Makna ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan - USD Repository

169 

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

i

MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN

S K R I P S I

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Program Studi Pendidikan Agama Katolik

Oleh

Fransiska Siki

NIM. 141124025

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA KATOLIK

JURUSAN ILMU PENDIDIKAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SANATA DHARMA

YOGYAKARTA

(2)
(3)
(4)

iv

PERSEMBAHAN

Skripsi ini penulis persembahkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang

senantiasa dengan penuh kasih membimbing, menuntun dan menyertai perjalanan

proses pendidikan serta hidup penulis.

Kedua orang tua penulis bapak Theodurus Siki dan ibu Nanci Agnes, abang

Rafael Siki, adik Bartolomeus Daytim Siki dan Angelia Novita Siki serta

Korbinianus Fritz C.N yang senantiasa mendukung, memberikan semangat dan

mendoakan penulis

Sahabat-sahabatku yang terkasih Sesilia Selpiana, Juli Sunarti, Yunita Fuin

Pomarci, Sr. Maxima PI, Sr. Elisa PPYK, Retno Wulandari, Santi Utami,

Andrianus Heriskurniawan, Sirniko, FX. Adswi Fransibena, Kristianus Lejiw

serta seluruh teman-teman angkatan 2014

Keluarga besar Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, Paroki

Santa Gemma Galgani dan keuskupan Ketapang serta keluarga besar Program

Studi Pendidikan Agama Katolik Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang

(5)

v MOTTO

Milikilah kesabaran dalam setiap hal, tetapi yang paling pertama adalah dengan

diri sendiri.

(6)
(7)
(8)

viii ABSTRAK

Skripsi ini berjudul “MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS

PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK

BERCELA NANGGULAN”. Judul ini mengacu dari kehidupan prodiakon

paroki yang memiliki kedekatan hubungan dengan Ekaristi. Begitupula bagi para prodiakon yang ada di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Kedekatan hubungan prodiakon dengan Ekaristi ini dapat dilihat dari tugas utama pelayanannya yakni membantu imam membagikan komuni. Jangan sampai kedekatan hubungan ini hanya sebatas tugas semata, tetapi prodiakon perlu menghayati makna yang ada di dalam Ekaristi. Makna Ekaristi yang dihayati prodiakon dapat membantu memperkembangkan spiritualitas pelayanannya. Hal ini dikarenakan Ekaristi merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Gereja termasuk hidup pelayanan prodiakon. Sebab melalui Ekaristi, prodiakon menimba kekuatan, semangat dan inspirasi dari Kristus sendiri yang telah mengorbankan diri-Nya bagi banyak orang.

Persoalan pokok dalam skripsi ini adalah menemukan gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan serta usaha apa yang dibutuhkan untuk membantu meningkatkan penghayatan dan pelaksanaan prodiakon terhadap Ekaristi. Menanggapi pokok persoalan tersebut, penulis melakukan studi pustaka dan penelitan secara langsung di lapangan. Studi pustaka yang penulis gunakan bersumber dari Kitab Suci, dokumen-dokumen Gereja serta pandangan para ahli mengenai Ekaristi dan spiritualitas pelayanan prodiakon. Sedangkan penelitian yang digunakan penulis adalah kualitatif melalui wawancara terhadap prodiakon berdasarkan lamanya masa jabatan sebagai prodiakon. Pemilihan responden ini berdasarkan disuksi dan kesepakatan bersama dengan romo paroki serta ketua bidang pewartaan.

(9)

ix

ABSTRACT

The title of this thesis is “THE MEANING OF THE EUCHARIST FOR SERVICE SPIRITUALITY OF PRODIAKON PARISH OF SANTA PERAWAN

MARIA TAK BERCELA NANGGULAN.” This title was referring from the lives of

the prodiakon at the parish who have close relations with the Eucharist. Likewise the prodiakon who are in the Parish of Santa Maria Tak Bercela Nanggulan. The closeness relationship of prodiakon with the Eucharist can be seen from the main task of their ministry which is to help the priests sharing the communion. Do not let the closeness of this relationship be limited to the task alone, but prodiakon needs to live up to the meaning in the Eucharist. The Eucharistic meaning experienced by the prodiakon can help them develop the spirituality of their service. This is because the Eucharist is the source and the peak of the whole life of the Church including the life service of prodiakon. Since through the Eucharist, prodiakon draw strength, enthusiasm and inspiration from Christ Himself who sacrificed Himself for many people.

The main problem in this thesis is to found the meaning of the Eucharist for service spirituality of prodiakon Parish of Santa Maria Tak Bercela Nanggulan and what efforts are needed to help them increase the appreciation and implementation of the Eucharistic. Responding to the subject matter, writer conducted a literature study and research directly in the field. The literature study that the writer used comes from the Scriptures, Church documents and the views of experts on the Eucharist and the service spirituality of prodiakon. While the research used by writer is qualitative through interviews with prodiakon based on the length of tenure as a prodiakon. The selection of respondents was based on the discussion and mutual agreement with the parish priest and the head of the preaching department.

(10)

x

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih atas

segala berkat, bimbingan dan penyertaan-Nya sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi yang berjudul MAKNA EKARISTI BAGI

SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA

PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN. Skripsi ini ditulis

sebagai sumbangan bagi perkembangan spiritualitas pelayanan prodiakon dengan

menjadikan Ekaristi sebagai sumber inspirasi dan puncak pelayanannya. Penulis

menyadari bahwa penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat dukungan

berbagai pihak yang dengan sabar dan setia mendampingi, memberikan semangat

serta kritikan yang membangun. Maka dari itu penulis ingin menyampaikan

terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada:

1. Drs. F.X Heryatno Wono Wulung, SJ., M.Ed., selaku dosen pembimbing

skripsi yang dengan penuh kesabaran membimbing, mendampingi,

memberikan masukan serta motivasi bagi penulis untuk menyelesaikan

skripsi.

2. Dr. B. Agus Rukiyanto, SJ selaku kaprodi Pendidikan Agama Katolik

yang senantiasa mendukung dan memberikan semangat bagi penulis.

3. F.X. Dapiyanta, SFK., M.Pd. selaku dosen pembimbing akademik dan

dosen penguji II yang dengan setia mendampingi, membimbing serta

(11)

xi

4. Dr. C. Putranto, SJ, selaku dosen penguji III yang telah bersedia menjadi

dosen penguji pada pertanggungjawaban skripsi ini.

5. Para staff dosen dan karyawan Program Studi Pendidikan Agama Katolik,

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta yang dengan penuh kasih membimbing, mendidik dan

memperkembangkan penulis selama menjalankan studi di kampus.

6. Romo Modestus Supriyanta, Pr dan romo Petrus Sajiyono, Pr selaku romo

Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan, bapak Agustinus

Susiyantoro selaku ketua bidang pewartaan, bapak Paulus Marjana selaku

ketua tim kerja prodiakon serta seluruh anggota prodiakon yang telah

mendukung dan mau bekerja sama selama penulis melakukan penelitian di

paroki.

7. Orang tuaku bapak Theodurus Siki dan ibu Nanci Agnes yang dengan

setia menemani, mendukung, mendoakan dan berkorban bagi penulis.

8. Romo Paroki Santa Gemma Galgani dan Keuskupan Ketapang yang telah

mendukung penulis untuk menempuh studi di Program Studi Pendidikan

Agama Katolik dengan memberikan beasiswa.

9. Teman-teman angkatan 2014 dengan segala keunikannya dan ciri khasnya

masing-masing yang memperkembangkan serta meneguhkan penulis

selama menjalani masa studi.

10. Semua pihak yang tidak bisa penulis sebutkan namanya satu per satu,

(12)
(13)

xiii DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

HALAMAN PENGESAHAN ... iii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... iv

MOTTO ... v

PERNYATAAN KEASLIAN KARYA ... vi

LEMBAR PERSETUJUAN PUBLIKASI ... vii

ABSTRAK ... viii

BAB II. POKOK-POKOK-POKOK EKARISTI DAN SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON... 9

c. Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus ... 17

3. Dasar Teologis Ekaristi ... 19

(14)

xiv

b. Ensiklik Ecclesia de Eucharistia ... 21

c. Kitab Hukum Kanonik ... 23

4. Ekaristi dalam Hidup Beriman ... 25

B. Gambaran Spiritualitas dalam Pelayanan Prodiakon ... 27

1. Hakikat Spiritualitas ... 27

2. Pelayanan ... 31

3. Prodiakon ... 34

4. Spiritualitas Pelayanan Prodiakon ... 40

C. Ekaristi sebagai Dasar Pelayanan Prodiakon ... 43

D. Fokus Penelitian ... 47

BAB III. GAMBARAN MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN ... 49

A. Gambaran Umum Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ... 50

1. Profil Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ... 50

a. Letak Geografis Paroki ... 50

b. Sejarah Paroki ... 50

c. Visi dan Misi Paroki ... 53

2. Pelaksanaan Ekaristi di Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ... 55

3. Gambaran Prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ... 55

B. Penelitian dan Pembahasan Hasil Penelitian Gambaran Makna Ekaristi bagi Spiritualitas Pelayanan Prodiakon ... 57

(15)

xv

f. Responden ... 62

g. Tempat dan Waktu Penelitian ... 62

h. Teknik Pengolahan Data ... 63

2. Laporan dan Pembahasan Hasil Penelitian ... 63

a. Gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon ... 64

1) Mendeskripsikan makna Ekaristi ... 64

2) Mensyukuri panggilan sebagai prodiakon ... 67

3) Makna spiritualitas pelayanan bagi prodiakon ... 68

4) Makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan prodiakon .. 70

b. Faktor pendukung dan penghambat dalam Ekaristi ... 71

1) Faktor pendukung ... 71

2) Faktor penghambat ... 73

c. Harapan untuk Ekaristi dan hubungannya bagi spiritualitas pelayanan prodiakon ... 74

1) Harapan akan perkembangan sprititualitas pelayanan prodiakon melalui Ekaristi ... 74

2) Harapan akan Ekaristi ... 75

3. Kesimpulan Penelitian ... 76

BAB IV. UPAYA UNTUK MENINGKATKAN PENGHAYATAN DAN PELAKSANAAN EKARISTI BAGI PRODIAKON PAROKI SANTA PERAWAN MARIA TAK BERCELA NANGGULAN ... 78

A. Pemikiran Dasar Kegiatan... 79

B. Rekoleksi sebagai Upaya untuk Meningkatkan Penghayatan dan Pelaksanaan Ekaristi bagi Prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan ... 81

1. Latar Belakang Kegiatan Rekoleksi Prodiakon ... 81

2. Tema dan Tujuan Rekoleksi ... 82

3. Peserta ... 83

4. Tempat dan Waktu Pelaksanaan ... 83

5. Matriks Kegiatan Rekoleksi ... 84

(16)

xvi

6. Contoh Satuan Pertemuan I ... 88

BAB V. PENUTUP ... 95

A. Kesimpulan ... 95

B. Saran ... 97

DAFTAR PUSTAKA ... 100

LAMPIRAN ... Lampiran 1 : Surat Izin Penelitian ... (1)

Lampiran 2 : Surat Keterangan Selesai Penelitian ... (2)

Lampiran 3 : Daftar Pertanyaan Wawancara ... (3)

Lampiran 4 : Hasil Transkip Wawancara ... (5)

Lampiran 5 : Daftar Nama Prodiakon ... (46)

(17)

xvii

DAFTAR TABEL

(18)

xviii

DAFTAR SINGKATAN

A.Singkatan Dokumen Resmi Gereja

EE : Ecclesia de Eucharistia

Surat Ensiklik Paus Yohanes Pulus II kepada para uskup, imam dan

diakon, penyandang hidup bakti, pria dan perempuan dan segenap para

beriman tentang Ekaristi dan hubungannya dengan Gereja tanggal 17

April 2003

SC : Sacrosanctum Concilium

Konstitusi Konsili Vatikan II tentang Liturgi Suci tanggal 4 Desember

1963.

LG : Lumen Gentium

Konstitusi Dogmatik Konsili Vatikan II tentang Gereja tanggal 21

November 1964.

CD : Christus Dominus

Dekrit tentang tugas pastoral para uskup dalam Gereja tanggal 28

Oktober 1965.

AG : Ad Gentes

Dekrit tentang Kegiatan Misioner Gereja tanggal 18 November 1965.

(19)

xix

Yohanes Paulus II tanggal 25 Januari 1983.

KGK : Katekismus Gereja Katolik edisi Indonesia, diterjemahkan oleh Herman

Embuiru berdasarkan edisi Jerman tahun 1995.

DV : Dei Verbum

Konstitusi Dogmatis tentang Wahyu Ilahi. Diresmikan oleh Paus Paulus

VI pada 18 November 1965.

B.Singkatan lain

KAS : Keuskupan Agung Semarang

kan : kanon

dll : dan lain-lain

KLMTD : Kecil Lemah Miskin Tersingkir dan Difabel

WIB : Waktu Indonesia Barat

R : Responden

HP : Hand Phone

art. : artikel

dsb. : dan sebagainya

bdk. : bandingkan

DSA : Doa Syukur Agung

G30S : Gerakan 30 September

(20)

xx MSF : Missionarium a Sacra Familia

SJ : Serikat Jesus

(21)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ekaristi merupakan poros kehidupan umat beriman. Poros kehidupan

merupakan daya yang mampu menggerakkan seluruh hidup umat beriman. Karena

merupakan poros kehidupan maka umat beriman hendaknya menjadikan Ekaristi

sebagai pusat hidupnya. Melalui Ekaristi umat menimba kekuatan rohani dari

Kristus sendiri. Hidup umat beriman akan dikuatkan serta dibangun dalam terang

iman apabila senantiasa berakar pada perayaan Ekaristi. Semua perayaan ibadat,

pekerjaan, pelayanan dalam kehidupan Kristiani berkaitan erat dengan perayaan

Ekaristi: bersumber dari padanya dan tertuju kepadanya (PUMR, 2002: 30).

Ekaristi juga merupakan sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani. Hal

ini sesuai dengan ajaran Konsili Vatikan II yang terdapat dalam LG 11, SC 10,

CD 30 dan AG 9. Hal ini dikarenakan Ekaristi merupakan pengungkapan iman

Gereja yang paling resmi dan penuh. Ekaristi merangkum seluruh sikap

penyerahan dan pembaktian umat beriman. Disebut sumber dan puncak, karena

Ekaristi merupakan pengungkapan iman Gereja yang paling penuh dan menjadi

dasar bagi segala bentuk pengungkapan iman lainnya. Pengungkapan iman lain

yang dimaksud misalnya sakramen-sakramen, doa maupun devosi. Iman umat

beriman tentu tidak hanya diungkapkan dalam doa-doa dan perayaan yang khusus

melainkan, diwujudnyatakan dalam tindakan dan perbuatan setiap hari.

Perayaan Ekaristi bukanlah tindakan perorangan, melainkan perayaan

(22)

diundang untuk hadir dan ambil bagian dalam perayaan tersebut. Oleh karena itu,

perayaan Ekaristi bukan hanya milik petugas liturgi atau para imam melainkan

seluruh umat yang hadir. Perayaan Ekaristi mempertandakan kehadiran Tuhan

dalam hidup umat. Ekaristi tidak hanya menghubungkan masing-masing orang

secara pribadi dengan Allah, tetapi juga menjadi ikatan persatuan antar umat

sebagai Gereja (Martasudjita, 2000: 34).

Dari hakikatnya liturgi menuntut partisipasi penuh, sadar dan aktif seluruh

umat beriman (SC 14). Dan salah satu bentuk partisipasi itu adalah menjadi

petugas liturgi yakni sebagai prodiakon. Prodiakon adalah kaum awam yang

diperkenankan melayani diseputar altar, yaitu membantu imam atau diakon untuk

menerimakan komuni kepada umat (Sugiyana, 2006: 69-70). Tugas resmi

prodiakon yang paling sering dan teratur di paroki-paroki adalah membantu

menerimakan komuni. Tugas tersebut bisa berlangsung saat perayaan Ekaristi hari

Minggu. Selain itu prodiakon biasanya juga memimpin Ibadat Sabda, mengirim

komuni kepada orang yang sakit termasuk mereka yang di penjara. Prodiakon

pada umumnya juga bertugas memberikan homili pada saat Ibadat Sabda,

memimpin upacara pemakaman, serta memimpin doa untuk berbagai ujud dan

keperluan di lingkungan.

Setiap tugas pelayanan yang dilakukan oleh prodiakon berhubungan erat

dengan hidup rohaninya. Hidup rohani tentu bukan hanya berkaitan dengan

pengetahuan tetapi, sejauh mana pribadi seseorang memiliki relasi yang dekat dan

mendalam dengan apa yang ia imani. Salah satu penghayatan iman yang baik

(23)

hidup dapat membantu prodiakon menjiwai tugas pelayanannya dengan

bimbingan Roh Kudus dalam Kristus. Prodiakon juga perlu memiliki spiritualitas

pelayanan, seperti Tuhan Yesus sendiri yang datang bukan untuk dilayani

melainkan melayani. Dengan memiliki spiritualitas pelayanan, prodiakon dapat

melihat dan memaknai bahwa tugas yang ia lakukan bukanlah suatu pekerjaan,

melainkan pelayanan bagi Tuhan dan sesama.

Ada berbagai macam sumber spiritualitas yang dihidupi umat beriman

dan diyakini memiliki daya penggerak. Salah satunya dengan menimba

spiritualitas melalui perayaan Ekaristi. Ada banyak kekayaan makna yang terdapat

dalam Ekaristi yang dapat meneguhkan pribadi umat beriman baik itu awam,

biarawan/biarawati maupun kaum tertahbis. Karena melalui kurban Ekaristi

seluruh umat beriman yang percaya kepada Yesus Kristus telah ditebus. Begitu

pula dengan para prodiakon paroki yang diperkenankan melayani Tuhan secara

sangat dekat dalam Ekaristi. Mereka mendapatkan kesempatan yang sangat

berharga untuk memaknai Ekaristi secara lebih mendalam.

Prodiakon yang baik mengikuti Perayaan Ekaristi bukan hanya karena ia

sedang bertugas untuk ikut menerimakan komuni dalam Perayaan Ekaristi tetapi,

ia mengikutinya sebagai sumber dan puncak hidup serta pelayananannya

(Martasudjita, 2010: 32). Prodiakon dipanggil untuk menimba kekuatan dan

sumber inspirasi pelayanannya melalui Ekaristi. Dengan demikian, perayaan

Ekaristi sungguh menjadi sumber dan puncak hidup serta pelayanan prodiakon

(24)

Prodiakon bukanlah suatu jabatan supaya dilihat orang tetapi merupakan

sebuah pelayanan secara tulus, tanpa pamrih dan menampilkan wajah Kristus bagi

orang-orang yang dilayani. Hal itu pula yang dihayati para prodiakon di Paroki

Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan. Sebagian besar prodiakon di paroki

ini terdiri dari guru, petani serta pensiunan. Para prodiakon yang ada di Paroki

Nanggulan ini secara keseluruhan sudah memahami tugas dan tanggung

jawabnya. Mereka juga menyadari bahwa panggilan sebagai prodiakon

merupakan suatu pelayanan. Banyak di antara prodiakon yang ada meskipun

sudah berusia lanjut tetapi dengan penuh semangat tetap setia dalam pelayanan.

Kedekatan hubungan antara prodiakon dengan Ekaristi perlu sungguh

dihayati sebagai sumber kekuatan hidup pelayanannya. Prodiakon tidak hanya

dekat dengan Ekaristi sebatas kewajiban tetapi perlu menghidupinya sebagai dasar

dan pusat pelayanannya. Sebagai seorang pelayan, prodiakon tentunya tidak

hanya sekedar tahu dan memahami tugas serta tanggung jawabnya tetapi perlu

sungguh menghidupi makna hidup sebagai seorang pelayan yang terpanggil.

Prodiakon dipanggil untuk memiliki kedekatan hubungan rohani dengan Yesus

sang sumber hidup yang memberikan diri-Nya secara penuh bagi keselamatan

banyak orang. Oleh karena itu, prodiakon perlu menggali dan mendalami Ekaristi

demi perkembangan spiritualitas pelayanannya agar tidak menjadi kering dan

hanya dijalankan sebatas tugas. Dengan melihat kedekatan hubungan antara

prodiakon dengan Ekaristi, penulis tertarik untuk menulis “MAKNA EKARISTI BAGI SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON PAROKI SANTA

(25)

B. Rumusan Masalah

1. Apa pokok-pokok Ekaristi dan hubungannya dengan spiritualitas pelayanan

prodiakon?

2. Apakah makna Ekaristi dihayati sebagai spiritualitas pelayanan bagi

prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan?

3. Upaya macam apa yang perlu diusahakan untuk memupuk perkembangan

spiritualitas pelayanan prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela

Nanggulan?

C. Tujuan Penulisan

1. Mendalami pokok-pokok Ekaristi dan hubungannya dengan spiritualitas

pelayanan prodiakon.

2. Mendapatkan gambaran makna Ekaristi bagi spiritualitas pelayanan

prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan.

3. Mengemukakan upaya yang dilakukan untuk memupuk perkembangan

spiritualitas pelayanan prodiakon paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela

Nanggulan melalui Ekaristi.

D. Manfaat Penulisan

1. Bagi Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan

Membantu Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan agar

dapat merencanakan atau mengagendakan kegiatan yang dapat membantu dan

(26)

makna Ekaristi. Selain itu, juga membantu menggali dan menemukan apa yang

menjadi kerinduan serta harapan-harapan prodiakon.

2. Bagi Prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan

Membantu prodiakon Paroki Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan

untuk semakin mendalami dan menghayati makna Ekaristi bagi perkembangan

spiritualitas pelayanannya

3. Bagi program studi PAK USD

Mengajak mahasiswa untuk semakin mendalami makna Ekaristi sebagai

sumber dan puncak seluruh hidup Kristiani yang mengarah kepada perkembangan

spiritualitas untuk melayani Tuhan dan sesama serta menyiapkan mahasiswa

untuk dapat mengkader prodiakon.

4. Bagi penulis

Semakin diperkaya dengan menemukan makna yang terkandung dalam

Ekaristi terhadap perkembangan spiritualitas untuk melayani umat serta apa yang

didapat melalui pengalaman bersama prodiakon paroki Santa Perawan Maria Tak

Bercela Nanggulan dapat dijadikan bekal untuk pelayanan sebagai katekis.

E. Metode Penulisan

Metode penulisan yang akan digunakan oleh penulis dalam skripsi adalah

(27)

menganalisis data yang diperoleh melalui studi pustaka dan diperkuat dengan

adanya penelitian. Dalam rangka mendapatkan data yang valid, penulis akan

terlibat langsung dan melakukan wawancara kepada beberapa prodiakon Paroki

Santa Perawan Maria Tak Bercela Nanggulan.

F. Sistematika Penulisan

Bab I berisi pendahuluan yang meliputi latar belakang, rumusan masalah,

tujuan penulisan, manfaat penulisan, metode penulisan dan sistematika penulisan.

Bab II menguraikan hasil studi pustaka dengan berdasarkan

dokumen-dokumen Gereja, pandangan para ahli serta Kitab Suci yang mendukung

penulisan skripsi terkait dengan pokok-pokok Ekaristi dan spiritualitas pelayanan

prodiakon. Penulis membaginya kedalam 4 bagian pokok. Pokok bahasan

pertama yaitu pokok-pokok Ekaristi yang meliputi hakikat, dasar biblis, dasar

teologis serta Ekaristi dalam hidup beriman. Pokok bahasan kedua membahas

tentang gambaran spiritualitas dalam pelayanan prodiakon yang terdiri dari

hakikat, pelayanan, prodiakon dan spiritualitas pelayanan prodiakon. Pokok

bahasan ketiga yakni Ekaristi sebagai dasar pelayanan prodiakon. Pokok bahasan

terakhir membahas fokus penelitian yang menjadi dasar panduan pertanyaan

wawancara dalam penelitian.

Bab III berisi uraian tentang gambaran penghayatan prodiakon dalam

Ekaristi demi perkembangan spiritualitas pelayanannya. Penulis membaginya

kedalam 2 pokok bahasan. Pokok bahasan pertama membahas tentang gambaran

(28)

dari: letak geografis, sejarah paroki serta visi misi Paroki Santa Perawan Maria

Tak Bercela Nanggulan. Pokok bahasan kedua adalah penelitian dan pembahasan

hasil penelitian penghayatan prodiakon dalam Ekaristi demi perkembangan

spiritualitas pelayanannya. Bagian ini meliputi: metodologi penelitian, laporan

dan pembahasan hasil penelitian serta kesimpulan.

Bab IV berisi tindak lanjut dari hasil penelitan yang berupa sumbangan

pemikiran melalui kegiatan rekoleksi sebagai usaha untuk meningkatkan

penghayatan dan pelaksanaan Ekaristi bagi prodiakon Paroki Santa Perawan

Maria Tak Bercela Nanggulan. Penulis membagi bab IV ini dalam 2 pokok

bahasan. Pokok bahasan pertama menguraikan latar belakang pemilihan kegiatan

rekoleksi. Pokok bahasan kedua berisi gambaran usulan kegiatan rekoleksi.

Bab V merupakan bab terakhir dari penulisan skripsi ini. Penulis

membaginya kedalam 2 pokok bahasan. Pokok bahasan pertama berisi tentang

kesimpulan terkait makna Ekaristi terhadap perkembangan spiritualitas pelayanan

prodiakon. Pokok bahasan kedua berisi saran bagi pihak-pihak yang terkait demi

(29)

BAB II

POKOK-POKOK EKARISTI DAN SPIRITUALITAS PELAYANAN PRODIAKON

Bab II merupakan tindak lanjut dari bab sebelumnya dan akan menjawab

permasalahan yang pertama yaitu terkait dengan pokok-pokok Ekaristi dan

hubungannya dengan spiritualitas pelayanan prodiakon. Penulis akan

mendeskripsikan pokok-pokok Ekaristi dan hubungannya dengan spiritualitas

pelayanan prodiakon, berdasarkan hasil studi pustaka, dokumen-dokumen Gereja,

pandangan para ahli serta Kitab Suci yang mendukung.

Pada bab II ini, penulis akan membaginya ke dalam tiga pokok bahasan.

Pokok bahasan pertama mendeskripsikan tentang pokok-pokok Ekaristi meliputi:

hakikat Ekaristi, dasar biblis Ekaristi, dasar teologis Ekaristi dan Ekaristi dalam

hidup beriman. Pokok bahasan kedua mendeskripsikan tentang spritualitas

pelayanan prodiakon yang meliputi: hakikat spiritualitas, pelayanan, prodiakon

dan spiritualitas pelayanan prodiakon. Pokok bahasan ketiga menjelaskan tentang

Ekaristi sebagai dasar pelayanan prodiakon.

A. Pokok-pokok Ekaristi

1. Hakikat Ekaristi

Martasudjita (2005: 28) menegaskan bahwa istilah Ekaristi berasal dari

bahasa Yunani eucharistia yang berarti puji syukur. Kata eucharistia adalah

sebuah kata benda yang berasal dari kata kerja bahasa Yunani eucharistein yang

berarti memuji, mengucap syukur. Ekaristi merupakan ucapan syukur atas karya

(30)

Allah sungguh mengasihi umat manusia. Ia rela mengutus Putera Tunggal-Nya ke

dalam dunia untuk menyelamatkan mereka. Puncak karya penyelamatan Allah

terjadi dalam peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus. Kristus sendiri harus

menderita sengsara sampai wafat di kayu salib dan pada akhirnya dapat bangkit

mulia demi menyelamatkan umat manusia. Dengan demikian, melalui Ekaristi

umat beriman bersama-sama mengungkapakan syukur dan terimakasih atas karya

penyelamatan Allah melalui misteri penebusan Kristus.

KGK (1995: 373) nomor 1358 mengatakan “Dengan demikian kita harus

memandang Ekaristi sebagai syukuran dan pujian kepada Bapa, sebagai kenangan

akan Kurban Kristus dan tubuh-Nya, sebagai kehadiran Kristus oleh kekuatan

perkataan-Nya dan Roh-Nya.” Perlu ditegaskan bahwa Ekaristi merupakan

syukuran dan pujian kepada Bapa atas segala kebaikan-Nya. Melalui Kristus yang

adalah jalan kebenaran dan hidup, Gereja dapat mempersembahkan pujian kepada

Bapa sebagai ungkapan terimakasih. Ekaristi sebagai kenangan akan Kurban

Kristus dan tubuh-Nya dapat dipahami sebagai kenangan Paska Kristus yang

dihadirkan dan menjadi hidup lagi serta akan selalu tinggal dan berbuah.

Kehidupan seluruh umat beriman yang adalah Gereja dipersatukan dengan Kristus

berkat kurban diri-Nya. Ekaristi sungguh menghadirkan Kristus melalui kekuatan

Sabda dan Roh-Nya. Kehadiran Kristus menjadi nyata dalam kekuatan Sabda

Kitab Suci yang kita dengar dan melalui komuni suci. Ia hadir di mana dua atau

tiga orang berkumpul dalam nama-Nya (Mat.18:20), terutama dalam orang

(31)

Ekaristi termasuk salah satu dari ketujuh sakramen yang ada dalam Gereja

Katolik. Dalam diktat mata kuliah sakramentologi (Madya Utama: 3) sakramen

diartikan sebagai tanda yang menghasilkan rahmat. Konferensi Waligereja

Indonesia (1996: 402-403) dalam buku Iman Katolik mempertegas kembali

bahwa Ekaristi merupakan tanda dan sarana, artinya sakramen persatuan dengan

Allah dan kesatuan antarmanusia. Sebagai sakramen, Ekaristi bukan hanya

sekedar tanda tetapi menghadirkan apa yang ditandakan yakni Kristus. Melalui

Ekaristi, rahmat Allah yang terlaksana melalui Yesus Kristus ditandakan dan

dihadirkan dalam kurban Ekaristi, sehingga berkat merayakan Ekaristi dan

menerima komuni suci umat beriman dipersatukan dengan Kristus dan Gereja

(umat beriman).

Perayaan Ekaristi dibagi dalam 2 bagian besar yakni Liturgi Sabda dan

Liturgi Ekaristi (SC 56). Suharyo (2011: 33) mengatakan umat yang berhimpun

akan mendapat makanan dari meja Sabda karena manusia hidup bukan dari roti

saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Dengan

mendengarkan Sabda Allah dan meresapkannya, iman kita dapat semakin

dihidupkan dan diteguhkan. Suharyo (2011: 35) menegaskan bahwa Sabda tidak

hanya informatif (menerangkan), tetapi berdaya transformatif (mengubah,

membarui). Hal ini mau menjelaskan bahwa Sabda Allah tidak hanya terbatas

pada mendengarkan dan menerangkan. Sabda Allah berdaya transformatif bagi

hidup iman umat-Nya. Sabda Allah yang berdaya transformatif misalnya:

menjadikan umat semakin teguh dan setia mengikuti Yesus, mampu memperbaiki

(32)

Suharyo (2011: 33) menegaskan bahwa Yesus, Sang Roti Hidup diterima

dari dua meja yaitu meja Sabda dan meja Ekaristi (bdk. DV 21). Maksudnya

Tuhan sendiri yang adalah roti kehidupan, diterima oleh umat beriman melalui

meja Sabda maupun komuni. Ia sendiri bersabda bila Kitab Suci dibacakan dalam

Gereja, maka Ia hadir dalam Sabda-Nya (SC 7). Melalui Sabda-Nya yang kita

dengar, Yesus Kristus sendiri berbicara, menyapa dan selanjutnya mengundang

kita ke perjamuan Ekaristi. Oleh karena itu, setelah umat dikenyangkan dengan

Sabda Allah, perayaan Ekaristi dilanjutkan dengan Liturgi Ekaristi. Liturgi

Ekaristi, diawali dengan persiapan persembahan sampai pada doa sesudah

komuni. Sedangkan puncak dari perayaan Ekaristi adalah Doa Syukur Agung

yang dilanjutkan dengan menerima tubuh dan darah Kristus. Roti dan anggur

sebagai lambang tubuh dan darah Kristus menunjukkan pemberian diri-Nya

seutuhnya bagi keselamatan banyak orang. Penting untuk dipahami bersama

bahwa roti dan anggur dalam Ekaristi bukan hanya melambangkan tubuh dan

darah Kristus, tetapi sungguh menjadi tubuh dan darah Kristus (Hadisumarta

2013: 107).

Hakikat Ekaristi dapat ditegaskan sebagai ungkapan syukur dan pujian

atas karya penyelamatan Allah bagi umat manusia dan merupakan tanda yang

menghadirkan Kristus. Umat beriman bersyukur kepada Allah berkat karya

penyelamatan-Nya yang terjadi dalam peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus

serta atas segala kebaikan karya penciptaan-Nya. Ekaristi yang adalah sakramen,

bukan hanya sekedar tanda tetapi menghadirkan apa yang ditandakan yakni

(33)

Ekaristi (SC 7). Selain itu, Kristus juga hadir melalui Sabda-Nya yang kita dengar

karena Ia sendirilah yang berbicara dan menyapa semua umat beriman. Oleh

karena itu, Ekaristi dibagi dalam 2 bagian besar yakni Liturgi Sabda dan Liturgi

Ekaristi (SC 56).

2. Dasar Biblis Ekaristi

a. Injil Sinoptik

Martasudjita (2005: 219) menegaskan bahwa Luk. 22:15-20, Mrk.

14:22-25, Mat. 26:26-29 merupakan teks dalam Injil Sinoptik yang mengisahkan tentang

tindakan dan perkataan Yesus pada waktu perjamuan malam terakhir. Teks Kitab

Suci tersebut menjadi dasar perayaan Ekaristi yang dirayakan oleh Gereja. Tuhan

Yesus sendiri bersabda “Perbuatlah ini guna memperingati Aku” (Luk.22: 19).

Dengan demikian, perayaan Ekaristi dalam Gereja, pertama-tama didasarkan pada

tindakan dan Sabda Yesus sendiri.

Perjamuan malam dapat dimaknai sebagai penetapan Ekaristi.

Martasudjita (2005: 233) menjelaskan bahwa kata-kata Yesus, “Perbuatlah ini

guna memperingati Aku”, dipandang sebagai kata-kata penetapan Ekaristi. Dari

kata-kata Yesus tersebut dapat disimpulkan bahwa Yesus memberikan perintah

kepada Gereja untuk mengenangkan seluruh hidup, pelayanan bahkan karya

penebusan-Nya melalui perayaan Ekaristi. Melalui perjamuan malam terakhir

Tuhan Yesus sendiri yang menetapkan Ekaristi. Oleh sebab itu, perayaan Ekaristi

yang dirayakan Gereja ditetapkan oleh Tuhan sendiri dan bukan sebatas keinginan

(34)

Eko Riyadi (2011: 206) menegaskan bahwa Mrk. 14:22-25 merupakan

perikop Kitab Suci yang berbicara mengenai penetapan perjamuan. Markus secara

khusus menggarisbawahi peristiwa pemecahan roti dan pembagian cawan anggur

yang diartikan sebagai tubuh dan darah Yesus sendiri. Markus memaknai

pemberian tubuh dan darah Yesus bagi banyak orang sebagai pembaharuan yang

mengokohkan perjanjian antara Allah dan umat-Nya. Darah Yesus yang

ditumpahkan menyatukan banyak orang dalam kesatuan perjanjian dengan Allah

(Eko, 2011: 213). Umat beriman mengalami persatuan dengan Allah berkat

makan tubuh dan minum darah Yesus. Dengan demikian, Markus memaknai

Ekaristi sebagai persatuan umat beriman dengan Yesus Kristus berkat makan

tubuh dan minum darah-Nya.

Injil Matius mengisahkan secara singkat mengenai penetapan perjamuan

malam yakni terdapat dalam Mat. 26:26-29. Eko Riyadi (2011: 228) memberikan

perhatian khusus pada kata-kata Yesus yang menyertai pembagian roti dan

anggur. Kata-kata Yesus tersebut berkaitan dengan liturgi dalam jemaat. Kita juga

mendengar kata-kata tersebut dalam DSA yakni Ia mengambil roti, mengucap

berkat, memecah-mecahkannya lalu memberikan kepada para murid sambil

berkata “Ambillah, makanlah, inilah tubuh-Ku”. Hal yang sama juga Ia lakukan

terhadap cawan anggur. Selain itu, Matius juga mau menegaskan bahwa wafat

Kristus merupakan kematian untuk pengampunan dosa. Ia yang adalah Sang

Juruselamat rela memberikan diri sehabis-habisnya demi membebaskan umat

manusia dari dosa. Melalui sengsara hingga wafat-Nya, Tuhan Yesus tidak hanya

(35)

Martasudjita (2005: 227) menjelaskan bahwa perjamuan malam terakhir

juga merupakan perjamuan paskah baru, sebagaimana disebutkan dalam Luk.

22:15. Perjamuan paskah baru ini berarti paskah lama telah diganti dengan paskah

baru yang berpuncak pada penyerahan diri Yesus Kristus di kayu salib. Tindakan

Allah yang menyelamatkan bangsa Israel dari perbudakan Mesir adalah inti

kenangan perayaan paskah lama. Sedangkan yang menjadi inti paskah baru adalah

tindakan penyelamatan Allah yang membebaskan seluruh umat manusia dari

perbudakan dosa dan maut melalui wafat dan kebangkitan Yesus Kristus

(Martasudjita, 2005: 228). Dengan demikian, perayaan Ekaristi berciri eskatologis

maksudnya umat beriman ikut mencicipi perjamuan eskatologis yang berupa

kebersamaan dengan Allah secara kekal.

Dasar biblis Ekaristi dalam Injil Sinoptik terdapat dalam Luk. 22:15-20,

Mrk. 14:22-25, Mat. 26:26-29. Ketiga Injil Sinoptik tersebut berbicara mengenai

perjamuan malam terakhir. Perjamuan malam terakhir yang terdapat dalam ketiga

Injil Sinoptik tersebut dimaknai sebagai penetapan Ekaristi. Markus 14:22-25

memaknai Ekaristi sebagai persatuan umat beriman dengan Yesus Kristus berkat

makan tubuh dan minum darah-Nya. Sedangkan Matius 26:26-29 mau

menegaskan bahwa wafat Kristus sebagai kurban Ekaristi merupakan kematian

untuk pengampunan dosa banyak orang. Lukas 22:15-20 mau mengaskan bahwa

Ekaristi merupakan tindakan penyelamatan Allah yang membebaskan seluruh

umat manusia dari perbudakan dosa dan maut melalui wafat dan kebangkitan

(36)

b. Injil Yohanes

Injil Yohanes membicarakan Ekaristi secara berbeda dari Injil Sinoptik

maupun tulisan Paulus (1Kor). Yohanes 6 dipandang sebagai ajaran pokok

Ekaristi. Perikop ini berbicara mengenai diri Yesus sebagai roti hidup. Lebih

mendalam lagi, teks yang menunjukkan inti Ekaristi terdapat dalam Yoh. 6:51-58.

Prasetyantha (2008: 55) kembali mempertegas pendapat Bultmann yang

tanpa ragu menyatakan bahwa Yoh. 6:51-58 menunjuk pada perjamuan Ekaristi di

mana daging dan darah Anak Manusia disantap dengan akibat bahwa santapan ini

memberikan kehidupan kekal. Mereka yang berpartisipasi di dalam perjamuan

dijamin dengan kebangkitan yang akan datang. Pendapat ini kembali memperkuat

bahwa dalam rupa roti dan anggur, Yesus sungguh hadir karena itu benar-benar

tubuh dan darah Kristus. Hal ini kembali memperjelas bahwa roti dan anggur

yang ada dalam perayaan Ekaristi bukanlah hanya simbol belaka. Buah yang

didapat dari makan daging dan minum darah-Nya bukan hanya sekedar

menghilangkan rasa lapar dan haus tetapi menjamin bahwa mereka mempunyai

hidup kekal dan Yesus akan membangkitkan mereka pada akhir zaman. Hidup

kekal yang dimaksud adalah keselamatan yang berupa kesatuan dengan Allah.

Dengan beriman dan percaya kepada Yesus, hidup kekal sudah diberikan dan ada

dalam diri orang tersebut. Iman dan kepercayaan itu menjadi konkret dengan

menerima tubuh dan darah Kristus saat perayaan Ekaristi. Prasetyantha (2008: 64)

menjelaskan bahwa Yohanes menampilkan refleksi Ekaristi yang agak berbeda

dari para penulis Perjanjian Baru. Yohanes menampakkan bahwa keselamatan itu

(37)

Yesus; artinya mereka yang menyambut Ekaristi. Maka Ekaristi merupakan

peristiwa persatuan dengan Yesus yang membuahkan keselamatan.

Dengan demikian, keselamatan pertama-tama terjadi ketika setiap orang

beriman tinggal dalam kesatuan dengan Yesus sendiri. Hidup yang diberikan oleh

Yesus tidak hanya terjadi pada akhir zaman nanti, tetapi juga untuk saat ini.

Ekaristi menjadi momen ketika seorang beriman menyambut daging dan

darah-Nya dan dengan demikian tinggal dalam kesatuan erat dengan sang Sumber Hidup

(Prasetyantha, 2008: 66).

Makna Ekaristi dalam Yoh. 6:51-58 menegaskan mengenai Yesus roti

hidup. Yesus sebagai roti hidup bukan hanya sekedar menghilangkan rasa lapar

dan haus tetapi menjamin bahwa umat beriman mempunyai hidup kekal. Hidup

kekal yang dimaksud adalah keselamatan yang berupa kesatuan dengan Allah.

Yohanes menampakkan bahwa keselamatan itu dianugerahkan sekarang bagi

mereka yang makan daging dan minum darah Kristus dalam komuni. Roti dan

anggur dalam Ekaristi sungguh-sungguh menghadirkan Kristus karena itu

benar-benar tubuh dan darah-Nya.

c. Surat Pertama Rasul Paulus kepada Jemaat di Korintus

Teks tentang Ekaristi dalam tulisan Paulus terdapat dalam 1Kor.

10:1-5.14-22 dan 1Kor. 11:17-34. Surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di

Korintus pada saat itu bertujuan untuk menjawab pertanyaan jemaat. Ada banyak

(38)

Paulus menjawab berbagai persoalan tersebut dengan menyampaikan banyak

pengajaran tentang iman Kristiani.

Ada beberapa makna yang bisa kita ambil melalui surat pertama rasul

Paulus kepada jemaat di Korintus, terkait dengan Ekaristi. Martasudjita (2005:

236-237) menjelaskan 1Kor. 10:16 sebagai pernyataan iman akan realis

praesentia (kehadiran Kristus yang nyata dalam rupa roti dan anggur) dan Ekaristi

merupakan kesatuan kebersamaan dengan warga Gereja. Ajaran realis praesentia

menyatakan bahwa yang ada bukan lagi roti dan anggur, tetapi tubuh dan darah

Tuhan sendiri. Kehadiran Kristus dalam Ekaristi dipahami sebagai kehadiran

secara sungguh, real dan substansial. Melalui Ekaristi kita berjumpa dan bersatu

dengan Kristus sendiri. Kebersamaan dalam Ekaristi pertama-tama dibangun oleh

Kristus sendiri sebagai Tuan Rumah melalui hidangan-Nya, yang adalah Diri-Nya

sendiri.

Ekaristi tidak hanya menjadi pemersatu dan kebersamaan kita dengan

Kristus tetapi juga sebagai kesatuan kebersamaan dengan warga Gereja.

Martasudjita (2005: 238) mengajak kita melihat dan memaknai cara berpikir

Paulus yakni “Bukankah roti yang kita pecah-pecahkan adalah

partisipasi/persekutuan kita dengan tubuh Kristus (ekaristis). Karena roti adalah

satu, maka kita, sekalipun banyak, adalah satu tubuh (Gereja), karena kita semua

mendapat bagian dalam roti yang satu itu” (1Kor. 10:16-17). Dengan demikian,

Gereja menjadi tubuh Kristus berkat disatukan melalui Ekaristi.

Dalam teks 1Kor. 11:17-30 kita dapat menemukan bahwa perjamuan

(39)

dan anggur adalah tubuh dan darah Kristus sendiri yang diserahkan bagi kita. Ia

memberikan diri sehabis-habisnya demi keselamatan banyak orang. Tuhan Yesus

sendiri juga memberikan perintah yakni “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan

Aku” (1Kor. 11:24.25). Dengan demikian, melalui Ekaristi Yesus sungguh hadir

bersama kita berkat pemberian diri-Nya sendiri dan apa yang telah Ia perintahkan

kepada umat-Nya.

Makna Ekaristi dalam surat Rasul Paulus yang pertama kepada jemaat di

Korintus (1Kor. 10:1-5.14-22 ;1Kor. 11:17-34) dapat ditegaskan sebagai

pemersatu dan kebersamaan umat beriman dengan Kristus serta kesatuan

kebersamaan dengan seluruh warga Gereja. Berkat Ekaristi kita menerima roti

yang satu dari tubuh Tuhan sendiri. Oleh karena itu, Gereja menjadi tubuh Kristus

sendiri berkat disatukan melalui Ekaristi.

3. Dasar Teologis Ekaristi

a. Sacrosanctum Concilium

SC 47 secara ringkas merumuskan ajaran mengenai Ekaristi. Artikel

tersebut menegaskan bahwa Tuhan Yesus sendiri yang menetapkan Ekaristi, yakni

pada malam perjamuan terakhir. Penetapan Ekaristi oleh Yesus sendiri mau

menekankan bahwa Ekaristi bukanlah hasil pemikiran manusia. Peristiwa

perjamuan malam terakhir menjadi saat penyerahan diri Yesus kepada Bapa dan

demi keselamatan dunia. Penyerahan diri Yesus kepada Bapa-Nya sebagai bentuk

kasih dan ketaatan-Nya sampai Ia rela menyerahkan nyawa-Nya (Yoh. 10:17-18).

(40)

demi keselamatan banyak orang tetapi, pertama-tama sebagai penyerahan diri

kepada Bapa.

Tuhan Yesus sendiri juga mempercayakan kepada Gereja mempelai-Nya

yang terkasih, untuk mengabadikan kurban salib dan mengenangkan karya

penebusan-Nya yang berpuncak pada wafat dan kebangkitan-Nya. Tindakan yang

dikenangkan dalam perjamuan Ekaristi adalah tindakan penyelamatan Allah. Kini

tindakan penyelamatan Allah di masa lampau, dihadirkan secara nyata, itulah

yang menjadi objek pengenangan (Martasudjita, 2005: 296). Karya penyelamatan

Allah bagi umat-Nya ini akan mendapat kepenuhannya pada akhir zaman. Dengan

demikian, dalam perayaan Ekaristi, kurban salib Kristus yang sekali dan untuk

selamanya kini dikenang dan dirayakan bersama Kristus dan Gereja-Nya dalam

rupa roti dan anggur.

SC 47 menegaskan bahwa Ekaristi adalah sakramen cintakasih, lambang

kesatuan dan ikatan cintakasih. Istilah “sakramen” menunjuk kehadiran Kristus

dalam Sakramen Mahakudus atau hosti suci (Martasudjita, 2005: 297). Pendapat

ini semakin menguatkan kehadiran Yesus yang sungguh nyata dalam rupa roti dan

anggur. Dikatakan sebagai sakramen cintakasih karena di dalamnya Tuhan Yesus

sendiri mengorbankan diri-Nya sebagai bentuk kasih kepada Bapa dan umat

manusia. Sedangkan dikatakan sebagai lambang kesatuan dan ikatan cintakasih

karena Ekaristi merupakan lambang kesatuan baik dengan Allah maupun dengan

Gereja. Menerima tubuh dan darah Kristus dalam komuni menjadikan kita

(41)

dan Gereja-Nya dalam Ekaristi memampukan umat beriman untuk semakin

bersatu serta mengasih Allah maupun sesamanya.

Kalimat terakhir SC 47 mengatakan “Dalam perjamuan itu Kristus

disambut, jiwa dipenuhi rahmat dan kita dikaruniai jaminan kemuliaan yang akan

datang”. Kalimat ini kembali mempertegas bahwa dalam rupa roti dan anggur

yang diterima dalam komuni adalah sungguh Kristus sendiri. Dengan menyambut

tubuh dan darah Kristus jiwa kita dipenuhi rahmat. Maksud dipenuhi rahmat

adalah semakin dipersatukan dengan Allah melalui Yesus Kristus dan bersama

semua umat beriman. Berkat Ekaristi kita juga dikaruniai jaminan kemuliaan yang

akan datang. Jaminan kemuliaan yang akan datang dapat kita pahami sebagai

kedatangan Kristus yang kedua kalinya pada akhir zaman.

SC 48 menegaskan kepada kita semua untuk ikut serta secara aktif ambil

bagian dalam perayaan Ekaristi dan bukan menjadi penonton yang bisu.

Tujuannya agar melalui upacara dan doa-doa kita sungguh memahami misteri

iman itu dengan baik. Kita juga diajak untuk rela diajar oleh Allah dan disegarkan

melalui santapan Tubuh Tuhan yang melahirkan syukur kepada Allah. Selain itu,

SC 48 juga mengajak kita semua untuk belajar mempersembahkan diri dari hari

ke hari kepada Allah, seperti yang telah dilakukan oleh Kristus sendiri.

b. Ensiklik Ecclesia de Eucharistia

EE art. 1 menegaskan bahwa Gereja hidup dari Ekaristi. Gereja menjadi

hidup berkat berakar dan berpusat pada Ekaristi. Hal ini dikarenakan melalui

(42)

pemberi hidup. Sudah semestinya Ekaristi juga menjadi pusat hidup setiap paroki,

komunitas dan pusat hidup setiap pribadi umat Kristiani. EE art. 34 kembali

menegaskan bahwa Gereja akan terus hidup dan berkembang berkat Ekaristi.

Gereja akan terus hidup dan berkembang sebab dalam Ekaristi terkandung seluruh

kekayaan rohani Gereja yakni Kristus sendiri. Kita sebagai Gereja dipersatukan

dan ikatan persaudaraan kita semakin diperkuat melalui Ekaristi. Hendaknya baik

bersama-sama maupun secara pribadi kita senantiasa mengarahkan pandangan

kita kepada Tuhan melalui Ekaristi sebagi sumber hidup dan kekuatan kita.

Ekaristi adalah sungguh misteri iman, yang mengatasi pemahaman kita

dan hanya dapat diterima oleh iman. Secara tegas dalam Kitab Suci, Tuhan Yesus

sendiri mengatakan bahwa yang diberikan demi keselamatan banyak orang adalah

sungguh tubuh dan darah-Nya. Ekaristi tidak hanya menjadi peringatan atau

kenangan akan sengsara dan wafat Tuhan, tetapi penghadiran sakramental Kristus

sendiri (EE art. 11). Sebab kehadiran-Nya pada misa adalah yang paling penuh:

kehadiran substantial, di mana Kristus, Allah-Manusia, seluruhnya hadir secara

penuh (EE art. 15). Hanya oleh iman yang dapat memampukan kita sungguh

meyakini kehadiran Kristus yang nyata dalam rupa roti dan anggur yang kita

santap.

EE menegaskan bahwa Ekaristi tidak hanya menghadirkan misteri

sengsara dan wafat Juruselamat, tetapi juga misteri kebangkitan-Nya, yang

memahkotai pengurbanan-Nya (EE art. 14). Berkat kebangkitan-Nya, Yesus

mengalahkan maut. Melalui Ekaristi, Yesus yang bangkit juga senantiasa hidup

(43)

juga mengalami sukacita berkat Yesus yang bangkit mengalahkan maut. Oleh

karena itu, melalui Ekaristi kita dipanggil untuk mewartakan Kristus yang bangkit

dalam hidup kita.

c. Kitab Hukum Kanonik

Sakramen yang terluhur ialah Ekaristi mahakudus, di dalamnya Kristus

Tuhan sendiri yang dihadirkan, dipersembahkan dan disantap, dan melaluinya

Gereja selalu hidup dan berkembang. Kurban Ekaristi, kenangan wafat dan

kebangkitan Tuhan, dimana Kurban salib diabadikan sepanjang masa, adalah

puncak seluruh ibadat dan kehidupan kristiani dan sumber yang menandakan serta

menghasilkan kesatuan umat Allah dan menyempurnakan pembangunan tubuh

Kristus. Sedangkan sakramen-sakramen lain dan segala karya kerasulan gerejawi

berhubungan erat dengan Ekaristi Mahakudus dan diarahkan kepadanya (KHK

Kan.897).

KHK kanon 897 ini kembali menegaskan kepada kita semua bahwa Tuhan

Yesus sendiri sungguh hadir dan disantap melalui Ekaristi mahakudus. Melalui

Ekaristi Gereja selalu hidup dan berkembang. Selain itu, Ekaristi ditetapkan

sebagai puncak dan pusat seluruh kehidupan Kristiani. Prasetyantha (2008: 82)

menjelaskan bahwa baik sakramen-sakramen lain, semua pelayanan gerejani

maupun karya kerasulan Gereja, bertalian erat dengan Ekaristi dan semuanya

terarah ke sana. Oleh karena itu, kehidupan dan perkembangan Gereja selalu

(44)

Berkaitan dengan Ekaristi dalam KHK kanon 899, Prasetyantha (2008:

83-84) membahasnya berdasarkan masing-masing paragraf. Paragraf pertama

berbicara mengenai Ekaristi sebagai tindakan Kristus dan tindakan Gereja.

Dikatakan sebagai tindakan Kristus karena Ia sungguh hadir secara nyata dalam

rupa roti dan anggur. Ia sendiri yang dipersembahkan sebagai santapan rohani.

Dan berkat menerima tubuh dan darah-Nya umat beriman dipersatukan dengan

Kristus sendiri. Dikatakan sebagai tindakan Gereja karena melalui pelayanan

seorang imam, Kristus sendiri mempersembahkan diri-Nya sendiri kepada Allah.

Paragraf kedua dalam kan. 899 berbicara mengenai seluruh umat Allah

secara bersama-sama dan dengan caranya sendiri ikut ambil bagian dalam

perayaan Ekaristi. Penting untuk disadari bahwa perayaan Ekaristi adalah

perayaan bersama seluruh umat beriman yang hadir, di bawah pimpinan Uskup

atau imam. Setiap pribadi yang hadir dalam perjamuan diundang menghidupi

peranannya masing-masing. Uskup atau imam adalah kaum tertahbis yang

mewakili Kristus sehingga hanya mereka yang berhak memimpin perayaan

Ekaristi tersebut.

Paragraf ketiga dalam kan. 899 menegaskan bahwa perayaan Ekaristi

menghasilkan buah-buah rohani yang melimpah bagi mereka yang berpartisipasi.

Tuhan Yesus sendiri mengadakan kurban Ekaristi agar kita bisa memetik hasil

buahnya yang menjadikan kita semakin mencintai Kristus dan mengasihi sesama.

Selain itu, buah yang kita terima melalui Ekaristi memampukan kita menjalani

(45)

tingkah laku dan tutur kata kita serta menjadikan kita sebagai saksi Kristus di

tengah dunia.

4. Ekaristi dalam Hidup Beriman

Suharyo (2011: 11-12) mempertegas kembali apa yang dikatakan dalam

salah satu dokumen tentang Ekaristi (Eucharisticum Mysterium no. 13) mengenai

dampak perayaan Ekaristi pada kehidupan sehari-hari umat beriman yakni:

Apa yang diterima umat dengan iman dan secara sakramental dalam perayaan Ekaristi, harus memberikan dampak nyata dalam tingkah laku mereka. Oleh karena itu, hendaklah umat berusaha menempuh seluruh hidup mereka dengan gembira dan penuh rasa syukur ditopang oleh santapan surgawi, sambil turut serta dalam wafat dan kebangkitan Tuhan. Sebab tidak ada satu umat Kristiani pun dapat dibangun, kecuali kalau berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus.

Salah satu nomor dalam dokumen Eucharisticum Mysterium tentang

Ekaristi yang dikeluarkan pada tanggal 25 Mei 1967 membahas mengenai dampak

perayaan Ekaristi pada kehidupan sehari-hari umat beriman (Suharyo, 2011: 11).

Apa yang disampaikan dalam dokumen Eucharisticum Mysterium no. 13 ini,

semakin mempertegas LG 11 bahwa Ekaristi merupakan sumber dan puncak

seluruh hidup Kristiani. Seluruh perjalanan hidup umat Kristiani dapat dibangun

dengan berakar dan berporos pada perayaan Ekaristi Mahakudus. Karena melalui

perayaan Ekaristi, umat beriman dipersatukan dengan Kristus dan sesama. Berkat

persatuan dengan Kristus dan sesama ini diwujudnyatakan dalam tingkah laku

sehari-hari. Umat beriman yang telah turut serta dalam wafat dan kebangkitan

(46)

menjadi saksi Kristus dalam segala hal. Dengan demikian, melalui Ekaristi hidup

umat Kristiani senantiasa dipenuhi oleh sikap syukur kepada Allah yang

melahirkan sukacita dalam tugas perutusan menjadi saksi Kristus.

Ekaristi juga menghasilkan banyak buah bagi umat yang ikut ambil bagian

dalam perayaan syukur tersebut, terutama melalui Sabda dan santapan rohani.

Berbuah melalui Ekaristi berarti orang yang mengalami kasih Tuhan secara

mendalam dalam perayaan suci didorong untuk meneruskan kasih kepada sesama

(Martasudjita, 2012: 146). Hal ini dikarenakan Allah terlebih dahulu telah

mengasihi kita dengan mengutus Putera tunggal-Nya ke dalam dunia. Kasih

tersebut terlaksana dan terwujud nyata dalam diri Yesus Kristus. Sebelum pada

akhirnya dibangkitkan, Ia rela menderita sengsara bahkan wafat di kayu salib

sebagai bentuk kasih-Nya yang begitu besar bagi umat manusia. Dengan

demikian, berkat merayakan kurban kasih Yesus, hati umat beriman dipenuhi

kasih dan diutus untuk membagikan kasih kepada sesama. Karena mengalami

kasih Tuhan yang begitu mendalam melalui kurban Ekaristi, seharusnya umat

beriman semakin mengasihi keluarganya, sahabat, kenalan, tetangga, serta mampu

memaafkan orang yang membencinya. Martasudjita (2012: 146) menegaskan

bahwa:

(47)

Pendapat ini menegaskan bahwa Ekaristi memiliki implikasi bagi

kehidupan sosial. Umat beriman yang telah ikut ambil bagian dalam Ekaristi

dipanggil untuk membuka mata terhadap realitas sosial yang terjadi dalam

masyarakat dan lingkungan. Ekaristi sebagai perjamuan cinta kasih seharusnya

menjadi dasar bagi umat beriman untuk semakin peduli pada kehidupan

masyarakat yang lebih damai, adil dan penuh kasih.

Tuhan Yesus dalam hidup-Nya di dunia juga menunjukkan bentuk

kepedulian terhadap sesama terutama mereka yang berkekurangan, miskin dan

tersingkir. Perikop dalam Kitab Suci mengenai Yesus memberi makan lima ribu

orang mengajak kita semua para murid-Nya untuk bertanggungjawab bagi sesama

yang kesusahan dan tidak melimpahkan tanggungjawab tersebut kepada orang

lain. Selain itu, Tuhan Yesus juga mengajak kita semua untuk menghidupi

semangat berbagi. Dengan menghidupi semangat berbagi memapukan kita untuk

berkorban bagi sesama, sehingga memungkinkan tidak ada seorang pun yang

berkekurangan dan merasa tersingkir.

B. Gambaran Spiritualitas dalam Pelayanan Prodiakon

1. Hakikat Spiritualitas

Spiritualitas berasal dari kata sifat Latin spiritualis atau Inggris

(48)

Pendapat ini kembali dipertegas pula oleh Piet Go, dkk (1994: 18) yang

menyatakan bahwa spiritualitas harus dikaitkan dengan Roh Allah sebagai hidup

menurut dan dalam Roh. Sedangkan transenden adalah suatu hal yang tidak bisa

dijangkau oleh penglihatan maupun pemikiran manusia dan hanya berkat kuasa

Allah, sehingga manusia dapat sampai kepada-Nya. Tidak bisa dijangkau oleh

pemikiran manusia karena Allah maupun rencana-Nya sungguh begitu besar.

Martasudjita (2010: 27) menegaskan bahwa spiritualitas menunjuk bentuk

kehidupan rohani yang dilandasi oleh bimbingan Roh Kudus sendiri. Spiritualitas

Kristiani selalu menunjuk hidup rohani yang dipimpin oleh Roh Kudus untuk

semakin mengimani dan mencintai Tuhan Yesus Kristus dan semakin

berkembang dalam iman, harapan dan kasih. Orang yang hidup dengan memiliki

spiritualitas, bersedia dituntun dan mendengarkan bimbingan Roh Kudus sendiri.

Bersedia mendengarkan tuntunan dan bimbingan Roh Kudus menjadikan

seseorang tidak asal bertindak sesuai dengan keinginan dirinya sendiri. Orang

yang bersedia dituntun berdasarkan bimbingan Roh Kudus akan semakin

mengenal dan mencintai Kristus secara mendalam. Dengan semakin mengenal

dan mencintai Kristus secara mendalam, hidup umat beriman akan semakin

berkembang dalam iman, harapan dan kasih baik kepada Tuhan, sesama maupun

alam semesta. Iman, harapan dan kasih merupakan tanda nyata bahwa orang

memiliki spiritualitas di dalam hidupnya. Prasetyantha (2008: 139-140)

menegaskan bahwa

(49)

berziarah, berpuasa, dll. Selain itu, spiritualitas kristiani yang sehat akan menjaga hubungan dengan sumber-sumber asli, antara lain merenungkan Kitab Suci.

Hubungan yang telah dibangun dengan Allah tidak hanya berhenti dan

disimpan bagi diri sendiri, tetapi diwujudnyatakan dalam hidup bersama orang

lain melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Karena iman tanpa perbuatan pada

hakikatnya adalah mati. Dengan menyatukan hubungan pribadi umat beriman

dengan Allah dan mewujudnyatakannya dalam pikiran, perkataan maupun

perbuatan menjadikan spiritulitas sungguh hidup dan sehat. Banawiratma SJ, dkk

(1994: 169) juga menegaskan bahwa keterpautan hati pada Tuhan memampukan

umat beriman untuk membangun gaya hidup yang benar-benar mewujudkan

semangat kesatuan dengan Allah.

Secara lebih jelas dan sederhana Heryatno Wono Wulung dalam buku

mata kuliah PAK sekolah (77-78) memberikan kesimpulan bahwa spiritualitas

berkaitan dengan penyatuan seluruh daya dan aspek pengalaman hidup manusia

yang berusaha memperkembangkan hidupnya ke arah lebih baik dan hal itu

dikaitkan dengan relasinya pada Tuhan, sesama dan lingkungannya. Pendapat

tersebut mau mempertegas bahwa selain mencakup hidup doa dan penghayatan

iman, spiritualitas juga mencakup seluruh pengalaman hidup manusia.

Pengalaman hidup manusia menjadikan spiritualitas itu seperti air hidup yang

mengalir dari sumber terdalamnya yakni pengalaman perjumpaan orang dengan

Kristus (Madya Utama, 2018: 236).

Pengalaman perjumpaan orang dengan Kristus dipadukan dengan hidup

(50)

mengarahkan hidupnya ke arah yang lebih baik. Maksudnya adalah mau

meninggalkan hal yang buruk dan memperbaharui diri menjadi lebih baik. Tujuan

dari memadukan hidup doa dengan sosial-politik adalah membangun relasi yang

semakin mendalam dengan Tuhan dan diwujudnyatakan dalam kehidupan konkret

sehari-hari. Inilah yang menjadi pusat dan dasar spiritualitas Kristiani yakni

membangun relasi yang mendalam dengan Yesus Kristus.

Spiritualitas berfungsi sebagai sumber inspirasi, motivasi dan animasi

untuk menghayati hidup dan karya yang diharapkan sungguh menyatu dan dapat

memancar sebagai kesaksian (Hadisumarta, 2013: 94). Hidup umat beriman

semakin diperkaya dan diteguhkan apabila ia memiliki spiritualitas dalam

menjalani kehidupannya. Umat beriman yang memiliki spiritualitas akan

menjalani kehidupannya dengan gembira, penuh rasa syukur, bersemangat dan

tidak mudah putus asa dalam menghadapi persoalan hidup. Pada akhirnya

spiritualitas menjadikan umat beriman siap menjadi saksi Kristus dalam segala

hal, sehingga seluruh hidup dan karya pelayanan umat beriman tersebut senantiasa

berakar dan berpusat pada Yesus Kristus.

Spiritualitas dapat ditegaskan sebagai daya hidup yang digerakkan oleh

Roh Kudus. Daya hidup yang digerakkan oleh Roh Kudus tersebut menghantar

umat beriman untuk membangun relasi yang mendalam dengan Tuhan. Relasi

yang mendalam dengan Tuhan membuat umat beriman semakin dekat dan

mencintai-Nya. Hubungan pribadi umat beriman dengan Tuhan diwujudkan

dalam sikap hidup sehari-hari melalui pikiran, perkataan dan perbuatan yang

(51)

Tuhan disatukan pula dengan seluruh daya dan aspek pengalaman hidup umat

beriman yang berusaha memperkembangkan hidup iman maupun hidup sosialnya

ke arah yang lebih baik.

2. Pelayanan

Ignatius Suharyo melukiskan dengan sangat indah mengenai makna

pelayanan Paulus. Paulus menegaskan bahwa hidup seorang pelayan sejati adalah

menyatakan kehidupan Kristus. Pernyataan tersebut memberikan penegasan

kepada kita semua bahwa dalam pelayanan yang kita nyatakan adalah hidup

Kristus sendiri dan bukan diri pribadi kita. Suharyo (1994: 36) menegaskan bahwa

dalam 1Kor.1:12 St. Paulus mau menunjukkan bahwa kita jangan hanya melihat

hikmah manusiawi yang tampak dalam diri para pelayan, tetapi pada kekuatan

Allah (1Kor.2:5). Apa yang kita wartakan dalam pelayanan, bukanlah diri pribadi

supaya dikagumi banyak orang karena pendidikan dan kepandaian kita, melainkan

mewartakan Kristus sendiri, sehingga semakin banyak orang mengenal dan

mencintai Kristus secara mendalam. Pribadi kita sebagai seorang pelayan

hanyalah alat atau sarana supaya orang sampai pada merasakan dan mengalami

cinta Kristus yang sungguh nyata dalam hidupnya.

Paulus menyebut Gereja sebagai Kristus, karena merupakan kelanjutan

pelayanan Yesus. Maka dari itu Gereja memiliki bentuk dasar pelayanan, karena

Gereja adalah Kristus di dunia. Gereja tidak ada demi dirinya sendiri melainkan

mempunyai misi. Paulus memberikan jawaban secara tegas dalam Flp. 2: 14-16

(52)

berbantah-bantah sehingga kamu bercahaya seperti bintang-bintang (Suharyo,

1994: 31). Karya misi tersebut dilaksanakan tidak hanya dengan kata-kata

melainkan melalui kekuatan Roh Kudus serta dengan memberikan seluruh diri.

Kita semua adalah Gereja yang menjadi perpanjangan tangan pelayanan Yesus di

dunia. Sebagai pelayan kita perlu memberikan seluruh diri dengan mohon

kekuatan Roh Kudus, sehingga tidak hanya mengandalkan kemampuan pribadi

saja. Kekuatan Roh Kudus yang hadir menjadikan pelayanan kita tidak hanya

tugas semata yang mengandalkan pengetahuan tetapi mampu menghantar umat

yang kita layani semakin mencintai Kristus. Oleh karena itu, dalam tugas

pelayanan kita perlu memohon rahmat Allah yang mengalir dari misteri Paskah

Kristus. Rahmat adalah pertolongan sukarela yang Allah berikan, agar kita dapat

menjawab panggilan-Nya (KGK 1996).

Teladan utama Paulus dalam pelayanannya adalah Kristus sendiri. Ciri

khas pelayanan Kristus adalah melayani dan bukan dilayani (Mat.20:28). Seluruh

hidup Kristus merupakan suatu pelayanan sebagai bentuk ketaatan dan kasih-Nya

kepada Bapa serta semua umat manusia. Ia yang adalah Putera Allah Mahatinggi

rela merendahkan diri bahkan sampai wafat di kayu salib. Yesus adalah

penyelamat dari dalam yang lemah dan bukan penyelamat yang ada di luar

(Suharyo, 1994: 32). Penyelamat dari dalam yang lemah maksudnya adalah Yesus

datang ke dunia dan tinggal bersama umat manusia. Hidup dan perutusan Yesus

tertuju pada mereka yang lemah, miskin dan tersingkir. Ia memperhatikan banyak

orang dalam kebutuhan-kebutuhan mereka yang paling pribadi. Ia memperhatikan

(53)

pulang ke Emaus sehingga hati mereka berkobar-kobar ketika Ia berbicara dengan

mereka (Nouwen, Hendri J.M 1986: 86). Pribadi seorang pelayan dipanggil untuk

terutama meneladani hidup Yesus yang memperhatikan dan mengenali kebutuhan

umat paling dalam, sehingga mereka sungguh merasakan cinta kasih Allah.

Peristiwa pembasuhan kaki merupakan bentuk perendahan diri Yesus yang

disimbolkan dengan pelayanan seorang hamba yang membasuh kaki para peserta

perjamuan (Martasudjita, 2005: 241). Kisah pembasuhan kaki para murid hanya

ada di dalam Injil Yohanes, yang selalu dibacakan pada hari Kamis Putih. Kisah

tentang Yesus membasuh kaki para murid-Nya ini terdapat dalam Yohanes 13.

Pada saat itu Yesus mengadakan perjamuan terakhir bersama murid-murid-Nya.

Eko Riyadi, 2011: 302 menyampaikan bahwa kemudian Yesus bangkit dari

perjamuan dan menanggalkan jubah-Nya. Jubah adalah simbol keagungan si

pemakainya. Orang menanggalkan jubah berarti juga menanggalkan

kemapanannya.

Peristiwa pembasuhan kaki ini mengingatkan kita akan kerendahan hati

dan kedatangan Yesus ke dalam dunia untuk melayani. Ia yang adalah Putera

Tunggal Allah Mahatinggi rela melakukan apa yang dilakukan seorang budak

pada saat itu. Apa yang diperbuat Yesus pada saat itu merupakan tindakan Tuhan

dan Guru yang memberikan teladan kepada para murid-Nya. Yesus yang adalah

Guru dan Tuhan telah menanggalkan jubah-Nya dan membasuh kaki para murid,

mengajak kita semua untuk menanggalkan kekuasaan dan tidak menjadi orang

yang sombong. Yesus mewujudnyatakan di dalam diri-Nya apa yang

(54)

Riyadi, 2011: 306). Pembasuhan kaki merupakan sebuah cara hidup yang harus

dilaksanakan oleh murid-murid Kristus yakni saling membasuh kaki. Saling

membasuh kaki maksudnya adalah antara murid yang satu dan lainya harus saling

melayani. Dengan demikian, lewat pembasuhan kaki Tuhan Yesus juga mau

mengajarkan kepada kita semua untuk saling mengasihi yaitu dengan saling

melayani.

Pelayanan dapat ditegaskan sebagai pemberian seluruh diri untuk siap

melayani sesama, terutama mereka yang lemah, miskin dan tersingkir. Teladan

utama dalam pelayanan adalah Kristus yang datang bukan untuk dilayani

melainkan melayani (Mat.20:28). Selain itu, peristiwa pembasuhan kaki (Yoh.13)

juga mengajarkan kepada kita semua untuk menjadi seorang pelayan yang rendah

hati. Pribadi seorang pelayan merupakan alat atau sarana supaya umat yang

dilayani merasakan dan mengalami cinta kasih Kristus yang sungguh nyata dalam

hidupnya. Oleh karena itu, dalam menjalankan tugas pelayanan kita perlu

memohon kekuatan dari Roh Kudus agar kita mampu menyatakan kehidupan

Kristus. Dengan memohon kekuatan dari Roh Kudus kita dimampukan untuk

melayani dengan gembira, rendah hati, tidak bersungut-sungut, tidak hanya

mementingkan diri sendiri, ingin dipuji, dll.

3. Prodiakon

Martasudjita (2010: 10) menjelaskan bahwa:

Prodiakon merupakan bentukan kata dari bahasa Latin pro dan

Figur

Tabel 1: Matriks Kegiatan Rekoleksi
Tabel 1 Matriks Kegiatan Rekoleksi . View in document p.15
Tabel 1: Matriks Kegiatan Rekoleksi ..............................................................
Tabel 1 Matriks Kegiatan Rekoleksi . View in document p.17
Tabel 1 Matrik Kegiatan Rekoleksi
Tabel 1 Matrik Kegiatan Rekoleksi . View in document p.104

Referensi

Memperbarui...