• Tidak ada hasil yang ditemukan

Faktor-faktor Yang Menghambat Dalam Perlindungan

BAB II PELAKSANAAN PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP

3.1. Faktor-faktor Yang Menghambat Dalam Perlindungan

Dari hasil penelitian yang dilakukan, kendala-kendala dalam pelaksanaan perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita yang ada pada Angkasa Pura Suport tersebut adalah :

Kendala perlindungan hukum bagi pekerja wanita yang bekerja pada Angkasa Pura Suport adalah dalam pengambilan cuti tahunan. Pekerja wanita biasanya mengambil cuti dengan dicicil atau dikompensasikan dengan cuti-cuti yang dilakukan seperti misalnya anak mengalami sakit, terhadap cuti haid tidak diberikan. Cuti tahunan yang melebihi dari ketentuan-ketentuan perusahaan atau ketentuan perundang-undangan yang berlaku. (Wawancara dengan Ni Ketut Suliani, Tgl. 16 Agustus 2017).

Dari kendala tersebut di atas dapat dikatakan bahwa dengan adanya hal-hal yang menjadi penyebab dilaksanakannya perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita yang berasal dari pihak perusahaan yaitu :

1. Karena pihak perusahaan telah mengadakan suatu kesepakatan kerja bersama sebelum tenaga kerja wanita tersebut mulai bekerja dengan mengatur hak-hak dan kewajibannya dalam suatu perjanjian kerja dengan pihak perusahaan.

2. Karena pihak perusahaan telah memberikan pengertian dan pemahaman kepada tenaga kerja wanita tentang arti penting dari

45

perlindungan hukum yang diberikan pihak perusahaan kepada mereka yaitu melalui penyuluhan-penyuluhan, ceramah dan pelatihan.

3. Adanya pengawasan dari Depnaker dengan mewajibkan perusahaan membuat laporan tentang pelaksanaan peraturan ketenagakerjaan.

Sedangkan hal-hal yang menyebabkan belum dapat dilaksanakannya perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita oleh perusahaan yaitu:

1. Perusahaan belum memiliki kesepakatan kerja bersama yang mengatur hak-hak dan kewajiban tenaga kerja wanita dan perusahaan sendiri yang di dalamnya menyangkut pemberian perlindungan hukum

2. Karena kurangnya jumlah tenaga kerja sehingga tidak memungkinkan untuk memberikan cuti kepada tenaga kerjanya seperti cuti haid dan cuti tahunan

3. Karena perusahaan masih dalam tahap pengembangan untuk merenovasi bangunan-bangunan ke arah yang lebih modern untuk memenuhi tuntutan pasar.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ni Ketut Suliani, Tgl. 16 Agustus 2017) mengenai hal penyebab dapat dilaksanakan perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita yaitu :

1. Karena tenaga kerja wanita mengetahui adanya kesepakatan kerja bersama yang dimiliki oleh perusahaan yang didalamnya mengatur tentang perlindungan bagi tenaga kerja wanita.

2. Karena tenaga kerja wanita memahami arti penting perlindungan hukum yang diberikan pihak perusahaan kepada mereka yang memiliki kemauan untuk melaksanakannya.

46

Sedangkan yang belum dapat dilaksanakannya perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita adalah:

1. Karena pekerja wanita tidak mengetahui dan tidak menyadari adanya perlindungan hukum yang diberikan oleh perusahaan kepada mereka.

2. Karena sebagian besar pekerja wanita tersebut memiliki motivasi kerja hanya untuk memperoleh upah guna memenuhi kebutuhan keluarganya.

3. Pekerja wanita yang tidak mau memanfaatkan hak yang diperolehnya 4. Adanya kemajuan dibidang teknologi kedokteran yang dapat

menghasilkan obat untuk dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa sakit karena haid .

Mengenai perlindungan hukum terhadap pekerja wanita pada masa hamil dan melahirkan tercantum dalam pasal 82 Undang-Undang No. 13 tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa:

Pekerja /buruh berhak memperoleh istirahat selama 1.5 bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. Dan pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 bulan sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidang.

Berdasarkan hasil wawancara dengan Ninik Giyanti, Tanggal 14 Agustus 2017 mengatakan bahwa: pekerja wanita pada PT. Angkasa Pura yang statusnya sebagai pekerja tetap memperoleh cuti hamil sesuai dengan ketentuan undang-undang. Sebelum mengambil cuti hamil pekerja bersangkutan harus mengisi form cuti terlebih dahulu disertai dengan surat keterangan dari dokter atau bidan yang menangani kehamilan tersebut.

47

Dari data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita sudah atau tidak dilaksanakannya bukan saja berasal dari perusahaan tapi juga dari pihak pekerja wanita itu sendiri terhadap loyalitas kepada perusahaan yang memperkerjakannya. Faktor kemajuan pengobatan dalam ilmu kedokteran menyebabkan ketentuan perlindungan hukum bagi pekerja wanita itu belum mencapai tujuan yang ditentukan oleh undang- undang, di samping juga adanya kepentingan lain dari perusahaan itu sendiri.

Faktor-faktor penghambat yang timbul dalam penyelenggaraan kerja yang melibatkan tenaga kerja perempuan di malam hari menurut Norma Fajrianti bagian Information Service Officer pada Angkasa Pura, sumber faktor penghambat ini terbagi menjadi tiga, yaitu yang bersumber dari tenaga kerja itu sendiri, pihak pengusaha maupun pihak pemerintah. (Wawancara dengan Norma Fajrianti, tgl. 16 Agustus 2017)

1. Hambatan yang berasal dari tenaga kerja

Hambatan dari tenaga kerja itu umumnya dikarenakan tingkat pendidikan tenaga kerja yang rendah, untuk mencukupi kebutuhan, tenaga kerja biasanya mengesampingkan hak-hak yang seharusnya diperoleh agar mendapatkan upah yang utuh, kurangnya pengetahuan tenaga kerja perempuan mengenai undang-undang dan peraturan-peraturan yang melindungi tenaga kerja perempuan itu sendiri.

Kaum perempuan yang rela bekerja di malam hari identik dengan orang-orang dari kalangan menengah ke bawah. Sebagai kalangan menengah ke bawah mereka biasanya tidak mampu untuk mencapai jenjang pendidikan tinggi. Oleh karena itu kemampuan mereka terbatas mengenai

48

hal-hal yang bersifat peraturan perundang-undangan atau apapun yang berkaitan dengan hukum.

Di lain pihak mereka dituntut untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang sering kali hanya mengandalkan mereka untuk dapat menyambung hidupnya. Berdasarkan kondisi ini maka biasanya kepekaan tenaga kerja perempuan tersebut terhadap keselamatan dan keamanan dirinya tidak begitu tinggi. Bahkan walaupun kepekaan itu sebenarnya ada, sering kali mereka dikesampingkan hanya karena takut tidak mendapatkan pekerjaan lain, sehingga nanti mengancam kelangsungan penghasilannya.

Oleh karena sebab-sebab di atas, maka ketika tenaga kerja perempuan itu tidak mendapatkan sesuatu yang menjadi haknya sebagai tenaga kerja perempuan yang bekerja di malam hari, mereka diam saja. Mereka takut untuk memprotes atasan mengenai tidak dipenuhinya hak-hak mereka.

Pada dasarnya hambatan yang berasal dari tenaga kerja ini dapat diatasi jika kepada tenaga kerja itu diberikan jaminan bahwa menuntut sesuatu yang menjadi hak mereka dari atasannya, tidak akan menyebabkan ia kehilangan pekerjaannya. Selain itu perlu diberikan pula penanaman pengetahuan tentang hak-hak seorang tenaga kerja perempuan yang bekerja di malam hari, karena bisa jadi mereka tidak memprotes karena sebenarnya mereka tidak tahu apa yang menjadi hak mereka. Hal ini dikarenakan para pengusaha biasanya cenderung untuk tidak memberitahukan hal-hal yang menjadi hak dari tenaga kerja, tetapi lebih cenderung untuk menuntut pelaksanaan kewajiban dari para tenaga kerjanya.

2. Hambatan yang Berasal dari Pengusaha

49

Hambatan yang berasal dan pihak pengusaha adalah kurang mempedulikan hal–hal yang bersifat memberikan efek yang kurang menguntungkan bagi dirinya. Seperti diketahui bahwa semua kewajiban yang dibebankan kepada pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja perempuan di malam hari, bersifat pengeluaran bagi pengusaha, antara lain penyediaan makanan dan minuman yang bergizi, penyediaan fasilitas antar jemput, penyediaan kamar mandi/WC yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, dan lain-lain, semuanya merupakan sumber pengeluaran bagi pengusaha.

Sementara di lain pihak naluri seorang pengusaha adalah untuk mendapatkan keuntungan yang setinggi-tingginya dari pengorbanan yang sekecil-kecilnya. Oleh karena itu semua kewajiban yang dibebankan kepadanya sebagai pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja perempuan di malam hari dianggapnya sebagai sesuatu yang merugikannya saja, sehingga pengusaha cenderung mengabaikannya.

Kecenderungan pengusaha untuk berlaku seperti itu juga didukung oleh kondisi tenaga kerjanya yang cenderung tidak berani menuntut apa yang menjadi haknya dengan alasan takut dipecat. Hal ini semakin meningkatkan arogansi pengusaha. Ada satu prinsip dari pengusaha tentang kesewenang-wenangannya dalam mempekerjakan tenaga kerja perempuan, yaitu, siapa yang mau menerima kondisi kerja seperti apa adanya, maka dia dapat diterima bekerja, akan tetapi siapa yang tidak mau menerima kondisi seperti itu bisa ke luar dari pekerjaannya. (Wawancara dengan Norma Fajrianti, Tgl.

16 Agustus 2017)

3. Hambatan yang Berasal dari Pemerintah

50

Hambatan yang berasal dan pemerintah disebabkan karena kurangnya penerangan dari pihak yang terkait yaitu Departemen Tenaga Kerja mengenai Hukum Ketenagakerjaan baik pada pengusaha maupun pda tenaga kerja perempuan itu sendiri. Di samping itu kurangnya pengawasan terhadap perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja perempuan di malam hari merupakan salah satu penyebab banyaknya penyelewengan yang dilakukan oleh pengusaha yang mempekerjakan perempuan di malam hari.

Pemerintah selaku pihak yang berwenang mengurus masalah-masalah yang berkaitan dengan ketenagakerjaan seharusnya mempunyai sikap yang proaktif dalam menegakkan peraturan perundang-undangan di bidang ketenagakerjaan. Di samping itu pengawasan yang merupakan kunci dari perlindungan hukum di bidang tenaga kerja perlu lebih diintensifkan.

Pemerintah tidak harus menunggu di kantor datangnya laporan atau datangnya pengusaha untuk meminta izin mempekerjakan tenaga kerja perempuan di malam hari. Akan tetapi pemerintah melalui Dinas Tenaga Kerja harus mencari informasi sebelum informasi itu datang.

Berdasarkan hasil analisis, faktor pendorong paling kuat perusahaan memberikan perlindungan hukum pada pekerja perempuan adalah kesadaran pentingnya perlindungan hukum pada tenaga kerja perempuan dan kondisi perusahaan yang baik. Sedangkan sebagai faktor kendala paling kuat perusahaan tidak memberikan perlindungan hukum pada pekerja perempuan adalah tidak ada pengawasan pemerintah dan tidak ada kepastian hukum bagi perusahaan yang melanggar.

4. Hambatan yang Berasal faktor budaya

51

Faktor kebudayaan yang sebenarnya bersatu padu dengan faktor masyarakat yang pada dasarnya mencakup nilai-nilai yang mendasari hak-hak yang berlaku , nilai-nilai yang merupakan konsepsi abstrak mengenai apa yang dianggap baik (sehingga dianut) dan apa yang dianggap buruk (sehingga dihindari)

3.2 Upaya Penyelesaian Hambatan-hambatan Yang Terjadi Dalam Perlindungan Hukum Terhadap Tenaga Kerja Wanita

Perlindungan hukum terhadap tenaga kerja perempuan di Indonesia dapat dilihat dalam ketentuan Pasal 65 ayat (4) Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 yang menentukan bahwa :

Perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja bagi pekerja/buruh pada perusahaan lain sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) sekurang-kurangnya sama dengan perlindungan kerja dan syarat-syarat kerja pada perusahaan pemberi pekerjaan atau sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dari ketentuan Pasal 65 Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 di atas dapat diketahui bahwa perlindungan hukum yang diberikan kepada perempuan dan laki-laki adalah sama. Untuk melindungi tenaga kerja, maka perusahaan wajib memberikan perlindungan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Adanya ketentuan bahwa pemerintah memberikan perlindungan hukum terhadap tenaga kerja perempuan ini merupakan angin segar bagi kaum perempuan yang terpaksa bekerja. Karena di dalam praktik kerja yang ada di masyarakat, sering terjadi kesewenang-wenangan terhadap kaum perempuan yang bekerja.

Kesewenang-wenangan ini berupa jam kerja yang terlalu panjang, gaji di bawah standar, sakit karena haid tetap disuruh bekerja, tidak diberi waktu istirahat yang cukup, harus mempunyai produktivitas

52

yang sama dengan pekerja laki-laki, tidak disediakan ruang kamar mandi khusus (kamar mandi jadi satu dengan pekerja laki-laki) sehingga bisa mengundang pelecehan seksual, dan lain-lain.43

Adanya ketentuan bahwa pengusaha harus memenuhi syarat-syarat kerja pemberian pekerjaan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku, membuat pengusaha yang tidak mau memenuhi ketentuan syarat kerja yang ditujukan bagi pengusaha yang mempekerjakan tenaga kerja perempuan dapat dikenai sanksi sesuai dengan hukum yang berlaku, antara lain sanksi denda, sanksi kurungan/penjara, sanksi ditutup usahanya, dan lain-lain.

Perempuan sebagai pekerja berhak mendapat perlindungan hukum dari berbagai kemungkinan buruk yang dapat menimpanya. Apalagi jika perempuan tersebut melakukan pekerjaannya di malam hari. Untuk itu ada beberapa konvensi tentang perlindungan terhadap perempuan yang bekerja di malam hari, antara lain :44

1. Konvensi Kerja Malam (Perempuan), 1919 (Indonesia tidak ikut meratifikasi).

2. Konvensi Kerja Malam (Perempuan), 1934 (Indonesia tidak ikut meratifikasi).

3. Konvensi Kerja Malam (Perempuan) (Revisi), 1948 (Indonesia tidak ikut meratifikasi).

Dari ketiga konvensi tentang perlindungan terhadap tenaga kerja perempuan yang bekerja di malam hari tersebut, tidak satupun yang pernah diratifikasi oleh pemerintah Indonesia. Hal ini kemungkinan disebabkan karena pemerintah Indonesia khawatir tidak dapat memenuhi ketentuan yang ditentukan oleh konvensi tersebut yang dirasa berat oleh pengusaha. Salah satu dari ketentuan konvensi-konvensi itu yang dirasa berat untuk dilaksanakan adalah

43http://www.kompas.com. Diakses 15 Agustus 2017

44Anonim, 1996, Perisai Perempuan, Kesepakatan Internasional untuk Perlindungan Perempuan, hal. 44-46.

53

ketentuan Pasal 3 Konvensi Kerja Malam (Perempuan) (Revisi), 1948, yang menentukan bahwa:

Kaum perempuan berapapun usianya tidak boleh dipekerjakan pada malam hari pada usaha industri publik atau swasta apapun, atau pada cabang-cabangnya, kecuali di dalam usaha dimana hanya anggota-anggota dari keluarga yang sama dipekerjakan.

Berdasarkan ketentuan tersebut dapat diketahui bahwa ada suatu ketentuan bahwa pekerjaan yang dilakukan perempuan di malam hari hanya boleh dilakukan jika di dalam usaha yang sama, bekerja juga anggota keluarganya yang lain. Ketentuan ini dirasa berat, karena belum tentu di dalam satu perusahaan bekerja juga anggota keluarga yang sama, sehingga ketentuan ini dirasa hanya akan mematikan potensi ekonomi yang dimiliki usaha tersebut.

Karena jika ternyata pengusaha Indonesia melakukan pelanggaran, maka sanksinya usaha tersebut harus ditutup. Akan tetapi walaupun Indonesia tidak meratifikasi konvensi internasional tersebut, tetap ada perlindungan hukum yang diberikan kepada tenaga kerja perempuan yang bekerja di malam hari.

Perlindungan itu diberikan melalui Keputusan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia Nomor Kep. 224/Men/2003 Tentang Kewajiban Pengusaha Yang Mempekerjakan Pekerja/Buruh Perempuan Antara Pukul 23.00 Sampai Dengan Pukul 07.00.

Peraturan ini dibuat dalam rangka memberikan peraturan pelaksanaan Pasal 76 ayat (3) dan (4) UU No. 13 Tahun 2003 yang menentukan bahwa :

1. Pekerja/buruh perempuan yang berumur kurang dari 18 (delapan belas) tahun dilarang dipekerjakan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.

2. Pengusaha dilarang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan hamil yang menurut keterangan dokter berbahaya bagi kesehatan dan keselamatan kandungannya maupun dirinya apabila bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00.

3. Pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 07.00 wajib :

54

a. memberikan makanan dan minuman bergizi; dan

b. menjaga kesusilaan dan keamanan selama di tempat kerja.

4. Pengusaha wajib menyediakan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan pukul 05.00.

5. Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (3) dan ayat (4) diatur dengan Keputusan Menteri.

Demi melindungi eksistensi peran dari tenaga kerja perempuan maka pemerintah menetapkan apa saja yang menjadi hak dari tenaga kerja perempuan. Hal ini diatur secara khusus dengan sebagai cara untuk melindungi tenaga kerja perempuan yang khususnya yang bekerja di malam hari. Dalam hal ini pemerintah menetapkan dalam KEPMEN NO.224 TAHUN 2003 tenaga kerja perempuan yang bekerja di malam hari berhak mendapatkan:

a. Mendapat makanan dan minuman bergizi;

b. Mendapat keamanan selama di tempat kerja. dan pengamanan terhadap tindakan yang melanggar kesusilaan

c. Mendapatkan angkutan antar jemput bagi pekerja/buruh perempuan yang berangkat dan pulang bekerja antara pukul 23.00 sampai dengan 05.00. d. Mendapat kamar mandi/wc yang layak dengan penerangan yang memadai serta terpisah antara pekerja/buruh perempuan dan laki-laki.

Dimana telah diatur dalam undang-undang bahwa pekerja perempuan mempunyai hak-hak khusus yang tidak diberikan oleh pekerja laki-laki. Hal ini terkait dengan perlindungan fungsi reproduksi yang dimiliki oleh perempuan, dan tidak dimiliki oleh laki-laki. Perlindungan fungsi reproduksi ini antara lain menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui.

Sebagai penghambat perlindungan hukum terhadap pekerja wanita yang belum dapat dilaksanakannya adalah:

1. Karena pekerja wanita tidak mengetahui dan tidak menyadari adanya perlindungan hukum yang diberikan oleh perusahaan kepada mereka.

55

2. Karena sebagian besar pekerja wanita tersebut memiliki motivasi kerja hanya untuk memperoleh upah guna memenuhi kebutuhan keluarganya.

3. Pekerja wanita yang tidak mau memanfaatkan hak yang diperolehnya 4. Adanya kemajuan dibidang teknologi kedokteran yang dapat

menghasilkan obat untuk dapat mengurangi bahkan menghilangkan rasa sakit karena haid .

Mengenai perlindungan hukum terhadap pekerja wanita pada masa hamil dan melahirkan tercantum dalam pasal 82 Undang-Undang No. 13 tahun 2003, tentang Ketenagakerjaan menyebutkan bahwa:

Pekerja /buruh berhak memperoleh istirahat selama 1.5 bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan. Dan pekerja/buruh perempuan yang mengalami keguguran kandungan berhak memperoleh istirahat 1,5 bulan sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidang.

Dari data-data tersebut di atas menunjukkan bahwa dalam pelaksanaan perlindungan hukum bagi tenaga kerja wanita sudah atau tidak dilaksanakannya bukan saja berasal dari perusahaan tapi juga dari pihak pekerja wanita itu sendiri terhadap loyalitas kepada perusahaan yang memperkerjakannya. Faktor kemajuan pengobatan dalam ilmu kedokteran menyebabkan ketentuan perlindungan hukum bagi pekerja wanita itu belum mencapai tujuan yang ditentukan oleh undang- undang, di samping juga adanya kepentingan lain dari perusahaan itu sendiri.

Bekerja pada malam hari tentu lebih beresiko dibanding bekerja di siang hari karena jika jadwal tidur Anda ke luar jalur, maka dapat mengganggu siklur tidur-bangun yang normal dan tubuh menjadi tidak berfungsi sebagaimana

56

mestinya, yang akhirnya akan mengarah pada gangguan pola hidup dan gangguan kesehatan seperti jantung, stroke, tekanan darah tinggi, kolesterol dan diabetes tipe 2. Untuk itu berdasarkan hasil wawancara dengan Ninik Giyanti, Tgl. 16 Agustus 2017, pihak PT. Angkasa Pura mensiasati dengan pengaturan jadwal antara pekerja wanita dan laki-laki, dimana pekerja laki-laki diutamakan bekerja di malam hari dan wanita di siang hari. Namun kalau sesuatu hal tidak boleh digantikan oleh pekerja laki-laki maka pekerja wanita harus bekerja pada malam hari dengan perlindungan dari perusahaan berupa penjagaan ketat dari sekuriti perusahaan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan dan pula memberlakukan layanan antar jemput.

57 BAB IV

SIMPULAN DAN SARAN

4.1. Simpulan

Berdasarkan hasil pembahasan maka dapat ditarik simpulan sebagai berikut :

1. Pelaksanaan perlindungan hukum terhadap tenaga kerja wanita yang bekerja pada malam hari di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali bahwa pihak pengusaha/Angkasa Pura sudah memasukkan klausul-klausul dalam perjanjian kerja sesuai dengan yang diwajibkan oleh undang-undang ketenagakerjaan seperti mengenai besaran upah yang diterima tiap bulannya juga sudah memasukkan tunjangan makan, tunjangan transportasi dan premi lembur, perjalanan dinas, tunjangan hari raya (THR), dan karyawan berhak diikutsertakan dalam program BPJS ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Jika bekerja pada malam hari berhak mendapat perlindungan dari pihak perusahaan dan mendapatkan pelayanan antar jemput, serta mendapatkan makanan selama istirahat sesuai dengan peraturan perundangan yang ditetapkan oleh pemerintah walaupun hal ini masih banyak yang belum terpenuhi.

2. Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pelaksanaan perlindungan hukum pada Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali adalah karena perusahaan tidak berani mengeluarkan biaya lebih untuk membiayai tenaga kerja yang bekerja pada malam hari, tetapi hambatan juga datang dari pekerja itu sendiri terhadap loyalitas kepada perusahaan yang memperkerjakannya di samping juga adanya kepentingan lain dari perusahaan itu sendiri.

58 4.2. Saran-Saran

Berdasarkan hasil pembahasan tersebut di atas maka dapat disarankan hal-hal sebagai berikut :

1. Hendaknya pemerintah mengawasi dan bertindak tegas terhadap perusahaan-perusahaan yang memperkerjakan tenaga kerja wanita, apakah perusahaan sudah melaksanakan perlindungan terhadap tenaga kerja wanita sesuai perundang-undang yang berlaku. Hal ini dimaksudkan untuk melindungi hak-hak tenaga kerja wanita dari pengusaha yang nakal.

2. Pemerintah lebih menyempurnakan lagi peraturan ketenagakerjaan yang mengatur mengenai kewajiban pengusaha yang mempekerjakan pekerja/buruh perempuan pada malam hari dengan menambahkan ketentuan sanksi yang harus dikenakan pada pengusaha yang melanggar ketentuan-ketentuan yang ada pada peraturan tersebut, sehingga pekerja/buruh perempuan yang bekerja malam hari merasa benar-benar terlindungi sehingga dapat bekerja dengan nyaman.

59

DAFTAR BACAAN

Buku-buku :

Abdul Aziz Al Khayyah, 1994,Etika Bekerja dalam Islam, Gema Insani Pers,Jakarta.

Abdul Khakim, 2007, Pengantar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Edisi Revisi, Citra Aditya Bakti, Bandung.

________,2009, Dasar-dasar Hukum Ketenagakerjaan Indonesia, Citra Aditya Bhakti, Bhakti, Bandung.

Departemen Pendidikan dan kebudayaan, 1990, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Cet. III, Balai Pustaka, Jakarta.

Dicey, A.V 2010, Pengantar Studi Hukum Konstitusi, Nusa Media, Jakarta

Edius Adisu dan Libertus Jehani, 2006, Hak-Hak Pekerja Perempuan, Cet.I, Visi Media Jakarta.

Halim HS dan Septiana Nurbani, 2013, Penerapan Teori pada Penelitian Tesis dan Disertasi, Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Hardijan Rusli. 2003. Hukum Ketenagakerjaan, Ghalia Indonesia. Jakarta.

Hartono Widodo dan Julianto, 1992, Segi Hukum Penyelesaian Perselisihan Perburuhan, Cet. II Rajawali Pres Jakarta.

Kansil CST 1989, Pengantar Ilmu Hukum Dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta..

Kartasapoetra. G, dan R.G. Kartasapoetra, 1985, Hukum Perburuhan di Indonesia Berlandaskan Pancasila, Sinar Grafika, Jakarta.

Kartini Kartono, 1995, Metode pembuatan kertas kerja atau skripsi ilmu hukum,

Kartini Kartono, 1995, Metode pembuatan kertas kerja atau skripsi ilmu hukum,

Dokumen terkait