NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TRADISI SAPARAN DI DUKUH WARAK KELURAHAN DUKUH KECAMATAN
SIDOMUKTI SALATIGA TAHUN 2017
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan
Oleh :
FIA NUR RAHAYU NIM: 111-14-070
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN
MOTTO
ِكاَسَمْلاَو ىَماَتَيْلاَو ىَبْرُقْلا يِذِبَو ًاناَسْحِإ ِنْيَدِلاَوْلاِبَو ًائْيَش ِهِب ْاوُكِرْشُت َلاَو َهّللا ْاوُدُبْعاَو
ِراَجْلاَو ِني
لا َّنِإ ْمُكُناَمْيَأ ْتَكَلَم اَمَو ِليِبَّسلا ِنْباَو ِبنَجلاِب ِبِحاَّصلاَو ِبُنُجْلا ِراَجْلاَو ىَبْرُقْلا يِذ
َلا َهّل
ًاروُخَف ًلااَتْخُم َناَك نَم ُّبِحُي
“Sembahlah Allah danjanganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karibkerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Q.S. An-Nisa :36)
PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk:
1. Bapak Ibuku yang tercinta Bapak Ahmad (alm) dan Ibu Rahyuni yang
selalu memberi nasihat, kasih sayang, bimbingan dan do’a yang tak pernah
putus untuk anak-anaknya.
2. Kakakku tersayang mbak Nafisatuz Zumroh dan suaminya mas Miftahul
Qomari yang selalu memberikan dorongan motivasi dan nasehat yang
membangun.
3. Segenap keluarga besar yang selalu memberikan motivasi dan teguran
KATA PENGANTAR
Segenap puji syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT
yang dengan rahmat, taufiq, dan hidayahNya, skripsi dengan judul Nilai-Nilai
Pendidikan Saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti
Salatiga Tahun 2017 ini bisa terselesaikan.
Shalawat serta salam penulis haturkan kepada baginda Rasulullah
Muhammad SAW, manusia inspiratif penuh keteladanan yang senantiasa
dinantikan syafa’atnya di hari kiamat. Tidak lupa shalawat dan salam juga
disampaikan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang senantiasa
istikomah di jalan kebaikan.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan selesai tanpa
motivasi, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karenanya, penulis
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam
penyelesaian skripsi ini. Secara khusus, penulis juga menyampaikan terima kasih
kepada:
1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga.
2. Bapak Suwardi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
IAIN Salatiga.
3. Ibu Hj. Siti Rukhayati, M.Ag., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama
4. Bapak Prof. Dr. H. Budihardjo, M.Ag., selaku pembimbing yang telah
meluangkan waktunya untuk mengarahkan dan membimbing penulis dalam
proses penulisan skripsi ini.
5. Bapak Drs. H. Nasafi, M.Pd.I., selaku dosen pembimbing akademik penulis
yang dengan kesabarannya, membimbing penulis dari waktu ke waktu.
6. Bapak dan Ibu dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah memberikan
ilmu, semangat, dan inspirasinya kepada penulis.
7. Teman-teman IMADISA, tetaplah semangat dalam nafas perjuangan.
8. Teman-teman PAI angkatan 2014 khususnya kelas B. Merekalah teman
dalam merintis perjuangan ini dan telah memberi motivasi dalam penulisan
ini.
9. Teman inspiratif di masa senang dan sedih yang senantiasa memberikan
semangat kepada penulis.
10. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu oleh penulis. Terima
kasih atas dorongan, semangat, motivasi, dan inspirasinya.
Terima kasih atas kebersamaan selama ini, penulis hanya bisa turut do’a
semoga Allah Swt meridloi setiap langkah dan mencatatnya sebagai amal sholeh.
Jazakumullahu bi ahsanil jaza’.
Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari
kesempurnaan dan masih banyak kekurangan, baik secara substantif ataupun
teknis. Oleh karenanya, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua
skripsi ini bisa memberikan manfaat kepada pembaca semua khususnya kepada
pribadi penulis.
Salatiga, 15 September 2018
ABSTRAK
Rahayu, Fia Nur. 2018. The Values of Character Education in the Saparan Tradition in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga, 2017. Thesis. Islamic Education Department. Faculty of Tarbiyah and Teacher Training. Salatiga State Islamic Institute. Supervisor; Prof. Dr. H. Budihardjo,M.Ag.
Keywords: Character Education Values, and Saparan Traditions.
In the human lives, there is behaviour, customs, culture and traditions that are different from the other. Tradition is a habit and values that are passed on from one generation to the next generation. In the tradition usually uses principles and values that can be used as learning and knowledge. The values of tradition will have a positive influence on people who apply well in human lives. In the implementation of tradition, there is special ritual or ceremonies performed by the local community. The ritual contains the meaning and values of the character education that are still obeyed and lived by certain communities. One of them is the traditional of tradition in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga.
The tradition of saparan in Warak Hamlet is a form of gratitude and respect for the ancestors. The formulation of the problem in this study are: 1) What is the meaning of the tradition of saparan in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga?; 2) How is the traditional procession in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga?; 3) What are the values of character education contained in the tradition of saparan in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga?
ABSTRAK
Rahayu, Fia Nur. 2018. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga Tahun 2017. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Dosen Pembimbing; Prof. Dr. H. Budihardjo, M.Ag.
Kata Kunci: Nilai-Nilai Pendidikan Karakter, dan Tradisi Saparan.
Dalam kehidupan masyarakat, terdapat kebiasaan, adat-istiadat, budaya, dan tradisi yang berbeda satu dengan lainnya. Tradisi merupakan kebiasaan dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di dalam tradisi biasanya mengandung serangkaian unsur kebiasaan dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pembelajaran dan pengetahuan. Nilai-nilai pada suatu tradisi akan memberikan dampak positif bagi masyarakat apabila diterapkan dengan baik dalam kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaan tradisi tentu ada ritual atau upacara khusus yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat. Ritual tersebut mengandung makna serta nilai-nilai pendidikan karakter yang sampai sekarang masih dipatuhi dan dijalani oleh masyarakat tertentu. Salah satunya tradisi saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga.
Tradisi saparan di Dukuh Warak merupakan wujud rasa syukur serta penghormatan para leluhur. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Apa makna tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga?; 2) Bagaimana prosesi tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga?; 3) Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga?.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ii
PENGESAHAN KELULUSAN iii
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN iv
MOTTO DAN PERSEMBAHAN v
KATA PENGANTAR vi
ABSTRAK ix
DAFTAR ISI x
DAFTAR TABEL xiii
DAFTAR LAMPIRAN xiv
BAB I PENDAHULUAN 1
A. Latar Belakang Masalah 1
B. Fokus Penelitian 4
C. Tujuan Penelitian 4
D. Manfaat Penelitian 5
E. Penegasan Istilah 5
F. SistematikaPenulisan 7
BAB II KAJIAN PUSTAKA 9
A. Landasan Teori 9
B. Kajian Pustaka 33
A. Jenis Penelitian 37
B. Lokasi Penelitian 37
C. Sumber Data 38
D. Prosedur Pengumpulan Data 38
E. Analisis Data 39
F. Pengecekan Keabsahan Data 41
BAB IV PAPARAN DAN ANALISIS DATA 43
A. Paparan Data 43
1. Gambaran Umum 43
a. Visi dan Misi 43
b. Letak Geografis 44
c. Keadaan Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 44
d. Keadaan Penduduk Berdasarkan Pendidikan 45
e. Keadaan Penduduk Berdasarkan Pekerjaan 46
f. Keadaan Penduduk Berdasarkan Agama 47
g. Sarana dan Prasarana 48
2. Temuan Data 49
B. Analisis Data 65
1. Makna tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan
Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga 65
2. Prosesi tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan
Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga 67
tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh,
Kecamatan Sidomukti, Salatiga 71
BAB V PENUTUP 77
A. Kesimpulan 77
B. Saran 77
DAFTAR PUSTAKA 79
LAMPIRAN-LAMPIRAN
DAFTAR TABEL
Tabel 1 : Nilai-nilai karakter program Penguatan Pendidikan
Karakter (PPK) versi (Mendikbud) Muhadjir Effendy 30
Tabel 2 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 45
Tabel 3 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan 45
Tabel 4 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan 46
Tabel 5 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama 48
DAFTAR LAMPIRAN
1. Nota Pembimbing Skripsi
2. Surat Keterangan Melakukan Penelitian
3. Daftar SKK (Surat Keterangan Kegiatan)
4. Lembar Konsultasi
5. Pedoman Wawancara
6. Hasil Wawancara
7. Triangulasi Data
8. Dokumentasi
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia karena pada
dasarnya manusia lahir dalam keadaan tidak berdaya. Allah SWT telah
memberikan potensi-potensi kepada manusia untuk digali, dimanfaatkan,
dan dikembangkan agar menjadi manusia yang berkualitas sehingga
tercipta generasi penerus bangsa yang bermartabat.
Pendidikan dipahami sebagai suatu proses internalisasi budaya ke
dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan
masyarakat menjadi beradap (Muslich, 2011:75).Di samping itu, Syahidin
mengemukakan bahwa pendidikan sebagai institusi sosial memiliki fungsi
sebagai proses perubahan sosial yang mampu mengakomodir karakter
sosial yang dimiliki masyarakat, yang bukan sekedar transfer informasi
tentang ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didiknya,
melainkan suatu proses pembentukan karakter yang memiliki tiga misi
utama yaitu; pewarisan pengetahuan (transfer of knowledge), pewarisan
budaya (transfer of culture), dan pewarisan nilai (transfer of value). Oleh
karena itu, pendidikan dipahami sebagai proses transformasi nilai-nilai
dalam rangka membentuk kepribadian individu (Nugroho,
memprihatinkan, banyak sekali kasus kekerasan, bullying, menyontek,
bahkan tindakan asusila menjadi suatu hal yang dianggap biasa.
Sehubungan dengan itu, karakter dimaknai sebagai nilai-nilai yang
unik-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berkehidupan
baik) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.
Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah
rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang (Mulyasa,
2014: 235). Karakter tidak selamanya mencerminkan perilaku baik, karena
setiap orang memiliki cara pandang dan kebiasaan hidup yang
berbeda-beda. Dibutuhkan waktu yang lama untuk membangun karakter dan harus
dilakukan secara berkesinambungan.
Pendidikan karakter harus berkelanjutan dan tak pernah berakhir
guna menyiapkan generasi bangsa yang berkualitas. Pendidikan karakter
berkaitan tentangbagaimana menanamkan kebiasaan tentang hal-hal baik
dalam kehidupan, sehingga seseorang memiliki kesadaran, kepekaan,
pemahaman, kepedulian, serta komitmen untuk menerapkan kebajikan
dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman kebiasaan itu tidak hanya
dilakukan dalam lingkungan sekolah saja, lingkungan keluarga dan
masyarakat juga memiliki andil yang cukup besar.
Dalam kehidupan masyarakat, terdapat kebiasaan, adat-istiadat,
budaya, dan tradisi yang berbeda satu dengan lainnya. Tradisi merupakan
kebiasaan dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada
unsur kebiasaan dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pembelajaran dan
pengetahuan. Nilai-nilai pada suatu tradisi akan memberikan dampak
positif bagi masyarakat apabila diterapkan dengan baik dalam kehidupan
masyarakat. Dalam pelaksanaan tradisi tentu ada ritual atau upacara
khusus yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat.Dari kebiasaan
itulah kemudian tercipta suatu sikap atau perilaku yang semakin lama akan
membentuk suatu karakter.
Di Jawa tengah khususnya di Salatiga terdapat beragam tradisi,
salah satunya tradisi saparan. Namun hanya beberapa daerah yang masih
melestarikan tradisi saparan, seperti masyarakat di Dukuh Warak
Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga. Saparan berasal dari
kata “Sapar” yang merupakan nama bulan kedua dalam penanggalan
Jawa. Oleh sebab itu, saparan hanya dilakukan sekali dalam setahun yaitu
pada bulan Sapar. Hari pelaksaan saparan ditentukan dari kesepakan
masyarakat menurut pasaran jawa yaitu pada Jum’at wage.
Rangkaian upacara atau ritual tradisi saparan di Dukuh Warak
diantaranya kerja bakti, besik (bersih) kubur, dandan kali, penggantian
pagar pundhen (sebuah petilasan yang dianggap keramat), kirab budaya, kenduri dan do’a bersama, serta penampilan kesenian reog dan wayang.
Ketika kenduri, masyarakat membawa nasi beserta ubo rampene
(pelengkap). Yang tidak boleh ketinggalan ialah iwak (ikan) kuthuk dan
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penulis
tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai nilai-nilai
pendidikan karakter dalam tradisi Saparan di Dukuh Warak Kelurahan
Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga dan menuangkan hasil penelitian
tersebut dalam sebuah karya tulis ilmiah yang berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga Tahun 2017”.
B. Fokus Penelitian
1. Apa makna tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh,
Kecamatan Sidomukti, Salatiga?
2. Bagaimana prosesi tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh,
Kecamatan Sidomukti, Salatiga?
3. Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi
saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti,
Salatiga?
C. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk:
1. Untuk mengetahui makna tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan
Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga.
2. Untuk mengetahui prosesi tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan
3. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung
dalam tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan
Sidomukti, Salatiga.
D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat sebagai
berikut:
1. Manfaat teoritis
a. Sebagai sumbangan karya ilmiah bagi perkembangan ilmu
pengetahuan bagi masyarakat khususnya bagi golongan akademis.
b. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan rujukan untuk
memperdalam keilmuan di bidang pendidikan khususnya
pendidikan sosial dan budaya.
2. Manfaat praktis
a. Diharapkan masyarakat dapat memperoleh pemahaman mengenai
makna yang terkandung pada setiap prosesi upacara tradisi saparan
sehingga dapat menumbuhkan sikap dan karakter positif.
b. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan
dan pengalaman tentang pentingnya tradisi saparan dalam menjaga
kearifan dan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.
E. Penegasan Istilah
Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami judul penelitian
di atas, penulis akan menjelaskan arti istilah-istilah tersebut sebagai
1. Nilai
Nilai merupakan kualitas suatu hal yang menjadikan suatu hal itu
dapat disukai, diinginkan, berguna, dihargai, dan dapat menjadi objek
kepentingan (Sjarkawi, 2009: 29).Nilai juga diartikan sebagai
sifat-sifat penting dan berguna bagi kemanusiaan. Sesuatu yang dianggap
bernilai sudah pasti akan hal tersebut akan dianggap lebih berharga
dari hal-hal lainnya. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang
dibekali dengan akal yang luar biasa hebat, maka sudah menjadi hal
yang wajar sekali jika manusia akan memilih sesuatu yang lebih
berharga atau bernilai untuk kehidupannya (Poerdaminta, 2006: 677).
2. Pendidikan Karakter
Pendidikan menurut Hamalik (2003:79) didefinisikan sebagai
proses perubahan tingkah laku seseorang melalui serangkaian proses.
Sedangkankarakter menurut Suyanto yang dikutip dari Muslich
(2011:70) diartikan sebagai cara berfikir dan berperilaku yang menjadi
ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam
lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi, pendidikan
karakter merupakan proses perubahan tingkah laku individu yang
menjadi ciri khas dari individu tersebut.
3. Tradisi Saparan
Mujib (2006:42) mengatakan bahwa tradisi atau ‘urf/adat adalah
kebiasaan masyarakat, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang
tersendiri, sehingga jiwa merasa tenang dalam melakukannya karena
sejalan dengan akal dan diterima oleh tabiat yang sejahtera.
Tradisi saparan merupakan sebuah ritual untuk menolak balak yang
sudah menjadi kebiasaan rutin di masyarakat. Tradisi ini dianggap
sangat penting oleh masyarakat, khususnya masyarakat jawa karena
mereka percaya bahwa tradisi saparan merupakan warisan
turun-temurun dari nenek moyang. sesuai namanya, tradisi saparan
dilaksanakan pada bulan Sapar (bulan jawa) yang menurut sejarah
merupakan ungkapan rasa syukur terhadap desa agar senantiasa
makmur dan sejahtera, juga untuk mengirim do’a kepada nenek
moyang serta keluarga mereka yang telah meninggal dunia.
F. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan skripsi ini dipakai sebagai aturan yang saling
terkait dan saling melengkapi, adapun sistematika penulisan tersebut
sebagai berikut:
BAB IPendahuluan, menjelaskan secara umum tentang arah penelitian
yang dilakukan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah,
tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, serta sistematika
penulisan.
BAB IIKajian Pustaka, menjelaskan tentang landasan teori dari nilai
pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi saparan di Dukuh
BAB IIIMetode Penelitian, menjelaskan mengenai jenis penelitian
yang dilakukan, lokasi dan waktu penelitian, sumber data, prosedur
pengumpulan data, analisis data, dan pengecekan keabsahan data terkait
tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti,
Salatiga.
BAB IVPaparan dan Analisis Data, membahas paparan dan analisis
data tentang makna, prosesi, dan nilai-nilai pendidikan karakter yang
terkandung dalam tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh,
Kecamatan Sidomukti, Salatiga.
BAB VPenutup, pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan dan saran
sebagai bahan masukan dalam tradisi saparan di Dukuh Warak dan
nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalamnya.
Diakhiri dengan daftar pustaka, dan lampiran-lampiran lain yang
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A. Landasan Teori
1. Nilai Pendidikan Karakter a. Nilai
Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan
kualitas, dan berguna bagi manusia (Koentjaraningrat, 2004: 12).
Nilai diartikan sebagai kumpulan dari ukuran-ukuran, orientasi,
dan teladan luhur yang selaras dengan akidah yang diyakini
seseorang dan tidak bertentangan dengan perilaku masyarakat,
dimana ukuran-ukuran itu menjadi moral bagi seseorang yang
tercermin dalam perilaku, aktivitas, usaha, dan
pengalaman-pengalamannya, baik secara eksplisit maupun implisit (Murshafi,
2006: 96).
Dari pengertian nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai
merupakan sesuatu yang berharga dan diyakini oleh masyarakat
serta tidak bertentangan dengan nilai yang telah disepakati oleh
masyarakat tersebut, dimana nilai itu tercermin dari perilaku
sehari-hari.
Pada hakikatnya, segala sesuatu itu bernilai, hanya saja
yang membedakan adalah macam-macam nilai serta bagaimana
pendapat mengenai penggolongan nilai, diantaranya pendapat
Notonegoro (dalam Herimanto dan Winarno, 2016: 128) yang
membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu:
1) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani
manusia.
2) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia
untuk dapat melakukan aktivitas atau kegiatan.
3) Nilai kerohanian, dibedakan menjadi empat macam, yaitu:
a) Nilai kebenaran yang bersumber pada akal pikir manusia
(rasio, budi, cipta).
b) Nilai estetik (keindahan) yang bersumber pada rasa
manusia.
c) Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada
kehendak keras, karsa hati, dan nurani manusia.
d) Nilai religius (ketuhanan) yang bersifat mutlak dan
bersumber pada keyakinan manusia.
Sementara itu, Sjarkawi (2009: 31) membagi sifat-sifat nilai
dalam kehidupan manusia adalah sebagai berikut:
1) Nilai sebagai suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan
manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal
yang dapat diamati hanya objek yang bernilai. Misalnya, orang
yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai, tetapi tidak
2) Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung
harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki
sifat ideal. Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai
landasan manusia dalam bertindak. Misalnya, nilai keadilan.
Semua orang berharap, mendapatkan, dan berperilaku yang
mencerminkan nilai keadilan.
3) Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia
sebagai pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan
didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya, nilai
ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang
terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.
Nilai merupakan bagian penting dalam kebudayaan. Suatu
tindakan dianggap sah dan diterima secara moral jika selaras
dengan nilai-nilai yang disepakati oleh masyarakat tersebut. Nilai
akan senantiasa berubah mengikuti kehidupan masyarakat yang
terus berkembang. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang telah
sampai pada masyarakat pedesaan, membuat pergeseran nilai
semakin merambat cepat.
b. Pendidikan Karakter
Pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:
263) merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang
atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tercantum
pengertian pendidikan:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Suwarno, 2006: 21-22).
Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak hanya
bertujuan membentuk peserta didik untuk pandai, pintar,
berpengetahuan, dan cerdas tetapi juga berorientasi untuk
membentuk manusia berbudi luhur, berpribadi, dan bersusila. Oleh
karena itu, pendidikan juga harus memperhatikan kebudayaan
sebagai hasil budi daya cipta, rasa, dan karsa manusia karena
kebudayaan merangkum berbagai hasil karya luhur manusia
tersebut (Wibowo, 2012: 18).
Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu
pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yaitu sebagai sarana
pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi).
Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi
dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal
paling mendasar, yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas
keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur
serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang
menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan
dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada
kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan
praktis, dan kompetensi kinestetik (Muslich, 2011: 69).
Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan
bukan hanya sebatas sarana transfer ilmu, tetapi lebih dari itu yaitu
sebagai proses pengubahan perilaku individu ke arah yang lebih
baik. Proses pendidikan berkaitan erat dengan pembentukan
karakter peserta didik. Muslich (2011: 2-3) mengemukakan bahwa
pendidikan merupakan mekanisme institusional yang akan
mengakselerasi pembinaan karakter bangsa dan juga berfungsi
sebagai arena mencapai tiga hal prinsipal dalam pembinaan
karakter bangsa. Menurut Rajasa, tiga hal prinsipal tersebut adalah
sebagai berikut:
1) Pendidikan sebagai arena untuk re-aktivasi karakter luhur
bangsa Indonesia. Secara historis bangsa Indonesia adalah
bangsa yang memiliki karakter kepahlawanan, nasionalisme,
sifat heroik, semangat kerja keras serta berani menghadapi
tantangan. Kerajaan-kerajaan Nusantara di masa lampau adalah
bukti keberhasilan pembangunan karakter yang mencetak
tatanan masyarakat maju, berbudaya dan berpengaruh.
2) Pendidikan sebagai sarana untuk membangkitkan suatu
sekaligus memobilisasi potensi domestik untuk meningkatkan
daya saing bangsa.
3) Pendidikan sebagai sarana untuk menginternalisasi kedua aspek
di atas yakni re-aktivasi sukses budaya masa lampau dan
karakter inovatif serta kompetitif, ke dalam segenap
sendi-sendi kehidupan bangsa dan program pemerintah.
Membangun karakter tidak bisa dilakukan secara cepat dan
instan karena karakter bersifat abstrak dan tidak bisa secara
langsung dipahami dalam waktu yang singkat (Ilahi, 2014: 25).
Selain membutuhkan waktu yang lama, dalam membangun
karakter harus dilakukan secara berkesinambungan. Karakter yang
melekat pada bangsa kita akhir-akhir ini bukan terjadi begitu saja
secara tiba-tiba, tetapi sudah melalui proses yang panjang. Potret
kekerasan, pembunuhan, dan ketidakjujuran anak-anak bangsa
yang ditampilkan oleh media baik cetak maupun elektronik
sekarang ini sudah melampaui batas kewajaran. Budaya seperti itu
tidak hanya melanda rakyat yang berpendidikan rendah, tetapi
sudah sampai pada masyarakat terdidik, seperti pelajar dan
mahasiswa bahkan para elite bangsa ini.
Karakter dimaknai oleh Samani dan Hariyanto (2014: 41)
sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk
hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,
yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggung
jawabkan setiap akibat dari keputusannya. Sedangkan Imam
Ghozali menganggap karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu
spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah
menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak
dipikirkan lagi.
Karakter juga diartikan oleh Zaenal Fitri (2012: 20) sebagai
sifat manusia pada umumnya yang bergantung pada faktor
kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak, atau
budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok
orang. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang
berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama
manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam
pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan
norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.
Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi
pekerti sehingga karakter bangsa sama dengan akhlak bangsa atau
budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang
berakhlak dan berbudi pekerti. Sebaliknya, bangsa yang tidak
berkarakter adalah bangsa yang tidak berakhlak atau tidak
memiliki standar norma dan perilaku yang baik.
Dikutip dari Kesuma, dkk (2012: 24), Hurlock dalam
mengungkapkan bahwa karakter terdapat pada kepribadian.
Karakter mengimplikasikan sebuah standar moral dan tingkah laku
yang diatur oleh upaya dan keinginan. Hati nurani, sebuah unsur
esensial dari karakter, adalah sebuah pola kebiasaan perlarangan
yang mengontrol tingkah laku seseorang, membuatnya selaras
dengan pola-pola kelompok yang diterima secara sosial.
Dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sifat yang
mantap, stabil, dan khusus yang melekat dalam diri seseorang yang
membuatnya bersikap dan bertindak secara otomatis, tidak dapat
dipengaruhi oleh keadaan, dan tanpa memerlukan pertimbangan
terlebih dahulu karena telah menyatu dalam jiwa/diri seseorang
(tertanam kuat), dan secara spontanitas manusia akan bersikap.
Pendidikan karakter terbentuk dari proses yang
berkelanjutan dan tak pernah berakhir, sehingga menghasilkan
perbaikan kualitas yang berkesinambungan, yang ditujukan pada
terwujudnya sosok manusia masa depan, dan berakar pada
nilai-nilai budaya bangsa (Mulyasa, 2014: 1). Disamping itu, Ratna
Megawangi mengatakan pendidikan karakter merupakan suatu
bentuk usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil
keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan
sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang
Dalam pendidikan karakter, Lickona (dalam Muslich, 2011:
133) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik
(component of good character), yaitu pengetahuan tentang moral
(moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling), dan
perbuatan moral (moral action).
Moral knowing berkaitan dengan moral awareness
(kesadaran moral), knowing moral values (mengetahui nilai-nilai
moral), perspective taking, moral reasoning (alasan moral),
decision making (mengambil keputusan), dan self knowledge
(pengetahuan diri). Moral feeling berkaitan dengan conscience
(nurani), self esteem (percaya diri), emphaty (merasakan
penderitaan orang lain), loving the good (mencintai kebenaran),
self control (mampu mengontrol diri), dan humility (kerendahan
hati). Sedangkan moral action merupakan perpaduan dari moral
knowing dan moral feeling yang diwujudkan dalam bentuk
kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit).
Ketiga komponen tersebut perlu diperhatikan dalam pendidikan
karakter agar individu menyadari, memahami, merasakan, dan
dapat mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai
kebajikan itu secara utuh dan menyeluruh.
Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan dalam
pendidikan karakter yaitu ngerti-ngroso-nglakoni (menyadari,
semacam aksesoris atau perhiasan bagi manusia yang berupa hasil
dari pengembangan dirinya.
c. Tujuan Pendidikan Karakter
Pada hakikatnya, tujuan pendidikan nasional tidak boleh
melupakan landasan konseptual filosofi pendidikan yang
membebaskan dan mampu menyiapkan generasi masa depan untuk
dapat bertahan hidup dan berhasil menghadapi tantangan-tantangan
zaman. Adapun tujuan pendidikan nasional menurut UU No.20
tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3:
Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Muslich, 2011: 84).
Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu
proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan
karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan
seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap
satuan pendidikan (Mulyasa, 2014: 9). Melalui pendidikan karakter
diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan
menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi,
serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia
sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. pada tingkat
institusi, pendidikan karakter mengarah pada pembentukan budaya
kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh
semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya
sekolag merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah
tersebut di mata masyarakat luas (Muslich, 2011: 81).
Pendidikan karakter juga bertujuan untuk mengatasi krisis
karakter yang terjadi pada masyarakat global. Pendidikan karakter
berperan dalam mengembangkan potensi manusia secara optimal.
Pendidikan karakter bertujuan untuk mengembangkan pola pikir
dan perilaku individu yang bertanggungjawab dalam menjalankan
peran sosial di keluarga, masyarakat, dan warga negara
(Dwiningrum, 2014: 234).
Zubaedi (2012: 18) menjelaskan ada lima tujuan
diadakannya pendidikan karakter, yaitu:
1) Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik
sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai
karakter bangsa.
2) Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang
terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi
budaya bangsa yang religius.
3) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta
didik sebagai generasi penerus bangsa.
4) Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia
5) Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai
lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan
persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan
penuh kekuatan.
Pendidikan karakter memfasilitasi penguatan dan
pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam
perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses
sekolah (setelah lulus dari sekolah) (Kesuma, dkk., 2012: 9).
Dalam konsep Islam, tujuan pendidikan karakter dimaksudkan agar
manusia berada dalam kebenaran dan senantiasa berada di jalan
yang lurus, yaitu jalan yang telah digariskan oleh Allah SWT.
inilah yang akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia
dan akhirat. Karakter seseorang dianggap mulia jika perbuatannya
mencerminkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an
(Fathurrohman, 2013: 98).
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan
karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif,
berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong-royong, berjiwa
patriotik, berkembang dinamis, berorientasi pada ilmu pengetahuan
dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan taqwa kepada
d. Fungsi Pendidikan Karakter
Dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional Pasal 3, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan
kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang
bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa
(Muslich, 2011: 83).
Kementrian Pendidikan Nasional (2011: 3) menjelaskan
fungsi pendidikan karakter, yaitu: (1) membangun kehidupan
kebangsaan yang multikultural; (2) membangun peradaban bangsa
yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap
pengembangan kehidupan umat manusia, serta mengembangkan
potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, berperilaku baik,
dan keteladanan yang baik; (3) membangun sikap warga negara
yang cinta damai, kreatif, mandiri, dan mampu hidup
berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni.
Selain itu, Mulyasa (2014: 231) mengungkapkan fungsi
utama pendidikan karakter sesuai kebijakan nasional karakter
bangsa, yaitu:
1) Fungsi pembentukan dan pengembangan potensi.
Pembangunan karakter bangsa berfungsi membentuk dan
mengembangkan potensi manusia atau warga negara Indonesia
agar berpikiran, berhati dan berperilaku baik sesuai dengan
2) Fungsi perbaikan dan penguatan. Pembangunan karakter
bangsa berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran
keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk
ikut berpartisipasi serta bertanggungjawab dalam pembangunan
bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera.
3) Fungsi penyaring. Pembangunan karakter bangsa berfungsi
memilih budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa
lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter
yang bermartabat.
e. Macam-Macam Pendidikan Karakter
Menurut Kemdiknas, Sebagaimana dikutip Wibowo, (2013:
14-15) menyatakan bahwa nilai-nilai luhur yang terdapat di dalam
adat dan budaya suku bangsa kita, telah dikaji dan dirangkum
menjadi satu. Berdasarkan kajian tersebut telah teridentifikasi
butir-butir nilai luhur yang diinternalisasikan terhadap generasi
bangsa melalui pendidikan karakter.
Nilai-nilai pendidikan karakter dikelompokkan menjadi
lima macam yaitu; (1) nilai pendidikan karakter berkaitan dengan
Tuhan; (2) nilai pendidikan karakter berkaitan dengan sesama; (3)
nilai pendidikan karakter berkaitan dengan negara; (4) nilai
pendidikan karakter berkaitan dengan diri sendiri; (5) nilai
pendidikan karakter berkaitan dengan lingkungan.
Nilai pendidikan karakter berkaitan dengan Tuhan adalah
religius. Religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh
dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran
terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun
dengan pemeluk agama lain (Suparno, 2015: 35).
2) Nilai Pendidikan Karakter Berkaitan dengan Sesama
a) Menghargai Prestasi
Menghargai prestasi adalah sikap dan tindakan yang
mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang
berguna bagi masyarakat, mengakui, dan menghormati
keberhasilan orang lain (Suparno, 2015: 36). Menghargai
prestasi adalah menghargai karya orang lain dan
menghormati hasil usaha, ciptaan, dan pemikiran. Karena
dengan sikap seperti itu kehidupan akan berjalan dengan
tenteram dan damai, sehingga setiap orang akan menyadari
pentingnya sikap saling menghormati dan menghargai.
b) Demokratis
Demokratis adalah cara berfikir, bersikap, dan
bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan
orang lain (Suparno, 2015: 36). Nilai demokratis ini perlu
diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena akan
menghasilkan keseimbangan antara hak dan kewajiban
c) Peduli Sosial
Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi
bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang
membutuhkan (Suparno, 2015: 37). Manusia diciptakan
Allah sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang
senantiasa mengadakan hubungan dengan sesamanya. Kerja
sama antara orang lain dapat terbina dengan baik apabila
masing-masing pihak memiliki kepedulian sosial.
d) Bersahabat/Komunikatif
Tindakan yang memerlihatkan rasa senang
berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain
(Suparno, 2015: 37). Orang yang bersahabat/komunikatif
akan membawa kedamaian dan kenyamanan bagi orang
disekitarnya karena orang yang bersahabat akan
menunjukkan sikap memahami perilaku, pikiran dan sikap
orang lain.
3) Nilai Pendidikan Karakter Berkaitan dengan Negara
a) Semangat Kebangsaan
Cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang
menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas
kepentingan diri dan kelompoknya (Suparno, 2015: 36).
kebangsaan serta menempatkan kepentingan negara di atas
kepentingan pribadi atau kelompok.
b) Cinta Tanah Air
Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang
menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang
tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya,
ekonomi dan politik bangsa (Suparno, 2015: 36). Rasa cinta
tanah air berarti rela berkorban untuk tanah air dan
membela dari segala macam ancaman dan gangguan yang
datang dari bangsa manapun.
c) Cinta Damai
Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan
orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya
(Suparno, 2015: 37). Cinta damai dimaknai sebagai sikap
yang tidak suka permusuhan, hubungan antar sesama
terjalin dengan baik, kemakmuran dalam hal kesejahteraan
sosial dan ekonomi, dan tidak menyelesaikan suatu masalah
dengan jalan kekerasan.
4) Nilai Pendidikan Karakter Berkaitan dengan Diri Sendiri
a) Jujur
Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada
dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan
(Suparno, 2015: 35).
Jujur sebagai sebuah nilai merupakan keputusan
seseorang untuk mengungkapkan dalam bentuk perasaan,
kata-kata, dan/atau perbuatan bahwa realitas yang ada tidak
dimanipulasi dengan cara berbohong atau menipu orangl
lain untuk keuntungan pribadi. Seseorang yang memiliki
karakter jujur akan diminati orang lain, baik dalam konteks
persahabatan, bisnis, rekan kerja, bertetangga, dan
sebagainya. Karakter ini merupakan salah satu karakter
pokok untuk menjadikan seseorang cinta kebenaran,
apapun risiko yang akan diterima dengan kebenaran yang
dilakukannya.
b) Tanggungjawab
Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan
tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan,
terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan alam, sosial,
dan budaya, negara dan Tuhan Yang Maha Esa (Suparno,
2015: 37). Tanggungjawab merupakan kesadaran manusia
akan tindakan yang dilakukannya baik yang disengaja
maupun tidak, dan sudah menjadi kodrat manusia dibebani
suatu tanggungjawab karena ia menyadari akibat baik dan
jawab terhadap apa yang sudah diberikan atau dibebankan
kepadanya, dan melaksanakan kewajibannya itu dengan
baik dan benar.
c) Disiplin
Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan
patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan (Suparno,
2015: 36). Orang yang disiplin akan memiliki tujuan yang
jelas dalam hidupnya dan konsisten dalam melakukannya
dan menjadikannya sebuah rutinitas. Belajar disiplin sangat
diperlukan. Disiplin dapat melahirkan semangat
menghargai waktu, bukan menyia-nyiakan waktu berlalu
begitu saja.
d) Bekerja Keras
Perilaku yang menunjukkan upaya
sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas,
dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya (Suparno,
2015: 36). Bekerja keras mempunyai sifat yang
bersungguh-sungguh untuk mencapai sasaran yang ingin
dicapai, dapat memanfaatkan waktu secara optimal
sehingga terkadang tidak mengenal waktu, jarak, dan
kesulitan yang dihadapi dengan semangat yang tinggi untuk
e) Kreatif
Berfikir dan melakukan sesuatu yang menghasilkan
cara atau hasil baru berdasarkan sesuatu yang telah dimiliki
(Suparno, 2015: 36). Seseorang dikatakan kreatif karena
memiliki ide dan menghasilkan sesuatu yang baru,
mengubah sesuatu yang imajinatif menjadi kenyataan.
Kreativitas melibatkan dua proses, yaitu: berpikir,
kemudian memproduksi.
f) Mandiri
Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung
pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas (Suparno,
2015: 36). Pribadi yang mandiri tidak lari dari
tanggungjawab dan berupaya mencari jalan keluar untuk
mengatasi setiap masalah. Kemandirian berkembang
melalui proses belajar yang dilakukan secara bertahap dan
berulang-ulang mulai dari tahap ulang perkembangan
kemandirian yang sempurna.
g) Rasa Ingin Tahu
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk
mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang
dipelajari, dilihat, dan di dengar (Suparno, 2015: 36). Rasa
ingin tahu merupakan naluri alami, rasa ingin tahu
Semua orang pemikir besar, para jenius, adalah
orang-orang dengan karakter penuh rasa ingin tahu. Nilai rasa
ingin tahu ini merupakan cerminan keaktifan seseorang
dalam mempelajari sesuatu untuk menambah pengetahuan
atau pemahaman seseorang.
h) Gemar Membaca
Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca
berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya
(Suparno, 2015: 37). Membaca merupakan langkah awal
untuk mencerdaskan bangsa. Seseorang yang gemar
membaca akan banyak mendapatkan pengetahuan dalam
berbagai bidang.
5) Nilai Pendidikan Karakter Berkaitan dengan Lingkungan
a) Peduli Lingkungan
Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah
kerusakan lingkungan alam di sekitarnya dan
mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki
kerusakan alam yang sudah terjadi (Suparno, 2015: 37).
Seseorng yang peduli dengan lingkungan sekitar akan
menjaga lingkungannya gar tetap terlihat bersih, indah dan
rapi. Mereka bersahabat dengan alam bukan merusak dan
b) Toleransi
Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan
agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain
yang berbeda dari dirinya (Suparno, 2015: 36). Toleransi
adalah menerima dan menghargai perbedaan orang lain,
tidak memaksakan keyakinan orang lain, dapat bersikap
adil, objektif dan tidak menghakimi orang lain berdasarkan
latar belakang, penampilan atau kebiasaan yang
dilakukannya. jika manusia dapat bersikap toleran maka
manusia akan dapat hidup dengan damai.
Pada tahun 2016 ketikamasa pemerintahan Presiden Joko
Widodo bergulir pengembangan program Penguatan Pendidikan
Karakter (PPK). Terdapat lima nilai karakter utama yang
bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan
gerakan PPK; yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian
dan kegotong-royongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan
berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu
sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan
pribadi(https://kemenag.go.id/berita/read/504944/diakses pada 2
Agustus 2017, jam: 09.55 wib).
Tabel 1. Nilai-nilai karakter program Penguatan
Pendidikan Karakter (PPK) versi (Mendikbud) Muhadjir Effendy.
No. Nilai Deskriptif
melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.
2. Nasionalisme Merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.
3. Integritas Nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegritas juga menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas), serta mampu menunjukkan keteladanan.
4. Kemandirian Sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Siswa yang mandiri memiliki etos kerja yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.
5.
Kegotong-royongan
2. Tradisi Saparan
Tradisi adalah peristiwa budaya yang merupakan warisan dari para
pendahulu kita yang telah mewariskan nilai budaya yang tinggi sehingga
menjadikan identitas yang kuat serta mengakar dikalangan masyarakat
(Purwadi, 2007: 546). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:
1208), tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang
yang masih dijalankan oleh masyarakat.
Tradisi dapat memberikan efek kebiasaan yang baik dan
berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya. Nilai-nilai yang
diwariskan merupakan nilai yang oleh masyarakat masih dianggap baik
dan relevan dengan kebutuhan kelompok atau masyarakat. Setiap tradisi
dalam suatu masyarakat tidak lepas dari adanya upacara tradisional atau
yang kita kenal dengan upacara adat. Upacara itu sendiri mengandung
makna simbolik, nilai-nilai etika, moral dan sosial yang menjadi acuan
normatif individu dan masyarakat dalam menjalin kehidupan bersama
(Nursid, 2003: 49). Upacara tradisional mencerminkan semua perencanaan
dan tindakan yang diatur dalam tata nilai luhur yang diwariskan secara
turun temurun yang mengalami perubahan menuju perbaikan sesuai tata
urutan zaman.
Pada dasarnya, saparan di Dukuh Warak merupakan suatu bentuk
dari tradisi merti dusun. Merti dusun merupakan salah satu perwujudan
dari bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap alam semesta. Saparan
Jum’atwage. Hari pelaksanaan saparan pada tiap daerah berbeda-beda,
tergantung kesepakatan masyarakat yang berada di daerah tersebut.
Saparan di Dukuh Warak dilaksanakan dengan mengundang sanak
saudara, kerabat, dan teman untuk berkunjung ke rumah mereka. Hal ini
dimaksudkan agar tercipta kerukunan antar umat manusia baik sesama
agama maupun berbeda agama, baik yang kaya maupun miskin, dan yang
memiliki kasta maupun orang biasa. Pada malam harinya terdapat
pagelaran kesenian wayang yang wajib ada pada pelaksanaan saparan di
Dukuh Warak. Pada hari Sebelum acara berkunjung ke rumah, masyarakat
Dukuh Warak melaksanakan upacara lainnya seperti kenduri, bersih desa,
dandan kali, besik kubur, mengganti pagar pundhen yang bertujuan agar
dusunnya menjadi tenteram, bersih, terib, teratur, indah, dan nyaman
sehingga tetap terjaga ketahanan dan kekokohannya.
B. Kajian Pustaka
Kajian pustaka atau penelitian terdahulu mengenai berbagai ritual
tradisi masyarakat telah banyak dilakukan. Mengingat ragam budaya yang
beraneka disetiap daerah masing-masing. Beberapa diantaranya adalah:
Skripsi yang ditulis oleh Imran (2017) dengan judul Penerapan
Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Tradisi Pemmali Pada
Masyarakat Bugis Desa Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe
Selatan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu
Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Kendari. Penelitian ini merupakan
untuk mengumpulkan data, kemudian diolah dan dianalisis menggunakan
teknik trianggulasi. Dari penelitian ini ditemukan bahwa nilai-nilai
karakter yang terdapat pada tradisi pemmali pada masyarakat Bugis Desa
Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan adalah nilai
kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, usaha, kesantunan, keteladanan,
kebersamaan, dan religius. Penerapan nilai-nilai pendidikan karakter
tersebut dikemas oleh orangtua dalam bentuk mitos. Sebab beberapa orang
tua masyarakat Bugis Desa Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten
Konawe Selatan menganggap dengan cara tersebut anak lebih tertarik
mendengarkan dan lebih menurut ketika dinasehati. Orang tua menjadi
institusi tertinggi untuk menerapkan tradisi pemmali sebagai pembentukan
karakter anak yang membawa anak pada sifat kedewasaan sehingga dalam
bersosialisasi akan lebih terarah dan lebih dihargai oleh masyarakat.
Skripsi yang ditulis Natalia Tri Andyani (2013) dengan judul
Eksistensi Tradisi Saparan Pada MasyarakatDesa Sumberejo Kecamatan
Ngablak Kabupaten Magelang. Jurusan Sosiologi dan Antropologi.
Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini
menggunakan metode kualitatif dan fokus penelitian dalam penelitian ini
adalah menggambarkan pelaksanaan tradisi saparan, dan memaparkan
sebab-sebab masyarakat Desa Sumberejo masih melakukan saparan serta
eksistensi saparan di Desa Sumberejo. Hasil penelitian ini menyimpulkan
bahwa pelaksanaan perayaan tradisi saparan dibagi dalam tiga klasifikasi
perayaan individu dan perayaan yang bersifat hiburan. Perayaan komunal
yaitu do’a bersama di rumah kepala dusun dengan tujuan kemakmuran dan
keselamatan desa serta memperkuat solidaritas diantara warga. Perayaan
individu dilaksanakan di rumah masing-masing dengan tujuan untuk
mempererat tali kekerabatan. Sedangkan perayaan hiburan bertujuan untuk
meramaikan suasana saparan. Masyarakat Desa Sumberejo masih
mempertahankan tradisi saparan karena dianggap masih sangat fungsional
dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Sumberejo. Diantaranya adalah
fungsi pembawa kemakmuran, fungsi menjaga ikatan kekerabatan, fungsi
menjaga ikatan solidaritas dan kerukunan warga, fungsi hiburan, dan
fungsi menjaga warisan budaya.
Skripsi yang ditulis oleh Isnaini Erawati (2017) dengan judul
Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo di Desa
Widodomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman Tahun 2015.
Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan.
Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Penelitian ini menggunakan metode
deskriptif kualitatif berupa pengamatan (observasi), wawancara, dan
dokumentasi. Peneliti dalam penelitian ini bertindak secara langsung ke
lapangan sehingga mendapatkan data yang real di dalam tradisi saparan Ki
Ageng Wonolelo tersebut sehingga bisa mendapatkan data yang akurat.
Dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat sangat
baik tentang tradisi saparan Ki Ageng Wonolelo. Nilai-nilai pendidikan
kebersamaan, kerukunan, bertoleransi, dan saling menghormati tanpa
memandang ras dan suku karena di hadapan Sang Pencipta adalah sama.
Serta nilai sosial dengan adanya tradisi tersebut mendatangkan kehidupan
sosial budaya. Nilai religius untuk meningkatkan keimanan wujud syukur
kita terhadap kenikmatan dan karunia yang telah diberikan oleh Allah
SWT.
Dari ketiga karya ilmiah di atas memiliki kesamaan yaitu
sama-sama membahas mengenai tradisi, akan tetapi dari tiga karya ilmiah di atas
memiliki perbedaan dengan karya ilmiah yang saya teliti sekarang ini.
Perbedaan dari skripsi yang pertama dari saudara Imran ini
mencakup tentang penerapan karakter dalam sebuah tradisi, sedangkan
skripsi yang kedua dari saudariNatalia Tri Andyani membahas tentang
eksistensi tradisi saparan, dan skripsi yang terakhir atau ketiga dari
saudariIsnaini Erawati membahas tentang nilai pendidikan islam dalam
suatu tradisi.
Dari tiga kajian karya Ilmiah yang relevan di atas tersebut dengan
penelitian yang sekarang saya teliti, tidak memiliki kesamaan sama sekali,
karena yang saya teliti adalah nilai pendidikan karakter dan tradisi saparan
yang berjudul nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi saparan di
Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga tahun
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research).Penulis
mengumpulkan data dari lapangan dengan mengadakan penyelidikan
secara langsung di lapangan untuk mencari berbagai masalah yang ada
relevansinya dengan penelitian ini. Jenis penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode kualitatif dipandang
sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku ini dapat diamati
terhadap fakta-fakta yang ada saat sekarang dan melaporkannya seperti
apa yang terjadi. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif karena analisis
data yang dilakukan berupa deskripsi atas gejala-gejala yang diamati, yang
tidak selalu berbentuk angka-angka.
B. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh
Kecamatan Sidomukti Salatiga. Alasan mengapa penulis mengambil lokasi
ini adalah karena masih dijalankannya tradisi leluhur yaitu saparan yang
didalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan, karakter, dan sosial, serta
keunikan dari tradisi yang ada di dusun tersebut. Oleh karena itu, penulis
yang terdapat dalam tradisi saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh
Kecamatan Sidomukti Salatiga.
C. Sumber Data
Untuk mendapatkan keterangan sumber tertulis, peneliti
mendapatkan dari sumber data atau informan. Mengenai teknik yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik seleksi
informan yang mengetahui dan yang berpengaruh di masyarakat terhadap
tradisi saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti
Salatiga. Adapun sumber data dari penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu:
1. Sumber Data Primer
Sumber data primer merupakan informasi yang dikumpulkan
peneliti langsung dari sumbernya. Data primer yang digunakan yaitu
buku-buku yang relevan dan hasil wawancara dari para ahli. Penentuan
sumber data pada orang yang di wawancarai dilakukan dengan teknik
purposive sampling, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan
tertentu.
2. Sumber Data Sekunder
Sumber data sekunder meruapakan data yang diperoleh dari
sumber-sumber yang mendukung seperti dokumentasi, arsip desa dan
referensi lain yang berkaitan dengan penelitian.
D. Prosedur Pengumpulan Data
Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini,
1. Observasi
Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan dengan
sistematis dari fenomena-fenomena yang diteliti (Arikunto, 1990:
115). Peneliti melakukan pengamatan secara langsung untuk melihat
lebih dekat kegiatan yang dilakukan pada tradisi saparan di Dukuh
Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga.
2. Wawancara
Wawancara merupakan suatu alat pengumpulan data yang
digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya
(Sudaryono, 2013: 35). Metode ini digunakan untuk memperoleh
informasi tidak tertulis mengenai makna dan prosesi saparan, serta
nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat di dalamnya.
3. Dokumentasi
Dokumentasi merupakan cara pengumpulan data langsung dari
tempat penelitian, buku-buku yang relevan, laporan kegiatan,
foto-foto, film dokumenter dan data lain yang relevan (Sudaryono, 2013:
41). Peneliti menggunakan arsip pemerintahan Kelurahan Dukuh untuk
mengungkapkan data profil dan potensi yang dimiliki Dukuh Warak.
E. Analisis Data
Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara
sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan di lapangan,
dan dokumentasi serta studi pustaka dengan cara mengorganisasikan data
menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari
dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri
maupun orang lain (Sugiyono, 2008: 88).
Teknik analisis data dalam suatu penelitian dilakukan
menggunakan analisis data deskriptif kualitatif, sehingga peneliti
menggambarkan keadaan atau fenomena yang diperoleh kemudian
menganalisisnya dengan bentuk kata-kata untuk memperoleh kesimpulan.
Prosedur dalam analisis data yaitu pengumpulan data, reduksi data,
penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.
1. Pengumpulan Data
Peneliti melakukan proses pengumpulan data melalui wawancara,
observasi, dan dokumentasi untuk mendapatkan data yang lengkap
mengenai tradisi saparan. Data yang diperoleh kemudian dituliskan
dalam catatan lapangan yang berisi tentang apa yang dilihat, didengar,
disaksikan, dialami, dan juga temuan tentang apa yang dijumpai
selama penelitian dan merupakan bahan rencana pengumpulan data
untuk tahap berikutnya.
2. Reduksi Data
Reduksi dapat diartikan sebagai suatu proses pemilihan, pemusatan
perhatian pada langkah-langkah penyederhanaan dan transformasi data
kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Reduksi data
berlangsung secara terus menerus selama proses penelitian berjalan.
menulis catatan kecil. Selain itu, peneliti harus jelas menajamkan,
menggolongkan, memisahkan, dan memilah mana yang perlu dan
mana yang tidak perlu untuk dimasukkan dalam laporan penelitian.
Dengan adanya reduksi ini dapat ditarik kesimpulan akhir secara tepat
sesuai permasalahan fokus utamanya.
3. Penyajian Data
Penyajian data dilakukan oleh peneliti dalam bentuk deskriptif
mengenai permasalahan yang telah dicantumkan. Peneliti menyajikan
secara sistematis sesuai dengan fokus utamanya. Setelah melalui
penyajian data, peneliti menuju proses penarikan kesimpulan. Peneliti
telah menelaah dan mempertegas dengan berbagai konsep dan teori
yang mendukung. Peneliti menyajikan data makna dan prosesi
pelaksanaan saparan serta nilai pendidikan karakter yang terdapat
dalam tradisi saparan secara deskriptif.
4. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi
Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan data-data yang telah
diperoleh. Data-data tersebut ditelaah, dihubungkan untuk membentuk
pola dan dipadukan oleh peneliti sehingga membentuk struktur yang
sistematis. Hasil dari pengolahan tersebut menjadi dasar penarikan
kesimpulan yang dilakukan peneliti.
F. Pengecekan Keabsahan Data
Keabsahan data sangat mendukung dalam menentukan hasil akhir
memeriksa keabsahan data yaitu dengan menggunakan teknik triangulasi.
Teknik triangulasi data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik
triangulasi berdasarkan sumber. Peneliti melakukan perbandingan dan
pengecekan dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan
hasil wawancara, data hasil wawancara dengan dokumentasi, dan data
hasil pengamatan dengan dokumentasi. Hasil perbandingan dan
pengecekan ini diharapkan dapat menyatukan persepsi atas data yang