BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Pembahasan
4.2.2 Jawaban Responden Pada Tiap Item Pertanyaan
untuk menjadi 5 star doctor menurut WHO, seluruh responden dapat menjawab dengan benar. Para dokter diharapkan menjadi seorang komunikator yang baik agar mampu memberikan edukasi dan penjelasan yang efektif, serta mampu mempengaruhi masyarakat untuk memperbaiki dan menjalankan gaya hidup sehat.
Pada pertanyaan nomor 2 dan 4 mengenai kedudukan, hak dokter dan pasien dalam komunikasi dokter-pasien, sebanyak 62 responden (87.3%) dan 70 responden (98.6%) dapat menjawab dengan benar. Hal ini menunjukkan mayoritas responden memahami bahwa kedudukan dokter sebagai seorang ahli tidak lebih tinggi dari pasien, tidak boleh adanya superior-inferior diantaranya. Keduanya memiliki hak yang sama dalam menyampaikan dan menerima informasi.
Pada pertanyaan nomor 3 mengenai empati dalam komunikasi dokter-pasien, sebanyak 60 responden (84.5%) dapat menjawab dengan benar. Disamping dapat meningkatkan kepuasan pasien, empati juga mempunyai banyak manfaat lainnya. Penelitian Rakel et al., (2011) juga menemukan bahwa para dokter yang melibatkan empati saat berkomunikasi dapat mengurangi gejala dan mempercepat penyembuhan pada pasien yang menderita flu. Penelitian selaras juga pernah dilakukan dan mendapatkan hasil yang sama (Mercer et al., 2016). Oleh sebab itu, empati merupakan sebuah komponen krusial yang penting bagi seorang dokter.
Sebagian besar responden juga sudah mengetahui bahwa dalam dunia kedokteran terdapat 2 jenis orientasi komunikasi dokter-pasien. Mayoritas responden juga telah memahami pengertian masing-masing orientasi komunikasi tersebut beserta jenis manakah yang paling direkomendasikan. Hal tersebut dapat
dilihat pada pertanyaan nomor 5 bahwa responden yang menjawab benar sebanyak 69%, pertanyaan nomor 7 sebanyak 95.8%, pertanyaan nomor 9 sebanyak 67.6%, dan pertanyaan nomor 14 sebanyak 95.8%. Komunikasi yang berorientasi pada pasien lebih direkomendasikan dibandingkan komunikasi yang berorientasi pada dokter. Hal ini sesuai dengan penelitian oleh Saha dan Beach (2011), komunikasi yang berorientasi pada pasien tidak hanya meningkatkan kenyamanan pasien, tetapi pasien juga lebih percaya dan menyetujui pilihan pengobatan yang direkomendasi dokternya, seperti dilakukannya operasi. Maka dapat dilihat bahwa tipe komunikasi juga mempengaruhi penilaian pasien terhadap kompetensi dokternya.
Pada pertanyaan nomor 6 mengenai pentingnya aspek non-verbal dalam komunikasi dokter-pasien, sebanyak 61 responden (85.9%) dapat menjawab dengan benar. Menurut Jonathan dan Paul (2010), aspek non-verbal juga tak kalah penting dan diyakini dapat meningkatkan kepercayaan dan keterbukaan pasien.
Oleh karena itu sebagai dokter harus memperhatikan aspek non-verbal seperti kontak mata, postur dan gerakan tubuh, ekspresi wajah serta intonasi suara saat berhadapan dengan pasien.
Pada pertanyaan nomor 8 dan 15 mengenai contoh dan indikator bahwa komunikasi yang baik telah tercapai, hampir seluruh responden dapat menjawab dengan benar yaitu sebesar 68 orang (95.8%) dan 68 orang (95.8%). Dalam komunikasi dokter-pasien, kedua belah pihak harus terlibat secara aktif. Apabila komunikasi telah dijalankan dengan baik, maka pasien akan merasa puas, paham akan penyakit yang dideritanya, patuh akan pengobatan dan penyembuhan akan berjalan dengan cepat (Jahan dan Siddiqui, 2019). Selain itu, komunikasi yang baik mampu mengurangi tingkat stres akibat kerja bagi dokter (Ranjan et al., 2015).
Pada pertanyaan nomor 10, jumlah responden yang dapat menjawab dengan benar hanya sebesar 26 orang (36.6%). Hal ini mungkin dikarenakan masih banyak dokter merasa akan menyita waktu apabila mengaplikasikan komunikasi dokter-pasien dengan cara yang baik dan benar. Opini ini salah dan tampaknya harus diluruskan. Menurut Warnecke (2014), sebenarnya komunikasi yang baik tidak memerlukan waktu lama apabila dilakukan secara efektif. Komunikasi efektif ini justru terbukti memerlukan lebih sedikit waktu (Kurtz, 1998).
Pada pertanyaan nomor 11, jumlah responden yang dapat menjawab dengan benar sebesar 64 orang (90.1%). Hal ini sudah sesuai panduan yang diterbitkan Ikatan Dokter Indonesia bahwa waktu tatap muka antara dokter dengan pasien bervariasi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasien. Waktu yang moderat berada pada kisaran 8-15 menit atau sekitar 4 pasien dalam satu jam (IDI, 2008).
Pada pertanyaan nomor 12, jumlah responden yang dapat menjawab dengan benar hanya sebesar 45 orang (63.4%). Masih banyak dokter yang setuju penggunaan pertanyaan tertutup membuat pasien merasa dokter tertarik terhadap keluhannya. Menurut Soetjiningsih et al., (2008) pendapat ini salah, penggunaan pertanyaan terbuka lebih direkomendasikan karena dapat membina hubungan yang baik dan mengundang pasien untuk lebih terbuka, karena menunjukkan kita tertarik dengan apa yang dipikirkannya. Selain itu, penggunaan pertanyaan terbuka juga memudahkan dokter untuk memperoleh lebih banyak informasi (Takemura et al., 2005).
Pada pertanyaan nomor 13, jumlah responden yang dapat menjawab dengan benar hanya 2 orang (2.8%). Hal ini mungkin dikarenakan rata-rata dokter merasa bahwa saat berkomunikasi dengan pasien, duduk bersandar boleh dilakukan supaya tampak rileks. Menurut penelitian yang dilakukan Larsen dan Smith (1981), didapatkan hasil apabila dokter bersandar ke belakang, hal tersebut akan mengurangi tingkat kepuasan pasien dan sebaliknya. Oleh karena itu posisi tubuh dokter sebaiknya condong ke depan, agar pasien merasa dokternya tertarik dan memahami apa yang dikeluhkannya.
Pada penelitian ini, peneliti menyadari keterbatasan dalam mengukur tingkat pengetahuan responden. Penelitian ini dilaksanakan secara online yang seharusnya dalam bentuk offline dikarenakan pandemi COVID-19. Akibatnya, hasil yang didapatkan mungkin tidak akurat dan bias.
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada dokter spesialis di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara mengenai tingkat pengetahuan dokter terhadap pentingnya komunikasi dokter-pasien, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :
1. Mayoritas responden di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara memiliki tingkat pengetahuan tentang komunikasi dokter-pasien berkategori baik sebanyak 59 orang (83.1%). Sedangkan responden dengan tingkat pengetahuan berkategori cukup sebanyak 10 orang (14.1%) dan berkategori kurang hanya sebanyak 2 orang (2.8%).
2. Responden dengan tingkat pengetahuan baik paling banyak dijumpai pada responden yang berjenis kelamin perempuan sebanyak 38 orang (90.5%).
3. Responden dengan tingkat pengetahuan baik paling banyak dijumpai pada responden yang berusia 56-65 tahun sebanyak 5 orang (100%).
4. Responden dengan tingkat pengetahuan baik paling banyak dijumpai pada responden dengan pendidikan terakhir akademik S1 sebanyak 7 orang (100%).
5. Responden dengan tingkat pengetahuan baik paling banyak dijumpai pada responden dengan pendidikan terakhir spesialis SP-1 sebanyak 26 orang (83.9%).
5.2 SARAN
Dari serangkaian proses penelitian yang telah dijalani penulis dalam menyelesaikan penelitian ini, maka peneliti mengungkapkan beberapa saran yang mungkin bermanfaat bagi pihak yang terkait dalam penelitian ini, yaitu :
1. Secara keseluruhan, pengetahuan dokter spesialis sekaligus tenaga pengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara sudah baik, namun masih terdapat beberapa pertanyaan yang sangat sedikit dijawab dengan benar. Bagi Institusi Pendidikan Kedokteran, diharapkan dapat mengadakan pelatihan dan sosialisasi secara regular mengenai komunikasi dokter-pasien kepada mahasiswa atau dokter.
2. Diharapkan bagi para dokter untuk menerapkan pengetahuannya tersebut dalam menjalankan profesinya sehari-hari agar pasien dan dokter sendiri dapat merasakan manfaatnya.
3. Diharapkan pada penelitian selanjutnya lebih mengembangkan penelitian ini, dilakukan terhadap sampel yang lebih luas tidak hanya mencakup tenaga pengajar saja, menggunakan metode sampling yang lebih baik dan menilai faktor-faktor lain yang dapat mempengaruhi tingkat pengetahuan, seperti sumber informasi, riwayat seminar atau riwayat pelatihan.
4. Diharapkan pada penelitian selanjutnya menerapkan metode yang lebih baik, seperti dilakukan observasi pada saat sampel berkomunikasi dengan pasien sehingga peneliti dapat menilai dan menganalisis keterampilan komunikasi dokter secara langsung dan mendapatkan hasil yang lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Alfitri, 2006. Komunikasi Dokter-Pasien. Jurnal Komunikasi.
Ali Nurdin, d., 2013. Pengantar Ilmu Komunikasi. In: 2013: IAIN Sunan Ampel Press, p. 120.
Arianto (2013) Komunikasi Kesehatan (Komunikasi Antara Dokter Dan Pasien).
Arikunto, S., 2010. Prosedur Penelitian Suatu: Pendekatan Praktek. Jakarta:
Rineka Cipta.
Barr, D. A., 2004. A Time To Listen.
Berry, D., 2006. Health Communication: Theory and Practice. In: UK: McGraw-Hill Education.
Blansky, D. et al., 2013. Spread of Academic Success in a High School Social Network. PLoS ONE, 8(2).
Budi Setyawan, F. E., 2019. Pendekatan Pelayanan Kesehatan Dokter Keluarga (Pendekatan Holistik Komprehensif). s.l.:Zifatama Jawara.
Clark, R., Freedberg, M., Hazeltine, E. & Voss, M., 2015. Are There Age-Related Differences in the Ability to Learn Configural Responses?.
Dewi, E. S., Ninstyastuti, I. K., Prihatina, L. M. & Nurbaiti, L., 2017. Hubungan Komunikasi Dokter-Pasien dengan Tingkat Pemahaman Medis Pasien Poliklinik Mata Rumah Sakit prof. Mulyanto Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat. Jurnal Kedokteran, 7(3), pp. 1-6.
Duckworth, A. L., 2006. Discipline Gives Girls the Edge: Gender in Self-Discipline, Grades, and Achievement Test Scores. Journal of
Educational Psychology, Volume 98, pp. 198-208.
Elwyn G, Laitner S, Coulter A, Walker E, Watson P, T. R. (2017) ‘The CAHPS Ambulatory Care Improvement Guide’, Bmj, 2017(November), pp. 1–45.
doi: 10.1002/bsl.2165.
Fritzsche, K., McDaniel, S. & Wirsching, M., 2019. Psychosomatic Medicine: An International Guide for the Primary Care Setting. s.l.:Springer Nature.
Ganiem, L. M., 2016. Komunikasi Kedokteran: Konteks Teoretis dan Praktis.
s.l.:Kencana.
Ha, J. F. and Longnecker, N. (2010) ‘Doctor-patient communication: A review’, Ochsner Journal.
Harahap, M. A. and Graharti, R. (2018) ‘Teknik dan Peran Empati dalam Praktik Kedokteran Technique and The Role Of Empathy In Medical Practice’, pp. 102–107.
Hardjana, A. M., 2003. Komunikasi Intrapersonal & Komunikasi Interpersonal.
Yogyakarta: Kanisius.
Harvard, 2007. Doctor-patient communication : a shared responsibility. [Online]
Available at: https://www.health.harvard.edu/newsletter_article/doctor-patient-communication-a-shared-responsibility
H., Basuki, E., Jauzi, S. & Mansyur, M., 2011. Pengetahuan dan Keterampilan Komunikasi Dokter Pasien dan Faktor-faktor yang Memengaruhinya. J Indon Med Assoc, 61(5).
Heri Zan Pieter, S. d., 2017. Dasar-Dasar Komunikasi bagi Perawat. s.l.:Prenada Media.
Hernoko, A. Y. (2010) ‘Hubungan antara Dokter dan Pasien’, pp. 17–44.
Hurlock, E., 1992. Developmental psychology: a life-span approach. New delhi:
Tata McGraw-Hill.
IDI, 2008. Panduan Kompensasi Dokter dan Jasa Medik. Ikatan Dokter Indonesia.
Ismawati, W., 2009. Kepuasan Pasien Ditinjau dari Orientasi Komunikasi Dokter.
Jacob, B. A., 2002. Where the boys aren’t: non-cognitive skills, returns to school and the gender gap in higher education. Economics of Education Review , pp. 589-598.
Jahan, F. & Siddiqui, H., 2019. Good Communication between Doctor-Patient Improves Health Outcome. European Journal of Medical and Health Sciences.
J. S. & P. K., 2010. Doctors’ non-verbal behaviour in consultations. British Journal of General Practice.
Katadata, T. P., 2019. Berobat ke Luar Negeri Favorit Masyarakat Indonesia.
[Online]
Available at: https://katadata.co.id/infografik/2019/08/21/infografik-berobat-ke-luar-negeri-favorit-masyarakat-indonesia
KBBI, 2016. KBBI Daring. [Online]
Available at: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/pengetahuan Kemenkes, 2018. [Online]
Available at: https://studylibid.com/doc/4311754/komunikasi-efektif-dalam-bidang-pelayanan-kesehatan
KKI, 2006. Standar pendidikan profesi dokter indonesia. Jakarta: s.n.
Koontz, W., 1988. Management, 9th ed. s.l.:Mc Graw Hill Inc, Singapore,.
Larasati, T. A. (2019) ‘Komunikasi Dokter-Pasien Berfokus Pasien pada Pelayanan Kesehatan Primer Patient Centered Communication in Primary Care’, Jurnal Kedokteran Universitas Lampung, 3(1), pp. 160–
166.
Larsen, K. M. & Smith, C. K., 1981. Assessment of Nonverbal Communication in the Patient-Physician Interview. THE JOURNAL OF FAMILY
PRACTICE, XII(3), pp. 481-488.
Marcus, C. (2014) ‘Strategies for improving the quality of verbal patient and family education: a review of the literature and creation of the
EDUCATE model’, Health Psychology and Behavioral Medicine. Taylor
& Francis, 2(1), pp. 482–495. doi: 10.1080/21642850.2014.900450.
Medscape, 2019. Medscape Malpractice Report 2019. [Online]
Available at: https://www.medscape.com/slideshow/2019-malpractice-report-6012303#1
Mercer, S. W. et al., 2016. General Practitioners’ Empathy and Health Outcomes:
A Prospective Observational Study of Consultations in Areas of High and Low Deprivation. ANNALS OF FAMILY MEDICINE, XIV(2).
Miller, L. S., 2009. Age Differences in the Effects of Domain Knowledge on Reading Efficiency. Psychol Aging.
Mubarak, W., 2007. Promosi Kesehatan Sebuah Proses Belajar Mengajar Dalam.
Yogyakarta: Graha Ilmu.
Mulyana, D., 2009. Ilmu Komunikasi; Suatu Pengantar. Bandung: Remaja Rosdakaraya.
Notoatmodjo, S., 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta: Renika.
Nurdin, A., 2013. Pengantar Ilmu Komunikasi. In: 2013: IAIN Sunan Ampel Press, p. 120.
O’Dowd, G. V. . (2004) ‘Doctor-Patient Communication : An Introduction for Medical Students’, 浜松医科大学紀要 一般教育, 18, pp. 39–52.
Ong, L. M. L. et al. (1995) ‘Doctor-patient communication: A review of the literature’, Social Science and Medicine, 40(7), pp. 903–918. doi:
10.1016/0277-9536(94)00155-M.
Parajuli, M., 2017. Gender Differences in the Academic Performance of Students.
Journal of Development and Social Engineering, Volume 3, pp. 39-47.
Purba, J. M., 2003. Komunikasi Dalam Keperawatan.
Rakel, D. et al., 2011. Perception of Empathy in the Therapeutic Encounter:
Effects on the Common Cold. Patient Educ Couns..
Ranjan, P., Kumari, A. & Chakrawarty, A., 2015. How can Doctors Improve their Communication Skills?.
Reeve, J., 2014. Understanding Motivation and Emotion. s.l.:s.n. Romli, K., 2017. Komunikasi Massa.
Roter, D. L., Hall, J. A. & Aoki, Y., 2002. Physician gender effects in medical communication: a meta-analytic review.
Saha, S. & Beach, M. C., 2011. The impact of patient-centered communication on patients' decision making and valuations of physicians: A randomized study using video vignettes*.
Saputera, M. I. et al., 2012. Profesionalisme Dokter. [Online]
Available at: http://doktermuslimyonirazer.blogspot.com/2012/11/v-behaviorurldefaultvmlo.html
Saragih, H. S. & Jonathan, P., 2019. Views of Indonesian consumer towards medical tourism experience in Malaysia. Journal of Asia Business Studies.
Soetjiningsih, et al., 2008. Modul komunkasi pasien-dokter : suatu pendekatan holistik. Jakarta: EGC.
Sugiyono. 2018. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: Alfabeta.
Suparyo, S. W., 2015. Hubungan Antara Kualitas Komunikasi Dokter-Pasien dan Tingkat Pendidikan Pasien. E Journal UNDIP.
Suranto, A., 2011. In: Komunikasi Interpersonal. Yogyakarta: Graha Ilmu, pp. 19-22.
Susanto, A., 2016. Komunikasi Non Verbal pada Pemulihan Pasien Melahirkan Secara Bedah Caesar. Parapemikir: Jurnal Ilmiah Farmasi.
Syafitri, A., 2002. Komunikasi Antar Pribadi Pasien Dan Dokter.
Takemura, Y. et al., 2005. Open-Ended Questions : Are They Really Beneficial for Gathering Medical Information from Patients?. pp. 151-154.
Turner, R. W. d. L. H., 2009. Pengantar Teori Komunikasi. In: Jakarta: Salemba Humanika, p. 34.
Wahyuni, T., Yanis, A. and Erly, E. (2013) ‘Hubungan Komunikasi Dokter–
Pasien Terhadap Kepuasan Pasien Berobat Di Poliklinik RSUP DR. M.
Djamil Padang’, Jurnal Kesehatan Andalas, 2(3), pp. 175–177. Available at: http://jurnal.fk.unand.ac.id/index.php/jka/article/view/165.
Warnecke, E., 2014. The art of communication. Australian Family Physician, XLIII(3).
WHO, n.d. The Five-Star Doctor. [Online]
Available at: https://www.who.int/hrh/en/HRDJ_1_1_02.pdf
Lampiran A. Daftar Riwayat Hidup Penulis
DAFTAR RIWAYAT HIDUP CURRICULUM VITAE
Nama : Andre Chailes
NIM : 170100130
Tempat / Tanggal Lahir : Medan / 8 Juni 1999 Agama : Buddha
Nama Ayah : Choa Kien Pin
Nama Ibu : Lina
Alamat : Jl. Senangin No.8D, Kec. Medan Area, Kel. Pandau Hulu 2
Riwayat Pendidikan :
1. SD Sutomo – 1 Medan (2005-2011)
2. SMP Swasta Sutomo – 1 Medan (2011-2014) 3. SMA Swasta Sutomo – 1 Medan (2014-2017)
4. Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2017-sekarang)
Riwayat Pelatihan : 1. Peserta PKMMB FK USU 2017
2. Peserta MMB (Manajemen Mahasiswa Baru) FK USU 2017 3. Peserta LKMM Lokal FK USU 2017
4. Peserta PPO (Pelatihan dan Pemantapan Organisasi) KMB USU 2018
Riwayat Organisasi :
1. Anggota OSIS Divisi Peralatan Sutomo 1 2016/2017 2. Anggota Keluarga Mahasiswa Buddhis USU 2017
3. Pengurus Divisi OMB (Olahraga, Minat dan Bakat) KMB USU 2018/2019 4. Anggota Divisi DIKLAT (Pendidikan dan Latihan) MIND FK USU 2019 5. Koordinator Divisi Rohani MIND FK USU 2020
Riwayat Kepanitiaan :
1. Anggota Amisa Puja Acara Kathina MIND FK USU 2017 2. Anggota Seksi Lapangan Waisak KMB USU 2018
3. Anggota Seksi Publikasi dan Dokumentasi Waisak MIND FK USU 2018 4. Koordinator Seksi Peralatan, Tempat, dan Transportasi PMB KMB USU 2018 5. Koordinator Seksi Peralatan, Tempat, dan Transportasi Waisak MIND FK USU
2019
6. Anggota Seksi Peralatan, Tempat, dan Transportasi Bakti Sosial MIND FK USU 2019
7. Koordinator Seksi Konsumsi Asadha KMB USU 2019
8. Koordinator Seksi Peralatan, Tempat, dan Transportasi Gathering Day KMB USU 2019
9. Anggota Seksi Konsumsi Kathina MIND FK USU 2019
Lampiran B. Surat Pernyataan Orisinalitas
Lampiran C. Ethical Clearance Penelitian
Lampiran D. Surat Izin Penelitian
Lampiran E. Lembar Penjelasan Kepada Calon Responden
LEMBAR PENJELASAN PENELITIAN Dengan hormat,
Saya yang bernama Andre Chailes adalah mahasiswa yang sedang menjalani kuliah program S-1 Pendidikan Dokter di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (USU) angkatan 2017. Saat ini saya sedang mengadakan penelitian yang berjudul “Tingkat Pengetahuan Dokter Di FK USU Terhadap Pentingnya Komunikasi Dokter-Pasien”. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan dokter di FK USU terhadap pentingnya komunikasi dokter-pasien.
Saya mengharapkan ketersediaan Bapak/Ibu Dokter untuk menjadi responden. Selanjutnya responden akan diberikan kuesioner dan diharapkan memberikan jawaban yang sebenar-benarnya tanpa dipengaruhi oleh orang lain.
Identitas serta informasi Bapak/Ibu Dokter dipastikan tidak akan disalahgunakan.
Informasi yang Bapak/Ibu Dokter berikan hanya digunakan untuk kepentingan penelitian ini. Partisipasi Bapak/Ibu Dokter dalam penelitian ini bersifat bebas dan sukarela, tanpa ada paksaan maupun tekanan. Bapak/Ibu Dokter berhak untuk menolak berpartisipasi tanpa dikenakan sanksi apapun.
Demikian penjelasan yang dapat saya sampaikan. Atas partisipasi dan ketersediaan Bapak/Ibu Dokter, saya ucapkan terima kasih.
Medan, 2020 Peneliti
(Andre Chailes)
Lampiran F. Lembar Persetujuan Responden
LEMBAR PERSETUJUAN RESPONDEN (INFORMED CONSENT)
Saya yang bertanda tangan di bawah ini : Nama :
Umur : Alamat : Nomor Telepon :
Setelah membaca dan mendapatkan penjelasan mengenai penelitian yang berjudul
“Tingkat Pengetahuan Dokter Di FK USU Terhadap Pentingnya Komunikasi Dokter-Pasien”, dengan ini menyatakan saya bersedia untuk diikutsertakan dalam penelitian tersebut tanpa paksaan dari pihak mana pun. Demikian surat persetujuan ini saya sampaikan.
Medan, 2020 Hormat saya,
(………...)
Lampiran G. Kuesioner Penelitian
KUESIONER PENELITIAN
TINGKAT PENGETAHUAN DOKTER TERHADAP PENTINGNYA KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN
A. Karakteristik Dokter
Isilah data-data dibawah ini dengan memberi tanda checklist (√) pada kotak yang sesuai.
Kuesioner terdiri dari 15 pertanyaan
Bacalah dengan seksama pertanyaan yang ada di sebelah kiri tabel
Pilihlah salah satu jawaban dengan cara memberikan tanda checklist pada kolom sebelah kanan sesuai dengan pengetahuan anda
NO PERNYATAAN
JAWABAN
BENAR SALAH TIDAK
TAHU 1 Menurut WHO, untuk menjadi 5
star doctor, dokter harus menjadi komunikator yang baik.
2 Komunikasi dokter-pasien yang baik berlangsung secara superior-inferior.
3 Dokter harus menunjukkan simpati kepada pasien, bukan empati.
4 Dalam komunikasi dokter-pasien, hanya dokter yang berhak
berperan sebagai pemberi dan penerima pesan.
5 Dalam dunia kedokteran, terdapat dua pendekatan komunikasi yaitu komunikasi yang berorientasi pada dokter dan komunikasi yang berorientasi pada pasien.
6 Dalam berkomunikasi, aspek verbal merupakan hal terpenting dan aspek non-verbal bukan suatu keharusan.
7 Komunikasi berdasarkan apa yang dirasakan pasien tentang
penyakitnya, merupakan komunikasi yang berorientasi pada pasien.
8 Dokter yang aktif memberikan gagasan dan pasien yang
mendengarkan secara pasif adalah contoh hasil komunikasi yang baik.
9 Komunikasi berdasarkan
kepentingan untuk mendiagnosis penyakit dengan cara memberikan pertanyaan tertutup, merupakan komunikasi yang berorientasi pada dokter.
10 Dengan mengaplikasikan
komunikasi dokter-pasien, maka waktu yang dihabiskan akan lebih lama.
11 Waktu yang moderat untuk bertatap muka dengan pasien antara 8-15 menit atau sekitar 4 pasien dalam satu jam.
12 Memberikan pertanyaan tertutup kepada pasien menunjukkan dokter tertarik terhadap keluhan pasien.
13 Dalam berkomunikasi dengan pasien, dokter sebaiknya memperhatikan bahasa tubuh pasien, menghindari tampak lelah, duduk bersandar pada kursi supaya rileks.
14 Komunikasi yang berorientasi pada dokter lebih
direkomendasikan dibandingkan komunikasi yang berorientasi pada pasien.
15 Indikator bahwa komunikasi dokter-pasien yang baik telah tercapai adalah kepuasan dokter.
Lampiran H. Data Induk Penelitian
Lampiran I. Output SPSS
Statistics
Gender Umur Lama.Praktik P.T.A P.T.S Pengetahuan
N Valid 71 71 71 71 71 71
Missing 0 0 0 0 0 0
Jenis Kelamin
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Laki-laki 29 40.8 40.8 40.8
Perempuan 42 59.2 59.2 100.0
Total 71 100.0 100.0
Umur
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid 26-35 tahun 10 14.1 14.1 14.1
36-45 tahun 39 54.9 54.9 69.0
46-55 tahun 17 23.9 23.9 93.0
56-65 tahun 5 7.0 7.0 100.0
Total 71 100.0 100.0
Lama Praktik
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid < 10 Tahun 32 45.1 45.1 45.1
> 20 Tahun 9 12.7 12.7 57.7
10-20 tahun 30 42.3 42.3 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pendidikan Terakhir Akademik
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid S1 7 9.9 9.9 9.9
S2 44 62.0 62.0 71.8
S3 20 28.2 28.2 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pendidikan Terakhir Spesialis
Frequency Percent
Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Spesialis (Sp-1) 31 43.7 43.7 43.7
Subspesialis/Konsultan (Sp-2)
40 56.3 56.3 100.0
Total 71 100.0 100.0
Tingkat Pengetahuan
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Baik 59 83.1 83.1 83.1
Cukup 10 14.1 14.1 97.2
Kurang 2 2.8 2.8 100.0
Total 71 100.0 100.0
Jenis Kelamin * Tingkat Pengetahuan Crosstabulation
Pengetahuan
Total Baik Cukup Kurang
Gender Laki-laki Count 21 6 2 29
% within Gender 72.4% 20.7% 6.9% 100.0%
Perempuan Count 38 4 0 42
% within Gender 90.5% 9.5% 0.0% 100.0%
Total Count 59 10 2 71
% within Gender 83.1% 14.1% 2.8% 100.0%
Umur * Tingkat Pengetahuan Crosstabulation
Pengetahuan
Total Baik Cukup Kurang
Umur 26-35 tahun Count 8 1 1 10
% within Umur 80.0% 10.0% 10.0% 100.0%
36-45 tahun Count 32 7 0 39
% within Umur 82.1% 17.9% 0.0% 100.0%
46-55 tahun Count 14 2 1 17
% within Umur 82.4% 11.8% 5.9% 100.0%
56-65 tahun Count 5 0 0 5
% within Umur 100.0% 0.0% 0.0% 100.0%
Total Count 59 10 2 71
% within Umur 83.1% 14.1% 2.8% 100.0%
Pendidikan Terakhir Akademik * Tingkat Pengetahuan Crosstabulation
Pengetahuan
Total
Baik Cukup Kurang
P.T.A S1 Count 7 0 0 7
% within P.T.A 100.0% 0.0% 0.0% 100.0%
S2 Count 35 8 1 44
% within P.T.A 79.5% 18.2% 2.3% 100.0%
S3 Count 17 2 1 20
% within P.T.A 85.0% 10.0% 5.0% 100.0%
Total Count 59 10 2 71
% within P.T.A 83.1% 14.1% 2.8% 100.0%
Pendidikan Terakhir Spesialis * Tingkat Pengetahuan Crosstabulation
Pengetahuan
Total Baik Cukup Kurang
P.T.S Spesialis (Sp-1) Count 26 4 1 31
% within P.T.S 83.9% 12.9% 3.2% 100.0%
Subspesialis/Konsultan (Sp-2)
Count 33 6 1 40
% within P.T.S 82.5% 15.0% 2.5% 100.0%
Total Count 59 10 2 71
% within P.T.S 83.1% 14.1% 2.8% 100.0%
Pertanyaan 1
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 71 100.0 100.0 100.0
Pertanyaan 2
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 62 87.3 87.3 87.3
Salah 9 12.7 12.7 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 3
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 60 84.5 84.5 84.5
Salah 11 15.5 15.5 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 4
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 70 98.6 98.6 98.6
Salah 1 1.4 1.4 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 5
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 49 69.0 69.0 69.0
Salah 22 31.0 31.0 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 6
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 61 85.9 85.9 85.9
Salah 10 14.1 14.1 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 7
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 68 95.8 95.8 95.8
Salah 3 4.2 4.2 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 8
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 68 95.8 95.8 95.8
Salah 3 4.2 4.2 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 9
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 48 67.6 67.6 67.6
Salah 23 32.4 32.4 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 10
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 26 36.6 36.6 36.6
Salah 45 63.4 63.4 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 11
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 64 90.1 90.1 90.1
Salah 7 9.9 9.9 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 12
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 45 63.4 63.4 63.4
Salah 26 36.6 36.6 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 13
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 2 2.8 2.8 2.8
Salah 69 97.2 97.2 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 14
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 68 95.8 95.8 95.8
Salah 3 4.2 4.2 100.0
Total 71 100.0 100.0
Pertanyaan 15
Frequency Percent Valid Percent
Cumulative Percent
Valid Benar 68 95.8 95.8 95.8
Salah 3 4.2 4.2 100.0
Total 71 100.0 100.0