• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

F. Kajian Pustaka

Pertama, Skripsi Vinsensia Patricia Nandia Evellyna tahun 2017 10 berjudul “Implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Percepatan Peningkatan Cakupan Kepemilikan Akta Kelahiran

10 Vinsensia Patricia Nandia Evellyna, 2017, Skripsi. Implementasi Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Percepatan Peningkatan Cakupan Kepemilikan Akta Kelahiran di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kota Bandung.

di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kota Bandung”. Hasil penelitian di dalam skripsi tersebut menunjukkan bahwa kebijakan terkait Percepatan Peningkatan cakupan Kepemilikan Akta Kelahiran telah sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah di dalam meningkatkan kepemilikan akta kelahiran. Namun, jumlah cakupan kepemilikan akta kelahiran di kota Bandung yang saat ini jumlahnya masih dibawah standar nasional terkait kepemilikan Akta kelahiran. Lebih lanjut dalam implementasi kepemilikan akta kelahiran secara online masih belum mencapai hasil yang optimal sehingga dampak yang di timbulkan adalah kurang tercapainya tujuan program secara optimal. Jadi perbedaan dalam penelitian ini adalah terletak pada isi pembahasanya, dalam skripsi tersebut menjelaskan mengenai jumlah cakupan kepemilikan akta kelahiran di kota Bandung yang masih dibawah standar, dan belum tercapainya tujuan program secara optimal sebab belum optimalnya implementasi kepemilikan akta kelahiran secara online.

Persamaanya adalah sama-sama membahas penerapan Permendagri No. 9 Tahun 2016 pada suatu daerah.

Kedua, Skripsi Septi Putri Riskiyah tahun 2019 11 dengan judul,

“Analisis yuridis terhadap penggunaan surat pernyataan tanggung jawab mutlak (SPTJM) sebagai pengganti akta nikah dalam pembuatan akta kelahiran(studi pasal 4 ayat (2) Permendagri No. 9 Tahun 2016)”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa secara yuridis adanya peraturan Permendagri No. 9 Tahun 2016 ini tidak bertolak belakang dengan adanya Pasal 2 ayat (2) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, Pasal 5 ayat (1) KHI, pasal 2 ayat (1) PMA No. 19 Tahun 2018. Hal ini dikarenakan akta kelahiran yang dalam proses pembuatannya menggunakan SPTJM sebagai pengganti akta nikah, akan menghasilkan akta kelahiran yang terdapat tambahan frasa

‚yang perkawinannya belum tercatat sesuai dengan perundang-undangan‛.

Tambahan frasa tersebut berpengaruh dengan hubungan keperdataan antara

11 Septi Putri Riskiyah, 2019, Skripsi. Analisis Yuridis Terhadap Penggunaan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) Sebagai Pengganti Akta Nikah Dalam Pembuatan Akta Kelahiran (Studi Pasal 4 ayat 2 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Percepatan Peningkatan Cakupan Kepemilikan Akta Kelahiran).

ayah kandung dengan anak dan ibu kandung. Walaupun nama ayah tercantum di dalam akta kelahiran, namun secara nasab, nafkah dan warisan, anak dan ayah kandung tidak memiliki hubungan keperdataan, anak hanya mempunyai hubungan keperdataan dengan ibu kandung. Adapun perbedaan dalam penelitian ini adalah fokus masalah dimana skripsi tersebut menganalisis aturan hukum terkait penggunaan SPTJM sebagai pengganti akta nikah dalam pembuatan akta kelahiran. Sedangkan persamaanya yakni sama-sama mengkaji kepemilikan akta kelahiran pada Permendagri No. 9 Tahun 2016.

Ketiga, Skripsi karya Em Bagus Suthonil Auliya tahun 201812 yang berjudul “Analisis Yuridis Terhadap Pencatatan Kelahiran Anak Yang tidak Diketahui Asal-Usulnya Di Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Kabupaten Lumajang (Studi Implementasi Pasal 55 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974)”. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa dalam pelayanan pencatatan kelahiran anak yang tidak diketahui asal-usulnya di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kabupaten Lumajang berdasarkan pasal 55 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 sudah tidak relevan dengan perlindungan anak karena dalam Undang-Undang tersebut mewajibkan Penetapan asal-usul anak melalui Pengadilan, maka akan sedikit memperlambat proses anak tersebut mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara Indonesia. Perbedaan terletak pada subjek yang digunakan yaitu pencatatan kelahiran anak tidak diketahui asal-usulnya dengan mengkaitkan aturan pada UU No. 1 tahun 1974 Pasal 55. Persamaanya memilih objek penelitian pada instansi terkait di daerah.

Keempat, Skripsi Taufik Harilaksono tahun 2013 13 yang berjudul

“Kedudukan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) dalam Persyaratan Pencatatan Kelahiran (Studi Kasus di Dinas Kependudukan dan

12 Em Bagus Suthonil Auliya, 2018, Skripsi. Analisis Yuridis Terhadap Pencatatan Kelahiran Anak Yang tidak Diketahui Asal-Usulnya Di Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil Kabupaten Lumajang (Studi Implementasi Pasal 55 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974).

13 Taufik Harilaksono, 2018, Skripsi. Kedudukan Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) dalam Persyaratan Pencatatan Kelahiran (Studi Kasus di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Bandung)

Pencatatan Sipil Kabupaten Bandung). Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa (1) Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) untuk percepatan peningkatan cakupan kepemilikan akta kelahiran bukan sebagai jalan pintas seseorang untuk melakukan perkawinan yang sah dan percepatan menjadi pasangan sebagai suami isteri. (2) SPTJM hanya digunakan sebagai pelengkap persyaratan pencatatan kelahiran, tidak mempunyai kekuatan hukum terhadap perkawinan dan tidak bisa dijadikan sebagai legalitas perkawinan yang sah. Jadi perbedaan dengan penelitian ini adalah pada pokok pembahasan dimana skripsi tersebut menjelaskan terkait kedudukan dari SPTJM sebagai pengganti akta nikah dalam pembuatan akta kelahiran.

Adapun persamaanya sama-sama mengkaji terkait kepemilikan akta kelahiran.

Kelima, Skripsi Evie Fanny Grace Nababan tahun 2018 14 berjudul

“Kewenangan Kementerian Dalam Negeri Menerbitkan Peratutan tentang Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) Kebenaran sebagai Pasangan Suami Isteri dalam Rangka Percepatan Pembuatan Akta Kelahiran Dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Admintrasi Kependudukan. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah terdapat pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi dan pelanggaran terhadap AUPB, maka pemerintah dalam menerbitkan Permendagri Percepatan Akta Kelahiran tidak tunduk pada tata urutan peraturan perundang-undangan. Maka mengatasi persolan tersebut, dalam penelitian ini memberikan saran untuk pemerintah mempermudah syarat dan tata cara pengajuan pembuatan akta kelahiran sesuai peraturan perundang- undangan yang mengatur. Jadi perbedaan dengan penelitian ini terletak pada substansi yang dibahas, skripsi tersebut menjelaskan kewenangan Kementerian dalam negeri menerbitkan SPTJM kebenaran sebagai pasangan suami isteri yang dikaitkan dengan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2006

14 Evie Fanny Grace Nababan, 2018, Skripsi. Kewenangan Kementerian dalam Negeri

Menerbitkan Peraturan tentang Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) Kebenaran sebagai Pasangan Suami Isteri dalam Rangka Percepatan Pembuatan Akta Kelahiran Dikaitan dengan Undang-Undang Nomor 23Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan

tentang Administrasi Kependudukan. Adapun persamaanya sama-sama mengkaji SPTJM yang diterbitkan Permendagri No. 9 Tahun 2016.

2. Kerangka Teoritis

Dalam upaya untuk menjawab permasalahan dan juga melakukan penelitian ini, didasari dengan beberapa teori yang akan dijabarkan sebagai berikut:

a. Teori Kepastian Hukum

Kepastian merupakan perihal (keadaan) yang dinilai pasti sesuai dengan kondisi, ketentuan, atau ketetapan. Pada dasarnya suatu hukum harus pasti dan juga adil. Maksud dari kata pasti tersebut ialah pasti dalam arti penerapannya sebagai pedoman atas tindakan dan maksud dari kata adil itu ialah karena pedoman akan tindakan harus didasari atas batas kewajaran tanpa melewati batasan norma-norma ketentuan dalam masyarakat secara umum. Hukum dapat berjalan dengan baik sesuai dengan fungsinya dengan didasari unsur pasti dan unsur adil di dalamnya. Kepastian akan suatu unsur hukum diketahui hanya mampu dijawab melalui jawaban yang sifatnya normatif, bukan sosiologi.15

Maksud dari kepastian hukum secara normatif ialah ketika suatu unsur peraturan dibentuk dan diterapkan pelaksanaannya secara pasti karena dasar penggunaannya dilakukan dalam upaya mengatur secara jelas dan logis.

Makna dari jelas itu sendiri ialah dengan tidak adanya menimbulkan unsur keraguan atau bisa disebut dengan multi tafsir dan logis. Jelas disini ditambahkan pula dengan didasari atas adanya keterkaitan akan norma dengan norma yang lainnya, sehingga didapati tidak akan membuat suatu benturan atau konflik antar norma dalam masyarakat. Maksud dari kepastian hukum itu sendiri ialah pelaksaannya dilakukan dengan hukum yang jelas, konsisten, tetap, dan konsekuen dengan tidak adanya unsur

15 Dominikus Rato, Filsafat Hukum Mencari: Memahami dan Memahami Hukum. Laksbang Pressindo. Yogyakarta, Tahun 2010. h., 59.

subjektif seperti keadaan tertentu atas pelaksaan suatu aturan hukum tersebut. Keadilan dan kepastian hukum diketahui bukan hanya sekedar adanya unsur tuntutan moral, melainkan adanya unsur faktual yang memiliki peranan akan mencerminkan hukum. Suatu unsur hukum yang didapati adanya unsur tidak pasti dan enggan untuk menerapkan sistem yang dinilai adil bukanlah sekedar hukum yang buruk.16

Utrecht menjelaskan bahwasannya, kepastian akan unsur hukum itu mengandung dua pengertian, yang pertama ialah terdapat adanya aturan yang sifatnya umum dengan membuat individu mengetahui akan perbuatan apa yang boleh atau tidak boleh dilakukan, dan yang kedua ialah berupa bentuk keamanan hukum bagi individu dari kesewenangan pemerintah karena adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang dapat dibebankan atau juga dilaksanakan oleh Negara terhadap individu.17

Keterkaitan teori kepastian hukum yang terdapat dalam penulisan penelitian yang dilakukan di Kabupaten Tangerang ini ialah Akta Kelahiran yang pembuatannya didasari dengan SPTJM Kebenaran Sebagai Pasangan Suami Istri bisa menimbulkan unsur keraguan (multitafsir) dikarenakan pada Akta Kelahiran itu menulis nama kedua orang tua, akan tetapi di sisi lain dalam Akta Kelahiran itu tertulis kalimat yang bunyinya perkawinan orang tua dari anak tersebut belum tercatat dimana secara tidak langsung banyak masyarakat Kabupaten Tangerang yang mendapatkan gambaran akan perkawinan tersebut tidak dapat memiliki kekuatan akan hukum dan anak yang dilahirkan tidak memiliki hukum perdata dengan ayahnya terkecuali adanya penetapan pengadilan.

16 Cst Kansil, Christine, S. T Kansil, Engelien R, Palandeng dan Godlieb N Mamahit, Kamus Istilah Hukum. Jakarta, Tahun 2009. h., 385.

17 Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum. Penerbit PT. Citra Aditya Bakti. Bandung, Tahun 1999. h., 23.

b. Teori Perlindungan Hukum

Teori perlindungan hukum dapat diketahui merupakan dasar yang sangat penting untuk digunakan dalam penulisan penelitian ini, dikarenakan sudah seharusnya bagi setiap individu dan pihak negara wajib memberikan perlindungan hukum bagi setiap warga negaranya. Ranah ruang lingkup dari teori perlindungan hukum mencakup analisa dan kajian terhadap wujud, bentuk atau tujuan perlindungan, subjek hukum yang dilindungi serta objek perlindungan yang diberikan oleh suatu unsur hukum itu sendiri kepada subjeknya. 18 Terdapat unsur-unsur yang terdapat dalam definisi teori perlindungan hukum yang akan dijabarkan yaitu sebagai berikut:

1) Adanya wujud atau bentuk perlindungan atau tujuan perlindungan;

2) Subjek hukum; dan

3) Objek perlindungan hukum.19

Dikatakan menurut ahli yaitu Satjipto Raharjo, mengenai pengertian perlindungan hukum ialah memberikan pengayoman terhadap HAM yang dirugikan orang lain dan perlindungan itu diberikan kepada masyarakat agar dapat menikmati semua hak yang diberikan oleh pihak hukum.20

Penjelasan makna mengenai perlindungan hukum disebutkan lagi sebagai tambahan dari seorang ahli yaitu bahwasannya perlindungan hukum itu adalah suatu hal yang berkaitan dengan tindakan suatu negara yang melakukan penerapan hukum secara eksklusif dalam upaya memberikan jaminan kepastian atas hak masing-masing individu atau kelompok atau masyarakat.21

Fungsi dari perlindungan hukum dijelaskan oleh Sudikno Mertokusumo yaitu guna menerapkan sistem perlindungan bagi kepentingan manusia hukum yang mempunyai tujuan. Hukum memiliki

18 Salim dan Erlies Septiana Nurbani. Penerapan Teori Hukum pada Penelitian Tesis dan Disertasi. Jakarta, PT. Raja Grafindo Persada, Tahun 2013. h., 263.

19 Salim dan Erlies Septiana Nurbani. Penerapan Teori Hukum…264

20 Salim dan Erlies Septiana Nurbani. Penerapan Teori Hukum…262

21 Salim dan Erlies Septiana Nurbani. Penerapan Teori Hukum…265

tujuan utama yang penerapannya memiliki suatu visi atau tujuan utama.

Tujuan utama dari perlindungan hukum ialah membentuk tatanan masyarakat yang tertib, dan menciptakan ketertiban yang seimbang.

Dengan adanya penerapan ketertiban masyarakat yang telah tercapai, maka diharapkan bahwa hukum dapat memberikan kepentingan masyarakat yaitu mendapatkan perlindungan. Atas tercapainya hal tersebut maka hukum bertugas untuk membagi hak dan kewajiban para masyarakat, membagi wewenang dan juga merancang solusi akan pemecahan suatu persoalan serta memelihara kepastian hukum.22

Perlindungan hukum merupakan keniscayaan bagi setiap anak yang dilahirkan, adapun terhadap hak anak dari perkawinan yang belum tercatat, negara telah memberikan perlindungan berupa adanya upaya penetapan Itsbat Nikah dan/atau penetapan asal-usul anak yang prosesnya melalui pembuktian dipengadilan. Jika dikaitkan dengan SPTJM, maka SPTJM hanyalah sebuah surat penyataan mengenai Kebenaran pernikahan untuk mengganti syarat akta perkawinan dalam pembuatan akta kelahiran.

3. Kerangka Konseptual

Kerangka konseptual adalah suatu bentuk gambaran dari hubungan antar konsep yang akan diteliti. Di dalam penelitian ini dapat ditarik kesimpulan yang akan menjadi konsep adalah sebagai berikut:

a. Akta Kelahiran adalah kutipan data outentik yang dipetik sebagian dari register akta kelahiran, yang diterbitkan dan ditandatangani oleh pejabat berwenang berdasarkan ketentuan peraturan perundang- undangan.23

b. Perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga

22 Sudikno Mertokusumo, Mengenal Hukum Suatu Pengantar. Yogyakarta, Liberty, Tahun 1999.

h., 71.

23 Pasal 1 angka 19 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Peningkatan Pencakupan Kepemilikan Akta Kelahiran.

(rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.24

c. Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM) Kebenaran Sebagai Pasangan Suami Isteri adalah pernyataan yang dibuat oleh orang tua kandung/wali/pemohon dengan tanggung jawab penuh atas status hubungan perkawinan seseorang, dengan diketahui 2 (dua) orang saksi.25