BAB I PENDAHULUAN
A. Pendidikan dalam Islam
3. Dasar-dasar Pendidikan Islam
Suatu totalitas kependidikan harus bersandar pada landasan dasar. Pendidikan Islam, baik sebagai konsep maupun sebagai aktivitas yang bergerak
dalam rangka pembinaan kepribadian yang utuh, paripurna atau syumul,
memerlukan suatu dasar yang kokoh. Kajian tentang pendidikan Islam tidak boleh lepas dari landasan yang terkait dengan sumber ajaran Islam yang mendasar. Ada empat dasar fundamental pendidikan Islam, yaitu : a)
Al-Qur‟an b) Al-Sunnah, c) Al-Kaun, dan d) Ijtihad. a) Al-Qur‟an
Al-Qur‟an diakui oleh orang-orang Islam sebagai firman Allah
SWT, dan karenanya ia merupakan dasar hukum bagi mereka. Al-Qur‟an
diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai petunjuk bagi kaum muslimin dari waktu ke waktu yang selaras dan sejalan dengan kebutuhan
yang terjadi. Al-Qur‟an sepenuhnya berorientasi untuk kepentingan
manusia. Segala persoalan terdapat hal pokoknya di dalam Al-Qur‟an serta
berisi tentang aturan yang sangat lengkap dan tidak punya cela, mempunyai nilai universal dan tidak terikat oleh ruang dan waktu, nilai ajarannya mampu menembus segala dimensi ruang dan waktu.
Al-Qur‟an merupakan kitab pendidikan dan pengajaran secara
umum. Juga merupakan kitab pendidikan secara khusus, pendidikan sosial,
moral dan spiritual. di dalam al-Qur‟an terdapat banyak ajaran yang berisi
prinsip-prinsip berkenaan dengan kegiatan atau usaha pendidikan itu. Sebagai contoh dapat dibaca kisah lukman mengajari anaknya dalam surat
50
Lukman ayat 21-19. Cerita itu menggariskan prinsip materi pendidikan yang terdiri dari masalah iman, akhlak ibadat, sosial dan ilmu pengetahuan.
Maka Al-Qur‟an merupakan sumber inspirasi dan aktivitas manusia dalam
setiap sendi kehidupannya, yang akan mengantarkan manusia mampu berdialog secara ramah dengan dirinya sendiri, dengan alam sekitar, dan
dengan Tuhannya, maka al-Qur‟an menjadi landasan yang kokoh dan
paling strategis bagi orientasi pengembangan intelektual, spiritual dan keparipurnaan hidup manusia secara hakiki. Oleh karena itu pendidikan
Islam harus menggunakan Al-Qur‟an sebagai sumber utama dalam
merumuskan berbagai teori tentang pendidikan Islam (Khoiron Rosyadi, 2004:155).
b) As-Sunnah
As-Sunnah ialah perkataan, perbuatan ataupun pengakuan Rosul Allah SWT. Yang dimaksud dengan pengakuan itu ialah kejadian atau perbuatan orang lain yang diketahui Rasulullah dan beliau membiarkan saja kejadian atau perbuatan itu berjalan.
Dijadikannya as-sunnah sebagai dasar pendidikan Islam tidak
terlepas dari fungsi as-sunnah itu sendiri terhadap Al-Qur‟an. Yaitu : -
Sunnah menerangkan ayat-ayat Al-Qur‟an yang bersifat umum. Maka
dengan sendirinya yang menerangkan itu terkemudian dari yang
diterangkan, - Sunnah mengkhidmati al-Qur‟an. Memang as-sunnah
menjelaskan mujmal al-Qur‟an, menerangkan musykilnya dan
51
SAW berfungsi menjelaskan maksud firman-fiman Allah (QS.16:44).
Abdul Halim Mahmud, dalam bukunya al-sunnah fi makanatiha wa fi
Tarikhiha, menulis bahwa as-sunna mempunyai fungsi yang berhubungan
dengan Al-Qur‟an dan fungsi berkaitan dengan pembinaan hukum syara‟.
Sunnah merupakan sumber ajaran kedua sesudah Al-Qur‟an.
Sunnah berisi tentang petunjuk (pedoman) untuk kemashlahatan hidup manusia dalam segala aspekny, untuk membina umat menjadi manusia seutuhnya atau muslim yang bertakwa. Untuk itu Rasul Allah menjadi guru dan pendidik utama. Oleh karena itu sunnah merupakan landasan kedua bagi cara pembinaan manusia muslim dalam setiap sendi kehidupannya.
c) Al-Kaun
Selain menurunkan ayat-ayat Qauliyah kepada umat manusia
melalui perantara malaikat jibril dan nabi-nabiNya, ia juga
membentangkan ayat-ayat kauniyah secara nyata, yaitu alam semesta
dengan segala macam partikel dan heteroginitas berbagai entitas yang ada di dalamnya: langit yang begitu luas dengan gugusan-gugusan galaksinya, laut yang begitu membahana dengan kekayaan ikan, gunung-gunung, berbagai macam binatang dan sebagainya.
Mengenai ayat-ayat kauniyah tersebut, beberapa ayat di dalam
al-Qur‟an menyatakan dengan gamblang dalam surah Ar-Ra‟d ayat 3 dan Al
-Jatsiyah. Alam semesta selain sebagai ayat-ayat kauniyah yang merupakan
52
secara konkret yang tidak henti-hentinya mengajarkan kepada manusia secara mondial begaimana bersikap dan berperilaku mulia. Ditilik dari wacana pedagogis, hal itu amatlah berarti bagi berlangsungnya proses pendidikan demi tercapainya (setidaknya) dan hal bagus; bukan hanya tumpukan ilmu dan kepandaian, tapi juga sikap arif dan kedewasaan jiwa.
d) Ijtihad
Ijtihad adalah istilah para fuqaha, yaitu berpikir dengan
menggunakan seluruh ilmu yang dimiliki oleh ilmuwan sayri‟at Islam
untuk menetapkan/menentukan sesuatu hukum syari‟at Islam dalam hal
-hal yang ternyata belum ditegaskan hukumnya oleh Al-Qur‟an dan
sunnah (Zakiyah Daradjat, 2012:21). Ijtihad sebagai langkah untuk memperbaharui interpretasi dan pelembagaan ajaran Islam dalam kehidupan yang berkembang merupakan semangat kebudayaan Islami.
Ijtihad yang diarahkan pada interpretasi wahyu dan al-kaun akan
menghasilkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang menggembirakan. Sebab interpretasi manusia atas wahyu akan menghasilkan pemahaman keagamaan atau agama yang aktual. Orang
yang melakukan ijtihad disebut sebagai mujtahid. Seorang mujtahid
senantiasa menggunakan akal budinya untuk memecahkan problematika kemanusiaan dalam kehidupannya. Orang yang senantiasa menggunakan
akal budinya oleh Al-Qur‟an disebut sebagai ulul-albab (Khoiron
53
Menurut Al-Qur‟an ulul-albab adalah sekelompok manusia tertentu
yang diberi keistimewaan oleh Allah SWT. Diantara keistemewaannya adalah mereka diberi hikmah dan pengetahuan, disamping pengetahuan yang diperoleh secara empiris (QS.2:269).
Ijtihad dalam pendidikan harus tetap bersumber pada Al-Qur‟an
dan Sunnah yang diolah oleh akal yang sehat dari para ahli pendidikan Islam. Ijtihad di bidang pendidikan ternyata semakin perlu sebab ajaran
Islam yang terdapat dalam Al-Qur‟an dan Sunnah adalah bersifat pokok
-pokok dan prinsip-prinsip saja (Zakiyah Daradjat, 2012:22).