• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dari DDII ke Islam Transnasional dan Islam Radikal Lokal

Dalam dokumen 110104-101222-radikalisme-agama-x (Halaman 35-38)

Perubahan politik di masa Orde Baru ternyata tidak membawa angin segar kepada tokoh-tokoh Masyumi dalam mendirikan kembali Masyumi. Rehabilitasi Masyumi gagal akibat dugaan keterlibatan tokoh-tokoh eks Masyum dalam pemberontakan PRRI/ Permesta.56 Pada tanggal 7 April 1967 memang didirikan Partai Muslimin (Parmusi). Namun, tokoh-tokoh eks Masyumi tidak diizinkan memegang pimpinan Parmusi. Sikap politik Soeharto ini mengecewakan tokoh-tokoh eks Masyumi karena mereka tidak dapat lagi berkiprah di politik kepartaian.

53

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942, cet. Ke-7, h. 166

54

Pingardi, SM Kartosuwiryo, (Jakarta: Aryaguna, 1964), h. 20

55

Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia, h. 166

56Deliar Noer mencatat banyaknya tokoh Masyumi yang dipenjara akibat keterlibatan mereka dlaam pemberon takan PRRI/Permesta, seperti Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Boerhanuddin Harahap, Prawoto Mangkusasmito, Mohamad Roem, M. Yunan Nasution, E.Z. Muttaqien, Isa Anshari, Hamka, Ghazali Sjahlan, Jusuf Wibisono, Kasman Singodimejo, Kyai A. Mukti, S. Soemarsono, Djanamar Adjam, H.M. Sjaaf, Imron Rosjadi, dll. Lihat Partai Islam di Pentas Nasional, h. 446

29

Tokoh-tokoh Masyumi akhirnya mendirikan DDII pada 1967 yang bergerak di bidang dakwah, bukan sebagai partai politik. DDII menjadi satu sarana alternatif bagi kalangan Masyumi setelah merasa gagal dalam berdakwah lewat politik kepartaian.57 Peranan yang begitu besar dalam DDII terlihat jelas dalam berbagai kegiatannya untuk membina dan mengkader generasi baru Islam dalam berbagai polanya.

DDII menjadi lembaga Islam pertama yang mengusahakan secara serius dan terorganisir pengiriman mahasiswa ke Timur Tengah. Sebelum peran ini diambil alih oleh Departemen Agama, DDII menjadi agen utama untuk distribusi beasiswa dari Rabithah Alam Al-Islami yang didukung pendanaannya oleh Saudi Arabia untuk belajar di Timur Tengah. Untuk memudahkan hubungan dengan Saudi Arabia, DDII bahkan membuka kantor di Riyadh pada tahun 1970-an. Hingga 2004, DDII telah mengirim sebanyak 500 mahasiswa ke Timur Tengah dan Pakistan. Mereka kebanyakan direkrut dari kader organisasi-organisasi Islam modernis yang secara struktural dan kultural terkait dengan Masyumi. Para alumnus pendidikan Timur Tengah inilah yang menjadi aktor utama penyebaran gerakan revivalisme Islam di Indonesia.58

DDII juga menjadi penggagas serta mediator berdirinya Lembaga Ilmu Islam dan Arab (LIPIA) yang merupakan cabag Unversitas Islam Muhammad Ibnu Sa’ud di Riyadh. Lembaga ini telah meluluskan ribuan alumni yang menjadi agen gerakan Salafi serta aktor penting di kalangan Tarbiyah.59 Upaya membuka cabang di Indonesia diawali dengan datangnya Syekh Abdul Aziz Abdullah Al-Ammar, seorang murid tokoh paling penting Salafi, Syekh Abdullah bin Baz ke Jakarta. Oleh bin Baz, ia diperintahkan untuk bertemu dengan Mohammad Natsir. Natsir menyambut baik rencana pendirian lembaga ini dan bersedia menjadi mediator dengan pemerintah Indonesia. Selanjutnya, DDII memegang peranan penting dalam rekrutmen mahasiswa, yang pada umumnya diambil dari lembaga-lembaga yang memiliki jaringan dengan DDII, yaitu Persis, Muhammadiyah, dan Al-Irsyad. 60

Yusuf Usman Baisa, alumnus LIPIA ini melanjutkan studi ke Arab Saudi, Afghanistan dan Pakistan, terutama Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Saud di Riyadh. Setelah itu, ia mendirikan pesantren Al-Irsyad di Salatiga. Abu Nida yang pada awalnya belajar di madrasah NU di Gresik melanjutkan studi di Akademi Pendidikan Muhammadiyah di Gresik, Pada 1976, ia belajar di Pesantren Karanasem Paciran, Lamongan dan mengikuti

57

M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal: Transmisi Gerakan Revivalisme

Islam ke Indonesia (1980-2002), (Jakarta: Erlangga, 2005), h. 83

58

M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, h. 83

59

M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, h. 83-84

60

30

program DDII di Kalimantan Barat selama dua tahun. Kemudian dipilih menjadi mubalig DDII di Jakarta dan mendapatkan beasiswa melalui DDII untuk belajar kepada guru Salafi di Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Saud di Riyadh. Melalui DDII Riyadh, Abu Nida berkenalan dengan organisasi Kuwait Jamiat Ihya Al-Turats Al-Isami. Setelah lulus 1985, ia pergi ke perbatasan Pakistan-Afghanistan untuk bergabung dengan Jamilur Rahman selama tiga bulan. Lalu ia kembali ke Indonesia untuk mengajar di Pesantren Ngruki pimpinan Abu Bakar Baasyir. Pada 1986 ia menikah dengan santri Ngruki dan pindah ke Sleman Yogyakarta untuk mengajar di pesantren DDII, yaitu Pesantren Ibnul Qoyyim.61

Ja’far Umar Thalib, pimpinan Laskar Jihad sebelum lulus di LIPIA ia pergi ke Institut Maududi di Lahore, Pakistan dengan bantuan beasiswa DDII pada 1986. Ia juga belajar dan dilatih Jamilur Rahman di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Setelah mengajar di Pesantren Al-Irsyad yang dipimpin Yusuf Baisa selama dua tahun, ia tinggal di Yaman pada 1991 untuk belajar kepada tokoh Salafi, Syekh Muqbil ibn Hadi al-Wadi di Dammaz.62

DDII berperan secara tidak langsung untuk mendorong penerjemahan karya-karya dari pemikir utama gerakan revivalisme Islam Timur Tengah ke dalam bahasa Indonesia. Lembaga ini aktif mendistribusikan buku-buku terjemahan karya Hasan Al-Banna, Yusuf Al-Qardhawi, Sayyid Quthb, (Ihkwanul Muslimin) dan Abul A’la Al-Maududi (Jama’ati Islami).63 DDII juga menerbitkan Harian Abadi64 dan Majalah Media Dakwah sebagai kontrol terhadap penguasa.

Basis gerakan DDII adalah pesantren, masjid, dan kampus. DDII memberikan kontribusi pada pengembangan Pesantren Gontor dan Ngruki (Abu Bakar Ba’asyir) dan memfasilitasi pendirian pesantren dan mengelola hibah dari Timur Tengah untuk mendirikan masjid. Masjid-masjid ini kemudian dikelola oleh aktivis DDII dan berkembang menjadi basis penyebaran dakwahnya. Tak boleh diabaikan juga kontribusinya pada pengembangan jaringan masjid Kampus di ITB, UI, UGM, dan kampus negeri lainnya.65 DDII menyusun program pelatihan yang diperuntukkan bagi instruktur universitas yang merupakan alumnus berbagai organisasi pelajar Islam. Pada 1974, DDII mengawali usaha yang lebih sistematik yang berbasis kampus yang disebut Bina Masjid Kampus. Kegiatan Latiham Mujahid Dakwah di Masjid Salman ITB merupakan realisasi dari usaha DDI

61

M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, h. 106

62

M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, h. 105-16

63

M. Imdadun Rahmat, Arus Baru Islam Radikal, h. 84

64

Harian Abadi adalah Koran yang pernah dimiliki Masyumi yang bersaing dengan Koran partai politik lainnya, Harian Rakyat miliki PKI, Suluh Indonesia milik PNI dan Pedoman milik PSI. Lihat Lance Castle dan Herbeth Feith, Pemikiran Politik Indonesia

(1945-1965), h. xxi-xxii

65

31

untuk menjadi kampus sebagai sasaran dakwah.66 Pada masa Natsir, DDII juga membantu pengembangan Masjid Arif Rahman Hakim UI Salemba dan melengkapinya dengan perpustakaan dan lembaga-lembaga dakwah.67 Untuk pesantren, orang-orang yang pernah difasilitasi DDII, seperti Yazid Jawas mendirikan lembaga dakwah dan pesantren Minhaj Al-Sunnah di Bogor. Bersama Abdul Hakim hingga sekarang ia mengasuh pengajian rutin Salafi di DDII dan mengembangkan pengajian di masjid-masjid. Sedangkan Farid Okbah menjadi direktur Al-Irsyad dan Ainul Haris mendirikan Nida’ Al-Islam di Surabaya. Abu Bakar M. Altwat memimpin Yayasan Al-Sofwah Jakarta dan Yusuf Usman Baisa mendirikan Pesantren Al-Irsyad.68

Dalam konteks gerakan Islam lokal yang sering melakukan kekerasan, persangkutan tokoh-tokoh Islam radikal beserta organisasinya masih memiliki hubungan yang kuat dengan DDII. Tokoh-tokoh DDII, seperti KH Husein Umar dan Dr. Anwar Haryono menggagas terbentuknya Gerakan

Reformis Islam (GARIS), yang dipimpin H. Chep Hernawan Dapet. Bahkan, dalam struktur GARIS, Abu Bakar Baasyir, KH Abdul Qodir Jaelani, Ahmad Sumargono, KH. Kholil Ridwan yang merupakan tokoh-tokoh DDII menjadi Dewan Syuro GARIS69. Di organ lain, ada Masyhadi, salah seorang mantan anggota DPR PKS dan juga mantan sekretaris Muhammad Roem dan Mohammad Natsir juga menjadi pendiri Forum Umat Islam70 Berikutnya, kelahiran Kongres Umat Islam Bekasi (KUIB) juga diawali dari dialog antara Ketua DDII Kota Bekasi dengan Salimin Dani dengan Ketua Lembaga Dakwah As-Syam Shalih Mangara Sitompul. Termasuk juga Pengurus DDII Kota Bekasi lainnya, seperti Bernard Abdul Jabbar, Agus Yuli, dan Abdul Kadir AKA71 Penetrasi yang kuat dari DDII di sejumlah daerah telah melahirkan banyak tokoh-tokoh penting gerakan radikalisme Islam di Indonesia, seperti GARIS, KUIB, dan FUI.

Dalam dokumen 110104-101222-radikalisme-agama-x (Halaman 35-38)