BAB II PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP
2.2 Dasar Hukum Pengaturan Tenaga Kerja Wanita
Dalam Undang-Undang Dasar 1945 terdapat salah satu pasal yang menjamin kesamaan derajat warga negaranya baik pria maupun wanita yang sekaligus juga memberi perlindungan hukum di bidang hukum perburuhan. Pasal yang dimaksud adalah Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang berbunyi :
Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan.
Dengan demikian Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 ini memberikan jaminan atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi rakyat Indonesia dalam mendapatkan perlindungan hukum. Pasal ini tidak hanya mempunyai nilai ekonomis, juga mempunyai nilai kemanusiaan. Maksudnya bahwa tenaga kerja harus memperoleh penghidupan dalam melaksanakan pekerjaan. Misalnya suatu perusahaan tidak boleh melakukan tindakan pemerasan terhadap tenaga kerjanya.
Untuk merealisasikan bunyi ketentuan Pasal 27 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 ini, maka hal-hal yang menyangkut norma kerja pertama kali pengaturannya dapat dilihat dalam Undang-Undang No. 12 Tahun 1948 yang hanya berlaku di Yogyakarta. Dengan diundangkannya Undang-Undang No. 1 Tahun 1951 maka Undang-undang Kerja Tahun 1948 dinyatakan berlaku untuk seluruh wilayah Indonesia. Adapun ruang lingkup UU No. 12 Tahun 1948 ini adalah sebagai berikut:
1. Di seluruh wilayah negara (National Wide).
2. Di semua perusahaan dari semua bidang usaha, yaitu
perusahaan perindustrian (industrial undertakings), perusahaan perniagaan (commercial undertaking) dan sebagainya.
3. Bagi semua buruh dan majikan di semua perusahaan tanpa membedakan suku, warga negara dan,
20
4. Mengatur semua materi kesehatan kerja, yaitu : a. Pekerjaan anak ; anak muda, wanita
b. Waktu kerja Waktu istirahat c. Tempat kerja
d. Perumahan buruh.29
Selain itu norma kerja diatur juga di dalam Undang-Undang No. 14
Tahun 1969 tentang Ketentuan Pokok Ketenagakerjaan, yaitu dalam pasal 10-nya. Oleh karena sebagian dari ketentuan Pasal 10 UU peraturan
pelaksanaannya, maka menurut Pasal : 18 UU No. 14 Tahun 1969, menyatakan : Selama peraturan perundangan untuk melaksanakan ketentuan dalam Undang-Undang ini belum dikeluarkan, maka peraturan dalam bidang ketenagakerjaan yang ada pada Undang-Undang ini mulai berlaku, tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan Undang-Undang ini.
Dalam Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 dalam ketentuan umum menyebutkan bahwa:
1. Ketenagakerjaan adalah segala hal yang berhubungan dengan tenaga kerja pada waktu sebelum, selama dan sesudah masa kerja.
2. Tenaga Kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang dan/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
3. Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain.
Menurut pandangan Hartono Widodo dan Judianto dalam bukunya Segi Hukum Penyelesaian Perselisihan Perburuhan Ketentuan Pokok Mengenai Tenaga Kerja disebut bahwa, "Ciri khas hubungan kerja adalah bekerja di bawah perintah orang lain dengan menerima upah. Hubungan ini baru terwujud bila telah ada perjanjian kerja” 30
29Kartasapoetra. G, dan R.G. Kartasapoetra, 2010. Op.cit., hal. 7.
30Hartono Widodo dan Julianto, 1992, Segi Hukum Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, Cet. II Rajawali Pres Jakarta, hal. 5.
21
Indonesia merupakan suatu negara hukum, dimana seluruh aspek kehidupan di Indonesia diatur oleh suatu aturan hukum termasuk di dalamnya bidang ketenagakerjaan. Untuk itu, agar hukum tersebut dapat terlaksana secara efektif dan dapat ditegakkan, maka diperlukan adanya pihak-pihak yang hendaknya bekerja sama untuk menegakkan hukum tersebut, di antaranya adalah masyarakat dan aparat penegak hukum. Begitu pula halnya di dalam penegakan hukum ketenagakerjaan ada beberapa yang harus bekerja sama di dalam menegakkan hukum ketenagakerjaan tersebut, yaitu pengusaha, tenaga kerja serta dari pemerintah. Dalam hal ini, pemerintah bertindak sebagai pengawas ketenagakerjaan yang berfungsi untuk melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan peraturan-peraturan di bidang ketenagakerjaan serta melakukan suatu tindakan hukum tertentu, jika ditemukan bentuk pelanggaran terhadap peraturan ketenagakerjaan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, pegawai bekerja sama dengan aparat penegak hukum yang lain.
Pengaturan bidang perburuhan secara mekanis dilakukan sejak akhir abad ke-18 dan sepanjang abad ke-19 akibat tidak tegasnya peraturan-peraturan yang mengatur antara pengusaha dengan tenaga kerja, sehingga hal tersebut lebih banyak memberikan keuntungan bagi pihak pengusaha atau majikan sebagai pihak yang mempunyai kedudukan ekonomi yang lebih tinggi dan merugikan tenaga kerja sebagai pihak yang lemah ekonominya.
Karena kondisi perburuhan ini tidak sama diberbagai negara, maka negara-negara di dunia membentuk suatu kesepakatan berupa Hukum Perburuhan Internasional, untuk itu didirikan Internasional Labour Organization yang disingkat dengan ILO, yaitu organisasi Perburuhan Internasional. Maksud
22
dan tujuan ILO ini dirumuskan dalam Konferensi Perburuhan Internasional tanggal 10 Mei 1949 dalam Declaration Philadelphia yang menegaskan bahwa :
Tiap-tiap orang tanpa memandang kebangsaan, kepercayaan (agama) atau kelamin, berhak mengejar baik kesejahteraan material maupun perkembangan spiritual berkenaan dengan kebebasan kepribadian atau kepastian ekonomi dan kesempatan yang sama.31
Dengan berdirinya ILO maka perlindungan hak asasi tenaga kerja menjadi lebih terjamin karena adanya kesatuan hukum dibidang Hukum Perburuhan di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri Pemerintah Indonesia secara bebas meratifikasi Konvensi ILO sepanjang tidak bertentangan dengan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
UU Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003, dan beberapa peraturan pelaksanaannya sudah mengatur hak-hak/perlindungan kepada pekerja perempuan, walaupun harus diakui regulasi tersebut belum sempurna. Bahkan, jauh sebelum itu pada tahun 1984 Pemerintah Indonesia juga telah meratifikasi konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa, yaitu Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) “atau yang secara resmi di Indonesia disebut sebagai Konvensi Penghapusan segala Bentuk Diskriminasi terhadap Wanita melalui Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984”.32
Dalam UU Ketenagakerjaan hak-hak pekerja Indonesia termasuk pekerja perempuan mendapatkan kepastian tentang ketentuan normatif/minimal yang wajib diberikan oleh Pengusaha/majikan kepada pekerja/buruh. Sedangkan untuk hak-hak lain yang disebut dengan "kepentingan" seperti tunjangan-tunjangan, bonus, insentif dan lain-lain di luar hak-hak normatif Undang-undang
31Imam Soepomo, Op.cit., hal. 56.
32Edius Adisu dan Libertus Jehani, 2006, Hak-Hak Pekerja Perempuan, Cet.I, Visi Media Jakarta, hal. 2.
23
ini mengamanatkan kepada pengusaha atau pekerja untuk bernegosiasi mencapai kesepakatan dan hal tersebut diminta dituangkan dalam Perjanjian Kerja Bersama atau Peraturan Perusahaan. Apa yang tertuang dalam PKB dan PP sifatnya mengikat, artinya salah satu pihak tidak boleh melanggar atau mengabaikan kesepakatan. Lebih lanjut, diwajibkan agar setiap terjadi perubahan atau salah satu pihak menginginkan adanya perubahan dalam kesepakatan harus ditempuh melalui perundingan dan prinsipnya nilai-nilai dalam Kesepakatan tersebut tidak boleh bertentangan atau di bawah ketentuan UU.
Kalau ada sesuatu yang sifatnya lebih baik dari ketentuan UU maka kesepakatan itulah yang dipakai.
Dalam konvensi PBB tentang penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang telah diratifikasi dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tersebut di atas, secara khusus memberikan perlindungan bagi hak-hak pekerja perempuan. “Salah satu implementasinya adalah untuk jenis pekerjaan yang sama, pengusaha tidak boleh membeda-bedakan Kompensasi yang diberikan kepada setiap pekerja baik pekerja laki-laki maupun perempuan”.33
Filosofi di balik peraturan perundang-undangan tersebut tidak lain karena menguatnya kesadaran bahwa sesungguhnya manusia, laki-laki dan perempuan, sama derajat dan martabatnya. Karena itu, setiap bentuk diskriminasi dan ketidakadilan dalam relasi antara pekerja dan pengusaha/majikan maupun antara laki-laki dan perempuan harus dicegah/dihapus.
Mengenai pengertian pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain (Pasal 1 angka 3
33Ibid, hal. 3.
24
Undang-Undang No. 13 Tahun 2003). Berdasarkan difinisi Buruh adalah orang yang bekerja untuk orang lain dengan mendapat upah, sedangkan menurut UU Ketenagakerjaan No.13 Pasal 1 ayat (3)
Pekerja/buruh adalah setiap orang yang bekerja dengan menerima upah atau imbalan dalam bentuk lain. Buruh, pekerja, dan tenaga kerja mempunyai arti yang sama.
Berdasarkan pengertian tersebut, dapat dikatakan bahwa yang dimaksud dengan pekerja wanita adalah tenaga kerja wanita dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja dengan menerima upah.
Buruh, pekerja, worker, laborer, tenaga kerja atau karyawan pada dasarnya adalah manusia yang menggunakan tenaga dan kemampuannya untuk mendapatkan balasan berupa pendapatan baik berupa uang maupun bentuk lainnya kepada pemberi kerja atau pengusaha atau majikan.
Ketentuan Pasal 6 Undang-Undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan menyatakan:
Setiap pekerja/buruh berhak memperoleh perlakuan yang sama tanpa diskriminasi dari pengusaha.
Perlindungan Pekerja Perempuan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan dalam Pasal 1 disebutkan bahwa:
Tenaga kerja adalah setiap orang yang mampu melakukan pekerjaan guna menghasilkan barang/atau jasa baik untuk memenuhi kebutuhan sendiri maupun untuk masyarakat.
Berdasarkan pengertian tersebut, maka yang dimaksud dengan Pekerja Wanita adalah Tenaga Kerja Wanita dalam jangka waktu tertentu berdasarkan perjanjian kerja dengan menerima upah. Aturan hukum untuk pekerja perempuan ada yang berbeda dengan pekerja laki-laki, seperti cuti melahirkan, pelecehan seksual di tempat kerja, jam perlindungan dan lain-lain.
25
Adapun dasar hukum dari pengaturan tenaga kerja wanita di Indonesia adalah sebagai berikut:
1) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan yang memberikan perlindungan hukum pada buruh perempuan. Khusus dengan adanya Pasal 76 yang mengatur tentang perlindungan terhadap buruh perempuan yang antara lain meliputi :
a. Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang diperkerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.
b. Pengusaha dilarang memperkerjakan pekerja/ buruh perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.
c. Pengusaha yang memperkerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00 wajib :
1) Memberikan makanan dan minuman bergizi; dan
2) Menjaga kesusilaan dan keamanan selama berada di tempat kerja.
d. Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 05.00.
e. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) diatur dengan Keputusan Menteri.
Pasal 5 dan 6 Undang-undang Ketenagakerjaan yang menyatakan setiap tenaga kerja berhak mendapatkan persamaan kesempatan memperoleh
26
pekerjaan dan perlakuan tanpa diskriminasi antara buruh perempuan dan laki-laki oleh pengusaha.
Pasal 32 ayat (1) Undang-undang Ketenagakerjaan tentang penempatan tenaga kerja dilaksanakan berdasarkan asas terbuka, bebas, obyektif, serta adil dan setara tanpa diskriminasi.
Pasal 11 Undang-undang Ketenagakerjaan yang menyatakan setiap tenaga kerja berhak memperoleh dan atau mengembangkan kompetisi kerja sesuai dengan bakat minat dan kemampuannya melalui pelatihan kerja.
Undang-undang Ketenagakerjaan Pasal 81 ayat (1) yang menyatakan pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dn memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid. Dalam ayat (2) dinyatakan pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
Pada Pasal 82 ayat (1), (2) Undang-undang Ketenagakerjaan yang meliputi : a. Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5
bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
b. Pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.
Pada Pasal 83 Undang-undang Ketenagakerjaan yang menyatakan pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.
Pasal 153 ayat (6) Undang-undang Ketenagakerjaan yang memuat hak pekerja atau larangan yang tidak dapat dijadikan alasan PHK oleh pengusaha, yaitu pada pekerja perempuan yang hamil, melahirkan dan gugur kandungan.
27
Pengaturan buruh/pekerja perempuan dalam Undang-Undang No.13 Tahun 2003 telah banyak mengalami perubahan dari ketentuan sebelumnya yang melarang perempuan diperkerjakan pada malam hari, kecuali karena sifatnya pekerjaan tersebut harus dikerjakan oleh wanita dengan meminta izin instansi yang bertanggung jawab dibidang ketenagakerjaan. Dengan perkembangan zaman dan tuntutan hidup seperti sekarang ini sudah waktunya laki-laki dan perempuan diberikan kesempatan yang sama untuk melakukan pekerjaan, hanya saja karena sifat dan kodrat kewanitaannya, maka bagi pengusaha yang memperkerjakan perempuan pada malam hari harus memenuhi ketentuan sebagaimana diatur pasal-pasal di dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2003.
2) Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI No.: KEP.
224/MEN/2003 tentang kewajiban pengusaha yang memperkerjakan buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00 WIB, yang substansinya pengusaha yang memperkerjakan buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan 07.00 WIB berkewajiban untuk melaksanakan pemberian makanan dan minuman bergizi, penjagaan kesusilaan, dan keamanan selama di tempat kerja serta penyediaan angkutan antar jemput.
3) Peraturan Menteri Tenaga Kerja No.PER.04/MEN/1989 Tentang Tatacara Memperkerjakan Pekerja Wanita Pada Malam Hari. Diatur pada Pasal 3, Pengusaha yang memperkerjakan pekerja wanita pada malam hari harus menjaga keselamatan, keamanan, dan kesusilaan dengan memenuhi syarat-syarat sebagai berikut :
a. Pekerja wanita tidak dalam keadaan hamil,
b. Pekerja/ buruh wanita yang berumur sekurang-kurangnya 18 tahun atau sudah menikah,
28 c. Menyediakan angkutan antar jemput,
d. Memberi makanan dan minuman yang bergizi, e. Mendapat persetujuan dari suami/ orang tua/ wali, f. Memperhatikan kebiasaan setempat.
4) Undang-Undang Republik Indonesia No.: 7 tahun 1984 Tentang Pengesahan Konvensi Mengenai Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Wanita (Convention On The Elimination Of All Forms Of Discrimination Against Woman). Konvensi ini memuat hak dan kewajiban wanita berdasarkan persamaan hak dengan pria, menghapus segala diskriminasi terhadap wanita dan menyatakan agar diambil langkah-langkah seperlunya untuk menjamin pelaksanaan deklarasi tersebut. Dengan Undang-Undang ini, yang berisi tentang pengesahan konvensi PBB mengenai penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, maka penegasan perlindungan tenaga kerja perempuan dari perlakuan diskriminatif semakin kuat. Hal-hal yang diatur dalam konvensi ini, khususnya Pasal 11 adalah:
a. Hak untuk mendapatkan pekerjaan
b. Hak atas kesempatan kerja yang sama termasuk penerapan criteria seleksi yang sama dalam penerimaan pegawai atau karyawan
c. Hak untuk memilih profesi dan pekerjaan d. Hak untuk promosi jabatan dalam pekerjaan e. Hak untuk memperoleh pelatihan kejuruan
f. Hak untuk menerima upah yang sama dengan tenaga kerja laki-laki atas pekerjaan yang sama nilainya
g. Hak atas jaminan sosial.
Tolak ukur terjadinya diskriminasi terhadap perempuan di tempat kerja dengan dapat dijelaskan pula bahwa wujud patriarki dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa perlakuan diskriminatif, ketidakadilan atau tidak diterimanya di suatu lingkungan tertentu. Termasuk ke dalam pengertian diskriminasi adalah cara dan bentuk sehalus apapun sehingga orang yang
29
bersangkutan tidak menyadari tindakan diskriminatif tersebut(Jurnal Perempuan Dalam Birokrasi Telaah Tentang Persoalan Perempuan Meniti 5) Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.: PER-03/MEN/1989 Tentang Larangan
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) Bagi Pekerja Perempuan Karena Menikah, Hamil Atau Melahirkan. Pada Pasal 2 berbunyi Pengusaha dilarang mengadakan pemutusan hubungan kerja (PHK) bagi pekerja wanita karena menikah, hamil atau melahirkan baik dalam hubungan kerja untuk waktu tertentu maupun waktu lama.
6) Peraturan Pemerintah RI No.: 8 Tahun 1981 Tentang Perlindungan Upah.
Pada Pasal 2 yang menyatakan hak untuk menerima upah timbul pada saat adanya hubungan kerja dan berakhir pada saat hubungan kerja putus, Pasal 3 menyatakan Pengusaha dalam menetapkan upah tidak boleh mengadakan diskriminasi antara buruh laki-laki dari buruh perempuan untuk pekerjaan yang sama nilainya.
7) Keputusan Presiden RI No. 83 Tahun 1998 Tentang Pengesahan Convention (Number 87) Concerning Freedom Of Association and Protection Of The Right To Organize (Konvensi No. 87 Tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak Untuk Berorganisasi). Pada Pasal 1 menyatakan mengesahkan Convention (Number 87) Concerning Freedom Of Association and Protection Of The Right To Organize (Konvensi No. 87 Tentang Kebebasan Berserikat dan Perlindungan Hak Untuk Berorganisasi), yang telah diterima di San Francisco, Amerika Serikat, pada tanggal 17 Juni 1948 sebagai hasil Sidang Governing Body International Labor Organization, yang naskah aslinya dalam bahasa Inggris dan terjemahannya dalam bahasa Indonesia sebagaimana terlampir pada Keputusan Presiden ini. Keputusan
30
Presiden ini berisi tentang pekerja dan pengusaha tanpa perbedaan apa pun, mempunyai hak untuk mendirikan dan tunduk pada peraturan-peraturan organisasi tersebut, untuk bergabung pada organisasi-organisasi pilihan mereka tanpa otorisasi sebelumnya. Organisasi yang dimaksud adalah organisasi manapun dari pekerja dan pengusaha yang memajukan dan membela interest para pekerja dan pengusaha tersebut. Setiap anggota dari Organisasi Internasional di mana Konvensi ini diberlakukan mengambil hal-hal yang penting dan tepat untuk memastikan bahwa pekerja dan pengusaha dapat melaksanakan hak berorganisasi dengan bebas. Hal ini didukung dengan Undang-Undang No. 21 Tahun 2000 tentang serikat pekerja/ serikat buruh (Lalu Husni, 2003 : 242).
8) Kepmenakertrans. No.:Kep.49/MEN/2004 tentang ketentuan struktur dan skala upah. Sebagai pelaksanaan Pasal 92 ayat (3) Undang-Undang No. 13 Tahun 2003, perlu diatur ketentuan struktur dan skala upah. Di mana Keputusan Menteri ini merupakan pedoman penyusunan struktur dan skala upah.
9) Kepmenakertrans. No.Kep.102/MEN/VI/2004 tentang Waktu Kerja Lembur dan Upah Kerja Lembur. Pendukung pelaksanaan Pasal 78 ayat(4) Undang-undang No. 13 Tahun 2003, mengenai waktu kerja lembur dan upah kerja lembur serta perhitungannya.