• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGATURAN PENANAMAN MODAL LANGSUNG (DIRECT INVESTMENT) DALAM HUKUM DI INDONESIA

C. Dasar Hukum Penanaman Modal Langsung Di Indonesia

Sudah sejak dahulu kala bisnis atau pada waktu itu masih terbatas pada

“perdagangan” yang kemudian menjadi saran penting untuk mendekatkan negara-negara dan bahkan kebudayaan-kebudayaan yang berlainan. Kalau dilihat dari perspektif sejarah, perdagangan merupakan faktor penting dalam pergaulan antar bangsa-bangsa yang justru sempat menyebarkan perdamaian dan persaudaraan.53 Jika dilihat dari hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa penanaman modal

53 Asmin Nasution, Transparansi Dalam Penanaman Modal (Medan:Pustaka Bangsa Press, 2008) hlm.90.

secara langsung melalui sektor perdagangan sangat membantu dalam mengembangkan indonesia dari segala aspek hingga saat ini.

Sebelum terbentuknya UU Penanaman Modal nomor 25 Tahun 2007.

Pemerintah telah menetapkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing dan juga Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 1970 tentang Perubahan dan Tambahan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1968 tentang Penanaman Modal Dalam Negeri yang mengatur semua kegiatan penanaman modal langsung di semua sektor dan diharapkan dapat membawa iklim investasi yang baik bagi Indonesia. Jika ditelusuri lebih lanjut paling tidak di Indonesia terminologi penanaman modal langsung dapat ditemui dalam Pasal 1 UUPMA dan Pasal 2 UU PMDN yang berbunyi:54

Dalam Pasal 1 UUPMA disebutkan:

“Pengertian penanaman modal di dalam undang-undang ini hanyalah meliputi penanaman modal asing secara langsung yang dilakukan menurut atau berdasarkan ketentuan-ketentuan undang-undang ini dan yang digunakan untuk menjalankan perusahaan di Indonesia, dalam arti bahwa pemilik modal secara langsung menanggung resiko dari penanaman modal tersebut.”

Dalam Pasal 2 UU PMDN disebutkan:

“Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan “penanaman modal dalam negeri” ialah:penggunaan daripada kekayaan seperti tersebut dalam

54 Sentosa Sembiring, Op.Cit, Hlm.40.

pasal 1, baik secara langsung atau tidak langsung, untuk menjalankan usaha menurut atau berdasarkan ketentuan-ketentuan undang-undang ini.”

Dalam Penjelasan Pasal 2 disebutkan:

“Penanaman Modal dalam negeri ialah penggunaan modal tersebut dalam pasal 1 bagi usaha-usaha yang mendorong pembangunan ekonomi pada umumnya. Penanaman tersebut dapat dilakukan secara langsung yakni oleh pemiliknya sendiri, atau tidak langsung, yakni melalui pembelian obligasi-obligasi, surat-surat keras pembendaharaan negara, emisi-emisi lainnya (saham-saham) yang dikeluarkan oleh Preusahaan, serta deposito dan tabungan yang berjangka waktu sekurang-kurangnya satu tahun.”

Dari ketentuan di atas dapat dilihat bawa pembentuk undang-undang ingin membagi jenispenanaman modal dilihat dari sumber dana yang digunakan yakni modal asing dan modal dalam negeri yang membawa konsekuensi terhadap resiko yang akan dihadapi oleh pemilik modal. Artinya, bagi pemodal asing maupun dalam negeri yang hendak menanamkan modalnya secara langsung, maka secara fisik ia hadir dalam menjalankan usahanya. Dengan hadirnya atau tepatnya dengan mendirikannya badan usaha yang berstatus sebagai Penanaman Modal Asing (PMA), maka badan usaha tersebut harus tunduk kepada ketentuan hkum di Indonesia.55

Hingga saat terbentuknya Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, pengaturan tentang penanaman modal langsung masih tetap diatur dalam undang-undang tersebut. Dasar Hukum penanaman modal langsung di atur dalam Pasal 2 UU Penanaman Modal yang berbunyi, ”Ketentuan dalam Undang-undang ini berlaku bagi penanaman modal di semua sektor di wilayah negara Republik Indonesia” Pasal 2 UU Penanaman Modal mengatur penanaman

55 Dalam Pasal 3 ayat (1) UUPMA disebutkan, perusahaan yang dimaksud dalam Pasal 1 yang di jalankan untuk seluruhnya atau bagian terbesar di Indonesia sebagai kesatuan perusahaan tersendiri harus berbentuk Badan Hukum menurut Hukum Indonesia dan

berkedudukan di Indonesia

modal secara langsung secara eksplisit melalui penjelasan Pasal 2 UU Penanaman Modal yang berbunyi, “Yang dimaksud dengan “penanaman modal di semua sektor di wilayah negara Republik Indonesia” adalah penanaman modal langsung dan tidak termasuk penanaman modal tidak langsung atau portofolio.”56

Pengaturan penanaman modal langsung tidak sebatas undang-undang saja, terdapat begitu banyak peraturan perundang-undangan yang turut serta mengatur pelaksanaan penanaman modal langsung (direct investment) di Indonesia, namun ada beberapa peraturan perundang-undangan yang secara umum mengatur pokok pelaksanaan penanaman modal langsung di Indonesia seperti Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2008 tentang Investasi Pemerintah yang mengatur tentang investasi langsung yang diselenggarakan oleh pemerintah yang kemudian turut melahirkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2011 tentang Pedoman Pengelolaan Investasi di Daerah sebagai aturan pelaksana penanaman modal langsung di daerah. Selain itu, terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 2 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Kawasan Ekonomi Khusus yang mengatur pelaksanaan penanaman modal langsung di daerah Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pemerintah juga menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 97 Tahun 2014 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang mengatur tentang perizinan dan nonperizinan di bidang penanaman modal, Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Nomor 6 Tahun 2016 tentang Pedoman dan Tata Cara Izin Prinsip Penanaman Modal yang menjadi aturan pelaksana dari perizinan di bidang penanaman modal. Sementara di bidang usaha, pemerintah telah menerbitkan

56 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Penjelasan Pasal 2

Peraturan Presiden Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha Tertutup dan Bidang Usaha Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal yang merupakan aturan pelaksanaan dari Pasal 12 UU Penanaman Modal yaitu tentang usaha-usaha di bidang penanaman modal yang tertutup dan terbuka dengan persyaratan. Untuk menarik minat investor di daerah, pemerintah daerah juga telah menerbitkan beberapa peraturan perundang-undangan yakni Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 2008 tentang Pedoman Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal serta Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 64 Nomor 2012 tentang Pedoman Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal yang menjadi payung hukum bagi daerah untuk menerbitkan peraturan-peraturan daerah terkait pemberian insentif dan kemudahan penanaman modal di daerah masing-masing.

Undang-undang Penanaman Modal mengatur semua kegiatan penanaman modal langsung di semua sektor.57 Sehingga setiap penanaman modal langsung harus menggunakan UU Penanaman Modal sebagai payung hukumnya. Beberapa sektor tersebut salah satunya ialah di sektor pariwisata, pemerintah dan pemerintah daerah mendorong penanaman modal dalam negeri dan penanaman modal asing di bidang kepariwisataan sesuai dengan rencana induk pembangunan kepariwisataan nasional, provinsi dan kabupaten/kota.58 Pemerintah dan pemerintah daerah juga secara langsung mengatur penanaman modal di sektor kepariwisataan, Berdasarkan Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang

57 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal, Penjelasan Umum Paragraf 5.

58 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan, Pasal 10

Kepariwisataan Pasal 18 menyatakan bahwa pemerintah dan/atau pemerintah daerah mengatur dan mengelola urusan kepariwisataan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Di sektor perikanan, pemerintah turut mengawasi pelaksanaan penanaman modal langsung di Indonesia. Pemerintah turut serta aktif dalam keanggotaan badan/lembaga/organisasi regional international dalam rangka kerja sama pengelolaan perikanan regional dan international.59 Pasal 15 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan menjelaskan bahwa pemerintah turut mengatur pemasukan dan/atau pengeluaran jenis calon induk, dan atau benih ikan dan daeri wilayah pengelolaan perikanan Republik Indonesia.

Di sektor pertambangan, mineral, dan batu bara, pemerintah turut serta mengawasi pelaksanaan investasi langsung. Pemerintah dan pemerintah daerah memiliki banyak kewenangan berdasarkan Pasal 6 dan Pasal 7 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara salah satunya ialah menerbitkan IUPK (Ijin Usaha Pertambangan Khusus) yang memuat modal investasi. Pemerintah juga dapat membantu meningkatkan minat investor, berdasarkan Pasal 168 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, untuk meningkatkan investasi di bidang pertambangan, pemerintah dapat memberikan keringanan dan fasilitas perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

59 Republik Indonesia, Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan, Pasal 10 Ayat (2)

Selain dari sektor kepariwisataan, perikanan dan pertambangan, ada banyak sektor yang turut menjadi andalan pemerintah dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Indonesia melalui penanaman modal langsung yakni berdasarkan lampiran ke-3 di dalam Perpres Nomor 44 Tahun 2016 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tertutup dan Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal, bidang usaha yang terbuka dengan persyaratan yakni sektor pertanian yang diatur di dalam Undang-Undang 19 Tahun 2013 tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani, sektor kehutanan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2013 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Perusakan Hutan, sektor energi dan sumber daya mineral yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2007 tentang Energi, sektor perindustrian yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, , sektor perdagangan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan, sektor perbankan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1992 tentang Perbankan, sektor tenaga kerja yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sektor pendidikan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dan sektor kesehatan yang diatur di dalam Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 tentang Kesehatan serta aturan di dalam peraturan perundang-undangan sektoral lainnya.