAJAK DARI PROVINSI DAN PEMERINTAH DAERAH LAINNYA 2)

Capaian Angka Partisipasi Kasar Tahun 2009-

PROPORSI THD APBD

4.3.3 DANA BAGI HASIL PAJAK DARI PROVINSI DAN PEMERINTAH DAERAH LAINNYA 2)

215.161.291.786,00 264.630.000.000,00 4.3.4 DANA PENYESUAIAN DAN OTONOMI KHUSUS

551.847.338.712,00 827.771.008.068,00 4.3.5 BANTUAN KEUANGAN DARI PROVINSI ATAU PEMERINTAH

DAERAH LAINNYA

675.787.958.420,00

Jumlah Pendapatan

2.790.736.556.000,00 4.378.512.905.731,59 Sumber: bagian keuangan setda dan analisis Bappeda

3.4.2. Arah kebijakan Pendapatan Daerah a. Peningkatan pendapatan daerah

Dalam kebijakan yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Cirebon target pendapatan daerah rata-rata tumbuh pertahun minimal 15%. Kenaikan tersebut merupakan akumulasi kenaikan pendapatan daerah yang berasal dari komponen pendapatan daerah yang terdiri dari Pendapatan Asli Daerah (PAD), Dana Perimbangan dan Lain-Lain Pendapatan Daerah yang Sah. Sumber pendapatan daerah berasal dari PAD meliputi pendapatan pajak daerah, pendapatan retribusi daerah, pendapatan hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan, lain-lain PAD yang sah. Secara umum, Pendapatan Daerah pada tahun 2016 diproyeksikan akan mengalami peningkatan, hal ini tidak terlepas dari upaya-upaya yang di lakukan Pemerintah Kabupaten Kabupaten Cirebon melalui upaya peningkatan pajak daerah maupun peningkatan pendapatan yang bersifat spesific grant dan bagi hasil pajak dari pusat dan provinsi.

Arah kebijakan pokok Pendapatan Daerah tahun 2016, akan diprioritaskan pada optimalisasi pencapaian pendapatan asli daerah. Langkah-langkah

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 21 diantaranya:

1. Penataan kelembagaan, penyempurnaan kebijakan perpajakan dan retribusi daerah sebagai tindak lanjut Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sebagai dasar hukum pemungutan dan regulasi penyesuaian tarif pungutan;

2. Pelaksanaan pemungutan atas obyek pajak/retribusi baru dan pengembangan sistem operasi penagihan atas potensi pajak dan retribusi yang tidak memenuhi kewajibannya;

3. Pemenuhan fasilitas dan sarana pelayanan secara bertahap sesuai dengan kemampuan anggaran;

4. Melaksanakan pelayanan secara khusus untuk lebih memperhatikan masyarakat pembayar pajak, serta memberikan kemudahan masyarakat dalam membayar pajak melalui drive thru, Tax Mobile, layanan SMS, dan pengembangan Outlet pembayaran pajak;

5. Mengembangkan penerapan standar pelayanan kepuasan publik di beberapa Kantor Bersama/Samsat lainnya dengan menggunakan parameter ISO 9001- 2000;

6. Penyebarluasan informasi dan program sosialisasi di bidang Pendapatan Daerah dalam upaya peningkatan kesadaran masyarakat;

7. Revitalisasi BUMD melalui berbagai upaya agar dapat memberikan kontribusi terhadap Pendapatan Daerah, antara lain melalui peningkatan sarana, prasarana, kemudahan prosedur pelayanan terhadap konsumen/nasabah dalam meningkatkan persaingan usaha, serta mengoptimalkan peran Badan Pengawas, agar BUMD berjalan sesuai dengan peraturan;

8. Optimalisasi pemberdayaan dan pendayagunaan aset yang diarahkan pada peningkatan Pendapatan Asli Daerah;

9. Melakukan pembinaan secara teknis fungsional dalam upaya peningkatan fungsi dan peran OPD sebagai unit kerja penghasil di bidang Pendapatan Daerah;

10. Penyediaan system berbasis elektornik untuk mengurangi kebocoran pendapatan.

11. Melakukan koordinasi dengan Kementrian Dalam Negeri, Kementrian Keuangan, Kementerian Teknis, Hiwana Migas dan instansi terkait dalam hal penggalian informasi data pajak, sebagai dasar perhitungan bagi hasil pajak ke daerah.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 22 3.4.3. Arah Kebijakan Belanja Daerah

a. Penurunan belanja tidak langsung aparatur

Arah kebijakan Belanja Daerah tahun 2016 diupayakan untuk peningkatan kualitas pelayanan masyarakat yaitu dengan mengupayakan agar pelayanan menjadi lebih dekat kepada masyarakat. Pertumbuhan belanja langsung yang berhubungan dengan pelayanan kepada masyarakat diarahkan lebih besar apabila dibandingkan dengan pertumbuhan belanja tidak langsung. Sehingga proporsi belanja tidak langsung yang tidak terkait langsung dengan pelayanan kepada masyarakat akan mendapat proporsi yang lebih rendah bila dibandingkan tahun 2015.

b. Peningkatan belanja langsung :

- Belanja langsung program unggulan kepala daerah

Program unggulan ditetapkan sesuai dengan janji kepala daerah terpilih selama kampanye pemilihan kepala daerah. Ada 18 pogram unggulan kepala daerah meliputi:

1. Cirebon Bebas Buta Huruf al Qur’an atau Cirebon Melek Huruf Qur’an.

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek agamis. Dan, mendorong pencapaian misi pertama yaitu meningkatkan sumber daya manusia yang berakhlak mulia yang berlandaskan pada pelaksanaan pendidikan agama yang baik.

2. Cirebon Bebas Biaya Pendidikan dan Bebas Putus Sekolah pada Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah atau Pendidikan Dasar dan Menengah untuk Semua.

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek maju. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan.

3. Cirebon Berbudaya Membaca.

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek maju. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan.

4. Cirebon Gratis Pelayanan Kesehatan Bagi Warga Miskin, Cirebon Bebas Balita Gizi Buruk , Cirebon Gratis Pelayanan Jaminan Persalinan atau

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 23 pada aspek maju. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan.

5. Cirebon Kota Kreasi Seni, Berbudaya,dan Dimensi Destinasi Wisata.

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek maju. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan.

6. Cirebon Berprestasi.

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek maju. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan.

7. Cirebon Bebas Pengangguran

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek maju. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan.

8. Kampung Keluarga Berencana (Ber KB)

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek maju. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan.

9. Cirebon Berhotmik, Mantap dan Bebas Banjir

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek sinergi dan adil. Dan, mendorong pencapaian misi ketiga yaitu mendorong pemerataan pembangunan tematik/sektoral dan kewilayahan berdasarkan potensi yang tersedia dan misi keempat yaitu menciptakan sinergi pembangunan secara menyeluruh antar berbagai pemangku kepentingan (pemerintah, dunia usaha, akademik, dan komuniti)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 24 mewujudkan standar hidup layak masyarakat melalui pemenuhan hak-hak dasar terutama kebutuhan pokok masyarakat dan penciptaan rasa aman, damai, dan tenteram.

11. Cirebon Bersih, Asri, dan Lestari

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek sinergi. Dan, mendorong pencapaian misi keempat yaitu menciptakan sinergi pembangunan secara menyeluruh antar berbagai pemangku kepentingan (pemerintah, dunia usaha, akademik, dan komuniti)

12. Cirebon Berkesetaraan Gender dan Anak Ceria

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek sinergi dan adil. Dan, mendorong pencapaian misi kelima yaitu mewujudkan standar hidup layak masyarakat melalui pemenuhan hak-hak dasar terutama kebutuhan pokok masyarakat dan penciptaan rasa aman, damai, dan tenteram

13. Cirebon Bebas Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) dan Jaminan Kesehatan Bagi Pekerja Informal

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek sehat, sinergi, dan sejahtera. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan. Dan, misi kelima yaitu mewujudkan standar hidup layak masyarakat melalui pemenuhan hak-hak dasar terutama kebutuhan pokok masyarakat dan penciptaan rasa aman, damai, dan tenteram

14. Kampung Wirausaha

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek sinergi dan sejahtera. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan.

15. Cirebon Bebas Rawan Pangan

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek sehat, sinergi, dan sejahtera. Dan, mendorong pencapaian misi kelima yaitu mewujudkan standar hidup layak masyarakat melalui pemenuhan hak-hak dasar terutama kebutuhan pokok masyarakat dan penciptaan rasa aman, damai, dan tenteram.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 25 pada aspek maju, sinergi, dan sejahtera. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan. Dan, misi kelima yaitu mewujudkan standar hidup layak masyarakat melalui pemenuhan hak-hak dasar terutama kebutuhan pokok masyarakat dan penciptaan rasa aman, damai, dan tenteram

17. Cirebon Terang Bagi Keluarga Miskin

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek sinergi, adil, dan sejahtera. Dan, mendorong pencapaian misi kelima yaitu mewujudkan standar hidup layak masyarakat melalui pemenuhan hak-hak dasar terutama kebutuhan pokok masyarakat dan penciptaan rasa aman, damai, dan tenteram.

18. Fasilitasi Beasiswa 250 Master bagi PNS

Program unggulan ini untuk mendorong pencapaian visi kepala daerah pada aspek maju, dan sejahtera. Dan, mendorong pencapaian misi kedua yaitu meningkatkan pembangunan sumber daya manusia yang sehat, berbudaya, berilmu, dan berketerampilan melalui pembangunan pendidikan, kesehatan, dan kewirausahaan. Dan, misi keenam yaitu mewujudkan tatanan masyarakat dan reformasi sistem birokrasi menuju sistem berbangsa dan bernegara yang bersih dan bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN)

- Belanja langsung prioritas daerah

Secara garis besar kebijakan perencanaan belanja daerah tahun 2016 yang akan digunakan untuk mendanai pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan kabupaten diarahkan untuk mendukung pencapaian visi dan misi kepala daerah yang telah diturunkan menjadi program prioritas daerah yang telah mengintegrasikan program unggulan kepala daerah sebagaimana telah diuraikan di awal. Berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan program tahun 2014, pada tahun 2016 terdapat 14 (empat belas) program yang menjadi prioritas pembangunan daerah. Belanja SKPD yang terkait langsung dengan prioritas pembangunan daerah akan mendapat porsi anggaran yang lebih besar dibandingkan dengan kegiatan yang bersifat penunjang.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 26 indikatif kewilayahan (PIK). Pagu ini diberikan kepada kecamatan untuk menentukan prioritas program yang diusulkan melalui mekanisme musrenbang.

Dalam perjalanan perencanaan pembangunan daerah di Kabupaten Cirebon dalam kurun 10 tahun terakhir, pelaksanaan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) hanya menjadi ‘kuburan usulan’ dengan realisasi dibawah kisaran 10% dari usulan yang diajukan. Karena memang hampir seluruhnya dilakukan secara topdown. Ini menjadi bukti bahwa fungsi musrenbang tidak berjalan dengan baik. Meski secara regulasi mengatur adanya perencanaan dengan pendekatan bottom up yang diimplementasikan melalui mekanisme musrenbang. Resikonya, permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat tidak serta merta diatasi melalui usulan musrenbang.

Musrenbang menghadapi titik jenuh. Implementasi yang terjadi adalah masyarakat hanya dikumpulkan untuk melaksanakan normatif regulasi yang berlaku dalam perencanaan pembangunan daerah, tingkat partisipasi yang rendah, dan tanpa hasil yang memuaskan bagi penyelesaian permasalahan dan kebutuhan prioritas masyarakat. Sehingga dampak yang terjadi adalah proses perencanaan pembangunan daerah tidak berkualitas. Ironisnya, pelaksanaan musrenbang seperti itu telah berlangsung lama dengan output dan hasil yang tidak jelas, dari sisi sumber daya penganggaran, waktu, dan tenaga telah terjadi inefisien dan inefektif yang cukup besar dan telah berjalan lama Ironisnya tidak ada kebijakan terobosan untuk menyelesaikan hal tersebut.

Mencermati hal tersebut, dengan evaluasi dan telaah mendalam berdasarkan kondisi empiris dan dasar hukum yang berlaku, dan sebagai bagian dari upaya untuk mengoptimalkan peran strategis musrenbang, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Cirebon pada tahun 2010 mengambil langkah cerdas dengan merumuskan model pelaksanaan musrenbang di Kabupaten Cirebon dengan menggunakan pagu indikatif kewilayahan (PIK). PIK menjadi model perencanaan dengan menyediakan pagu indikatif ditingkat kecamatan. PIK bukan alokasi anggaran yang diberikan untuk desa dan kecamatan. Tetapi, PIK menjadi wadah untuk menampung usulan kebutuhan masyarakat di tingkat kecamatan terhadap program

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 27 Nilai PIK yang dialokasikan di setiap kecamatan sebagai upaya untuk memberikan ‘kepastian’ penyelesaian bagi keresahan masyarakat terhadap permasalahan kehidupan di wilayahnya. Dengan model musrenbang PIK ini, masyarakat mulai bersemangat kembali mendatangi forum-forum musrenbang. Ada harapan baru bagi masyarakat untuk bisa mengajukan usulan program yang dapat menyelesaikan permasalahan riil masyarakat. Sementara, merujuk pada peraturan menteri dalam negeri nomor 54 tahun 2010, penyelenggaraan musrenbang dilakukan mulai tingkat desa (bulan Januari), tingkat kecamatan (bulan Pebruari), tingkat Kabupaten (bulan Maret). Di bulan-bulan tersebut, masyarakat berduyun- duyun untuk hadir dan bercurah pendapat mencari mufakat dalam perumusan masalah dan solusi program/kegiatan.

Ada lima dasar pemikiran dalam rumusan PIK. Pertama, Dasar Hukum. Undang-Undang nomor 25 tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional (SPPN), Undang-Undang nomor 23 tahun 2014 tentang pemerintahan daerah, dan Peraturan Daerah Kabupaten Cirebon nomor 9 tahun 2012 tentang sistem perencanaan pembangunan daerah mengamanatkan bahwa musrenbang menjadi bagian dari mekanisme penyusunan perencanaan pembangunan. Musrenbang menjadi perwujudan pendekatan partisipatif dan bottom up planning yang transparan, responsif, efisien, efektif, akuntabel, partisipatif, terukur, berkeadilan, dan berwawasan lingkungan. Dengan demikian, secara aturan pola PIK tidak bertentangan dengan peraturan yang berlaku. Kedua, Dasar ilmiah dan teknis. Musrenbang bermodel PIK dirumuskan tidak asal-asalan. Tetapi, rumusan PIK dilakukan dengan pendekatan ilmiah. Rumusan besaran PIK dihitung berdasarkan parameter dan variabel yang merujuk pada pencapaian Indeks Pembangunan Manusia (IPM), dan target Millenium Dvelopment Goals (MDGs). Pola bobot, skor dan indeks menjadi formula untuk menentukan besaran PIK setiap kecamatan. Secara teknis, setiap usulan yang diajukan melalui musrenbang dihitung secara teknis oleh setiap SKPD yang berwenang. Penghitungan didasarkan pada standar pembiayaan dan petunjuk teknis yang ditetapkan oleh kepala daerah. Penghitungan teknis dilakukan secara berjenjang dan ketat mulai dari tingkat desa, kecamatan, hinga kabupaten. Untuk usulan fisik infrastruktur, penghitungan teknis tidak hanya dilakukan didalam ruangan, tetapi juga dilakukan verifikasi

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 28 musrenbang dengan mekanisme seleksi dan penjaringan secara ilmiah, dan penghitungan teknis yang ketat diharapkan tidak ada lagi usulan yang ngawur, dan asal-asalan. Ketiga, Dasar manfaat dan dampak. Musrenbang menjadi wadah curah pendapat secara aktif dan transparan. Usulan program melalui PIK dapat diketahui oleh setiap peserta mulai dari kuwu, BPD, LPMD/K, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, kelompok perempuan, dna kelompok marjinal. Musrenbang memberikan manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat yang mengusulkan program/kegiatan secara yang transparan, responsif, partisipatif, terukur, dan berkeadilan. Masyarakat berembug untuk menentukan urutan prioritas kebutuhan program/kegiatan sehingga tidak ada lagi masyarakat yang merasa dimarjinalisasi. Keempat, Dasar pemerataan dan keadilan. Isu ketidakadilan dan ketimpangan pembangunan wilayah menjadi krusial dan sering disuarakan oleh sebagian masyarakat terutama masyarakat wilayah Kabupaten Cirebon Timur. Kita harus mengakui bahwa selama ini, pemerataan pembiayaan pembangunan kewilayahan kurang jelas. Bappeda Kabupaten Cirebon mengalami kesulitan mengidentifikasi dan menghitung distribusi dan alokasi pembangunan pada setiap wilayah kecamatan. Sehingga wajar jika ada sebagian masyarakat yang menyuarakan ketimpangan dan ketidakadilan pembangunan. Dengan adanya PIK, setidaknya Pemerintah Kabupaten Cirebon bisa menjelaskan distribusi alokasi anggaran pada setiap kecamatan. Artinya, dengan PIK, Pemerintah Kabupaten Cirebon berupaya meredam secara arif suara- suara sumbang yang merasa diperlakukan tidak adil dalam pembangunan. Kelima, Dasar politik. Ketidakadilan dan ketidakmerataan pembiayaan pembangunan bisa saja dipolitisasi. Dengan musrenbang pola PIK, gejolak politik anggaran berbasis masyarakat mampu diredam. Keberpihakan pemerintah daerah kepada masyarakat cukup jelas bahwa anggaran pemerintah daerah tidak hanya habis oleh aparatur tetapi mampu menyentuh kebutuhan masyarakat paling terkecil yaitu desa. Meski hanya sebagian kecil dari belanja langsung, PIK dirasakan mampu meredam gejolak masyarakat terhadap permasalahan pembangunan yang ada. Bulan Januari-Pebruari-Maret menjadi bulan-bulan yang mendapat perhatian. Seakan-akan di bulan-bulan tersebut terjadi ‘pesta demokrasi’ bagi semua komponen masyarakat, karena memang di bulan- bulan itulah diselenggarakan curah pendapat untuk mencari mufakat

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 29 keberadaan pemerintah menjadi nyata adanya dalam mengurus permasalahan masyarakat mulai dari aspek fisik infrastruktur, sosial budaya, dan ekonomi.

Besaran alokasi PIK diluncurkan sejak pada tahun 2012 dan angkanya semakin meningkat. Pada tahun 2012, alokasi PIK sebesar Rp 50.000.000.000,- dan pada tahun 2015 alokasinya sebesar Rp 70.000.000.000,-. Perhitungan pagu per kecamatannya dilakukan dengan berbagai variable dengan pendekatan yang merujuk pada indikator IPM, MDGs, dan RTRW.

Pengalokasian PIK ini merupakan salah bentuk kebijakan untuk mendorong pembangunan berbasis pada pembangunan tematik kewilayahan. Ada beberapa prioritas pembangunan wilayah yang akan didorong dengan menggunakan pagu indikatif kewilayahan ini, diantaranya:

a. Peningkatan infrastruktur untuk mendukung pengembangan kawasan strategis kabupaten.

b. Peningkatan infrastruktur untuk mendukung fungsi Pusat Kegiatan Lokal yang ada di masing-masing wilayah

c. Penyediaan prasarana dasar masyarakat berdasarkan permaslahan dan kebutuhan wilayah

d. Penguatan kapasitas SDM kelompok tani dalam rangka pengembangan kawasan strategis agropolitan tanaman pangan dan hortikultura

e. Penguatan kelembagan ekonomi masyarakat industri dan perdagangan di KSK pengembangan indusri dan jasa

f. Penataan kawasan wisata ziarah dan pembentukan kawasan seni.

- Peningkatan Proporsi Belanja Modal

Dalam komponen belanja langsung, terdapat komponen belanja pegawai, belanja barang/jasa dan belanja modal. Berdasarkan evaluasi tahun-tahun sebelumnya, proporsi belanja barang jasa masih mendapatkan porsi yang tertinggi yaitu sebesar 52,64%, belanja pegawai sebesar 13,96% dan belanja modal hanya 33,40%. Tahun 2016 proporsi belanja modal akan dinaikkan menjadi 40%, sementara belanja barang jasa akan ditekan pada angka 50% dan belanja pegawai maksimal 10%. Hal ini dilakukan untuk melakukan

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 30 c. Peningkatan Efisiensi dan efektivitas belanja

Peningkatan belanja langsung juga harus diikuti dengan efesiensi dan efektifitas belanja. Hal ini dapat dilaksakan dengan cara melakukan analisis standar biaya pada setiap paket pekerjaan sebelum dilakukan penyusunan rencana kerja anggaran. Selain itu dengan pengalokasian anggaran berbasis kinerja, artinya anggaran belanja yang dialokasi harus melalui pendekatan prestasi kerja yang dalam pelaksanaan tugas pokok dan fungsinya berorientasi pada pencapaian hasil dari input yang direncanakan. Sistem pengendalian untuk peningkatan efesiensi efektifitas belanja ini dapat dilakukan dengan penerapan piranti e-planning yang diintegrasikan dengan e-budgetting yang telah dipadukan dengan sisten analisis belanja dan standar harga.

3.4.4. Arah Kebijakan Pembiayaan Daerah

Dalam struktur APBD, disamping komponen pendapatan dan Belanja Daerah, juga mencakup pembiayaan daerah yang meliputi sumber penerimaan pembiayaan daerah dan pengeluaran pembiayaan daerah. Pembiayaan adalah setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun tahun- tahun anggaran berikutnya. Kebijakan pembiayaan timbul karena jumlah pengeluaran daerah lebih besar dari penerimaan sehingga menimbulkan defisit. Sumber penerimaan pembiayaan daerah berasal dari sisa lebih perhitungan anggaran tahun lalu, pencairan dana cadangan, hasil penjualan kekayaan daerah yang dipisahkan, penerimaan pinjaman daerah, penerimaan kembali pemberian pinjaman, dan penerimaan piutang daerah. Sedangkan pengeluaran pembiayaan daerah dapat bersumber dari transfer ke dana cadangan, penyertaan modal/investasi daerah, pembayaran pokok utang dan pemberian pinjaman daerah. Adapun arah kebijakan pembiayaan daerah kabupaten Cirebon Tahun 2016, diantaranya:

a. Dari sisi penerimaan pembiayaan, pada than 2016 diproyeksikan akan terdapat SILPA dari kegiatan tahun 2015 sebesar Rp. 30.000.000.000,-

b. Peningkatan penyertaan modal pada BUMD baik BPR maupun BJB. Sebesar Rp.10.000.000.000,- . Penyertaan modal ditujukan untuk mendapatkan bagi hasil dan penambahan sumber pendapatan bagi daerah.

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 III - 31 Tabel 3.11 Kerangka belanja daerah dan pembiayaan

BELANJA DAERAH 2.830.893.761.058,00 4.413.318.851.547,10 BELANJA TIDAK LANGSUNG 1.835.614.714.725,00 .274.704.399.253,10

BELANJA PEGAWAI

1.558.972.213.608,00

1.682.693.330.659,48

BELANJA HIBAH 6.937.500.000,00 25.741.700.000,00 BELANJA BANTUAN SOSIAL 9.849.088.000,00 15.258.088.000,00 BELANJA BAGI HASIL KEPADA PROVINSI/KABUPATEN/KOTA

DAN PEMERINTAHAN DESA

14.936.016.524,00 23.718.845.937

BELANJA BANTUAN KEUANGAN 243.419.896.593,00

517.939.019.657,02 BELANJA TIDAK TERDUGA 1.500.000.000,00

9.353.415.000,00 BELANJA LANGSUNG 995.279.046.333,00 2.138.614.452.294,00 BELANJA PEGAWAI 149.923.441.452,00 213.861.445.229,40

BELANJA BARANG DAN JASA

585.389.491.533,00 1.069.307.226.147,00 BELANJA MODAL 279.632.953.859,00 855.445.780.917,60 Jumlah Belanja 2.825.543.239.700,00 4.413.318.851.547,10 Surplus/(Defisit) (34.806.683.700,00) (34.805.945.815,51) PEMBIAYAAN DAERAH 34.273.436.058,00 PENERIMAAN PEMBIAYAAN DAERAH 37.206.683.700,00

64.805.945.815,51 SISA LEBIH PERHITUNGAN ANGGARAN DAERAH TAHUN

SEBELUMNYA

37.206.683.700,00 64.805.945.815,51

PENCAIRAN DANA CADANGAN -

HASIL PENJUALAN KEKAYAAN DAERAH YANG DIPISAHKAN -

PENERIMAAN PIUTANG DAERAH

PENGELUARAN PEMBIAYAAN DAERAH 2.933.247.642,00

30.000.000.000,00

PEMBENTUKAN DANA CADANGAN

20.000.000.000,00 PENYERTAAN MODAL (INVESTASI) PEMERINTAH DAERAH 2.400.000.000,00

10.000.000.000,00

PEMBAYARAN POKOK HUTANG 533.247.642,00

PEMBERIAN PINJAMAN DAERAH

Pembiayaan netto (2.933.247.642,00) 34.805.945.815,51 Sisa lebih pembiayaan anggaran tahun berkenaan (SILPA)

Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kabupaten Cirebon Tahun 2016 IV -1 KABUPATEN CIREBON TAHUN 2016

Dokumen terkait