BAB V : HASIL DAN PEMBAHASAN
B. Dasar Hukum Kewenangan Pemerintah Daerah dalam
sarana dan prasarana telekomunikasi.
B. Dasar Hukum Kewenangan Pemerintah Daerah dalam Pengaturan Menara Telekomunikasi
Secara spesifik, pengaturan Menara Telekomunikasi merupakan salah satu kewenangan dari Pemerintah Daerah dalam hal penyelenggaraan urusan daerah berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan yang diberikan secara atribusi berdasarkan pada Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 (untuk selanjutnya disebut sebagai UUD 1945). UUD 1945 mengatur secara tegas perihal pemberian kewenangan tersebut kepada daerah, sebagaimana diatur dalam UUD 1945 berikut:
43
Pemerintah daerah provinsi, daerah Kabupaten, dan Kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.**)
Pasal 18 Ayat (5):
Pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh undang-undang ditentukan sebagai urusan Pemerintahan Pusat.**)
Pasal 18 Ayat (6):
Pemerintahan daerah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain untuk melaksanakan otonomi dan tugas pembantuan.** )
Pasal 18A Ayat (1):
Hubungan wewenang antara pemerintah pusat dan pemerintahan daerah provinsi, kabupaten, dan kota, atau provinsi dan kabupaten dan kota, diatur dengan undang- undang dengan memperhatikan kekhususan dan keragaman daerah.**)
Pasal 18A Ayat (2):
Hubungan keuangan, pelayanan umum, pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya lainnya antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah diatur dan dilaksanakan secara adil dan selaras berdasarkan undang-undang.** )
Berdasarkan ketentuan pasal-pasal diatas maka dapat dinyatakan bahwa dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah mengandung adanya prinsip daerah mengatur sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan, prinsip menjalankan otonomi seluas-luasnya, prinsip hubungan pusat dan daerah dilaksanakan secara selaras dan adil. Prinsip-prinsip dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah di atas tidak boleh bertentangan dengan Pasal 1 ayat (1) UUDRI 1945 yang menganut konsep Negara Kesatuan. Konsep Negara kesatuan pada dasarnya penyelenggaraan pemerintahan dilakukan oleh pemerintah pusat dan pemerintah pusat menyerahkan urusan pemerintahan ke daerah dengan asas desentralisasi dan asas tugas pembantuan (medebewind). Hal ini berarti kekuasaan tertinggi dalam Negara Kesatuan dipegang sepenuhnya oleh Pemerintah Pusat. Hal ini sesuai dengan pendapat Edie Toet Hendratno yang menyatakan bahwa Negara Kesatuan adalah Negara yang mempunyai kemerdekaan dan kedaulatan atas seluruh wilayah atau daerah yang dipegang sepenuhnya oleh satu pemerintah pusat. Kedaulatan sepenuhnya dari pemerintah pusat disebabkan karena didalam Negara Kesatuan itu tidak terdapat negara- negara yang berdaulat. Meskipun di dalam negara-negara kesatuan wilayah-wilayah negara
44
dibagi dalam bagian-bagian negara tersebut tidak mempunyai kekuasaan asli seperti halnya dengan negara-negara bagian dalam bentuk Negara federasi.28
“Prinsip pada Negara kesatuan ialah bahwa yang memegang tampuk kekuasaan tertinggi atas segenap urusan Negara ialah pemerintah pusat tanpa adanya suatu delegasi atau pelimpahan kekuasaan pada pemerintah daerah (local government). Dalam Negara kesatuan terdapat asas bahwa segenap urusan-urusan Negara tidak dibagi antara pemerintah pusat (central government) dan pemerintah lokal (local government) sehingga urusan-urusan Negara dalam Negara Kesatuan tetap merupakan suatu kebulatan (eenheid) dan pemegang tertinggi di Negara itu ialah pemerintah pusat.
Pengakuan adanya asas desentralisasi (penyerahan urusan dari pemerintah pusat ke daerah otonom) untuk menjadi urusan rumah daerah otonom itu merupakan bentuk pelimpahan wewenang pemerintah pusat kepada daerah. Pelaksanaan asas desentralisasi inilah yang melahirkan daerah-daerah otonom. Daerah otonom dapat mengatur rumah tangganya sendiri sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Penjelasan lebih lanjut mengenai Negara kesatuan yang didesentralisasikan tersebut dapat dilihat dari uraian yang dikemukakan oleh M. Solly Lubis berikut ini :
29
28
Edie Toet Hendratno, Negara Kesatuan, Desentralisasi, dan Federalisme, Jakarta,Graha Ilmu dan Universitas Pancasila Press,2009,h.46
29
M. Solly Lubis, Pergeseran Garis Politik dan Perundang-undangan Mengenai Pemerintah Daerah, Bandung, Alumni, 1983, h.8
Berdasarkan ketentuan-ketentuan tersebut di atas, Pemerintah Daerah mempunyai kewenangan untuk melakukan pengaturan terhadap pembangunan Menara Telekomunikasi dengan berdasarkan pada asas otonomi dan tugas pembantuan, serta sebagai realisasi asas otonomi dan tugas pembantuan pemerintah berhak menetapkan peraturan daerah dan peraturan-peraturan lain. Keberadaan Menara Telekomunikasi sebagai salah satu infrastruktur dalam penyelenggaraan telekomunikasi dalam pembangunannya menara telekomunikasi sering mengabaikan kepentingan pihak lain untuk memperoleh kesejahteraan, maupun jaminan sosial yang merupakan bagian dari hak asasi manusia atas lingkungan hidup yang sehat dan bersih sebagaimana diatur dalam beberapa pasal UUD 1945 yakni:
45
Setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan.**)
Pasal 33 ayat (1):
Perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan.
Pasal 33 ayat (3):
Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.
Pasal 33 ayat (4):
Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional. ****)
Pemerintah daerah yang berpihak kepada kepentingan untuk memberikan perlindungan hukum bagi warganya, penduduknya, rakyatnya untuk mendapatkan rasa aman, termasuk dari kekhawatiran atau ketakutan atas robohnya menara telekomunikasi mendapatkan landasan konstitusional pada Pasal 28H ayat (1) UUD 1945. Berdasarkan hal itu, maka pemerintah daerah memiliki wewenang untuk membuat peraturan daerah dalam rangka memberikan perlindungan kepada warganya. Penyusunan peraturan daerah tersebut akan merujuk pula kepada peraturan perundang-undangan yang mengatur lebih lanjut hak-hak warga Negara yang diatur dalam Pasal 28H Ayat (1) UUD 1945.
Pasal 33 ayat (4) UUD 1945 menegaskan prinsip berkelanjutan yang melekat dalam asas demokrasi ekonomi yang dianut oleh Negara Indonesia. Dalam Pasal 33 ayat (4) tersebut pada dasarnya kata berkelanjutan itu berkaitan dengan konsep sustainable development atau pembangunan berkelanjutan. Hal itu terkait erat dengan perkembangan gagasan tentang pentingnya wawasan pemeliharaan, pelestarian, dan perlindungan lingkungan hidup yang sehat30
Kewenangan pemerintah daerah dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan berdasarkan otonomi dan tugas pembantuan tersebut dijabarkan lagi dalam Undang-
agar dengan demikian warga masyarakat dapat menikmati hak hidupnya dengan baik lahir batin dalam kerangka kesejahteraan masyarakat.
30
Jimmly Asshiddiqie, Green Constitution Nuansa Hijau Undang-Undang Dasar Republik Indonesia 1945, Rajawali Pers, 2009, hal 133.
46
Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah beserta Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian urusan antara Pemerintah pusat, Pemerintah provinsi dan Pemerintah daerah kabupaten/kota. Secara spesifik pengaturan tentang kewenangan pemerintah daerah dalam mengendalikan pertumbuhan menara telekomunikasi juga diatur dalam beberapa peraturan teknis lainnya. Setiap kebijakan pemerintah daerah dalam melakukan pengendalian menara telekomunikasi haruslah merujuk pada berbagai peraturan yang terkait dengan hal tersebut, diantaranya:
1. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. Dalam Pasal 136 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah (selanjutnya disebut UU Pemda) telah mengatur tentang kewenangan pemerintah daerah dalam membentuk Peraturan Daerah, dimana pengaturannya menyatakan bahwa “Perda dibentuk dalam rangka penyelenggaraan otonomi pemerintah provinsi/kabupaten/kota dan tugas pembantuan serta merupakan penjabaran peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dengan memperhatikan ciri-ciri khas masing-masing daerah. Dengan demikian berkaitan dengan penataan dan pembangunan menara telekomunikasi yang berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomot 38 Tahun 2007 tentang Pembangian Urusan Antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota merupakan kewenangan pemerintah Kabupaten/Kota dengan disesuaikan kondisi daerah masing-masing, maka penataan dan pembangunan menara telekomunikasi harus diatur dalam Peraturan Daerah. Aturan ini memberikan dasar legalitas bagi pemerintah daerah untuk melaksanakan kebijakan pengendalian menara telekomunikasi, dimana kebijakan tersebut haruslah tertuang dalam bentuk hukum peraturan daerah yang memberikan kepastian hukum bagi masyarakat pada umumnya, dan pelaku usaha telekomunikasi pada khususnya.
Di dalam UU Pemda diatur tentang pembagian urusan pemerintahan, dalam arti membagi antara urusan-urusan yang termasuk dalam wewenang pemerintah pusat dan urusan-urusan yang menjadi wewenang pemerintah daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota. Pembagian urusan pemerintahan pusat dan
47
pemerintahan daerah merupakan realisasi dari konsep pelaksanaan otonomi daerah yang bertujuan untuk memaksimalkan hasil yang akan dicapai sekaligus menghindari kerumitan dan hal-hal yang menghambat pelaksanaan otonomi daerah. Dengan demikian tuntutan masyarakat dapat diwujudkan secara nyata dengan penerapan otonomi daerah dan kelangsungan pelayanan umum yang tidak diabaikan. Ketentuan tentang pembagian urusan tersebut selanjutnya diatur lebih rinci dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota. Wewenang Pemerintah Pusat diatur dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 yang menyatakan :
(1) Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangannya, kecuali urusan pemerintahan yang oleh Undang- Undang ini ditentukan menjadi urusan Pemerintah.
(2) Dalam menyelenggarakan urusan pemerintahan, yang menjadi kewenangan daerah sebagaimana dimaksud pada ayat (1), pemerintahan daerah menjalankan otonomi seluas-luasnya untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan berdasarkan asas otonomi dan tugas pembantuan.
(3) Urusan pemerintahan yang menjadi urusan Pemerintah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. politik luar negeri; b. pertahanan; c. keamanan; d. yustisi;
e. moneter dan fiskal nasional; dan f. agama.
Sedangkan wewenang Pemerintahan Daerah Provinsi diataur dalam Pasal 13 menyatakan :
Urusan wajib yang menjadi kewenangan daerah provinsi merupakan urusan dalam skala provinsi yang meliputi:
1) Perencanaan dan pengendalian pembangunan;
2) Perencanaan, pemanfaatan, dan pengawasan tata ruang;
3) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketentraman masyarakat; 4) Penyediaan sarana dan prasarana umum;
5) Penanganan bidang kesehatan;
6) Penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial;
7) Penangulangan masalah sosial lintas kabupaten/kota; 8) Pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;
48
9) Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil, dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota;
10) Pengendalian lingkungan hidup;
11) Pelayanan pertanahan termasuk lintas kabupaten/kota; (huruf tebal oleh penulis)
12) Pelayanan kependudukan, dan catatan sipil; 13) Pelayanan administrasi umum pemerintahan;
14) Pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota;
15) Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota; dan
16) Urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang- undangan.
Wewenang Pemerintah Daerah Kabupaten atau Kota diatur dalam Pasal 14 UU Nomor 32 Tahun 2004 menyatakan :
Urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah untuk kabupaten/kota merupakan urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi :
1) Perencanaan dan pengendalian pembangunan;
2) Perencanaan, pemanfaatn dan pengawasan tata ruang;
3) Penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat; 4) Penyediaan sarana dan prasarana umum;
5) Penanganan bidang kesehatan; 6) Penyelenggaraan pendidikan; 7) Penanggulangan masalah sosial; 8) Pelayanan bidang ketenagakerjaan;
9) Fasilitasi pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah; 10) Pengendalian lingkungan hidup;
11) Pelayanan pertanahan;
12) Pelayanan kependudukan dan catatan sipil; 13) Pelayanan administrasi umum pemerintahan; 14) Pelayanan administrasi penanaman modal; 15) Penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan
16) urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang- undangan.
Ketentuan Pasal 10, 13 dan 14 Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 dijabarkan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Tahun 2007 Nomor 82 Tambahan Lembaran Negara Nomor 4737) (selanjutnya
49
disebut PP 38/2007) terutama dalam ketentuan Pasal 6 dan Pasal 7. Pasal 6 PP38/ 2007 menyatakan :
(1) Pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota mengatur dan mengurus urusan pemerintahan yang berdasarkan kriteria pembagian urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) menjadi kewenangannya.
(2) Urusan pemerintahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas urusan wajib dan urusan pilihan.
Pasal 7 PP 38/2007 menyatakan :
(1) Urusan wajib sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (2) adalah urusan pemerintahan yang wajib diselenggarakan oleh pemerintahan daerah provinsi dan pemerintahan daerah kabupaten/kota, berkaitan dengan pelayanan dasar.
(2) Urusan wajib sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi: a. pendidikan; b. kesehatan; c. lingkungan hidup; d. pekerjaan umum; e. penataan ruang; f. perencanaan pembangunan; g. perumahan;
h. kepemudaan dan olah raga; i. penanaman modal;
j. koperasi dan usaha kecil dan menengah; k. kependudukan dan catatan sipil;
l. ketenagakerjaan; m. ketahanan pangan;
n. pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak; o. keluarga berencana dan keluarga sejahtera;
p. perhubungan;
q. komunikasi dan informatika; r. pertanahan;
s. kesatuan bangsa dan politik dalam negeri;
t. otonomi daerah, pemerintahan umum, administrasi keuangan daerah, perangkat daerah, kepegawaian, dan persandian;
u. pemberdayaan masyarakat dan desa; v. sosial;
w. kebudayaan; x. statistik;
y. kearsipan;dan perpustakaan.
50
Berdasarkan ketentuan pasal-pasal di atas sangat jelas sekali keberadaan huruf q yaitu komunikasi dan informatika termasuk dalam hal ini pendirian menara telekomunikasi, pemerintah kabupaten/ kota mempunyai wewenang mengaturnya dalam rangka memberikan pelayanan dasar yang berupa upaya menata, pengendalian serta melakukan pengawasan. Kewenangan daerah dituangkan secara tegas yaitu untuk menerbitkan Izin Mendirikan Bangunan Menara dan memungut Retribusi Pengendalian Menara Telekomunikasi31
2. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi . Hal ini membawa konsekuensi bahwa daerah memiliki kewenangan mengaturnya dalam peraturan daerah kabupaten atau kota untuk melaksanakan asas desentralisasi khususnya dalam pengaturan pengendalian pendirian menara telekomunikasi. Hal ini terbukti beberapa daerah di Jawa Timur memgatur menara telekomunikasi dalam peraturan daerah antara lain Kota Surabaya, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Blitar, Kabupaten Ngawi. Pengaturan Menara Telekomunikasi meskipun diatur dalam peraturan daerah tetapi peraturan daerah tersebut juga harus memperhatikan peraturan perundang-undangan lainnya yang terkait.
32
Menara telekomunikasi merupakan bagian materi yang diatur dalam UU Telekomunikasi, undang-undang tersebut perlu dirujuk untuk melacak kewenangan pemerintah daerah untuk melakukan pembinaan dalam bentuk pengaturan terhadap telekomunikasi. Apabila disimak berdasarkan arti strategis telekomunikasi yakni sebagai bagian strategis dalam upaya memperkukuh persatuan dan kesatuan bangsa, memperlancar kegiatan pemerintahan, mendukung terciptanya tujuan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya, serta meningkatkan hubungan antarbangsa, maka pemerintah daerah merupakan bagian penting yang tidak terpisahkan dalam sistem telekomunikasi nasional. (selanjutnya disebut sebagai UU Telekomunikasi).
31
Lampiran Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007, bidang Komunikasi dan informatika
32
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 154 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3881.
51
Telekomunikasi diberi peran strategis untuk semakin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa, semakin menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Pemerintah daerah sebagai bagian dari pemerintah pusat dalam kerangka NKRI dengan demikian juga memiliki peran vital untuk mengimplementasikan peran strategis telekomunikasi.
Dalam konteks pengaturan terhadap menara telekomunikasi oleh pemerintah, bentuk hukum yang digunakan adalah Peraturan daerah. Dalam perspektif Provinsi Jawa Timur, pengaturan terhadap menara telekomunikasi oleh Pemerintah daerah Provinsi Jawa Timur harusnya mewujud dalam bentuk harmonisasi peraturan daerah, antara daerah kabupaten/kota yang satu dengan yang lain.
Peraturan daerah yang akan ditetapkan haruslah berdasarkan pada asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, kemitraan, etika, dan kepercayaan pada diri sendiri sebagaimana telah diatur dalam Pasal 2 UU Telekomunikasi. Penetapan kebijakan pengaturan, pengawasan dan pengendalian di bidang telekomunikasi tersebut, sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (3) UU Telekomunikasi haruslah dilakukan secara menyeluruh dan terpadu dengan memperhatikan pemikiran dan pandangan yang berkembang dalam masyarakat serta perkembangan global.
3. Undang-Undang Nomor 18 Tahun 1999 tentang Jasa Konstruksi33
Menara telekomunikasi, secara fisik dan teknikal, berkaitan dengan persoalan konstruksi, oleh karena itu pembangunan menara telekomunikasi tidak terlepas dari jangkauan keberlakuan UU Jasa Konstruksi. Dalam UU Jasa Konstruksi terdapat pengaturan kewenangan daerah, sehingga UU Jasa Konstruksi berposisi sebagai rujukan atau landasan hukum ketika pemerintah (selanjutnya disebut sebagai UU Jasa Konstruksi)
33
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1999 Nomor 54, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3833.
52
daerah menggali sumber kewenangan untuk mengatur Base Transeiver Station (selanjutnya disebut sebagai BTS).
Terkait dengan konstruksi menara telekomunikasi, berdasarkan Pasal 35 ayat (6) UU Jasa Konstruksi bahwa Pemerintah Daerah berwenang untuk melakukan sebagaian tugas pembinaan jasa konstruksi yang dilimpahkan kepada Pemerintah daerah. Pelimpahan itu diatur dalam bentuk hukum Peraturan pemerintah, yaitu Peraturan Pemerintah No. 29 Tahun 2000 tentang penyelenggaraan jasa konstruksi sebagaimana diubah dengan Peraturan Pemerintah No 59 Tahun 2010. Pembinaan yang dimaksud meliputi pengaturan, pemberdayaan dan pengawasan. Sehingga dalam menetapkan kebijakan dalam penataan pertumbuhan menara telekomunikasi pemerintah daerah berwenang untuk mengatur pertumbuhan menara agar dapat selaras dengan pembangunan daerah, tata ruang daerah dan keindahan wilayah (estetika) kabupaten/kota. Di dalam pengaturannya harus dipertimbangkan kepentingan berimbang antara kepentingan pemerintah, pengusaha dan masyarakat. Pemerintah daerah juga berkewajiban untuk melakukan pengawasan secara rutin terkait dengan kualitas bangunan/konstruksi menara telekomunikasi.
4. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung34
UU Bangunan Gedung memberikan kewenangan yang cukup luas kepada pemerintah daerah, khususnya sebagaimana termaktub dalam Pasal 6, 7, 8, 9, 10, 33, 35, 39, 40, dan 48. Ketentuan dalam pasal-pasal ini terkait dengan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota, Izin Mendirikan Bangunan, Penetapan, Persetujuan Pemerintah Kabupaten/Kota terhadap tindakan tertentu terkait dengan bangunan, persyaratan administratif dan lain-lain serta elemen (selanjutnya disebut sebagai UU Bangunan Gedung)
34
Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 134 Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4247.
53
pembinaan yang memberikan kewenangan kepada Pemerintah Kabupaten/Kota untuk mengatur bangunan (termasuk BTS).
Dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 tentang Bangunan Gedung, Pengertian bangunan gedung dalam Undang-Undang ini adalah bangunan berupa gedung dan bangunan non gedung, dimana menara telekomunikasi merupakan salah satu bentuk dari bangunan non gedung. Berdasarkan Undang-Undang Bangunan Gedung setiap bangunan baik gedung maupun non gedung harus memenuhi persyaratan teknis dan persyaratan administratif. Salah satu sarana yang digunakan oleh pemerintah dalam memeriksa bangunan tersebut telah memenuhi persyaratan administratif dan persyaratan teknis melalui Izin Mendirikan Bangunan. Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2002 telah memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah kabupaten/kota untuk memberikan IMB yang pembentukannya diatur dengan Peraturan Daerah.
Keberadaan menara telekomunikasi yang termasuk dalam kategori bangunan non-gedung haruslah sesuai dengan peruntukan lokasi sebagaimana diatur dalam Peraturan Daerah tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten/Kota. Ketentuan tegas ini dituangkan dalam pasal 6 ayat (1) UU Bangunan Gedung. Pendirian menara telekomunikasi haruslah didasarkan pada Izin Mendirikan Bangunan Menara Telekomunikasi (IMB Menara). Selanjutnya merujuk pada ayat 93) pasal ini, setiap perubahan fungsi dari menara telekomunikasi haruslah mendapatkan persetujuan dan penetapan kembali oleh pemerintah daerah. Setiap IMB Menara yang diterbitkan haruslah telah melalui pengkajian teknis, dan memenuhi syarat adminstratif, teknis yang telah ditetapkan.
Namun, mengingat karateristik menara telekomunikasi, terdapat permasalahan mendasar apabila ke depan pengaturan menara telekomunikasi tetap hanya merujuk pada UU Bangunan Gedung an sich. Karateristik menara telekomunikasi sangatlah spesifik, walaupun dikategorikan sebagai bangunan non-gedung, terdapat permasalahan apabila menara telekomunikasi tersebut
54
berdiri diatas masjid atau gereja yang hanya berfungsi sebagai antenna penerima sinyal. Permasalahan juga timbul apabila menyangkut IMB (Izin Membangun Bangunan) dan IMB Menara, terkait dengan retribusi dan persyaratan teknis administratif lainnya serta terkait dengan mekanisme pembongkaran mengingat pembongkaran menara telekomunikasi tidaklah sama dengan pembongkaran bangunan lainnya karena biaya yang mahal dan kompleksitas pekerjaan. Mendatang perlu difikirkan oleh pemerintah untuk mengatur bangunan Menara Telekomunikasi dalam satu regulasi tersendiri.
5. Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang (selanjutnya disebut sebagai UU Penataan Ruang)
Salah satu model pengaturan yang utama adalah dengan meletakkan menara telekomunikasi sesuai dengan penataan ruang di daerah. Penataan ruang merupakan wewenang dari negara, dan dilimpahkan kepada daerah berdasar pasal 7 ayat (1) UU Penataan Ruang. UU Penataan Ruang telah memberikan dasar legalitas kewenangan daerah untuk melakukan penataan ruang wilayahnya yang kemudian dituangkan dalam Rencana Tata Ruang dan Tata Wilayah Kabupaten/kota masing-masing dengan mempertimbangkan faktor-faktor geostrategis, potensi sumberdaya dan kondisi daerah. Kewenangan ini ditujukan untuk menjaga keserasian dan keterpaduan antardaerah dan antara pusat dan daerah agar tidak menimbulkan kesenjangan antardaerah dengan mendasarkan pada transparansi, efektifitas, dan partisipatif agar terwujud ruang yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan. Wewenang pemerintah daerah kabupaten/kota dalam hal penyelenggaraan penataan ruang termaktub dalam Pasal 11 ayat (1) UU Penataan Ruang, meliputi:
a. pengaturan, pembinaan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten/kota dan kawasan strategis kabupaten/kota;
55
b. pelaksanaan penataan ruang wilayah kabupaten/kota;
c. pelaksanaan penataan ruang kawasan strategis kabupaten/kota; dan d. kerja sama penataan ruang antarkabupaten/kota.
6. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (selanjutnya disebut UU PPLH)
Keberadaan menara telekomunikasi sangat lekat kaitannya dengan kebijakan pengaturan lingkungan hidup di sekitar lokasi menara. Sehingga keberlangsungan ekosistem dan lingkungan yang baik dan sehat bagi masyarakat di sekitar menara tetap terwujud.
Upaya memadukan pembangunan menara telekomunikasi dengan kebijakan lingkungan serta penataan pertumbuhan menara telekomunikasi merupakan salah satu upaya terencana yang memadukan aspek lingkungan hidup, sosial dan ekonomi ke dalam strategi pembangunan untuk menjamin keutuhan lingkungan hidup. Hal ini selaras dengan konsep pembangunan berkelanjutan sebagaimana dituangkan dalam ketentuan Pasal 1 angka 3 UU PPLH.
Berdasarkan konsepsi pembangunan berkelanjutan tersebut, perlu difikirkan upaya pengendalian menara telekomunikasi yang berbasis pada lingkungan. Kebijakan ini merupakan kebijakan yang terintegrasi dengan kebijakan lingkungan pada tingkat kabupaten/kota yang merupakan salah satu wewenang dari pemerintah daerah berdasarkan Pasal 63 ayat (3) huruf a UU PPLH.
7. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (selanjutnya disebut UU Persaingan Usaha)
Mengingat karateristiknya yang kompleks, pengaturan menara juga harus mempertimbangkan aspek dari kepentingan usaha. Analisa pada bagian
56
sebelumnya telah memotret urgensi pengaturan menara telekomunikasi dari perspektif hukum bisnis. Ditinjau dari hukum bisnis, pengaturan menara