I. UMUM
1.1 Tujuan Modul Training
II. Dasar-Dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja
2.1 Pengertian K3 2.2 Tujuan K3
2.3 Definisi / istilah-istilah dalam K3 2.4 Sebab-sebab Kecelakaan Kerja 2.5 Pencegahan Kecelakaan Kerja 2.6 Analisa Kecelakaan Kerja
III. Penerapan K3 di PT. Kofuku Abadi
3.1 Visi dan Misi PT. Kofuku Abadi
3.2 Kebijakan Health, Safety and Environmental
3.3 Tanggung jawab karyawan dan pimpinan terhadap K3 3.4 Menggunakan alat pelindung diri
3.5 Penggunaan bahan kimia/B3 dan Informasi MSDS 3.6 Izin Kerja
3.7 Pengoperasian Forklift
3.8 Office Safety
I. UMUM
1.1 Tujuan Modul Training
Tujuan dibuatnya modul training keselamatan dan kesehatan kerja (K3) adalah untuk mempermudah menyampaikan gambaran dasar tentang K3, agar karyawan memiliki pengetahuan dan kemampuan mencegah kecelakaan kerja, mengembangkan konsep dan kebiasaan pentingnya keselamatan dan kesehatan kerja, memahami ancaman bahaya yang ada di tempat kerja dan melakukan langkah pencegahan kecelakaan kerja.
II. Dasar-dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) 2.1 Pengertian Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
a. K3 berdasarkan filosofi adalah suatu pemikiran dan upaya untuk menjamin keutuhan dan kesempurnaan baik jasmaniah maupun rohaniah tenaga kerja pada khususnya dan manusia pada umumnya, hasil karya dan budayanya menuju masyarakat adil dan makmur.
b. K3 berdasarkan keilmuan adalah ilmu pengetahuan dan penerapannya dalam usaha mencegah kemungkinan terjadinya kecelakaan, kebakaran, peledakan, pencemaran dan penyakit akibat kerja (accident prevention). c. K3 berdasarkan praktis adalah upaya perlindungan agar tenaga kerja
selalu dalam keadaan selamat dan sehat selama melakukan pekerjaan di tempat kerja, serta melakukan pekerjaan di tempat kerja, serta melakukan pekerjaan di tempat kerja maupun sumber dan proses produksi dapat secara aman dan efisien dalam pemakaiannya.
d. K3 menurut Undang-Undang No. 1 tahun 1970 adalah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.
2.2 Tujuan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)
kerja
c. Menjamin setiap tenaga kerja dan orang lainnya yang berada di tempat kerja mendapat perlindungan atas keselamatannya; Setiap sumber produksi dapat dipakai dan dipergunakan secara aman dan efisien; Proses produksi berjalan lancar
2.3 Definisi / Istilah dalam K3
a. Safety/keselamatan yaitu kemampuan mengendalikan kerugian dari
kecelakaan (control of accident loss), kemampuan untuk mengidentifikasi dan menghilangkan resiko yang tidak bisa diterima (the ability to identify
and eliminate the unacceptable risk)
b. Health/kesehatan yaitu derajat/tingkat keadaan fisik dan psikologi
individu (the degree of physical and psychological well being to individual) c. Hazard/potensi bahaya yaitu sumber potensial bahaya yang dapat
menyebabkan kerusakan/kecelakaan. Hazard dapat berupa bahan kimia, bagian mesin, bentuk energi, metode kerja/situasi kerja.
d. Danger/tingkat bahaya yaitu tingkat bahaya dari suatu kondisi di mana/kapan muncul sumber bahaya.
e. Risk/resiko yaitu kemungkinan terjadinya kecelakaan/kerugian pada periode tertentu/siklus operasi tertentu.
f. Insiden yaitu kejadian yang tidak diinginkan bilamana pada saat itu, sedikit saja ada tindakan tidak aman maka dapat mengakibatkan kecelakaan kerja.
g. Accident/kecelakaan yaitu suatu kejadian yang tidak diinginkan berakibat cedera pada manusia, kerusakan barang, gangguan terhadap pada pekerjaan dan pencemaran lingkungan.
h. Safe/aman, selamat yaitu kondisi dimana/kapan munculnya sumber bahaya telah dapat dikendalikan ke tingkat yang memadai dan ini adalah lawan dari bahaya/danger.
i. Tindakan tidak aman yaitu suatu pelanggaran terhadap prosedur keselamatan yang memberikan peluang terhadap terjadinya kecelakaan.
yang mungkin dapat langsung mengakibatkan terjadinya kecelakaan.
2.4 Sebab-sebab Kecelakaan Kerja
Faktor-faktor penyebab terjadinya kecelakaan kerja mencakup 5 M yaitu : 1. Manusia
2. Manajemen (unsur pengatur) 3. Material (bahan-bahan) 4. Mesin (peralatan)
5. Medan (tempat kerja/lingkungan kerja)
Semua unsur tersebut saling berhubungan dan membentuk suatu system tersendiri. Ketimpangan pada salah satu/lebih unsur tersebut akan menimbulkan kecelakaan/kerugian. Berikut ini contoh ketimpangan unsur 5M diantaranya:
1. Unsur manusia, antara lain: Tidak adanya unsur keharmonisan antar tenaga kerja maupun pimpinan; Kurangnya pengetahuan/keterampilan dan kaidah keselamatan; Ketidakmampuan fisik/mental; Kurangnya motivasi
2. Unsur manajemen, antara lain: Kurang pengawasan (lack of control); Struktur organisasi yang tidak jelas dan kurang tepat; Tidak ada/kesalahan prosedur operasi; Kesalahan pembinaan pekerja
3. Unsur material, antara lain: Adanya bahan bahaya dan beracun/mudah terbakar; Adanya bahan yang bersifat kondusif
4. Unsur mesin, antara lain: Cacat pada waktu proses pembuatan; Kerusakan karena pengoperasian; Kesalahan perencanaan
5. Unsur medan (tempat kerja/lingkungan kerja), antara lain: Penerangan tidak tepat (silau/gelap), Ventilasi buruk/housekeeping yang jelek (5S)
2.5 Pencegahan Kecelakaan Kerja
pengetahuan dan keterampilan melalui pelatihan yang relevan dengan pekerjaannya; Pembinaan motivasi agar tenaga kerja bersikap dan bertindak sesuai dengan keperluan perusahaan; Pengarahan, penerapan instruksi kerja dan informasi yang lengkap dan jelas; Pengawasan dan disiplin yang wajar.
2. Pendekatan terhadap kelemahan pada perangkat keras, antara lain: Perancangan, pembangunan dan pengendalian, modifikasi, mesin-mesin harus memperhitungkan keselamatan kerja; Pengelolaan penimbunan, pengeluaran, penyaluran, pengangkutan, penyusunan, penyimpanan dan penggunaan bahan produksi secara tepat sesuai dengan standar keselamatan kerja yang berlaku; Pemeliharaan tempat kerja agar tetap bersih dan aman untuk pekerja; Pembuangan sisa produksi dengan memperhitungkan kelestarian lingkungan; Perencanaan lingkungan kerja sesuai dengan kemampuan manusia.
3. Pendekatan terhadap perangkat lunak, harus melibatkan seluruh level manajemen, antara lain: Penyebaran, pelaksanaan dan pengawasan dari
safety policy; Penentuan struktur pelimpahan wewenang dan pembagian
tanggung jawab; Penentuan pelaksanaan pengawasan, melaksanakan dan mengawasi sistem/prosedur kerja yang benar; Pembuatan system pengendalian bahaya; Perencanaan sistem pemeliharaan, penempatan dan pembinaan pekerja yang terpadu; Penggunaan standard/kode/tanda yang dapat diandalkan; Pembuatan sistem pemantauan untuk mengetahui ketimpangan yang ada
Menurut International Labour Organization (ILO), langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menanggulangi kecelakaan kerja, diantaranya:
1. Peraturan perundang-undangan: Adanya ketentuan dan syarat-syarat K3 yang selalu mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan, teknik dan teknologi/up to date; Penerapan semua ketentuan dan persyaratan K3 sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku sejak tahap rekayasa;
pemeriksaan langsung di tempat kerja
2. Standarisasi: Suatu ukuran terhadap besaran/nilai, dengan adanya standar K3 yang maju akan menentukan tingkat kemajuan K3, karena pada dasarnya baik buruknya K3 di tempat kerja diketahui melalui pemenuhan standar K3
3. Inspeksi: Kegiatan yang dilakukan dalam rangka pemeriksaan dan pengujian hasil terhadap tempat kerja, mesin, alat dan instalasi, sejauh mana masalah ini masih memenuhi ketentuan dan persyaratan K3
4. Riset teknis 5. Riset medis 6. Riset Psikologis 7. Riset Statistik
8. Pendidikan dan pelatihan: untuk meningkatkan kesadaran akan arti pentingnya K3, disamping untuk meningkatkan kualitas pengetahuan dan keterampilan K3
9. Persuasi: cara pendekatan K3 secara pribadi dengan tidak menerapkan dan memaksakan melalui sanksi-sanksi
10. Asuransi: dapat diterapkan dengan pembayaran premi yang lebih rendah terhadap perusahaan yang memenuhi syarat K3 dan mempunyai tingkat kekerapan dan keparahan kecelakaan yang kecil di perusahaannya
11. Penerapan 1 s/d 11 tersebut di atas langsung di tempat kerja: langkah-langkah tersebut harus dapat diaplikasikan di tempat kerja dalam upaya memenuhi syarat-syarat K3 di tempat kerja
2.6 Analisa Kecelakaan Kerja
Di Indonesia setiap kejadian kecelakaan kerja wajib dilaporkan kepada Departemen Tenaga Kerja selambat-lambatnya 2x24 jam setelah kecelakaan terjadi. Ada dua Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja dan Undang-Undang No. 3 tahun 1992 tentang Jamsostek.
di tempat kerja maupun kecelakaan dalam perjalanan yang terkait dengan hubungan kerja. Tujuan dari kewajiban melaporkan kecelakaan kerja adalah: 1. Agar pekerjaan yang bersangkutan mendapatkan haknya dalam bentuk
jaminan dan tunjangan
2. Agar dapat dilakukan penyidikan dan penelitian serta analisis untuk mencegah terulangnya kecelakaan serupa.
Laporan kecelakaan umumnya ringkasan dan mengikuti bentuk/formulir tertentu yang menggambarkan kejadian kecelakaan disertai rekomendasi langkah pencegahan. Laporan kejadian disertai dengan suatu analisis terhadap faktor penyebab kecelakaan kerja baik faktor manusia maupun faktor kondisi yang berbahaya
Mengingat bahwa kecelakaan kerja adalah disfungsi sistem suatu unit, dengan demikian objek analisis tidak hanya pada unsur manusia/pekerja dan lingkungan, namun harus menelusuri kembali disfungsi elementer, termasuk hal-hal yang mendahului kejadian kecelakaan (near accident/incident). Analisis kejadian kecelakaan kerja adalah kilas balik langkah demi langkah sesudah terjadi kecelakaan.
a. Tujuan analisis kecelakaan : Menggambarkan apa yang sebenarnya terjadi; Menentukan sebab yang sebenarnya; Mengukur resiko; Mengembangkan tindakan control; Menentukan kecenderungan (trend)
b. Apa yang dianalisis: Setiap kecelakaan yang terjadi, termasuk yang tidak membawa kerugian; Setiap kecelakaan yang membawa kerugian; Keadaan hampir celaka (incident) dan keadaan near miss (hampir celaka)
c. Setiap petugas analisi: Petugas yang berwenang dan mempunyai kemampuan serta keahlian untuk tugas tersebut; Pengawasan kerja lini
(line supervisor); Dapat dilakukan oleh manager
d. Langkah-langkah analisis: Tanggap terhadap keadaan darurat dengan cepat dan positif segera ambil langkah pengamanan dan pengendalian di tempat kerja; Kumpulan informasi yang terkait; Analisa semua fakta yang
analisis
e. Cara analisis: Analisis diawali dengan mengumpulkan informasi sehingga dapat menerangkan dengan jelas dan runtut kejadian kecelakaan secara tepat, jelas dan objektif; Informasi dikumpulkan di tempat kejadian segera setelah terjadi kecelakaan; Penyidikan dan analisis sebaiknya dilakukan oleh petugas yang terlatih/petugas yang telah mengenal dengan baik tempat kerja tersebut; Informasi yang diperoleh dari korban, saksi mata, teman sekerja, pengawas kerja dan lain-lain; Informasi dapat dilengkapi dengan laporan teknis untuk mendukung analisis
Analisis kecelakaan kerja merupakan usaha mencari penyebab kecelakaan untuk mencegah kecelakaan serupa, juga sangat diperlukan dalam system statistik kecelakaan. Oleh karena itu laporan analisis kecelakaan harus dapat menggambarkan hal-hal sebagai berikut:
1. Bentuk kecelakaan-type cidera pada tubuh 2. Anggota badan yang cidera akibat kecelakaan 3. Sumber cidera misalnya objek, pemaparan bahan 4. Type kecelakaan-peristiwa yang menyebabkan cidera
5. Kondisi berbahaya-kondisi fisik yang menyebabkan kecelakaan 6. Penyebab kecelakaan-objek, peralatan, mesin berbahaya
7. Sub penyebab kecelakaan-bagian khusus dari mesin, peralatan yang berbahaya
8. Perbuatan tidak aman-suatu perbuatan/tindakan yang menyimpang dari prosedur aman
Analisis perlu disusun secara sistematis, didata dan dicatat untuk mendorong pelaksanaan K3 yang lebih baik. Hendaknya setiap kecelakaan yang terjadi, termasuk yang tidak membawa kerugian, keadaan yang disebut hampir celaka
3.1 Visi dan Misi PT. Kofuku Abadi
Visi: PT. Kofuku Abadi dalam program keselamatan dan kesehatan kerja untuk menciptakan sebuah budaya dengan komitmen dari manajemen dan karyawan secara aktif berpartisipasi dalam mengurangi kecelakaan dan kehilangan waktu kerja dengan memberikan pelatihan keselamatan yang komperhensif dan program kesadaran untuk mengenali dan meningkatkan komitmen pada keselamatan.
Misi: PT. Kofuku Abadi dalam program keselamatan dan kesehatan kerja untuk menciptakan dan memelihara lingkungan kerja yang aman bagi para karyawan dengan memenuhi standar kerja, pelatihan, sumber daya dan mematuhi peraturan pemerintah, dengan tujuan untuk menghilangkan kecelakaan dan kehilangan waktu dan meminimalkan bahaya.
3.2 Kebijakan Health, Safety and Environmental
1. Kesehatan dan Keselamatan kerja: menjamin bahwa tempat kerja sehat, aman dan memperkenalkan budaya sehat dan keselamatan kerja kepada karyawan
2. Lingkungan: menjamin produk yang dikirim ke pelanggan ramah lingkungan dengan cara menerapkan system manajemen lingkungan dengan efektif, mencegah polusi dan mengurangi penggunaan sumber daya alam
3. Memenuhi perundang-undangan: melaksanakan perundang-undangan kesehatan, keselamatan dan lingkungan
4. Perbaikan berkesinambungan: mensosialisasikan dan meningkatkan kepedulian karyawan dan pihak luar terhadap kebijakan dan memastikan perbaikan berkelanjutan terhadap kesehatan, keselamatan dan system manajemen lingkungan.
Dalam rangka mencapai visi, misi dan kebijakan HSE, maka setiap karyawan dan pimpinan mempunyai tanggung jawab, seperti:
a. Tanggung jawab karyawan terhadap K3: Melakukan pekerjaan dengan aman, mengikuti prosedur kerja untuk kepentingan diri sendiri, rekan kerja, pelanggan dan fasilitas yang ada termasuk penggunaan terhadap alat pelindung diri (APD); Segera melaporkan bila ada kecelakaan, tanpa memperhatikan keparahan dan melaporkan kepada atasan; Melaporkan potensi bahaya dan kecelakaan kerja kepada atasan dan jika memungkinkan dilakukan koreksi; Berpartisipasi dalam rapat dan pelatihan mengenai keselamatan dan kesehatan kerja; Membantu dalam melaporkan dan investigasi kecelakaan yang dilakukan oleh safety
committee; Melakukan perubahan instruksi kerja, prosedur dan kaidah K3
yang terkait lainnya seperti manual, buku panduan dan publikasi.
b. Tanggung jawab pimpinan: Melakukan identifikasi bahaya, melakukan
penilaian tingkat bahaya dan melakukan program tindakan perbaikan; Memberikan bimbingan dan pelatihan kepada karyawan dengan kaidah keselamatan kerja; Mengkomunikasikan aturan keselamatan kerja kepada karyawan, tamu dan kontraktor; Menerapkan dengan ketat aturan keselamatan dan kesehatan kerja; Melakukan inspeksi keselamatan kerja secara rutin; Melaporkan dan melakukan investigasi apabila terjadi kecelakaan kerja; Menghadiri dan mengkomunikasikan catatan safety
meeting.
3.4 Menggunakan alat pelindung diri
Alat pelindung diri disediakan sesuai dengan bahaya disetiap lingkungan kerja. Alat pelindung diri adalah alternatif terakhir untuk menghilangkan/mengurangi faktor bahaya di lingkungan kerja. Alat pelindung diri disediakan oleh perusahaan dan wajib digunakan di tempat dan jenis pekerjaan tertentu. Laporkan kepada atasan untuk penggantian alat pelindung diri ya g sudah rusak/tidak layak digunakan.
Contoh alat pelindung diri:
1. Pelindung kaki: Safety shoes (safety shoes wajib digunakan selama berada di daerah pabrik. Safety shoes disediakan untuk karyawan yang area
(safety boots disediakan untuk area kerja yang basah)
2. Pelindung mata: Safety glasses; safety google (periksa ijin kerja atau prosedur untuk mengetahui tipe pelindung mata yang wajib dipakai
3. Pelindung kepala: Helm
4. Pelindung mata dan muka: Masker 5. Pelindung telinga: Earplug
6. Pelindung tangan: Hand gloves 7. Pelindung pernafasan, dll
Pelanggaran penggunaan alat pelindung diri (APD)
Perusahaan dapat melakukan tindakan disiplin kepada pekerja dalam hal pekerja lalai/tidak menggunakan alat pelindung diri; Sanksi terhadap pelanggaran disiplin sebagaimana diatur dalam Perjanjian Kerja, Peraturan Perusahaan
3.5 Penggunaan bahan kimia/B3 dan Informasi MSDS
Penggunaan bahan kimia harus diketahui oleh perusahaan; Bahan kimia harus disimpan pada tempat yang sudah ditentukan; Tempat penyimpanan bahan kimia harus dilengkapi dengan peralatan emergency yang sesuai (seperti alat pemadam, eye wash, safety shower, dll); Dilarang membuang limbah kimia ke media lingkungan (air, tanah, udara); Limbah bahan kimia harus dikumpulkan ditempat yang sudah ditentukan dan dibuang pada pengelola limbah yang ditunjuk; Semua bahan kimia yang ada di pabrik harus dilengkapi dengan
Material Safety Data Sheet (MSDS)
Informasi MSDS antara lain: Cara penanganan bahan kimia (kondisi penyimpanan, transport, pembuangan limbah); Alat pelindung diri yang diperlukan; Pertolongan pertama pada kecelakaan; Jenis pemadam kebakaran yang sesuai; Informasi bahaya (mudah meledak, menyala, oksidasi, dll), Bacalah petunjuk penggunaan sebelum menggunakannya
Setiap karyawan yang pekerjaannya berbahaya harus mendapatkan Surat Ijin Operasi; Setiap pekerjaan kontraktor/supplier yang beresiko berbahaya harus dilengkapi dengan Surat Ijin Kerja
Jenis-jenis izin kerja, diantaranya: Bekerja di ruang terbatas (confined space
area); Pekerjaan yang menimbulkan api ( hot work); Pekerjaan di ketinggian >
1.5 m (work at height), Pekerjaan dengan low dan medium voltage (electrical
work); Dilarang melakukan pekerjaan sebelum memperoleh ijin kerja
3.7 Pengoperasian Forklift
Semua pengendara forklift harus memiliki ijin khusus mengemudi (SIO); Pengendara wajib memeriksa kondisi forklift setiap awal bekerja; Parkir forklift ditempat yang sudah ditentukan, jangan menghalangi akses jalan/peralatan emergency lainnya; ikuti instruksi kerja yang ada; Lakukan pengecekan secara berkala
3.8 Office Safety
Banyak orang mempunyai kesalahpahaman bahwa pekerjaan kantor tidak berbahaya dan menganggap remeh, contoh keselamatan di office, diantaranya; Atur posisi kursi dan meja sesuai dengan ergonomis tubuh Anda; Jangan biarkan kabel melewati gang/jalan; Rak dan laci harus diatur pembebanannya untuk menghindari bahaya roboh; Jangan tinggalkan laci, filling cabinet dalam keadaan terbuka; Laporkan kerusakan kursi, meja dan peralatan kantor yang rusak agar segera diperbaiki; Jangan menggunakan kursi/peralatan bergerak untuk memanjat
3.9 Apabila terjadi kecelakaan dan Prosedur Tanggap darurat
Apabila terjadi kecelakaan ingat SETUP
Stop (hentikan aktivitas kerja, segera lakukan pertolongan pertama); Environment (lakukan langkah pembatasan terhadap dampak lingkungan); Traffic (perhatikan akses jalan dan kenyamanan korban, jangan
bergerombol/mengelilingi korban); Unknown Hazard (pikirkan bahaya tak terduga seperti bahaya listrik, kebakaran; Protect selt and others (lakukan pembatasan dampak accident, kebocoran gas, dll)
tanggap darurat harus bisa digunakan dalam berbagai situasi darurat dengan mempunyai respon yang cepat dan dapat terorganisir dengan baik; Prosedur tanggap darurat akan efektif jika diterapkan dan dilaksanakan dengan baik oleh masing-masing karyawan. Oleh karena itu karyawan harus mendapatkan pelatihan/simulasi keadaan darurat.