BAB II PENCATATAN KELAHIRAN DALAM HUKUM POSITIF DI INDONESIA…
A. PENCATATAN KELAHIRAN
2. Dasar Hukum Pencatatan Kelahiran…
Bagian Undang-Undang dasar 1945 yang mengatur tentang akta kelahiran yaitu:
UUD 1945 sendiri mengakui dengan jelas bagaimana hak asasi manusia itu harus dihargai, dijunjung tinggi, dihormati dan negara menjadi pemangku kewajiban dari pemenuhan hak-hak asasi tersebut. Dasar hukum bagi pelaksanaan HAM di negara ini pun sudah cukup jelas dicantumkan dalam setiap hukum positif yang berlaku, UUD 1945 ( pasal 28D ), UU Nomor 39 tahun 1999 tentang HAM, UU Nomor 26 tahun 2000 tentang pengadilan HAM, dan berbagai ratifikasai penegakkan HAM yang sudah diundangkan. Hal itu berarti,dalam undang-undang tersebut secara eksplisit juga menerapkan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia termasuk anak sebagai warga negara (masyarakat). Hak ini kemudian dijabarkan lagi dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak pasal 5, 27 dan 28; Undang-Undang No. 23 tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan pada pasal 27; serta Undang-Undang No. 12 tahun 2006 tentang Kewarganegaraan pasal 5.39
39 https://disdukcapil.kapuashulukab.go.id/dasar-hukum/, diakses pada tanggal 18 februari 2022, pukul 09.43
b. Berdasarkan Convention on the Rights of the Child ( Konvensi Hak Anak yang disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 20 November 1989 dan diratifikasi Indonesia ada tahun 1990
Pasal 9 Assembled Countries menunjukkan tentang hak-hak istimewa anak menetapkan bahwa semua anak harus terdaftar setelah lahir dan juga harus memiliki nama dan etnis.
Di dalam sistem hukum kebebasan dasar (HAM) di seluruh dunia, hak atas kewarganegaraan adalah kebebasan dasar. Pengumuman Semua Kebebasan Bersama (UDHR) dalam Pasal 15 huruf a menegaskan bahwa setiap orang memiliki hak istimewa untuk mendapatkan kewarganegaraan.
Kemudian, pada saat itu, Agreement on Common and Political Privileges, hak atas kewarganegaraan diatur dalam Pasal 24 ayat 3. Karena setiap anak yang dikandung harus didaftarkan sebagai verifikasi pengantar kewarganegaraannya, Show on the Freedoms of the Kid (CRC) yang secara eksplisit mengatur kebutuhan anak muda menjadi acuan yuridis untuk menyelidiki masalah ini. Pasal 7 C menyatakan bahwa anak tersebut akan terdaftar setelah lahir dan memiliki pilihan untuk mendapatkan kewarganegaraan. Selain itu, Pasal 8 menggaris bawahi bahwa negara menghormati kebebasan anak muda atas kewarganegaraannya. Pertunjukan ini membutuhkan pelaksanaan pendaftaran kelahiran gratis untuk semua anak dan merupakan tujuan yang dapat dicapai oleh semua negara.40
c. Berdasarkan Kitab-Kitab Hukum Perdata
Akta Kelahiran adalah pernyataan atau catatan yang dibuat oleh petugas pencatat umum sebagai catatan otoritas tempat, kelahiran, nama anak, dan nama orang tua anak secara lengkap dan jelas, sebagai status kewarganegaraan anak adalah tanda kekuatan bukti situasi guna membedakan dengan anak lain yang lahir. Dimana dengan status ini
40 https://dukcapil.kalbarprov.go.id/post/akta-kelahiran-sebagai-dasar-pemenuhan-hak-hak-anak- sebagai-warga-negara, diakses pada tanggal 18 februari 2022, pukul 09.43
diketahui siapa orang tua yang memiliki komitmen untuk benar-benar fokus dan memberi bimbingan.
Dengan demikian, bagian-bagian yang sah dari pelaksanaan pencatatan dalam upaya pengamanan anak memberikan syarat bahwa pencatatan itu akan memberikan bukti kedudukan anak, baik sejauh statusnya, sebagai wali dan keluarganya. Jadi pelaksanaan pencatatan tersebut dinyatakan dalam suatu jenis otentikasi, lebih tepatnya akta kelahiran.
d. Berdasarkan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.
Dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 pemikiran tentang akta kelahiran tidak diarahkan secara khusus berbeda dengan aturan lain, namun dalam undang-undang tersebut secara eksplisit mengatur tentang susunan akta dan keperluan pembuatan akta dalam hal anak memiliki status satu orang tua dan seorang anak dari perkawinan yang sah berdasarkan agama, bukan negara. Jalannya tindakan akta untuk situasi ini adalah:41
Hubungan yang pada pengaturan yang sah tanpa diadakan di depan pencatat pernikahan, kemudian hubungan semacam itu disebut dengan pernikahan siri (diam-diam). Meskipun secara hukum perkawinan itu sah, namun menurut aturan Indonesia Perkawinan itu tidak sah karena tidak didaftarkan. Oleh karena itu, anak-anak yang dilahirkan dari hubungan yang tidak terdaftar mempunyai status yang sama dengan anak tanpa kehadiran ayah, khususnya mereka hanya memiliki hubungan yang sah dengan ibunya (Pasal 43 ayat 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan). Jadi, seorang anak yang terlahir dari pernikahan yang tidak terdaftar di bawah hukum negara tidak memiliki hubungan yang sah dengan ayahnya.
Mengingat Pasal 55 ayat (2) huruf a PP no. 37 Tahun 2007 tentang Pelaksanaan UU no. 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.
41 Lihat Pasal 1 Ayat (15) dan Ayat (17) Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan.
Dalam hal akta kelahiran seorang anak yang dilahirkan dari perkawinan yang tidak dicatatkan, dinyatakan bahwa telah dikandung seorang anak yang namanya, hari dan tanggal lahirnya hanya tercantum nama ibu tidak ada nama bapak.
e. Berdasarkan UU no. 23 Tahun 2006 Administrasi Kependudukan jo UU no 24 Tahun 2013 Tentang Perubahan atas UU no. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan
Undang-undang tersebut tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan akta kelahiran namun dari beberapa (pasal 1 fokus 8,17,15, dan 24) cenderung beralasan bahwa undang-undang administrasi kependudukan mencirikan akta kelahiran sebagai laporan otoritas yang memuat kelahiran. Kesempatan yang dialami oleh seorang individu, juga didistribusikan oleh Kantor Pelaksana yang memiliki kekuatan sah sebagai bukti asli yang terjadi karena administrasi Pendaftaran Penduduk dan Pendaftaran Umum. Pendaftaran Umum adalah pencatatan Peristiwa Penting yang dialami oleh seseorang dalam daftar Pendaftaran Umum di Kantor pelaksana. Selain itu, organisasi pelaksana yang dimaksud adalah unit kerja di tingkat subbidang yang melakukan administrasi Pendaftaran Bersama dengan kedudukan memberikan akta.
f. Berdasarkan UU Nomer 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak jo UU Nomer 35 Tahun 2014 tentang tentang Perubahan atas UU Nomer 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Dalam undang-undang perlindungan anak, pedoman akta kelahiran diungkapkan dalam pasal 27 sampai dengan 28. Dalam pasal 27 ditegaskan bahwa karakter anak harus dinyatakan sebagai akta kelahiran yang diberikan sejak lahir. Dalam pembuatan akta kelahiran harus didasarkan pada surat keterangan dari orang yang menyaksikan dan/atau membantu membantu proses kelahiran anak tersebut, jika anak tersebut tidak diketahui siapa dan dimana keberadaan orang tuanya maka pembuatan akta kelahiran menjadi tanggungan
pada wasiat individu yang melacak anak itu.42 Selain itu, Pasal 28 menjelaskan otoritas publik yang bertanggung jawab untuk membuat akta kelahiran, waktu pemberian akta lahir terhitung sejak tanggal diajukan permohonan, dan menjelaskan bahwa pembuatan akta kelahiran tidak dipungut biaya.43