BAB II PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP
2.3 Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Wanita
Sebelum membahas tentang pelaksanaan perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu pengertian perlindungan hukum itu sendiri. “Perlindungan hukum adalah memberikan
31
pengayoman kepada hak asasi Manusia yang dirugikan orang lain dan perlindungan tersebut diberikan kepada masyarakat agar mereka dapat menikmati semua hak-hak yang diberikan oleh hukum”34
Perlindungan hukum merupakan perlindungan akan harkat dan martabat, serta pengakuan terhadap hak-hak asasi manusia yang dimiliki oleh subjek hukum berdasarkan ketentuan hukum dari kewenangannya. Perlindungan hukum adalah “berbagai upaya hukum yang harus diberikan oleh aparat penegak hukum untuk memberikan rasa aman, baik secara pikiran maupun fisik dari gangguan dan berbagai ancaman dari pihak manapun.” 35
Perlindungan hukum adalah sebagai kumpulan peraturan atau kaidah yang akan dapat melindungi suatu hal lainnya. Berkaitan dengan konsumen, berarti hukum memberikan perlindungan terhadap hak-hak pelanggan dari sesuatu yang mengakibatkan tidak terpenuhinya hak-hak tersebut
Perlindungan hukum adalah penyempitan arti dari perlindungan, dalam hal ini hanya perlindungan oleh hukum saja. Perlindungan yang diberikan oleh hukum, terkait pula dengan adanya hak dan kewajiban, dalam hal ini yang dimiliki oleh manusia serta lingkungannya. Sebagai subjek hukum manusia memiliki hak dan kewajiban untuk melakukan suatu tindakan hukum.36
Prinsip perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia karena menurut sejarah dari barat, lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan perletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah.
34Satjipto Raharjo, 1993, Penyelenggaraan Keadilan Dalam Masyarakat Yang Sedang Berubah, Jurnal Masalah Hukum, Jakarta, hal. 23.
35Philipus M Hardjon, 1987, Perlindungan Hukum Bagi Rakyat Indonesia, Bina Ilmu Surabaya, hal. 31.
36CST Kansil 1989, Op.cit., hal. 29.
32
Aspek dominan dalam konsep barat tentang hak asasi manusia menekankan eksistensi hak dan kebebasan yang melekat pada kodrat manusia dan statusnya sebagai individu, hak tersebut berada di atas negara dan di atas semua organisasi politik dan bersifat mutlak sehingga tidak dapat diganggu gugat karena konsep ini, maka sering sekali dilontarkan kritik bahwa konsep barat tentang hak-hak asasi manusia adalah konsep yang individualistik.
Kemudian dengan masuknya hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi serta hak (cultural, terdapat kecenderungan mulai melenturnya sifat individualistik dari konsep barat.
Dalam merumuskan prinsip-prinsip perlindungan hukum di Indonesia, landasannya adalah Pancasila sebagai ideologi dan falsafah negara. Konsepi perlindungan hukum bagi rakyat di barat bersumber pada konsep-konsep rechstaat dan rule of the law. Dengan menggunakan konsepsi barat sebagai kerangka berpikir dengan landasan pada Pancasila, prinsip perlindungan hukum di Indonesia adalah pengakuan dan perlindungan terhadap harkat dan martabat manusia yang bersumber pada Pancasila.
Prinsip perlindungan hukum terhadap tindak pemerintah bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah.37
Menurut Philipus M. Hadjon perlindungan hukum ada dua yaitu
“perlindungan hukum preventif dan perlindungan hukum represif”. 38
Sarana perlindungan hukum preventif subjek hukum diberikan kesempatan untuk mengajukan keberatan atau pendapatnya sebelum suatu
37Philipus M Hadjon, Op Ot, hal 38.
38Ibid, hal. 43.
33
keputusan pemerintah mendapat bentuk yang definitif, yaitu bentuk perlindungan yang sudah mendapatkan pengesahan dari yang berwenang dan diberlakukan. Tujuannya adalah mencegah terjadinya sengketa perlindungan hukum. Perlindungan hukum preventif sangat besar artinya bagi tindakan pemerintahan yang didasarkan pada kebebasan bertindak karena dengan adanya perlindungan hukum yang preventif pemerintah terdorong untuk bersifat hati-hati dalam mengambil keputusan yang didasarkan pada diskresi Di Indonesia belum ada pengaturan khusus mengenai perlindungan hukum preventif.
Sarana perlindungan hukum represif bertujuan untuk menyelesaikan sengketa, penanganan perlindungan hukum oleh pengadilan umum dan peradilan administrasi di Indonesia termasuk kategori perlindungan hukum ini prinsip perlindungan hukum terhadap tindakan pemerintah bertumpu dan bersumber dari konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia karena menurut dari sejarah barat, lahirnya konsep-konsep tentang pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia diarahkan kepada pembatasan-pembatasan dan peletakan kewajiban masyarakat dan pemerintah. Prinsip kedua yang mendasar perlindungan hukum terhadap tindak pemerintahan adalah prinsip Negara hukum. Dikaitkan dengan pengakuan dan perlindungan terhadap hak-hak asasi manusia mendapat tempat utama dan dapat dikaitkan dengan tujuan dari negara hukum.
Perlindungan hukum juga bersumber pada prinsip negara hukum, ada beberapa pengertian Negara hukum yang dikemukakan oleh para ahli seperti:
“Negara hukum adalah negara yang bertujuan untuk menyelenggarakan ketertiban hukum, yakni tata tertib yang umumnya berdasarkan hukum yang
34
terdapat pada rakyat. Negara hukum menjaga ketertiban hukum supaya jangan terganggu agar semua berjalan menurut hukum.”39
Negara hukum adalah negara yang tunduk pada hukum, peraturan-peraturan hukum berlaku pula bagi segala badan dan alat-alat perlengkapan negara. Negara hukum menjamin adanya tertib hukum dalam masyarakat yang artinya memberi perlindungan hukum pada masyarakat, antara hukum dan kekuasaan ada hubungan timbal balik.
Prinsip negara hukum menurut Sri Soemantri
a. Adanya pengajuan terhadap jaminan hak-hak asasi manusia dan warga negara.
b. Adanya pembagian kekuasaan
c. Bahwa dalam melaksanakan kewajibannya, pemerintah harus selalu berdasarkan atas hukum yang berlaku baik tertulis maupun tidak tertulis.
d. Adanya kekuasaan kehakiman dalam menjalankan kekuasaannya merdeka artinya terlepas dari pengaruh kekuasaan pemerintah.40 Menurut A.V .dicey
a. Supremasi absolut
b. Persamaan di hadapan hukum
c. Konstitusi merupakan konsekuensi dari hak-hak individu yang dirumuskan dan ditegaskan oleh peradilan.41
Seperti halnya dengan suatu perusahaan, bila dalam suatu perusahaan memiliki unsur power yang lebih besar, maka tindak akan bertahannya suatu perusahaan karena tidak seimbangnya perlakuan pengusaha terhadap tenaga kerja. Perlindungan kepentingan berlaku bagi tenaga kerja yang kepentingannya telah dirugikan sebagai akibat PHK oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Perlindungan terhadap tenaga kerja tidak lepas dari peranan pemerintah, yang
39Mukti A Fadjar, 2005, Tpe Negara Hukum, Bayumedia Publishing, Malang, hal. 22.
40Sri Soemantri, 2006, Prosedur dan Sistem Perubahan Konstitusi, Alumni, Jakarta, hal. 31.
41A.V Dicey, 2010, Pengantar Studi Hukum Konstitusi, Nusa Media, Jakarta, hal. 17.
35
mana masalah kesenjangan antara banyaknya jumlah pencari kerja dengan sedikitnya kesempatan kerja yang tersedia, kurang tersedianya tenaga kerja yang terampil dan berpengalaman yang sudah tentu memerlukan pemecahan dan jalan ke luar.
Dalam menghadapi masalah inilah pemerintah sangat berperan khususnya MPR sebagai lembaga tertinggi negara telah menyadarinya. Terlihat dalam salah satu ketetapannya yaitu pada TAP MPR Nomor 11/MPR/1988 tentang Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) antara lain menetapkan bahwa :
Jumlah penduduk yang sangat besar, apabila tidak dapat dibina dan dikerahkan sebagai tenaga kerja yang efektif dan merupakan modal pembangunan yang sangat besar dan sangat menguntungkan bagi usaha-usaha pembangunan disegala bidang.
Konflik antara pekerja atau buruh sering terjadi dan sampai saat ini hal tersebut sudah lazim dipendengaran masyarakat. Adapun yang melatar belakangi konflik hubungan industrial itu, di antaranya mengenai upah, jam kerja, cuti, PHK, tunjangan kekerasan. Kenyataan tersebut sebenarnya tidak perlu terjadi jika baik pekerja maupun pengusaha sampai subjek hukum memahami dengan benar hukum perburuhan khususnya mengenai perjanjian kerja. Agar tidak terjadi permasalahan yang menyebabkan pekerja tersebut di PHK maka ketentuan perjanjian kerja sangat berperan penting
Intervensi pemerintah dalam bidang perburuhan yang mendasar terhadap sifat hukum perburuhan yakni sifat privat yang melekat pada prinsip dasar adanya hubungan kerja yang ditandai dengan adanya perjanjian kerja.
Sedangkan sifat publik dari hukum perburuhan dapat dilihat dari :
1. Adanya sanksi pidana, sanksi administratif bagi pelanggar ketentuan dibidang perburuhan atau ketenagakerjaan.
36
2. Campur tangan pemerintah dalam menetapkan standar upah (upah minimum).42
Dengan campur tangan pemerintah dan peraturan perundang-undangan menjadi pedoman bagi pengusaha dan pekerja dalam menjalankan kerja sama yang berdasarkan perundang-undangan yang berlaku.
1. Pedoman Hukum Bagi Pekerja Wanita
Pelaksanaan perlindungan hukum terhadap pekerja wanita berpedoman pada Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan khususnya Pasal 76, 81, 82, 83, 84, Pasal 93, Kepmenaker No. 224 tahun 2003 serta Peraturan Perusahaan atau perjanjian kerja bersama perusahaan yang meliputi:
a. Perlindungan Jam Kerja
Perlindungan dalam hal kerja malam bagi pekerja wanita (pukul 23.00 sampai pukul 07.00). Hal ini diatur pada pasal 76 Undang-Undang Nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Tetapi dalam hal ini ada pengecualiannya yaitu pengusaha yang mempekerjakan wanita pada jam tersebut wajib:
1) Memberikan makanan dan minuman bergizi
2) Menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja
3) Menyediakan antar jemput bagi pekerja perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 – 05.00.
Tetapi pengecualian ini tidak berlaku bagi pekerja perempuan yang berumur di bawah 18 (delapan belas) tahun ataupun perempuan hamil yang berdasarkan keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan
42Lalu Husni, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, PT. Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2003, hal. 12.
37
keselamatan kandungannya apabila bekerja antara pukul 23.00 – 07.00.
Dalam pelaksanaannya masih ada perusahaan yang tidak memberikan makanan dan minuman bergizi tetapi diganti dengan uang padahal ketentuannya tidak boleh diganti dengan uang.
b. Perlindungan dalam masa haid
Pelaksanaan perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita adalah dengan memberikan istirahat-istirahat tertentu yang disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan dan kesepakatan yang telah mereka buat melalui perjanjian kerja. Pada UU No. 13 Tahun 2003 Pasal 81 dijabarkan seperti berikut ini:
(1) Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
c. Perlindungan Selama Cuti Hamil
Kebijakan pemerintah untuk memberikan cuti hamil kepada perempuan adalah sesuatu yang wajib karena keterkaitan kodrat sebagai perempuan. Ketentuan UU Ketenagakerjaan pada pasal 82 mengatakan:
Pekerja/buruh perempuan berhak memperoleh istirahat 1,5 (satu setengah) bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
Mekanisme pengambilan cuti hamil bisa disepakati antara pekerja/buruh dengan pengusaha dan dituangkan dalam perjanjian kerja bersama atau peraturan perusahaan. Mekanisme pengambilan cuti hamil yang dimaksud tidak mesti 1,5 bulan sebelum melahirkan dan 1,5 bulan
38
setelah melahirkan bisa diatur apakah 1 minggu atau 2 minggu sebelum melahirkan baru sisanya diambil setelah melahirkan. Yang penting total istirahat selama periode melahirkan adalah 3 bulan.
d. Pemberian Lokasi Menyusui
Pasal 83 Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan mengatur masalah ibu yang sedang menyusui.
Pekerja/buruh perempuan yang anaknya masih menyusui harus diberi kesempatan sepatutnya untuk menyusui anaknya jika hal itu harus dilakukan selama waktu kerja.
Pemberian kesempatan pada pekerja wanita yang anaknya masih menyusui untuk menyusui anaknya hanya efektif untuk yang lokasinya dekat dengan perusahaan.
2. Peranan Penting Dinas tenaga Kerja
Peran Dinas Tenaga Kerja dalam memberikan perlindungan hukum terhadap pekerja wanita yakni dengan melalui pengesahan dan pendaftaran PP & PKB Perusahaan pada Dinas Tenaga Kerja, Sosialisasi Peraturan Perundangan di bidang ketenagakerjaan dan melakukan pengawasan ke Perusahaan.
Dalam pasal 76 terdapat beberapa layanan yang mesti disediakan oleh perusahaan jika menugaskan karyawan wanitanya lembur seperti berikut :
(1) Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.
(2) Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.
(3) Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00 wajib:
a. memberikan makanan dan minuman bergizi; dan
b. menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.
39
(4) Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 05.00.
(5) Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) diatur dengan Keputusan Menteri.
Pelaksanaan perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita adalah dengan memberikan hak-hak tertentu yang disesuaikan dengan peraturan perundang-undangan dan kesepakatan yang telah mereka buat melalui perjanjian kerja.
Kalau kita teliti lebih lanjut mengenai perjanjian kerja yang diberlakukan Angkasa Pura maka dalam praktik perjanjian kerja menggunakan perjanjian baku atau standar, yaitu dituangkan dalam bentuk formulir. Dari segi biaya dan waktu bentuk perjanjian memang lebih hemat karena dari pihak perusahaan tinggal menyodorkan formulir yang sudah dipersiapkan sebelumnya, sedangkan calon pekerja tinggal menyatakan kehendaknya untuk menerima atau menolak isi perjanjian tersebut. Akan tetapi jika diamati lebih lanjut bentuk perjanjian seperti ini akan lebih menguntungkan bagi perusahaan karena mengenai isi perjanjiannya ditentukan secara sepihak yaitu oleh pihak perusahaan, sehingga dalam keadaan yang demikian ini calon pekerja wanita hanya bersikap pasif yaitu tinggal menyatakan menerima atau menolak isi perjanjian yang tertera dalam formulir tersebut. Dalam artian bahwa pihak perusahaan menawarkan suatu ketentuan saja dan tinggal calon pekerja yang menentukan menerima atau menolak saja, calon pekerja tidak dapat melakukan penawaran terhadap isi dari surat perjanjian tersebut.
Maka tidak mungkin jika pengusaha dalam menentukan isi perjanjiannya lebih mementingkan hak-haknya daripada kewajibannya, dan bagi calon pekerja tidak ada kebebasan untuk ikut menentukan isi perjanjiannya tersebut. Tetapi
40
pihak pengusaha/Angkasa Pura sudah memasukkan klausul-klausul dalam perjanjian kerja sesuai dengan yang diwajibkan oleh undang-undang ketenagakerjaan seperti mengenai besaran upah yang diterima tiap bulannya juga sudah memasukkan tunjangan makan, tunjangan transportasi dan premi lembur, perjalanan dinas, tunjangan hari raya (THR), dan karyawan berhak diikutsertakan dalam program BPJS ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan sesuai dengan peraturan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah. (Wawancara dengan Ninik Giyanti, tgl. 15 Agustus 2017).
Dalam perjanjian kerja di Angkasa Pura tidak mencantumkan masalah cuti haid bagi pekerja wanita karena dianggap masalah haid pada masa kini bagi kaum wanita sudah dapat diatasi karena kemajuan teknologi dan obat-obatan yang dapat menghilangkan rasa sakit pada waktu haid, atau dengan mempergunakan pembalut wanita selama masa haid. (Wawancara dengan Ninik Giyanti, Tgl. 15 Agustus 2017), Bila dibandingkan dengan perundang-undangan mengenai tenaga kerja wanita yang diatur dalam UU No. 13 Tahun 2003 Pasal 81 yang menentukan bahwa :
(1) Pekerja/buruh perempuan yang dalam masa haid merasakan sakit dan memberitahukan kepada pengusaha, tidak wajib bekerja pada hari pertama dan kedua pada waktu haid.
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau perjanjian kerja bersama.
Jadi pelaksanaan cuti haid tidak diberlakukan pada PT. Angkasa Pura sesuai dengan UU No. 13 Tahun 2003 Pasal 81, namun karyawan khususnya karyawan wanita tidak mempermasalahkan cuti haid tersebut karena mereka merasa tidak ada halangan dalam melakukan kewajiban dalam bertugas dan sudah banyak tersedianya obat-obatan di warung-warung atau apotik-apotik untuk menanggulangi masalah tersebut.
41
Bentuk perlindungan hukum bagi pekerja wanita di PT. Angkasa Pura Suport sesuai dengan isi perjanjian terdapat pada Pasal 4 tentang upah dan 5 tentang cuti, sebagai berikut :
Pasal 4 ayat (1)
PIHAK KEDUA berhak memperoleh Gaji Dasar dari PIHAK PERTAMA sebesar Rp. ……….. setiap bulan yang pembayarannya dilakukan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA.
Ayat (2)
PIHAK KEDUA berhak memperoleh Tunjangan Makan, Tunjangan Transportasi dan Premi Lembur yang besarnya ditentukan oleh PIHAK PERTAMA.
Ayat (3)
Tunjangan Makan, Tunjangan Transportasi dan Premi Lembur sebagaimana dalam Ayat 2 bersifat tidak tetap sesuai dengan jumlah PIHAK KEDUA dalam waktu kerja.
Ayat (4)
PIHAK KEDUA berhak memperoleh biaya perjalanan dinas, apabila PIHAK KEDUA ditugaskan untuk melakukan perjalanan dinas luar kota yang besarnya sebagaimana yang ditentukan dalam ketentuan PIHAK PERTAMA dan /atau pemberi pekerjaan/Klien PIHAK PERTAMA.
Ayat (5)
PIHAK KEDUA berhak diikutsertakan dalam program BPJS ketenagakerjaan dan BPJS kesehatan oleh PIHAK PERTAMA sesuai dengan peraturan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah.
Ayat (6)
PIHAK KEDUA bersedia dipotong penghasilannya oleh PIHAK PERTAMA untuk pembayaran Pajak Penghasilan sesuai ketentuan yang berlaku yang selanjutnya akan disetorkan oleh PIHAK PERTAMA kepada Kantor Pajak.
Ayat (7)
PIHAK KEDUA berhak memperoleh Tunjangan Hari Raya Keagamaan (selanjutnya disebut THR) sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan oleh pemerintah atau ditetapkan lain oleh PIHAK PERTAMA.
42 Ayat (8)
Upah dibayarkan oleh PIHAK PERTAMA kepada PIHAK KEDUA selama masa Perjanjian Kerja setiap akhir bulan ke Rekening Bank atas nama PIHAK KEDUA.
Ayat (6)
Selama masa Perjanjian Kerja ini, hak-hak yang didapat PIHAK KEDUA sesuai dengan yang tercantum di dalam Perjanjian ini.
Perlindungan tenaga kerja wanita mengenai cuti dicantumkan pada perjanjian pasal 6 pada PT. Angkasa Pura Suport diatur sebagai berikut :
Ayat (1)
PIHAK KEDUA berhak atas cuti tahunan yang dihitung secara prorata setelah masa kerja 3 (tiga) bulan pada PIHAK PERTAMA.
Ayat (2)
PIHAK KEDUA wajib mengajukan Surat Permohonan Cuti selambat-lambatnya 5 (lima) hari kerja sebelumnya.
Ayat (2)
PIHAK KEDUA berhak atas cuti di luar cuti tahunan yaitu sebagai berikut:
a. Cuti Kematian keluarga inti (suami/istri, orang tua/mertua, anak/menantu dan saudara sekandung) selama 2 hari;
b. Cuti Kematian anggota keluarga dalam satu rumah selama 1 hari;
c. Cuti Pernikahan karyawan selama 3 hari;
d. Cuti Istri karyawan melahirkan /keguguran selama 2 hari e. Cuti Pernikahan anak selama 2 hari;
f. Cuti Khitanan anak selama 2 hari;
g. Cuti Pembaptisan anak selama 2 hari.
Berdasarkan pasal tersebut di atas mengenai hak dari pekerja wanita pada PT. Angkasa Pura, dimana perusahaan sudah memberikan kepada pekerja wanita hak-haknya sesuai dengan peraturan perundang-undangan walaupun tidak seluruhnya aturan tersebut dapat diterapkan sesuai dengan isi pasal-pasal undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Seperti misalnya mengenai cuti haid pihak perusahaan tidak mencantumkannya dalam
43
perjanjian kerja. Dan cuti hamil juga tidak dicantumkan dalam perjanjian kerja karena selama kontrak berlangsung tidak diperbolehkan hamil. Hal ini dimungkinkan karena sudah diatur dalam perjanjian kerja.
Berdasarkan hasil wawancara dengan Norma Fajrianti, Tgl. 15 Agustus 2017, Pelaksanaan perlindungan hukum bagi pekerja wanita yang bekerja malam hari di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali di antaranya :
1. Perlindungan kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.
2. Pemisahan Kamar Mandi/WC yang layak dengan penerangan yang memadai antara pekerja/buruh perempuan dan laki-laki.
3. Transportasi (antar jemput) yang mana dari pihak Perusahaan Angkasa Pura tidak dapat dilaksanakan sesuai dengan ketentuan UU Nomor 13 Tahun 2003 dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor KEP. 224 /MEN/2003 Tentang Kewajiban Pengusaha yang Mempekerjakan Pekerja/Buruh Perempuan antara Pukul 23.00 sampai dengan 07.00. Sebagai alternatifnya perusahaan menguangkan dengan membayar uang transport bagi pekerja tersebut, disebabkan tidak terjangkaunya tempat tinggal. Para pekerja yang dikarenakan tempat tinggal pekerja tersebar di beberapa wilayah daerah tersebut. Dan perusahaan juga menyediakan klinik bagi pekerja untuk merawat pekerja yang tiba-tiba sakit saat kerja, hal itu dilakukan perusahaan sesuai dengan yang diatur oleh Undang-Undang No. 13 Tahun 2003.
44 BAB III
HAMBATAN YANG DIHADAPI DALAM PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP TENAGA KERJA WANITA
3.1 Faktor-faktor Yang Menghambat Dalam Perlindungan Terhadap