• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V : HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Legalitas Bisnis

Tidak ada langkah bisnis yang tidak bertumpu pada hukum, karena setiap langkah bisnis pada hakikatnya adalah langkah hukum. Oleh karena itu, setiap penyelenggaran bisnis wajib memperhatikan, memahami, dan menegakkan hukum yang mengatur bidang bisnis tersebut. Hukum akan melahirkan legalitas bisnis yang diselenggarakan oleh setiap pelaku bisnis. Dalam bisnis terdapat 3 (tiga) legalitas yang wajib dipenuhi yaitu legalitas eksistensional (pendirian), legalitas operasional, dan legalitas transaksional.

1. Legalitas Eksistensional (pendirian organisasi perusahaan).

Legalitas eksistensional merupakan aspek legal yang berkaitan dengan pendirian sauatu badan usaha. Badan usaha dibedakan ke dalam badan usaha badan hukum (BUBH) dan badan usaha bukan badan hukum (BUBBH). BUBH ada yang bersifat komersial dan nirlaba. BUBH komersial antara lain terdiri atas perseroan terbatas (PT), usaha bersama, koperasi, dana pensiun. BUBH nirlaba antara lain berbentuk yayasan. BUBBH antara lain berupa persekutuan perdata atau matschaap, vennootschaap on de firma (firma), dan commanditaire vennotschaap (CV). Kehadiran atau eksistensi setiap bentuk badan usaha tersebut, baik BUBH maupun BUBBH digantungkan pada prosedur pendiriannya, sehingga keabsahan badan usaha tersebut wajib memenuhi ketentuan pendiriannya sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya. Matschaap, firma, CV diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata juncto Kitab Undang-Undang Hukum Dagang. Pendirian PT diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Pendirian Koperasi daitur di dalam Undang- Undang Nomor 17 Tahun 2012 tentang Perkoperasian. Pendirian dana pensiun diatur dalam Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1992 tentang Dana Pensiun. Pendirian yayasan diatur dalam Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2001 tentang Yayasan juncto Undang- Undang Nomor 28 Tahun 2004 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 16

30

Tahun 2001 tentang Yayasan. Bentuk BUBH yang terdapat dalam praktik akan tetapi belum ada undang-undang yang mengaturnya adalah usaha bersama.

Apabila badan usaha didirikan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang mengaturnya, maka kehadiran atau eksistensi badan usaha itu sah sehingga memenuhi legalitas pendiriannya atau yang saya sebut legalitas eksistensional. Dalam perspektif legalitas eksistensional, maka penyedia menara yang dapat berbentuk usaha perseorangan, koperasi, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Swasta wajib memenuhi aspek legalitas pendiriannya. Secara konkrit, legalitas pendirian dibuktikan dengan akta pendirian perusahaan berikut dokumen adminstratif terkait yang diterbitkan oleh lembaga otoritas yang berbentuk akta pengesahan atas pendirian perusahaan, sebagai contoh: legalitas pendirian PT ditentukan oleh keberadaan akta pendiriannya yang berbentuk akta notaris dengan disertai Surat Keputusan Pengesahan Pendirian PT yang dikeluarkan oleh Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Dalam kerangka pengaturan badan usaha yang diperbolehkanmenjalankan usaha di bidang bisnis menara telekomunikasi perlu ditetapkan bentuk badan usaha apa yang diperkenankan untuk menjalankan bisnis menara telekomunikasi. Alternatif pilihannya digantungkan pada keluwesan atau fleksibilitas bentuk badan usaha itu ketika bekerjasama dengan user atau pengguna menara telekomunikasi secara bersama. Apabila ditijnau berdasarkan provider penyelenggara bisnis telekomunikasi ponsel, pada umumnya pelaku usahanya berbentuk perseroan terbatas (PT). Dengan kerangka berpikir berdasarkan kelinieran bentuk badan usaha, maka tidak ada salahnya jika pelaku usaha bisnis menara telekomunikasi diarahkan kepada badan usaha yang berbentuk PT. Pertimbangannya selain kelinieran itu, juga dengan menimbang kedudukan PT sebagai badan usaha yang berstatus badan hukum, sehingga memudahkan pertanggungjawabannya dalam kerangka operasional bisnis. Pada PT, keberadaannya tidak digantungkan pada orang perorangan yang menjadi pemegang saham, sehingga pergantian pemegang saham tidak berpengaruh terhadap eksistensi PT sebagai subyek hukum yang mandiri atau legal entity. Semakna dengan PT dimaksud, termasuk pula BUMN yang berbentuk PT (Persero) maupun BUMD yang berbentuk PT.

31

Sistem pertanggungjwaban seperti itu tidak dijumpai pada bentuk badan usaha yang tidak berstatus sebagai badan hukum, seperti usaha perorangan, CV, atau firma.

Selain PT, koperasi juga luwes dan layak untuk menjalankan bisnis menara telekomunikasi, apabila ditinjau berdasarkan pertanggungjawabannya yang terletak pada koperasi itu sendiri sebagai badan usaha yang berstatus sebagai badan hukum. Oleh karena itu, PT dan koperasi merupakan bentuk badan usaha yang luwes dan layak untuk diposisikan sebagai penyelenggara bisnis menara telekomunikasi.

Berdasarkan pemikiran di atas, maka ketentuan dalam PB-P3B-MT yang menegaskan “Penyedia menara adalah perseorangan, koperasi, Badan Usaha Milik Daerah, Badan Usaha Milik Negara atau Badan Usaha Swasta yang memiliki dan mengelola menara telekomunikasi untuk digunakan bersama oleh penyelenggara telekomunikasi” perlu ditinjau ulang atau direview, sehingga pelaku usaha penyedia menara telekomunikasi adalah badan usaha yang berbadan hukum, yakni PT, koperasi, PT (Persero) maupun PT yang didirikan dalam rangka BUMD.

2. Legalitas Operasional (perijinan).

Kegiatan operasional bisnis badan usaha, baik BUBH maupun BUBBH digantungkan pada ijin operasional yang dimilikinya yang dalam praktik dikenal dengan istilah ijin usaha. Ijin usaha merupakan landasan operasional bagi suatu badan usaha untuk menjalankan atau menyelenggarakan kegiatan bisnisnya. Contoh: perusahaan yang bergerak di bidang usaha perbankan wajib memiliki ijin usaha bank dari Bank Indonesia. PJPT wajib memiliki ijin usaha menara telekomunikasi dari pahak otoritas, dalam hal ini Kementerian Komunikasi dan Informasi (Menkominfo). Pendirian bangunan menera telekomunikasi harus dilengkapi dengan Ijin Mendirikan Bangunan Menara Telekomunikasi.

Hakikat ijin adalah keabsahan melakukan tindakan atau kegiatan usaha sesuai dengan ijin yang dimilikinya. Ijin akan “menghalalkan suatu tindakan yang semula haram”. Pada sisi inilah, maka legalitas operasional merupakan kebutuhan mendasar bagi pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan usahanya. Kepastian bahwa PJPT memiliki

32

ijin merupakan salah satu bentuk perlindungan hukum kepada para user/ pengguna menara telekomunikasi secara bersama-sama dengan para user/pengguna yang lain.

3. Legalitas Transaksional.

Legalitas transaksional bermuatan tentang hubungan hukum pelaku bisnis dengan partner bisnisnya. Dalam konteks penyewaan menara telekomunikasi, wujud atau realisasi hubungan transaksional itu antar alain dalam bentuk perjanjian sewa menyewa tower. Substansi perjanjiannya, proses pembentukan perjanjian sewa menyewa tower, kapasitas para pihak dalam perjanjian sewa menyewa tower merupakan aspek yang mutlak wajib diperhatikan dalam kaitan dengan keabsahan kontrak yang terjadi. Oleh karena itu, PJPT perlu untuk menyiapkan, antara lain:

1) Kelengkapan data teknis tower seperti ketinggian, tipe, luas lahan, jumlah antena terpasang, dll.

Kelengkapan data baik teknis maupun administrasi merupakan kunci utama dalam keberhasilan usaha jasa penyewaan tower. Hal ini perlu disadari khususnya oleh operator telekomunikasi seluler yang banyak memiliki aset tower yang pada awalnya memang tidak dijadikan sebagai alat penghasilan dari sisi penyewaan tower. Para operator tersebut kebanyakan tidak memiliki kelengkapan data khususnya data teknis yang tentunya akan menyulitkan jika suatu waktu towernya akan disewakan ke operator lainnya.

2) Kelengkapan dan kejelasan data hukum dan administrasi site, seperti dokumen kontrak dengan pemilik lahan atau pemilik gedung, PBB, SHM, tanggal mulai sewa oleh operator, dll. Dengan menimbnag bahwa tidak setiap menara telekomunikasi didirikan di atas tanah milik pelaku usaha pembangun menara telekomunikasi, maka kepastian hukum tentang status tanah temapt didirikannya menara merupakas aspek legal yang perlu dikemukakan secara terbuka agar calan user memahami posisi PJPT. 3) Kejelasan isi perjanjian sewa menyewa tower dengan pelanggan.

Kejelasan kontrak perjanjian penyewaan tower harus sudah sangat disadari oleh pihak Tower Leasing Provider bahwa salah satu kunci suksesnya usaha ini adalah kejelasan kontrak yang mengatur, antara lain:

33 a) obyek sewa,

b) harga sewa dan cara pembayarannya, c) asuransi,

d) hak dan kewajiban, e) jangka waktu kontrak f) pengakhiran kontrak

g) dispute settlement dan hal-hal lain yang sangat jelas pada akhirnya akan berpengaruh pada pendapatan usahanya.

Kontrak yang jelas, baik, dan lengkap merupakan dasar dua belah pihak yang mengikatkan diri pada perjanjian sewa menyewa sangat berguna untuk meminimalisir adanya dispute dalam menginterpretasi isi kontrak sehingga dengan kontrak yang baik dapat memberi kenyamanan dan keberlangsungan perjanjian diantara dua pihak yang telah bersepakat untuk mengadakan sewa menyewa tower.

Dokumen terkait