POLA PEMBINAAN KEAGAMAAN ANAK DALAM
KELUARGA SINGLE PARENT DI KELURAHAN
TEGALREJO KECAMATAN ARGOMULYO
KOTAMADYA SALATIGA TH. 2015
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I)
Program Studi Pendidikan Agama Islam
Oleh
ENI LESTARI
NIM 11108145
JURUSAN TARBIYAH
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM INSTITUT
AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA
MOTTO
“Ibu adalah sekolah yang jika engkau telah mempersiapkanya, berarti engkau telah mempersiapkan suatu bangsa yang mempunyai akar-akar yang baik”
(Abdullah Nashih Ulwan).
“Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka
khawatir terhadap kesejahteraan mereka. Oleh karena itu mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucap perkataan
PERSEMBAHAN
Dengan Ketulusan Hati Dan Segenap Rasa Syukur dan Atas rahmat
dan ridho Allah SWT, karya skripsi ini penulis persembahkan kepada:
1. Ayahanda Suheri (Alm) dan Ibunda Suparti yang tiada henti-hentinya memanjatkan do’a ke hadirat Illahi, memohon keselamatan dan
kesuksesan anak-anaknya.
2. Suamiku tercinta Muhammad Imron dan Anakku terkasih Muhammad
Dzaky Misbahuddin Amin yang tiada henti-hentinya , memanjatkan do’a pernah lelah selalu berjuang untuk mama dan memohon.
3. Ibu Dra.Djamiatul Islamiyah, M.Ag selaku pembimbing skripsi yang
telah banyak membimbing dan mengarahkan penulis dengan penuh
kearifan dan keikhlasan dan kesabaran kepada penulis dalam
bimbingan dan penulisan
4. Semua teman-teman seperjuangan jurusan Tarbiyah progdi PAI khusus
untuk PAI E angkatan 2008.
5. Sahabat-sahabat ku terbaik (Ana Syarifah dan Nurul Hasanah)
terimakasih atas persahabatAn yang begitu indah dan senantiasa
6. Ibu Dra. Djami’atul Islamiyah, M.ag selaku dosen pembimbing yang telah mencurahkan perhatian dan waktunya untuk membimbing
menyelesaikan skripsi saya.
ABSTRAK
Lestari, Eni.2015. Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single Parent Di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga Th. 2015. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing Dra. Djamiatul Islamiyah, M.Ag.
Kata Kunci : Pembinaan keagmaan, anak-anak keluarga single parent.
Pada tataran ideal, struktur keluarga biasanya terdiri dari ayah, ibu dan anak, namun pada tataran praktis tidak setiap anak memiliki struktur keluarga yang lengkap secara ideal. Sebagian mereka hanya hidup bersama ayahnya saja atau sebaliknya dibesarkan oleh ibunya sendiri (single parent). Apalagi mengingat tidak mudahnya bagi orangtua single parent untuk mendidik dan membina anak-anak mereka seorang diri. Pertanyaan utama yang ingin dijawab lewat pertanyaan ini adalah (1) Bagaimana pola pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent di kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015 ? (2) Apa kendala serta apa faktor pendukung dalam pembinaan keagamaan anak dalam keluarga
single parent di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015? Serta bagaimana solusinya?.
Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif, dengan menggunakan metode observasi, wawancara, dokumentasi dan teknik trianggulasi sumber.
KATA PENGANTAR
ميخ ّرلا نمح ّرلا الله مسب
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah serta nikmat-Nya sehingga atas kehendak-Nya penulisa
dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam
Keluarga Single Parent Di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga Tahun 2015”. Sholawat serta salam semoga tetap terlimpahkan kepada nabi Muhammad SAW, yang selalu dinantikan syafa’atnya di hari kiamat kelak.
Skripsi ini terwujud berkat bantuan dari berbagai pihak baik berupa moril, materil maupun spiritual, yang dengan penuh keihklasan hati memberi penjelasan, saran dan bimbingan. Untuk itu pada kesempatan ini, penulis mengucapkan terimaksih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Ketua STAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Tarbiyah.
3. Bapak Rasimin, M.Pd selaku Ketua Program Studi PAI.
4. Ibu Dra. Djamiatul Islamiyah, M.Ag selaku pembimbing skripsi yang telah
banyak membimbing dan mengarahkan penulis dengan penuh kearifan dan
keikhlasan dan kesabaran kepada penulis dalam bimbingan dan penulisan
skripsi ini.
5. Segenap Dosen dan karyawan STAIN Salatiga.
6. Ayahanda Suheri (Alm) dan Ibunda Suparti yang tiada henti-hentinya memanjatkan do’a ke hadirat Illahi, memohon keselamatan dan kesuksesan
anak-anaknya.
7. Suami ku tercinta Muhammad Imron dan Anakku terkasih Muhammad Dzaky
8. Sahabat-sahabat ku terbaik (Ana Syarifah dan Nurul Hasanah) terimakasih
atas persahabatn yang begitu indah dan senantiasa memberi warna baru disaat
penulis jenuh dan lelah dengan semuanya.
9. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak mungkin
penulis sebutkan satu per satu.
Penulis menyadari dan mengakui bahwa penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, semua itu dikarenakan keterbatasan dan kemampuan dan pengetahuan penulis. Sehingga masih banyak kekurangan yang perlu untuk diperbaiki dalam skripsi ini.
Akhir kata, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi penulis khususnya dan bagi pembaca pada umumnya. Saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan untuk perbaikan skripsi ini.
Salatiga, 12 Maret 2015
Penyusun,
Eni Lestari
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
DEKLARASI ... iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... iv
MOTTO ... v
PERSEMBAHAN ... vi
KATA PENGANTAR ... vii
ABSTRAK ... viii
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang ... 1
C. Tujuan Penelitian ... 6
D. Kegunaan Penelitian ... 6
E. Penegasan Istilah ... 7
F. Metode Penelitian ... 11
G. Sistematika Penulisan Skripsi ... 16
BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single Parent ... 18
1. Pengertian Pola Pembinaan ... 18
2. Keagamaan Anak ... 19
a. Arti Agama ... 19
b. Pengertian Keberagamaan ... 23
3. Pengertian Anak ... 24
4. Pengertian Keluarga ... 26
5. Pengertian Single Parent ... 29
B. Faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Keagamaan Anak ... 32
1. Faktor Cara ... 32
2. Faktor Sarana ... 33
BAB III PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN A.Gambaran Umum Kelurahan Tegalrejo ... 35
1. Letak Geografis ... 35
2. Keadaan Demografis ... 35
3. Keadaan Penduduk Masyarakat ... 37
4. Keadaan Sosial Ekonomi ... 38
5. Keadaan Sosial Keagamaan ... 40
6. Keadaan Orangtua Tunggal ... 41
B. Temuan Data Single Parent dan Profil Informan ... 42
C. Dasar Pembinaan Keagamaan Anak Keluarga Single Parent ... 61
D. Tujuan Pembinaan Keagamaan Anak Keluarga Single Parent ... 68
1. Pembinaan Aqidah dan Ibadah ... 72
2. Pembinaan Akhlak ... 80
F. Cara dan Sarana dalam Pelaksanaan Pembinaan Keagamaan ... 86
G. Faktor Penghambat dan Pendukung serta Solusi ... 93
BAB IV PEMBAHASAN A. Pola Pembinaan Keagamaan Anak Keluarga Single Parent di Tegalrejo RT03/RW03 ... 96 B. Faktor Penghambat dan Pendukung serta Solusi ... 109
BAB V KESIMPULAN A. Kesimpulan ... 132
B. Saran ... 135
C. Penutup ... 136
DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Batas Wilayah Kelurahan Tegalrejo ... 35
Tabel 3.2 Jumlah Penduduk Menurut Jenis Kelamin ... 36
Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Menurut Kepala Keluarga (KK) ... 36
Tabel 3.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Kelompok Usia ... 37
Tabel 3.5 Keadaan Pendidikan Kelurahan Tegalrejo ... 38
Tabel 3.6 Jenis Pekerjaan Penduduk ... 39
Tabel 3.7 Keadaan Keagamaan Penduduk ... 40
Tabel 3.8 Sarana Peribadatan Penduduk ... 41
BAB I PENDAHULUAN
A.Latar Belakang Masalah
Pada tataran ideal, struktur keluarga biasanya terdiri dari ayah, ibu dan
anak, namun pada tataran praktis tidak setiap anak memiliki struktur keluarga
yang lengkap secara ideal. Sebagian mereka hanya hidup bersama ayahnya saja
atau sebaliknya dibesarkan oleh ibunya sendiri (Single Parent).
Implikasi keluarga single parent terhadap daya juang mereka pun beragam. Sebagian keluarga ini dapat menghasilkan anak yang berhasil semua
dalam hal pendidikan, keagaaman dan ekonomi, namun tidak jarang pula
diantara single parent ini menghadapi berbagai problem dan kendala dalam
membesarkan anak-anak mereka, bukan hanya problem ekonomi semata,
namun juga berkaitan dengan problem psikologis maupun sosiologis.
Problem psikologis misalnya berkenaan dengan perasaan “kurang nyaman” karena ketiadaan sosok figur ayah atau suami sebagai pelindung
secara fisik maupun psikis keluarga. Sementara problem sosiologis biasanya berkaitan dengan pandangan masyarakat yang “kurang sempurna“ terhadap
ibu yang single parent, terutama yang akibat perceraian. Problem tersebut tentu akan mewarnai kehidupan para ibu single parent dalam proses panjang membesarkan anak-anak mereka, tidak terkecuali juga dalam hal pendidikan
dilakukan ibu single parent ini dalam hal pendidikan keagamaan putra putri mereka.
Pada hakekatnya, peran orangtua mempunyai harapan agar anak-anak
mereka tumbuh dan berkembang menjadi anak yang baik, tahu membedakan
mana yang baik dan mana yang buruk, serta tidak mudah terjerumus dalam
perbuatan-perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri. Hal ini akan berjalan
dengan baik ketika peranan orangtua sangat maksimal (Gunarsa, 1995:60).
Pola pembinaan keagamaan orangtua dalam keluarga menjadi salah satu
contoh pendidikan keagamaan yang diajarkan orangtua pada anak, karena anak
akan secara alami menyerap apa yang dilakukan orangtua. pembinaan
keagamaan dikatakan pendidikan non formal tetapi akan sangat membekas
pada diri anak. Maka sangat sulit ketika orangtua mendidik anak sendirian
karena memaksa orangtua tunggal tersebut harus berperan ganda dalam
keluarga untuk sang anak.
Keluarga merupakan lingkungan yang terdekat untuk membesarkan
anak karena didalamnya anak mendapat pendidikan yang pertama kali.
Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil akan tetapi merupakan
lingkungan yang paling kuat dalam membesarkan anak terutama pada anak
yang belum masuk pada pendidikan formal. Keluarga yang baik maka akan
berpengaruh positif pada perkembangan anak, sedangkan keluarga yang
Kebiasaan yang baik maupun positif yang telah tertanam kuat pada jiwa
anak tidak akan hilang begitu saja pada masa depannya. Pengalamanan
keagamaan pada masa anak-anak akan tergores kuat pada hati seseorang seperti
ukiran diatas batu. Jiwa yang polos apabila diisi dengan pembinaan
keagamaan, maka yang diterimanya itu akan melekat kuat. Anak akan
melakukan apa yang telah diterimanya disinilah letak pentingnya orangtua
dalam membina anak.
Pada sisi lain kenakalan anak sering terjadi karena perceraian keluarga
atau perpisahan orangtua, karena disebabkan tidak intensnya salah satu
orangtua membuat anak merasa hidupnya tidak normal seperti anak-anak lain.
Kondisi semacam ini membuat anak tersebut kurang percaya pada orangtua
dan selalu mencari jalan keluar setiap masalahnya sendiri, bisa jadi mereka
terlibat dalam pergaulan yang tidak sepantasnya (buruk). Karena itu akan
menjadi perbedaan proses perkembangan keagamaan pada anak dalam korban
perceraian. Kenakalan anak yang disebabkan karena broken home (perceraian) dapat diataasi/ditanggulangi dengan cara-cara tertentu, seperti tanggung
jawabnya orangtua dalam memelihara anak-anaknya seharusnya mampu
memberikan kasih sayang sepenuhnya, sehingga anak tersebut merasa
seolah-olah tidak pernah kehilangan ayah atau ibunya. Keperluan anak secara
jasmaniah (makan, minum, pakaian, dan sarana-sarana lainya) harus dipenuhi
yang melawan hukum misalnya, pencurian, penggelapan, penipuan,
gelandangan dan penyalahgunaan obat-obat terlarang. Ketika keagamaan anak
sudah jatuh maka akan sulit untuk mengembalikan menjadi anak yang baik
(Sudarsono, 1995:126).
Perilaku menyimpang yang dilakukan anak tidak jauh karena kurangnya
perhatian orangtua atau salah satu orangtua yang tidak ikut mendidik anak
dalam keluarga, karena anak akan merasa kehilangan salah satu figur teladan
yang seharusnya menjadi peraturan dalam keagamaan. Pada keluarga single parent menuntut peran ganda dari orangtua tunggal untuk selalu memperhatikan pendidikan psikologi keagamaan anak, sehingga anak tidak
kehilangan pegangan dalam hidupnya dalam bersikap.
Tidak sedikit pada keluarga single parent menjadikan anak lebih cepat dewasa dalam hal pemikirannya karena anak di tuntut lebih mengerti kondisi
keluarga tunggal, ketidak adanya salah satu figur dalam single parent membuat
tidak sedikit anak akan menyesuaikan peran yang bisa sedikit membantu beban
orangtuanya. Misalnya dalam keluarga single parent dimana hanya ada figur ayah maka anak mencoba mengurus kebutuhan keluarga seperti menyiapkan
makanan untuk ayahnya. Kemandirian anak dalam single parent ini dipengaruhi dalam sebab ketidak adanya salah satu figur dalam keluarga
karena dalam perceraian dan kematian menjadi pengaruh yang berbeda pada
Pembinaan keagamaan dalam keluarga sangatlah penting, karena
dengan adanya pembinaan tersebut seorang anak dapat meningkatklan
kualitasnya, pemahamanya dan pengamalan dari ajaran-ajaran islam yang
dapat dijadikan pedoman dalam hidupnya kelak. Dalam proses pembinaan
ajaran agama tersebut orangtua melakukan proses usaha untuk mendidik,
mengarahkan, dan memberi bekal kepada anaknya agar mereka hidup sesuai
ajaran islam.
Meningkatkan pertumbuhan keluarga yang berorangtua (single parent) tunggal saat ini merupakan fenomena yang berlangsung terus di Indonesia,
baik itu dikarenakan kasus perceraian atau kematian orangtua. Selain itu
banyak juga contoh kasus dibarat, yang sering kita saksikan ditelevisi
menunjukan bahwa ketidak lengkapan orangtua memang mempengaruhi
kepribadian anak sehingga masyarakat kita masih menganggap bahwa keluarga
single parent kurang menciptakan suasana keluarga untuk peningkatan prestasi
anak. Beberapa kesulitan ini dapat dituduhkan langsung atau tidak langsung
kepada status orangtua tunggal.
Berdasarkan hal-hal tersebut peneliti mengajukan judul penelitian yang
berjudul:“Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single
Parent di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga Tahun 2015”.
Berdasarkan latar belakang diatas maka permasalahan yang akan diteliti
adalah:
1. Bagaimana pola pembinaan keagamaan anak single parent di Kelurahan
Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015?
2. Apa faktor penghambat serta apa faktor pendukung dalam pembinaan
keagamaan anak single parent di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan
Argomulyo Kotamadya Salatiga Tahun 2015? Serta bagaimana solusinya?
C.Tujuan Penelitian
Sesuai dengan permasalahan tersebut, maka tujuan penelitian ini
adalah:
1. Untuk mengetahui pola pembinaan keagamaan anak single parent di kota
salatiga di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga
tahun 2015.
2. Untuk mengetahui faktor penghambat yang dihadapi dalam pembinaan
keagamaan anak single parent di kota Salatiga serta untuk mengetahui faktor
pendukung dalam pembinaan keagamaan anak single parent di Kelurahan
Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015 Serta
D.Kegunaan Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian yang telah disebutkan diatas, penulis
membagi manfaat penelitian ini menjadi dua poin, yaitu:
1. Bagi Peneliti
a. Menambah pengetahuan tentang pembinaan keagamaan pada anak
dalam keluarga single parent.
b. Memberi gambaran langsung mengenai bagaimana pola yang digunakan
dalam pembinaan keagamaan pada anak dalam keluarga single parent. c. Sebagai saran pengembangan pola pikir peneliti dalam bidang ilmu
pengetahuan.
2. Bagi Lembaga
a. Sebagai sarana kajian dalam ilmu pengetahuan.
b. Sebagai saran kajian pertimbangan bagi lembaga formal maupun non
formal.
3. Bagi Ilmu Pengetahuan
Dapat memberi manfaat secara teoritis tentang pola pembinaan
keagamaan pada anak dalam keluarga single parent.
1. Pola
Pola diartikan sebagai model, cara, metode atau sebuah sistem
yang digunakan dalam suatu hal. Dalam lingkup ini pola yang dimaksud
adalah model, metode atau cara yang digunakan masyarakat kelurahan
Tegalrerjo kecamatan Argomulyo kotamadya Salatiga dalam
melaksanakan pembinaan keagamaan pada anak setempat.
2. Pembinaan Kegamaan
Dalam kamus besar bahasa Indonesia pembinaan diartikan
pembangunan atau usaha, tindakan, dan kegiatan yang dilakukan secara
efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik
(Purwadarminta, 2004:19). Sedangkan keagamaan adalah sifat-sifat yang
berada di agama, segala sesuatu yang berada di agama. Agama yang
dimaksud dalam penelitian adalah agama Islam. Jadi, pembinaan
keagamaan adalah suatu usaha, tindakan dan kegiatan yang dilakukan
secara efisien dan efektif dalam membangun perilaku keagamaan.
Pembinaan keagamaan yang dimaksud disini adalah pembinaan
keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat kelurahan Tegalrerjo
kecamatan Argomulyo kotamadya Salatiga dalam melaksanakan
pembinaan keagamaan pada anak setempat. Dalam hal ini yang penulis
maksudkan adalah peran orang tua secara individual dan masyarakat
Dengan meminjam analisis”religion commitment” dari Glock dan
Stark (1965:18-38), keberagamaan muncul dalam lima dimensi: ideologis, intelektual, eksperinsial, ritualistik, dan konsekuensial
(Abdullah dan Karim, 1989:92-94). Oleh karena itu penulis akan
membahas penelitian ini dengan dimensi ritualistik dan dimensi
intelektual. Penulis melakukan penelitian tentang hal yang merujuk pada
ritus-ritus keagamaan yang dianjurkan oleh agama dan atau dilaksanakan
oleh para pengikutNya berdasarkan pada dimensi ritualistik sedangkan
berdasarkan dimensi intelektual penulis melakukan penelitian yang
mengacu pada pengetahuan agama, apa yang tengah atau harus diketahui
orang tentang ajaran-ajaran agamaNya. Pada dimensi ini, penelitian dapat
diarahkan untuk mengetahui seberapa jauh tingkat melek agama (religious literacy) para pengikut agama yang diteliti; atau tingkat ketertarikan mereka untuk mempelajari agamanya. Dimensi ini meliputi
pedoman-pedoman pokok pelaksanaan ritus dan pelaksanaan ritus tersebut dalam
kehidupan sehari-hari serta meliputi pengetahuan tentang agamanya..
3. Anak
Imam Ghazali seorang tokoh Islam yang terkenal dengan gelar
“Anak itu amanaah Allah Swt bagi orangtuanya. Hatinya bersih
bagai mutiara yang indah, bersahaja, bersih dari setiap lukisan dan gambar.
Ia menerima bagi setiap yang dilukiskan, cenderung kepada arah apa saja
yang diarahkan kepadanya. Kedua orangtuanya, semua gurunya,
pengajarnya, serta yang mendidiknya sama-sama menerima pahala” (Darajat,1993:5).
Seorang anak yang baru dilahirkan sesungguhnya memiliki
kesiapan alamiah untuk mempoercayai Tuhan dan mengesakan-Nya.
Hanya saja, kesiapan alamiah ini membutuhkan pengajaran, pengarahan
dan bimbingan dari berbagai pihak yang peduli memperhatikan pendidikan
anak sehingga kesiapan alamiah ini tumbuh dan berkembang dengan baik.
Tentunya lingkungan yang mengenalkan anak dalam beragama yang
pertama adalah orangtuanya. Anak yang dimaksud dalam penelitian ini,
adalah anak yang berusia 2-12 tahun.
4. Keluarga
Keluarga merupakan lingkungan yang terdekat untuk
membesarkan anak karena didalamnya anak mendapat pendidikan yang
pertama kali. Keluarga merupakan kelompok masyarakat terkecil akan
tetapi merupakan lingkungan yang paling kuat dalam membesarkan anak
terutama pada anak yang belum masuk pada pendidikan formal. Keluarga
sedangkan keluarga yang bermasalah akan berpengaruh negatif pada anak
(Sudarsono, 1995:125).
5. Single Parent
Single parent adalah orangtua satu-satunya (poerwodarminto, 1976:132). Orangtua satu-satunya dalam konteks ini adalah keluarga
dengan orangtua tunggal sehingga dalam mengasuh dan membesarkan
anak-anaknya sendiri tidak dengan bantuan pasanganya, karena istri/suami
mereka meninggal dunia atau sudah berpisah/cerai. Adapun yang menjadi
subyek dalam penelitian ini adalah keluarga single parent (janda/duda) di
Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga, tepatnya
di RT 03/RW 03 dan dikarena jumlah keluarga single parent di RT 03
tersebut sedikit (9) jiwa. Penulis hanya mengambil 8 keluarga saja dengan
prioritas yang mudah diajak komunikasi dan masih memiliki anak usia
tidak melebihi 12 tahun agar sesuai dengan orientasi dalam penelitian ini,
yaitu lebih menekankan pada pola pembinaan anak ( yang belum
menginjak remaja ) pada keluarga single parent. Sedangkan 1 keluarga
F.Metode Penelitian
Dalam suatu penelitian, metode mutlak diperlukan karena merupakan
cara yang teratur untuk mencapai suatu tujuan yang dimaksud. Metode ini
diperlukan guna mencapai tujuan yang sempurna dan memperoleh hasil secara
optimal.
1. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan lapangan (field research), dimaksudkan untuk mengetahui data responden secara langsung di
lapangan, yakni suatu penelitian yang bertujuan untuk mengetahui
mengenai studi mendalam mengenai suatu unit sosial, dalam hal ini adalah
keluarga single parent di Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo
Kota madya Salatiga.
Adapun jenis penelitian yang penulis gunakan dalam penelitian ini
adalah metode deskriptif kualitatif. Metode kualitatif merupakan suatu
prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata,
gambar dan bukan angka-angka. Dengan demikian, laporan peneliti
merupakan kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian
laporan tersebut. Data tersebut mungkin berasal dari naskah wawancara,
2. Kehadiran peneliti
Untuk memperoleh data yang dibutuhkan dalam penelitian maka
peneliti hadir secara langsung dilokasi penelitian sampai memperoleh
data-data yang diperlukan.
3. Lokasi penelitian
Penelitian ini dilakukan dilingkungan masyarakat Salatiga di
Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kota madya Salatiga tepatnya
peneilitan tentang keluarga Single Parent dilaksanakan di RT 03 RW 03.
4. Sumber Data
Data yang dikumpulkan meliputi berbagai macam data yang
berhubungan dengan pelaksanaan pembinaan keagamaan anak pada
keluarga single parent. Secara umum, data yang dikumpulkan teridri dari
data primer dan sekunder.
a. Data Primer
Data primer dan jenis data primer penelitian ini adalah kata-kata
dan tindakan subyek serta gambaran ekspresi, sikap dan pemahaman dari
subyek yang diteliti sebagai dasar utama melakukan interprestasi data.
yang dipandang mengetahui masalah yang akan dikaji dan bersedia
memberi data atau informasi yang diperlukan. Sedangkan untuk
pengambilam data dilakukan dengan bantuan catatan lapangan, dan
dengan bantuan rekaman suara handphone.Sementara itu observasi dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung segala aktivitas
di lingkungan masyarakat RT 03/ RW 03 Tegalrejo Kecamatan
Argomulyo Kotamadya Salatiga yang diperoleh berdasarkan wawancara
terhadap single parent yang menjadi subyek penelitian. b. Data Sekunder
Data sekunder adalah data atau informasi yang diperoleh dari
sumber-sumber lain selain data primer.diantaranya buku-buku literatur
yang berhubungan dengan internet, dokumen pribadi dan dokumen yang
terkait dengan penelitian ini serta data yang didapatkan dari anak,
keluarga/kerabat, dan tokoh masyarakat.
5. Prosedur Pengumpulan Data
Dalam rangka untuk memperoleh data, penulis menggunakan
metode pengumpulan data dalam memudahkan jalannya penelitian.
Adapun macam untuk mengumpulkan data adalah sebagai berikut:
a. Metode Observasi
Observasi adalah pengamatan dan pencatatan suatu objek dengan
atau berulang (sukandarrumidi, 2004:69). Metode ini penulis gunakan
sebagai alat bantu dalam penelitian.penulis mengadakan observasi ke
Tegalrejo, RT 03/ RW 03 Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga
khususnya melakukan observasi kerumah-rumah subyek dan lingkungan
keagamaan misalnya; keberadan masjid atau mushola, keberadaan TPA,
keberadaan TPQ, Selanjutnya penulis mencatat hasil observasi dengan
sistematik.
b. Metode wawancara
Metode wawancara adalah komunikasi dua arah antara
pewawancara dan terwawancara secara langsung (Yunus, 2010:357).
Wawancara mendalam digunakan dalam rangka untuk mengetahui
pembinaan keagamaan anak pada keluarga Sinlge Parent di Tegalrejo, RT 03/ RW 03 Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga yang
berjumlah sebanyak 8 keluarga. Dalam wawancara tersebut penulis
rekam dan ditulis ulang pada transkip wawancara. Sedangkan yang
menjadi objek interview ini adalah pejabat setempat, orangtua, anak dan
kerabat.
c. Dokumentasi
Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu.
dari seseorang (Sugiono, 2009:240). Metode ini penulis gunakan untuk
memperoleh data yang sudah tertulis dan terwujud dokumentasi. Seperti
halnya foto-foto kegiatan, materi dan profil maupun tujuan yang sudah
tertulis. Dalam hal ini adalah dokumen dari kelurahan, dokumen data
penduduk khususnya data penduduk di Tegalrejo, RT 03/RW 03
Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga.
6. Analisis data
Dalam analisis data, penulis menggunakan teknik analisis data
dengan menguraikan proses pelacakan dan pengaturan secara sistematis
transkip-transkip wawancara, catatan lapangan dan bahan-bahan lain agar
dapat menyajikan hasil penelitian.
7. Pengecekan Keabsahan Data
Untuk menetapkan keabsahan data memerlukan beberapa teknik
yang harus digunakan, dalam hal ini peneliti menggunakan teknik ”Trianggulasi”.
Teknik trianggulasi adalah pemeriksaan keabsahan data yang
memenfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan
pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Pada dasarnya ada
tiga macam tianggulasi: (1) Memanfaatkan penggunaan sumber, (2)
Dalam penelitian ini penulis hanya menggunakan Trianggulasi
sumber Yaitu membandingkan dan mengecek balik derajat kepercayaan
suatu data (informasi) yang diperoleh melalui sumber yang berbeda. Untuk
kepentingan ini dilakukan dengan cara membandingkan data hasil
wawancara dengan keluarga single parent dengan hasil observasi dan membandingkan data hasil wawancara bersama single parent dengan data hasil wawancara dengan anak, keluarga/kerabat dan tokoh masyarakat.
Pemeriksaan keabsahan data dilakukan atas kriteria-kriteria
tertentu. Kriteria itu terdiri atas derajat kepercayaan (credibility), kebergantungan (dependability), dan kepastian (confirmability) (Moleong, 2009:324).
G.Sistematika Penulisan Skripsi
Untuk memperoleh gambaran yang jelas tentang skripsi ini, maka
dibuat sistematika penulisan skripsi. Adapun wujud dari sistematika yang
dimaksud adalah:
BAB I: Pendahuluan Meliputi:
Latar Belakang Masalah, Rumusan masalah, Tujuan Penelitian,
kegunanaan Penelitian, Penegasan Istilah, Metode Penelitian dan Sistematika
penulisan skripsi.
Pola Pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent yang pembahasannya meliputi:
1) Pengertian pola pembinaan keagamaan anak dalam keluarga
single parent..
2) Faktor-faktor yang mempengaruhi pembinaan keagamaan anak
single parent.
BAB III: Paparan Data dan Temuan Penelitian
A. Paparan Data:
1) Letak geografis
2) Keadaan demografi
3) Keadaan pendidikan masyarakat
4) Keadaan sosial ekonomi.
5) Keadaan sosial keagamaan
6) Keadaan orangtua tunggal.
B.Temuan data tentang single parent dan profil informan.
C.Dasar pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent
D.Tujuan pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent
E.Materi pembinaan keagamaan
F. Cara dan sarana dalam pelaksanaan pembinaan keagamaan
G.Faktor-faktor penghambat dan pendukung serta solusi
A.Pola Pembinaan keagamaan anak dalam keluarga single parent B.Faktor-faktor pendukung dan penghambat serta solusi pembinaan
keagamaan anak dalam keluarga single parent
BAB V: Penutup, meliputi:
A.Kesimpulan.
B.Saran.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
C. Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single Parent
7. Pengertian Pola Pembinaan
Kamus besar bahasa indonesia mengartikan pola adalah model, sistem, metode, cara kerja, atau sesuatu yang diterima seseorang dan dipakai sebagai pedoman, sebagaimana diterimanya dari masyarakat sekelilingnya. Pola adalah bentuk atau model (atau, lebih abstrak, suatu peraturan) yang bisa dipakai untuk membuat menghasilkan suatu atau bagian dari sesuatu (Arifin, 2013:18).
Pola dapat diartikan sebagai model, cara, metode, atau sebuah sistem yang digunakan dalam suatu hal. Dalam lingkup ini pola yang dimaksud adalah model, metode atau cara yang digunakan masyarakat.
“Metode ialah istilah yang digunakan untuk mengungkapkan pengertian, cara
yang paling tepat dan cepat dalam melakukan sesuatu. Sehingga metode berarti cara yang paling tepat dan cepat, maka urutan kerja dalam suatu metode harus diperhitungkan benar-benar secara ilmuiah” (Tafsir, 2008:9).
Pembinaan dapat diartikan sebagai “pembangun atau usaha, tindakan, dan
kegiatan yang dilakukan secara efisien dan efektif untuk memperoleh hasil yang lebih baik” (Purwadarminta, 2004:19).Namun dalam “pembinaan seseorang tidak hanya
dibantu untuk memperoleh pengetahuan, tetapi bagaiamana pengetahuan itu dilaksanakan dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari” (Syafaat dan Sohari, 2008:153). Sehingga pembinaan adalah “meperbaiki moral yang telah rusak, atau
membina moral kembali dengan cara yang berbeda dari pada yang pernah dilaluinya dulu” (Daradjat, 1975:63).
Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa pola pembinaan adalah suatu usaha atau kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan apa yang sudah ada kepada yang lebih baik (sempurna) baik dengan melalui pemeliharaan dan bimbingan terhadap apa yang sudah ada (yang sudah dimiliki). Serta juga dengan mendapatkan hal yang belum dimilikinya yaitu pengetahuan dan kecakapan yang baru.
8. Keagamaan Anak a. Arti Agama
“Agama pada dasarnya diyakini berasal dari Tuhan yang diturunkan melalui
utusan-Nya untuk pedoman bagi umat manusia. Nilai kebenarannya bersifat absolut. Nilai agama yang sebenarnya adalah sekumpulan norma atau kaidah yang menyangkut seluruh aspek kehidupan manusia baik dalam hubungan Tuhan maupun hubungan antar manusia dan lingkungannya” (DEPAG, 2003:2).
pemeliharaan dan arahan untuk memperoleh pengetahuan dan kecakapan baru yang belum dimiliki. Sedangkan keagamaan adalah sifat-sifat yang berada di agama, segala sesuatu yang berada di agama.
Dalam pengarahan agama kepada anak diperlukan sebuah pembinaan sejak kecil agar mereka memperoleh pengalaman-pengalaman keagamaan sejak kecil agar kualiatas keimanan dan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa tetap terpelihara dengan baik, serta untuk meningkatkan kesadaran dan peran anak akan tangung jawab mereka ketika dihadapan Allah. “Menurut R.H. Thouless
memberikan definisi agama yaitu “religion is felt practical relationship with what
is believed in as a superhuman being or beings”. Agama adalah suatu hubungan
praktis yang dirasakan dengan apa yang diyakini sebagai dzat atau dzat-dzat yang serupa insani” (Islamiyah, 2013: 102).
“Keagamaan berasal dari kata agama yang berarti segenap kepercayaan terhadap Tuhan. Jadi, keagamaan adalah sifat-sifat yang terdapat di dalam agama” (syafaat dan Sohari, 2008:154). Karena “agama adalah kebutuhan jiwa
“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah
jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah
Maha mendengar lagi Maha mengetahui”.
“Pada umumnya agama seseorang ditentukan oleh pendidikan, pengalaman
dan latihan-latihan yang dilaluinya pada masa kecilnya dulu. Seseorang yang pada waktu kecilnya tidak pernah mendapatkan pendidikan agama, maka pada masa dewasanya nanti, ia tidak akan merasakan pentingnya agama dalam hidupnya. Lainhalnya dengan orang yang diwaktu kecilnya mempunyai pengalaman-pengalaman agama” (Daradjat, 1970:35). Karena “agama adalah aturan bagi umat manusia yang sudah ditentukan dan dikomunikasikan oleh Allah swt. melalui orang-orang pilihan-Nya yang dikenal sebagai utusan-utusan, rasul-rasul, atau nabi-nabi. Agama mengajarkan manusia untuk beriman kepada adanya keesaan, dan supremasi Allah yang Maha tinggi dan berserah diri secara spiritual, mental, dan fisikal kepada kehendak Allah, yakni peran Nabi yang membimbing kepada kehidupan dengan cara yang dijelaskan Allah” (Syafaat,
dalam hidup, menolong dalam menghadapi kesukaran, menenteramkan batin”
(Daradjat, 1995:56), dan “agama sebagai sarana untuk mengatasi ketakutan” (Islamiyah, 2013:21). Sebagaimana yang dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagai berikut:
“Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan
mengamankan
mereka dari ketakutan” (Q.S. Al-Quraisy:4).Agama mempunyai peranan yang sangat penting karena “agama sebagai sistem nilai harus dipahami dan diamalkan oleh setiap individu, keluarga, dan masyarakat sehingga menjiwai kehidupan berbangsa dan bernegara” (DEPAG,
2003:1). Untuk itu diperlukan pembinaan atau pendidikan agama bagi anak karena anak adalah generasi penerus bangsa. Dalam pembinaan atau pendidikan agama “haruslah dilakukan secara intensif, ilmu dan amal supaya dapat dirasakan
oleh si anak dalam kehidupan sebagai anak. karena apabila pendidikan agama diabaiakan atau diremehkan” (Daradjat, 1975:43) oleh orang tua maka anak
hendaknya mengisi dengan hal-hal yang baik sejak mereka masih kecil untuk membentuk karakter dan kepribadian anak yang berakhlak mulia.
Orang tua dapat mendidiknya sejak ia dilahirkan dengan memperdengarkan adzan dan iqomat ketika lahir dan memeberi pembelajaran dengan bacaan basmlah ketika akan melakukan sesuatu. Serta memberi pendidikan akhalak sejak dini.
b. Pengertian keberagamaan/Pengalaman Beragama
Istilah “pengalaman” ialah suatu pengethauan yang timbul bukan pertama -tama dari pikiran, melainkan teru-tama dari pergaulan yang praktis dengan dunia. Pergaulan tersebut bersifat langsung, intuitif dan efektif. Gejala agama terdapat pada manusia adalah gejala yang berisikan evaluatif. Keberagaman manusia tidak terlepas dari zaman serta kebudayaan. Pada kebudayaan kuno keberagamaan dianggap sebagai sesuatu yang biasa, spontan dan vital. Kehidupan sendirilah yang membuka pintu kearah religiusitas. Perlunya perngalaman religius dan bentuk bagaimanapun juga dapat disangkal. Dari lain pihak terdengar dari orang beriman sendiri bahwa pengalaman religius tidak mencukupi untuk mempertanggunggjawabkan iman mereka (Arifin, 2013:21).
lebih baik.sedangkan pengertian pengalaman berasal dari kata “amal” yang
artinya perbuatan (baik atau buruk) yang mendapat awalan pe- dan akhiran –an, yang berarti proses. Jadi pengalaman berarti proses perbuatan, melaksanakan, pelaksanaan, penerapan (KBBI, 1993:25)
Yang dimaksud dengan pengalaman keagamaan di sini adalah bagaimana mengamalkan atau mengaplikasikan ajaran-ajaran agama Islam dalam kehidupan sehari-hari seperti sholat, puasa, membaca dan meluis Al-Qur’an melalui sarana TPQ /TPA.
9. Pengertian Anak
Dilihat dari segi usia, seorang anak akan memilki tahapan-tahapan dalam perkembangan, dikatakan usia anak-anaka apabila mereka berusia 0-2 tahun, berusia 2-12 tahun dan ketika berusia 12-15 tahun.
Ketika anak berusia 0-2 tahun (bayi), anak belum mengalami atau belum “memiliki kesadaran dan daya intelektual. Ia hanya mampu menerima rangsangan
sering disebut juga fase tamyiz, yaitu fase dimana anak-anak mulai mampu membedakan antara yang baik dan yang buruk, benar dan salah, dan fase baligh atau tahap mukalaf” (Nata, 2010:175-176).
“Anak sebagai dambaan setiap orang tua di satu sisi, merupakan anugerah Allah tetapi di sisi lain, merupakan amanah. Orang tua dimintai pertanggung jawabnya” (Achmadi, 1992:90). Untuk itu orang tua “harus malakukan pembinaan
moral/mental agama, harus dilaksanakan terus-menerus sejak seseorang lahir sampai matinya, terutama sampai usia pertumbuhannya sempurna” (Daradjat, 1975:60).
“Al-Ghazali berpendapat bahwa anak dilahirkan dengan membawa fitrah yang seimbang dan sehat. Kedua orangtuanyalah yang memberikan agama kepada mereka. Demikian pula anak terpengaruh oleh sifat-sifat yang buruk. Ia mepelajari sifat-sifat buruk dari lingkungan yang dihidupinya, dari corak hidup yang memberikan peranan kepadanya dan dari kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya (Yusuf, 2001:10). Karena anak adalah seseorang “yang belum dewasa, yang memerlukan usaha, bantuan, bimbingan orang lain untuk menjadi dewasa, guna dapat melaksanakan tugasnya sebagai makhluk Tuhan, sebagi umat manusia, sebagai warga negara, sebagai anggota masyarakat dan sebagai suatu pribadi atau individu”
(Ahmadi dan Nur, 1991:251).“Individu adalah seseorang yang belum diketahui predikatnya sedangkan pribadi sudah mengalami predikat seseorang, baik mengenai sikap mental maupun perilakunya yang membedakannya dengan orang lain”
Untuk itu ketika memperlakukan anak harus dengan penuh kasih sayang, karena pada usia ini anak belum mengetahui pemahaman tentang konsep kehidupan beragama. Melalui kasih sayang orang tua diharapkan anak menaruh sikap percaya kepada orang tuanya, dengan pengaruh-pengaruh tersebut diharapkan anak akan sadar terhadap sikap beragama dengan sendirinya dan pada diri anak akan berkembang konsep bahwa agama itu adalah sesuatu yang menyenangkan. Karena anaka “memiliki kemampaun mengimitasi penampilan atau perbuatan orang lain,
dalam hal ini adalah orang tuanya” (Yusuf, 2001:162).
Untuk itu “orang tua harus memperhatikan pendidikan anak-anaknya, justru pendidikan yang diterima dari orang tualah yang akan menjadi dasar dari pembinaan kepribadian si anak. dengan kata lain orang tua jangan sampai membiarkan pertumbuhan si anak berjalan tanpa bimbingan, atau diserahkan kepada guru-guru disekolah saja. Inilah kekeliruan yang banyak terjadi dalam masyarakat kita”
(Daradjat, 1975:43). 10.Pengertian Keluarga
Keluarga merupakan kumpulan beberapa orang yang terikat oleh satu turunan, atau yang disebabkan oleh perkawinan antara seorang pria dengan seorang wanita yang bertujuan untuk memperoleh keturunan. Keluarga merupakan persatuan antara suami dan isteri dengan anak atau tanpa anak. tujuan dari berkeluarga adalah untuk memenuhi kebutuhan biologis, status sosial dan untuk mendidik anak serta untuk mencari nafkah. Fungsi dari keluarga adalah untuk memperoleh perlindungan dan pemeliharaan serta untuk pembinaan agama. Dalam pemeliharaan pada keluarga diperlukan pemenuhan kebutuhan jasmani yang berupa sandang, pangan dan papan, sedangkan untuk kebutuhan rohani yang berupa kasih, sayang, perhatian, bimbingan, binaan, dan pengertian harus dilakukan dalam sebuah keluarga untuk menciptakan keluarga yang harmonis.
Dalam kehidupan keluarga, yang menonjol adalah ketenangan dan kebahagiaan, disertai dengan pengertian dan kemampuan mendidik anak, serta menaati ajaran agama, maka bekal positif yang kuat dan sehat cukup banyak terdapat dalam kepribadian anak yang sedang tumbuh berkembang. Karena dari keluargalah anak didik pertama kali dalam membentuk kepribadian anak, dengan pembiasaan dan latihan-latihan bertingkah laku secara baik, serta percontohan yang dilakukan orang tua kepada anak. serta orang tuanya bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya karena “manusia yang bertanggung jawab ialah manusia yang
dapat mengatakan kepada diri sendiri bahwa tindakannya itu baik”(Poedjawijatna,
“Orang tua hendaklah dapat menjadi contoh yang baik dalam segala aspek kehidupannya bagi si anak, karena anak-anak, terutama dibawah 6 tahun, belum dapat memahami sesuatu pengertian (kata-kata) yang abstrak seperti benar, salah, baik dan buruk” (Daradjat, 1975:42). Untuk itu orang tua harus “mengenalkan
konsep-konsep atau nilai-nilai agama kepada anak melalui bahasa, seperti pada saat memberi makan atau menyusui, memandikan, membedaki, dan memakaikan pakaian kepada anak, bacakanlah basmallah pada saat memulainya, dan backanlah hamdalah pada ssat selesai. Pada saat menggendongnya atau meninabobokannya menjelah tidur, bacalah kalimah-kalimah toyyibah, takbir, dan tahlil” (Yusuf, 2001:162). Karena “keluarga merupakan penemuan sosial yang sebagian menangani persoalan merubah suatu organisme biologis menjadi manusia. Apa yang dilakukan keluarga dan bagaimana tindakannya, memberitahukan kita akan sumbangan atau ketegangan yang ditimbulkan oleh sifat-sifat pisik manusia jika kesemuanya itu ditekan dalam suatu corak” (Goode, 2007:22).
Keluarga adalah unit terkecil dari suatu masyarakat, sangat penting artinya dalam pembinaan masyarakat bangsa. Apabila keluarga hidup tenteram dan bahagia, maka dengan sendirinya masyarakat yang terdiri dari keluarga-keluarga yang berbahagia itu akan bahagia dan aman tenteram pula” (Daradjat, 1975:66). Karena “keluarga dibayangkan sebagai tempat yang mampu menyediakan kehangatan dan
keamanan itu maka ancaman dari luar harus diminimalkan” (Tony dkk, 1997:71).
harus dilalui manusia muda untuk memperoleh nilai-nilai dan pengetahuan mengenai kelompoknya dan belajar mengenai peran sosialnya yang cocok dengan kedudukannya di situ” (Goode, 2007:20).
11.Pengertian Single Parent
Single perent atau orang tua tunggal adalah keluarga yang terdiri dari pria atau wanita yang mungkin karena perceraian, berpisah, ditinggal meninggal dan memiliki anak. Sehingga dalam pengurusan anak tersebut dilakukannya seorang diri, baik dalam memenuhi kebutuhan jasmaninya maupun kebutuhan rohaninya. Untuk itu orang tua harus mampu membentuk kepribadian anak seoraqng diri dan orang tua harus bersikap jujur kepada anak tentang situasi dan kondisi yang menyebabkan ayah atau ibunya menjadi seorang diri dalam mengurusnya. Oleh karena itu orang tua hendaknya:
a. “Bersikap jujur kepada anak-anak anda mengenai situasi yang menyebabkan anda menjadi orang tua tunggal. Hal ini hanya da pat dilakukan dalam situasi yang khusus dengan sedapat mungkin menghadirkan eks pasangan anda, dan dalam suasana yang menyenangkan agar anak benar-benar memahami. Tidak ada gunanya memberikan peringatan yang seba menakutkan tentang bekas pasangan anda.
c. Jujurlah kepada diri sendiri karena hal itu akan menunjukkan kepada anak-anak bahwa menyatakan perasaan adalah suatu hal yang baik. Setelah mereka menyatakan perasaan, tindakan yang konstruktif harus dilakukan untuk menyelesaikan situasi. Penting harus disadari bahwa rasa marah, cemas, dan takut, merupakan reaksi yang berulang kali terjadi terhadap situasi tertentu. Tetapi jika perasaan semacam itu melanda berkepanjangan, bantuan secara profesional adalah cara pemecahan yang dianjurkan.
d. Sedapat mungkin usahakan memelihara keadaan dan lingkungan yang serupa karena hal ini akan memberikan rasa aman kepada anak-anak bahwa segala sesuatunya tidak berubah” (Balson, 1996:159-160.
Oleh karena itu, orang tua hendaknya memanfaatkan kesempatan untuk memberikan pembelajaran kepada anaknya dengan sebaik-baiknya, dan mendorong/memotivasi anak untuk berani menghadapi masa depan dengan kondisi yang berbeda pada saat ini. Serta orang tua harus mempersiapkan anak untuk mengahadapi peristiwa yang kan terjadi setelah orang tua mereka hanya seorang saja.
memanfaatkan situasi saperti ini sebagai kesempatan untuk mengembangkan rasa tanggung jawab dalam mengurus anak yang lebih besar.
12.Pola Pembinaan Keagamaan Anak Dalam Keluarga Single Parent
Metode keteladan sebagian ditulis oleh ( Darajat, 1970:89 ) pola yang cukup besar pengaruhnya dalam membina adalah cara pemberian contoh dan teladan. Orangtua memiliki kewajiban dalam membina keagamaan anaknya agar anak-anak tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang baik, tetapi sebagai orangtua yang mempunyai harapan besar terhadap anaknya dikehidupan mendatang baiknya orangtua mendidik dan membina keagamaan anak dengan cara pemberian contoh atau ketauladanan. Hal ini dikarenakananak-anak akan belajar melalui apa yang mereka lihat di kehidupan sehari-harinya. Apakah orangtua memiliki akhlak mulia, kedisiplinan dalam melakukan ibadah (sholat, puasa, membaca Al-Qur’an), cara berbicara dan bertingkah laku. Pola ini juga digambarkan pada QS:Al-Ahzab:21 Yaitu : “sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah”.
Pola menasihati sebagian ditulis oleh ( Munir, 2006:12 ) pola ini berisikan tentang nasihat dan petuah, bimbingan atau pengajaran, kisah-kisah, kabar gembira dan peringatan serta wasiat atau pesan-pesan positif.
saat nanti masih sangat jauh, sehingga tak terpikirkan oleh mereka. Anak-anak hidup untuk hari ini” (Biddulph, 2006 : 25 ).
Pola pembiasaan adalah cara orangtua dalam mendidik anak dengan membiasakanya sejak kecil seperti “anak di minta untuk membiasakan diri melakukan hal-hal berikut :
a.Memelihara, menyimpan, dan menggunakan sarana belajarnya dengan tertib.
b. Mematuhi kapan ia harus belajar, bermain, tidur siang, tidur malam, dan bangun pagi” (Syafei, 2006:43).
Pola hukuman adalah untuk mendidik anak agar mereka bertanggung jawab atas apa yang mereka lakukan serta untuk mendidik anak agar mereka disiplin. Disiplin adalah “mengarahkana anak agar mereka belajar mengenai hal-hal baik yang merupakan persiapan bagi masa dewasa, saat mereka bergantung pada disiplin diri”
(Rimm, 2003:47).
D. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembinaan Keagamaan Anak
1. Faktor Cara
anak-anak mereka masih asyik dengan dunia nya sendiri yaitu bermain dengan kesibukannya sendiri atau bermain dengan teman-temannya.Dalam hal ini, anak belum bisa membedakan mana hal yang baik dan man hal yang buruk oleh sebab itu peran orangtua sangat penting dalam memberikan pembinaan keagamaan sesuai dengan Al-Qur’an dan Al-Hadist. Pembinaan orangtua tua kepada anak-anaknya,Yaitu melalui pembinaan dengan cara keteladanan atau orangtua memberikan contoh-contoh keagamaan dalam hal intelektual dan ritualistik, dan beberapa cara pembinaan lainnya seperti : dengan cara perhatian, dengan cara pembiasaan, dengan cara hukuman.
kejiwaan anak yang pokok, anatara lain rasa kasih sayang, rasa amandan rasa diperhatikan.
2. Faktor Sarana
Sarana lembaga pendidikan,lembaga keagamaan dan masyarakat lingkungan sekitar sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Dalam hal sarana pendidikan keagamana adalah sekolah, lembaga keagamaan seperti masjid, TPA/TPQ, rumah-rumah ibadah.Pembinaan keagamaan seperti sholat,mengaji,khataman, berpuasa dan mempelajari tentang ilmu aqidah/akhlak, hal itu dapat diajarkan didalam lingkungan pendidikan keagamaan tersebut. Dalam hal ini, peran masyarakat sangat diperlukan sebagai sarana anak-anak single parent dalam melaksankan proses pembinaan keagamaan diluar lingkungan rumah dan orangtuanya. Masyarakat dan lingkungan sekitar berpengaruh terhadap perkembangan keagmaan anak, dimana mereka juga dituntut bersikap kooperatif dalam membantu pelaksanaan pembinaan anak-anak single parent disekitarnya.
BAB III
PAPARAN DATA DAN TEMUAN PENELITIAN
H.Gambaran Umum Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga
7. Letak Geografis
Tempat yang dijadikan sebagai lokasi penelitian ini adalah
Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga
merupakan salah satu bagian diwilayah Kotamadya Salatiga. Adapun batas
wilayah Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga
adalah sebagai berikut :
TABEL 3.1
Batas Wilayah Kelurahan Tegalrejo
NO NAMA ARAH MATA ANGIN NAMA KELURAHAN
1. Sebelah Utara : Kelurahan Kalicacing 2. Sebelah Selatan : Kelurahan Kumpulrejo
3. Sebelah Timur : Kelurahan Mangunsari
4. Sebelah Barat : Kelurahan Ledok
Luas keseluruhan Kelurahan Tegalrejo kecamatan Argomulyo kotamadya
Salatiga adalah 188.430 Ha. Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo
memiliki 56 RT dan 9 RW.
Wilayah Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya
Salatiga. Berdasarkan data kependudukan yang ada di Kelurahan Tegalrejo
Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga tahun 2015, secara keseluruhan
masyarakat Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya
Salatiga berjumlah 12.288 jiwa, dan berjumlah 3.946 KK (Kepala
Keluarga)yang dapat dirinci seperti dalam tabelberikut ini :
TABEL 3.2 Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.
Jumlah pendudukKelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo
Kotamadya Salatiga, dapat dirinci sebagai berikut:
Adapun tabel tentang keadaan penduduk berdasarkan komposisi umur di
wilayah Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga
TABEL 3.4 Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.
9. Keadaan Pendidikan Masyarakat
Untuk mencapai salah satu perjuangan bangsa indonesia yaitu
terwujudnya suatu bangssa yang adil dan makmur, materiil dan spiritual,
dapat dicapai melalui jalan pendidikan. Sebab tingkat pendidikan sangat
berpengaruh pada pola berpikir serta bertindak seseorang, dan tingkat
pendidikan dapat mencerminkan kepekaan dan tingkat toleransi manusia
terhadap informasi dan penetrasi nilai-nilai modern. Adapun perincian
pendidikan masyarakat Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo
Kotamadya Salatiga adalah sebagai berikut :
2. Tidak tamat SD/Sederajat 1225 Jiwa
3. Tamat SD 1245 Jiwa Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.
Dengan melihat data diatas dapat diketahui bahwa tingkat
pendidikan Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo kotamadya
Salatiga paling banyak adalah tingkat SLTA sebanyak 4.210 Jiwa.
Sebagian besar penduduk Kelurahan Tegalrejo Kecamatan
Argomulyo kotamadya Salatiga memiliki mata pencaharian sebagai
karyawan swasta dan buruh harian lepas, disamping itu ada juga sebagian
penduduk yang berpencaharian TNI, PNS, POLRI, Pedagang, Guru, Dosen
dan Wiraswasta. Untuk lebih jelasnya mengenai pekerjaan penduduk
Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo kotamadya Salatiga dapat
dilihat pada tabel dibawah ini :
TABEL 3.6
JENIS PEKERJAAN PENDUDUK KELURAHAN TEGALREJO KECAMATAN ARGOMULYO KOTAMADYA SALATIGA
NO. JENIS PEKERJAAN JUMLAH
1. Belum/tidak bekerja 2.275 Jiwa
2. Mengurus rumah tangga 1.590 Jiwa
3. Pelajar/Mahasiswa 2.443 Jiwa
14. Karyawan Swasta 2.044 Jiwa
21. Pembantu rumah tangga 28 Jiwa
39. Anggota DPRD Kabupaten/Kota 1 Jiwa
40. Dosen 44 Jiwa Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.
Dari data yang diperoleh serta didukung pengamatan selama
mengadakan observasi di lapangan dapat dikatakn bahwa mayoritas
penduduk Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga.
Adalah beragama islam yaitu, sebanyak 8.809 jiwa. Untuk lebih jelasnya
mengenai keadaan sosial keagamaan dan jumlah pemeluknya dapat dilihat
pada tabel dibawah ini : Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulto Kota Salatiga Bulan Januari 2015.
*Sumber di olah dari Data Lembaga/Organisasi Keagamaan.
Secara umum keadaan fisik bangunan tempat ibadah yang ada di
baik dan cukup permanen. Rata-rata bangunan fisik tempat ibadah di
Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga lebih baik
daripada rumah penduduk pada umumnya. Hal ini setidaknya merupakan
indikasi bahwa perhatian mereka terhadfap masalah keagamaan cukup besar
dan baik.
12. Keadaan Orang tua tunggal
Berkaitan dengan topik yang diambil oleh peneliti, perlu juga
diketahui jumlah single parent atau orangtua tunggal di RT 03/RW 03 Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga. Jumlah
single parent dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 3.9
Jumlah Single Parent di RT 03/RW 03 Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga
No. Keterangan Jumlah
1. Jumlah Kepala Keluarga 360 KK
2. Jumlah Janda 7 Jiwa
3. Jumlah Duda 2 Jiwa
*Sumber di olah dari Data Kependudukan Dan Pencatatan Sipil Kelurahan Tegalrejo- Kecamatan Argomulyo Kota Salatiga Bulan Januari 2015.
Berdasarkan tabel diatas dapat diketahui jumlah orangtua tunggal di
RT 03/RW 03 Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya
Salatiga jumlah janda lebih banyak daripada jumlah duda.
Single parent adalah orangtua satu-satunya (Poerwodarminto, 1976:132). Yaitu keluarga dengan orangtua tunggal, baik itu tanpa ayah
maupun tanpa ibu. Karena pada dasarnya kategori single parentmeliputi janda ataupun duda baik karena kematian maupun perceraian. Dalam hal ini baik
seorang ibu maupun seorang ayah single parentmemiliki peran ganda, yaitu jika seorang ibu maka mempunyai peran ganda yaitu sebagai ibu sekaligus
sebagai seorang ayah, dan sebaliknya peran seorang ayah single parentberperan sebagai ayah dan seorang ibu bagi anak-anaknya.
Keluargasingle parentyang penulis akan teliti adalah 6 orang Janda dan 2 orang duda . Yaitu keluarga single parentyang memiliki peran sebagai ibu sekaligus seorang ayah untuk anak-anaknya. Yang berdomisili di RT 03/ RW
03, Kelurahan Tegalrejo Kecamatan Argomulyo Kotamadya Salatiga yang
diwakili oleh 8 keluarga single parent Keluarga tersebut mewakili dari usia 6-12 tahun dan dilihat dari keluarga dengan jenjang ekonomi menengah kebawah
dan menengah ke atas. Keluarga single parenttersebut itu adalah keluarga Ibu YN dengan seorang anak perempuan bernama DW ( 10 Tahun), keluarga ibu
KM dengan seorang anak laki-laki bernama FB ( 7 Tahun), keluarga ibu MY
dengan seorang anak laki-laki bernama AG (9 Tahun), keluarga ibu AG dengan
seorang anak laki-laki (14 tahun) dan perempuan bernama EG (9 Tahun),
keluarga ibu GL dengan anak laki-laki bernama ND (7 Tahun), keluarga bapak
laki-laki bernama HD (11 Tahun), dan keluarga ibu RN dengan anak bernama
RH (11 Tahun) dan RF (8 Tahun).Adapun profil dari keluarga tersebut:
1. Ibu YN
Nama lengkapnya Ibu YNB. Merupakan anak bungsu dari 4
bersaudara. Lahir 35 tahun yang lalu di desa tegalrejo. Kedua orang tuanya
tinggal bersama dengan Ibu YN yaitu ibu SN dan seorang saudara
laki-lakinya Bapak SH dan keluarganya. Pada tahun 2004 ibu YN menikah
dengan seorang laki-laki yang bernama Bapak HY. Dari pernikahan tersebut
Ibu YN dikaruniai seorang anak perempuan yang cantik yang diberi nama
DWH yang biasa dipanggil DW sekarang telah berumur 10 tahun.
Ibu YN menjadi single parent2 tahun yang lalu ketika DW berusia 8 tahun. Suami ibu YN pada waktu itu selingkuh dengan wanita lain. Suami
ibu YN adalah seorang pegawai swasta. Dan ibu YN mengetahui
perselingkuhan itu ternyata dengan teman sekantor dengan suaminya
tersebut. Sejak ketahuan suaminya selingkuh, rumah tangga ibu YN sering
diwarnai dengan ketidakcocokan dan pertengkaran. Berdasarkan pengakuan
dari ibu YN.
mba. Saya juga masih sanggup membiayai anak saya sendiri mba,”
(wawancara dengan Ibu Yeni, tanggal 6 Februari 201 .)
Akhirnya Bapak HY menuruti kemauan istrinya itu dan
menceraikannya. Sekarang Bapak HY menikah dan tinggal bersama dengan
istri barunya.
Ibu YN adalah seorang single parentyang cukup sukses. Ibu YN memiliki toko pakaian dipasar tegalrejo dan juga mempunyai warung yang
menyediakan kebutuhan sehari-hari didepan rumahnya. Sebagai seorang
single parent, Ibu YN tidak mau terlalu membebani orang tuanya, apalagi usia Ibu YN masih terhitung muda, maka Ibu YN akan bekerja sesuai
dengan kemampuannya. Walaupun tinggal dengan orang tua dan
saudaranya. Ibu YN berusaha untuk tidak menggantungkan hidup pada
mereka. Alasan kenapa Ibu YN masih tinggal bersama orang tuanya karena
dengan status janda yang melekat pada diri Ibu YN setidaknya menghindari
pembicaraan-pembicaraan miring tentang status janda tersebut. Apalagi
umur Ibu YN yang masih muda tidak bisa lepas dari lirikan laki-laki nakal,
walaupun dikatakan trauma tapi tidak menutup kemungkinan untuk
menikah lagi, ujar ibu YN.
“ya kalau masalah itu belum kepikiran mba, tapi setidaknya saya juga msih butuh seseorang yang bisa saya jadikan sandaran mba,dengan status saya yang seperti ini mba,tapi untuk saat ini saya mau focus dengan anak dulu mba, jika Allah masih memberikan jodoh kepada saya ya bisa
Anak Ibu YN yang bernama DW sekarang ini sekolah kelas 4 SD di
SD N 3 Tegalrejo. DW merupakan anak yang yang berparas cantik
merupakan anak yang penurut dan juga anak yang pintar. Ibu YN sangat
menyayangi anak satu-satunya, maka dari itu Ibu YN sangat memperhatikan
langsung pertumbuhan dan perkembangan anakya tersebut. Sejak kecil DW
sudah diajarkan untuk mandiri dan membantu ibunya ataupun neneknya,
sesuai kemampuan yang bisa DW lakukan, seperti setelah sepulang sekolah
DW membantu nenek menjaga toko Didepan rumahnya sambil belajar,
setelah sore Ibu YN mengantar DW untuk ngaji di TPA dimasjid dekat
rumag Ibu YN. Ibu YN selalu mengingatkan anaknya tersebut tentang
disiplin untuk selalu menjalankan kewajibanya yaitu belajar dan mengaji
agar kelak dimasa depan mempunyai bekal baik ilmu umum maupun agama,
serta menjadi anak yang berbudi pekerti baik.
Sebagai seorang ibusingle parentserta dengan perpisahan yang belum lama itu membuat DW selalu bertanya tentang Bapaknya, mungkin
bagi Ibu YN belum saatnya memberitahukan kepada DW hal yang membuat
orang tuanya berpisah, karena Ibu YN takut jika hal itu akan berpengaruh
kepada perkembangan psikologi DW mungkin ketika DW sudah bisa
memahami Ibu YN akan memberitahukan kepada DW. Dengan peran ganda
yang harus dilakukan oleh Ibu YN maka oleh Ibu YN selalu mengajak DW