• Tidak ada hasil yang ditemukan

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TRADISI SAPARAN DI DUKUH WARAK KELURAHAN DUKUH KECAMATAN SIDOMUKTI SALATIGA TAHUN 2017 SKRIPSI Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TRADISI SAPARAN DI DUKUH WARAK KELURAHAN DUKUH KECAMATAN SIDOMUKTI SALATIGA TAHUN 2017 SKRIPSI Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER DALAM TRADISI SAPARAN DI DUKUH WARAK KELURAHAN DUKUH KECAMATAN

SIDOMUKTI SALATIGA TAHUN 2017

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

FIA NUR RAHAYU NIM: 111-14-070

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

(2)
(3)
(4)
(5)

MOTTO

ِكاَسَمْلاَو ىَماَتَيْلاَو ىَبْرُقْلا يِذِبَو ًاناَسْحِإ ِنْيَدِلاَوْلاِبَو ًائْيَش ِهِب ْاوُكِرْشُت َلاَو َهّللا ْاوُدُبْعاَو

ِراَجْلاَو ِني

لا َّنِإ ْمُكُناَمْيَأ ْتَكَلَم اَمَو ِليِبَّسلا ِنْباَو ِبنَجلاِب ِبِحاَّصلاَو ِبُنُجْلا ِراَجْلاَو ىَبْرُقْلا يِذ

َلا َهّل

ًاروُخَف ًلااَتْخُم َناَك نَم ُّبِحُي

Sembahlah Allah danjanganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karibkerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri” (Q.S. An-Nisa :36)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk:

1. Bapak Ibuku yang tercinta Bapak Ahmad (alm) dan Ibu Rahyuni yang

selalu memberi nasihat, kasih sayang, bimbingan dan do’a yang tak pernah

putus untuk anak-anaknya.

2. Kakakku tersayang mbak Nafisatuz Zumroh dan suaminya mas Miftahul

Qomari yang selalu memberikan dorongan motivasi dan nasehat yang

membangun.

3. Segenap keluarga besar yang selalu memberikan motivasi dan teguran

(6)

KATA PENGANTAR

Segenap puji syukur senantiasa penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT

yang dengan rahmat, taufiq, dan hidayahNya, skripsi dengan judul Nilai-Nilai

Pendidikan Saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti

Salatiga Tahun 2017 ini bisa terselesaikan.

Shalawat serta salam penulis haturkan kepada baginda Rasulullah

Muhammad SAW, manusia inspiratif penuh keteladanan yang senantiasa

dinantikan syafa’atnya di hari kiamat. Tidak lupa shalawat dan salam juga

disampaikan kepada keluarga, sahabat, dan orang-orang yang senantiasa

istikomah di jalan kebaikan.

Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini tidak akan selesai tanpa

motivasi, dukungan, dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karenanya, penulis

mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam

penyelesaian skripsi ini. Secara khusus, penulis juga menyampaikan terima kasih

kepada:

1. Bapak Dr. H. Rahmat Hariyadi, M.Pd., selaku Rektor IAIN Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

IAIN Salatiga.

3. Ibu Hj. Siti Rukhayati, M.Ag., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama

(7)

4. Bapak Prof. Dr. H. Budihardjo, M.Ag., selaku pembimbing yang telah

meluangkan waktunya untuk mengarahkan dan membimbing penulis dalam

proses penulisan skripsi ini.

5. Bapak Drs. H. Nasafi, M.Pd.I., selaku dosen pembimbing akademik penulis

yang dengan kesabarannya, membimbing penulis dari waktu ke waktu.

6. Bapak dan Ibu dosen serta karyawan IAIN Salatiga yang telah memberikan

ilmu, semangat, dan inspirasinya kepada penulis.

7. Teman-teman IMADISA, tetaplah semangat dalam nafas perjuangan.

8. Teman-teman PAI angkatan 2014 khususnya kelas B. Merekalah teman

dalam merintis perjuangan ini dan telah memberi motivasi dalam penulisan

ini.

9. Teman inspiratif di masa senang dan sedih yang senantiasa memberikan

semangat kepada penulis.

10. Semua pihak yang tidak bisa disebutkan satu per satu oleh penulis. Terima

kasih atas dorongan, semangat, motivasi, dan inspirasinya.

Terima kasih atas kebersamaan selama ini, penulis hanya bisa turut do’a

semoga Allah Swt meridloi setiap langkah dan mencatatnya sebagai amal sholeh.

Jazakumullahu bi ahsanil jaza’.

Penulis menyadari dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari

kesempurnaan dan masih banyak kekurangan, baik secara substantif ataupun

teknis. Oleh karenanya, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari semua

(8)

skripsi ini bisa memberikan manfaat kepada pembaca semua khususnya kepada

pribadi penulis.

Salatiga, 15 September 2018

(9)

ABSTRAK

Rahayu, Fia Nur. 2018. The Values of Character Education in the Saparan Tradition in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga, 2017. Thesis. Islamic Education Department. Faculty of Tarbiyah and Teacher Training. Salatiga State Islamic Institute. Supervisor; Prof. Dr. H. Budihardjo,M.Ag.

Keywords: Character Education Values, and Saparan Traditions.

In the human lives, there is behaviour, customs, culture and traditions that are different from the other. Tradition is a habit and values that are passed on from one generation to the next generation. In the tradition usually uses principles and values that can be used as learning and knowledge. The values of tradition will have a positive influence on people who apply well in human lives. In the implementation of tradition, there is special ritual or ceremonies performed by the local community. The ritual contains the meaning and values of the character education that are still obeyed and lived by certain communities. One of them is the traditional of tradition in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga.

The tradition of saparan in Warak Hamlet is a form of gratitude and respect for the ancestors. The formulation of the problem in this study are: 1) What is the meaning of the tradition of saparan in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga?; 2) How is the traditional procession in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga?; 3) What are the values of character education contained in the tradition of saparan in Warak Hamlet, Dukuh Village, Sidomukti District, Salatiga?

(10)

ABSTRAK

Rahayu, Fia Nur. 2018. Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga Tahun 2017. Skripsi. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Dosen Pembimbing; Prof. Dr. H. Budihardjo, M.Ag.

Kata Kunci: Nilai-Nilai Pendidikan Karakter, dan Tradisi Saparan.

Dalam kehidupan masyarakat, terdapat kebiasaan, adat-istiadat, budaya, dan tradisi yang berbeda satu dengan lainnya. Tradisi merupakan kebiasaan dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya. Di dalam tradisi biasanya mengandung serangkaian unsur kebiasaan dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pembelajaran dan pengetahuan. Nilai-nilai pada suatu tradisi akan memberikan dampak positif bagi masyarakat apabila diterapkan dengan baik dalam kehidupan masyarakat. Dalam pelaksanaan tradisi tentu ada ritual atau upacara khusus yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat. Ritual tersebut mengandung makna serta nilai-nilai pendidikan karakter yang sampai sekarang masih dipatuhi dan dijalani oleh masyarakat tertentu. Salah satunya tradisi saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga.

Tradisi saparan di Dukuh Warak merupakan wujud rasa syukur serta penghormatan para leluhur. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: 1) Apa makna tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga?; 2) Bagaimana prosesi tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga?; 3) Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga?.

(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ii

PENGESAHAN KELULUSAN iii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN v

KATA PENGANTAR vi

ABSTRAK ix

DAFTAR ISI x

DAFTAR TABEL xiii

DAFTAR LAMPIRAN xiv

BAB I PENDAHULUAN 1

A. Latar Belakang Masalah 1

B. Fokus Penelitian 4

C. Tujuan Penelitian 4

D. Manfaat Penelitian 5

E. Penegasan Istilah 5

F. SistematikaPenulisan 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA 9

A. Landasan Teori 9

B. Kajian Pustaka 33

(12)

A. Jenis Penelitian 37

B. Lokasi Penelitian 37

C. Sumber Data 38

D. Prosedur Pengumpulan Data 38

E. Analisis Data 39

F. Pengecekan Keabsahan Data 41

BAB IV PAPARAN DAN ANALISIS DATA 43

A. Paparan Data 43

1. Gambaran Umum 43

a. Visi dan Misi 43

b. Letak Geografis 44

c. Keadaan Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 44

d. Keadaan Penduduk Berdasarkan Pendidikan 45

e. Keadaan Penduduk Berdasarkan Pekerjaan 46

f. Keadaan Penduduk Berdasarkan Agama 47

g. Sarana dan Prasarana 48

2. Temuan Data 49

B. Analisis Data 65

1. Makna tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan

Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga 65

2. Prosesi tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan

Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga 67

(13)

tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh,

Kecamatan Sidomukti, Salatiga 71

BAB V PENUTUP 77

A. Kesimpulan 77

B. Saran 77

DAFTAR PUSTAKA 79

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

DAFTAR TABEL

Tabel 1 : Nilai-nilai karakter program Penguatan Pendidikan

Karakter (PPK) versi (Mendikbud) Muhadjir Effendy 30

Tabel 2 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin 45

Tabel 3 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan 45

Tabel 4 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Pekerjaan 46

Tabel 5 : Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama 48

(15)

DAFTAR LAMPIRAN

1. Nota Pembimbing Skripsi

2. Surat Keterangan Melakukan Penelitian

3. Daftar SKK (Surat Keterangan Kegiatan)

4. Lembar Konsultasi

5. Pedoman Wawancara

6. Hasil Wawancara

7. Triangulasi Data

8. Dokumentasi

(16)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu keharusan bagi manusia karena pada

dasarnya manusia lahir dalam keadaan tidak berdaya. Allah SWT telah

memberikan potensi-potensi kepada manusia untuk digali, dimanfaatkan,

dan dikembangkan agar menjadi manusia yang berkualitas sehingga

tercipta generasi penerus bangsa yang bermartabat.

Pendidikan dipahami sebagai suatu proses internalisasi budaya ke

dalam diri seseorang dan masyarakat sehingga membuat orang dan

masyarakat menjadi beradap (Muslich, 2011:75).Di samping itu, Syahidin

mengemukakan bahwa pendidikan sebagai institusi sosial memiliki fungsi

sebagai proses perubahan sosial yang mampu mengakomodir karakter

sosial yang dimiliki masyarakat, yang bukan sekedar transfer informasi

tentang ilmu pengetahuan dari pendidik kepada peserta didiknya,

melainkan suatu proses pembentukan karakter yang memiliki tiga misi

utama yaitu; pewarisan pengetahuan (transfer of knowledge), pewarisan

budaya (transfer of culture), dan pewarisan nilai (transfer of value). Oleh

karena itu, pendidikan dipahami sebagai proses transformasi nilai-nilai

dalam rangka membentuk kepribadian individu (Nugroho,

(17)

memprihatinkan, banyak sekali kasus kekerasan, bullying, menyontek,

bahkan tindakan asusila menjadi suatu hal yang dianggap biasa.

Sehubungan dengan itu, karakter dimaknai sebagai nilai-nilai yang

unik-baik (tahu nilai kebaikan, mau berbuat baik, dan nyata berkehidupan

baik) yang terpateri dalam diri dan terejawantahkan dalam perilaku.

Karakter secara koheren memancar dari hasil olah pikir, olah hati, olah

rasa dan karsa, serta olahraga seseorang atau sekelompok orang (Mulyasa,

2014: 235). Karakter tidak selamanya mencerminkan perilaku baik, karena

setiap orang memiliki cara pandang dan kebiasaan hidup yang

berbeda-beda. Dibutuhkan waktu yang lama untuk membangun karakter dan harus

dilakukan secara berkesinambungan.

Pendidikan karakter harus berkelanjutan dan tak pernah berakhir

guna menyiapkan generasi bangsa yang berkualitas. Pendidikan karakter

berkaitan tentangbagaimana menanamkan kebiasaan tentang hal-hal baik

dalam kehidupan, sehingga seseorang memiliki kesadaran, kepekaan,

pemahaman, kepedulian, serta komitmen untuk menerapkan kebajikan

dalam kehidupan sehari-hari. Penanaman kebiasaan itu tidak hanya

dilakukan dalam lingkungan sekolah saja, lingkungan keluarga dan

masyarakat juga memiliki andil yang cukup besar.

Dalam kehidupan masyarakat, terdapat kebiasaan, adat-istiadat,

budaya, dan tradisi yang berbeda satu dengan lainnya. Tradisi merupakan

kebiasaan dan nilai-nilai yang diwariskan dari satu generasi kepada

(18)

unsur kebiasaan dan nilai-nilai yang dapat dijadikan pembelajaran dan

pengetahuan. Nilai-nilai pada suatu tradisi akan memberikan dampak

positif bagi masyarakat apabila diterapkan dengan baik dalam kehidupan

masyarakat. Dalam pelaksanaan tradisi tentu ada ritual atau upacara

khusus yang biasa dilakukan oleh masyarakat setempat.Dari kebiasaan

itulah kemudian tercipta suatu sikap atau perilaku yang semakin lama akan

membentuk suatu karakter.

Di Jawa tengah khususnya di Salatiga terdapat beragam tradisi,

salah satunya tradisi saparan. Namun hanya beberapa daerah yang masih

melestarikan tradisi saparan, seperti masyarakat di Dukuh Warak

Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga. Saparan berasal dari

kata “Sapar” yang merupakan nama bulan kedua dalam penanggalan

Jawa. Oleh sebab itu, saparan hanya dilakukan sekali dalam setahun yaitu

pada bulan Sapar. Hari pelaksaan saparan ditentukan dari kesepakan

masyarakat menurut pasaran jawa yaitu pada Jum’at wage.

Rangkaian upacara atau ritual tradisi saparan di Dukuh Warak

diantaranya kerja bakti, besik (bersih) kubur, dandan kali, penggantian

pagar pundhen (sebuah petilasan yang dianggap keramat), kirab budaya, kenduri dan do’a bersama, serta penampilan kesenian reog dan wayang.

Ketika kenduri, masyarakat membawa nasi beserta ubo rampene

(pelengkap). Yang tidak boleh ketinggalan ialah iwak (ikan) kuthuk dan

(19)

Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, penulis

tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai nilai-nilai

pendidikan karakter dalam tradisi Saparan di Dukuh Warak Kelurahan

Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga dan menuangkan hasil penelitian

tersebut dalam sebuah karya tulis ilmiah yang berjudul “Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Tradisi Saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga Tahun 2017”.

B. Fokus Penelitian

1. Apa makna tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh,

Kecamatan Sidomukti, Salatiga?

2. Bagaimana prosesi tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh,

Kecamatan Sidomukti, Salatiga?

3. Apa saja nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi

saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti,

Salatiga?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Untuk mengetahui makna tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan

Dukuh, Kecamatan Sidomukti, Salatiga.

2. Untuk mengetahui prosesi tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan

(20)

3. Untuk mengetahui nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung

dalam tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan

Sidomukti, Salatiga.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bisa memberikan manfaat sebagai

berikut:

1. Manfaat teoritis

a. Sebagai sumbangan karya ilmiah bagi perkembangan ilmu

pengetahuan bagi masyarakat khususnya bagi golongan akademis.

b. Hasil penelitian diharapkan dapat dijadikan rujukan untuk

memperdalam keilmuan di bidang pendidikan khususnya

pendidikan sosial dan budaya.

2. Manfaat praktis

a. Diharapkan masyarakat dapat memperoleh pemahaman mengenai

makna yang terkandung pada setiap prosesi upacara tradisi saparan

sehingga dapat menumbuhkan sikap dan karakter positif.

b. Hasil penelitian ini diharapkan mampu menambah pengetahuan

dan pengalaman tentang pentingnya tradisi saparan dalam menjaga

kearifan dan nilai-nilai budaya bangsa Indonesia.

E. Penegasan Istilah

Untuk menghindari kesalahpahaman dalam memahami judul penelitian

di atas, penulis akan menjelaskan arti istilah-istilah tersebut sebagai

(21)

1. Nilai

Nilai merupakan kualitas suatu hal yang menjadikan suatu hal itu

dapat disukai, diinginkan, berguna, dihargai, dan dapat menjadi objek

kepentingan (Sjarkawi, 2009: 29).Nilai juga diartikan sebagai

sifat-sifat penting dan berguna bagi kemanusiaan. Sesuatu yang dianggap

bernilai sudah pasti akan hal tersebut akan dianggap lebih berharga

dari hal-hal lainnya. Manusia merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang

dibekali dengan akal yang luar biasa hebat, maka sudah menjadi hal

yang wajar sekali jika manusia akan memilih sesuatu yang lebih

berharga atau bernilai untuk kehidupannya (Poerdaminta, 2006: 677).

2. Pendidikan Karakter

Pendidikan menurut Hamalik (2003:79) didefinisikan sebagai

proses perubahan tingkah laku seseorang melalui serangkaian proses.

Sedangkankarakter menurut Suyanto yang dikutip dari Muslich

(2011:70) diartikan sebagai cara berfikir dan berperilaku yang menjadi

ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam

lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Jadi, pendidikan

karakter merupakan proses perubahan tingkah laku individu yang

menjadi ciri khas dari individu tersebut.

3. Tradisi Saparan

Mujib (2006:42) mengatakan bahwa tradisi atau ‘urf/adat adalah

kebiasaan masyarakat, baik berupa perkataan maupun perbuatan yang

(22)

tersendiri, sehingga jiwa merasa tenang dalam melakukannya karena

sejalan dengan akal dan diterima oleh tabiat yang sejahtera.

Tradisi saparan merupakan sebuah ritual untuk menolak balak yang

sudah menjadi kebiasaan rutin di masyarakat. Tradisi ini dianggap

sangat penting oleh masyarakat, khususnya masyarakat jawa karena

mereka percaya bahwa tradisi saparan merupakan warisan

turun-temurun dari nenek moyang. sesuai namanya, tradisi saparan

dilaksanakan pada bulan Sapar (bulan jawa) yang menurut sejarah

merupakan ungkapan rasa syukur terhadap desa agar senantiasa

makmur dan sejahtera, juga untuk mengirim do’a kepada nenek

moyang serta keluarga mereka yang telah meninggal dunia.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini dipakai sebagai aturan yang saling

terkait dan saling melengkapi, adapun sistematika penulisan tersebut

sebagai berikut:

BAB IPendahuluan, menjelaskan secara umum tentang arah penelitian

yang dilakukan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah,

tujuan penelitian, manfaat penelitian, penegasan istilah, serta sistematika

penulisan.

BAB IIKajian Pustaka, menjelaskan tentang landasan teori dari nilai

pendidikan karakter yang terkandung dalam tradisi saparan di Dukuh

(23)

BAB IIIMetode Penelitian, menjelaskan mengenai jenis penelitian

yang dilakukan, lokasi dan waktu penelitian, sumber data, prosedur

pengumpulan data, analisis data, dan pengecekan keabsahan data terkait

tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh, Kecamatan Sidomukti,

Salatiga.

BAB IVPaparan dan Analisis Data, membahas paparan dan analisis

data tentang makna, prosesi, dan nilai-nilai pendidikan karakter yang

terkandung dalam tradisi saparan di Dukuh Warak, Kelurahan Dukuh,

Kecamatan Sidomukti, Salatiga.

BAB VPenutup, pada bab ini akan dikemukakan kesimpulan dan saran

sebagai bahan masukan dalam tradisi saparan di Dukuh Warak dan

nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung di dalamnya.

Diakhiri dengan daftar pustaka, dan lampiran-lampiran lain yang

(24)

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Nilai Pendidikan Karakter a. Nilai

Nilai adalah sesuatu yang berharga, bermutu, menunjukkan

kualitas, dan berguna bagi manusia (Koentjaraningrat, 2004: 12).

Nilai diartikan sebagai kumpulan dari ukuran-ukuran, orientasi,

dan teladan luhur yang selaras dengan akidah yang diyakini

seseorang dan tidak bertentangan dengan perilaku masyarakat,

dimana ukuran-ukuran itu menjadi moral bagi seseorang yang

tercermin dalam perilaku, aktivitas, usaha, dan

pengalaman-pengalamannya, baik secara eksplisit maupun implisit (Murshafi,

2006: 96).

Dari pengertian nilai di atas, dapat disimpulkan bahwa nilai

merupakan sesuatu yang berharga dan diyakini oleh masyarakat

serta tidak bertentangan dengan nilai yang telah disepakati oleh

masyarakat tersebut, dimana nilai itu tercermin dari perilaku

sehari-hari.

Pada hakikatnya, segala sesuatu itu bernilai, hanya saja

yang membedakan adalah macam-macam nilai serta bagaimana

(25)

pendapat mengenai penggolongan nilai, diantaranya pendapat

Notonegoro (dalam Herimanto dan Winarno, 2016: 128) yang

membedakan nilai menjadi tiga macam, yaitu:

1) Nilai material, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani

manusia.

2) Nilai vital, yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia

untuk dapat melakukan aktivitas atau kegiatan.

3) Nilai kerohanian, dibedakan menjadi empat macam, yaitu:

a) Nilai kebenaran yang bersumber pada akal pikir manusia

(rasio, budi, cipta).

b) Nilai estetik (keindahan) yang bersumber pada rasa

manusia.

c) Nilai kebaikan atau nilai moral yang bersumber pada

kehendak keras, karsa hati, dan nurani manusia.

d) Nilai religius (ketuhanan) yang bersifat mutlak dan

bersumber pada keyakinan manusia.

Sementara itu, Sjarkawi (2009: 31) membagi sifat-sifat nilai

dalam kehidupan manusia adalah sebagai berikut:

1) Nilai sebagai suatu realitas abstrak dan ada dalam kehidupan

manusia. Nilai yang bersifat abstrak tidak dapat diindra. Hal

yang dapat diamati hanya objek yang bernilai. Misalnya, orang

yang memiliki kejujuran. Kejujuran adalah nilai, tetapi tidak

(26)

2) Nilai memiliki sifat normatif, artinya nilai mengandung

harapan, cita-cita, dan suatu keharusan sehingga nilai memiliki

sifat ideal. Nilai diwujudkan dalam bentuk norma sebagai

landasan manusia dalam bertindak. Misalnya, nilai keadilan.

Semua orang berharap, mendapatkan, dan berperilaku yang

mencerminkan nilai keadilan.

3) Nilai berfungsi sebagai daya dorong/motivator dan manusia

sebagai pendukung nilai. Manusia bertindak berdasar dan

didorong oleh nilai yang diyakininya. Misalnya, nilai

ketakwaan. Adanya nilai ini menjadikan semua orang

terdorong untuk bisa mencapai derajat ketakwaan.

Nilai merupakan bagian penting dalam kebudayaan. Suatu

tindakan dianggap sah dan diterima secara moral jika selaras

dengan nilai-nilai yang disepakati oleh masyarakat tersebut. Nilai

akan senantiasa berubah mengikuti kehidupan masyarakat yang

terus berkembang. Apalagi dengan kemajuan teknologi yang telah

sampai pada masyarakat pedesaan, membuat pergeseran nilai

semakin merambat cepat.

b. Pendidikan Karakter

Pendidikan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:

263) merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang

atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui

(27)

tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, tercantum

pengertian pendidikan:

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya sehingga memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan oleh dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara (Suwarno, 2006: 21-22).

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak hanya

bertujuan membentuk peserta didik untuk pandai, pintar,

berpengetahuan, dan cerdas tetapi juga berorientasi untuk

membentuk manusia berbudi luhur, berpribadi, dan bersusila. Oleh

karena itu, pendidikan juga harus memperhatikan kebudayaan

sebagai hasil budi daya cipta, rasa, dan karsa manusia karena

kebudayaan merangkum berbagai hasil karya luhur manusia

tersebut (Wibowo, 2012: 18).

Pendidikan bukan merupakan sarana transfer ilmu

pengetahuan saja, tetapi lebih luas lagi yaitu sebagai sarana

pembudayaan dan penyaluran nilai (enkulturisasi dan sosialisasi).

Anak harus mendapatkan pendidikan yang menyentuh dimensi

dasar kemanusiaan. Dimensi kemanusiaan itu mencakup tiga hal

paling mendasar, yaitu (1) afektif yang tercermin pada kualitas

keimanan, ketakwaan, akhlak mulia termasuk budi pekerti luhur

serta kepribadian unggul, dan kompetensi estetis; (2) kognitif yang

(28)

menggali dan mengembangkan serta menguasai ilmu pengetahuan

dan teknologi; dan (3) psikomotorik yang tercermin pada

kemampuan mengembangkan keterampilan teknis, kecakapan

praktis, dan kompetensi kinestetik (Muslich, 2011: 69).

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan

bukan hanya sebatas sarana transfer ilmu, tetapi lebih dari itu yaitu

sebagai proses pengubahan perilaku individu ke arah yang lebih

baik. Proses pendidikan berkaitan erat dengan pembentukan

karakter peserta didik. Muslich (2011: 2-3) mengemukakan bahwa

pendidikan merupakan mekanisme institusional yang akan

mengakselerasi pembinaan karakter bangsa dan juga berfungsi

sebagai arena mencapai tiga hal prinsipal dalam pembinaan

karakter bangsa. Menurut Rajasa, tiga hal prinsipal tersebut adalah

sebagai berikut:

1) Pendidikan sebagai arena untuk re-aktivasi karakter luhur

bangsa Indonesia. Secara historis bangsa Indonesia adalah

bangsa yang memiliki karakter kepahlawanan, nasionalisme,

sifat heroik, semangat kerja keras serta berani menghadapi

tantangan. Kerajaan-kerajaan Nusantara di masa lampau adalah

bukti keberhasilan pembangunan karakter yang mencetak

tatanan masyarakat maju, berbudaya dan berpengaruh.

2) Pendidikan sebagai sarana untuk membangkitkan suatu

(29)

sekaligus memobilisasi potensi domestik untuk meningkatkan

daya saing bangsa.

3) Pendidikan sebagai sarana untuk menginternalisasi kedua aspek

di atas yakni re-aktivasi sukses budaya masa lampau dan

karakter inovatif serta kompetitif, ke dalam segenap

sendi-sendi kehidupan bangsa dan program pemerintah.

Membangun karakter tidak bisa dilakukan secara cepat dan

instan karena karakter bersifat abstrak dan tidak bisa secara

langsung dipahami dalam waktu yang singkat (Ilahi, 2014: 25).

Selain membutuhkan waktu yang lama, dalam membangun

karakter harus dilakukan secara berkesinambungan. Karakter yang

melekat pada bangsa kita akhir-akhir ini bukan terjadi begitu saja

secara tiba-tiba, tetapi sudah melalui proses yang panjang. Potret

kekerasan, pembunuhan, dan ketidakjujuran anak-anak bangsa

yang ditampilkan oleh media baik cetak maupun elektronik

sekarang ini sudah melampaui batas kewajaran. Budaya seperti itu

tidak hanya melanda rakyat yang berpendidikan rendah, tetapi

sudah sampai pada masyarakat terdidik, seperti pelajar dan

mahasiswa bahkan para elite bangsa ini.

Karakter dimaknai oleh Samani dan Hariyanto (2014: 41)

sebagai cara berfikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk

hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat,

(30)

yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggung

jawabkan setiap akibat dari keputusannya. Sedangkan Imam

Ghozali menganggap karakter lebih dekat dengan akhlak, yaitu

spontanitas manusia dalam bersikap, atau perbuatan yang telah

menyatu dalam diri manusia sehingga ketika muncul tidak

dipikirkan lagi.

Karakter juga diartikan oleh Zaenal Fitri (2012: 20) sebagai

sifat manusia pada umumnya yang bergantung pada faktor

kehidupannya sendiri. Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak, atau

budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok

orang. Karakter merupakan nilai-nilai perilaku manusia yang

berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama

manusia, lingkungan, dan kebangsaan, yang terwujud dalam

pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan

norma-norma agama, hukum, tata krama, budaya, dan adat istiadat.

Karakter dapat juga diartikan sama dengan akhlak dan budi

pekerti sehingga karakter bangsa sama dengan akhlak bangsa atau

budi pekerti bangsa. Bangsa yang berkarakter adalah bangsa yang

berakhlak dan berbudi pekerti. Sebaliknya, bangsa yang tidak

berkarakter adalah bangsa yang tidak berakhlak atau tidak

memiliki standar norma dan perilaku yang baik.

Dikutip dari Kesuma, dkk (2012: 24), Hurlock dalam

(31)

mengungkapkan bahwa karakter terdapat pada kepribadian.

Karakter mengimplikasikan sebuah standar moral dan tingkah laku

yang diatur oleh upaya dan keinginan. Hati nurani, sebuah unsur

esensial dari karakter, adalah sebuah pola kebiasaan perlarangan

yang mengontrol tingkah laku seseorang, membuatnya selaras

dengan pola-pola kelompok yang diterima secara sosial.

Dapat disimpulkan bahwa karakter adalah sifat yang

mantap, stabil, dan khusus yang melekat dalam diri seseorang yang

membuatnya bersikap dan bertindak secara otomatis, tidak dapat

dipengaruhi oleh keadaan, dan tanpa memerlukan pertimbangan

terlebih dahulu karena telah menyatu dalam jiwa/diri seseorang

(tertanam kuat), dan secara spontanitas manusia akan bersikap.

Pendidikan karakter terbentuk dari proses yang

berkelanjutan dan tak pernah berakhir, sehingga menghasilkan

perbaikan kualitas yang berkesinambungan, yang ditujukan pada

terwujudnya sosok manusia masa depan, dan berakar pada

nilai-nilai budaya bangsa (Mulyasa, 2014: 1). Disamping itu, Ratna

Megawangi mengatakan pendidikan karakter merupakan suatu

bentuk usaha untuk mendidik anak-anak agar dapat mengambil

keputusan dengan bijak dan mempraktikkannya dalam kehidupan

sehari-hari, sehingga mereka dapat memberikan kontribusi yang

(32)

Dalam pendidikan karakter, Lickona (dalam Muslich, 2011:

133) menekankan pentingnya tiga komponen karakter yang baik

(component of good character), yaitu pengetahuan tentang moral

(moral knowing), perasaan tentang moral (moral feeling), dan

perbuatan moral (moral action).

Moral knowing berkaitan dengan moral awareness

(kesadaran moral), knowing moral values (mengetahui nilai-nilai

moral), perspective taking, moral reasoning (alasan moral),

decision making (mengambil keputusan), dan self knowledge

(pengetahuan diri). Moral feeling berkaitan dengan conscience

(nurani), self esteem (percaya diri), emphaty (merasakan

penderitaan orang lain), loving the good (mencintai kebenaran),

self control (mampu mengontrol diri), dan humility (kerendahan

hati). Sedangkan moral action merupakan perpaduan dari moral

knowing dan moral feeling yang diwujudkan dalam bentuk

kompetensi (competence), keinginan (will), dan kebiasaan (habit).

Ketiga komponen tersebut perlu diperhatikan dalam pendidikan

karakter agar individu menyadari, memahami, merasakan, dan

dapat mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari nilai-nilai

kebajikan itu secara utuh dan menyeluruh.

Terdapat beberapa hal yang harus dilakukan dalam

pendidikan karakter yaitu ngerti-ngroso-nglakoni (menyadari,

(33)

semacam aksesoris atau perhiasan bagi manusia yang berupa hasil

dari pengembangan dirinya.

c. Tujuan Pendidikan Karakter

Pada hakikatnya, tujuan pendidikan nasional tidak boleh

melupakan landasan konseptual filosofi pendidikan yang

membebaskan dan mampu menyiapkan generasi masa depan untuk

dapat bertahan hidup dan berhasil menghadapi tantangan-tantangan

zaman. Adapun tujuan pendidikan nasional menurut UU No.20

tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 3:

Pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggungjawab (Muslich, 2011: 84).

Pendidikan karakter bertujuan untuk meningkatkan mutu

proses dan hasil pendidikan yang mengarah pada pembentukan

karakter dan akhlak mulia peserta didik secara utuh, terpadu, dan

seimbang sesuai dengan standar kompetensi lulusan pada setiap

satuan pendidikan (Mulyasa, 2014: 9). Melalui pendidikan karakter

diharapkan peserta didik mampu secara mandiri meningkatkan dan

menggunakan pengetahuannya, mengkaji dan menginternalisasi,

serta mempersonalisasi nilai-nilai karakter dan akhlak mulia

sehingga terwujud dalam perilaku sehari-hari. pada tingkat

institusi, pendidikan karakter mengarah pada pembentukan budaya

(34)

kebiasaan keseharian, dan simbol-simbol yang dipraktikkan oleh

semua warga sekolah, dan masyarakat sekitar sekolah. Budaya

sekolag merupakan ciri khas, karakter atau watak, dan citra sekolah

tersebut di mata masyarakat luas (Muslich, 2011: 81).

Pendidikan karakter juga bertujuan untuk mengatasi krisis

karakter yang terjadi pada masyarakat global. Pendidikan karakter

berperan dalam mengembangkan potensi manusia secara optimal.

Pendidikan karakter bertujuan untuk mengembangkan pola pikir

dan perilaku individu yang bertanggungjawab dalam menjalankan

peran sosial di keluarga, masyarakat, dan warga negara

(Dwiningrum, 2014: 234).

Zubaedi (2012: 18) menjelaskan ada lima tujuan

diadakannya pendidikan karakter, yaitu:

1) Mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik

sebagai manusia dan warga negara yang memiliki nilai-nilai

karakter bangsa.

2) Mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang

terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi

budaya bangsa yang religius.

3) Menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab peserta

didik sebagai generasi penerus bangsa.

4) Mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia

(35)

5) Mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai

lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan

persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan

penuh kekuatan.

Pendidikan karakter memfasilitasi penguatan dan

pengembangan nilai-nilai tertentu sehingga terwujud dalam

perilaku anak, baik ketika proses sekolah maupun setelah proses

sekolah (setelah lulus dari sekolah) (Kesuma, dkk., 2012: 9).

Dalam konsep Islam, tujuan pendidikan karakter dimaksudkan agar

manusia berada dalam kebenaran dan senantiasa berada di jalan

yang lurus, yaitu jalan yang telah digariskan oleh Allah SWT.

inilah yang akan mengantarkan manusia kepada kebahagiaan dunia

dan akhirat. Karakter seseorang dianggap mulia jika perbuatannya

mencerminkan nilai-nilai yang terkandung di dalam Al-Qur’an

(Fathurrohman, 2013: 98).

Dengan demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan

karakter bertujuan membentuk bangsa yang tangguh, kompetitif,

berakhlak mulia, bermoral, bertoleran, bergotong-royong, berjiwa

patriotik, berkembang dinamis, berorientasi pada ilmu pengetahuan

dan teknologi yang semuanya dijiwai oleh iman dan taqwa kepada

(36)

d. Fungsi Pendidikan Karakter

Dalam UU No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional Pasal 3, pendidikan nasional berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang

bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa

(Muslich, 2011: 83).

Kementrian Pendidikan Nasional (2011: 3) menjelaskan

fungsi pendidikan karakter, yaitu: (1) membangun kehidupan

kebangsaan yang multikultural; (2) membangun peradaban bangsa

yang cerdas, berbudaya luhur, dan mampu berkontribusi terhadap

pengembangan kehidupan umat manusia, serta mengembangkan

potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, berperilaku baik,

dan keteladanan yang baik; (3) membangun sikap warga negara

yang cinta damai, kreatif, mandiri, dan mampu hidup

berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni.

Selain itu, Mulyasa (2014: 231) mengungkapkan fungsi

utama pendidikan karakter sesuai kebijakan nasional karakter

bangsa, yaitu:

1) Fungsi pembentukan dan pengembangan potensi.

Pembangunan karakter bangsa berfungsi membentuk dan

mengembangkan potensi manusia atau warga negara Indonesia

agar berpikiran, berhati dan berperilaku baik sesuai dengan

(37)

2) Fungsi perbaikan dan penguatan. Pembangunan karakter

bangsa berfungsi memperbaiki dan memperkuat peran

keluarga, satuan pendidikan, masyarakat, dan pemerintah untuk

ikut berpartisipasi serta bertanggungjawab dalam pembangunan

bangsa menuju bangsa yang maju, mandiri, dan sejahtera.

3) Fungsi penyaring. Pembangunan karakter bangsa berfungsi

memilih budaya bangsa sendiri dan menyaring budaya bangsa

lain yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya dan karakter

yang bermartabat.

e. Macam-Macam Pendidikan Karakter

Menurut Kemdiknas, Sebagaimana dikutip Wibowo, (2013:

14-15) menyatakan bahwa nilai-nilai luhur yang terdapat di dalam

adat dan budaya suku bangsa kita, telah dikaji dan dirangkum

menjadi satu. Berdasarkan kajian tersebut telah teridentifikasi

butir-butir nilai luhur yang diinternalisasikan terhadap generasi

bangsa melalui pendidikan karakter.

Nilai-nilai pendidikan karakter dikelompokkan menjadi

lima macam yaitu; (1) nilai pendidikan karakter berkaitan dengan

Tuhan; (2) nilai pendidikan karakter berkaitan dengan sesama; (3)

nilai pendidikan karakter berkaitan dengan negara; (4) nilai

pendidikan karakter berkaitan dengan diri sendiri; (5) nilai

pendidikan karakter berkaitan dengan lingkungan.

(38)

Nilai pendidikan karakter berkaitan dengan Tuhan adalah

religius. Religius merupakan sikap dan perilaku yang patuh

dalam melaksanakan ajaran agama yang dianutnya, toleran

terhadap pelaksanaan ibadah agama lain, serta hidup rukun

dengan pemeluk agama lain (Suparno, 2015: 35).

2) Nilai Pendidikan Karakter Berkaitan dengan Sesama

a) Menghargai Prestasi

Menghargai prestasi adalah sikap dan tindakan yang

mendorong dirinya untuk menghasilkan sesuatu yang

berguna bagi masyarakat, mengakui, dan menghormati

keberhasilan orang lain (Suparno, 2015: 36). Menghargai

prestasi adalah menghargai karya orang lain dan

menghormati hasil usaha, ciptaan, dan pemikiran. Karena

dengan sikap seperti itu kehidupan akan berjalan dengan

tenteram dan damai, sehingga setiap orang akan menyadari

pentingnya sikap saling menghormati dan menghargai.

b) Demokratis

Demokratis adalah cara berfikir, bersikap, dan

bertindak yang menilai sama hak dan kewajiban dirinya dan

orang lain (Suparno, 2015: 36). Nilai demokratis ini perlu

diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, karena akan

menghasilkan keseimbangan antara hak dan kewajiban

(39)

c) Peduli Sosial

Sikap dan tindakan yang selalu ingin memberi

bantuan kepada orang lain dan masyarakat yang

membutuhkan (Suparno, 2015: 37). Manusia diciptakan

Allah sebagai makhluk sosial, yaitu makhluk yang

senantiasa mengadakan hubungan dengan sesamanya. Kerja

sama antara orang lain dapat terbina dengan baik apabila

masing-masing pihak memiliki kepedulian sosial.

d) Bersahabat/Komunikatif

Tindakan yang memerlihatkan rasa senang

berbicara, bergaul, dan bekerja sama dengan orang lain

(Suparno, 2015: 37). Orang yang bersahabat/komunikatif

akan membawa kedamaian dan kenyamanan bagi orang

disekitarnya karena orang yang bersahabat akan

menunjukkan sikap memahami perilaku, pikiran dan sikap

orang lain.

3) Nilai Pendidikan Karakter Berkaitan dengan Negara

a) Semangat Kebangsaan

Cara berfikir, bertindak, dan berwawasan yang

menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas

kepentingan diri dan kelompoknya (Suparno, 2015: 36).

(40)

kebangsaan serta menempatkan kepentingan negara di atas

kepentingan pribadi atau kelompok.

b) Cinta Tanah Air

Cara berfikir, bersikap, dan berbuat yang

menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang

tinggi terhadap bangsa, lingkungan fisik, sosial, budaya,

ekonomi dan politik bangsa (Suparno, 2015: 36). Rasa cinta

tanah air berarti rela berkorban untuk tanah air dan

membela dari segala macam ancaman dan gangguan yang

datang dari bangsa manapun.

c) Cinta Damai

Sikap, perkataan, dan tindakan yang menyebabkan

orang lain merasa senang dan aman atas kehadiran dirinya

(Suparno, 2015: 37). Cinta damai dimaknai sebagai sikap

yang tidak suka permusuhan, hubungan antar sesama

terjalin dengan baik, kemakmuran dalam hal kesejahteraan

sosial dan ekonomi, dan tidak menyelesaikan suatu masalah

dengan jalan kekerasan.

4) Nilai Pendidikan Karakter Berkaitan dengan Diri Sendiri

a) Jujur

Jujur merupakan perilaku yang didasarkan pada

(41)

dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan

(Suparno, 2015: 35).

Jujur sebagai sebuah nilai merupakan keputusan

seseorang untuk mengungkapkan dalam bentuk perasaan,

kata-kata, dan/atau perbuatan bahwa realitas yang ada tidak

dimanipulasi dengan cara berbohong atau menipu orangl

lain untuk keuntungan pribadi. Seseorang yang memiliki

karakter jujur akan diminati orang lain, baik dalam konteks

persahabatan, bisnis, rekan kerja, bertetangga, dan

sebagainya. Karakter ini merupakan salah satu karakter

pokok untuk menjadikan seseorang cinta kebenaran,

apapun risiko yang akan diterima dengan kebenaran yang

dilakukannya.

b) Tanggungjawab

Sikap dan perilaku seseorang untuk melaksanakan

tugas dan kewajibannya, yang seharusnya dia lakukan,

terhadap diri sendiri, masyarakat, lingkungan alam, sosial,

dan budaya, negara dan Tuhan Yang Maha Esa (Suparno,

2015: 37). Tanggungjawab merupakan kesadaran manusia

akan tindakan yang dilakukannya baik yang disengaja

maupun tidak, dan sudah menjadi kodrat manusia dibebani

suatu tanggungjawab karena ia menyadari akibat baik dan

(42)

jawab terhadap apa yang sudah diberikan atau dibebankan

kepadanya, dan melaksanakan kewajibannya itu dengan

baik dan benar.

c) Disiplin

Tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan

patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan (Suparno,

2015: 36). Orang yang disiplin akan memiliki tujuan yang

jelas dalam hidupnya dan konsisten dalam melakukannya

dan menjadikannya sebuah rutinitas. Belajar disiplin sangat

diperlukan. Disiplin dapat melahirkan semangat

menghargai waktu, bukan menyia-nyiakan waktu berlalu

begitu saja.

d) Bekerja Keras

Perilaku yang menunjukkan upaya

sungguh-sungguh dalam mengatasi berbagai hambatan belajar, tugas,

dan menyelesaikan tugas dengan sebaik-baiknya (Suparno,

2015: 36). Bekerja keras mempunyai sifat yang

bersungguh-sungguh untuk mencapai sasaran yang ingin

dicapai, dapat memanfaatkan waktu secara optimal

sehingga terkadang tidak mengenal waktu, jarak, dan

kesulitan yang dihadapi dengan semangat yang tinggi untuk

(43)

e) Kreatif

Berfikir dan melakukan sesuatu yang menghasilkan

cara atau hasil baru berdasarkan sesuatu yang telah dimiliki

(Suparno, 2015: 36). Seseorang dikatakan kreatif karena

memiliki ide dan menghasilkan sesuatu yang baru,

mengubah sesuatu yang imajinatif menjadi kenyataan.

Kreativitas melibatkan dua proses, yaitu: berpikir,

kemudian memproduksi.

f) Mandiri

Sikap dan perilaku yang tidak mudah tergantung

pada orang lain dalam menyelesaikan tugas-tugas (Suparno,

2015: 36). Pribadi yang mandiri tidak lari dari

tanggungjawab dan berupaya mencari jalan keluar untuk

mengatasi setiap masalah. Kemandirian berkembang

melalui proses belajar yang dilakukan secara bertahap dan

berulang-ulang mulai dari tahap ulang perkembangan

kemandirian yang sempurna.

g) Rasa Ingin Tahu

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya untuk

mengetahui lebih mendalam dan meluas dari sesuatu yang

dipelajari, dilihat, dan di dengar (Suparno, 2015: 36). Rasa

ingin tahu merupakan naluri alami, rasa ingin tahu

(44)

Semua orang pemikir besar, para jenius, adalah

orang-orang dengan karakter penuh rasa ingin tahu. Nilai rasa

ingin tahu ini merupakan cerminan keaktifan seseorang

dalam mempelajari sesuatu untuk menambah pengetahuan

atau pemahaman seseorang.

h) Gemar Membaca

Kebiasaan menyediakan waktu untuk membaca

berbagai bacaan yang memberikan kebajikan bagi dirinya

(Suparno, 2015: 37). Membaca merupakan langkah awal

untuk mencerdaskan bangsa. Seseorang yang gemar

membaca akan banyak mendapatkan pengetahuan dalam

berbagai bidang.

5) Nilai Pendidikan Karakter Berkaitan dengan Lingkungan

a) Peduli Lingkungan

Sikap dan tindakan yang selalu berupaya mencegah

kerusakan lingkungan alam di sekitarnya dan

mengembangkan upaya-upaya untuk memperbaiki

kerusakan alam yang sudah terjadi (Suparno, 2015: 37).

Seseorng yang peduli dengan lingkungan sekitar akan

menjaga lingkungannya gar tetap terlihat bersih, indah dan

rapi. Mereka bersahabat dengan alam bukan merusak dan

(45)

b) Toleransi

Sikap dan tindakan yang menghargai perbedaan

agama, suku, etnis, pendapat, sikap, dan tindakan orang lain

yang berbeda dari dirinya (Suparno, 2015: 36). Toleransi

adalah menerima dan menghargai perbedaan orang lain,

tidak memaksakan keyakinan orang lain, dapat bersikap

adil, objektif dan tidak menghakimi orang lain berdasarkan

latar belakang, penampilan atau kebiasaan yang

dilakukannya. jika manusia dapat bersikap toleran maka

manusia akan dapat hidup dengan damai.

Pada tahun 2016 ketikamasa pemerintahan Presiden Joko

Widodo bergulir pengembangan program Penguatan Pendidikan

Karakter (PPK). Terdapat lima nilai karakter utama yang

bersumber dari Pancasila, yang menjadi prioritas pengembangan

gerakan PPK; yaitu religius, nasionalisme, integritas, kemandirian

dan kegotong-royongan. Masing-masing nilai tidak berdiri dan

berkembang sendiri-sendiri, melainkan saling berinteraksi satu

sama lain, berkembang secara dinamis dan membentuk keutuhan

pribadi(https://kemenag.go.id/berita/read/504944/diakses pada 2

Agustus 2017, jam: 09.55 wib).

Tabel 1. Nilai-nilai karakter program Penguatan

Pendidikan Karakter (PPK) versi (Mendikbud) Muhadjir Effendy.

No. Nilai Deskriptif

(46)

melaksanakan ajaran agama dan kepercayaan yang dianut, menghargai perbedaan agama, menjunjung tinggi sikap toleran terhadap pelaksanaan ibadah agama dan kepercayaan lain, hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Implementasi nilai karakter religius ini ditunjukkan dalam sikap cinta damai, toleransi, menghargai perbedaan agama dan kepercayaan, teguh pendirian, percaya diri, kerja sama antar pemeluk agama dan kepercayaan, anti perundungan dan kekerasan, persahabatan, ketulusan, tidak memaksakan kehendak, mencintai lingkungan, melindungi yang kecil dan tersisih.

2. Nasionalisme Merupakan cara berpikir, bersikap, dan berbuat yang menunjukkan kesetiaan, kepedulian, dan penghargaan yang tinggi terhadap bahasa, lingkungan fisik, sosial, budaya, ekonomi, dan politik bangsa, menempatkan kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan diri dan kelompoknya. Sikap nasionalis ditunjukkan melalui sikap apresiasi budaya bangsa sendiri, menjaga kekayaan budaya bangsa, rela berkorban, unggul, dan berprestasi, cinta tanah air, menjaga lingkungan, taat hukum, disiplin, menghormati keragaman budaya, suku, dan agama.

3. Integritas Nilai yang mendasari perilaku yang didasarkan pada upaya menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan, tindakan, dan pekerjaan, memiliki komitmen dan kesetiaan pada nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Karakter integritas meliputi sikap tanggung jawab sebagai warga negara, aktif terlibat dalam kehidupan sosial, melalui konsistensi tindakan dan perkataan yang berdasarkan kebenaran. Seseorang yang berintegritas juga menghargai martabat individu (terutama penyandang disabilitas), serta mampu menunjukkan keteladanan.

4. Kemandirian Sikap dan perilaku tidak bergantung pada orang lain dan mempergunakan segala tenaga, pikiran, waktu untuk merealisasikan harapan, mimpi dan cita-cita. Siswa yang mandiri memiliki etos kerja yang baik, tangguh, berdaya juang, profesional, kreatif, keberanian, dan menjadi pembelajar sepanjang hayat.

5.

Kegotong-royongan

(47)

2. Tradisi Saparan

Tradisi adalah peristiwa budaya yang merupakan warisan dari para

pendahulu kita yang telah mewariskan nilai budaya yang tinggi sehingga

menjadikan identitas yang kuat serta mengakar dikalangan masyarakat

(Purwadi, 2007: 546). Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:

1208), tradisi adalah adat kebiasaan turun-temurun dari nenek moyang

yang masih dijalankan oleh masyarakat.

Tradisi dapat memberikan efek kebiasaan yang baik dan

berlangsung dari generasi ke generasi berikutnya. Nilai-nilai yang

diwariskan merupakan nilai yang oleh masyarakat masih dianggap baik

dan relevan dengan kebutuhan kelompok atau masyarakat. Setiap tradisi

dalam suatu masyarakat tidak lepas dari adanya upacara tradisional atau

yang kita kenal dengan upacara adat. Upacara itu sendiri mengandung

makna simbolik, nilai-nilai etika, moral dan sosial yang menjadi acuan

normatif individu dan masyarakat dalam menjalin kehidupan bersama

(Nursid, 2003: 49). Upacara tradisional mencerminkan semua perencanaan

dan tindakan yang diatur dalam tata nilai luhur yang diwariskan secara

turun temurun yang mengalami perubahan menuju perbaikan sesuai tata

urutan zaman.

Pada dasarnya, saparan di Dukuh Warak merupakan suatu bentuk

dari tradisi merti dusun. Merti dusun merupakan salah satu perwujudan

dari bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap alam semesta. Saparan

(48)

Jum’atwage. Hari pelaksanaan saparan pada tiap daerah berbeda-beda,

tergantung kesepakatan masyarakat yang berada di daerah tersebut.

Saparan di Dukuh Warak dilaksanakan dengan mengundang sanak

saudara, kerabat, dan teman untuk berkunjung ke rumah mereka. Hal ini

dimaksudkan agar tercipta kerukunan antar umat manusia baik sesama

agama maupun berbeda agama, baik yang kaya maupun miskin, dan yang

memiliki kasta maupun orang biasa. Pada malam harinya terdapat

pagelaran kesenian wayang yang wajib ada pada pelaksanaan saparan di

Dukuh Warak. Pada hari Sebelum acara berkunjung ke rumah, masyarakat

Dukuh Warak melaksanakan upacara lainnya seperti kenduri, bersih desa,

dandan kali, besik kubur, mengganti pagar pundhen yang bertujuan agar

dusunnya menjadi tenteram, bersih, terib, teratur, indah, dan nyaman

sehingga tetap terjaga ketahanan dan kekokohannya.

B. Kajian Pustaka

Kajian pustaka atau penelitian terdahulu mengenai berbagai ritual

tradisi masyarakat telah banyak dilakukan. Mengingat ragam budaya yang

beraneka disetiap daerah masing-masing. Beberapa diantaranya adalah:

Skripsi yang ditulis oleh Imran (2017) dengan judul Penerapan

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Dalam Tradisi Pemmali Pada

Masyarakat Bugis Desa Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe

Selatan. Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu

Keguruan. Institut Agama Islam Negeri Kendari. Penelitian ini merupakan

(49)

untuk mengumpulkan data, kemudian diolah dan dianalisis menggunakan

teknik trianggulasi. Dari penelitian ini ditemukan bahwa nilai-nilai

karakter yang terdapat pada tradisi pemmali pada masyarakat Bugis Desa

Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten Konawe Selatan adalah nilai

kejujuran, kedisiplinan, kepedulian, usaha, kesantunan, keteladanan,

kebersamaan, dan religius. Penerapan nilai-nilai pendidikan karakter

tersebut dikemas oleh orangtua dalam bentuk mitos. Sebab beberapa orang

tua masyarakat Bugis Desa Polewali Kecamatan Lainea Kabupaten

Konawe Selatan menganggap dengan cara tersebut anak lebih tertarik

mendengarkan dan lebih menurut ketika dinasehati. Orang tua menjadi

institusi tertinggi untuk menerapkan tradisi pemmali sebagai pembentukan

karakter anak yang membawa anak pada sifat kedewasaan sehingga dalam

bersosialisasi akan lebih terarah dan lebih dihargai oleh masyarakat.

Skripsi yang ditulis Natalia Tri Andyani (2013) dengan judul

Eksistensi Tradisi Saparan Pada MasyarakatDesa Sumberejo Kecamatan

Ngablak Kabupaten Magelang. Jurusan Sosiologi dan Antropologi.

Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Semarang. Penelitian ini

menggunakan metode kualitatif dan fokus penelitian dalam penelitian ini

adalah menggambarkan pelaksanaan tradisi saparan, dan memaparkan

sebab-sebab masyarakat Desa Sumberejo masih melakukan saparan serta

eksistensi saparan di Desa Sumberejo. Hasil penelitian ini menyimpulkan

bahwa pelaksanaan perayaan tradisi saparan dibagi dalam tiga klasifikasi

(50)

perayaan individu dan perayaan yang bersifat hiburan. Perayaan komunal

yaitu do’a bersama di rumah kepala dusun dengan tujuan kemakmuran dan

keselamatan desa serta memperkuat solidaritas diantara warga. Perayaan

individu dilaksanakan di rumah masing-masing dengan tujuan untuk

mempererat tali kekerabatan. Sedangkan perayaan hiburan bertujuan untuk

meramaikan suasana saparan. Masyarakat Desa Sumberejo masih

mempertahankan tradisi saparan karena dianggap masih sangat fungsional

dalam kehidupan sosial masyarakat Desa Sumberejo. Diantaranya adalah

fungsi pembawa kemakmuran, fungsi menjaga ikatan kekerabatan, fungsi

menjaga ikatan solidaritas dan kerukunan warga, fungsi hiburan, dan

fungsi menjaga warisan budaya.

Skripsi yang ditulis oleh Isnaini Erawati (2017) dengan judul

Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi Saparan Ki Ageng Wonolelo di Desa

Widodomartani Kecamatan Ngemplak Kabupaten Sleman Tahun 2015.

Jurusan Pendidikan Agama Islam. Fakultas Tarbiyah Dan Ilmu Keguruan.

Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Penelitian ini menggunakan metode

deskriptif kualitatif berupa pengamatan (observasi), wawancara, dan

dokumentasi. Peneliti dalam penelitian ini bertindak secara langsung ke

lapangan sehingga mendapatkan data yang real di dalam tradisi saparan Ki

Ageng Wonolelo tersebut sehingga bisa mendapatkan data yang akurat.

Dari penelitian ini menunjukkan bahwa pemahaman masyarakat sangat

baik tentang tradisi saparan Ki Ageng Wonolelo. Nilai-nilai pendidikan

(51)

kebersamaan, kerukunan, bertoleransi, dan saling menghormati tanpa

memandang ras dan suku karena di hadapan Sang Pencipta adalah sama.

Serta nilai sosial dengan adanya tradisi tersebut mendatangkan kehidupan

sosial budaya. Nilai religius untuk meningkatkan keimanan wujud syukur

kita terhadap kenikmatan dan karunia yang telah diberikan oleh Allah

SWT.

Dari ketiga karya ilmiah di atas memiliki kesamaan yaitu

sama-sama membahas mengenai tradisi, akan tetapi dari tiga karya ilmiah di atas

memiliki perbedaan dengan karya ilmiah yang saya teliti sekarang ini.

Perbedaan dari skripsi yang pertama dari saudara Imran ini

mencakup tentang penerapan karakter dalam sebuah tradisi, sedangkan

skripsi yang kedua dari saudariNatalia Tri Andyani membahas tentang

eksistensi tradisi saparan, dan skripsi yang terakhir atau ketiga dari

saudariIsnaini Erawati membahas tentang nilai pendidikan islam dalam

suatu tradisi.

Dari tiga kajian karya Ilmiah yang relevan di atas tersebut dengan

penelitian yang sekarang saya teliti, tidak memiliki kesamaan sama sekali,

karena yang saya teliti adalah nilai pendidikan karakter dan tradisi saparan

yang berjudul nilai-nilai pendidikan karakter dalam tradisi saparan di

Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga tahun

(52)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini termasuk penelitian lapangan (field research).Penulis

mengumpulkan data dari lapangan dengan mengadakan penyelidikan

secara langsung di lapangan untuk mencari berbagai masalah yang ada

relevansinya dengan penelitian ini. Jenis penelitian yang digunakan dalam

penelitian ini adalah metode kualitatif. Metode kualitatif dipandang

sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa

kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku ini dapat diamati

terhadap fakta-fakta yang ada saat sekarang dan melaporkannya seperti

apa yang terjadi. Penelitian kualitatif bersifat deskriptif karena analisis

data yang dilakukan berupa deskripsi atas gejala-gejala yang diamati, yang

tidak selalu berbentuk angka-angka.

B. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilakukan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh

Kecamatan Sidomukti Salatiga. Alasan mengapa penulis mengambil lokasi

ini adalah karena masih dijalankannya tradisi leluhur yaitu saparan yang

didalamnya terdapat nilai-nilai pendidikan, karakter, dan sosial, serta

keunikan dari tradisi yang ada di dusun tersebut. Oleh karena itu, penulis

(53)

yang terdapat dalam tradisi saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh

Kecamatan Sidomukti Salatiga.

C. Sumber Data

Untuk mendapatkan keterangan sumber tertulis, peneliti

mendapatkan dari sumber data atau informan. Mengenai teknik yang

digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik seleksi

informan yang mengetahui dan yang berpengaruh di masyarakat terhadap

tradisi saparan di Dukuh Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti

Salatiga. Adapun sumber data dari penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu:

1. Sumber Data Primer

Sumber data primer merupakan informasi yang dikumpulkan

peneliti langsung dari sumbernya. Data primer yang digunakan yaitu

buku-buku yang relevan dan hasil wawancara dari para ahli. Penentuan

sumber data pada orang yang di wawancarai dilakukan dengan teknik

purposive sampling, yaitu dipilih dengan pertimbangan dan tujuan

tertentu.

2. Sumber Data Sekunder

Sumber data sekunder meruapakan data yang diperoleh dari

sumber-sumber yang mendukung seperti dokumentasi, arsip desa dan

referensi lain yang berkaitan dengan penelitian.

D. Prosedur Pengumpulan Data

Untuk memperoleh data yang diperlukan dalam penelitian ini,

(54)

1. Observasi

Observasi merupakan pengamatan dan pencatatan dengan

sistematis dari fenomena-fenomena yang diteliti (Arikunto, 1990:

115). Peneliti melakukan pengamatan secara langsung untuk melihat

lebih dekat kegiatan yang dilakukan pada tradisi saparan di Dukuh

Warak Kelurahan Dukuh Kecamatan Sidomukti Salatiga.

2. Wawancara

Wawancara merupakan suatu alat pengumpulan data yang

digunakan untuk memperoleh informasi langsung dari sumbernya

(Sudaryono, 2013: 35). Metode ini digunakan untuk memperoleh

informasi tidak tertulis mengenai makna dan prosesi saparan, serta

nilai-nilai pendidikan karakter yang terdapat di dalamnya.

3. Dokumentasi

Dokumentasi merupakan cara pengumpulan data langsung dari

tempat penelitian, buku-buku yang relevan, laporan kegiatan,

foto-foto, film dokumenter dan data lain yang relevan (Sudaryono, 2013:

41). Peneliti menggunakan arsip pemerintahan Kelurahan Dukuh untuk

mengungkapkan data profil dan potensi yang dimiliki Dukuh Warak.

E. Analisis Data

Analisis data merupakan proses mencari dan menyusun secara

sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan di lapangan,

dan dokumentasi serta studi pustaka dengan cara mengorganisasikan data

(55)

menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan akan dipelajari

dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri

maupun orang lain (Sugiyono, 2008: 88).

Teknik analisis data dalam suatu penelitian dilakukan

menggunakan analisis data deskriptif kualitatif, sehingga peneliti

menggambarkan keadaan atau fenomena yang diperoleh kemudian

menganalisisnya dengan bentuk kata-kata untuk memperoleh kesimpulan.

Prosedur dalam analisis data yaitu pengumpulan data, reduksi data,

penyajian data, dan penarikan kesimpulan/verifikasi.

1. Pengumpulan Data

Peneliti melakukan proses pengumpulan data melalui wawancara,

observasi, dan dokumentasi untuk mendapatkan data yang lengkap

mengenai tradisi saparan. Data yang diperoleh kemudian dituliskan

dalam catatan lapangan yang berisi tentang apa yang dilihat, didengar,

disaksikan, dialami, dan juga temuan tentang apa yang dijumpai

selama penelitian dan merupakan bahan rencana pengumpulan data

untuk tahap berikutnya.

2. Reduksi Data

Reduksi dapat diartikan sebagai suatu proses pemilihan, pemusatan

perhatian pada langkah-langkah penyederhanaan dan transformasi data

kasar yang muncul dari catatan tertulis di lapangan. Reduksi data

berlangsung secara terus menerus selama proses penelitian berjalan.

(56)

menulis catatan kecil. Selain itu, peneliti harus jelas menajamkan,

menggolongkan, memisahkan, dan memilah mana yang perlu dan

mana yang tidak perlu untuk dimasukkan dalam laporan penelitian.

Dengan adanya reduksi ini dapat ditarik kesimpulan akhir secara tepat

sesuai permasalahan fokus utamanya.

3. Penyajian Data

Penyajian data dilakukan oleh peneliti dalam bentuk deskriptif

mengenai permasalahan yang telah dicantumkan. Peneliti menyajikan

secara sistematis sesuai dengan fokus utamanya. Setelah melalui

penyajian data, peneliti menuju proses penarikan kesimpulan. Peneliti

telah menelaah dan mempertegas dengan berbagai konsep dan teori

yang mendukung. Peneliti menyajikan data makna dan prosesi

pelaksanaan saparan serta nilai pendidikan karakter yang terdapat

dalam tradisi saparan secara deskriptif.

4. Penarikan Kesimpulan atau Verifikasi

Penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan data-data yang telah

diperoleh. Data-data tersebut ditelaah, dihubungkan untuk membentuk

pola dan dipadukan oleh peneliti sehingga membentuk struktur yang

sistematis. Hasil dari pengolahan tersebut menjadi dasar penarikan

kesimpulan yang dilakukan peneliti.

F. Pengecekan Keabsahan Data

Keabsahan data sangat mendukung dalam menentukan hasil akhir

(57)

memeriksa keabsahan data yaitu dengan menggunakan teknik triangulasi.

Teknik triangulasi data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah teknik

triangulasi berdasarkan sumber. Peneliti melakukan perbandingan dan

pengecekan dengan cara membandingkan data hasil pengamatan dengan

hasil wawancara, data hasil wawancara dengan dokumentasi, dan data

hasil pengamatan dengan dokumentasi. Hasil perbandingan dan

pengecekan ini diharapkan dapat menyatukan persepsi atas data yang

Gambar

Tabel 3. Jumlah Penduduk Berdasarkan Pendidikan
tabel berikut:
Tabel 6. Jumlah Sarana dan Prasarana
Gambar 1. Slametan/kenduri dipimpin do’a oleh tokoh agama
+7

Referensi

Dokumen terkait

untuk menliti Aspek Pendidikan Religius pada tradisi Upacara Rasulan di Dukuh Ngadipiro Desa Grajegan Kecamatan Tawangsari Kabupaten Sukoharjo.a.

Nilai gotong royong dalam upacara Tradisi Sedekah Desa ini telihat dalam pelaksanaan atau penyelenggaraan yang dilakukan bersama- sama antara warga masyarakat Dusun

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Dosen Pembimbing: Dra. Siti Asdiqoh, M.Si. Kata kunci: Persepsi, Pendidikan Karakter, dan Komunitas Hijabers. Latar belakang

Hasil penelitian menunjukan bahwa kesenian rodat adalah kesenian tradisional yang masih dilestarikan oleh masyarakat dan menurut pemahaman masyarakat desa

pendidikan bagi siswa-siswa di SMPLB Negeri Salatiga. Faktor Penghambat Pembelajran Al-Quran pada Siswa Tunarungu di. SMPLB Negeri Salatiga. a) Kondisi ketunaan, sehingga

Islam Negeri Salatiga.. Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Negeri Salatiga Bagi Penyandang Tunarungu Siswa Kelas B SMPLB Negeri Salatiga. Skripsi Fakultas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) konsep pendidikan karakter yang dikembangkan di SMP Islam Al-Azhar 18 Kota Salatiga adalah berkonsep kepada nilai dan ajaran

Hasil penelitianSerat Wedhatama berisi nilai-nilai Ontologi Pendidikan mengenai pokok ajaran mengenai Sembah Catur atau empat sembah (Sembah Raga, Sembah Cipta,