• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III : KEDUDUKAN BUMN DALAM PEREKONOMIAN

C. Dasar Pemberian Hak Monopoli Oleh Undang-Undang

demokrasi ekonomi. Dalam pelaksanaan demokrasi ekonomi ini, pemerintah hanya bersifat pasif yaitu sekedar memfasilitasi segala kebutuhan rakyat. Dalam hal memfasilitasi kebutuhan rakyat, pemerintah haruslah sejalan dengan ketentuan Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila yaitu sila ke-lima dengan menganut asas kekeluargaan.

Penjelasan Pasal 33 menyebutkan bahwa "dalam Pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, dan kemakmuran masyarakat-lah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang perorangan". Selanjutnya dikatakan bahwa "Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat". Penafsiran dari kalimat "dikuasai oleh negara" dalam ayat (2) dan (3) tidak selalu dalam bentuk kepemilikan tetapi utamanya dalam bentuk kemampuan untuk melakukan kontrol dan pengaturan serta memberikan pengaruh agar perusahaan tetap berpegang pada asas kepentingan mayoritas masyarakat dan sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. 61

Secara tegas Pasal 33 33 Undang-Undang Dasar 1945 beserta penjelasannya, melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan orang-perorangan, dimana yang diberikan hak kemampuan untuk melakukan control dan pengaturan maupun penguasaan hanyalah negara dan untuk kepentingan masyarakat banyak. Jadi dengan dasar demikian, Pasal 33 ayat (2) dan (3) Undang-Undang Dasar 1945 merupakan landasan diberlakukannya Pasal 51

61

Abdulkadir Muhamad, Hukum Perusahaan Indonesia Cetakan Revisi Ketiga (Bandung;

Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 t yang memberikan perlakuan khusus kepada BUMN berupa pengecualian praktek monopoli. 62

Pengecualian ini disebabkan oleh komoditi (barang dan jasa) yang dimonopoli menguasai hajat hidup orang banyak, dilakukan oleh BUMN dan diatur oleh undang-undang. Dalam Hukum Persaingan, BUMN adalah salah satu subyek Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 sebagai pelaku usaha yang melakukan kegiatan ekonomi di wilayah hukum Indonesia.63 Kegiatan BUMN yang cenderung berkaitan dengan kegiatan monopoli tentu saja harus berjalan sesuai dengan ketentuan undang-undang. Peran BUMN sudah meluas menjadi perencana, pelaku dan regulator. Hal ini terjadi karena setiap kegiatan BUMN tidak terlepas dari dua sisi kepentingan, yaitu kepentingan ekonomi dan politik.

Negara memberikan hak monopoli melalui Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 kepada BUMN. Monopoli negara di Indonesia merupakan perintah UUD 1945 dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Monopoli negara dalam Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 berada di dalam kebijakan persaingan di mana liberalisasi ekonomi menjadi landasanya. Namun demikian monopoli negara memiliki syarat di antaranya ada batas waktu agar kebijakan monopoli bisa dievaluasi, ada lembaga yang mengawasi, dan ada rumusan yang jelas tentang kegiatan ekonomi yang menjadi hajat hidup orang banyak. Kebijakan ini berbeda dengan kebijakan monopoli di era sebelumnya yang banyak menimbulkan penyimpangan dan sumber terjadinya Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN). 62 Ibid. 63 Ibid.

Menurut pendapat Tadjuddin Noer Said (Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha) “dalam Pasal 33 tercantum dasar demokrasi ekonomi, bahwa produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua di bawah pimpinan atau pemilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan, bukan kemakmuran orang-seorang,”.64 Dengan kata lain untuk melaksanakan demokrasi ekonomi yang bertujuan untuk menyelamatkan masyarakat banyak, perlulah sebuah perusahaan negara yang akan mengambil alih sektor-sektor produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, agar tidak terjadi penguasaan oleh perorangan untuk kepentingan orang-seorang, untuk itulah perusahaan negara yang sekarang berstatus BUMN diberi kewenangan untuk melakukan monopoli.

Untuk kemakmuran rakyat, dibutuhkan suatu badan usaha milik pemerintah yang diberi kewenangan mengelola sumber daya alam yang ada untuk kemakmuran rakyat yakni BUMN. Hal ini dilakukan supaya sumber daya alam bisa memenuhi kebutuhan bangsa Indonesia dan bisa memenuhi kebutuhan ekspor secara maksimal. Apabila pengelolaan sumber daya alam sepenuhnya diserahkan kepada swasta, dikhawatirkan sumber daya alam tersebut akan dieksploitasi semata untuk kepentingan pribadi atau kelompok bisnis. Penguasaan sumber daya alam oleh BUMN tidak dianggap sebagai sebuah praktik monopoli, sebab penguasaan harus dinilai dalam arti luas. Berdasarkan putusan MK: 002/ PUU– I/2003 tanggal 21 Desember 2004, makna penguasaan mencakup ke pemilikan publik oleh kolektivitas rakyat atas sumber sumber kekayaan yang dimaksud.65

64 Ibid. 65

Dalam hal ini kolektivitas rakyat akan memberikan mandat kepada negara untuk mengadakan kebijakan dan tindakan pengurusan, pengaturan, pengelolaan, dan pengawasan sumber daya alam untuk sebesar-besarnya bagi kemakmuran rakyat. Diharapkan Sinergi BUMN tidak bermaksud untuk mematikan usaha lain. Justru sebaliknya, sinergi itu akan memberikan keuntungan, baik bagi BUMN dan pihak lainnya. Jika proses bisnis BUMN yang bersinergi tersebut memberi keuntungan buat BUMN, selanjutnya juga akan memberikan keuntungan pada masyarakat secara keseluruhan.

Banyak yang mengeluhkan BUMN sebagai ‘sapi perahan’. Salah satu jalan keluar dari itu adalah menjauhkan BUMN dari intervensi politik atau memosisikan BUMN sebagai entitas bisnis yang terbebas dari anasir politik. Semua hukum dan peraturan perundangan yang mengatur tentang BUMN dapat dianggap sebagai kemauan politik (political will) pemerintah untuk menjadikan BUMN sebagai entitas bisnis murni. Sekarang, tinggal bagaimana membumikan rumusan kemauan politik itu menjadi nyata.66

66

BAB IV

KETENTUAN PENGECUALIAN TERHADAP PRAKTEK MONOPOLI YANG DILAKUKAN OLEH BADAN USAHA MILIK NEGARA

A.Ketentuan Pasal 51 UU No.5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 memuat ketentuan yang melarang berbagai kegiatan usaha yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Ketentuan tersebut mencakup perjanjian yang dilarang, kegiatan yang dilarang dan penyalahgunaan posisi dominan, selain itu Undang-Undang No.5 Tahun 1999 juga mengatur beberapa pengecualian yang termasuk didalamnya adalah ketentuan Pasal 51 yang menetapkan mengenai Badan Usaha Milik Negara dan atau badan atau lembaga yang diberi wewenang atau hak khusus dalam kegiatan usahanya.

Pasal 51 UU No.5 Tahun 1999 membahas tentang masalah hubungan kompleks antara hukum persaingan usaha dengan badan usaha milik Negara, yang secara internasional masih dipertentangkan. Ketentuan ini terutama menangani perlakuan terhadap monopoli negara oleh hukum persaingan usaha. pihak Dewan Perwakilan Rakyat tidak mengikuti kecenderungan yang ada pada saat ini di negara-negara maju yang melarang pendirian monopoli negara yang baru, sedangkan monopoli negara yang sudah ada secara terbatas dikontrol oleh hukum persaingan usaha.67 Pasal 51 berisi kewajiban untuk mengatur monopoli negara

67

melalui undang-undang untuk dapat dibenarkan, monopoli negara memerlukan suatu undang-undang yang disahkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat.

Oleh sebab itu, UU No.5 Tahun 1999 menunjukkan sikap yang jelas menentang preferensi politik yang sebelumnya diberikan kepada monopoli-monopoli di tangan negara dan swasta yang terbentuk berdasarkan dukungan pemerintah. Tujuan yang ambisius ini tidak akan dapat dilaksanakan dalam waktu singkat. Selama masa transisi, yaitu selama monopoli negara dan swasta disesuaikan agar memenuhi Pasal 51 melalui pemberian dasar hukum, maka kelangsungan hidup monopoli tersebut terjamin berdasarkan Pasal 52.68

Ketentuan-ketentuan hukum yang hingga saat ini merupakan landasan pemberian monopoli sesuai dengan Pasal 51, masih tetap berlaku selama tidak bertentangan dengan persyaratan yang ditetapkan oleh Pasal 51 bagi penciptaan dan pelestarian monopoli negara. Pasal 51 dan Pasal 52 memberikan dasar hukum bagi monopoli negara sebagaimana dimaksud oleh Pasal 51. Tidak ada maksud untuk menghapus monopoli sama sekali, tetapi tujuan utama pasal-pasal ini adalah untuk melakukan pengawasan demokratis terhadap monopoli. Hukum persaingan usaha menurut UU No.5 Tahun 1999 berpengaruh terhadap monopoli hanya dapat terlaksana sejauh kriteria-kriteria yang termuat dalam Pasal 51, yag merupakan ukuran bagi legitimasi ekonomi yaitu: Hanya monopoli negara yang memuaskan permintaan mayoritas masyarakat dengan barang atau jasa atau mewakili cabang produksi yang penting bagi kepentingan negara yang sah69.

Secara teoritis, titik awal jangkauan Pasal 51 adalah definisi istilah pelaku usaha. Definisinya dibakukan di Pasal 1 Angka 5. Pelaku usaha dimaksudkan

68 Ibid. 69

sebagai setiap orang perorangan atau badan usaha (baik yang berbentuk badan hukum atau tidak berbentuk badan hukum) yang berkedudukan di wilayah negara republik Indonesia dan baik sendiri atau bersama-sama menyelenggarakan kegiatan usaha. Menurut definisi hukumnya, yang penting adalah bahwa pelaku usaha bersangkutan “menyelenggarakan kegiatan usaha di bidang ekonomi”.70 Secara teoritis peranan tersebut dapat merupakan perorangan, negara itu sendiri atau badan usaha milik negara. Dari sudut pertimbangan hukum dapat dlilihat bahwa badan usaha milik negara pada dasarnya juga termasuk jangkauan UU No.5 Tahun 1999. Kalau tidak demikian, maka ketentuan Pasal 51 tidak dapat dipahami, oleh karena pasal ini terutama ditujukan pada BUMN. Sedangkan BUMN yang dibentuk atau dipilih oleh pemerintah baru memperoleh perhatian berikutnya.

Perusahaan-perusahaam semacam ini menurut bentuk luarnya memang merupakan badan usaha milik swasta, akan tetapi berada dibawah tanggung jawab negara. Pasal 51 tidak menjelaskan secara konkrit tingkat ketergantungan yang diisyaratkan, atau intensitas kemungkinan intervensi bagi negara terhadap kegiatan pelaku usaha swasta. Paling penting untuk diperhatikan adalah kenyataan apakah perusahaan swasta tersebut sebenarnya mampu atau tidak mampu bertindak atas tanggung jawab sendiri.71

Setelah pelaku usaha, yang menjadi pembahasan di Pasal 51 UU No.5 Tahun 1999 ini adalah monopoli, pemusatan kegiatan dan cabang-cabang produksi. Untuk monopoli, dalam Pasal 51 tidak ada penjelasan lebih lanjut tentang apa yang dimaksud dengan monopoli oleh karena itu perlu mengacu

70 Ibid. 71

kepada Pasal 1 Angka 1, yang memberikan definisi istilah monopoli72. Pada dasarnya Pasal 51 berlaku untuk monopoli alami, monopoli yang berdasarkan undang-undang dan monopoli swasta. Dalam praktek, Pasal 51 hanya berperan terhadap monopoli alami dan monopoli yang berdasarkan undang-undang. Monopoli oleh pihak swasta, sepanjang terbentuk melalui perjanjian mengenai hak kekayaan intelektual, diperlakukan secara khusus sesuai Pasal 50 UU No.5 1999.

Cabang-cabang produksi, yang telah atau dapat dinasionalisasi menurut Pasal 51, mempunyai posisi yang sama dengan monopoli dan pemusatan kegiatan. Oleh karena itu, Pasal 51 membedakan antara produksi dan atau penjualan secara keseluruhan dengan cabang-cabang produksi saja. Pasal 51 membuka kemungkinan kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk mengeluarkan bagian tertentu dari mekanisme pasar73. Secara eksplisit hanya disebutkan produksi, tidak disebutkan penjualan. Untuk penjualan tidak mungkin dilaksanakan nasionalisasi yang bersifat sebagian, tetapi berkaitan dengan nasionalisasi penjualan, ada alternatif pertama dari Pasal 51 sesuai persyaratan yang disebutkan di pasal tersebut, yaitu cabang-cabang produksi yang penting bagi keamanan negeri.

Kemudian yang terpenting dari ketentuan Pasal 51 ini adalah mengenai memenuhi hajat hidup orang banyak dan yang penting bagi negara. Tidak semua monopoli, pemusatan kegiatan atau cabang produksi dapat dinasionalisasikan. Nasionalisasi seharusnya lebih merupakan reaksi terhadap maksud untuk “memenuhi hajat hidup orang banyak”74. Dengan demikian setiap nasionalisasi dikaitkan dengan pembuktian keperluannya. Nasionalisasi harus bereaksi terhadap

72 Ibid. 73

Knud Hansen, Op.Cit, hlm. 47. 74

suatu kebutuhan tertentu. Keputusan tentang ada atau tidaknya kebutuhan tersebut harus diambil berdasarkan pertimbangan ekonomi, sosial dan politik, dimana harus diutamakan untuk memenuhi kebutuhan primer masyarakat, dengan contoh jika sebagian besar masyarakat mengalami kekurangan pasokan barang dan atau jasa seperti listrik, maka negara harus diberi kesempatan untuk dapat mengelola produksi dan penjualan (dalam hal ini monopoli listrik).75

Dalam hal penting bagi negara, sebetulnya semua cabang produksi dianggap cenderung penting bagi negara, tergantung definisi cabang produksi industri mana saja yang berperan penting bagi negara. Dilihat secara terpisah, maka terbuka ruang sangat luas untuk mengecualikan produksi dan penjualan sektor-sektor ekonomi yang dianggap penting dari UU No.5 Tahun 1999. Dalam hal ini yang diberi kewenangan untuk menilai pentingnya cabang-cabang produksi adalah Dewan Perwakilan Rakyat yang secara mendasar ditempatkan di luar jangkauan KPPU. Cabang produksi yang pada suatu waktu penting bagi negara dan menguasai hajat hidup orang banyak, pada waktu yang lain dapat berubah menjadi tidak penting lagi bagi negara dan tidak lagi menguasai hajat hidup orang banyak. Akan tetapi Mahkamah berwenang pula untuk melakukan penilaian dengan mengujinya terhadap UUD 1945 jika ternyata terdapat pihak yang merasa dirugikan hak konstitusionalnya karena penilaian pembuat undang-undang tersebut.

Menurut Pasal 51, monopoli, pemusatan kegiatan dan cabang-cabang produksi yang dikelola oleh badan usaha milik negara atau telah diserahkan oleh negara kepada pihak swasta berada di bawah pengawasan Dewan Perwakilan

75 Ibid.

Rakyat. Bagi pelaku-pelaku usaha tersebut harus diciptakan suatu landasan hukum. Dengan demikian terlah terjamin tingkat pengawasan demokratis minimal bagi pendirian badan usaha milik negara.76 Akan tetapi pengawasan tersebut hanya terbatas pada pendirian saja karena pemerintah yang menentukan produksi atau pemasaran barang dan atau jasa tertentu atau cabang produksi mana saja yang perlu dilaksanakan oleh badan usaha milik negara atau swasta yang tergantung pada negara, dan secara konkrit pemerintah pula yang menentukan atau menunjuk badan usaha yang dimaksud. Dengan demikian pemerintah juga pada akhirnya menguasai seluruh wewenang pengambilan keputusan, dengan tujuan peningkatan ekonomi Indonesia.

B.Penerapan Pasal 51 Undang-Undang No.5 Tahun 1999

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat memuat ketentuan yang melarang berbagai kegiatan usaha yang dapat mengakibatkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Ketentuan tersebut mencakup perjanjian yang dilarang, kegiatan yang dilarang dan penyalahgunaan posisi dominan, selain itu Undang-Undang No.5 Tahun 1999 juga mengatur beberapa pengecualian yang termasuk didalamnya adalah ketentuan Pasal 51 yang menetapkan mengenai Badan Usaha Milik Negara dan atau badan atau lembaga yang diberi wewenang atau hak khusus dalam kegiatan usahanya.

Untuk membantu pemahaman mengenai Pasal 51 tersebut KPPU menyusun pedoman untuk membantu penerapan pasal 51 UU No. 5 Tahun 1999

76 Ibid.

di masyarakat umum. Dimana dikatakan ketentuan Pasal 51 tersebut mengatur mengenai monopoli dan atau pemusatan kegiatan dengan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang menguasai hajat hidup orang banyak serta cabang-cabang produksi yang penting bagi negara, dimana untuk itu perlu diatur dengan Undang-Undang dan diselenggarakan oleh BUMN dan atau badan atau lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah. Atau untuk lebih jelas, pedoman Pasal 51 ini dibentuk dengan tujuan:

1. Mengidentifikasikan badan hukum yang jelas mengenai maksud kegiatan bidang produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang menguasai hajat hidup orang banyak serta cabang produksi yang penting bagi negara. 2. Mengidentifikasikan kriteria Badan Usaha Milik Negara, badan dan lembaga

yang dapat menyelenggarakan monopoli dan atau pemusatan kegiatan yang berkaitan dengan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang menguasai hajat hidup orang banyak serta cabang produksi yang penting bagi negara.

3. Menetapkan mekanisme ataupun urutan yang dapat dijadikan dasar bagi pemerintah untuk menentukan pihak penyelenggara monopoli dan atau pemusatan kegiatan yang berkaitan dengan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang menguasai hajat hidup orang banyak dan cabang produksi yang penting bagi negara.

4. Menjadi pedoman bagi para pihak dalam melakukan kegiatan usaha agar tidak melakukan praktek monopoli dan atau persaingan usaha yang tidak sehat.

Pedoman ini merupakan petunjuk pelaksanaan untuk memahami, mengerti, dan mensosialisasikan persaingan usaha yang sehat, khususnya yang

berkaitan dengan monopoli dan atau pemusatan kegiatan yang berkaitan dengan produksi dan atau pemasaran barang dan atau jasa yang menguasai hajat hidup orang banyak serta cabang produksi yang penting bagi negara sesuai dengan Pasal 51 UU No.5 Tahun 1999.

Dalam hal BUMN tidak memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan penguasaan monopoli negara, maka berdasarkan Pasal 51 UU No.5 Tahun 1999 penyelenggaran monopoli dan atau pemusatan kegiatan dapat diselenggarakan oleh badan atau lembaga yang dibentuk oleh pemerintah, yang sesuai dengan Perkom No. 3 Tahun 2010, badan atau lembaga tersebut harus memiliki ciri melaksanakan:

1. Pemerintahan negara;

2. Manajemen keadministrasian negara;

3. Pengendalian dan pengawasan terhadap Badan Usaha Milik Negara, dan atau; 4. Tata usaha negara.

Badan dan atau lembaga yang dibentuk pemerintah dalam menyelenggarakan monopoli dan atau pemusatan kegiatan wajib memenuhi hal-hal sebagai berikut:

1. Pengelolaan dan pertanggungjawaban kegiatannya dipengaruhi, dibina, dan dilaporkan kepada pemerintah;

2. Tidak semata-mata ditujukan untuk mencari keuntungan;

3. Tidak memiliki kewenangan melimpahkan seluruh atau sebagian monopoli dan atau pemusatan kegiatan kepada pihak lain. BUMN dan badan dan atau lembaga yang dibentuk pemerintah dapat menyelenggarakan monopoli dan

atau pemusatan kegiatan secara bersama-sama sesuai dengan kebutuhan dan pertimbangan berdasarkan peraturan perundang-undangan.

Apabila BUMN, badan dan atau lembaga yang dibentuk pemerintah tidak memiliki kemampuan untuk menyelenggarakan monopoli dan atau pemusatan kegiatan, maka pemerintah dapat menunjuk badan dan atau lembaga tertentu. Dimana sesuai dengan teori hukum administrasi negara, penunjukan adalah kewenangan dari pejabat administrasi negara yang berwewenang dan bersifat penetapan untuk menyelenggarakan atau menjalankan kegiatan tertentu secara sepihak.

Badan dan atau lembaga yang ditunjuk pemerintah seharusnya adalah badan dan atau lembaga yang ditetapkan oleh pejabat administrasi negara yang berwewenang. Prosedur dan persyaratan penunjukan badan dan atau lembaga yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai penyelenggara monopoli dan atau pemusatan kegiatan dimaksud dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pengadaan barang dan atau jasa pemerintah sehingga tidak mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan atau persaingan usaha tidak sehat.

C. Pengecualian terhadap praktek monopoli yang dilakukan oleh PT. PLN. Perseroan Terbatas Perusahaan Listrik Negara (Persero) adalah perusahaan pemerintah yang bergerak di bidang pengadaan listrik nasional. Hingga saat ini, PT. PLN masih merupakan satu-satunya perusahaan listrik sekaligus pendistribusinya. Dalam hal ini PT. PLN sudah seharusnya dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarakat, dan mendistribusikannya secara merata. Usaha

PT. PLN termasuk kedalam jenis monopoli murni. Hal ini ditunjukkan karena PT. PLN merupakan penjual atau produsen tunggal, produk yang unik dan tanpa barang pengganti yang dekat, serta kemampuannya untuk menerapkan harga berapapun yang mereka kehendaki. Pada awalnya landasan yuridis PLN berdiri dilandaskan pada Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang Ketenagalistrikan sampai pada tahun 2002, UU No.15 Tahun 1985 dinyatakan tidak berlaku oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan (selanjutnya disebut Undang-Undang No. 20 Tahun 2002) . Namun kemudian Mahkamah Konstitusi melalui Putusan No. 001-021-022/PUU-I/2003 yang dibacakan pada Rabu tanggal 15 Desember 2004, menyatakan bahwa UU No. 20 Tahun 2002 tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Permasalahan inti dari persoalan Undang-Undang No. 20 Tahun 2002sehingga dicabut hukumnya oleh Mahkamah Konstitusi adalah pada Pasal 16, 17 dan 68 yang menjiwai dari UU ketenagalistrikan tersebut. Pasal 16 menyatakan bahwa usaha penyediaan tenga listrik dilakukan secara terpisah oleh Badan Usaha yang berbeda. Pasal 17 menyatakan bahwa usaha pembangkitan listrik dilakukan berdasarkan kompetisi dan dilarang menguasai pasar. Larangan penguasaan pasar ini meliputi segala tindakan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat antara lain:

1. Menguasai kepemilikan;

2. Menguasai sebagian besar kapasitas terpasang pembangkitan tenaga listrik dalam satu wilayah kompetisi;

3. Menguasai sebagian besar kapasitas pembangkitan tenaga listrik pada posisi beban puncak;

4. Menciptakan hambatan masuk pasar bagi Badan Usaha lainnya; 5. Membatasi produksi tenaga listrik dalam rangka mempengaruhi pasar; 6. Melakukan praktik diskriminasi;

7. Melakukan jual rugi dengan maksud menyingkirkan usaha pesaingnya; 8. Melakukan kecurangan usaha; dan atau

9. Melakukan persekongkolan dengan pihak lain.77

Untuk Pasal 68 menyatakan bahwa Pada saat Undang-undang ini berlaku, terhadap Pemegang Kuasa Usaha Ketenagalistrikan (PKUK) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1985 tentang ketenagalistrikan, dianggap telah memiliki izin yang terintegrasi secara vertikal yang meliputi pembangkitan, transmisi, distribusi, dan penjualan tenaga listrik dengan tetap melaksanakan tugas dan kewajiban penyediaan tenaga listrik untuk kepentingan umum sampai dengan dikeluarkannya izin usaha penyediaan tenaga listrik berdasarkan Undang-Undang ini.

Mahkamah Konstitusi dalam putusannya menyatakan bahwa Pasal 16, 17 ayat (3), serta 68 Undang-Undang No. 20 Tahun 2002 bertentangan dengan Undang-Undang Dasar 1945 dan oleh karenanya harus dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat. Meskipun yang bertentangan hanya tiga pasal tersebut akan tetapi karena pasal-pasal tersebut merupakan jantung dari Undang-Undang No. 20 Tahun 2002, padahal seluruh paradigma yang mendasari Undang-Undang No. 20 Tahun 2002 adalah kompetisi atau persaingan dalam pengelolaan dengan sistem unbundling dalam ketenagalistrikan tidak sesuai

77

Anonim, “Penyediaan Ketenagalistrikan Dilakukan Secara Monopoli dalam Negara” http://www.hukumonline.com/detail.asp?id=14921&cl=Berita.htm (diakses tanggal 7 November 2012)

dengan jiwa dan semangat Pasal 33 ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945 yang merupakan norma dasar perekonomian nasional Indonesia78.

Mahkamah Konstitusi dalam hal ini berpendapat bahwa cabang produksi dalam Pasal 33 ayat (2) UUD 1945 di bidang ketenagalisrikan harus ditafsirkan sebagai satu kesatuan antara pembangkit transmisi dan distribusi, sehingga dengan demikian meskipun hanya pasal, ayat, atau bagian dari ayat tertentu saja dalam

Dokumen terkait