• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kewajiban Negara Melindungi Kebebasan

Dalam dokumen 110104-101222-radikalisme-agama-x (Halaman 163-168)

Implikasi & Masa Depan

1. Kewajiban Negara Melindungi Kebebasan

Sebelum membahas implikasi dari kemunculan organisasi-organisasi Islam radikal itu, terlebih dulu menghubungkan dan meletakkan kebebasan beragama atau berkeyakinan dalam prinsip kewajiban negara (obligation of

the state) sesuai dengan kerangka hak-hak manusia.321 Di satu sisi setiap orang atau kelompok orang berhak atas kebebasan itu tanpa mempersoalkan asal dan latarnya, namun di sisi lain negara berkewajiban untuk menghormati dan melindungi kebebasan beragama atau berkeyakinan orang atau kelompok orang terganggu.

Tidak terbantahkan bahwa dalam tubuh setiap orang mengandung organ saraf otak dan hati. Selain hubungannya dengan organ tubuh lainnya secara internal, setiap orang juga berhubungan dengan lingkungan alam dan sosialnya. Relasi semacam ini bukan saja sebagai bentuk interaksinya satu sama lain, namun juga sebagai bagian dari kebebasan dan proses kreatifnya dalam menghasilkan pikiran, menganut agama atau keyakinan. Kebebasan setiap orang dan relasinya dengan negara yang secara universal berlaku, ketika semua negara terikat di dalamnya.

Konsep hak-hak manusia menempatkan ketiga kebebasan itu sebagai kebebasan dasar (fundamental freedom). Karena kebebasan ini bersifat alamiah atau kodrati dan melekat pada diri (in itself) manusia, sehingga termasuk kebebasan yang tidak terenggutkan dan tidak bisa ditunda pemenuhannya (non-derogable), bersifat mutlak dan tidak dapat dikenakan pembatasan (limitation) atau pengekangan (restriction). Bahkan dalam keadaan perang atau darurat sekalipun. Tiga kebebasan ini terkandung

321

Hendardi, “Kebebasan Berpendapat dan Kewajiban Negara,” Suara Pembaruan, Senin, 18 Oktober 2004.

157

dalam Pasal 18 Deklarasi Universal Hak-hak Manusia (Unversal Declaration of Human Rights – UDHR):

Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, berhati nurani dan beragama; dalam hal ini termasuk kebebasan berganti agama atau keyakinan, dan kebebasan untuk menyatakan agama atau keyakinan dengan cara mengajarkannya, mempraktikkannya, melaksanakan ibadahnya dan mentaatinya, baik sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, di muka umum maupun sendiri.

Tiga kebebasan itu tidak hanya terkandung dalam deklarasi, namun juga dalam perjanjian atau konvensi internasional. Pasal 18 Ayat 1 Kovenan Internasional Hak-hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights – ICCPR) menyatakan ketentuan berikut:

Setiap orang berhak atas kebebasan berpikir, berkeyakinan dan beragama. Hak ini meliputi kebebasan untuk memeluk suatu agama atau keyakinan pilihannya sendiri, baik secara sendiri maupun bersama-sama dengan orang lain, secara terbuka atau tertutup, menjalankan agama atau keyakinannya dalam kegiatan beribadah, mentaati, mengamalkan dan pengajaran.

Dalam hukum hak-hak manusia internasional (international human rights

law) – sesuai dengan sifatnya – hanya mengikat terhadap negara.322 Dengan ikatan ini negara juga merupakan pemangku atas kewajiban umum (generic

obligation) untuk menghormati (obligation to respect), melindungi

(obligation to protect) dan memenuhi (obligation to fulfil) atas hak-hak manusia. Sebaliknya –karena subyek hukum hak-hak manusia adalah negara– tidaklah mengikat individu maupun badan-badan hukum swasta, karena mereka memang bukan anggota atau peserta/pihak dalam suatu perjanjian atau hukum hak-hak manusia.

Tabel berikut ini memberikan gambaran tentang hubungan hak-hak asasi manusia di satu sisi dengan kewajiban negara atas hak-hak itu di sisi lain. Pada saat mana negara menghormati hak-hak manusia tanpa campur tangan, pada saat mana pula negara berperan dan bertindak untuk melindungi, serta lebih aktif bertindak untuk memenuhi hak-hak asasi manusia bahkan dengan menggulirkan program sosial-ekonomi dan pendidikan.323

322

Javaid Rehman, International Human Rights Law: A Practical Approach, Harlow, England: Pearson Education Ltd, 2003.

323

Harry Wibowo, Pemantauan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan: Rancangan

158

Tabel 3: Kewajiban Umum Negara dalam Hak-hak Manusia

Sifat Menghormati Melindungi Memenuhi

Keberhakan (entitlement)

Negara tidak

melakukan tindakan yang dilarang atau bertentangan dengan norma-norma dan standar hak-hak manusiai

Secara khusus, negara melindungi kelompok tertentu yang rentan (anak, masyarakat adat, buruh) atau terdiskriminasi (perempuan, minoritas, non-WN) Negara mengambil langkah-langkah programatis yang diperlukan bagi terwujudnya hak-hak manusia Kebebasan (freedom) Negara menahan diri untuk tidak campur tangan (abstain) dalam dinikmatinya kebebasan asasi

Secara umum, negara menjamin agar hak-hak dan kebebasan dasar tidak dilanggar oleh pihak ketiga (melalui hukum dan peradilan)

Memajukan: Negara mengambil langkah-langkah edukatif agar kebebasan dasar ini tersosialisasikan

Sumber: Harry Wibowo, 2006

Kewajiban negara untuk menghormati berarti negara harus menahan diri atau tidak mengambil tindakan (abstain) yang dapat mengganggu implementasi hak-hak seseorang atau sekelompok orang, sehingga prinsip kewajiban ini bersifat negatif (negative obligation). Sedangkan untuk melindungi, negara melindungi hak-hak asasi manusia dari ancaman atau tindakan pihak ketiga (non-state) yang juga dikenal sebagai kewajiban positif (positive obligation). Kewajiban melindungi memerlukan peranan negara yang secara khusus tertuju pada kelompok yang terdiskriminasi, yakni kelompok minoritas agama atau keyakinan, namun secara umum untuk memastikan kebebasan kelompok-kelompok ini tidak dilanggar oleh pihak ketiga.324

Berbeda dengan kewajiban menghormati yang lebih bersifat pribadi (private), sebaliknya kewajiban melindungi oleh negara karena realitasnya berada pada ruang sosial (public) di mana berlangsung interaksi antarkelompok yang beranekaragam pandangan, agama atau keyakinan, bahkan kepentingan. Peran atau campur tangan negara dibatasi lebih untuk ditujukan bagi perlindungan kelompok rentan –dalam isu yang dibahas adalah kelompok minoritas agama atau keyakinan– dari diskriminasi dan intoleransi. Batas campur tangan negara juga –bila terjadi peristiwa pelanggaran– untuk memproses pelaku lewat hukum dan peradilan.325 Batas

324

Harry Wibowo, Ibid., hal. 7.

325

159

campur tangan negara untuk melindungi dapat dilihat dalam gambar di bawah ini.

Gambar 1:

Hak-hak Asasi Manusia, Kebebasan, Keberhakan dan Kewajiban Negara

Sumber: Harry Wibowo, 2006

Prinsip kewajiban untuk menghormati bertujuan supaya kebebasan/ kemerdekaan (freedom/liberty) dapat dinikmati setiap orang. Campur tangan (intervention) negara justru dapat mengakibatkan kebebasan/ kemerdekaan seseorang atau sekelompok orang menjadi terganggu. Sebaliknya, kewajiban untuk melindungi bertujuan supaya dapat dicapai keadilan/ kesetaraan (justice/ equality). Campur tangan negara diperlukan untuk melindungi kebebasan seseorang dari ancaman pihak lain. Campur tangan negara juga semakin dibutuhkan ketika pelanggaran hukum atau perbuatan kriminal sudah terjadi supaya keadilan (hukum) ditegakkan tanpa diskriminasi.

Mengapa diperlukan kewajiban melindungi? Pertama, dalam masyarakat terdapat kelompok rentan dan terdiskriminasi. Mereka bisa menjadi sasaran korban eksploitasi dan diskriminasi atau intoleransi. Melindungi berarti negara mencegah hal itu terjadi. Kedua, pada tindakan tertentu, seseorang yang didasarkan baik atas kepentingan ataupun pandangan, dapat bertindak melanggar hukum. Respon atas pelanggaran ini negara harus berperan untuk mengusut dan memproses pelaku sesuai hukum lewat

HAK

Keberhakan Kebebasan Individual Sosial

K

E

W

A

J

I

B

A

N

Menghormati Melindungi Memenuhi

160

peradilan. Kewajiban melindungi kebebasan setiap orang memang diasumsikan bisa terjadi ancaman dari pihak ketiga yang menimbulkan pelanggaran karena efek horizontal (horizontal effects of the human rights) bila negara tidak berbuat untuk mencegah ancaman, atau tidak memproses peristiwa pelanggaran hukum.326

Pelanggaran atas kebebasan beragama atau berkeyakinan sebagai efek horizontal memang sangat dimungkinkan bila suatu pandangan atau aliran dalam kelompok agama tidak mengindahkan, terlebih lagi termotivasi atau terprovokasi untuk – dengan keras – menolak atau menentang norma hak asasi manusia. Tabel di bawah menjelaskan perbedaan perspektif hak-hak manusia yang sudah menjadi kesepakatan umum negara-negara anggota PBB dengan perspektif yang diekspresikan beberapa organisasi Islam radikal.

Tabel 4: Perspektif HAM dan Islam Radikal tentang Kebebasan Beragama/ Berkeyakinan

No Elemen Perspektif HAM Perspektif Islam Radikal

1 Kerangka Hukum Kebebasan kodrati, melekat (in itself), tidak terenggutkan (mutlak)

Penegakan syariat Islam untuk memurnikan dan menjaga aqidah dari pengaruh lain 2 Memilih/mengan

ut agama atau keyakinan

Seseorang tidak boleh dipaksa untuk memilih agama atau keyakinan

Di luar alirannya,

dipandang sesat dan harus di-Islam-kan

3 Pembatasan kebebasan

Bersifat publik, dapat dikenai pembatasan oleh hukum (UU) untuk melindungi keamanan, kesehatan dan moral umum, atau melindungi hak-hak orang lain

Aqidah sedang terancam, harus turun tangan

4 Kesetaraan Seseorang tidak boleh dijadikan sasaran diskriminasi

Identitas sebagai kelompok yang mewakili mayoritas, “berhak” campur tangan atau mengesampingkan kelompok lain

5 Legislasi dan regulasi

Negara harus menghapus diskriminasi, mencabut UU dan kebijakan yang diskriminatif, serta

Mendesakkan UU, kebijakan dan Perda yang sesuai dengan syariat Islam

326

Gavin Phillipson, “The Human Rights Act, 'Horizontal Effect' and the Common Law: A Bang or a Whimper?” The Modern Law Review, Vol. 62, No. 6, November 1999, hal. 824-849.

161

Tabel 4: Perspektif HAM dan Islam Radikal tentang Kebebasan Beragama/ Berkeyakinan

No Elemen Perspektif HAM Perspektif Islam Radikal

melarang diskriminasi dalam bentuk apa pun 6 Tempat ibadah Boleh didirikan untuk

tujuan beribadah atau berkumpul, amal atau kemanusiaan, memelihara benda dan material untuk ritual atau adat istiadat, pengajaran, menyebarkan tulisan, mengumpulkan sumbangan, komunikasi, melatih dan memilih calon pimpinan

Didirikan di lingkungan komunitas Islam atau sedikit jumlah komunitas agama lain ditentang karena sebagai ancaman pemurtadan

7 Perlindungan atas anak

Kepentingan terbaik bagi anak berdasarkan

harapannya, dilindungi dari segala bentuk diskriminasi atas dasar agama atau keyakinan

Anak dipandang sebagai “obyek” pemurtadan

8 Pendidikan untuk anak

Berhak atas pengajaran agama atau keyakinan, tidak boleh dipaksa menerima ajaran agama atau keyakinan yang berlawanan dengan harapan-harapan orang tuanya atau wali hukumnya

Mendesakkan pengajaran agama untuk menjadi pribadi yang taqwa dan akhlakul kharimah

Sumber: Dokumentasi SETARA Institute

Dalam dokumen 110104-101222-radikalisme-agama-x (Halaman 163-168)