SARANA PERIBADATAN PENDUDUK KELURAHAN TEGALREJO KECAMATAN ARGOMULYO KOTAMADYA
J. Dasar Pembinaan Keagamaan Dalam Keluarga Single Parent
Sebelum dideskripsikan tentang pelaksanaan pembinaan keagamaan pada anak dalam keluarga single parent didesa Tegalrejo Rt 03/ RW 03 Kec.
Argomulyo Kel. Tegalrejo Salatiga, maka terlebih dahulu akan diuraikan tentang dasar pembinaan agama yang dilakukan oleh orangtua single parentkhususnya dilingkungan keluarga.
Agar pembinaan keagamaan Islam dapat terlaksana maka didalam keluarga diperlukan adanya dasar. Dasar-dasar pembinaan keagamaan adalah mutlak penting, sebab dasar adalah pondasi awal untuk bisa membangun suatu gedung yang berdiri kokoh, maka harus mempunyai pondasi yang kuat, seperti halnya manusia jika pondasi keimanannya kuat maka tidak akan gampang terjatuh ataupun masuk ke dalam perangkap syetan.
Menyadari akan pentingnya Dasar pembinaan keagamaan, maka berdasarkan wawancara dengan semua narasumber maka dapat diketahui, bahwa dasar pembinaan yang dipakai oleh orangtua tunggal didesa Tegalrejo Rt 03/ RW 03 Kec. Argomulyo Kel. Tegalrejo Salatiga adalah Al Qur’an dan Hadist sebagai Dasar pelaksanaan pembinaan Agama Islam. Menurut Ibu YN bahwa:
“Mendidik anak merupakan kewajiban setiap orangtua karena itu
adalah amanah yang diberikan oleh Allah kepada setiap orangtua, maka sudah menjadi kewajiban orantua untuk mendidik anaknya, dengan dasar Agama yang baik, saya memberikan dasar agama kepada anak saya supaya kelak menjadi anak yang berbudi pekerti baik dan menjadikan pedoman
disetiap langkahnya,”(wawancara dengan ibu YN pada tanggal 6 Februari 2015).
Dasar itulah yang dijadikan Ibu YN untuk mendidik anaknya Dewi dalam pembinaan keagamaan. Pendidikan Agama merupakan modal awal untuk bisa menjadikan dan tercapainya tujuan Ibu YN yaitu menjadi anak yang berbudi pekerti baik dan lainnya. Pemahaman yang baik yang didapatkan dari pembinaan yang baik pula akan mendapatkan hasil yang baik juga, sehingga berdampak dalam kehidupan sehari-hari dam masa depannya kelak.
Dasar yang Ibu YN lakukan selama mendidik dan Pembina DW adalah dasar agama yang Ibu YN dapat dari pengajian-pengajian rutin dimasjid dan disekitar lingkungan tentang nilai-nilai agama, dan pokok dasar ajaran agama islam.
Sedangkan pembinaan agama yang dilakukan oleh Ibu KM juga berdasarkan pada nilai-nilai agama islam sebagai pedoman dalam pelaksanaan pembinaan agama terhadap anaknya harus dilakukan sejak dini, serta pembinaan yang dilakukan diluar keluarga seperti mengaji di TPA. seperti pendapat dari Ibu KM:
“saya mendidik anak saya itu sesuai kemampuan saya, dan saya yakin
jika anak sejak kecil sudah dibiasakan dengan hal-hal yang baik dan yang jelas sesuai dengan nilai-nilai agama yang baik, insyallah anak saya akan tumbuh menjadi anak yang sholehah. Karena saya sudah terlanjur bodoh, maka saya akan tetap berusaha untuk memberikan pendidikan dan pembinaan agama kalaupun saya tidak mampu maka saya akan antar anak saya untuk ngaji TPA atau selalu mengikuti pengajian-pengajian keagamaan yang rutin dilakukan setiap satu bulan sekali.”(wawancara dengan ibu KM pada tanggal 6 Februari 2015).
Ibu MY lebih sederhana ketika menjelaskan tentang dasar pembinaan agama yang dilakukannya, yaitu pembinaan agama yang mengarahkan anak untuk bisa mandiri dan menjadi lebih baik.
“Bagaimanapun keadaan AG, dia tetap darah daging saya, jadi saya
berkewajiban untuk mendidik dan menyekolahkannya, sebagai orangtua yang tahu akan kekurangan yang dimiliki maka semua itu saya lakukan dengan harapan agar AG menjadi lebih baik, sholeh dan tentunya bisa
mandiri,”(wawancara dengan ibu MY pada tanggal 6 Februari 2015).
Waktu bersama anaknya adalah hal yang sangat berharga bagi bapak AG maka untuk memberikan pembinaan keagamaan kepada putrinya, maka bapak AG selalu mengajak berkomunikasi tentang pentingnya kasih sayang, serta memberikan contoh yang baik untuk anaknya, serta keterbatasan waktu untuk selalu mengawasi anaknya bapak AG selalu mendispilnkan waktu ibadah, seperti penuturan bapak AG :
“saya berharap, anak saya tidak membenci Bapaknya, karena bagaimanapun juga EG sudah mengerti tentang keadaan yang terjadi didalam keluarga, jadi yang bisa lakukan hanya selalu mengajaknya berbicara dan memberikan pengertian agar bersedih atas kepergian ibunya, dengan bekal kedisiplinan yang saya ajarkan, dengan harapan EG menjadi anak sholehah nantinya.alhamdulah, shalat, ngaji tidak pernah EG tinggalkan,”(wawancara dengan bapak AG pada tanggal 8 Februari 2015).
Berikut ini adalah pernyataan tokoh masyarakat tentang kegiatan keagamaan seperti mengaji dan sholat yang ada di masjid Al-Ikhlas, menurut :
“namanya juga anak-anak mba, kan dunia mainnya lebih besar daripada seriusnya, tapi selama ini anak-anak bersemangat ngaji disini paling ya telat datangnya mba”.
Bapak JI (Ketua RT) :
“kalau warga disini antusias dengan keberadaan masjid apalagi ada
kegiatan TPA/TPQ mba, tapi kalo anak-anak kan masih seneng dolanan mba, kadang yow lalai nda ikut sholat berjemaah di masjdi,”.
Sedangkan menurut Ibu GL, pembinaan keagamaan yang Ibu GL terapkan untuk anaknya yang kecil adalah pembiasaan yang baik seperti doa mau makan, doa setelah makan, dan hal hal yang bisa dikerjakan oleh anak seumuran ND. Berikut penjelasan Ibu GL:
“iya mba, pendidikan itu sangat penting mba, apalagi pendidikan
agama, sekarang ja ND dah tak masukkan ke SD mba, dan paling penting saya akan ajarkan sebisa saya mba, kayak doa mau makan, menjawab salam, ya pokoknya yang kecil kecil dulu mba, tapi bisa menjadi dasar mba. Ini sudah mulai ikut ikut kemasjid untuk ngaji TPQ mba, itu adalah dasar pokoknya mba, semoga menjdi anak yang sholeh dan berguna untuk bangsa dan agama
mba,”(wawancara dengan ibu GLpada tanggal 8 Februari 2015)”.
Sedangkan penjelasan bapak SDtentang dasar pembinaan keagamaan yang diberikan untuk anaknya, adalah dasar agama yang paling dasar yaitu doa-doa sehari-hari selalu mengajarkan bagaimana berbicara yang sopan, serta pendidikan formal yang wajib diberikan,:
“ Yang paling penting untuk dasar pembinaan agama itu buat saya adalah dasar Al Qur’an dan Hadist mba, tetapi dengan usia anak saya yang masih kecil maka saya akan memberikan contoh bagaimana berkata yang sopan, bertingkah laku yang baik serta selalu membimbing untuk selalu menerapkan doa sehari-hari itu, dan yang tidak kalah penting lagi yaitu pembinaan dalam hal ibadah mba, sejak kecil harus selalu dididik untuk shalat
Sedangkan penjelasan ibu MN tentang pembinaan keagamaan yang diberikan untuk anaknya yang bernama HD, adalah dasar agama paling dasar yaitu membimbing anak-anaknya dalam mendirikan sholat wajib dengan cara selalu mengingatkan kepada HD agar selalu tepat waktu dalam melaksanakan ibadah shalat fardlu dan menunaikan ibadah puasa ramadhan. Serta HD belajar mengaji di TPQ dilingkungan rumahnya.
“Ya, namanya juga anak-anak mba, terkadang masih sering lalai dalam ibadah sholatnya, wong kita yang dewasa juga sering lalai mba. Biasanya saya mengingatkan HD biar gak lali ibadahnya. Kakaknya, RN juga sering mengingatkan HD mba, kami saling mengingatkan agar melaksanakan ibadah sholat fardlu, sedang kalau ibadah puasa ramadhannya HD, Alhamdulillah menjalankan puasa penuh dari fajar sampai magrib mba. Insyallah, kalau wong sembahyang kiw mesti eling karo seng kuoso mba, gawe tuntunan urip”. Ya kalau ngaji, HD ikut TPQ di Masjid mba dan di masjid juga banyak kegiatan-kegiatan keagmaan yang HD ikuti mba, seperti khataman, mauludan, kadang kalau idul fitri ya ikut takbiran (wawancara
dengan ibu MN pada tanggal 8 Februari 2015)”.
Sedangkan penjelasan ibu RN tentang pembinaan keagamaan yang diberikan untuk anaknya yaitu RH dan RF Ibu RNmembimbing anak-anak agar melaksanak-anakan sholat fardlu dengan melakukan sholat berjemaah dan membiasakan mengutamakan ibadah sholat fardlu daripada kepentingan lainnya. Anak-anak (RH dan RF) juga sudah menjalankan puasa Romadhan sejak dini dan terkadang anak-anak belajar puasa sunnah (puasa senin-kamis). Ibu RN dan anak-anak (RH dan RF) sering mengkaji Al-Qur’an dan Hadist secara bersama-sama, dimana mereka membaca per-ayat dan membaca arti dari ayat tersebut. RH dan RF senang sekali mengikuti kegiatan ritual keagamaan
seperti Maulid Nabi, Khataman, dan pesantren kilat di lingkungannya, karena RH dan RF senang mendapat teman baru melalui kegiatan tersebut dan memiliki pengalaman spiritual dengan mengikuti kegiatan ritual keagamaan tersebut .Ibu RN membimbing dan mendidik mereka karena, suatu saat Ibu RN tidak akan selamanya bersama mereka dimana ngaji, sholat, puasa tidak harus diingatkan terlebih dahulu dan agar mereka berada didekat Allah Swt. Ibu RN mengajarkan RH dan RF untuk mengenal sisi hitam dan sisi putihnya.
“Ya kita sudah hampir 6 tahun tidak mengkonsumsi TV, jadi kegiatan saya dan anak-anak selgi luang adalah membaca buku. Kami pergi ke perpustakaan, kadang hanya memhabiskan waktu dengan membaca buku disana atau kami pinjam buku lalu membacanya dirumah dan sesekali kami membeli buku di toko buku mba. Kami sering berdialog, berkumpul bersama-sama untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’andengan membaca perayat lalu kami membaca artinya, apabila waktu sholat tiba kami sering melakukan sholat berjemaah, dan anak-anak RH dan RF memang saya titipkan di sekolah SDIT, agar mereka juga padat aktifitasnya serta di sekolahan mereka setiap selesai jam belajar mengajar diadakan kegiatan TPQ, jadi mereka tidak terlalu banyak waktu yang terbuang mba. Dan untuk kegiatan keagamaan lainnya di lingkungan rumah, anak-anak sering ikut seperti mauludan, kalau pas waktu lebaran ya ikut takbiran, tapi kalau hari-hari biasa RH dan RF ini terbatas sekali karena kembali lagi masalah waktu, anak-anak pulang sekolah saja sudah sore hari (wawancara dengan ibu RN pada tanggal 8 Februari 2015)”.
Segala macam pendidikan dan dari segala aspek pendidikan baik pendidikan agama maupun pendidikan umum dan juga tentang aspek kehidupan semua berpedoman kepada Al Qur’an dan Hadist yang Allah SWT berikan kepada Nabi Muhammad dan untuk diajarkan kepada kaumnya, dengan pendidikan agama islam yang berpedoman kepada Al Qur’an dan
Hadist maka manusia dapat melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Seperti firman Allah dalam surat At-Tahrim ayat 6 :
....
Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka” ( Departemen Agama RI. Al Qur’an. Al Karim dan terjemahannya, hal 448 ).
Berdasarkan firman Allah SWT, maka orangtua berkewajiban untuk memberikan pendidikan yang bisa dijadikan pedoman untuk menjadi manusia yang Akhlakul Karimah. Dan Hadist yang menjelaskan tentang pendidikan adalah: