3. Bantuan keuangan provinsi terhadap IPM melalui Belanja daerah
5.4.2 Dana Perimbangan, Pendapatan asli daerah, Bantuan keuangan
provinsi, Dana BOS dan Belanja daerah berpengaruh terhadap IPM
Berdasarkan uji pengaruh F maka diketahui nilai signifikansi adalah sebesar 0,000 < 0,005 sehingga didapat kesimpulan bahwa secara simultan variabel Dana perimbangan, Pendapatan asli daerah, Bantuan keuangan provinsi, Dana BOS dan Belanja daerah berpengaruh signifikan terhadap IPM.
5.4.2.1 Pengaruh Dana perimbangan terhadap IPM
Pada hasil uji t diketahui nilai koefisien regresi variabel Dana perimbangan bernilai positif yaitu 0,002. Hal ini berarti peningkatan Dana perimbangan akan menaikkan IPM. Selanjutnya diperoleh juga tingkat signifikansi sebesar 0,744 > 0,05 yang berarti bahwa Dana perimbangan berpengaruh namun tidak signifikan terhadap IPM. Dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini variabel Dana perimbangan berpengaruh positif namun tidak signifikan terhadap IPM. Dana alokasi umum (DAU) sebagai salah satu unsur
83
Dana perimbangan, selain untuk belanja pegawai juga digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum yang bertujuan untuk kesejahteraan masyarakat sehingga apabila kesejahteraan masyarakat tercapai maka akan berpengaruh terhadap peningkatan IPM. Penelitian ini tidak sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Ardiansyah (2014) menyatakan bahwa DAU dan DAK yang merupakan unsur dana perimbangan berpengaruh signifikan terhadap IPM. Namun penelitian ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Marbun (2011) yang menyatakan bahwa DAU dan DBH (Pajak dan bukan pajak) yang merupakan unsur dari Dana perimbangan yang tidak berpengaruh terhadap IPM. Hal ini bisa saja terjadi karena perbedaan nilai DAU dan DBH sebagai salah satu unsur Dana perimbangan, serta penggunaan yang berbeda untuk setiap kabupaten/kota.
5.4.2.2 Pengaruh Pendapatan asli daerah terhadap IPM
Pada hasil uji t diketahui nilai koefisien regresi variabel Pendapatan asli daerah bernilai positif yaitu 0,085. Hal ini berarti peningkatan Pendapatan asli daerah akan menaikkan IPM. Selanjutnya diperoleh juga tingkat signifikansi sebesar 0,017 < 0,05 yang berarti bahwa Pendapatan asli daerah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap IPM. Dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini variabel Pendapatan asli daerah berpengaruh positif signifikan terhadap IPM. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Syahril (2011) yang menyatakan bahwa secara parsial PAD berpengaruh signifikan terhadap IPM. Penelitian Sari (2011) juga menunjukkan hal yang sama yaitu variabel PAD berpengaruh signifikan terhadap IPM. PAD merupakan pendapatan yang dikelola sepenuhnya oleh kabupaten/kota yang ditujukan untuk
peningkatan kesejahteraan masyarakat. Masyarakat yang sejahtera diharapkan mampu meningkatkan IPM.
5.4.2.3Pengaruh Bantuan keuangan provinsi terhadap IPM
Pada hasil uji t diketahui nilai koefisien regresi variabel Bantuan keuangan provinsi bernilai positif yaitu 0,185. Hal ini berarti peningkatan Bantuan keuangan provinsi akan menaikkan IPM. Selanjutnya diperoleh juga tingkat signifikansi sebesar 0,050 = 0,05 yang berarti bahwa Bantuan keuangan provinsi memiliki pengaruh signifikan terhadap IPM. Dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini variabel Bantuan keuangan provinsi berpengaruh positif signifikan terhadap IPM. Merujuk pada Permendagri nomor 13 tahun 2006 bahwa bantuan keuangan ada yang bersifat umum dan khusus. Untuk bantuan keuangan yang bersifat umum peruntukan dan penggunaannya diserahkan sepenuhnya kepada kabupaten/kota. Kabupaten/kota dapat menggunakan bantuan keuangan yang bersifat umum ini untuk membiayai kegiatan yang bertujuan untuk peningkatan kesejahteraan masyarakat, seperti pembangunan sarana dan prasarana. Sehingga peningkatan kesejahteraan masyarakat akan berdampak pada peningkatan IPM. Penelitian ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan oleh Widarwanto (2015) yang menyatakan bahwa Bantuan keuangan provinsi tidak berpengaruh terhadap IPM. Hal ini terjadi kemungkinan karena tahun amatan yang berbeda dan juga metode pengambilan data yang berbeda. Penelitian ini mengambilan populasi sebagai sampel atau sensus dengan tahun amatan 4 tahun sedangkan Widarwanto menggunakan purposive sampling dengan tahun amatan selama 3 tahun.
85
5.4.2.4Pengaruh Dana BOS terhadap IPM
Pada hasil uji t diketahui nilai koefisien regresi variabel dana BOS bernilai negatif yaitu -0,201. Hal ini berarti kenaikan pada Dana BOS tidak menaikkan nilai IPM. Selanjutnya diperoleh juga tingkat signifikansi sebesar 0,320 > 0,05 yang berart tidak signifikan. Sehingga dapat disimpulkan pada penelitian ini bahwa pengaruh Dana BOS tidak signifikan terhadap IPM.
Hal ini kemungkinan terjadi karena beberapa hal diantaranya sumber daya manusia, media informasi, sarana dan prasarana dan utamanya pada faktor Juklak diyakini merupakan penyebab dari ketidakberhasilan dilaksanakannya program penyaluran Dana BOS di Sumatera Utara (Indra, 2007). Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Indra (2007) Sumber daya manusia yang menangani Dana BOS diyakini kurang memiliki kapasitas yang disertai dengan akuntabilitas kemampuan pada bidangnya yang meliputi: latar belakang pendidikan, pengalaman kerja dan komitmen kerja. Padahal kriteria-kriteria tersebut merupakan pondasi utama pada efektifitas untuk mencapai sasaran keberhasilan kerja yang akan dicapai. Media informasi dan sarana prasarana juga tidak kalah penting untuk tercapainya penyaluran Dana BOS yang sesuai tujuannya, apabila kurang dilengkapi dengan media informasi dan sarana prasarana yang layak maka prosespenyaluran dana BOS akan kurang tepat waktu sehingga tujuan Dana BOS menjadi tidak tercapai. Monitoring dan evaluasi serta pengaduan masyarakat tentang dana BOS juga tidak dapat terlaksana dengan baik apabila tidak dilengkapi dengan media informasi dan sarana prasarana yang selayaknya. Juklak tentang Dana BOS juga merupakan faktor yang penting. Juklak yang mengatur tatacara pelaksanaan proses penyaluran dana BOS
sehinggga bisa disalurkan tepat waktu dan tepat sasaran. Juklak yang ada dinilai belum sepenuhnya dapat memberikan petunjuk yang jelas tentang pelaksanaan kegiatan program penyaluran dana bantuan operasional sekolah, masih dibutuhkan beberapa penambahan substansi pada juklak yang terkait dengan tata aturan yang berkenaan dengan administrasi pelaksanaan yang terdapat pada tataran proses; penyaluran dana, pemanfaatan dana, dan penyerapan dana yang terdapat pada tataran output.
Selain itu indikator pada IPM untuk Dimensi Pengetahuan yaitu Rata-rata lama sekolah karena disesuaikan dengan Program wajib belajar 9 tahun maka yang dilihat hanya penduduk usia 7 tahun keatas sehingga tidak melihat anak sekolah yang masuk SD pada usia 5 atau 6 tahun. Padahal fakta dilapangan banyak anak-anak usia tersebut sudah masuk SD (http://daps.bps.go.id). Melihat kepada beberapa faktor diatas, maka pada peneliti ini hal tersebut menjadi penyebab Dana BOS di Sumatera Utara tidak berpengaruh terhadap IPM.
Hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Fedri (2014) yang menunjukkan bahwa transfer dan BOS signifikan terhadap pencapaian IPM. Perbedaan ini terjadi karena ada beberapa kemungkinan yaitu perbedaan daerah serta tahun amatan, sumber daya manusia yang ada, kelengkapan media informasi dan sarana prasarana di setiap daerah yang berbeda.
5.4.2.5 Pengaruh Belanja daerah terhadap IPM
Pada hasil uji t diketahui nilai koefisien regresi variabel Belanja daerah bernilai positif yaitu 0,025. Hal ini berarti peningkatan Belanja daerah akan menaikkan IPM. Selanjutnya diperoleh juga tingkat signifikansi sebesar 0,011 <
87
0,05 yang berarti bahwa Belanja daerah memiliki pengaruh yang signifikan terhadap IPM. Dapat disimpulkan bahwa pada penelitian ini variabel Belanja daerah berpengaruh positif signifikan terhadap IPM.
Merujuk Permendagri 13/2006 tentang Pedoman Pengelolaan Keuangan Daerah dinyatakan bahwa belanja daerah dipergunakan dalam mendanai pelaksanaan urusan pemerintah yang menjadi kewenangan provinsi atau kabupaten/kota yang terdiri dari urusan wajib, urusan pilihan dan urusan yang penanganannya dalam bagian atau bidang tertentu yang dapat dilaksanakan bersama antara pemerintah dan pemerintah daerah atau antar pemerintah daerah yang ditetapkan berdasarkan peraturan perundang-undangan.
Sebagaimana dimaksud pada Permendagri 13/2006 maka belanja urusan wajib diprioritaskan untuk melindungi dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat dalam uapaya memenuhi kewajiban daerah yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, kesehatan, fasilitas sosial dan fasilitas umum yang layak serta mengembangkan sistem jaminan sosial. Berdasarkan hal diatas maka belanja daerah berpengaruh terhadap peningkatan Indeks Pembangunan Manusia. Ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Priambodo (2015) dalam penelitian Sarkoro (2016) belanja daerah berpengaruh signifikan terhadap IPM.