• Tidak ada hasil yang ditemukan

REKONSTRUKSI IDENTITAS

D. Rekonstruksi identitas

2. Dari Diri ke Masyarakat

Sebagaimana dijelaskan Giddens, pengaruh globalisasi terhadap individu tidak

berarti individu hanya bersifat pasif. Melalui proses refleksitas menegaskan bahwa

dalam kehidupan modern individu dan segenap tindakannya mempengaruhi sistem

sosial yang lebih luas. Giddens mengatakan:

“The day-to-day activities of an individual today are globally consequential. My decision to purchase a particular item of clothing, for example, or a specific type of foodstuff, has manifold implications‟,namely an „extraordinary, and still accelerating, connectedness between everyday decisions and global outcomes”(1994: 57–8).

Dengan demikian, bergabung dengan MTA yang penuh aturan tidak berarti

membuat individu tidak berdaya karena hilangnya kebebasan mereka. Sebaliknya

bergabung dengan MTA memiliki dua tujuan. Pertama, memperbaiki diri sendiri

175

memperbaiki moral masyarakat agar sesuai dengan kedua sumber hukum tersebut.

Hal ini disampaikan oleh Sudipo:

Ditegakkan pengajian itu membenahi akhlak. Karena kalau tayangan televisi, kejahatan, anak membunuh orang tua orang tua membunuh anak istri dibunuh itu kalau akhlak tidak dibenahi apa bisa menjadi baik. Maka untuk membenahi dari MTA warganya dulu digembleng supaya akhlak menjadi baik. Karena kalau suatu negara kalau rakyatnya akhlaknya baik negaranya juga baik. Maka MTA itu istilahnya membangun akhlak itu dari dasar bukan dari atas. Dari bawah dulu kita benahi dari akar rumput. 199

Memperbaiki diri dan masyarakat dengan sendirinya mengandaikan adanya

dunia yang terpisah, yaitu dunia yang dibangun atas dasar hukum Al Quran dan Sunah

dan masyarakat umum yang belum mengamalkan Islam secara Kaffah. Dalam

konteks dusun Bangkerep, warga MTA Bangkerep menganggap bahwa kehidupan

mereka dipisahkan oleh aturan MTA yang juga aturan Islam dengan kehidupan warga

dusun yang masih mengamalkan tradisi lokal atau mereka yang masih menjalankan

tindakan yang menjerumus pada kemaksiatan dan dosa. Selain itu bagi warga MTA,

dunia luar juga dianggap penuh kejahatan dan bahaya yang akan merusak keutuhan

dunia internal tempat mereka berada. Hal ini disampaikan Suradi:

“Setan akan senantiasa berusaha mengajak manusia semuanya untuk mengikuti jalannya. Kalau kita kembali pada kenyataan di zaman sekarang ini seolah-olah kita dikerumuni oleh tentara tentara musuh yang sangat luar biasa dari kanan kiri depan belakang musuh yaitu setan-setan yang senantiasa memerangi kita yang senantiasa melawan kita karena kita menyampaikan kebenaran, karena senantiasa berpegang pada kebenaran. Siapa saja yang berpegang pada kebenaran maka setan setan sangat luar biasa berusaha melawan.” 200

199

Terjemahan wawancara dengan Sudipo, 27 Juni 2012

200

176

Menghadapi dunia yang kacau, maka bagi individu harus bersikap aktif

membuat perubahan, yakni berupaya menjadikan hukum Islam sebagai landasan

dalam kehidupan sehari-hari masyarakat dan individu. Dengan kata lain, bergabung

dengan MTA adalah upaya untuk mengubah diri sendiri dan selanjutnya membuat

perubahan di masyarakat agar mau mengamalkan ajaran dan hukum Islam. Menurut

Suradi:

“Harapan kita itu mengamalkan Islam karena hukum yang sebenarnya itu kan hukum Allah. Allah kan yang memiliki bumi ini dan menciptakan seisinya. Yang punya wewenang untuk mengatur atau membuat kebijakan hukum. Lha saat sekarang ini umat Islam kalau kita lihat sejarah selesai masa keemasan seolah hukum Islam tidak pernah disentuh dan tidak pernah dipakai oleh umat Islam karena ditutup-tutupi oleh hukum-hukum manusia. Harapan kita bagaimana ke depan itu orang melihat bahwa hanya hukum Allah lah yang bisa membuat manusia itu baik. Dunia ini baik. Tapi secara sadar. Kalau ada sekelompok saudara itu pakai kekerasan maka kita tidak. Kalau MTA memang dituntut untuk mengamalkan hukum Allah itu secara pribadi di keluarga, kelompok pengajian nanti berkembang pada manusia memberi contoh pada masyarakat dan sebagainya.”201

Namun berbeda dengan kelompok keagamaan lain, upaya MTA agar hukum

Islam bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat tidak dilakukan

dengan cara kekerasan seperti organisasi lainnya. Bagi MTA yang paling utama

adalah memulai dari individu dan kemudian menjalar ke keluarga dan masyarakat

yang lebih luas. Menurut Suradi:

201

177

“Nah bagaimana manusia di suatu negara katakanlah Indonesia ini yang mayoritas Islam menyadarkan mereka dalam artian mereka mau cinta pada hukum yang ada pada dirinya sendiri. Hukum Islam itu sendiri secara sadar. Sebagaimana Rosululloh pada awalnya di dalam menyampaikan kebenaran itu juga akarnya mengajak dari orang per orang, keluarga. Maka itu yang kita harapkan hukum Islam itu bisa diamalkan dicintai oleh umat Islam tanpa paksaan MTA itu kita tidak seperti organisasi lain. Dengan kekerasan atau apa. Yang penting kita memberi contoh yang positif. Baik sikap perbuatan yang istilahnya sosial kemasyarakatan.”202

E. Konsekuensi

Bagi warga MTA, rekonstruksi identitas dan pencarian stabilitas atau

keamanan ontologis bukannya tanpa konsekuensi. Stabilitas yang mereka terima dari

organisasi juga memberi dampak yang harus mereka alami ketika memilih bergabung

dengan MTA. Konsekuensi-konsekuensi yang diterima oleh warga yang bergabung

dengan MTA tersebut mengacu pada tindakan dan proses yang mereka alami baik

selama menjadi warga MTA sekaligus dalam posisi mereka sebagai warga dusun

dengan karakteristik dan kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Dengan kata

lain, berlaku proses refleksifitas yang terus menerus dilakukan oleh warga yang

bergabung dengan MTA terkait dengan semua tindakan yang dia lakukan.

1. Kedisiplinan

Dengan menjadi anggota MTA, seorang warga dusun Bangkerep harus siap

menjalani kehidupan sehari-hari dalam aturan yang ketat yang dikeluarkan pimpinan

MTA pusat. Selain mengatur soal praktek dan tata cara keagamaan, warga MTA juga

202

178

diharuskan hidup dalam aturan-aturan yang terkait dengan pergaulan, berpakaian,

berkeluarga, mata pencaharian dan sebagainya. Bagi warga MTA, kedisiplinan yang

mengekang kebebasan mereka dianggap sebagai konsekuensi dari pilihan mereka.

Paiman mengaku tertarik dengan MTA justru karena kedisiplinan organisasi

yang menurutnya tidak ada di organisasi lain. Sementara di MTA dituntut untuk

mempraktekkan dengan konsekuensi yang cukup berat, seperti dikucilkan. Juga harus

mengaji dan jika tidak mengaji akan dikeluarkan. Paiman mengatakan:

“Kalo saya sudah mengaji di tempat-tempat lain. Tapi menurut saya sendiri saya rasakan sendiri kurang begitu mantap. Kurang begitu cocok. Masalahnya kalau di tempat-empat lain itu ngaji ya cuma ngaji saja. Tidak ada peraturan-peraturan yang harus begini-begini ndak ada. Pokoknya ngaji ya cuma kumpul-kumpul.”203

Hal yang sama dikemukakan oleh Suyatno. Ia mengaku tertarik mengaji di

MTA karena kedisiplinan dalam pengamalan, terutama amalan yang sudah menjadi

kebiasaan warga dusun. Ia mengatakan:

“Dalam Islam nabi (Muhammad) sendiri bersabda kutinggalkan dua perkara padamu yang dengan itu kamu tidak akan tersesat jika berpegang pada keduanya yaitu Quran Sunah. Dari dulu kan saya sudah kenal hadits itu. Dari Muhammadiyah dari acuan MTA yang semacam itu akhirnya saya ikuti terus. Islam itu yang ditinggalkan yang diajarkan hanya dua perkara tadi. Ya memang jadi orang Islam mau tidak mau harus dipaksa cocok dengan Quran dan Sunah. Kalau kita mau mengikuti Islam dalam Quran mengikutilah Islam secara keseluruhan mau ndak mau kita harus mengikuti apa yang dikatakan Quran apa yang dikatakan Sunah. Prinsip saya seperti itu.”204

203

Wawancara dengan Paiman, 28 Juni 2012

204

179

Sementara bagi Susilo, ia sejak awal tidak tertarik mengikuti berbagai

kegiatan ritual dusun. Ia mengatakan:

Bedanya kalau di MTA itu banyak larangannya. Saya memang tidak senang hura-hura, tidak seneng rame-rame. Kalau melihat tontonan sama mas Suradi tidak boleh. Kata mas Suradi jangan senang begitu, tidak baik. Kalau pas ada barongan saat peringatan 17 agustus ya tidak boleh. Terus disamping itu juga sedekah bumi. Tadi saya katakan bapak saya setiap menyuruh (ikut kenduri) saya menghilang kemana, main. Lha kok di sini di MTA kok malah ora entuk. Makanya saya senang.205

Sistem hirarkis yang mengontrol segenap aspek kehidupan warga tidak

dipandang sebagai sesuatu yang membatasi kebebasan diri, melainkan mampu

menciptakan stabilitas di tengah ketidakpastian hidup. Kedisiplinan tidak dipandang

sebagai hal yang memberatkan, melainkan sebagai alat meneguhkan identitas diri

yang berbeda dari yang lain.

Salah satu aturan kedisiplinan adalah harus mengikuti kegiatan pengajian dan

jika berhalangan hadir harus menyampaikan surat ijin. Sistem ini diberlakukan oleh

pimpinan MTA dengan cara mewajibkan anggota untuk mengisi daftar hadir. Jika

seorang anggota tidak hadir berturut-berturut. Menurut Suradi, aturan absen pada

dasarnya adalah untuk mengontrol dan benar-benar berkomitmen dengan MTA.

Menurut Suradi:

“Adanya daftar hadir itu biar tertib. Biasanya pengajian-pengajian itu kan tidak terdaftar sehingga masuk dan tidak masuknya tidak terdata. Maka kita titik beratnya pada keistiqomahan. Seperti barisan. Diatur rapi. Nah diatur rapi itu kalau kita belum rapi dalam mengatur nanti

205

180

ada salah satu yang keluar dari barusan atau membuat gaduh dalam barusan kita akan mudah mengetahuinya. Siapa yang membuat gaduh. Siapa yang keluar barusan. Siapa yang merusak barisan. Keluar dari barisan itu karena dia tidak taju atau karena dia sengaja mau memecah barisan. Itu kalau kita ada daftar hadir.”206

Begitu juga dengan konsekuensi jika melanggar aturan bisa dikeluarkan dari

MTA. Menurut Parwanto apa yang menjadi aturan MTA adalah kebijakan yang

dilandaskan pada aturan hukum Islam. Menurut Parwanto:

“Soal dikeluarkan itu karena sudah melanggar norma. Sudah berat. Kalau cuma tidak masuk tapi ijin gak papa. Masih bisa ditolerir. Kalau sakit ijin tidak masalah. Tapi kalau sudah dikeluarkan itu karena sudah tidak mematuhi garis dari MTA. Pokoknya garis dari MTA itu ya dari Islam itu sendiri. Bukan terus MTA punya hukum. Tapi hukum yang dipakai MTA itu dari Islam. Al Quran dan Sunah. Melenceng dari Quran dan Sunah ditegur sekali atau dua kali tetap tidak sadar akhirnya nanti seperti itu akan merusak ke dalam.”207

Menurut Suradi, orang yang dikeluarkan adalah karena mereka tidak

berkomitmen dengan aturan MTA:

“Itu tidak mengamalkan hasil kajiannya. Kalau orang lain itu sebabnya karena belum tahu. Tapi kalau ini kan sudah tahu tapi nekad. Nekad itu berarti suka seperti itu. Kalau memang tidak suka berarti tidak suka pada pengajian. Lha apa yang kamu suka itu yang kamu lakukan. Kita memberi kemerdekaan. Tapi jangan sampai nekad ikut bergabung ke komunitas kita tapi perilakumu keluar dari ketentuan yang sudah ada.

Itu berarti kamu datang itu untuk merusak.”208

Sanksi pelanggaran ini pada dasarnya sangat berat mengingat berhubungan

dengan konsekuensi lainnya yang lebih besar yakni terjadi benturan dengan keyakinan

206

Wawancara dengan Suradi, 26 April 2012

207

Wawancara dengan Parwanto, 29 Juni 2012

208

181

serta praktek adat istiadat yang masih dilakukan warga dusun lainnya yang berujung

pada konflik terbuka. Ketika seorang warga dusun Bangkerep memutuskan bergabung

dengan MTA biasanya ia tidak memiliki ruang lagi di komunitas dusun, maka jika ia

melakukan pelanggaran dan dikeluarkan dari organisasi MTA maka akan susah

baginya untuk berintegrasi kembali di masyarakat.

Meski demikian konflik justru dianggap sebagai sarana perekat solidaritas

yang meneguhkan stabilitas dan identitas mereka. Konflik dianggap sebagai

konsekuensi dalam upaya mencari stabilitas. Menurut Suprih:

“Justru dengan adanya itu (konflik) dari warga tambah mantap.

Tambah semangat perjuangannya. Lebih semangat kalau ada rintangan.Ibaratnya bumbu untuk memupuk keimanan. Mungkin kalau

tidak dengan cara itu pengamalannya biasa saja”.209

2. Keuangan

Banyaknya kegiatan yang harus diikuti warga MTA di Bangkerep tentu

membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika melihat bahwa mayoritas dari

mereka adalah buruh tani atau pedagang kecil dengan penghasilan yang tidak

menentu.

Pengeluaran terbesar biasanya adalah transportasi untuk mengikuti pengajian

baik Jihad Pagi atau pengajian peresmian cabang di tempat lain. Di Bangkerep, warga

MTA harus mengikuti kegiatan rutin pengajian Selasa, sementara Jumat siang mereka

ke Surakarta sampai malam hari, kemudian hari minggu mengikuti pengajian Ahad

209

182

Pagi ke Surakarta. Sementara bagi Ustadz Suradi dan Suwanto jadual mereka lebih

padat dari anggota lainnya. Selain itu, pihak MTA pusat juga sering mengadakan

kegiatan yang membutuhkan dana yang berasal dari infaq (iuran yang tidak wajib)

warga MTA di seluruh Indonesia. Misalnya pengadaan AC, stasiun televisi dan radio,

dan infaq lainnya yang meski tidak wajib namun selalu ditekankan sebagai suatu jihad fi sabilillah atau berjuang di jalan Allah khususnya dengan harta.

Bagi warga MTA, berbagai kegiatan dan dana yang tidak sedikit merupakan

bagian dari perjuangan dalam upaya menjalani Islam secara murni. Menurut Wakidi,

semuanya dijalankan dengan ikhlas, karena rejeki sudah ada yang mengatur yaitu

Allah. Seperti dikatakan oleh Suprih, biaya yang dikeluarkan merupakan suatu

kebanggan tersendiri:

“Kalau sekiranya di dalam hati itu senang dengan Fisabilillah tidak ada rasa seperti itu. Kalau mendengar himbauan dari pimpinan pusat untuk pembangunan atau hal-hal yang berkaitan dengan kegiatan itu

justru senang ada kebanggaan tersendiri.”210

Hal yang sama dikemukakan oleh Suyatno bahwa apa yang selama ini menjadi

aturan dari MTA adalah bagian dari ibadah:

Dasarnya ya itu. Kata Ustadz Ahmad Sukina segala aktifitas yang ada hubungannya dengan kegiatan pengajian dengan ibadah yang langsung dengan Allah itu kita mencari ridlonya Allah. Kita berusaha untuk

Lillahi. Jadi biar hati kita itu meninggalkan yang menjadi keseharian itu menjadi ringan. Jadi ndak ada wah pergi lagi meninggalkan pekerjaane. Awal-awal hal semacam itu menjadi sesuatu yang lumrah. Apalagi waktu istri saya belum ngaji diajak mengikuti kegiatan itu berat. Tapi Alhamdulillah setelah istri ikut ngaji beban berkurang. Jadi

210

183

enteng. Istri juga memahami sendiri, anak juga ngerti, misalnya ada kegiatan apa ya siap. Dasarnya ya itu tadi. Berusaha unuk lillahi

ta‟ala.211

Sementara menurut Susilo, bahwa balasan dari Allah jauh lebih berharga

ketimbang waktu dan biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pengajian, misalnya

kegiatan nafar. Kegiatan nafar adalah kegiatan khas MTA selama bulan Ramadhan di

mana setiap anggota MTA diharuskan tinggal dan belajar agama di kantor MTA

lainnya di seluruh Indonesia. Menurut Susilo:

“Islam Kaffah ya yang mana itu perintah Allah ya kita ikuti. Yang tidak diperintahkan kita tinggalkan. Istilahnya jangan membawa ego. Seneng tidak senang kalo itu baik ya kita ikuti, entah itu disisi lain menyudutkan kita atau membahagiakan kita. Seperti contoh kita disuruh Nafar. Disisi lain ekonomi kita pas-pasan. Tapi kalo kita mampu mengapa tidak. Kalau kita pikir kan sesuatu yang mengerikan, kalo kita sudah punya keluarga punya anak ekonomi pas-pasan, kebetulan harus keluar Nafar. Mau gak mau. Walaupun (sebenarnya) tidak keluar juga tidakpapa. Tapi kalau kita mengerti lebih baik keluar daripada tidak. Hari esok kan masih ada. Disisi lain menyulitkan kita, di sisi yang lain ada sesuatu yang membahagiakan nanti. Sesuatu yang tidak nampak. Sesuatu yang tidak ditampakkan oleh Allah. Sesuatu yang gaib, balasan kan sesuatu yang gaib. Mau gak mau kita harus yakin.”212

Dengan demikian konsekuensi tersebut justru menjadi semacam peneguhan

bagi para warga Bangkerep yang menjadi anggota MTA. Konsekuensi atau

kehilangan sesuatu pada saat yang sama juga menjadi kepenuhan atau kepuasan bagi

individu yang ada di dalamnya.

211

Terjemahan wawancara dengan Suyatno, 29 Juni 2012

212

184