• Tidak ada hasil yang ditemukan

Semua hal yang dilakukan oleh manusia pasti memiliki tujuan tertentu yang ingin dicapai, begitu pula dengan adanya pelaksanaan pembinaan keagamaan pada suatu keluarga, baik itu keluarga yang utuh maupun keluarga yang tidak utuh alias single parent. Pelaksanaan pendidikan yang dilaksanakan haruslah dapat meningkatkan derajat atau kesusilaan anak didik, karena pendidikan tidak dinamakan kalau tidak mempunyai tujuan untuk mencapai kebaikan anak di dalam arti sebenarnya, (Sutari Imam Barnabid,pengantar Ilmu Sistematis :37).

Sama halnya dengan dengan pelaksanaan pendidikan dalam keluarga

single parent, dimana orangtua mempunyai tujuan-tujuan tertentu dalam mendidik anak. Semua orangtua yang beragama baik agama apapun meyakini akan kebenaran agamanya, sudah menjadi hal yang wajib bagi orang tua untk

melaksanaan pembinaan keagamaan serta senantiasa memperhatikan dan mengusahakan dengan sebaik-baiknya.

Salah satu perhatian dan usaha yang dilakukan orang tua untuk mendidik anaknya dalam hal keagamaan adalah memberikan contoh dan selalu membiasakan anak dalam mengamalkan atau menerapkan ajaran-ajaran agama Islam.

Dalam keadaan seperti ini keluarga adalah lingkungan pertama yang sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan agama anak, meskipun tidak hanya lingkungan keluarga saja bahkan lingkungan lain yang merupakan faktor yang juga dapat mempengaruhi perkembangan anak, baik perkembangan Jasmani maupun Rohani.

Tercapainya tujuan secara optimal harus memiliki kunci keberhasilan yang bisa ditentukan oleh beberapa pihak dalam membimbing serta mengarahkannya, itu menandakan bahwa orangtua mempunyai harapan yang harus dipenuhi oleh anak-anaknya. Harapan ini bisa diwujudkan oleh anak dalam bentuk potensi yang dimiliki masing-masing anak, dan seharusnya harapan orangtua itu sejalan dengan potensi fitrah yang ada pada masing-masing anak

Dengan mengangkatnya kasus pada keluarga single parent, maka berkaitan pula dengan apa tujuan yang dilakukan dalam pembinaan keagamaan pada anak dari orangtua single parentadalah yaitu Ibu YN:

“Dengan pendidikan dan bekal agama yang didapat oleh anak saya,

dan tentunya saya menaruh harapan agar bekal itu dapat dijadikan sebagai pedoman untuk kehidupan masa depannya sehingga anak saya menjadi anak yang sholehah dan menjadi muslimah yang berbakti kepada orangtua serta takut kepada Allah, sehingga masa depannya menjadi lebih tertata dengan benar, serta dengan dasar itu dapat menjaga dari pergaulan dilingkungan”

(Wawancara dengan Ibu YN, pada tanggal 6 Februarii 2015 )

Disamping tujuan yang ingin dicapai, ada juga harapan orangtua dari anak-anaknya, sedangkan tujuan pembinaan keagamaan menurut ibu KM :

“sebagai orangtua, saya berharap agar kelak anak saya bisa menjadi wanita yang kuat, dan menjadi anak yang sholehah, berbakti kepada orangtuanya, sehingga masa depannya menjadi penuh barokah, serta ilmu agama yang sudah dan yang akan didapat semoga bermanfaat dan menjadikanya berguna untuk dirinya sendiri dan agama, karena saya tidak mau anak saya menjadi seperti ibunya,”(wawancara dengan Ibu KM, tanggal 6 Februari 2015).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Ibu MY, walaupun anaknya AG memiliki kekurangan yang belum tentu orang lain mampu menjalaninya, Ibu MY juga memiliki harapan terhadap anaknya tersebut, serta harapan yang berkaitan dengan tujuan dilaksanakannya pembinaan keagamaan terhadap anaknya :

“semoga AG menjadi anak yang sholeh sesuai dengan namanya, mempunyai pengetahuan tentang agama, sopan santun dan kemandirian yang paling penting berguna untuk dirinya sendiri, orangtua dan masyarkat

sekitarnya, Toh banyak orang yang cacat yang bisa berkarya,” (wawancara

Tidak jauh berbeda dengan apa yang diharapkan dari beberapa orangtua, bapak AG juga mempunyai harapan dari anaknya yang sudah beranjak dewasa, yang kaitannya dengan tujuan pembinaan keagamaan terhadap anaknya.

“saya cuma berharap agar anak saya EG tidak pernah membenci ayahnya, bagaimanapun juga saya harus tetap member pendidikan dari hati ke hati mba, selain saya juga selalu mendisplinkan EG untuk selalu ngaji, agar kelak mempunyai dasar dan dijadikan pedoman dalam masa depannya nanti, serta dapat menjadikan pribadi muslimah yang kuat dan mandiri, bermanfaat

terutama untuk keluarga serta bagi agama,” ( wawancara dengan Ibu JJ, pada tanggal 8 Februari 2015).

Tujuan yang sama juga diungkapkan oleh Ibu GL, walaupun anak Ibu GL yaitu ND masih berusia 7 tahun ibu GL sudah memberikan pembinaan agama yang bertujuan agar dalam perkembangan menuju dewasa ND sudah mempunyai ilmu dasar agama, seperti penjelasan Ibu GL berikut ini,

“iya mba, saya cuma bisa berharap dan berdoa agar kelak anak saya bisa tumbuh menjadi laki-laki yang bertanggung jawab, dengan bekal agama yang diajarkan sejak kecil, insyallah ND bisa menjadi anak yang sholeh serta berguna untuk keluarga serta masyarakat, dan saya akan memberikan pendidikan yang baik pula mba, nanti setelah lulus dari SD saya mau

masukkan ke MTS mba,” (wawancara dengan Ibu GL, pada tanggal 8 Februari2015).

Bapak SD adalah responden dengan nama status yang berbeda yaitu duda, seorang dudapun punya kewajiban yang sama dalam memberikan pendidikan, dan inilah tujuan Bpk SD memberikan pembinaan agama pada anaknya masih kecil yaitu RM.

“seusia RM, adalah dimana ingin dimanja-manja dengan ibunya, tetapi keadaanlah yang harus dihadapi oleh anak saya mba, walaupun begitu saya akan tetap memberikan kasih sayang sepenuhnya untuk RM, sehingga walaupun dibilang pincang saya berharap perkembanganya tetap baik dan selalu saya tanamkan dasar-dasar pokok agama, sehingga rasa mandiri dan mengenal agama dimulai sejak dini, bahkan neneknya pun juga memberikan kasih sayang yang penuh supaya RM tumbuh menjadi anak yang kuat serta menjadi anak yang sholehah, menjadi kebanggaan saya dan keluarga,”(wawancara dengan Bpk SD tanggal 8 Februari 2015).

Ketika Ibu MN memberikan penjelasan tentang tujuannya dalam pembinaan agama, dengan tegas Ibu MN mengatakan,

“bahwa pembinaan agama dengan dasar pokok adalah tujuan yang

utama dalam memberikan bekal kepada anak-anaknya, apalagi saya punya anak 2 anak mba, jadi untuk pembinaan keagamaan seringkali kakaknya juga memberikan contoh, saya berharap agar kelak masa depan anak-anak saya lebih baik dari saya, semenjak ditinggal Bapaknya setiap malam jumat kakaknya selalu mengajak kemakam secara tidak langsung itu adalah bentuk pembinaan, agar kelak jika saya mati saya juga didoakan oleh anak-anak saya mba, dan semoga anak saya menjadi anak yang sholehah,”( wawancara

dengan Ibu MN, pada tanggal 09 Februari 2015).

Tujuan yang Ibu RN utaraka tidak jauh berbeda dengan tujuan dari beberapa responden, karena pada dasarnya tujuan utama dalam melaksanakan pembinaan keagamaan kepada anak adalah wajib dan harus dilakukan agar kelak anak mempunyai pedoman sebagai pegangan hidup, seperti penuturan Ibu RN tentang tujuan pembinaan,

“kewajiban orangtua itu tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik saja

mba, akan tetapi kebutuhan rohaniah itu juga tidak kalah penting, karena jika memeberikan fondasi yang kuat maka kehidupan anak kita kelak akan jauh lebih baik dari kita sekarang, maka saya juga menaruh harapan yang besara kepada anak saya supaya kelak menjadi anak yang bisa berguna bagi dirinya, keluarga, serta masyarakat pada umumnya, serta menjadi manusia yang

bahagia dunia dan akhirat,”(wawancara dengan Ibu Rn, pada tanggal 8 Februari 2015).

Anak merupakan amanah dari Allah yang harus orangtua jaga serta memberikan pendidikan yang sebaik-baiknya dengan dasar ajaran Agama Islam. Dengan demikian, dengan adanya pembinaan keagamaan bagi anak-anak mereka, diharapkan anak-anak mencapai pengetahuan, pengalaman serta kepribadian yang baik yang sesuai dengan dasar dan pedoman yaitu Al Qur’an dan Hadist yang merupakan cerminan dari nilai-nilai agama islam. Serta mampu memenuhi apa yang diharapkan oleh setiap orang tua, yang berharap agar anak-anaknya jauh lebih baik dari kehidupan orang tuanya. Sehingga tujuan pembinaan keagamaan yang dimulai sejak dini dapat tercapai dengan hasil yang memuaskan serta menjadikan tabungan surg bagi orangtua.