KONTEKS GLOBALISAS
B. MTA dan Dinamika Islam di Tingkat Lokal, Nasional dan Internasional
2. Orde Baru dan Kebangkitan Islam di Indonesia
a. Dinamika Islam di Indonesia
Dengan berbagai keragaman ekspresi budaya serta latar belakang etnik, suku
maupun bahasa, maka dalam sejarahnya pemahaman dan praktek Islam di Indonesia
tidak pernah tunggal. Secara umum, dinamika Islam di Indonesia diwarnai oleh
ketegangan antara Islam dengan tradisi lokal. Perbedaan ini mengerucut pada dua
kutub; pertama, Islam ideal atau normatif, yakni Islam yang dipahami dan
dipraktekkan sesuai dengan prinsip yang murni yaitu Al Quran dan Hadits. Kedua,
Islam popular, yakni pemahaman dan praktek Islam yang tidak memiliki landasan
hukum normatif dan biasanya adalah praktek yang disesuaikan dengan tradisi lokal
yang lebih dulu berkembang di masyarakat dan oleh kelompok pertama dianggap
sebagai penyimpangan. 69
Di Jawa, Islam popular bisa ditemukan dari beragam ritual atau upacara
tradisional, seperti ritus kelahiran, perkawinan hingga kematian. Selain itu umumnya
masyarakat Jawa juga mempercayai adanya roh halus, danyang atau kekuatan- kekuatan gaib yang bersifat baik ataupun buruk yang ada di sekitar mereka. Untuk
menghormati kekuatan gaib tersebut masyarakat Jawa melakukan berbagai upacara
seperti sedekah bumi atau ritual bersih desa sebagai ekspresi syukur atas kebaikan
yang mereka nikmati sekaligus memohon keselamatan dari mara bahaya.
69
J. D. J. Waardenburg, Official and Popular Religion as a Problem in Islamic Studies, dalam Pieter H. Vrijhof and Jacques Waardenburg, ed. “Official and Popular Religion”., Paris: Mouton Publisher, 1979, hal 340-341.
47
Dalam kaitan dengan sejarah proses Islamisasi di Indonesia, Islam popular
merujuk pada golongan umat Islam yang cenderung akomodatif terhadap berbagai
keyakinan atau kepercayaan masa lalu serta berbagai tradisi lokal yang sudah diyakini
masyarakat sebelumnya. Yon Machmudi menyebut kelompok ini sebagai kelompok
tradisionalis yang kemudian berkembang menjadi organisasi Islam Nahdlatul Ulama.
Kelompok ini direpresentasikan oleh orang-orang yang belajar Islam di Mekkah pada
pertengahan abad 19 dan kemudian kembali ke nusantara untuk berdakwah di
masyarakat setempat. Mereka membangun pesantren yang menjadi tulang punggung
Islam tradisional di tanah air dengan mengajarkan Islam dari sumber Al Quran,
Hadits, dan teks-teks klasik karangan ulama besar di masa lalu (kitab kuning). Sikap
akomodatif mereka terlihat dari pola dakwah yang tidak serta merta mengubah
praktek-praktek tradisi lokal dan cenderung toleran sepanjang tidak bertentangan
dengan esensi ajaran Islam.
Dengan karakteristik menjalankan ajaran Islam dengan tetap bersikap
akomodatif terhadap keyakinan lokal, kelompok tradisionalis tersebut pada dasarnya
membedakan dirinya dengan kelompok yang sudah ada sebelumnya di kalangan
masyarakat Jawa yaitu Muslim nominal atau Abangan. Menurut Hefner, kaum
Abangan adalah mereka yang memeluk Islam namun tidak mempraktekkan Islam dalam kehidupan sehari-hari dan sebaliknya lebih mengutamakan keyakinan leluhur
48
mulanya adalah salah satu varian Islam di Jawa yang mencapai kejayaan pada
pertengahan abad ke 18, namun kemudian memudar seiring kebijakan negara.70 Sementara kelompok puritan bercita-cita membersihkan ajaran Islam dari
berbagai unsur yang tidak memiliki dasar dalam Al Quran maupun Hadits. Jejak
puritanisme pertama di tanah air tercatat terjadi di Sumatera yang dimotori oleh kaum
Paderi. Saat itu, tiga ulama asal Minangkabau yaitu Haji Miskin, Haji Abdurrahman
dan Haji Muhammad Arif melakukan ibadah haji ke Mekkah yang saat itu dikuasai
oleh Wahhabi. Ketiganya tertarik dengan ide-ide pemurnian agama dari kaum
Wahhabi dan kemudian mencoba untuk menerapkannya di nusantara. Mereka
mengharamkan tasawuf yang ada di tanah Minangkabau dan segala macam takhayul,
bid‟ah dan khurafat. Mereka juga mewajibkan memelihara jenggot serta memberi
hukuman mati kepada orang yang meninggalkan salat.71 Gerakan tersebut kemudian dikembangkan oleh kelompok reformis modernis yakni para ulama yang mendapat
pengaruh dari ide pembaharuan yang dimulai oleh sarjana dari Universitas Al Azhar
di Mesir seperti Jamaaludin Al Afghani (1839-1897), Muhammad „Abduh (1849- 1905) dan muridnya Rashid Rida (1865-1935). Di Indonesia, pemikiran sarjana-
sarjana tersebut memberi inspirasi bagi berdirinya berbagai organisasi Islam yang
bertujuan untuk mengajak umat Islam kembali pada kemurnian ajaran Islam yang
70
Robert W Hefner, Where Have all the Abangan Gone? Religionization and the Decline of Non- Standard Islam in Indonesia dalam Rémy Madinier & Michel Picard, eds.,“The Politics of Religion in Indonesia: Syncretism, Orthodoxy, and Religious Contention in Java and Bali”, Contemporary
Southeast Asia Series, London and New York: Routledge, hal. 71-79
71
Abdurrahman Wahid, ed., Ilusi Negara Islam, Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia, Jakarta, 2009, LibForAll Foudantion.
49
sesuai dengan Al Quran dan Hadits, antara lain Muhammadiyah pada tahun 1912 dan
Persatuan Islam (PERSIS) pada tahun 1923. Berbeda dengan santri kolot, kaum reformis atau disebut santri modern berusaha untuk menghilangkan seluruh elemen non-Islami untuk mencapai kemurnian Islam.72
Tidak hanya di bidang keagamaan, polaritas yang diakibatkan perbedaan
artikulasi keislaman juga terjadi di bidang politik. Polaritas yang paling tajam dan
akan terus mewarnai situasi sosial politik Indonesia adalah ketika pada tahun 1945
kelompok Islam berupaya untuk menjadikan syariat Islam secara formal ke dalam
undang-undang, terutama adalah isu Piagam Jakarta yang ditentang oleh kelompok
abangan sekuler.73 Polaritas juga tercermin dari hasil Pemilu 1955 sebagai pemilu pertama dan dianggap paling demokratis, di mana Partai Nasionalis Indonesia
(priyayi-abangan kolot/modern dengan wong cilik-abangan-kolot) berhasil mengumpulkan 32 persen suara di Jawa, Masyumi (priyayi-santri-modern)
mendapatkan 11 persen suara, sementara Nahdlatul Ulama sebagai perwakilan dari
kelompok Islam tradisional (wong cilik-santri-kolot) mendapatkan 30 persen suara dan Partai Komunis Indonesia (wong cilik-abangan-kolot/modern) mengumpulkan 27 persen suara. Hasil ini menunjukkan bahwa kaum abangan dan santri kolot masih
mendominasi Jawa.74
72
Hassan, ibid, hal 38
73
Hassan, ibid, hal 39. Salah satu isi dalam piagam Jakarta adalah kalimat yang berbunyi “dengan keharusan menegakkan syariat Islam bagi pemeluknya”. Kalimat ini kemudian dikeluarkan dari sila
pertama Pancasila.
74
Ricklefs mengembangkan konsepsi Santri Abangan Priyayi-nya Geertz menjadi beberapa kelompok: priyayi santri, wong cilik-abangan-kolot, priyayi-abangan kolot/modern, dan wong cilik-santri-kolot.
50
Ketika Orde Baru mulai berkuasa pada tahun 1966, dinamika Islam di
Indonesia diwarnai dengan munculnya berbagai organisasi dan kelompok Islam yang
secara umum memiliki kesamaan agenda yaitu mengajak umat Islam untuk kembali
mengamalkan nilai-nilai Islam ke dalam seluruh aspek kehidupan. Fenomena ini tidak
hanya terkait dengan kebangkitan Islam di dunia internasional, namun juga berkaitan
dengan dinamika sosial politik di Indonesia selama kurun waktu 1970 sampai 1980-
an, dalam hal ini adalah kebijakan pembangunan dan pasang surut hubungan
pemerintah dengan umat Islam.
b. Islam di masa Orde Baru
Sama seperti fenomena kebangkitan Islam di dunia internasional, fenomena
“kebangkitan Islam” berupa maraknya simbol ataupun aktifitas keagamaan juga terjadi di Indonesia pada rentang waktu 1970 dan 1980. Hal tersebut terlihat dari
tumbuhnya komunitas-komunitas kecil yang berkeinginan untuk mengikuti perilaku
Nabi Muhammad dan generasi pertama umat Islam (Salafi) yang dianggap ideal dan murni sekaligus menawarkan alternatif dan perlawanan terhadap nilai dan paham dari
Barat. Komunitas-komunitas tersebut tumbuh melalui kelompok diskusi dan
pengajian di masjid-masjid dan kampus-kampus umum. Ciri khas kelompok ini
adalah penampilan yang Islami, yaitu jilbab panjang bagi perempuan, baju gamis dan
Lihat Merle C. Ricklefs, Six Centuries of Islamization in Java, Nehemia Levtzion, ed. “Conversion to
Islam”, New York: Holmes & Meier Publishers, Inc., 1979, hal 120 dalam Muhammad Ali, Muslim diversity: Islam and local tradition in Java and Sulawesi, Indonesia, IJIMS, Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies, Volume 1, Number 1, June 2011: 1-35
51
jenggot bagi kaum laki-laki.(Hassan, 2006:31). Tidak hanya di perkotaan, gelombang
kesalehan juga terjadi di wilayah pedesaan yang identik dengan budaya abangan pada tahun 1980 dan 1990-an (Hefner, 2000; 122).
Fenomena kebangkitan gairah keagamaan dan munculnya komunitas-
komunitas dakwah Islam tersebut tidak lepas dari kebijakan depolitisasi Orde Baru
terhadap umat Islam Perlu diingat bahwa kebijakan Orde Baru dibawah
kepemimpinan Soeharto mencanangkan kebijakan ekonomi dan pembangunan yang
ditandai dengan masuknya investasi asing dan bantuan dari negara-negara industri
maju yang didukung dengan booming minyak pada tahun 1970-an.75 Pasca hancurnya PKI tahun 1966, Orde Baru merasa bahwa kelompok Islam menjadi kelompok
potensial yang bisa melawan Soeharto, terutama kelompok yang berbasis di akar
rumput karena bisa menghalangi kebijakan pembangunan yang mensyaratkan adanya
demobilisasi politik di masyarakat.76 Soeharto kemudian memberlakukan kebijakan marginalisasi dan depolitisasi aktor Islam dan organisasi/partai Islam, salah satunya
adalah membatasi aktifitas politik tokoh Islam dan pada tahun 1973 mengeluarkan
kebijakan peleburan atau fusi partai politik Islam ke dalam wadah tunggal yaitu Partai
Persatuan Pembangunan (PPP).77 75
Vedi Hadiz, Political Islam in Post-Authoritarian Indonesia, CRISE Working Paper No.74, 2010, Center for Research on Inequality, Human Security and Ethicity, hal. 7
76
Hadiz, ibid, hal. 8
77
Tokoh Islam merasa Orde Baru membatasi kepentingan umat-Islam, ditandai dengan meningkatnya pengaruh militer dan birokrat yang identik dengan kaum abangan (misal Ali Mortopo) di jajaran pemerintahan dan kedekatan dengan kelompok bisnis China, juga kelompok Katholik (CSIS). Muncul aksi-aksi kekerasan seperti Komando Jihad, Bom di Borobudur, juga bom di BCA yang dianggap sebagai representasi dari kelompok bisnis China pada tahun 1986. Ketegangan Islam Politik dengan pemerintah Orde Baru meningkat dengan penolakan terhadap Pancasila sebagai asas tunggal di tahun
52
Tersumbatnya saluran politik membuat aktifis-aktifis Islam melakukan
konsolidasi dan membangun basis gerakan melalui strategi dakwah, dalam hal ini
melalui dunia pendidikan dan media massa. Strategi tersebut membuat kelompok-
kelompok Islam berkembang pesat tanpa menimbulkan kecurigaan dari rezim Orde
Baru, terutama di kampus dan kaum menengah perkotaan. Selain itu, pesatnya
berbagai gerakan Islam pada masa tersebut juga didukung oleh sumber daya berupa
aliran dana dari Timur Tengah terutama Arab Saudi pasca booming harga minyak tahun 1970-an. Dalam hal ini, Arab Saudi berkepentingan membendung kebangkitan
Syiah pasca Revolusi Iran tahun 1979.
Kelompok Islam yang mendapatkan pengaruh langsung dari Timur Tengah
dan kemudian menjadi embrio berbagai kelompok Islam puritan adalah Dewan
Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), organisasi dakwah yang dibentuk oleh
Muhammad Natsir dan para mantan pemimpin Masyumi pada tahun 1967.78 Organisasi ini didirikan sebagai strategi setelah Soeharto yang naik ke tampuk
kekuasaan menolak keinginan Masyumi untuk kembali menjadi partai politik.79 DDI sebagai perwakilan Rabithah Alam Islami (organisasi yang didanai Arab Saudi)
memberikan beasiswa kepada ratusan mahasiswa Indonesia untuk belajar di Timur
Tengah, terutama Arab Saudi.80 Persinggungan mahasiswa yang belajar di luar negeri
1980-an. Kemudian muncul ICMI pada tahun 1990 –didirikan oleh Habibie- yang dekat dengan kekuasaan sebagai representasi kelompok Islam birokrat dan teknokrat yang berupaya mengimbangi Islam politik yang oposan terhadap Orde Baru. Lihat Hadiz, Political Islam
78
Hassan ibid, hal. 45
79
Hassan, ibid
80
53
membuat mereka bertentangan dengan genealogi dan ideologi yang sama dengan
Wahhabi seperti Ikhwanul Muslimin dan Hizbut Tahrir.81 Selain itu, DDII juga berperan dalam mengembangkan lembaga pendidikan yaitu LIPIA (Lembaga Ilmu
Pengetahuan Islam dan Arab) yang mencetak kader-kader yang aktif mengembangkan
faham puritanisme Timur Tengah, serta mendistribusikan berbagai buku karya para
ideolog Islam seperti Hasan Al Banna, Sayyid Qutb, Abu A‟la Al Maududi dan
pemikir-pemikir Islam lainnya yang beraliran Wahhabi.82
Selain depolitisasi, Soeharto juga menerapkan kebijakan ganda terhadap umat
Islam dengan cara menumbuh-suburkan praktik ritual dan kesalehan individu.
Menurut Hefner rezim Orde Baru sangat jeli melihat agama sebagai basis bagi
moralitas publik dan benteng untuk melawan pengaruh liberalisasi Barat dan lawan
dari komunisme.83 Situasi tersebut membuat Orde Baru mengeluarkan kebijakan
building up atau pembinaan keagamaan yang terutama ditujukan di daerah-daerah
abangan di pedesaan.84 Kebijakan tersebut antara lain dilakukan dengan kewajiban setiap warga negara untuk memeluk agama resmi mnenurut konstitusi, yaitu Islam,
Protestan, Katolik, Hindu dan Budha. Hefner menyebut kebijakan ini sebagai
“religionization”.85 Kebijakan ini memicu konversi besar-besaran masyarakat jawa
81
Wahid, ed. ibid,
82
M Imdadun Rahmat, Ideologi Politik PKS; Dari Masjid Kampus ke Gedung Parlemen, Yogyakarta, 2008, LKiS, hal 90-91
83
Robert Hefner, Civil Islam: Muslim and Democratization In Indonesia, Princeton, 2008, Princeton University Press, hal. 59
84
Hefner, ibid, 84
85
54
abangan ke islam dan Kristen.86 Selain itu, pemerintah juga mewajibkan pengajaran agama kepada setiap anak di sekolah-sekolah. Kebijakan ini membuat jumlah umat
Islam berkembang sementara praktek-praktek kelompok Abangan atau Islam nominal perlahan menghilang.87
Kelas menengah-bawah yang menjadi sasaran dari kebijakan pembinaan
agama inilah yang nantinya mengambil peran besar dalam kebangkitan aktifitas dan
penciptaan kantong-kantong Islam politik di kota-kota besar. Menurut Hassan (2005)
kebijakan pembangunan Orde Baru seperti pemberantasan buta huruf, pembangunan
infrastruktur sekolah-sekolah terutama di desa terpencil yang bersamaan dengan
meningkatnya kemakmuran ekonomi membuat para orang tua bisa menyekolahkan
anak-anak mereka ke perguruan tinggi. Pembangunan infrastruktur jalan, jembatan,
stasiun pembangkit listrik dan pusat kesehatan membuat desa-desa pun terhubung
dengan dunia luar yang memicu gelombang urbanisasi dan meningkatnya tingkat
pendapatan, ditandai dengan kemampuan penduduk desa membeli radio dan televisi
yang memicu pola hidup baru dan konsumerisme. Sementara keluarga mampu bisa
menyekolahkan anak-anak mereka ke perguruan tinggi di kota, pemuda-pemuda desa
yang miskin yang tidak bersekolah beramai-ramai meninggalkan desa demi harapan
hidup yang lebih baik dan mendapat pekerjaan sebagaimana yang mereka lihat di
86
Untuk kajian ini baca Robert W Hefner “Islamizing Java? Religion and Politics in Rural East Java.” 1987 dalam The Journal of Asian Studies 3:46:533-554 atau Robert W Hefner “The Political Economy
of Islamic Conversion in Modern East Java.” In William R. Roff (ed.), Islam and the Political Economy of Meaning: Comparative Studies of Muslim Discourse, pp.53-78. Berkeley: University of California Press
87
55
media elektronik. Dengan tingkat pendidikan yang rendah, kebanyakan dari mereka
menjadi buruh pabrik atau pekerja di sektor informal. 88
Pada saat yang kebijakan ekonomi Orde Baru telah menciptakan kesenjangan
sosial dan korupsi. Kebijakan ekonomi Orde Baru sendiri bercirikan industrialisasi,
meningkatnya kelompok pemodal yang kuat (Robison 1986), berkembangnya kelas
pekerja yang berada di perkotaan dengan upah rendah (Hadiz 1997), juga kelas
menengah profesional, serta konsumen yang berorientasi pada gaya hidup (Robison
1993).89. Pada titik inilah, anak-anak muda baik yang bersekolah di kampus-kampus atau bekerja di sektor informal menghadapi situasi yang tidak mereka duga seperti
perilaku masyarakat kota yang individualistis, persaingan hidup yang keras,
kesenjangan yang mencolok, gaya hidup yang mewah berbau barat serta godaan
produk-produk yang melambangkan kehidupan modern. Ketidakmampuan mengakses
atau menikmati semua hal tersebut pada akhirnya membuat mereka frustasi dan
membuat apa yang disebut Hassan (2005) sebagai “identitas yang terguncang”. Pada
saat itulah mereka mendapatkan perlindungan dari komunitas-komunitas keagamaan
yang mulai muncul di perkotaan yang menawarkan suasana kehidupan yang sama
sekali berbeda melalui diskusi-diskusi, pengajian yang menawarkan alternatif Islam
sebagai solusi bagi semua persoalan sosial yang mereka hadapi.90
88
Hassan, Laskar jihad, hal. 251-258
89
Vedi R. Hadiz, Political Islam in Post- Authoritarian Indonesia,CRISE WORKING PAPER, No. 74, February 2010, Center for Research on Inequality, Human Security and Ethicity, hal.24
90
56
Di akhir tahun 1980-an, kebijakan Orde Baru terhadap umat Islam berubah
drastis. Soeharto mencoba untuk membangun kembali relasi politik dengan
kelompok-kelompok Islam.91 Caranya adalah dengan menekankan penggunaan simbol-simbol Islam dalam wacana publik dan akomodasi terhadap kekuatan-
kekuatan sosial politik kelompok keagamaan.92 Strategi tersebut oleh para pengamat merupakan cara Soeharto untuk mengamankan kekuasaannya. Kedekatan tersebut
dimulai dengan didirikannya Pengadilan agama, perbankan Islam serta serta
keputusan presiden untuk kompilasi hukum Islam.93 Bahkan pada tahun 1991 Soeharto menampilkan citra diri sebagai seorang santri Islam dengan menunaikan ibadah haji ke Mekkah dan mengganti namanya menjadi Haji Muhammad Soeharto.94 Pemerintah juga memberi dukungan finansial untuk membentuk perguruan tinggi
Islam, membangun masjid-masjid, dan kebijakan pengajaran agama di lembaga
pendidikan umum, pencabutan larangan berjilbab di sekolah, serta mendukung
berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)95 pada tahun 1990. Kebijakan-kebijakan tersebut membuat simbol-simbol dan identitas keislaman tampil
semarak di ruang publik.96
91
Noorhaidi Hasan, Faith and politics: the rise of the Laskar Jihad in the era of transition in Indonesia, Jurnal Indonesia, No.73, 2002, p.163.
92
Hasan, ibid 162
93
Hasan, ibid 94
Andreas Ufen, Mobilising Political Islam: Indonesia and Malaysia Compared, Journal Commonwealth & Comparative Politics Vol. 47, No. 3, 308–333, July 2009, hal. 17
95
Ufen, ibid
96
Kebijakan tersebut bukan tanpa maksud mengingat Soeharto kemudian mengajak DDII sebagai mitra untuk menumpas kelompok oposisi pro-demokrasi yang menjadi ancaman baru bagi Orde Baru
57
c. Islam pasca Orde Baru
Kebangkitan Islam kembali menemukan momentumnya ketika rezim Orde
Baru tumbang pada tahun 1998, yang ditandai dengan munculnya berbagai gerakan
atau organisasi Islam dengan berbagai agenda dan model gerakan masing-masing.
Demokratisasi, eforia kebebasan serta tersedianya beragam saluran dan media untuk
menyuarakan aspirasi dimanfaatkan oleh organisasi dan kelompok Islam politik untuk
kembali menunjukkan eksistensinya, baik yang sudah beroperasi secara laten sejak
masa Orde Baru atau kelompok yang sama sekali baru. Tercatat antara lain Majelis
Mujahidin Indonesia (MMI), Front Pembela Islam (FPI), Laskar Jihad dan kelompok-
kelompok Islam lainnya. Meski muncul dengan berbagai varian model gerakan dan
agenda, secara umum kelompok-kelompok Islam tersebut memiliki kesamaan
karakteristik yang memiliki akar sejarah yang panjang, yakni keinginan untuk
mengedepankan nilai dan praktek Islam dalam kehidupan sehari-hari secara total.
Salah satu organisasi keagamaan dengan perkembangan cukup pesat pasca
1998 adalah Majelis Tafsir Al Quran (MTA). Meskipun berdiri pada tahun 1972 atau
pada saat sedang berlangsungnya fenomena kebangkitan Islam di dunia internasional
sekaligus sebagai respon terhadap kebijakan Orde Baru yang dianggap tidak berpihak
kepada umat Islam, MTA menemukan momentum untuk berkembang dengan pesat di
era pasca Orde Baru yang memungkinkan organisasi ini tumbuh dan berkembang
58