• Tidak ada hasil yang ditemukan

KONTEKS GLOBALISAS

B. MTA dan Dinamika Islam di Tingkat Lokal, Nasional dan Internasional

3. MTA sebagai Gerakan Purifikasi Agama di Tingkat Lokal

a. Dinamika sosial keagamaan di Surakarta

Surakarta, sebuah wilayah di Jawa Tengah dikenal memiliki dinamika sosial

keagamaan yang tinggi. Adanya keraton Surakarta dan Mangkunegaran menjadikan

Surakarta sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa. Menariknya, Surakarta juga

memiliki sejarah panjang gerakan radikalisme yang bercorak keagamaan, baik zaman

pra-kemerdekaan maupun pasca reformasi. Selain itu, Surakarta juga menjadi salah

satu pusat tumbuhnya berbagai gerakan dan organisasi yang menggelorakan semangat

nasionalisme di zaman kolonial, termasuk di antaranya organisasi yang bercorak

keagamaan.

Organisasi keagamaan dengan motif keagamaan yang paling terkenal di

Surakarta adalah Sarekat Islam (SI). SI sendiri adalah gerakan nasionalisme bercorak

Islam pertama di nusantara yang berdiri di Surakarta pada tahun 1912. Organisasi

bermotif keagamaan Islam lainnya adalah Tentara Kanjeng Nabi Muhammad

(TNKM) yang bertujuan untuk membela kehormatan Islam, Nabi dan kaum

Muslimin. Organisasi ini didirikan oleh Tjokroaminoto pada tahun 1918 di Surabaya

sebagai reaksi atas sebuah tulisan dalam surat kabar Djawi Hiswara, yang dianggap

melecehkan Islam.97 Pasca revolusi kemerdekaan 1945, Surakarta menjadi basis dari

berbagai laskar-laskar gerilya yang didirikan oleh warga sipil dengan berbagai

97

Seorang anggota SI Surakarta bernama Djojodikoro menulis artikel yang dimuat di surat kabar Djawi

Hiswara. Cuplikan dalam artikel tersebut berbunyi ”Gusti Kandjeng Nabi Rasoel minoem A.V.H. gin, minoem opium, dan kadang soeka mengisep opium”. Lihat Takashi Siraishi, Zaman Bergerak: Radikalisme Rakyat di Jawa 1912-1926, Jakarta; 1997, Pustaka Utama Grafiti, hal. 143-147

59

kepentingan masing-masing, termasuk organisasi dengan motivasi keagamaan dan

jihad yaitu Laskar Sabilillah.98

Pada tahun 1970-an berbagai organisasi Islam yang cenderung bercorak

puritan muncul dan berkembang pesat, seperti Jamaah Islamiyah (yang

direpresentasikan oleh Pesantren Al-Mukmin) Majelis Pengajian Islam

(direpresentasikan oleh pesantren modern Assalam, dan Majelis Tafsir Al-Quran).99 Belakangan, berbagai organisasi Islam muncul dan menunjukkan kecenderungan

orientasi yang lebih radikal dengan isu-isu yang lebih beragam ketika rezim Orde

Baru tumbang pada tahun 1998. Kelompok tersebut antara lain: Laskar Hizbullah

Sunan Bonang, Laskar Jundullah, Laskar Zilfikar, Laskar Salamah, Laskar Teratai

Emas, Laskar Honggo Dermo, Laskar Hamas, Laskar Hawariyyun, Barisan Bismillah,

Gerakan Pemuda Ka‟bah, Brigade Hizbullah, dan Majelis Ta‟lim al-Islah, Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM), Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Front

Pemuda Islam Surakarta, HTI, Forum Umat Islam Surakarta, dan Jamaah Anshorut

Tauhid, Laskar Hizbullah Sunan Bonang, Laskar Jundullah, Laskar Zilfikar, Laskar

Salamah, Laskar Teratai Emas, Laskar Honggo Dermo, Laskar Hamas, Laskar

98

Laskar-laskar di Surakarta pada masa pasca Revolusi kemerdekaan 1945 antara lain Barisan Laskar Banteng (BLR), Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), Barisan Pemberontak Republik Indonesia (BPRI) serta Laskar Rakyat. Namun yang memainkan peran penting adalah lascar yang didirikan oleh para pelajar seperti Tentara Pelajar (TP), Pasukan Satria, Laskar Kere, Barisan Polisi Istemewa Sekolah Menengah Tinggi (BPISMT), Barisan Rakyat Jelata. Pada tahun 1946 muncul berbagai kelompok lokal di pedesaan seperti Laskar Rakyat Surakarta di Plupuh, Sragen, Pemuda Laskar Rakyat, Pemuda Penjaga Desa. Lihat Soejatno dan Benedict Anderson, Revolution and Social Tension in Surakarta 1945-1950, Indonesia, Vol.17, April 1974, 99-111, hal. 102

99

Muthoharun Jinan, Dinamika Gerakan Islam Puritan di Surakarta, Studi tentang Perluasan Gerakan Majelis Tafsir Al Quran, makalah di Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) 2011 di Bangka Belitung tanggal 10-13 Oktober 2011

60

Hawariyyun, Barisan Bismillah, Gerakan Pemuda Ka‟bah, Brigade Hizbullah, dan Majelis Ta‟lim al-Islah. Dalam konstelasi lokal Solo, di samping kelompok-kelompok di atas terdapat juga kekuatan-kekuatan radikal lain seperti Front Pemuda Islam

Surakarta (FPIS), Forum Komunikasi Aktivis Masjid (FKAM) serta Jamaah Anshrout

Tauhid (JAT).100 Salah satu isu penting yang sering diusung oleh kelompok-kelompok tersebut adalah isu Kristenisasi.101

b. Latar belakang pendiri dan sejarah perkembangan MTA di Surakarta

Beberapa saat setelah mendirikan DDII, M. Natsir kemudian mengajak

koleganya di Masyumi untuk membangun cabang DDII di seluruh Indonenesia,

termasuk Solo. Dalam sebuah ceramahnya di Solo di akhir 1960-an, dia meminta

kader eks-Masyumi membangun pesantren dan rumah sakit untuk mengkounter

100

Zakiyuddin Baedhawy, Dinamika Radikalisme dan Konflik bersentimen Keagamaan di Surakarta,

Makalah untuk Annual Conference on Islamic Studies ke-10, Banjarmasin 1-4 November 2010

101

Berbagai isu Kristenisasi tersebut antara lain: 1) Anggota Front Pemuda Islam Surakarta (FPIS) melakukan mosi pada Pendeta Ahmad Wilson dalam acara dialog interaktif dengan tema “Usaha

Mengatasi Konflik Antarumat Beragama” yang disiarkan oleh Radio PTPN Rasitania Surakarta, 3 Maret 2000 yang menyatakan bahwa sebelum menjadi Muslim, Nabi Muhammad adalah pemeluk agama Kristen. Pendeta Wilson kemudian diadukan ke Polisi oleh sejumlah tokoh Muslim dan Anggota DPRD dari PPP, PKB, PK, dan PAN, sehingga radio tersebut terpaksa berhenti mengudara beberapa hari karena sebagian peralatannya disita oleh Polisi sebagai barang bukti; 2) Pada 29 April 2001, Laskar Hizbullah Surakarta mendatangi sebuah stasiun radio PTPN Rasitania, Solo, untuk meminta klarifikasi soal pemutaran film berjudul Patriot yang tiketnya di jual oleh radio swasta itu karena dibarengi pula dengan pembagian angket kuis dan kaset yang berisi ajaran agama Kristen kepada setiap pengunjungnya. Pemutara film digelar oleh Lembaga Pelayanan Mahasiswa Indonesia (LPMI), lembaga gereja Kristen Protestan yang mengkhususkan pembinaan religius pada mahasiswa dan anak-anak muda; 3) Pada 3 September 2005, Forum Koalisi Umat Islam Surakarta mendatangi dan menyegel rumah tinggal seorang pendeta, Syarif Hidayatullah di Grogol, Sukoharjo karena si pemilik

ngotot hendak mendirikan gereja di kawasan warga Muslim meski ijin belum keluar (Gatra no. 44, Senin, 12 September 2005). 4) Poltabes Surakarta meminta kepada pengurus Gereja Kristen Jawa (GKJ) Manahan di Kota Solo untuk menghentikan program penjualan paket buka seharga Rp 500 dengan alasan demi menjaga kondusivitas setelah menerima pengaduan sejumlah elemen masyarakat yang tidak setuju dengan kegiatan tersebut (Detiknews, 28 Agustus 2009). Lihat, Baedhowy, ibid

61

Kristenisasi yang menjadi isu penting di Solo pada saat itu. Pondok Ngruki, Yayasan

Rumah Sakit Islam (Yarsi) hospital, dan RS Kustati adalah respon dari seruan Natsir

tersebut. Ketika DDII berkembang, sekitar 90 masjid dibangun di Jawa Tengah.102 Pada situasi inilah embrio MTA mulai muncul. Pendiri MTA, Abdullah

Thufail Saputra adalah seorang pendakwah yang juga seorang pedagang batu permata

yang sering berkeliling ke berbagai wilayah di Indonesia. Dalam berbagai perjalanan

dagangnya, ia menyaksikan maraknya praktek-praktek keagamaan di kalangan umat

Islam yang menyimpang dari syariat Islam sekaligus adanya perpecahan dalam tubuh

umat Islam yang terwujud dalam berbagai kelompok atau organisasi.103 Ia aktif menyampaikan gagasannya agar umat Islam mau kembali ke Al Quran melalui

berbagai ceramah atau pengajian, terutama di masjid Agung Surakarta atau di Balai

Muhammadiyah Surakarta.

Kesempatan Abdullah Thufail untuk menyebarkan gagasannya terbuka luas

mengingat pada saat itu ia bergabung dengan Badan Pelaksana Tabligh, suatu

lembaga yang berfungsi mengkoordinasikan para ulama di Solo yang memberikan

pengajian di masjid-masjid di Sukararta.104 Dalam organisasi ini juga tergabung Abdullah Sungkar –yang kemudian mendirikan pesantren Al Mukmin Ngruki bersama Abu Bakar Baasyir- dan Abdullah Marzuki, seorang pengusaha terkenal di

102

Muhammad Wildan, Mapping Radical Islamism In Solo A Study Of The Proliferation Of Radical Islamism In Central Java, Indonesia, Jurnal Al-Jamiah, Vol. 46 No. 1, 2008, hal. 35-70

103

Majalah Respon, Ustadz Abdullah Thufail Saputro Meski Sakit Tetap Mengisi Pengajian, Edisi 268 XXVI, 20 September – 20 Oktober, 2012, hal 42, diterbitkan oleh Yayasan Majelis Tafsir Al Quran (MTA)

104

62

Surakarta. Mereka dikenal sebagai tiga tokoh dakwah penting di Surakarta. Mereka

merintis pengajian di beberapa tempat di Surakarta seperti Kebonan Sriwedari,

Punggawan, dan bersama sejumlah aktivis Islam lainnya merintis pengajian rutin

setelah dhuhur di Masjid Agung Surakarta.105

Selain menyelenggarakan pengajian setelah shalat dhuhur di Masjid Agung,

pada tahun 1969 para ulama di Solo meluaskan aktifitas mereka menjadi lebih intensif

dalam bentuk Madrasah Diniyah. Mereka juga membangun radio Radio Dakwah

Islam (RADIS) pada tahun 1967 untuk menjangkau dakwah yang lebih luas.

Belakangan, radio ini dilarang siaran pada tahun 1975 akibat relasi pasang surut Islam

dengan pemerintah.106 Belakangan, Abdullah Thufail tidak lagi bergabung dalam lembaga tersebut karena adanya perbedaan pendapat dengan tokoh Islam lainnya.107

Dalam perkembangannya, Abdullah Thufail bersama dengan Abdullah

Marzuki –seorang pengusaha yang dikenal sebagai donatur berbagai kegiatan keagamaan di Surakarta- mengembangkan sebuah organisasi bernama Majlis

Pengajian Islam (MPI).108 Semula organisasi ini merupakan kegiatan pengajian

105

Muthoharun Jinan, S.Ag, M.Ag, Dinamika Gerakan Islam Puritan di Surakarta: Studi tentang Perluasan Gerakan Majlis Tafsir Al Quran, Makalah Annual Conference on Islamic Studies (ACIS) 2011 Bangka Belitung, 10-13 Oktober 2011

106

Wildan, ibid

107

Dalam versi lain, pada awalnya, Abdullah Thufail dan Abdullah Sungkar bersama-sama mengadakan pengajian Masjid Agung, tetapi kemudian mereka berselisih pendapat dan Abdullah Thufail kemudian keluar dari pengajian tersebut. Belakangan, Abdullah Sungkar bersama dengan Abu Bakar Baasyir mendirikan Pondok Pesantren Al-Mukmin yang dikenal masyarakat luas sebagai pesantren yang kerap berseberangan dengan pemerintah, terutama mengenai asas tunggal Pancasila. Bersama Abdullah Sungkar, Baasyir kemudian mendirikan Jamaah Islamiyah setelah menolak ajakan Abdullah Thufail bergabung di MTA. Abu Bakar Baasyir dan pesantren Ngruki kemudian dituding berafiliasi dengan kelompok-kelompok yang ingin mendirikan negara Islam dan terlibat beberapa tindak terorisme. Lihat Jinan, ibid

108

63

Majelis Ta‟lim di Jl. Yosodipuro Punggawan Surakarta yang digelar sejak tahun 1970. Di MPI, Abdullah Thufail bertindak sebagai pimpinan. Belakangan, Abdullah

Thufail keluar dari MPI dan pada tahun 1972 dan mengembangkan organisasinya

sendiri, Majelis Tafsir Al- Quran.

Keputusan Abdullah Thufail untuk berdakwah sendiri terjadi ketika dalam

sebuah pertemuan di Gedung Umat Islam Surakarta yang dihadiri oleh tokoh-tokoh

Islam setempat ia menyampaikan gagasannya untuk menyatukan berbagai lembaga

Islam dalam satu wadah sehingga tidak terpecah-pecah tidak mendapat respon dari

para tokoh Islam lainnya. Abdullah Thufail mengawali kegiatan dakwahnya dengan

mendirikan pengajian tafsir dengan peserta hanya beberapa orang. Dalam

perkembangannya, gagasan-gagasan Abdullah Thufail yang ia sampaikan dalam

pengajiannya segera saja banyak mendapat perhatian dan respon dari masyarakat

karena ketegasannya dalam menanggapi suatu permasalahan. 109 Ia sendiri dikenal sebagai pendakwah yang ulung dengan kemampuan orasi yang memikat dengan suara

yang lantang dan tegas. Salah satu kisah yang menceritakan ketegasannya ketika

awal-awal membuka pengajian, peserta pengajian yang sudah hadir tidak serta merta

bisa langsung mengaji, tetapi harus menunggu dimulainya pengajian sampai berjam-

jam kemudian hanya untuk mengetahui apakah peserta benar-benar serius untuk

mengikuti pengajian. 110 Selain itu, komitemn yang tinggi juga menjadi ciri dari MTA

109

Majalah Respon, Ustadz Dullah Tutup sang pendiri majlis Dakwah MTA, edisi 268 XXVI 20 September-20 Oktober 2012 hal 11

110

64

adalah pengajian diselenggarakan dengan presensi kehadiran setiap anggotanya

dengan maksud menjaga komitmen peserta pengajian.

Selain karena kemampuan dakwahnya, jaringan Abdullah Thufail yang luas

sebagai seorang pedagang membuat pengajian yang dirintisnya segera berkembang

dengan pesat.111 Abdullah Thufail kemudian membuka pengajian untuk umum yang diistilahkan dengan gelombang. karena pada saat itu pemerintah menetapkan bahwa

setiap perkumpulan harus berupa lembaga resmi, maka pengajian tafsir yang didirikan

Abdullah Thufail didaftarkan ke Departemen Sosial dengan nama Majelis Tafsir Al

Quran berbentuk yayasan pada tanggal 23 Januari 1974. 112

Tidak hanya dalam kegiatan dakwah, Abdullah Thufail juga terlibat dalam

beberapa peristiwa penting di Solo. Sesaat setelah peristiwa G30S/PKI pecah pada

tahun 1965, ia aktif dalam gerakan yang melawan aksi kelompok komunis di

Surakarta. Pada tahun 1966 Abdullah Thufail menjadi Ketua Koordinasi Kesatuan

Pemuda Islam (KKPI) sejak tahun 1966-197 yang merupakan gabungan dari berbagai

organisasi di Surakarta, seperti Muhammadiyah, Pemuda Al-Irsyad, Pemuda Anshor,

Pemuda Persatuan Syarikat Islam Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam yang aktif

melawan pengaruh PKI.113

Pada bulan September 1992, Abdullah Thufail meninggal dunia.

Sepeninggalnya, kepemimpinan MTA dilanjutkan oleh Ahmad Sukina. Sukina

111

Jinan, ibid

112

Majalah Respon, Ustadz Dullah Tutup sang pendiri majlis Dakwah MTA, edisi 268 XXVI 20 September-20 Oktober 2012 hal 11

113

65

disebut sebagai salah satu murid terbaik Abdullah Thufail Saputra. Ia bergabung

dengan MTA pada tahun 1974 atau dua tahun setelah MTA berdiri.114 Menariknya, berbeda dengan organisasi Islam lainnya, Sukina menjadi pemimpin organisasi

sekaligus imam MTA dipilih secara musyawarah antar pengurus, bukan melalui

pemilihan. Salah satu yang membuat Sukina dipilih adalah karena kedekatan dan

kesetiaannya dalam mengabdikan diri kepada imam sebelumnya, Abdullah Thufail.115 Sebagai seorang pemimpin sebuah organisasi keagamaan, Sukina hampir tidak

memiliki pengalaman belajar keagamaan dari lembaga pendidikan keagamaan

tradisional, semisal pesantren. Ia lahir di Gawok Sukoharjo, dari pasangan Siti

Sadiyah dan Muhammad Bisri. Kedua orang tuanya dikenal sebagai aktivis Masyumi

dan Muhammadiyah yang giat dalam dakwah Islam. Dalam bidang keagamaan,

Sukina belajar dari kakeknya, Abdullah Manan, seorang aktivis Masyumi di

Surakarta. Menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Sragen, Sukina

melanjutkan pendidikan PGA di Surakarta116 dan memperoleh sarjana pendidikan dari UNS Surakarta.117

Namun dibawah kepemimpinannya, MTA berkembang dengan pesat dan terus

mendapatkan pengikut. Kini, organisasi MTA memiliki 52 perwakilan (setingkat

114

Majalah Respon, Ustadz Drs Ahmad Sukina Membawa MTA Diperhitungkan di Tingkat Nasional, edisi 268 XXVI 20 September-20 Oktober 2012 hal 43

115

Jinan, ibid

116

Jinan, ibid

117Syaefudin Zuhri, “Gerakan Purifikasi di Jantung Peradaban

Jawa: Studi Tentang Majelis Tafsir Al Quran (MTA)”, dalam Gerakan Wahhabi di Indonesia (Dialog dan Kritik), Prof. K Yudian Wahyudi, Ph.D. ed. 2009. Yogyakarta: Pesantren Nawasea Press.

66

kabupaten) dan lebih kurang 245 cabang (di bawah kabupaten).118 Jumlah tersebut masih terus berkembang. Hampir setiap bulan, berbagai perwakilan atau cabang baru

diresmikan.

Salah satu faktor berkembang pesatnya MTA di bawah kepemimpinan Sukina

adalah penggunaan radio sebagai media dakwah. Jangkauan yang luas dan masih

digunakannya radio terutama oleh masyarakat di pedesaan menjadi kekuatan dakwah

MTA menggunakan radio. Banyak cabang baru atau binaan tumbuh di berbagai

daerah yang awalnya hanya mendengar radio.119 Selain itu, MTA juga berkembang menjadi organisasi yang modern dengan mengembangkan televisi, media online,

majalah, buletin, usaha ekonomi, percetakan, pertokoan serta lembaga pendidikan dari

TK sampai SMA.

Satu hal yang menarik, sebaga organisasi lokal, MTA berhasil menjalin

jaringan dengan berbagai pihak, termasuk dengan tokoh-tokoh nasional dari berbagai

kalangan yang silih berganti hadir dalam berbagai kegiatan MTA, terutama pengajian

Ahad Pagi. Puncaknya adalah ketika presiden SBY datang dan meresmikan gedung

pengajian berlantai empat pada tanggal 9 Februari 2008.120

118

Wawancara dengan Ustadz Yoyok Mugiyanto, 9 September 2012

119

Majalah Respon, Ustadz Drs Ahmad Sukina Membawa MTA Diperhitungkan di Tingkat Nasional, edisi 268 XXVI 20 September-20 Oktober 2012 hal 43

120

Berbagai tokoh yang hadir antara lain Akbar Tanjung, Azwar Anas, Zaenuddin MZ, Din Syamsuddin, Shalahuddin Wahid, Wiranto, MS Ka‟ban, Surya Dharma Ali dan tokoh-tokoh nasional lainnya. Majalah Respon, edisi 268, hal 43

67