• Tidak ada hasil yang ditemukan

POLA PEMBINAAN KEAGAMAAN ANAK DALAM KELUARGA SINGLE PARENT DI KELURAHAN TEGALREJO KECAMATAN ARGOMULYO KOTAMADYA SALATIGA TH. 2015 SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Program Studi Pendidikan Agama Islam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "POLA PEMBINAAN KEAGAMAAN ANAK DALAM KELUARGA SINGLE PARENT DI KELURAHAN TEGALREJO KECAMATAN ARGOMULYO KOTAMADYA SALATIGA TH. 2015 SKRIPSI Diajukan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Program Studi Pendidikan Agama Islam"

Copied!
202
0
0

Teks penuh

(1)

POLA PEMBINAAN KEAGAMAAN ANAK DALAM

KELUARGA SINGLE PARENT DI KELURAHAN

TEGALREJO KECAMATAN ARGOMULYO

KOTAMADYA SALATIGA TH. 2015

SKRIPSI

Diajukan untuk Memperoleh Gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)

Program Studi Pendidikan Agama Islam

Oleh

ENI LESTARI

NIM 11108145

JURUSAN TARBIYAH

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT

AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

MOTTO

“Ibu adalah sekolah yang jika engkau telah mempersiapkanya, berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa yang mempunyai akar-akar yang baik”

(Abdullah Nashih Ulwan).









































































































“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka

khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh karena itu mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucap perkataan

(7)
(8)

PERSEMBAHAN

Dengan Ketulusan Hati Dan Segenap Rasa Syukur dan Atas rahmat

dan ridho Allah SWT, karya skripsi ini penulis persembahkan kepada:

1. Ayahanda Suheri (Alm) dan Ibunda Suparti yang tiada henti-hentinya memanjatkan do’a ke hadirat Illahi, memohon keselamatan dan

kesuksesan anak-anaknya.

2. Suamiku tercinta Muhammad Imron dan Anakku terkasih Muhammad

Dzaky Misbahuddin Amin yang tiada henti-hentinya , memanjatkan do’a pernah lelah selalu berjuang untuk mama dan memohon.

3. Ibu Dra.Djamiatul Islamiyah, M.Ag selaku pembimbing skripsi yang

telah banyak membimbing dan mengarahkan penulis dengan penuh

kearifan dan keikhlasan dan kesabaran kepada penulis dalam

bimbingan dan penulisan

4. Semua teman-teman seperjuangan jurusan Tarbiyah progdi PAI khusus

untuk PAI E angkatan 2008.

5. Sahabat-sahabat ku terbaik (Ana Syarifah dan Nurul Hasanah)

terimakasih atas persahabatAn yang begitu indah dan senantiasa

(9)

6. Ibu Dra. Djami’atul Islamiyah, M.ag selaku dosen pembimbing yang telah mencurahkan perhatian dan waktunya untuk membimbing

menyelesaikan skripsi saya.

(10)

ABSTRAK

Lestari, Eni.2015. Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single Parent Di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga Th. 2015. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing Dra. Djamiatul Islamiyah, M.Ag.

Kata Kunci : Pembinaan keagmaan, anak-anak keluarga single parent.

Pada tataran ideal, struktur keluarga biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak, namun pada tataran praktis tidak setiap anak memiliki struktur keluarga yang lengkap secara ideal. Sebagian mereka hanya hidup bersama ayahnya saja atau sebaliknya dibesarkan oleh ibunya sendiri (single parent). Apalagi mengingat tidak mudahnya bagi orangtua single parent untuk mendidik dan membina anak-anak mereka seorang diri. Pertanyaan utama yang ingin dijawab lewat pertanyaan ini adalah (1) Bagaimana pola pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent di kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015 ? (2) Apa kendala serta apa faktor pendukung dalam pembinaan keagamaan anak dalam keluarga

single parent di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015? Serta bagaimana solusinya?.

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi dan teknik trianggulasi sumber.

(11)
(12)

KATA PENGANTAR

ميخ ّرلا نمح ّرلا الله مسب

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah

melimpahkan rahmat, hidayah serta nikmat-Nya sehingga atas kehendak-Nya penulisa

dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam

Keluarga Single Parent Di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga Tahun 2015”. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, yang selalu dinantikan syafa’atnya di hari kiamat kelak.

Skripsi ini terwujud berkat bantuan dari berbagai pihak baik berupa moril, materil maupun spiritual, yang dengan penuh keihklasan hati memberi penjelasan, saran dan bimbingan. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimaksih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Ketua STAIN Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Tarbiyah.

3. Bapak Rasimin, M.Pd selaku Ketua Program Studi PAI.

4. Ibu Dra. Djamiatul Islamiyah, M.Ag selaku pembimbing skripsi yang telah

banyak membimbing dan mengarahkan penulis dengan penuh kearifan dan

keikhlasan dan kesabaran kepada penulis dalam bimbingan dan penulisan

skripsi ini.

5. Segenap Dosen dan karyawan STAIN Salatiga.

6. Ayahanda Suheri (Alm) dan Ibunda Suparti yang tiada henti-hentinya memanjatkan do’a ke hadirat Illahi, memohon keselamatan dan kesuksesan

anak-anaknya.

7. Suami ku tercinta Muhammad Imron dan Anakku terkasih Muhammad Dzaky

(13)

8. Sahabat-sahabat ku terbaik (Ana Syarifah dan Nurul Hasanah) terimakasih

atas persahabatn yang begitu indah dan senantiasa memberi warna baru disaat

penulis jenuh dan lelah dengan semuanya.

9. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak mungkin

penulis sebutkan satu per satu.

Penulis menyadari dan mengakui bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, semua itu dikarenakan keterbatasan dan kemampuan dan pengetahuan penulis. Sehingga masih banyak kekurangan yang perlu untuk diperbaiki dalam skripsi ini.

Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan skripsi ini.

Salatiga, 12 Maret 2015

Penyusun,

Eni Lestari

(14)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

DEKLARASI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... x

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1

(15)

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Kegunaan Penelitian ... 6

E. Penegasan Istilah ... 7

F. Metode Penelitian ... 11

G. Sistematika Penulisan Skripsi ... 16

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single Parent ... 18

1. Pengertian Pola Pembinaan ... 18

2. Keagamaan Anak ... 19

a. Arti Agama ... 19

b. Pengertian Keberagamaan ... 23

3. Pengertian Anak ... 24

4. Pengertian Keluarga ... 26

5. Pengertian Single Parent ... 29

(16)

B. Faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Keagamaan Anak ... 32

1. Faktor Cara ... 32

2. Faktor Sarana ... 33

BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A.Gambaran Umum Kelurahan Tegalrejo ... 35

1. Letak Geografis ... 35

2. Keadaan Demografis ... 35

3. Keadaan Penduduk Masyarakat ... 37

4. Keadaan Sosial Ekonomi ... 38

5. Keadaan Sosial Keagamaan ... 40

6. Keadaan Orangtua Tunggal ... 41

B. Temuan Data Single Parent dan Profil Informan ... 42

C. Dasar Pembinaan Keagamaan Anak Keluarga Single Parent ... 61

D. Tujuan Pembinaan Keagamaan Anak Keluarga Single Parent ... 68

(17)

1. Pembinaan Aqidah dan Ibadah ... 72

2. Pembinaan Akhlak ... 80

F. Cara dan Sarana dalam Pelaksanaan Pembinaan Keagamaan ... 86

G. Faktor Penghambat dan Pendukung serta Solusi ... 93

BAB IV PEMBAHASAN A. Pola Pembinaan Keagamaan Anak Keluarga Single Parent di Tegalrejo RT03/RW03 ... 96 B. Faktor Penghambat dan Pendukung serta Solusi ... 109

BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan ... 132

B. Saran ... 135

C. Penutup ... 136

(18)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Batas Wilayah Kelurahan Tegalrejo ... 35

Tabel 3.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 36

Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga (KK) ... 36

Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Usia ... 37

Tabel 3.5 Keadaan Pendidikan Kelurahan Tegalrejo ... 38

Tabel 3.6 Jenis Pekerjaan Penduduk ... 39

Tabel 3.7 Keadaan Keagamaan Penduduk ... 40

Tabel 3.8 Sarana Peribadatan Penduduk ... 41

(19)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah

Pada tataran ideal, struktur keluarga biasanya terdiri dari ayah, ibu dan

anak, namun pada tataran praktis tidak setiap anak memiliki struktur keluarga

yang lengkap secara ideal. Sebagian mereka hanya hidup bersama ayahnya saja

atau sebaliknya dibesarkan oleh ibunya sendiri (Single Parent).

Implikasi keluarga single parent terhadap daya juang mereka pun beragam. Sebagian keluarga ini dapat menghasilkan anak yang berhasil semua

dalam hal pendidikan, keagaaman dan ekonomi, namun tidak jarang pula

diantara single parent ini menghadapi berbagai problem dan kendala dalam

membesarkan anak-anak mereka, bukan hanya problem ekonomi semata,

namun juga berkaitan dengan problem psikologis maupun sosiologis.

Problem psikologis misalnya berkenaan dengan perasaan “kurang nyaman” karena ketiadaan sosok figur ayah atau suami sebagai pelindung

secara fisik maupun psikis keluarga. Sementara problem sosiologis biasanya berkaitan dengan pandangan masyarakat yang “kurang sempurna“ terhadap

ibu yang single parent, terutama yang akibat perceraian. Problem tersebut tentu akan mewarnai kehidupan para ibu single parent dalam proses panjang membesarkan anak-anak mereka, tidak terkecuali juga dalam hal pendidikan

(20)

dilakukan ibu single parent ini dalam hal pendidikan keagamaan putra putri mereka.

Pada hakekatnya, peran orangtua mempunyai harapan agar anak-anak

mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, tahu membedakan

mana yang baik dan mana yang buruk, serta tidak mudah terjerumus dalam

perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri. Hal ini akan berjalan

dengan baik ketika peranan orangtua sangat maksimal (Gunarsa, 1995:60).

Pola pembinaan keagamaan orangtua dalam keluarga menjadi salah satu

contoh pendidikan keagamaan yang diajarkan orangtua pada anak, karena anak

akan secara alami menyerap apa yang dilakukan orangtua. pembinaan

keagamaan dikatakan pendidikan non formal tetapi akan sangat membekas

pada diri anak. Maka sangat sulit ketika orangtua mendidik anak sendirian

karena memaksa orangtua tunggal tersebut harus berperan ganda dalam

keluarga untuk sang anak.

Keluarga merupakan lingkungan yang terdekat untuk membesarkan

anak karena didalamnya anak mendapat pendidikan yang pertama kali.

Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil akan tetapi merupakan

lingkungan yang paling kuat dalam membesarkan anak terutama pada anak

yang belum masuk pada pendidikan formal. Keluarga yang baik maka akan

berpengaruh positif pada perkembangan anak, sedangkan keluarga yang

(21)

Kebiasaan yang baik maupun positif yang telah tertanam kuat pada jiwa

anak tidak akan hilang begitu saja pada masa depannya. Pengalamanan

keagamaan pada masa anak-anak akan tergores kuat pada hati seseorang seperti

ukiran diatas batu. Jiwa yang polos apabila diisi dengan pembinaan

keagamaan, maka yang diterimanya itu akan melekat kuat. Anak akan

melakukan apa yang telah diterimanya disinilah letak pentingnya orangtua

dalam membina anak.

Pada sisi lain kenakalan anak sering terjadi karena perceraian keluarga

atau perpisahan orangtua, karena disebabkan tidak intensnya salah satu

orangtua membuat anak merasa hidupnya tidak normal seperti anak-anak lain.

Kondisi semacam ini membuat anak tersebut kurang percaya pada orangtua

dan selalu mencari jalan keluar setiap masalahnya sendiri, bisa jadi mereka

terlibat dalam pergaulan yang tidak sepantasnya (buruk). Karena itu akan

menjadi perbedaan proses perkembangan keagamaan pada anak dalam korban

perceraian. Kenakalan anak yang disebabkan karena broken home (perceraian) dapat diataasi/ditanggulangi dengan cara-cara tertentu, seperti tanggung

jawabnya orangtua dalam memelihara anak-anaknya seharusnya mampu

memberikan kasih sayang sepenuhnya, sehingga anak tersebut merasa

seolah-olah tidak pernah kehilangan ayah atau ibunya. Keperluan anak secara

jasmaniah (makan, minum, pakaian, dan sarana-sarana lainya) harus dipenuhi

(22)

yang melawan hukum misalnya, pencurian, penggelapan, penipuan,

gelandangan dan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Ketika keagamaan anak

sudah jatuh maka akan sulit untuk mengembalikan menjadi anak yang baik

(Sudarsono, 1995:126).

Perilaku menyimpang yang dilakukan anak tidak jauh karena kurangnya

perhatian orangtua atau salah satu orangtua yang tidak ikut mendidik anak

dalam keluarga, karena anak akan merasa kehilangan salah satu figur teladan

yang seharusnya menjadi peraturan dalam keagamaan. Pada keluarga single parent menuntut peran ganda dari orangtua tunggal untuk selalu memperhatikan pendidikan psikologi keagamaan anak, sehingga anak tidak

kehilangan pegangan dalam hidupnya dalam bersikap.

Tidak sedikit pada keluarga single parent menjadikan anak lebih cepat dewasa dalam hal pemikirannya karena anak di tuntut lebih mengerti kondisi

keluarga tunggal, ketidak adanya salah satu figur dalam single parent membuat

tidak sedikit anak akan menyesuaikan peran yang bisa sedikit membantu beban

orangtuanya. Misalnya dalam keluarga single parent dimana hanya ada figur ayah maka anak mencoba mengurus kebutuhan keluarga seperti menyiapkan

makanan untuk ayahnya. Kemandirian anak dalam single parent ini dipengaruhi dalam sebab ketidak adanya salah satu figur dalam keluarga

karena dalam perceraian dan kematian menjadi pengaruh yang berbeda pada

(23)

Pembinaan keagamaan dalam keluarga sangatlah penting, karena

dengan adanya pembinaan tersebut seorang anak dapat meningkatklan

kualitasnya, pemahamanya dan pengamalan dari ajaran-ajaran islam yang

dapat dijadikan pedoman dalam hidupnya kelak. Dalam proses pembinaan

ajaran agama tersebut orangtua melakukan proses usaha untuk mendidik,

mengarahkan, dan memberi bekal kepada anaknya agar mereka hidup sesuai

ajaran islam.

Meningkatkan pertumbuhan keluarga yang berorangtua (single parent) tunggal saat ini merupakan fenomena yang berlangsung terus di Indonesia,

baik itu dikarenakan kasus perceraian atau kematian orangtua. Selain itu

banyak juga contoh kasus dibarat, yang sering kita saksikan ditelevisi

menunjukan bahwa ketidak lengkapan orangtua memang mempengaruhi

kepribadian anak sehingga masyarakat kita masih menganggap bahwa keluarga

single parent kurang menciptakan suasana keluarga untuk peningkatan prestasi

anak. Beberapa kesulitan ini dapat dituduhkan langsung atau tidak langsung

kepada status orangtua tunggal.

Berdasarkan hal-hal tersebut peneliti mengajukan judul penelitian yang

berjudul:“Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single

Parent di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga Tahun 2015”.

(24)

Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang akan diteliti

adalah:

1. Bagaimana pola pembinaan keagamaan anak single parent di Kelurahan

Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015?

2. Apa faktor penghambat serta apa faktor pendukung dalam pembinaan

keagamaan anak single parent di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan

Argomulyo Kotamadya Salatiga Tahun 2015? Serta bagaimana solusinya?

C.Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini

adalah:

1. Untuk mengetahui pola pembinaan keagamaan anak single parent di kota

salatiga di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga

tahun 2015.

2. Untuk mengetahui faktor penghambat yang dihadapi dalam pembinaan

keagamaan anak single parent di kota Salatiga serta untuk mengetahui faktor

pendukung dalam pembinaan keagamaan anak single parent di Kelurahan

Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015 Serta

(25)

D.Kegunaan Penelitian

Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disebutkan diatas, penulis

membagi manfaat penelitian ini menjadi dua poin, yaitu:

1. Bagi Peneliti

a. Menambah pengetahuan tentang pembinaan keagamaan pada anak

dalam keluarga single parent.

b. Memberi gambaran langsung mengenai bagaimana pola yang digunakan

dalam pembinaan keagamaan pada anak dalam keluarga single parent. c. Sebagai saran pengembangan pola pikir peneliti dalam bidang ilmu

pengetahuan.

2. Bagi Lembaga

a. Sebagai sarana kajian dalam ilmu pengetahuan.

b. Sebagai saran kajian pertimbangan bagi lembaga formal maupun non

formal.

3. Bagi Ilmu Pengetahuan

Dapat memberi manfaat secara teoritis tentang pola pembinaan

keagamaan pada anak dalam keluarga single parent.

(26)

1. Pola

Pola diartikan sebagai model, cara, metode atau sebuah sistem

yang digunakan dalam suatu hal. Dalam lingkup ini pola yang dimaksud

adalah model, metode atau cara yang digunakan masyarakat kelurahan

Tegalrerjo kecamatan Argomulyo kotamadya Salatiga dalam

melaksanakan pembinaan keagamaan pada anak setempat.

2. Pembinaan Kegamaan

Dalam kamus besar bahasa Indonesia pembinaan diartikan

pembangunan atau usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara

efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik

(Purwadarminta, 2004:19). Sedangkan keagamaan adalah sifat-sifat yang

berada di agama, segala sesuatu yang berada di agama. Agama yang

dimaksud dalam penelitian adalah agama Islam. Jadi, pembinaan

keagamaan adalah suatu usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan

secara efisien dan efektif dalam membangun perilaku keagamaan.

Pembinaan keagamaan yang dimaksud disini adalah pembinaan

keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat kelurahan Tegalrerjo

kecamatan Argomulyo kotamadya Salatiga dalam melaksanakan

pembinaan keagamaan pada anak setempat. Dalam hal ini yang penulis

maksudkan adalah peran orang tua secara individual dan masyarakat

(27)

Dengan meminjam analisis”religion commitment” dari Glock dan

Stark (1965:18-38), keberagamaan muncul dalam lima dimensi: ideologis, intelektual, eksperinsial, ritualistik, dan konsekuensial

(Abdullah dan Karim, 1989:92-94). Oleh karena itu penulis akan

membahas penelitian ini dengan dimensi ritualistik dan dimensi

intelektual. Penulis melakukan penelitian tentang hal yang merujuk pada

ritus-ritus keagamaan yang dianjurkan oleh agama dan atau dilaksanakan

oleh para pengikutNya berdasarkan pada dimensi ritualistik sedangkan

berdasarkan dimensi intelektual penulis melakukan penelitian yang

mengacu pada pengetahuan agama, apa yang tengah atau harus diketahui

orang tentang ajaran-ajaran agamaNya. Pada dimensi ini, penelitian dapat

diarahkan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat melek agama (religious literacy) para pengikut agama yang diteliti; atau tingkat ketertarikan mereka untuk mempelajari agamanya. Dimensi ini meliputi

pedoman-pedoman pokok pelaksanaan ritus dan pelaksanaan ritus tersebut dalam

kehidupan sehari-hari serta meliputi pengetahuan tentang agamanya..

3. Anak

Imam Ghazali seorang tokoh Islam yang terkenal dengan gelar

(28)

“Anak itu amanaah Allah Swt bagi orangtuanya. Hatinya bersih

bagai mutiara yang indah, bersahaja, bersih dari setiap lukisan dan gambar.

Ia menerima bagi setiap yang dilukiskan, cenderung kepada arah apa saja

yang diarahkan kepadanya. Kedua orangtuanya, semua gurunya,

pengajarnya, serta yang mendidiknya sama-sama menerima pahala” (Darajat,1993:5).

Seorang anak yang baru dilahirkan sesungguhnya memiliki

kesiapan alamiah untuk mempoercayai Tuhan dan mengesakan-Nya.

Hanya saja, kesiapan alamiah ini membutuhkan pengajaran, pengarahan

dan bimbingan dari berbagai pihak yang peduli memperhatikan pendidikan

anak sehingga kesiapan alamiah ini tumbuh dan berkembang dengan baik.

Tentunya lingkungan yang mengenalkan anak dalam beragama yang

pertama adalah orangtuanya. Anak yang dimaksud dalam penelitian ini,

adalah anak yang berusia 2-12 tahun.

4. Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan yang terdekat untuk

membesarkan anak karena didalamnya anak mendapat pendidikan yang

pertama kali. Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil akan

tetapi merupakan lingkungan yang paling kuat dalam membesarkan anak

terutama pada anak yang belum masuk pada pendidikan formal. Keluarga

(29)

sedangkan keluarga yang bermasalah akan berpengaruh negatif pada anak

(Sudarsono, 1995:125).

5. Single Parent

Single parent adalah orangtua satu-satunya (poerwodarminto, 1976:132). Orangtua satu-satunya dalam konteks ini adalah keluarga

dengan orangtua tunggal sehingga dalam mengasuh dan membesarkan

anak-anaknya sendiri tidak dengan bantuan pasanganya, karena istri/suami

mereka meninggal dunia atau sudah berpisah/cerai. Adapun yang menjadi

subyek dalam penelitian ini adalah keluarga single parent (janda/duda) di

Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga, tepatnya

di RT 03/RW 03 dan dikarena jumlah keluarga single parent di RT 03

tersebut sedikit (9) jiwa. Penulis hanya mengambil 8 keluarga saja dengan

prioritas yang mudah diajak komunikasi dan masih memiliki anak usia

tidak melebihi 12 tahun agar sesuai dengan orientasi dalam penelitian ini,

yaitu lebih menekankan pada pola pembinaan anak ( yang belum

menginjak remaja ) pada keluarga single parent. Sedangkan 1 keluarga

(30)

F.Metode Penelitian

Dalam suatu penelitian, metode mutlak diperlukan karena merupakan

cara yang teratur untuk mencapai suatu tujuan yang dimaksud. Metode ini

diperlukan guna mencapai tujuan yang sempurna dan memperoleh hasil secara

optimal.

1. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan lapangan (field research), dimaksudkan untuk mengetahui data responden secara langsung di

lapangan, yakni suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui

mengenai studi mendalam mengenai suatu unit sosial, dalam hal ini adalah

keluarga single parent di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo

Kota madya Salatiga.

Adapun jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini

adalah metode deskriptif kualitatif. Metode kualitatif merupakan suatu

prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata,

gambar dan bukan angka-angka. Dengan demikian, laporan peneliti

merupakan kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian

laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara,

(31)

2. Kehadiran peneliti

Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian maka

peneliti hadir secara langsung dilokasi penelitian sampai memperoleh

data-data yang diperlukan.

3. Lokasi penelitian

Penelitian ini dilakukan dilingkungan masyarakat Salatiga di

Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kota madya Salatiga tepatnya

peneilitan tentang keluarga Single Parent dilaksanakan di RT 03 RW 03.

4. Sumber Data

Data yang dikumpulkan meliputi berbagai macam data yang

berhubungan dengan pelaksanaan pembinaan keagamaan anak pada

keluarga single parent. Secara umum, data yang dikumpulkan teridri dari

data primer dan sekunder.

a. Data Primer

Data primer dan jenis data primer penelitian ini adalah kata-kata

dan tindakan subyek serta gambaran ekspresi, sikap dan pemahaman dari

subyek yang diteliti sebagai dasar utama melakukan interprestasi data.

(32)

yang dipandang mengetahui masalah yang akan dikaji dan bersedia

memberi data atau informasi yang diperlukan. Sedangkan untuk

pengambilam data dilakukan dengan bantuan catatan lapangan, dan

dengan bantuan rekaman suara handphone.Sementara itu observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung segala aktivitas

di lingkungan masyarakat RT 03/ RW 03 Tegalrejo Kecamatan

Argomulyo Kotamadya Salatiga yang diperoleh berdasarkan wawancara

terhadap single parent yang menjadi subyek penelitian. b. Data Sekunder

Data sekunder adalah data atau informasi yang diperoleh dari

sumber-sumber lain selain data primer.diantaranya buku-buku literatur

yang berhubungan dengan internet, dokumen pribadi dan dokumen yang

terkait dengan penelitian ini serta data yang didapatkan dari anak,

keluarga/kerabat, dan tokoh masyarakat.

5. Prosedur Pengumpulan Data

Dalam rangka untuk memperoleh data, penulis menggunakan

metode pengumpulan data dalam memudahkan jalannya penelitian.

Adapun macam untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut:

a. Metode Observasi

Observasi adalah pengamatan dan pencatatan suatu objek dengan

(33)

atau berulang (sukandarrumidi, 2004:69). Metode ini penulis gunakan

sebagai alat bantu dalam penelitian.penulis mengadakan observasi ke

Tegalrejo, RT 03/ RW 03 Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga

khususnya melakukan observasi kerumah-rumah subyek dan lingkungan

keagamaan misalnya; keberadan masjid atau mushola, keberadaan TPA,

keberadaan TPQ, Selanjutnya penulis mencatat hasil observasi dengan

sistematik.

b. Metode wawancara

Metode wawancara adalah komunikasi dua arah antara

pewawancara dan terwawancara secara langsung (Yunus, 2010:357).

Wawancara mendalam digunakan dalam rangka untuk mengetahui

pembinaan keagamaan anak pada keluarga Sinlge Parent di Tegalrejo, RT 03/ RW 03 Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga yang

berjumlah sebanyak 8 keluarga. Dalam wawancara tersebut penulis

rekam dan ditulis ulang pada transkip wawancara. Sedangkan yang

menjadi objek interview ini adalah pejabat setempat, orangtua, anak dan

kerabat.

c. Dokumentasi

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.

(34)

dari seseorang (Sugiono, 2009:240). Metode ini penulis gunakan untuk

memperoleh data yang sudah tertulis dan terwujud dokumentasi. Seperti

halnya foto-foto kegiatan, materi dan profil maupun tujuan yang sudah

tertulis. Dalam hal ini adalah dokumen dari kelurahan, dokumen data

penduduk khususnya data penduduk di Tegalrejo, RT 03/RW 03

Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga.

6. Analisis data

Dalam analisis data, penulis menggunakan teknik analisis data

dengan menguraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis

transkip-transkip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar

dapat menyajikan hasil penelitian.

7. Pengecekan Keabsahan Data

Untuk menetapkan keabsahan data memerlukan beberapa teknik

yang harus digunakan, dalam hal ini peneliti menggunakan teknik ”Trianggulasi”.

Teknik trianggulasi adalah pemeriksaan keabsahan data yang

memenfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan

pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Pada dasarnya ada

tiga macam tianggulasi: (1) Memanfaatkan penggunaan sumber, (2)

(35)

Dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan Trianggulasi

sumber Yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan

suatu data (informasi) yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Untuk

kepentingan ini dilakukan dengan cara membandingkan data hasil

wawancara dengan keluarga single parent dengan hasil observasi dan membandingkan data hasil wawancara bersama single parent dengan data hasil wawancara dengan anak, keluarga/kerabat dan tokoh masyarakat.

Pemeriksaan keabsahan data dilakukan atas kriteria-kriteria

tertentu. Kriteria itu terdiri atas derajat kepercayaan (credibility), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability) (Moleong, 2009:324).

G.Sistematika Penulisan Skripsi

Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang skripsi ini, maka

dibuat sistematika penulisan skripsi. Adapun wujud dari sistematika yang

dimaksud adalah:

BAB I: Pendahuluan Meliputi:

Latar Belakang Masalah, Rumusan masalah, Tujuan Penelitian,

kegunanaan Penelitian, Penegasan Istilah, Metode Penelitian dan Sistematika

penulisan skripsi.

(36)

Pola Pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent yang pembahasannya meliputi:

1) Pengertian pola pembinaan keagamaan anak dalam keluarga

single parent..

2) Faktor-faktor yang mempengaruhi pembinaan keagamaan anak

single parent.

BAB III: Paparan Data dan Temuan Penelitian

A. Paparan Data:

1) Letak geografis

2) Keadaan demografi

3) Keadaan pendidikan masyarakat

4) Keadaan sosial ekonomi.

5) Keadaan sosial keagamaan

6) Keadaan orangtua tunggal.

B.Temuan data tentang single parent dan profil informan.

C.Dasar pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent

D.Tujuan pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent

E.Materi pembinaan keagamaan

F. Cara dan sarana dalam pelaksanaan pembinaan keagamaan

G.Faktor-faktor penghambat dan pendukung serta solusi

(37)

A.Pola Pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent B.Faktor-faktor pendukung dan penghambat serta solusi pembinaan

keagamaan anak dalam keluarga single parent

BAB V: Penutup, meliputi:

A.Kesimpulan.

B.Saran.

(38)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

C. Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single Parent

7. Pengertian Pola Pembinaan

Kamus besar bahasa indonesia mengartikan pola adalah model, sistem, metode, cara kerja, atau sesuatu yang diterima seseorang dan dipakai sebagai pedoman, sebagaimana diterimanya dari masyarakat sekelilingnya. Pola adalah bentuk atau model (atau, lebih abstrak, suatu peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu (Arifin, 2013:18).

Pola dapat diartikan sebagai model, cara, metode, atau sebuah sistem yang digunakan dalam suatu hal. Dalam lingkup ini pola yang dimaksud adalah model, metode atau cara yang digunakan masyarakat.

“Metode ialah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian, cara

yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu. Sehingga metode berarti cara yang paling tepat dan cepat, maka urutan kerja dalam suatu metode harus diperhitungkan benar-benar secara ilmuiah” (Tafsir, 2008:9).

(39)

Pembinaan dapat diartikan sebagai “pembangun atau usaha, tindakan, dan

kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik” (Purwadarminta, 2004:19).Namun dalam “pembinaan seseorang tidak hanya

dibantu untuk memperoleh pengetahuan, tetapi bagaiamana pengetahuan itu dilaksanakan dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari” (Syafaat dan Sohari, 2008:153). Sehingga pembinaan adalah “meperbaiki moral yang telah rusak, atau

membina moral kembali dengan cara yang berbeda dari pada yang pernah dilaluinya dulu” (Daradjat, 1975:63).

Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pola pembinaan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan apa yang sudah ada kepada yang lebih baik (sempurna) baik dengan melalui pemeliharaan dan bimbingan terhadap apa yang sudah ada (yang sudah dimiliki). Serta juga dengan mendapatkan hal yang belum dimilikinya yaitu pengetahuan dan kecakapan yang baru.

8. Keagamaan Anak a. Arti Agama

“Agama pada dasarnya diyakini berasal dari Tuhan yang diturunkan melalui

utusan-Nya untuk pedoman bagi umat manusia. Nilai kebenarannya bersifat absolut. Nilai agama yang sebenarnya adalah sekumpulan norma atau kaidah yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia baik dalam hubungan Tuhan maupun hubungan antar manusia dan lingkungannya” (DEPAG, 2003:2).

(40)

pemeliharaan dan arahan untuk memperoleh pengetahuan dan kecakapan baru yang belum dimiliki. Sedangkan keagamaan adalah sifat-sifat yang berada di agama, segala sesuatu yang berada di agama.

Dalam pengarahan agama kepada anak diperlukan sebuah pembinaan sejak kecil agar mereka memperoleh pengalaman-pengalaman keagamaan sejak kecil agar kualiatas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetap terpelihara dengan baik, serta untuk meningkatkan kesadaran dan peran anak akan tangung jawab mereka ketika dihadapan Allah. “Menurut R.H. Thouless

memberikan definisi agama yaitu “religion is felt practical relationship with what

is believed in as a superhuman being or beings”. Agama adalah suatu hubungan

praktis yang dirasakan dengan apa yang diyakini sebagai dzat atau dzat-dzat yang serupa insani” (Islamiyah, 2013: 102).

“Keagamaan berasal dari kata agama yang berarti segenap kepercayaan terhadap Tuhan. Jadi, keagamaan adalah sifat-sifat yang terdapat di dalam agama” (syafaat dan Sohari, 2008:154). Karena “agama adalah kebutuhan jiwa

(41)



































































“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah

jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah

Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.

“Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman

dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya dulu. Seseorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada masa dewasanya nanti, ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lainhalnya dengan orang yang diwaktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama” (Daradjat, 1970:35). Karena “agama adalah aturan bagi umat manusia yang sudah ditentukan dan dikomunikasikan oleh Allah swt. melalui orang-orang pilihan-Nya yang dikenal sebagai utusan-utusan, rasul-rasul, atau nabi-nabi. Agama mengajarkan manusia untuk beriman kepada adanya keesaan, dan supremasi Allah yang Maha tinggi dan berserah diri secara spiritual, mental, dan fisikal kepada kehendak Allah, yakni peran Nabi yang membimbing kepada kehidupan dengan cara yang dijelaskan Allah” (Syafaat,

(42)

dalam hidup, menolong dalam menghadapi kesukaran, menenteramkan batin”

(Daradjat, 1995:56), dan “agama sebagai sarana untuk mengatasi ketakutan” (Islamiyah, 2013:21). Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:





















“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan

mengamankan

mereka dari ketakutan” (Q.S. Al-Quraisy:4).

Agama mempunyai peranan yang sangat penting karena “agama sebagai sistem nilai harus dipahami dan diamalkan oleh setiap individu, keluarga, dan masyarakat sehingga menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara” (DEPAG,

2003:1). Untuk itu diperlukan pembinaan atau pendidikan agama bagi anak karena anak adalah generasi penerus bangsa. Dalam pembinaan atau pendidikan agama “haruslah dilakukan secara intensif, ilmu dan amal supaya dapat dirasakan

oleh si anak dalam kehidupan sebagai anak. karena apabila pendidikan agama diabaiakan atau diremehkan” (Daradjat, 1975:43) oleh orang tua maka anak

(43)

hendaknya mengisi dengan hal-hal yang baik sejak mereka masih kecil untuk membentuk karakter dan kepribadian anak yang berakhlak mulia.

Orang tua dapat mendidiknya sejak ia dilahirkan dengan memperdengarkan adzan dan iqomat ketika lahir dan memeberi pembelajaran dengan bacaan basmlah ketika akan melakukan sesuatu. Serta memberi pendidikan akhalak sejak dini.

b. Pengertian keberagamaan/Pengalaman Beragama

Istilah “pengalaman” ialah suatu pengethauan yang timbul bukan pertama -tama dari pikiran, melainkan teru-tama dari pergaulan yang praktis dengan dunia. Pergaulan tersebut bersifat langsung, intuitif dan efektif. Gejala agama terdapat pada manusia adalah gejala yang berisikan evaluatif. Keberagaman manusia tidak terlepas dari zaman serta kebudayaan. Pada kebudayaan kuno keberagamaan dianggap sebagai sesuatu yang biasa, spontan dan vital. Kehidupan sendirilah yang membuka pintu kearah religiusitas. Perlunya perngalaman religius dan bentuk bagaimanapun juga dapat disangkal. Dari lain pihak terdengar dari orang beriman sendiri bahwa pengalaman religius tidak mencukupi untuk mempertanggunggjawabkan iman mereka (Arifin, 2013:21).

(44)

lebih baik.sedangkan pengertian pengalaman berasal dari kata “amal” yang

artinya perbuatan (baik atau buruk) yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an, yang berarti proses. Jadi pengalaman berarti proses perbuatan, melaksanakan, pelaksanaan, penerapan (KBBI, 1993:25)

Yang dimaksud dengan pengalaman keagamaan di sini adalah bagaimana mengamalkan atau mengaplikasikan ajaran-ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari seperti sholat, puasa, membaca dan meluis Al-Qur’an melalui sarana TPQ /TPA.

9. Pengertian Anak

Dilihat dari segi usia, seorang anak akan memilki tahapan-tahapan dalam perkembangan, dikatakan usia anak-anaka apabila mereka berusia 0-2 tahun, berusia 2-12 tahun dan ketika berusia 12-15 tahun.

Ketika anak berusia 0-2 tahun (bayi), anak belum mengalami atau belum “memiliki kesadaran dan daya intelektual. Ia hanya mampu menerima rangsangan

(45)

sering disebut juga fase tamyiz, yaitu fase dimana anak-anak mulai mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, benar dan salah, dan fase baligh atau tahap mukalaf” (Nata, 2010:175-176).

“Anak sebagai dambaan setiap orang tua di satu sisi, merupakan anugerah Allah tetapi di sisi lain, merupakan amanah. Orang tua dimintai pertanggung jawabnya” (Achmadi, 1992:90). Untuk itu orang tua “harus malakukan pembinaan

moral/mental agama, harus dilaksanakan terus-menerus sejak seseorang lahir sampai matinya, terutama sampai usia pertumbuhannya sempurna” (Daradjat, 1975:60).

“Al-Ghazali berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan membawa fitrah yang seimbang dan sehat. Kedua orangtuanyalah yang memberikan agama kepada mereka. Demikian pula anak terpengaruh oleh sifat-sifat yang buruk. Ia mepelajari sifat-sifat buruk dari lingkungan yang dihidupinya, dari corak hidup yang memberikan peranan kepadanya dan dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya (Yusuf, 2001:10). Karena anak adalah seseorang “yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagi umat manusia, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu”

(Ahmadi dan Nur, 1991:251).“Individu adalah seseorang yang belum diketahui predikatnya sedangkan pribadi sudah mengalami predikat seseorang, baik mengenai sikap mental maupun perilakunya yang membedakannya dengan orang lain”

(46)

Untuk itu ketika memperlakukan anak harus dengan penuh kasih sayang, karena pada usia ini anak belum mengetahui pemahaman tentang konsep kehidupan beragama. Melalui kasih sayang orang tua diharapkan anak menaruh sikap percaya kepada orang tuanya, dengan pengaruh-pengaruh tersebut diharapkan anak akan sadar terhadap sikap beragama dengan sendirinya dan pada diri anak akan berkembang konsep bahwa agama itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Karena anaka “memiliki kemampaun mengimitasi penampilan atau perbuatan orang lain,

dalam hal ini adalah orang tuanya” (Yusuf, 2001:162).

Untuk itu “orang tua harus memperhatikan pendidikan anak-anaknya, justru pendidikan yang diterima dari orang tualah yang akan menjadi dasar dari pembinaan kepribadian si anak. dengan kata lain orang tua jangan sampai membiarkan pertumbuhan si anak berjalan tanpa bimbingan, atau diserahkan kepada guru-guru disekolah saja. Inilah kekeliruan yang banyak terjadi dalam masyarakat kita”

(Daradjat, 1975:43). 10.Pengertian Keluarga

(47)

Keluarga merupakan kumpulan beberapa orang yang terikat oleh satu turunan, atau yang disebabkan oleh perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita yang bertujuan untuk memperoleh keturunan. Keluarga merupakan persatuan antara suami dan isteri dengan anak atau tanpa anak. tujuan dari berkeluarga adalah untuk memenuhi kebutuhan biologis, status sosial dan untuk mendidik anak serta untuk mencari nafkah. Fungsi dari keluarga adalah untuk memperoleh perlindungan dan pemeliharaan serta untuk pembinaan agama. Dalam pemeliharaan pada keluarga diperlukan pemenuhan kebutuhan jasmani yang berupa sandang, pangan dan papan, sedangkan untuk kebutuhan rohani yang berupa kasih, sayang, perhatian, bimbingan, binaan, dan pengertian harus dilakukan dalam sebuah keluarga untuk menciptakan keluarga yang harmonis.

Dalam kehidupan keluarga, yang menonjol adalah ketenangan dan kebahagiaan, disertai dengan pengertian dan kemampuan mendidik anak, serta menaati ajaran agama, maka bekal positif yang kuat dan sehat cukup banyak terdapat dalam kepribadian anak yang sedang tumbuh berkembang. Karena dari keluargalah anak didik pertama kali dalam membentuk kepribadian anak, dengan pembiasaan dan latihan-latihan bertingkah laku secara baik, serta percontohan yang dilakukan orang tua kepada anak. serta orang tuanya bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya karena “manusia yang bertanggung jawab ialah manusia yang

dapat mengatakan kepada diri sendiri bahwa tindakannya itu baik”(Poedjawijatna,

(48)

“Orang tua hendaklah dapat menjadi contoh yang baik dalam segala aspek kehidupannya bagi si anak, karena anak-anak, terutama dibawah 6 tahun, belum dapat memahami sesuatu pengertian (kata-kata) yang abstrak seperti benar, salah, baik dan buruk” (Daradjat, 1975:42). Untuk itu orang tua harus “mengenalkan

konsep-konsep atau nilai-nilai agama kepada anak melalui bahasa, seperti pada saat memberi makan atau menyusui, memandikan, membedaki, dan memakaikan pakaian kepada anak, bacakanlah basmallah pada saat memulainya, dan backanlah hamdalah pada ssat selesai. Pada saat menggendongnya atau meninabobokannya menjelah tidur, bacalah kalimah-kalimah toyyibah, takbir, dan tahlil” (Yusuf, 2001:162). Karena “keluarga merupakan penemuan sosial yang sebagian menangani persoalan merubah suatu organisme biologis menjadi manusia. Apa yang dilakukan keluarga dan bagaimana tindakannya, memberitahukan kita akan sumbangan atau ketegangan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat pisik manusia jika kesemuanya itu ditekan dalam suatu corak” (Goode, 2007:22).

Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat, sangat penting artinya dalam pembinaan masyarakat bangsa. Apabila keluarga hidup tenteram dan bahagia, maka dengan sendirinya masyarakat yang terdiri dari keluarga-keluarga yang berbahagia itu akan bahagia dan aman tenteram pula” (Daradjat, 1975:66). Karena “keluarga dibayangkan sebagai tempat yang mampu menyediakan kehangatan dan

keamanan itu maka ancaman dari luar harus diminimalkan” (Tony dkk, 1997:71).

(49)

harus dilalui manusia muda untuk memperoleh nilai-nilai dan pengetahuan mengenai kelompoknya dan belajar mengenai peran sosialnya yang cocok dengan kedudukannya di situ” (Goode, 2007:20).

11.Pengertian Single Parent

Single perent atau orang tua tunggal adalah keluarga yang terdiri dari pria atau wanita yang mungkin karena perceraian, berpisah, ditinggal meninggal dan memiliki anak. Sehingga dalam pengurusan anak tersebut dilakukannya seorang diri, baik dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya maupun kebutuhan rohaninya. Untuk itu orang tua harus mampu membentuk kepribadian anak seoraqng diri dan orang tua harus bersikap jujur kepada anak tentang situasi dan kondisi yang menyebabkan ayah atau ibunya menjadi seorang diri dalam mengurusnya. Oleh karena itu orang tua hendaknya:

a. “Bersikap jujur kepada anak-anak anda mengenai situasi yang menyebabkan anda menjadi orang tua tunggal. Hal ini hanya da pat dilakukan dalam situasi yang khusus dengan sedapat mungkin menghadirkan eks pasangan anda, dan dalam suasana yang menyenangkan agar anak benar-benar memahami. Tidak ada gunanya memberikan peringatan yang seba menakutkan tentang bekas pasangan anda.

(50)

c. Jujurlah kepada diri sendiri karena hal itu akan menunjukkan kepada anak-anak bahwa menyatakan perasaan adalah suatu hal yang baik. Setelah mereka menyatakan perasaan, tindakan yang konstruktif harus dilakukan untuk menyelesaikan situasi. Penting harus disadari bahwa rasa marah, cemas, dan takut, merupakan reaksi yang berulang kali terjadi terhadap situasi tertentu. Tetapi jika perasaan semacam itu melanda berkepanjangan, bantuan secara profesional adalah cara pemecahan yang dianjurkan.

d. Sedapat mungkin usahakan memelihara keadaan dan lingkungan yang serupa karena hal ini akan memberikan rasa aman kepada anak-anak bahwa segala sesuatunya tidak berubah” (Balson, 1996:159-160.

Oleh karena itu, orang tua hendaknya memanfaatkan kesempatan untuk memberikan pembelajaran kepada anaknya dengan sebaik-baiknya, dan mendorong/memotivasi anak untuk berani menghadapi masa depan dengan kondisi yang berbeda pada saat ini. Serta orang tua harus mempersiapkan anak untuk mengahadapi peristiwa yang kan terjadi setelah orang tua mereka hanya seorang saja.

(51)

memanfaatkan situasi saperti ini sebagai kesempatan untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dalam mengurus anak yang lebih besar.

12.Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single Parent

Metode keteladan sebagian ditulis oleh ( Darajat, 1970:89 ) pola yang cukup besar pengaruhnya dalam membina adalah cara pemberian contoh dan teladan. Orangtua memiliki kewajiban dalam membina keagamaan anaknya agar anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik, tetapi sebagai orangtua yang mempunyai harapan besar terhadap anaknya dikehidupan mendatang baiknya orangtua mendidik dan membina keagamaan anak dengan cara pemberian contoh atau ketauladanan. Hal ini dikarenakananak-anak akan belajar melalui apa yang mereka lihat di kehidupan sehari-harinya. Apakah orangtua memiliki akhlak mulia, kedisiplinan dalam melakukan ibadah (sholat, puasa, membaca Al-Qur’an), cara berbicara dan bertingkah laku. Pola ini juga digambarkan pada QS:Al-Ahzab:21 Yaitu : “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu

(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.

Pola menasihati sebagian ditulis oleh ( Munir, 2006:12 ) pola ini berisikan tentang nasihat dan petuah, bimbingan atau pengajaran, kisah-kisah, kabar gembira dan peringatan serta wasiat atau pesan-pesan positif.

(52)

saat nanti masih sangat jauh, sehingga tak terpikirkan oleh mereka. Anak-anak hidup untuk hari ini” (Biddulph, 2006 : 25 ).

Pola pembiasaan adalah cara orangtua dalam mendidik anak dengan membiasakanya sejak kecil seperti “anak di minta untuk membiasakan diri melakukan hal-hal berikut :

a.Memelihara, menyimpan, dan menggunakan sarana belajarnya dengan tertib.

b. Mematuhi kapan ia harus belajar, bermain, tidur siang, tidur malam, dan bangun pagi” (Syafei, 2006:43).

Pola hukuman adalah untuk mendidik anak agar mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan serta untuk mendidik anak agar mereka disiplin. Disiplin adalah “mengarahkana anak agar mereka belajar mengenai hal-hal baik yang merupakan persiapan bagi masa dewasa, saat mereka bergantung pada disiplin diri”

(Rimm, 2003:47).

D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Keagamaan Anak

1. Faktor Cara

(53)

anak-anak mereka masih asyik dengan dunia nya sendiri yaitu bermain dengan kesibukannya sendiri atau bermain dengan teman-temannya.Dalam hal ini, anak belum bisa membedakan mana hal yang baik dan man hal yang buruk oleh sebab itu peran orangtua sangat penting dalam memberikan pembinaan keagamaan sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Pembinaan orangtua tua kepada anak-anaknya,Yaitu melalui pembinaan dengan cara keteladanan atau orangtua memberikan contoh-contoh keagamaan dalam hal intelektual dan ritualistik, dan beberapa cara pembinaan lainnya seperti : dengan cara perhatian, dengan cara pembiasaan, dengan cara hukuman.

(54)

kejiwaan anak yang pokok, anatara lain rasa kasih sayang, rasa amandan rasa diperhatikan.

2. Faktor Sarana

Sarana lembaga pendidikan,lembaga keagamaan dan masyarakat lingkungan sekitar sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam hal sarana pendidikan keagamana adalah sekolah, lembaga keagamaan seperti masjid, TPA/TPQ, rumah-rumah ibadah.Pembinaan keagamaan seperti sholat,mengaji,khataman, berpuasa dan mempelajari tentang ilmu aqidah/akhlak, hal itu dapat diajarkan didalam lingkungan pendidikan keagamaan tersebut. Dalam hal ini, peran masyarakat sangat diperlukan sebagai sarana anak-anak single parent dalam melaksankan proses pembinaan keagamaan diluar lingkungan rumah dan orangtuanya. Masyarakat dan lingkungan sekitar berpengaruh terhadap perkembangan keagmaan anak, dimana mereka juga dituntut bersikap kooperatif dalam membantu pelaksanaan pembinaan anak-anak single parent disekitarnya.

(55)

BAB III

PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN

H.Gambaran Umum Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga

7. Letak Geografis

Tempat yang dijadikan sebagai lokasi penelitian ini adalah

Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga

merupakan salah satu bagian diwilayah Kotamadya Salatiga. Adapun batas

wilayah Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga

adalah sebagai berikut :

TABEL 3.1

Batas Wilayah Kelurahan Tegalrejo

NO NAMA ARAH MATA ANGIN NAMA KELURAHAN

1. Sebelah Utara : Kelurahan Kalicacing 2. Sebelah Selatan : Kelurahan Kumpulrejo

3. Sebelah Timur : Kelurahan Mangunsari

4. Sebelah Barat : Kelurahan Ledok

Luas keseluruhan Kelurahan Tegalrejo kecamatan Argomulyo kotamadya

Salatiga adalah 188.430 Ha. Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo

memiliki 56 RT dan 9 RW.

(56)

Wilayah Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya

Salatiga. Berdasarkan data kependudukan yang ada di Kelurahan Tegalrejo

Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015, secara keseluruhan

masyarakat Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya

Salatiga berjumlah 12.288 jiwa, dan berjumlah 3.946 KK (Kepala

Keluarga)yang dapat dirinci seperti dalam tabelberikut ini :

TABEL 3.2 Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.

Jumlah pendudukKelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo

Kotamadya Salatiga, dapat dirinci sebagai berikut:

Adapun tabel tentang keadaan penduduk berdasarkan komposisi umur di

wilayah Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga

(57)

TABEL 3.4 Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.

9. Keadaan Pendidikan Masyarakat

Untuk mencapai salah satu perjuangan bangsa indonesia yaitu

terwujudnya suatu bangssa yang adil dan makmur, materiil dan spiritual,

(58)

dapat dicapai melalui jalan pendidikan. Sebab tingkat pendidikan sangat

berpengaruh pada pola berpikir serta bertindak seseorang, dan tingkat

pendidikan dapat mencerminkan kepekaan dan tingkat toleransi manusia

terhadap informasi dan penetrasi nilai-nilai modern. Adapun perincian

pendidikan masyarakat Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo

Kotamadya Salatiga adalah sebagai berikut :

2. Tidak tamat SD/Sederajat 1225 Jiwa

3. Tamat SD 1245 Jiwa Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.

Dengan melihat data diatas dapat diketahui bahwa tingkat

pendidikan Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo kotamadya

Salatiga paling banyak adalah tingkat SLTA sebanyak 4.210 Jiwa.

(59)

Sebagian besar penduduk Kelurahan Tegalrejo Kecamatan

Argomulyo kotamadya Salatiga memiliki mata pencaharian sebagai

karyawan swasta dan buruh harian lepas, disamping itu ada juga sebagian

penduduk yang berpencaharian TNI, PNS, POLRI, Pedagang, Guru, Dosen

dan Wiraswasta. Untuk lebih jelasnya mengenai pekerjaan penduduk

Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo kotamadya Salatiga dapat

dilihat pada tabel dibawah ini :

TABEL 3.6

JENIS PEKERJAAN PENDUDUK KELURAHAN TEGALREJO KECAMATAN ARGOMULYO KOTAMADYA SALATIGA

NO. JENIS PEKERJAAN JUMLAH

1. Belum/tidak bekerja 2.275 Jiwa

2. Mengurus rumah tangga 1.590 Jiwa

3. Pelajar/Mahasiswa 2.443 Jiwa

14. Karyawan Swasta 2.044 Jiwa

(60)

21. Pembantu rumah tangga 28 Jiwa

39. Anggota DPRD Kabupaten/Kota 1 Jiwa

40. Dosen 44 Jiwa Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.

(61)

Dari data yang diperoleh serta didukung pengamatan selama

mengadakan observasi di lapangan dapat dikatakn bahwa mayoritas

penduduk Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga.

Adalah beragama islam yaitu, sebanyak 8.809 jiwa. Untuk lebih jelasnya

mengenai keadaan sosial keagamaan dan jumlah pemeluknya dapat dilihat

pada tabel dibawah ini : Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.

*Sumber di olah dari Data Lembaga/Organisasi Keagamaan.

Secara umum keadaan fisik bangunan tempat ibadah yang ada di

(62)

baik dan cukup permanen. Rata-rata bangunan fisik tempat ibadah di

Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga lebih baik

daripada rumah penduduk pada umumnya. Hal ini setidaknya merupakan

indikasi bahwa perhatian mereka terhadfap masalah keagamaan cukup besar

dan baik.

12. Keadaan Orang tua tunggal

Berkaitan dengan topik yang diambil oleh peneliti, perlu juga

diketahui jumlah single parent atau orangtua tunggal di RT 03/RW 03 Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga. Jumlah

single parent dapat dilihat pada tabel dibawah ini :

Tabel 3.9

Jumlah Single Parent di RT 03/RW 03 Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga

No. Keterangan Jumlah

1. Jumlah Kepala Keluarga 360 KK

2. Jumlah Janda 7 Jiwa

3. Jumlah Duda 2 Jiwa

*Sumber di olah dari Data Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga Bulan Januari 2015.

Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui jumlah orangtua tunggal di

RT 03/RW 03 Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya

Salatiga jumlah janda lebih banyak daripada jumlah duda.

(63)

Single parent adalah orangtua satu-satunya (Poerwodarminto, 1976:132). Yaitu keluarga dengan orangtua tunggal, baik itu tanpa ayah

maupun tanpa ibu. Karena pada dasarnya kategori single parentmeliputi janda ataupun duda baik karena kematian maupun perceraian. Dalam hal ini baik

seorang ibu maupun seorang ayah single parentmemiliki peran ganda, yaitu jika seorang ibu maka mempunyai peran ganda yaitu sebagai ibu sekaligus

sebagai seorang ayah, dan sebaliknya peran seorang ayah single parentberperan sebagai ayah dan seorang ibu bagi anak-anaknya.

Keluargasingle parentyang penulis akan teliti adalah 6 orang Janda dan 2 orang duda . Yaitu keluarga single parentyang memiliki peran sebagai ibu sekaligus seorang ayah untuk anak-anaknya. Yang berdomisili di RT 03/ RW

03, Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga yang

diwakili oleh 8 keluarga single parent Keluarga tersebut mewakili dari usia 6-12 tahun dan dilihat dari keluarga dengan jenjang ekonomi menengah kebawah

dan menengah ke atas. Keluarga single parenttersebut itu adalah keluarga Ibu YN dengan seorang anak perempuan bernama DW ( 10 Tahun), keluarga ibu

KM dengan seorang anak laki-laki bernama FB ( 7 Tahun), keluarga ibu MY

dengan seorang anak laki-laki bernama AG (9 Tahun), keluarga ibu AG dengan

seorang anak laki-laki (14 tahun) dan perempuan bernama EG (9 Tahun),

keluarga ibu GL dengan anak laki-laki bernama ND (7 Tahun), keluarga bapak

(64)

laki-laki bernama HD (11 Tahun), dan keluarga ibu RN dengan anak bernama

RH (11 Tahun) dan RF (8 Tahun).Adapun profil dari keluarga tersebut:

1. Ibu YN

Nama lengkapnya Ibu YNB. Merupakan anak bungsu dari 4

bersaudara. Lahir 35 tahun yang lalu di desa tegalrejo. Kedua orang tuanya

tinggal bersama dengan Ibu YN yaitu ibu SN dan seorang saudara

laki-lakinya Bapak SH dan keluarganya. Pada tahun 2004 ibu YN menikah

dengan seorang laki-laki yang bernama Bapak HY. Dari pernikahan tersebut

Ibu YN dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik yang diberi nama

DWH yang biasa dipanggil DW sekarang telah berumur 10 tahun.

Ibu YN menjadi single parent2 tahun yang lalu ketika DW berusia 8 tahun. Suami ibu YN pada waktu itu selingkuh dengan wanita lain. Suami

ibu YN adalah seorang pegawai swasta. Dan ibu YN mengetahui

perselingkuhan itu ternyata dengan teman sekantor dengan suaminya

tersebut. Sejak ketahuan suaminya selingkuh, rumah tangga ibu YN sering

diwarnai dengan ketidakcocokan dan pertengkaran. Berdasarkan pengakuan

dari ibu YN.

(65)

mba. Saya juga masih sanggup membiayai anak saya sendiri mba,”

(wawancara dengan Ibu Yeni, tanggal 6 Februari 201 .)

Akhirnya Bapak HY menuruti kemauan istrinya itu dan

menceraikannya. Sekarang Bapak HY menikah dan tinggal bersama dengan

istri barunya.

Ibu YN adalah seorang single parentyang cukup sukses. Ibu YN memiliki toko pakaian dipasar tegalrejo dan juga mempunyai warung yang

menyediakan kebutuhan sehari-hari didepan rumahnya. Sebagai seorang

single parent, Ibu YN tidak mau terlalu membebani orang tuanya, apalagi usia Ibu YN masih terhitung muda, maka Ibu YN akan bekerja sesuai

dengan kemampuannya. Walaupun tinggal dengan orang tua dan

saudaranya. Ibu YN berusaha untuk tidak menggantungkan hidup pada

mereka. Alasan kenapa Ibu YN masih tinggal bersama orang tuanya karena

dengan status janda yang melekat pada diri Ibu YN setidaknya menghindari

pembicaraan-pembicaraan miring tentang status janda tersebut. Apalagi

umur Ibu YN yang masih muda tidak bisa lepas dari lirikan laki-laki nakal,

walaupun dikatakan trauma tapi tidak menutup kemungkinan untuk

menikah lagi, ujar ibu YN.

ya kalau masalah itu belum kepikiran mba, tapi setidaknya saya juga msih butuh seseorang yang bisa saya jadikan sandaran mba,dengan status saya yang seperti ini mba,tapi untuk saat ini saya mau focus dengan anak dulu mba, jika Allah masih memberikan jodoh kepada saya ya bisa

(66)

Anak Ibu YN yang bernama DW sekarang ini sekolah kelas 4 SD di

SD N 3 Tegalrejo. DW merupakan anak yang yang berparas cantik

merupakan anak yang penurut dan juga anak yang pintar. Ibu YN sangat

menyayangi anak satu-satunya, maka dari itu Ibu YN sangat memperhatikan

langsung pertumbuhan dan perkembangan anakya tersebut. Sejak kecil DW

sudah diajarkan untuk mandiri dan membantu ibunya ataupun neneknya,

sesuai kemampuan yang bisa DW lakukan, seperti setelah sepulang sekolah

DW membantu nenek menjaga toko Didepan rumahnya sambil belajar,

setelah sore Ibu YN mengantar DW untuk ngaji di TPA dimasjid dekat

rumag Ibu YN. Ibu YN selalu mengingatkan anaknya tersebut tentang

disiplin untuk selalu menjalankan kewajibanya yaitu belajar dan mengaji

agar kelak dimasa depan mempunyai bekal baik ilmu umum maupun agama,

serta menjadi anak yang berbudi pekerti baik.

Sebagai seorang ibusingle parentserta dengan perpisahan yang belum lama itu membuat DW selalu bertanya tentang Bapaknya, mungkin

bagi Ibu YN belum saatnya memberitahukan kepada DW hal yang membuat

orang tuanya berpisah, karena Ibu YN takut jika hal itu akan berpengaruh

kepada perkembangan psikologi DW mungkin ketika DW sudah bisa

memahami Ibu YN akan memberitahukan kepada DW. Dengan peran ganda

yang harus dilakukan oleh Ibu YN maka oleh Ibu YN selalu mengajak DW

Gambar

TABEL 3.1 Batas Wilayah Kelurahan Tegalrejo
TABEL 3.2 JUMLAH PENDUDUK MENURUT JENIS KELAMIN
TABEL 3.4 JUMLAH PENDUDUK BERDASARKAN KELOMPOK USIA :
TABEL 3.5 KEADAAN PENDIDIKAN KELURAHAN TEGALREJO
+4

Referensi

Dokumen terkait

Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Pola otoriter orang tua sebanyak sebanyak 37 siswa dengan presentase 74% dengan kategori Sedang (2) Perilaku keagamaan sebanyak

pertanyaan peneliti tentang masalah ini. “Dan juga gini mas, Konsekuensi kalau melanggar Sapta Marga disini diberlakukan hukuman TNI. Kalau yang dilanggar ringan,

Institut Agama Islam Negeri (IAIN). Kata kunci: Remaja, Pembinaan Keagamaan, Lingkungan Seks Komersial. Lingkungan menjadi faktor amat penting dalam kehidupan seseorang,

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah perencanaan pembinaan akhlak siswa di SMK Karya Nugraha Boyolali?, (2) Bagaimanakah

Bagaimana pelaksanaan program parenting dalam membantu keluarga/ orangtua untuk membentuk lingkungan rumah yang mensupport pendidikan agama Islam dan apa

Dalam penelitian ini yang akan diwawancara adalah keluarga, orang tua atau wali anak penyandang cerebral palsy untuk memperoleh data karakteristik anak, cara

Rahayu, Fia Nur. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga Tahun 2017. Jurusan Pendidikan

Skripsi ini membahas tentang pola komunikasi guru Pendidikan Agama Islam dalam pembinaan akhlak peserta didik di SD Negeri 93 Parandean Kecamatan Masalle