BAB V : HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Keabsahan Tindak Pemerintahan Dalam Penataan dan
pemikiran dan pandangan yang berkembang dalam masyarakat serta perkembangan global. Dalam rangka pembinaan di bidang telekomunikasi, maka UU Tel dilengkapi dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 52 Tahun 2000 Tentang Penyelenggaraan Telekomunikasi (PP 52/2000) serta PB-P3-MT.
Dalam Pasal 6 ayat (1) PP 52/2000 ditegaskan:
(1) Dalam penyelenggaraan jaringan telekomunikasi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a, penyelenggara jaringan telekomunikasi wajib membangun dan atau menyediakan jaringan telekomunikasi.
Penjelasan Pasal 6 ayat (1) menegaskan:
Dalam membangun dan atau menyediakan jaringan telekomunikasi penyelenggara jaringan dapat membangun keseluruhan jaringan dapat pula membangun sebagian dan atau menyediakan sebagian jaringan untuk terselenggaranya telekomunikasi. Misal, dalam hal diperlukannya penggunaan transponder satelit, penyelenggara jaringan tidak harus memiliki satelit sendiri.
Berdasarkan ketentuan Pasal 6 ayat (1) PP 52/2000 tersebut penyelenggara jaringan tidak harus membangun keseluruhan kebutuhan jaringan, termasuk BTS, secara mandiri, akan tetapi terbuka kemungkinan melakukan kerja sama dengan pihak lain untuk memenuhi kebutuhan jaringan komunikasinya. Ketentuan demikian itu membuka peluang usaha bagi perusahaan-perusahaan lain untuk menyokong kebutuhan penyelenggara jaringan.
V.3. Kewenangan Pemerintah Daerah dalam Pengaturan Menara Telekomunikasi
A. Keabsahan Tindak Pemerintahan Dalam Penataan dan Pengendalian Menara Telekomunikasi
Hak masyarakat untuk berkomunikasi, Hak atas penghidupan yang layak, dan Hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat sebagaimana diatur dalam Pasal 27, 28 F dan 28
38
H UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 merupakan hak asasi manusia yang tergolong hak sosial. Menurut pendapat Philipus M Hadjon bahwa : Inti hak sosial adalah rights to receive.25
(1) Telekomunikasi dikuasi oleh negara dan pembinaannya dilakukan oleh Pemerintah. , sesuai dengan makna hak sosial, maka masyarakat berhak memperoleh pemenuhan hak tersebut dari negara (to receive from the state). Konsekuensi dari makna hak sosial adalah adanya kewajiban bagi negara untuk memenuhi kebutuhan setiap orang atas hak berkomunikasi, hak untuk hidup layak dan hak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat.
Kewajiban negara dalam memenuhi hak masyarakat tersebut dilakukan melalui penyelenggaraan dan pembinaan telekomunikasi sebagaimana diatur dalam Undang- Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi. Berdasarkan Pasal 4 UU Telekomunikasi dinyatakan bahwa :
(2) Pembinaan telekomunikasi diarahkan untuk meningkatkan penyelenggaraan telekomunikasi yang meliputi : penetapan kebijakan, pengaturan, pengawasan dan pengendalian.
(3) Dalam penetapan kebijakan, pengaturan, pengawasan dan pengendalian di bidang telekomunikasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), dilakukan secara menyeluruh dan terpadu dengan memperhatikan pemikiran dan pandangan yang berkembang dalam masyarakat serta perkembangan global .
Sesuai dengan ketentuan tersebut, maka pemerintah memiliki kewenangan untuk menetapkan kebijakan, pengaturan, pengawasan dan pengendalian di bidang telekomunikasi agar pemenuhan hak atas berkomunikasi dan hak untuk penghidupan yang layak dapat seimbang dengan pemenuhan hak atas lingkungan yang baik dan sehat akibat dilaksanakannya kegiatan dan/atau usaha di bidang telekomunikasi, khususnya pendirian menara telekomunikasi. Hal ini sesuai dengan asas dan tujuan penyelenggaraan telekomunikasi sebagaimana diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-undang tentang Telekomunikasi, yaitu :
25
Philipus M Hadjon, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat,Peradaban, 2007, hal. 35. Sebagaimana ditulis Tatiek Sri Djatmiati, Pelayanan Publik dan Tindak Pidana Korupsi, dalam buku Hukum Administrasi dan Tinak Pidana Korupsi, Gajah Mada University Press, Yogyakarta. hal. 26,
39
1. Telekomunikasi diselenggarakan berdasarkan asas manfaat, adil dan merata, kepastian hukum, keamanan, kemitraan, etika dan kepercayaan pada diri sendiri.
2. Telekomunikasi diselenggarakan dengan tujuan untuk mendukung persatuan dan kesatuan bangsa, meningkatkan kesejahteraan dan kemakmuran rakyat, secara adil dan merata, mendukung kehidupan ekonomi dan kegiatan pemerintahan serta meningkatkan hubungan antar bangsa.
Pemerintah dalam melakukan pembinaan berupa penetapan kebijakan, pengaturan, pengawasan dan pengendalian di bidang telekomunikasi dilakukan dengan tindak pemerintahan yang dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah Bestuurs Handelingen. Dalam hukum administrasi tindak pemerintahan dilakukan untuk penyelenggaraan fungsi pemerintahan dibagi dalam beberapa jenis. Pembagian tindak pemerintahan sebagaimana dijabarkan oleh Ten Berge tergambar dalam skema 2 di bawah ini26
Bestuurs Handelingen (Tindak Pemerintahan)
Feitelijke handelingen Rechtshandelingen (Tindakan Nyata) (Tindakan Hukum)
:
Skema 2
Interne rechtshandelingen externe rechtshandelingen
Privaatrechtelijke handelingen publiekrechtelijke rechtshandelingen (Tindakan Hukum Privat) (Tindakan Hukum Publik)
Meerzijdige besluiten eenzijdige besluiten
26
J.B.J.M ten Berge, Besturen door de overhead, WEJ Tjeen Willink, Nederlands instituut voor Sociaal en Economic Recht NISER, 1996, p. 138 Bandingkan dengan Philipus M Hadjon et all, Pengantar Hukum
40
Algemene strekking concrete strekking (Algemeen verbindende voorschriften
Ca; beleidsregels)
Berdasarkan jenis dan tujuan tindak pemerintahan (bestuurshandelingen), maka tindakan yang diperlukan untuk mencapai tujuan penyelenggaraan telekomunikasi, antara lain :
1. Pembentukan peraturan perundang-undangan; 2. Melakukan kerjasama (kontrak);
3. Melakukan tindakan nyata; 4. Membentuk peraturan bersama; 5. Menetapkan Perizinan; dan/atau 6. Pengawasan.
Berkaitan dengan penyelenggaraan telekomunikasi agar dapat mencapai tujuan perlu didukung dengan sarana dan prasarana telekomunikasi, yaitu segala sesuatu yang memungkinkan dan mendukung berfungsinya telekomunikasi. Salah satu sarana dan prasarana yang mendukung berfungsinya telekomunikasi adalah adanya menara telekomunikasi. Dalam teknologi telekomunikasi terdapat 3 (tiga) teknologi yang digunakan, antara lain telekomuikasi kabel, teknologi nirkabel (Wireless Technology) dan teknologi satelit. Dalam teknologi nirkabel yang saat ini sedang berkembang memerlukan menara pemancar yang akan memberikan sinyal (gelombang) pada perangkat penangkap sinyal pada alat komunikasi yang dimiliki masyarakat.
Menara Telekomunikasi adalah bangunan-bangunan untuk kepentingan umum yang didirikan di atas tanah atau bangunan yang merupakan satu kesatuan konstruksi dengan bangunan gedung yang dipergunakan untuk kepentingan umum yang struktur fisiknya dapat berupa rangka baja yang diikat oleh berbagai simpul atau berupa bentuk tunggal tanpa simpul, dimana fungsi, desain dan konstruksinya disesuaikan sebagai sarana penunjang menempatkan perangkat telekomunikasi. Dengan demikian menara
41
telekomunikasi sangat dibutuhkan dalam upaya pemenuhan atas hak masyarakat atas fasilitas telekomunikasi.
Mengingat pesatnya perkembangan teknologi dan meluasnya perkembangan kebutuhan masyarakat akan sarana komunikasi yang memadai, maka terjadi berbagai pembangunan di bidang telekomunikasi. Salah satu pembangunan sarana telekomunikasi yang banyak dilakukan adalah pembangunan menara telekomunikasi sebagai sarana penunjang pemenuhan kebutuhan masyarakat akan layanan telekomubikasi yang baik. Menara Telekomunikasi memiliki jangkauan dalam pemancaran jaringan sehingga pendirian untuk Menara Telekomunikasi pun harus didirikan lebih dari satu tempat dalam sebuah kota atau kabupaten berdasarkan luas wilayah kota atau kabupaten tersebut.
Pembangunan dan penggunaan menara telekomunikasi sebagai salah satu infrastruktur pendukung dalam penyelenggaraan telekomunikasi harus memperhatikan efisiensi, keamanan lingkungan dan estetika lingkungan. Dalam rangka keamanan dan keselamatan masyarakat serta menjaga keselamatan lingkungan, maka dalam mendorong peningkatan pembangunan menara telekomunikasi perlu dilakukan penataan dan pengendalian oleh Pemerintah. Penataan dan pengendalian menara telekomunikasi bertujuan untuk mengendalikan dan mensinergikan antara ketersediaan ruang kota kebutuhan menara telekomunikasi, keamanan serta meningkatkan kehandalan cakupan frekuensi telekomunikasi. Dengan tujuan tersebut, maka dalam melakukan penataan dan pengendalian menara telekomunikasi perlu dilakukan untuk menyeimbangkan jumlah dan prioritas penggunaan menara sehingga dapat dicapai efesiensi dalam pemanfaatan ruang.
Kebijakan pemerintah untuk melakukan penataan dan pengendalian menara telekomunikasi dalam rangka mencapai tujuan penyelenggaraan telekomunikasi sebagai suatu tindak pemerintahan harus sesuai dengan keabsahan (legalitas) tindak pemerintahan yang meliputi : asas legalitas formal dan asas legalitas substansial. Asas legalitas formal tindak pemerintahan terdiri atas : 1). Wewenang, 2) substansi dan 3) prosedur.27
27
Phipipus M Hadjon, Kebutuhan Akan Hukum Administrasi dalam buku Hukum Administrasi dan Good Governance, Universitas Trisakti, 2010, h. 22.
Sedangkan asas legalitas substansial merupakan asas yang harus dipenuhi oleh pemerintah dalam melakukan penataan dan pengendalian menara telekomunikasi. Asas legalitas substansial terdiri dari asas-asas umum pemerintahan yang baik dan asas-asas
42
penyelenggaraan telekomunikasi sebagaimana tertuang dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi.
Terkait dengan asas legalitas formal terhadap tindak pemerintahan untuk melakukan penataan dan pengendalian menara telekomunikasi, maka kewenangan sebagai dasar legitimasi tindakan tersebut harus jelas instansi dan kewenangnnya. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 1999 tentang Telekomunikasi dinyatakan bahwa wewenang penyelenggaraan dan pembinaan telekomunikasi dilakukan oleh Pemerintah, sedangkan khusus untuk kewenangan penataan dan pengendalian menara telekomunikasi diatur dalam Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Kabupaten/Kota. Rincian kewenangan tersebut tercantum dalam tabel di bawah ini :
Pemerintah Pemerintah Provinsi Pemerintah Kabupaten/Kota Pedoman pembangunan
sarana dan prasarana menara telekomunikasi.
Penetapan pedoman kriteria pembuatan tower.
- Pemberian Izin Mendirikan Bangunan (IMB) menara