BAB II. POKOK- POKOK-POKOK EKARISTI DAN SPIRITUALITAS
A. Pokok-pokok Ekaristi
2. Dasar Biblis Ekaristi
a. Injil Sinoptik
Martasudjita (2005: 219) menegaskan bahwa Luk. 22:15-20, Mrk. 14:22-25, Mat. 26:26-29 merupakan teks dalam Injil Sinoptik yang mengisahkan tentang tindakan dan perkataan Yesus pada waktu perjamuan malam terakhir. Teks Kitab Suci tersebut menjadi dasar perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh Gereja. Tuhan Yesus sendiri bersabda “Perbuatlah ini guna memperingati Aku” (Luk.22: 19). Dengan demikian, perayaan Ekaristi dalam Gereja, pertama-tama didasarkan pada tindakan dan Sabda Yesus sendiri.
Perjamuan malam dapat dimaknai sebagai penetapan Ekaristi. Martasudjita (2005: 233) menjelaskan bahwa kata-kata Yesus, “Perbuatlah ini guna memperingati Aku”, dipandang sebagai kata-kata penetapan Ekaristi. Dari kata-kata Yesus tersebut dapat disimpulkan bahwa Yesus memberikan perintah kepada Gereja untuk mengenangkan seluruh hidup, pelayanan bahkan karya penebusan-Nya melalui perayaan Ekaristi. Melalui perjamuan malam terakhir Tuhan Yesus sendiri yang menetapkan Ekaristi. Oleh sebab itu, perayaan Ekaristi yang dirayakan Gereja ditetapkan oleh Tuhan sendiri dan bukan sebatas keinginan manusia.
Eko Riyadi (2011: 206) menegaskan bahwa Mrk. 14:22-25 merupakan perikop Kitab Suci yang berbicara mengenai penetapan perjamuan. Markus secara khusus menggarisbawahi peristiwa pemecahan roti dan pembagian cawan anggur yang diartikan sebagai tubuh dan darah Yesus sendiri. Markus memaknai pemberian tubuh dan darah Yesus bagi banyak orang sebagai pembaharuan yang mengokohkan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Darah Yesus yang ditumpahkan menyatukan banyak orang dalam kesatuan perjanjian dengan Allah (Eko, 2011: 213). Umat beriman mengalami persatuan dengan Allah berkat makan tubuh dan minum darah Yesus. Dengan demikian, Markus memaknai Ekaristi sebagai persatuan umat beriman dengan Yesus Kristus berkat makan tubuh dan minum darah-Nya.
Injil Matius mengisahkan secara singkat mengenai penetapan perjamuan malam yakni terdapat dalam Mat. 26:26-29. Eko Riyadi (2011: 228) memberikan perhatian khusus pada kata-kata Yesus yang menyertai pembagian roti dan anggur. Kata-kata Yesus tersebut berkaitan dengan liturgi dalam jemaat. Kita juga mendengar kata-kata tersebut dalam DSA yakni Ia mengambil roti, mengucap berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikan kepada para murid sambil berkata “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku”. Hal yang sama juga Ia lakukan terhadap cawan anggur. Selain itu, Matius juga mau menegaskan bahwa wafat Kristus merupakan kematian untuk pengampunan dosa. Ia yang adalah Sang Juruselamat rela memberikan diri sehabis-habisnya demi membebaskan umat manusia dari dosa. Melalui sengsara hingga wafat-Nya, Tuhan Yesus tidak hanya menebus dosa sebagian orang tertentu saja melainkan semua orang.
Martasudjita (2005: 227) menjelaskan bahwa perjamuan malam terakhir juga merupakan perjamuan paskah baru, sebagaimana disebutkan dalam Luk. 22:15. Perjamuan paskah baru ini berarti paskah lama telah diganti dengan paskah baru yang berpuncak pada penyerahan diri Yesus Kristus di kayu salib. Tindakan Allah yang menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir adalah inti kenangan perayaan paskah lama. Sedangkan yang menjadi inti paskah baru adalah tindakan penyelamatan Allah yang membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan dosa dan maut melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus (Martasudjita, 2005: 228). Dengan demikian, perayaan Ekaristi berciri eskatologis
maksudnya umat beriman ikut mencicipi perjamuan eskatologis yang berupa kebersamaan dengan Allah secara kekal.
Dasar biblis Ekaristi dalam Injil Sinoptik terdapat dalam Luk. 22:15-20, Mrk. 14:22-25, Mat. 26:26-29. Ketiga Injil Sinoptik tersebut berbicara mengenai perjamuan malam terakhir. Perjamuan malam terakhir yang terdapat dalam ketiga Injil Sinoptik tersebut dimaknai sebagai penetapan Ekaristi. Markus 14:22-25 memaknai Ekaristi sebagai persatuan umat beriman dengan Yesus Kristus berkat makan tubuh dan minum darah-Nya. Sedangkan Matius 26:26-29 mau menegaskan bahwa wafat Kristus sebagai kurban Ekaristi merupakan kematian untuk pengampunan dosa banyak orang. Lukas 22:15-20 mau mengaskan bahwa Ekaristi merupakan tindakan penyelamatan Allah yang membebaskan seluruh umat manusia dari perbudakan dosa dan maut melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus.
b. Injil Yohanes
Injil Yohanes membicarakan Ekaristi secara berbeda dari Injil Sinoptik maupun tulisan Paulus (1Kor). Yohanes 6 dipandang sebagai ajaran pokok Ekaristi. Perikop ini berbicara mengenai diri Yesus sebagai roti hidup. Lebih mendalam lagi, teks yang menunjukkan inti Ekaristi terdapat dalam Yoh. 6:51-58. Prasetyantha (2008: 55) kembali mempertegas pendapat Bultmann yang tanpa ragu menyatakan bahwa Yoh. 6:51-58 menunjuk pada perjamuan Ekaristi di mana daging dan darah Anak Manusia disantap dengan akibat bahwa santapan ini memberikan kehidupan kekal. Mereka yang berpartisipasi di dalam perjamuan dijamin dengan kebangkitan yang akan datang. Pendapat ini kembali memperkuat bahwa dalam rupa roti dan anggur, Yesus sungguh hadir karena itu benar-benar tubuh dan darah Kristus. Hal ini kembali memperjelas bahwa roti dan anggur yang ada dalam perayaan Ekaristi bukanlah hanya simbol belaka. Buah yang didapat dari makan daging dan minum darah-Nya bukan hanya sekedar menghilangkan rasa lapar dan haus tetapi menjamin bahwa mereka mempunyai hidup kekal dan Yesus akan membangkitkan mereka pada akhir zaman. Hidup kekal yang dimaksud adalah keselamatan yang berupa kesatuan dengan Allah. Dengan beriman dan percaya kepada Yesus, hidup kekal sudah diberikan dan ada dalam diri orang tersebut. Iman dan kepercayaan itu menjadi konkret dengan menerima tubuh dan darah Kristus saat perayaan Ekaristi. Prasetyantha (2008: 64) menjelaskan bahwa Yohanes menampilkan refleksi Ekaristi yang agak berbeda dari para penulis Perjanjian Baru. Yohanes menampakkan bahwa keselamatan itu dianugerahkan sekarang bagi mereka yang makan daging dan minum darah
Yesus; artinya mereka yang menyambut Ekaristi. Maka Ekaristi merupakan peristiwa persatuan dengan Yesus yang membuahkan keselamatan.
Dengan demikian, keselamatan pertama-tama terjadi ketika setiap orang beriman tinggal dalam kesatuan dengan Yesus sendiri. Hidup yang diberikan oleh Yesus tidak hanya terjadi pada akhir zaman nanti, tetapi juga untuk saat ini. Ekaristi menjadi momen ketika seorang beriman menyambut daging dan darah-Nya dan dengan demikian tinggal dalam kesatuan erat dengan sang Sumber Hidup (Prasetyantha, 2008: 66).
Makna Ekaristi dalam Yoh. 6:51-58 menegaskan mengenai Yesus roti hidup. Yesus sebagai roti hidup bukan hanya sekedar menghilangkan rasa lapar dan haus tetapi menjamin bahwa umat beriman mempunyai hidup kekal. Hidup kekal yang dimaksud adalah keselamatan yang berupa kesatuan dengan Allah. Yohanes menampakkan bahwa keselamatan itu dianugerahkan sekarang bagi mereka yang makan daging dan minum darah Kristus dalam komuni. Roti dan anggur dalam Ekaristi sungguh-sungguh menghadirkan Kristus karena itu benar-benar tubuh dan darah-Nya.
c. Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus
Teks tentang Ekaristi dalam tulisan Paulus terdapat dalam 1Kor. 10:1-5.14-22 dan 1Kor. 11:17-34. Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus pada saat itu bertujuan untuk menjawab pertanyaan jemaat. Ada banyak persoalan yang terjadi pada jemaat Korintus dan Paulus mencoba menjawabnya.
Paulus menjawab berbagai persoalan tersebut dengan menyampaikan banyak pengajaran tentang iman Kristiani.
Ada beberapa makna yang bisa kita ambil melalui surat pertama rasul Paulus kepada jemaat di Korintus, terkait dengan Ekaristi. Martasudjita (2005: 236-237) menjelaskan 1Kor. 10:16 sebagai pernyataan iman akan realis praesentia (kehadiran Kristus yang nyata dalam rupa roti dan anggur) dan Ekaristi merupakan kesatuan kebersamaan dengan warga Gereja. Ajaran realis praesentia
menyatakan bahwa yang ada bukan lagi roti dan anggur, tetapi tubuh dan darah Tuhan sendiri. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi dipahami sebagai kehadiran secara sungguh, real dan substansial. Melalui Ekaristi kita berjumpa dan bersatu dengan Kristus sendiri. Kebersamaan dalam Ekaristi pertama-tama dibangun oleh Kristus sendiri sebagai Tuan Rumah melalui hidangan-Nya, yang adalah Diri-Nya sendiri.
Ekaristi tidak hanya menjadi pemersatu dan kebersamaan kita dengan Kristus tetapi juga sebagai kesatuan kebersamaan dengan warga Gereja. Martasudjita (2005: 238) mengajak kita melihat dan memaknai cara berpikir
Paulus yakni “Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah
partisipasi/persekutuan kita dengan tubuh Kristus (ekaristis). Karena roti adalah satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh (Gereja), karena kita semua mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor. 10:16-17). Dengan demikian, Gereja menjadi tubuh Kristus berkat disatukan melalui Ekaristi.
Dalam teks 1Kor. 11:17-30 kita dapat menemukan bahwa perjamuan Tuhan adalah pemberian diri Tuhan sendiri (Martasudjita, 2005: 237-238). Roti
dan anggur adalah tubuh dan darah Kristus sendiri yang diserahkan bagi kita. Ia memberikan diri sehabis-habisnya demi keselamatan banyak orang. Tuhan Yesus sendiri juga memberikan perintah yakni “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” (1Kor. 11:24.25). Dengan demikian, melalui Ekaristi Yesus sungguh hadir bersama kita berkat pemberian diri-Nya sendiri dan apa yang telah Ia perintahkan kepada umat-Nya.
Makna Ekaristi dalam surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di Korintus (1Kor. 10:1-5.14-22 ;1Kor. 11:17-34) dapat ditegaskan sebagai pemersatu dan kebersamaan umat beriman dengan Kristus serta kesatuan kebersamaan dengan seluruh warga Gereja. Berkat Ekaristi kita menerima roti yang satu dari tubuh Tuhan sendiri. Oleh karena itu, Gereja menjadi tubuh Kristus sendiri berkat disatukan melalui Ekaristi.