• Tidak ada hasil yang ditemukan

Salim Badjri

Dalam dokumen 110104-101222-radikalisme-agama-x (Halaman 90-95)

RAGAM WAJAH SATU CITA-CITA

E. Salim Badjri

Salim Badjri adalah ketua umum FUI (Forum Ukhuwah Islamiyah) Cirebon. Inilah ormas Islam radikal yang paling aktif di Cirebon. Berbagai aksi yang dilakukan FUI kerap menyita perhatian publik Cirebon, mulai dari sweeping

109Wawancara Cianjur, Novermber 2010 110Wawancara Garut, Oktober 2010 111Wawancara Garut, Oktober 2010 112Wawancara Garut, Oktober 2010

84

anti maksiat, membubarkan kebaktian gereja hingga menolak Anisa Bahar, penyanyi dangdut, manggung di Cirebon. Dialah mungkin satu-satunya Profesor yang memimpin ormas radikal. Dia memang pengajar di STAIN Cirebon dan dikenal sebagai ahli hadis.113

Lelaki keturunan Arab ini lahir di Cirebon, 10 Februari 1963. Sejak muda dia aktif di Al Irsyad Al Islamiyah, sebuah ormas Islam beraliran Islam modernis yang anggotanya kebanyakan keturunan Arab non Habaib. Ia bahkan sempat menjadi ketua Al Irsyad Cirebon selama hampir 15 tahun.114 Sejak tahun 90-an dia dikenal sebagai mubaligh yang cukup keras. Dia sering mengisi pengajian-pengajian mingguan yang diadakan di Majlis Ta’lim Syarif Hidayatullah yang dipusatkan di daerah Pasar Gunung Sari, Jl. Cipto Mangunkusumo Kota Cirebon (sekarang di depan Grage Mall) atau disebut juga dengan pengajian Yukeng (nama Pengelolanya) yang juga sering mengundang para mubalig keras seperti Habib Idrus Jamalullail, Habib Riziq Shihab, A.M. Fatwa, Syarifin Maloko, termasuk Prof. Dr. Salim Badjrie. Kegiatan pengajian ini kemudian berakhir pada 2001.115

Sebelum mendirikan FUI Salim Bajri sudah aktif melakukan berbagai aksi memberantas kemaksiatan di Cirebon seperti mensweeping hotel-hotel, diskotik, warung remang-remang dan lain-lain. FUI sendiri baru berdiri pada 2004. Alasannya pendiriannya karena kemaksiatan makin marak di Cirebon dan juga untuk menghadapi aksi kristenisasi yang dilakukan oleh kelompok Kristen neo Pantekosta. FUI adalah organisasi lintas ormas Islam. Dimana di dalamnya bergabung berbagai ormas Islam lainnya seperti FPI, Persis, GAMAS (Gerakan Anti Maksiat) dll. Di bawah kepemimpinan Salim Bajri, FUI dengan segera menjadi ormas Islam radikal yang cukup diperhitungkan di Cirebon. Hal ini tak bisa dilepaskan dari berbagai aksi-aksinya memberantas kemaksiatan di Cirebon.116

Salim Bajri sendiri dikenal punya hubungan yang luas dengan berbagai tokoh Islam. Dia dikenal dekat dengan PKS, bahkan rumahnya kerap dijaga oleh anggota kepanduan PKS. Tak hanya itu, dia juga dekat dengan orang-orang MMI. Dia salah satu deklalator MMI Cirebon pada 2001. Dia juga sempat duduk menjadi anggota Dewan Pakar Majelis Mujahidin.117 Hubungannya dengan para kyai tradisionalis juga cukup baik. Misalnya dia berkawan akrab dengan KH. Mahtum Hanan dari Pesantren Babakan Ciwaringin.118

113

Sabili, Tak Ada Kompromi Dengan Maksiat, No 18 Th. XII 24 Maret 2005

114

Sabili, Tak Ada Kompromi Dengan Maksiat, No 18 Th. XII 24 Maret 2005

115

Wawancara Cirebon, November 2010

116

Wawancara Cirebon, November 2010

117

Sabili, Tak Ada Kompromi Dengan Maksiat, No 18 Th. XII 24 Maret 2005

118

85

Tak hanya itu, Salim Bajri juga punya hubungan luas dengan para tokoh Islam garis keras di berbagai daerah. Pada 2005, dia berhasil mengundang berbagai ulama dari hampir seluruh wilayah Jawa Barat. Sebagian besar dari mereka adalah para tokoh-tokoh Islam yang selama ini dikenal radikal seperti Fauzan Al Anshari, saat itu tokoh MMI, Kyai Qudsi Nawawi, ketua LP3Syi Garut dan lain-lain. Dalam pertemuan itu berhasil disepakati pembentukan Forum Ulama Islam (FUI) Jawa Barat. Di organisasi baru ini Salim Bajri terpilih sebagai Sekretaris Umum. Sementara itu ketuanya dipimpin oleh KH. Qudsi Nawawi, tokoh LP3Syi Garut. 119

II. Basis Masa

Salahsatu basis masa dari berbagai ormas radikal ini adalah pesantren. Fenomena ini banyak terjadi di Jawa Barat. Contohnya di Cianjur. GARIS selain merekrut para mantan preman juga merekrut santri-santri di berbagai pesantren di Cianjur untuk bergabung dengan GARIS. Misalnya pesantren Darul Alam dan pesantren Ashabul Yamin. Keterlibatan pesantren-pesantren ini disebabkan para pimpinannnya dekat dengan H. Chep Hernawan. Misalnya ustadz Muhammad Hardiman Nawate, pimpinan Darul Aman dan Dadin Jamaludin, salah satu pimpinan Ashabul Yamin adalah pengurus GARIS.120 Para pimpinan dan santri-santri dari pesantren ini juga terlibat dalam berbagai aksi kekerasan yang dilakukan organisasi ini. Misalnya kasus penyerangan kampung-kampung Ahmadiyah di Cianjur pada September 2010 juga melibatkan para pimpinan pesantren dan santri-santrinya. Akibatnya ustadz Muhammad Hardiman beserta 34 santri sempat ditangkap polisi.121

Hal serupa terjadi di Tasikmalaya. Pesantren Al-Irsyadiyah dan pesantren Miftahul Huda menjadi basis kelompok Tholiban. Keterlibatan para santri di kedua pesantren ini disebabkan karena pimpinan kedua pesantren ini yaitu Ajengan Zenzen dari Al Irsyadiah dan Ajengan Asep Mausul dari Miftahul Huda adalah pimpinan Tholiban. Untuk kasus Miftahul Huda memang bisa dimengerti kenapa pesantren ini menjadi basis kelompok radikal. Pasalnya pesantren ini didirikan oleh KH. Choer Affandi yang mantan tentara Darul Islam, dan DI merupakan salah satu akar utama radikalisme Islam di Jawa Barat.

Pesantren juga menjadi salah satu basis masa kelompok radikal di Garut. Setidaknya ada dua pesantren yang jadi basis masa kelompok LP3Syi (Lembaga Pengkajian Penegakan dan Penerapan Syari'at Islam) yaitu

119

Pikiran Rakyat, Pemerintah Diminta Tegas Soal Maksiat, 5 Mei 2005

120

Wawancara Cianjur, Oktober 2010

121

86

pesantren Cipanas serta pesantren Suci. Hal ini disebabkan dua tokoh ormas ini adalah pimpinan kedua pesantren. Ajengan Saeful Tamam adalah pimpinan pesantren Cipanas, Garut sedangkan Ajengan Qudsi Nawawi dari Pesantren Suci.

Tak berbeda dengan Jawa Barat, di Jakarta pun pesantren ada yang menjadi basis kelompok radikal. Misalnya pesantren Al Um, di Ciputat. Santri-santrinya kerapkali ikut aksi-aksi FPI. Ini juga disebabkan karena pimpinan pesantrennya KH. Misbahul Alam adalah pendiri ormas Islam ini.

Basis masa lainnya adalah majelis-majelis taklim yang dikelola para ustadz atau habaib yang jadi tokoh ormas radikal. Misalnya majelis taklim Mesjid Al Ishlah Petamburan menjadi basis kelompok FPI. Seminggu dua kali anggota FPI di Jakarta rajin ikut pengajian yang dipimpin para tokoh FPI termasuk Habib Rizieq Syihab. Ada lagi majelis taklim Anwarul Hidayat pimpinan Habib Muchsin Alatas yang juga jadi basis masa FPI. Hal ini terjadi karena Habib Muchsin sendiri adalah ketua bidang dakwah FPI. Majelis taklim lainnya adalah Mahabbaturrasul pimpinan Habib Salim bin Umar Al Attas. Anggota pengajiannya banyak datang dari kalangan preman yang direkrut oleh Habib Salim sebagai anggota Laskar Aswaja. Laskar Aswaja ini sering ikut demo dengan FUI dan FPI.122

III. REKRUTMEN ANGGOTA

Ada kesamaan di antara ormas-ormas radikal dalam hal rekrutmen anggota. Khususnya ormas yang punya keanggotaan individu seperti FPI, GARIS dan lain-lain. Pada dasarnya proses rekrutmennya relatif longgar, siapa saja bisa menjadi anggota. Caranya juga gampang, asal ikut beberapa kali pengajian-pengajian yang diadakan ormas-ormas tersebut, maka ia sudah bisa jadi anggota.123

Contoh kasus FPI. Seseorang yang ingin menjadi anggota FPI bisa langsung ikut berbagai kegiatan yang diadakan oleh FPI seperti pengajian rutin yang diadakan Habib Rizieq di masjid Jami Al Islah Petamburan setiap hari Rabu atau pengajian di rumah Habib Rizieq pada Kamis malam. Setelah itu cukup minta rekomendasi dari pengurus atau aktivis FPI yang lainnya maka dia langsung bisa menjadi anggota FPI. Contohnya Topik Hidayat, anggota FPI asal Cempaka Putih. Lelaki lulusan SD ini mengatakan dia jadi anggota FPI setelah tiga kali ikut pengajian Habib Rizieq di Mesjid Al Ishlah. Setelah itu

122Suara Islam, Dakwah Merangkul Preman dan Pemabuk, Edisi 46, 20 Juni-3 Juli 2008

123Wawancara anggota GARIS, Cianjur, Oktober 2010. Diskusi dengan anggota FPI, Jakarta, Oktober 2010

87

pada Maret 2008 dia masuk jadi anggota FPI. Mayoritas proses rekrutmen yang terjadi di FPI melalui jalur semacam ini.124

Selain lewat jalur tadi, FPI juga kadang melakukan rekrutmen melalui jalur formal. Secara insidentil FPI membuka pendaftaran anggota. Mereka mengedarkan formulir ke mesjid-mesjid dan majelis taklim. Orang yang berminat bisa mengisi formulir pendaftaran dan kemudian mengikuti test mengaji dan wawancara seputar pengetahuan dasar keislaman seperti rukun islam, rukun iman, syahadat. Test dan wawancara ini bukan sebagai alat seleksi tapi untuk mengetahui taraf pemahaman dan pengetahuan keislaman. Namun rekrutmen formal ini tidak dilakukan secara reguler. Kadang dilaksanakan setahun sekali, setahun dua kali, kadang setahun tidak dilakukan sama sekali. 125

Menjadi anggota ormas radikal tak hanya gampang masuk tapi juga gampang keluar. Anggotanya bisa keluar kapan saja dan tak perlu bilang-bilang. Mereka yang keluar pun tak akan dikenakan sanksi. Pada dasarnya ketika ia sudah tidak aktif lagi dia dianggap sudah tak jadi anggota lagi.126 Model rekruitmen sebagaimana terjadi di FPI tidak jauh berbeda dengan yang terjadi di ormas lainnya. Khusus organisasi yang basis massanya adalah pesantren, umumnya tanpa melalui proses administrasi santri-santri tersebut telah menjadi anggota.

IV. Dana

Ada beragam sumber dana ormas Islam radikal. Ada yang berasal dari uang pribadi ketuanya, sumbangan dari pihak luar dan juga unit usaha yang dirintis oleh ormas radikal itu sendiri. Misalnya untuk kasus GARIS, hampir semua dana operasionalnya dibiayai dari uang pribadi H. Chep Hernawan dan keluarganya. Hal ini memungkinkan dilakukan karena Ketua GARIS ini adalah pengusaha sukses di Cianjur. Dia punya usaha produksi kantong plastik, bisnis properti dan juga distribusi beras Cianjur. Zakat dan infaq dari keluarganya juga kerap digunakan untuk kegiatan GARIS.127

Sementara itu, FPI sering menerima bantuan dana dari pihak luar untuk membiayai aksi unjuk rasa mereka. Contohnya, ketika mereka melakukan unjuk rasa di depan Kedutaan Besar Amerika di Jakarta pada Oktober 2001.

124

Berita Acara Pemeriksaan Topik Hidayat bin Sanwani, Polda Metro Jaya, 8 Juni 2008

125Al Zastrouw Ng, Gerakan Islam Simbolik, 2006, LKI Yogyakarta.

126

Wawancara anggota GARIS, Cianjur, Oktober 2010. Diskusi dengan anggota FPI, Jakarta, Oktober 2010

127

88

Selama dua hari masa FPI melakukan protes terhadap serangan Amerika ke Afghnistan. FPI mengakui bahwa aksi itu juga dibiyai oleh pihak di luar FPI yang setuju dengan agenda aksi ini.128 Selain itu FPI juga berusaha untuk membuka lembaga usaha. Misalnya FPI Cabang Pancoran Mas Depok membuka BMT Al Kautsar di daerah Pancoran Mas.129 Selain beberapa cabang juga mengusahakan uang iuran anggota yang jumlahnya sebenarnya tidak banyak sekitar Rp. 1000 perbulan. Tak hanya itu, FPI juga memperoleh pemasukan dari penjualan seragam serta atribut-atributnya.130

Lain lagi dengan FUI. Selain menerima sumbangan dari pihak luar, ormas radikal ini yang relatif lumayan serius mencoba membuka unit usaha sebagai sumber dana organisasi. Ada beberapa unit usaha yang dikembangkan oleh ormas radikal ini. Di antaranya adalah tabloid Suara Islam dan Suara Islam online. Dananya dari pengusaha yang simpatik dengan FUI seperti Tabrani Syabirin, yang juga anggota DPR dari Partai Gerinda. Selain dari penjualan tabloid, mereka mendapatkan uang dari pemasangan iklan. Kedua media ini mulai menarik pemasang iklan. Contohnya Suara Islam edisi terbaru No. 103 17 Desember-7 Januari 2011 ada beberapa produk yang pasang iklan di antaranya bio additive Octane N serta Es Pisang Hijau. Begitu juga suara Islam online menarik beberapa pemasang iklan seperti Es Pisang Hijau dan Bakso Qolbu, Java Tour & Travel. Bahkan dengan Java Tour, FUI kini mengadakan kerjasama pelaksanaan ibadah umroh dan haji. 131 Selain itu, FUI juga punya khilafah center yang banyak memasarkan produk buku-buku Islam.

V. Aliran dan Doktrin Ajaran

Dalam dokumen 110104-101222-radikalisme-agama-x (Halaman 90-95)