• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH POLA SUH OTORITER ORANG TUA TERHADAP PERILAKU KEAGAMAAN SISWA KELAS VIII MTs NEGERI SALATIGA SKRIPSI Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "PENGARUH POLA SUH OTORITER ORANG TUA TERHADAP PERILAKU KEAGAMAAN SISWA KELAS VIII MTs NEGERI SALATIGA SKRIPSI Diajukan untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)"

Copied!
94
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH POLA SUH OTORITER ORANG TUA

TERHADAP PERILAKU KEAGAMAAN SISWA

KELAS VIII MTs NEGERI SALATIGA

SKRIPSI

Diajukan untuk memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.)

Oleh

EVA INTAN SARI

NIM 111 11 153

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM

FAKULTAS TARBIYAH DAN ILMU KEGURUAN

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI

SALATIGA

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

6 MOTTO

“Sesungguhnya bersama kesukaran itu ada keringanan. Karena itu bila kau sudah selesai (mengerjakan yang lain). Dan berharaplah kepada

(7)

7

PERSEMBAHAN

Skripsi Ini Penulis Persembahkan Untuk:

1. Kepada kedua orangtua tercinta, Ayahanda Slamet Riyanto dan Ibunda

Sugiyanti yang karena atas segala limpahan kasih sayang, pengorbanan

dan doanya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dan penulisan

skripsi ini dengan baik dan lancar.

2. Adik tercinta yang selalu memberi inspirasi dalam hari-hari penulis.

3. Dra. Sri Suparwi, M.A yang membimbing dan memotifasi penulis dengan

sabar dari bangku studi sampai terselesaikannya skripsi ini.

4. Seluruh dosen di IAIN Salatiga yang telah memberika hikmah dan

pengajaran, motifasi dan apresiai, sehingga penulis selalu bersemangat

untuk terus maju dan berkembang.

5. Seseorang yang telah mengisi hatiku yang selalu memotivasi &

menyemangati terimakasih sudah menemani hari-hariku dengan penuh

kasih sayang.

6. Teman, rekan, sahabat selama studi di IAIN Salatiga semua angkatan,

terkhusus angkatan 2011, dan semua yang rekan yang mendukung dan

(8)

8

KATA PENGANTAR

Terucap syukur kepada Allah SWT Yang Maha Sempurna beserta Asmaul

HusnaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu

persyaratan wajib untuk dapat memperoleh gelar Sarjana Srata Satu Pendidikan

Islam (S.Pd.I) Jurusan Pendidikan Agama Islam, Fakultas Tarbiyah dan Ilmu

Keguruan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatiga. Tak lupa sholawat serta

salam semoga tercurahkan kepada Baginda Rasulullah SAW.

Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak menemui hambatan, tetapi

dengan rahmat-Nya dan perjuangan penulis serta bantuan berbagain pihak

sehingga skripsi ini terselesaikan. Oleh karena itu, penulis ingin menyampaikan

banyak terimakasih atas segala nasehat, bimbingan, dukungan, dan bantuannya

kepada :

1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Rektor IAIN Salatiga.

2. Bapak Suwardi, M.Pd. selaku Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu

Keguruan IAIN Salatiga.

3. Ibu Siti Rukhayati, M.Ag. selaku Kajur PAI IAIN Salatiga.

4. Ibu Dra. Sri Suparwi, M.A. selaku pembimbing skripsi yang telah

meluangkan waktu, fikiran, dan tenaga dalam membimbing dan memberi

(9)
(10)

10 ABSTRAK

Intan sari, Eva. 2015. Pengaruh Pola Asuh Otoriter Orang Tua terhadap Perilaku Keagamaan Siswa kelas VIII MTs Negeri Salatiga. Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan. Jurusan Pendidikan Agama Islam.Institut Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing: Dra. Sri Suparwi, M.A

Kata Kunci: Pola Asuh Otoriter Orang Tua, Perilaku Keagamaan

Latar belakang masalah penelitian ini adalah banyaknya orang tua yang mengharap anaknya untuk berprestasi juga mempunyai perilaku keagamaan yang baik. Maka dari itu peneliti tertarik untuk meneliti tentang Pengaruh Pola Asuh Otoriter Orang Tua terhadap Perilaku Keagamaan Siswa Kelas VIII MTs Negeri Salatiga.

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Untuk mengetahui pola asuh otoriter orang tua siswa MTs Negeri Salatiga. (2) Untuk mengetahui perilaku keagamaan siswa MTs Negeri Salatiga. (3) Untuk mengetahui pengaruh pola asuh otoriter orang tua terhadap perilaku keagamaan siswa MTs Negeri Salatiga.

Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif yakni dengan teknik pengumpulan data menggunakan angket dengan skala likert adapun populasinya siswa kelas VIII MTs Negeri Salatiga dengan jumlah siswa 255 dan di ambil sampel 50 siswa dengan ramdom sampling (acak). Analisis data menggunakan analisis awal dengan rumus presentase sedang analisis lanjutan menggunakan product moment.

(11)

11 DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... ...i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

DEKLARASI KEASLIAN TULISAN ... v

MOTTO... vi

PERSEMBAHAN ... vii

KATA PENGANTAR ... viii

ABSTRAK ... x

DAFTAR ISI ... xi

DAFTAR TABEL ... xiv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah………..1

B. Rumusan Masalah………5

C. Tujuan Penelitian………5

D. Manfaat Penelitian………..5

E. Hipotesis……….6

F. Definisi Operasional………7

(12)

12 2. Perilaku Keagamaan 7

G. ... M etode Penelitian ... 8

1. ... P endekatan dan Rancangan Penelitian ... 9

2. ... L okasi Penelitian ... 9

3. ... P opulasi dan Sampel ... 9

4. ... T eknik Pengumpulan Data ... 10

5. ... I nstrumen Penelitian ... 11

6. ... A nalisis Data ... 15

H. ... S istematika Penulisan ... 16

BAB II KAJIAN PUSTAKA

A. ... P

ola Asuh Otoriter Orang Tua ... 17 1. ... P

(13)

13

2. ... T ipe-tipe Pola Asuh ... 18

a. ... P ola Asuh Otoriter ... 19

b... P ola Asuh otoritatif ... 19

c. ... P ola Asuh Permissive Indulgent... 20

d.... P ola Asuh Permissive Indiffent ... 20

B.... P erilaku Keagamaan ... 23

1. ... P engertian Perilaku Keagamaan ... 23

2. ... F aktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Keagamaan ... 26

C.... P engaruh Pola Asuh Otoriter Orang Tua terhadap Perilaku Keagamaan .... 27

BAB III HASIL PENELITIAN

A. ... G ambaran Umum Lokasi Penelitian ... 29

(14)

14

2. ... L etak Geografis MTs Negeri Salatiga ... 32

3. ... V isi Misi MTs Negeri Salatiga ... 32

4. ... S truktur Organisasi ... 33

5. ... D ata Keadaan Guru ... 34

6. ... K eadaan Siswa ... 35

7. ...D ata Fasilitas Pendukung Belajar Mengajar...36

B... P enyajian Data ... 36

BAB IV ANALISIS DATA

A. Analisis Data... ... 39

B. Interpretasi Data ...53

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulan ...55

B. Saran-saran...56

DAFTAR PUSTAKA

(15)

15

DAFTAR TABEL

Tabel 1.1 Indikator Pola Asuh Otoriter Orang Tua ... 13

Tabel 1.2 Indikator Perilaku Keagamaan ... 14

Tabel 3.1 Struktur Organisasi MTs Negeri Salatiga ... 33

Tabel 3.2 Data Guru MTs Negeri Salatiga... 34

Tabel 3.3 Data Keadaan Siswa MTs Negeri Salatiga ... 35

Tabel 3.4 Data sarana dan prasarana MTs Negeri Salatiga... 36

Tabel 3.5 Daftar Responden MTs Negeri Salatiga... 37

Tabel 4.1 Interval Pola Asuh Otoriter Orang Tua... 41

Tabel 4.2 Nilai Nominasi Pola Asuh Otoriter Orang Tua ... 42

Tabel 4.3 Presentase Pola Asuh Otoriter Orang Tua... 44

Tabel 4.4 Interval Perilaku Keagamaan ... 46

Tabel 4.5 Nilai Nominasi Perilaku Keagamaan ... 47

Tabel 4.6 Presentase Perilaku Keagamaan ... 49

Tabel 4.8 Tabel Kerja untuk Mencari Korelasi antara Pola Asu Otoriter

(16)

16 BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Keluarga adalah faktor pertama dan utama yang mempengaruhi

kehidupan, pertumbuhan dan pengembangan seseorang. Lingkungan pertama

yang mempunyai peran penting adalah lingkungan keluarga. Di sinilah, anak

dilahirkan, dirawat, dan dibesarkan. Di sini juga proses pendidikan berawal.

Orang tua adalah guru pertama dan utama bagi anak. Karena, orang tua (ayah)

adalah orang yang pertama kali melafazhkan adzan dan iqamah di telinga anak di

awal kelahirannya. Orang tua adalah orang pertama kali mengajarkan anak

berbahasa dengan mengajari anak mengucapkan kata ayah, ibu, nenek, dan

anggota keluarga lainnya. Orang tua adalah orang yang pertama mengajarkan

anak bersosialisasi dengan lingkungan sekitarnya (Musbikin, 2009: 111). Bahkan

lebih di tegas kan lagi dalam hadits Nabi yaitu:

ٍدوُلْوَم ْنِم اَم َمَّلَسَو ِوْيَلَع ُوَّللا ىَّلَص ِوَّللا ُلوُسَر َلاَق َلاَق ُوْنَع ُوَّللا َيِضَر َةَرْ يَرُى ِبَِأ ْنَع

َلَع ُدَلوُي َّلَِّإ

ى

ِوِناَسِّجَُيُ ْوَأ ِوِناَرِّصَنُ ي ْوَأ ِوِناَدِّوَهُ ي ُهاَوَ بَأَف ِةَرْطِفْلا

“Dari Abu Hurairah r.a berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Tiadalah seorang dilahirkan melainkan dalam keadaan fitrah, maka ayah ibunyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi.” (HR. Bukhari)

Hadits di atas menjelaskan bahwa orang tualah yang pertama kali

(17)

17

pola asuh orang tua dalam mendidik anak sangatlah penting. Dengan mengajarkan

keagamaan anak dan juga bersikap atau berperilaku yang baik.

Fungsi dan Peran Orang Tua dalam keluarga bahwa orang tua merupakan

orang pertama yang bertanggung jawab terhadap proses hubungan dalam

keluarga, antara lain sebagai tauladan bagi anak, mengarahkan tata cara bergaul

dan pendidikan bagi anak-anaknya. Dan untuk melaksanakan semua itu orang tua

harus memerankan fungsi sebagai pelindung, pemelihara dan juga sebagai

pendidik.

Kepribadian tumbuh dan berkembang sepanjang hidup manusia, terutama

sejak lahir sampai masa remaja yang selalu berada dilingkungan keluarga, diasuh

oleh orang tua, dan bergaul dengan anggota keluarga lainnya. Setiap hari berada

di rumah dan hanya beberapa jam saja berada di sekolah atau tempat lainnya di

luar rumah. Karena itu, dapat dipahami cukup besar pengaruh dan peranan

keluarga serta orang tua dalam membentuk pribadi seorang anak (Ahmadi, 2005:

167).

Pembinaan perilaku keagamaan anak sangat berpengaruh kepada

kepribadian anak jika memandang sifat anak yang suka meniru perilaku orang

lain. Seperti dalam teori belajar sosial dari Albert Bandura menurutnya sebagian

besar perilaku individu diperoleh sebagai hasil belajar melalui pengamatan atas

tingkah laku yang ditampilkan oleh orang lain yang dijadikan sebagai model.

Maka dari itu membutuhkan peran dari semua kalangan tidak hanya guru yang

mengajarkan pendidikan agama islam namun peran orang tua juga sangat

(18)

18

ditiru anak, orang tua berperan mendorong prestasi anak dan perkembangan

perilaku anak.

Baumrind dalam (Santrock, 2002: 257) menyatakan bahwa pola asuh

otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menghukum yang

menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati

pekerjaan dan usaha.

Melihat dari gaya pengasuhan tersebut maka cenderung anak akan tertekan

dalam mengerjakan sesuatu karena selalu didesak orang tua. Dalam hal ini anak

tidak diberi kesempatan untuk bermusyawarah dengan orang tua. Orang tua

menerapkan peraturan-peraturan yang tegas dan tidak memberi peluang kepada

anak untuk memutuskan sendiri keinginannya. Dan seringkali orang tua akan

menerapkan kekerasan dalam mendidik anak. Pola asuh otoriter ini akan

mengakibatkan tidak adanya kebebasan anak, inisiatif anak dan juga aktivitasnya

menjadi berkurang, cenderung anak menjadi tidak percaya diri pada

kemampuannya.

Perkembangan anak dalam belajar dipengaruhi oleh beberapa faktor

diantaranya adalah faktor internal dan eksternal (Sholeh, 2005: 47) seperti unsur

fisiologis atau faktor keturunan (warisan) hal ini seperti orang tuanya memiliki

sifat pemarah maka anaknya pun besar kemungkinan anak itu akan memiliki sifat

yang pemarah. dan psikologis hal ini adalah faktor kecerdasan anak dan juga

faktor eksternal salah satunya adalah faktor keluarga hal ini seperti anak yang

pengasuhan orang tua menggunakan pola asuh otoriter dengan kekerasan maka

(19)

19

Banyak orang tua yang mengharapkan anak untuk berprestasi juga

memiliki perilaku keagamaan yang baik. Oleh karena itu orang tua banyak

menerapkan pola asuh otoriter yang kurang sesuai dengan kondisi anak. Sehingga

hal ini justru akan membawa hubungan antara orang tua dengan anak menjadi

kurang baik.

Sedangkan seorang anak mengharapkan lingkungan keluarga yang hangat,

terjalin komunikasi yang baik, kebersamaan, dan juga keteladan dari orang tua

yang dapat dicontoh oleh anak. Hal ini dapat dicontoh seorang anak yang terbiasa

dengan pola asuh orang tua yang memaksa dan keras maka anak cenderung anak

mengikuti hal itu dikemudian harinya.

Oleh karena itu dengan adanya pemahaman tentang pola asuh otoriter

orang tua diharapkan dapat mencegah perilaku orang tua yang kurang sesuai

dalam mendidik anak.

Berdasarkan dari uraian diatas, maka penulis tertarik mengadakan

penelitian dan pembahasan yang terkait dengan judul “PENGARUH POLA

ASUH OTORITER ORANG TUA TERHADAP PERILAKU KEAGAMAAN

(20)

20 B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah yang akan di teliti adalah:

1. Bagaimana pola asuh otoriter orang tua siswa MTs Negeri Salatiga?

2. Bagaimana perilaku keagamaan siswa MTs Negeri Salatiga?

3. Adakah pengaruh pola asuh otoriter orang tua terhadap perilaku keagamaan

siswa MTs Negeri Salatiga?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pola asuh otoriter orang tua siswa MTs Negeri Salatiga.

2. Untuk mengetahui perilaku keagamaan siswa MTs Negeri Salatiga.

3. Untuk mengetahui pengaruh pola asuh otoriter orang tua terhadap perilaku

keagamaan siswa MTs Negeri Salatiga.

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian diatas, maka dapat diketahui manfaat

penelitian ini adalah:

1. Secara teori

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas

tentang ada tidaknya pengaruh pola asuh otoriter orang tua terhadap perilaku

keagamaan siswa. Dan juga bisa memberikan sumbangan bagi pengembangan

(21)

21 2. Secara praktis

Hasil Penelitian ini dapat dijadikan ilmu bagi pembaca dan khususnya

bagi orang tua dalam menerapkan pola asuh kepada anaknya, jadi orang tua

dapat memilih dan menerapkan pola asuh yang sesuai dengan keadaan anak

sehingga anak tersebut akan menjadi generasi penerus yang berperilaku

keagamaan yang baik.

E. Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara terhadap permasalahan yang sedang

dihadapi. Oleh karenanya, hipotesis akan merupakan pengarah dalam penelitian.

Jika penelitian berbijak dari hipotesis maka tujuan penelitian jelas akan menguji

hipotesis. Data digali untuk menguji. Kesimpulan akan menyatakan apakah

hipotesis itu benar atau salah (Wirartha, 2006: 25).

Adapun hipotesis yang penulis ajukan dalam penelitian adalah “ada

pengaruh negatif pola asuh otoriter orang tua terhadap perilaku keagamaan pada

siswa MTs Negeri Salatiga”.

Semakin tinggi pola asuh otoriter orang tua maka perilaku keagamaan

siswa akan semakin memburuk. Sebaliknya semakin rendah pola asuh otoriter

(22)

22 F. Definisi Operasional

1. Pola asuh otoriter

Pola asuh merupakan pola interaksi orang tua dengan anak dalam

rangka pendidikan karakter anak (Muslich, 2011:100). Baumrind Dalam

(Santrock, 2002: 257) menyatakan bahwa pola asuh otoriter adalah suatu gaya

pengasuhan yang membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk

mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati pekerjaan dan usaha.

pola asuh otoriter orang tua adalah sesuatu cara, interaksi atau

komunikasi orang terhadap anak yang menerapkan sistem pengasuhan yang

kaku dan memaksa anak agar mengikuti perintah orang tua.

Adapun indikator dari pola asuh otoriter adalah :

a. Kedisiplinan yaitu orang tua menerapkan disiplin dan kontrol yang ketat

b. Kepatuhan yaitu anak harus tunduk dan patuh kepada aturan orang tua, dan

orang tua akan menghukum jika anak menglanggar

c. orang tua menilai sikap dan perilaku anak dengan standar mutlak

(Suparwi, 2013: 25).

2. Perilaku Keagamaan

Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan

atau lingkungan (Departemen Pendidikan Nasional, 2007: 859), sedangkan

menurut A. Bandura bahwa perilaku terbentuk bergantung pada pengaruh

(23)

23

suatu tindakan yang dilakukan terwujud dalam bentuk sikap tidak hanya

ucapan saja.

Keagamaan merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan

dan kumpulan aturan-aturan yang terangkum dalam kitab suci (Faridi, 2002:

19). Perilaku dalam konteks islam indikatornya adalah akhlak yang

sempurna. Akhlak yang sempurna mesti dilandasi oleh ajaran Islam (Tohirin,

2005: 61).

Perilaku keagamaan dalam penelitian ini adalah tentang nilai-nilai

agama dan ke dalam kepercayaan yang diekspresikan dengan melakukan

ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci (Hawari, 1996:5).

Perilaku keagamaan adalah suatu tindakan yang bertujuan untuk

mendekatkan diri kepada Allah yakni dengan melakukan ibadah, berdo‟a dll.

Adapun indikator dari perilaku keagamaan adalah:

a. Melaksanakan shalat wajib lima waktu dengan baik

b. Melaksanakan shalat sunah dengan baik

c. Membaca doa sehari-hari dengan baik

d. Membaca Al-Quran dengan baik (Sodikin, 2014: 9).

G. Metode Penelitian

Metodologi penelitian ialah ilmu tentang metode-metode yang akan

digunakan dalam melakukan suatu penelitian (Fathoni, 2011: 98). Adapun metode

(24)

24 1. Pendekatan dan rancangan penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kuantitatif dan

metode korelasional. Untuk mencari hubungan variabel yang satu dengan

variabel yang lain.

2. Lokasi penelitian

Lokasi Penelitian ini adalah MTs Negeri Salatiga, yang beralamatkan

di jalan Tegalrejo 1 Salatiga. Sekolah ini Pada tahun ajaran 2015/2016

memiliki siswa yang berjumlah 786 siswa, total kelas sebanyak 24 kelas yang

terdiri dari 8 kelas VII, 8 kelas di kelas VIII dan 8 kelas di kelas IX. Jumlah

siswa setiap kelasnya antara 30-35 siswa.

3. Populasi dan sampel

Menurut kamus riset karangan Drs. Komaruddin yang dimaksud

dengan populasi adalah semua individu yang menjadi sumber pengambilan

sampel. Pada kenyataanya populasi itu adalah sekumpulan kasus yang perlu

memenuhi syarat-syarat tertentu yang berkaitan dengan masalah penelitian

(Mardalis, 1995:59).

Dalam penelitian yang penulis lakukan di MTs Negeri Salatiga,

peneliti menetapkan bahwa, populasinya adalah siswa MTs Negeri Salatiga

pada tahun pelajaran 2015/ 2016 yang berjumlah 786 siswa, dari kelas VII

terdiri dari 273 siswa, kelas VIII terdiri dari 255 siswa, dan kelas IX 258

siswa.

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto,

(25)

25

adalah siswa MTs Negeri Salatiga Tahun Ajaran 2015/2016 kelas VIII terdiri

dari 255 siswa yang terdiri dari 8 kelas. Jumlah siswa setiap kelasnya antara

30-35 siswa.

Untuk selanjutnya yang menjadi sampel dalam penelitian, penulis

menetapkan sejumlah 50 siswa, yakni 20% dari 255 siswa.

Ketetapan yang penulis ambil sampel tersebut adalah berdasarkan

teori yang dikemukaan oleh Suharsimi Arikunto bahwa untuk sekedar

ancer-ancer maka apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua,

sehingga penelitiannya merupakan penelitian

populasi, selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil

antara 10-15% atau 20-25% atau lebih (Arikunto, 2006: 131).

Dalam penelitian ini menggunakan teknik dalam pengambilan sampel

yang dengan cara random sampling (acak) maksudnya penelitian mencampur

(26)

26 4. Teknik pengumpulan data

Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik pengumpulan data

sebagai berikut:

a. Angket

Angket merupakan pertanyaan yang disusun dalam kalimat

pernyataan dengan opsi jawaban yang tersedia. Sehubungan dengan itu

metode angket yaitu daftar pertanyaan yang dikirim kepada responden.

Angket digunakan untuk mengukur indikator-indikator dari

penelitian yakni pola asuh otoriter orang tua dan perilaku keagamaan

antara siswa di MTs Negeri Salatiga

Angket penelitian ini sebagai instrument pengumpulan data dibuat

untuk memperoleh informasi yang relevan dengan tujuan penelitian.

Model angket yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket

tertutup, yaitu peneliti telah membatasi jawaban yang telah ditentukan

sehingga responden hanya tinggal memilih salah satu jawaban yang paling

benar.

Metode angket ini digunakan untuk mengumpulkan data tentang

pola asuh otoriter orang tua dan perilaku keagamaan antara siswa di MTs

(27)

27 5. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan oleh

peneliti dalam pengumpulan data agar pekerjaannya lebih mudah, hasilnya

lebih baik, dalam arti lebih cermat, lengkap dan sistematis, sehingga lebih

mudah diolah (Arikunto, 2006:160).

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berupa angket

yang berisi soal-soal untuk menjaring data tentang pola asuh otoriter orang

tua. Instrumen ini diberikan kepada siswa yang digunakan sebagai alat

untuk mengetahui data pola asuh otoriter orang tuanya dan perilaku

keagamaan siswa kelas VIII MTs Negeri Salatiga.

Skala likert adalah skala yang digunakan untuk mengukur sikap,

pendapat dan minat seseorang terhadap fenomena pendidikan. Pada skala

ini responden diminta untuk menjawab satu dari lima kemungkinan

jawaban yang tersedia. (Arikunto, 2005: 190). Untuk memudahkan dalam

proses penelitian peneliti menyingkat menjadi empat tingkatan yaitu

sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.

Penelitian ini menggunakan angket skala Likert untuk pola asuh

otoriter orang tua, tersedia empat alternative jawaban yaitu SS, (Sangat

Setuju), S (Setuju), TS (Tidak Setuju) dan STS (Sangat tidak Setuju).

Dengan skor masing-masing jawaban yaitu: SS memiliki nilai 4, alternatif

S memiliki nilai 3, alternatif TS memiliki nilai 2, alternatif STS memiliki

(28)

28

Angket yang kedua yaitu angket perilaku keagamaan dengan

menggunakan angket skala Likert, tersedia empat alternative jawaban

yaitu A=Ya, B=Sering, C=Kadang-kadang, D=Tidak Pernah. Dengan skor

masing-masing jawaban masing adalah 4,3,2,1.

Penelitian ini menggunakan instrument dari penelitian Sri Suparwi

dengan judul Hubungan Antara Persepsi Pola Asuh Otoriter dan

Kemampuan Berempati dengan Perilaku Bullying Pada Siswa SMP

Muhammadiyah Salatiga. Dan juga Penelitian dari Anwar Sodikin dengan

judul Studi Komparasi Perilaku Keagamaan Remaja Berdasarkan Tingkat

Pendidikan Orang Tua Desa Bandungan Kab. Semarang.

Tabel 1.1

Adapun Indikator Pola Asuh Otoriter Orang Tua adalah :

No Aspek Definisi Indikator Item

Pertanyaan Jml 1. Kedisiplinan Yaitu

(29)

29

Adapun Indikator Perilaku Keagamaan adalah :

No Aspek Indikator Item

Pertanyaan

Jml

1. Aspek Perilaku Keagamaan

a. Melaksanakan shalat wajib lima waktu dengan baik.

1,2,3,4,5,6,7 ,8

8

b. Melaksanakan shalat sunnah dengan baik.

9,10,11, 23,24

5

c. Membaca doa sehari-hari dengan baik

12,13,14,15, 16, 21,22

7

d. Membaca Al-Quran dengan baik. 17,18,19,20, 25

5

e. Metode Dokumentasi

Dokumen adalah catatan tertulis tentang berbagai kegiatan atau

peristiwa pada waktu yag lalu. Semua kategori dokumen yang mendukung

penelitian. Semua dokumen yang berhubungan dengan penelitian yang

(30)

30

Metode ini digunakan untuk memperoleh data tentang kegiatan

pelaksanaan pendidikan agama Islam, struktur organisasi, keadaan guru,

keadaan siswa, keadaan karyawan, dan dokumen lain yang dibutuhkan.

6. Analisa Data

Menurut (Mardalis, 1995: 83) Analisa data sesuai dengan pendekatan

dimaksudkan bahwa setiap analisa disesuaikan dengan pendekatan yang

digunakan.

Dalam analisis data penulis menggunakan rumus korelasi product

moment dapat dilihat sebagai berikut (Arikunto, 2005:327).

 

Supaya penelitian ini memenuhi syarat, maka perlu disusun sedemikian

rupa sehingga sesuai dengan kaidah penulisan. Adapun sistematika penulisan

(31)

31

Penelitian ini memuat lima BAB, yaitu: BAB I yang berisi pendahuluan.

Bab ini meliputi : Latar Belakang Masalah, Rumusan masalah, Tujuan penelitian,

Manfaat penelitian, Hipotesis, Definisi Operasional, Metode penelitian,

Sistematika penulisan.

Bab kedua ini terdiri dari dua sub bab, sub bab pertama yaitu pola asuh

otoriter orang tua yang meliput: pengertian pola asuh otoriter orang tua, tipe- tipe

pola asuh orang tua Sub bab kedua yaitu perilaku keagamaan yang meliputi:

pengertian perilaku keagamaan, faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku

keagamaan.

Bab ketiga berisi tentang hasil penelitian Pengaruh Pola Asuh Otoriter

Orang Tua terhadap Perilaku Keagamaan Siswa. Bab ini terdiri dari dua sub bab.

Pertama yaitu kondisi umum MTs Negeri Salatiga yang terdiri dari sejarah

berdirinya MTs Negeri Salatiga, letak geografis MTs Negeri Salatiga, Visi Misi

MTs Negeri Salatiga, Data Keadaan guru MTs Negeri Salatiga, Data Keadaan

Siswa MTs Negeri Salatiga, sarana dan prasarana MTs Negeri Salatiga. Sub bab

kedua yaitu Tentang penyajian data yang berisi nama-nama responden.

Bab keempat ini merupakan analisis data yang terdiri dari: analisis data

dan interprestasi data

Bab kelima ini dari kesimpulan, saran-saran dan penutup. Pada bagian ini

(32)

32 BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pola Asuh Orang Tua

1. Pengertian Pola Asuh Orang Tua

Keluarga merupakan tempat pertama bagi seseorang untuk

memperoleh pendidikan dan mengenal nilai-nilai keagamaan, sedangkan

orang tua adalah orang pertama yang memberikan pengetahuan dasar kepada

anak. Maka daripada itu pola asuh yang tepat sangat berpengaruh kepada

anak agar tumbuh kembangnya dapat optimal. Pengaruh keluarga dalam

pembentukan dan perkembangan serta kepribadian sangat besar.

Perkembangan siswa akan berjalan baik apabila orang tua menerapkan pola

asuh yang sesuai. Dalam hal ini, menurut Mansur (2005: 350) menyatakan

bahwa Pola asuh adalah suatu cara terbaik yang dapat ditempuh orang tua

dalam mendidik anak-anaknya. Orang tua akan menentukan cara tertentu

dalam mendidik anak sesuai dengan cara dan pengalaman mereka

masing-masing. Kemudian pendapat Masnur Muslich mendefinisikan pola asuh

adalah pola interaksi antara anak dengan orang tua yang meliputi pemenuhan

kebutuhan fisik dan kebutuhan psikologis (Muslich, 2011: 100).

Menurut Moh Shochib Pola Asuh adalah keterkaitan orang tua dengan

anak berdisplin diri dimaksudkan sebagai upaya orang tua dalam meletakkan

dasar-dasar displin diri kepada anak dan membantu mengembangkannya

(33)

33

Pengertian diatas maka pola asuh adalah sesuatu interaksi yang

dilakukan oleh orang tua dalam proses mendidik anak yang bertujuan dalam

mendisplinkan anak, mendisiplinkan disini yaitu mendorong anak untuk

berperilaku yang baik.

Kemudian pola otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang

membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti

perintah-perintah orang tua dan menghormati pekerjaan dan usaha. (Santrock, 2002:

257)

Pemaparan tersebut dapat di simpulkan bahwa pola asuh otoriter

orang tua adalah sesuatu cara, interaksi atau komunikasi orang terhadap anak

yang menerapkan sistem pengasuhan yang kaku dan memaksa anak agar

mengikuti perintah orang tua. Dan dalam hal ini orang tua tidak menutup

kemungkinan menerapkan hukuman fisik dan aturan-aturan yang sangat ketat

terhadap anak.

2. Tipe-tipe Pola Asuh

Pola asuh orang tua yang baik dalam pembentukan kepribadian anak

adalah pola asuh yang mengutamakan kepentingan anak tapi orang tua juga

harus mengendalikan dan juga mengawasi anak.

Baumrind, Papalia dalam (Suparwi, 2002: 257) menyatakan bahwa

ada tiga jenis pola asuh yaitu pola asuh otoriter, otoritatif dan permisif,

(34)

34

martin menjadi empat yaitu pola asuh otoriter, pola asuh otoritatif dan pola

asuh permissive indulgent serta pola asuh indefferent.

a) Pola Asuh Otoriter (Authoritarium Parenting)

Pola asuh Otoriter adalah suatu gaya yang membatasi dan

menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang

tua dan menghormati pekerjaan dan usaha. Orang tua yang yang otoriter

menetapkan batas-batas yang tegas dan tidak memberi peluang yang besar

kepada anak untuk berbicara (bermusyawarah). Orang tua dengan pola

asuh ini menerapkan keterlibatan yang tinggi kepada anak serta

menerapkan tingkat kekekatan dan pengawasan yang tinggi. Cenderung

anak pada pola asuh ini akan memiliki kesulitan dalam memulai kegiatan

dan berkomunikasi yang kurang baik.

pola asuh otoriter orang tua adalah sesuatu cara, interaksi atau

komunikasi orang terhadap anak yang menerapkan sistem pengasuhan

yang kaku dan memaksa anak agar mengikuti perintah orang tua.

b) Pola Asuh yang otoritatif (Authoritative Parenting)

Pola Asuh yang otoritatif adalah mendorong anak-anak agar mandiri

tetapi masih menerapkan batas-batas dan pengendalian atas

tindakan-tindakan mereka. Orang tua memperlihatkan kehangatan serta kasih

sayang kepada anak. Orang tua dalam pola asuh ini menerapkan tingkat

(35)

35

Pola asuh otoritatif adalah suatu cara interaksi orang tua dengan anak

yakni orang tua mendorong anak untuk mandiri serta menerapkan batasan

dan juga kontrol

c) Pola Asuh Permissive Indulgent

Pola asuh permissive-indulgent adalah suatu gaya pengasuhan

dimana orang tua sangat terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka tetapi

menetapkan sedikit batas atau kendali terhadap mereka. Orang tua yang

menerapkan tipe pola asuh ini cenderung mencintai anak-anaknya tetapi

tidak menerapkan aturan-aturan yang kuat dalam keluarga. Dalam

kehidupan anak keterlibatan dan penerimaan

Pola asuh permissive indulgent adalah suatu cara interaksi orang

tua pada anak yakni orang tua sangat terlibat dan menerima namun hanya

menerapkan sedikit kontrol dan pengawasan. Orang tua menganggap

kebebasan yang diberikan bagian dari perkembangan anak.

d) Pola Asuh Permissive Indeffent

Pola Asuh Permissive Indeffent adalah suatu gaya asuh dimana

orang tua sangat tidak terlibat dalam kehidupan anak. Orang tua yang

menerapkan pola asuh ini memberikan hanya sedikit perhatian kepada

anak dan tidak memberikan aturan serta pengawasan kepada anak. Tingkat

pengawasan dan penerimaan kepada anak pun sangat rendah pada pola

(36)

36

Pola asuh Permissive Indeffent adalah suatu cara interaksi orang

terhadap anak yakni orang tua menerapkan kebebasan kepada anak dan

tidak terlibat sama sekali dengan kehidupan anak.

Melihat tipe-tipe pola asuh, peneliti mengacu pada pendapat yang

dikemukakan oleh Baumrind yang mengatakan bahwa tipe-tipe pola asuh

yang terdiri dari empat macam antara lain pola asuh otoriter, otoritatif,

permissive indulgent dan permissive indiferrent.

Menurut Hurlock (1999: 204) ada beberapa sikap orang tua yang khas

dalam mengasuh anaknya, antara lain :

a. Melindungi secara berlebihan

Perlindungan orang tua yang berlebihan mencakup pengasuhan dan

pengendalian anak yang berlebihan.

b. Permisivitas

Permisivitas terlihat pada orang tua yang membiarkan anak berbuat

sesuka hati, dengan sedikit kekangan.

c. Memanjakan

Permisivitas yang berlebihan–memanjakan–membuat anak egois,

menuntut dan sering tiranik.

d. Penolakan

Penolakan dapat dinyatakan dengan mengabaikan kesejahteraan

anak atau dengan menuntut terlalu banyak dari anak dan sikap bermusuhan

(37)

37 e. Penerimaan

Penerimaan orang tua ditandai oleh perhatian besar dan kasih

sayang pada anak, orang tua yang menerima memperhatikan

perkembangan kemampuan anak dan memperhitungkan minat anak.

f. Dominasi

Anak yang didominasi oleh salah satu atau kedua orang tua bersifat

jujur, sopan dan berhati-hati tetapi cenderung malu, patuh dan mudah

dipengaruhi orang lain, mengalah dan sangat sensitif.

g. Tunduk pada anak

Orang tua yang tunduk kepada anaknya membiarkan anak

mendominasi mereka dan rumah mereka.

h. Favoritisme

Meskipun mereka berkata bahwa mereka mencintai semua anak

dengan sama rata, kebanyakan orang tua mempunyai favorit. Hal ini

membuat mereka lebih menuruti dan mencintai anak favoritnya daripada

anak lain dalam keluarga.

i. Ambisi orang tua

Hampir semua orang tua mempunyai ambisi bagi anak mereka –

sering kali sangat tinggi sehingga tidak realistis. Ambisi ini sering

dipengaruhi oleh ambisi orang tua yang tidak tercapai dan hasrat orang tua

supaya anak mereka naik di tangga status sosial.

Pengertian-pengertian dari tipe pola asuh disimpulkan bahwa pola

(38)

38

didalam rumah. Dan kemampuan anak dalam mengekspresikan dan

mengaktualisasikan potensinya jadi terhambat oleh peraturan yang dibuat

oleh orang tua.

Berbagai macam pola asuh yang dikemukakan di atas, hanya akan

mengemukakan satu macam pola asuh saja, yaitu pola asuh otoriter. Hal

tersebut dilakukan dengan tujuan agar pembahasan menjadi terfokus dan

jelas. Dikarenakan sesuai dengan judul penelitian yaitu pengaruh pola asuh

otoriter orang tua terhadap perilaku keagamaan.

B. Perilaku Keagamaan

1. Pengertian Perilaku Keagamaan

Perilaku adalah tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan

atau lingkungan (Departemen Pendidikan Nasional, 2007: 859), sedangkan

menurut A. Bandura bahwa perilaku terbentuk bergantung pada pengaruh

orang lain dan kondisi stimulus (Muhibbin, 1995: 107). Maka perilaku adalah

suatu tindakan yang dilakukan terwujud dalam bentuk sikap tidak hanya

ucapan saja. Perilaku dalam konteks islam adalah sebagai cerminan dari

pengalaman terhadap seluruh ajaran islam. Perilaku merupakan hasil dari

pengalaman dari kehidupan sehari-hari.

Keagamaan merupakan kumpulan cara-cara mengabdi kepada Tuhan

dan kumpulan aturan-aturan yang terangkum dalam kitab suci. (Faridi, 2002:

19). Perilaku dalam konteks islam indikatornya adalah akhlak yang

sempurna. Akhlak yang sempurna mesti dilandasi oleh ajaran islam (Tohirin,

(39)

39

Melihat dari keterangan tersebut maka akhlak yakni perbuatan yang

baik atau takwanya dan seberapa jauh nilai-nilai etika menjiwai dan

mewarnai segala tindakannya (Mansur, 2005: 224). Perilaku dalam konteks

ini peneliti lebih menekankan pada perilaku atau akhlak yang terbentuk dari

seseorang siswa

Pembinaan akhlak anak sangat berpengaruh kepada kepribadian anak

jika memandang sifat anak yang suka meniru perilaku orang lain. Seperti

dalam teori belajar sosial dari Albert Bandura menurutnya dalam (Sriyanti,

2013: 87) sebagian besar perilaku individu diperoleh sebagai hasil belajar

melalui pengamatan atas tingkah laku yang ditampilkan oleh orang lain yang

dijadikan sebagai model. Maka dari itu membutuhkan peran dari semua

kalangan tidak hanya guru yang mengajarkan pendidikan akhlak namun peran

orang tua juga sangat berpengaruh pada perkembangan anak. Orang tua

berperan sebagai model yang ditiru anak, orang tua berperan mendorong

prestasi anak dan perkembangan perilaku anak.

Kemudian diperjelas lagi oleh Freud yang meyakini bahwa tingkah

laku didorong oleh motif-motif diluar alam sadar (Desmita, 2010: 41) Dari

penjelasan tersebut dapat disimpulkan bahwa perilaku bisa timbul karena

faktor dari luar individu. Orang tua dalam hal ini berkewajiban untuk

mendorong anak agar mempunyai perilaku yang baik.

(40)

40

manusia yang menuju kepada keridhaan Allah (Ahmadi & Salimi, 1991: 4)

Pengertian tersebut agama sebagai pedoman untuk manusia dalam

berperilaku keagamaan. Orang tua bertangung jawab dalam mendidik dan

mengarahkan anak untuk berperilaku untuk menuju kepada jalan Allah.

Perilaku keagamaan dalam penelitian ini adalah tentang nilai-nilai

agama dan ke dalam kepercayaan yang diekspresikan dengan melakukan

ibadah sehari-hari, berdoa, dan membaca kitab suci. (Hawari, 1998: 5). Maka

perilaku keagamaan berarti suatu tingkah sebagai reaksi atau tanggapan

seseorang terhadap situasi yang dihadapinya atas dasar kesadaran adanya

tuhan Yang Maha Esa. (sodikin, 2014: 27)

Menurut Fauzi (2015: 18) Perilaku Keagamaan adalah segala tindakan

perbuatan atau ucapan yang dilakukan seseorang, sedangkan perbuatan atau

tindakan serta ucapan tadi akan terkaitannya dengan agama semuanya

dilakukan karena adanya kepercayaan kepada Tuhan dengan ajaran, kebaktian

dan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan.

Pengertian perilaku keagamaan dapat disimpulkan bahwa perilaku

keagamaan merupakan suatu tindakan atau yang bertujuan untuk lebih

mendekatkan diri kepada Allah dan perilaku keagamaan dipengaruhi oleh

faktor dari dalam diri maupun dari luar. Perilaku keagamaan merupakan suatu

kondisi yang ada dalam diri seseorang yang mendorongnya untuk bertingkah

(41)

41

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perilaku Keagamaan

Perilaku keagamaan terhadap anak akan membawa pengaruh besar

pada perkembangan anak. Keberhasilan perkembangan ini tentunya terdapat

faktor-faktor yang mempengaruhinya. Maka daripada itu faktor tersebut

haruslah dikembangkan sebagai dasar dalam pembinaan perilaku keagamaan

anak. Menurut aliran empirisme peranan lingkungan sebagai penyebab

timbulnya suatu tingkah laku. Kemudian aliran ini mengemukakan bahwa

setiap manusia itu lahir dalam keadaan netral, tidak memiliki pembawaan.

Hal itu seperti kertas putih yang dapat ditulisi apa saja yang dikehendaki.

Jadi, perwujudan perilaku keagamaan ditentukan dari luar atau lingkungan.

Oleh karena itu peranan orang tua dalam pembentuk perilaku keagamaan

sangat berpengaruh. Faktor yang berpengaruh, secara garis besar dapat dibagi

dalam klasifikasi yaitu faktor intern (dari dalam) diri subyek perilaku. Dan

faktor ekstern (dari luar) diri subyek perilaku (Sardiman, 1986:39) faktor

intern meliputi faktor-faktor fisiologis dan Psikologis sedangkan faktor

ekstern meliputi faktor meliputi faktor keluarga dan lingkungan.

Hal ini sependapat dengan Sunarto dan Agung Hartono yang

menyatakan bahwa dalam membentuk tingkah laku sebagai cerminan

nilai-nilai hidup tertentu ternyata bahwa faktor lingkungan memegang peranan

penting (Sunarto & hartono, 1999: 175). Faktor pembentuk perilaku anak

pada hakikatnya adalah faktor pola asuh orang tua karena siswa tinggal

(42)

42

C. Pengaruh Pola Asuh Otoriter Orang Tua terhadap Perilaku Keagamaan

Sudah di jelaskan di atas bahwa “bentuk komunikasi dan interaksi yang

dilaksanakan dalam kehidupan keluarganya, akan sangat memengaruhi bentuk

sikap dan perilaku serta kepribadian anak.” (Ahid, 2010: 63). Dari sini dapat

diketahui bahwa pola asuh otoriter orang tua mempengaruhi terhadap perilaku

keagamaan anak.

Karakter orang tua akan berdampak besar pada perkembangan karakter

anak dan juga pertumbahan anak. Kualitas tidaknya anak dalam berperilaku

keagamaan merupakan hasil didikan dari orang tua.

Baumrind Dalam (Santrock, 2002: 257) menyatakan bahwa pola asuh

otoriter adalah suatu gaya pengasuhan yang membatasi dan menghukum yang

menuntut anak untuk mengikuti perintah-perintah orang tua dan menghormati

pekerjaan dan usaha.

Pengertian dari pola asuh otoriter tersebut dapat disimpulkan bahwa

dampak positif pola asuh otoriter orang tua adalah cenderung anak menjadi

seorang yang patuh terhadap orang tuanya. Anak akan mendengarkan aturan dan

perintah dari orang tuanya. Seperti halnya dalam mendidik anak untuk berperilaku

keagamaan bagi anak yang terbiasa diperintah maka akan lebih mudah

menerapkan pola asuh otoriter.

Pola asuh otoriter orang tua juga membawa dampak negatif kepada anak,

(43)

43

orang lain. (Papalia, 2013: 410). Dapat disimpulkan bahwa dampak negatif dari

pola asuh otoriter orang tua maka anak cenderung susah dalam bergaul dengan

anak lain karena terlalu banyaknya perintah dan aturan dari orang tua. Kemudian

dalam pola asuh otoriter ini maka orang tua selalu menetapkan aturan dan

panduan agar anak mengikutinya tanpa mempertanyakan baik dan buruknya. Dan

biasanya jika anak melakukan kegagalan maka orang tua akan menghukum.

Melihat dari dampak dari pola asuh otoriter ini kepada anak maka dapat

diambil kesimpulan bahwa pola asuh ini hanya bisa diterapkan kepada anak yang

terbiasa dengan perintah-perintah dari orang tua atau orang lain. Namun jika pada

salah diterapkan pada anak maka akan membawa pada hubungan yang buruk.

Karena anak akan tertekan dengan aturan dan tuntutan dari orang tua kalaupun

anak mengikuti perintah orang tua, anak akan merasa tidak bahagia.

Pola asuh orang tua dalam mendidik perilaku keagamaan anak harus

diperhatikan oleh orang tua. Sebaiknya pola asuh harus sesuai dengan kondisi

anak, ada anak yang sukses dengan pola asuh otoriter, demokrasi maupun

permissive.

Kesalahan orang tua dalam mendidik anak akan berakibat buruk dengan

kelangsungan aktivitas anak dalam mengembangkan diri. penulis akan meneliti

perilaku keagamaan anak. banyak sekali perilaku yang ditimbulkan dari pola asuh

orang tua tapi penulis akan mencoba meneliti pengaruh pola asuh otoriter orang

(44)

44 BAB III

HASIL PENELITIAN

A. Data Umum MTs Negeri Salatiga

1. Sejarah Berdirinya MTs Negeri Salatiga

Pada awal berdirinya, MTs Negeri Salatiga merupakan perubahan dari

kelas 1,2,3 Pendidikan Agama Negeri (PGAN) 6 (enam) tahun di Salatiga

berdasarkan Keputusan Menteri Agama RI (KMA RI) nomor 16 Tahun 1978

tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Madrasah Tsanawiyah Negeri,

sedangkan kurikulum yang digunakan pada saat itu menggunakan Kurikulum

Madrasah Tsanawiyah yang ditetapkan dengan KMA No. 74 Tahun 1976.

MTs Negeri Salatiga merupakan satu-satunya MTs Negeri di Kota

Salatiga, sedang Kota Salatiga merupakan sebuah kota kecil yang berada

tepat di tengah-tengah wilayah Kebupaten Semarang, dan hanya ada 4

Kecamatan, dengan penduduk dengan taraf kehidupan menengah keatas.

Secara umum kondisi siswa MTs Negeri Salatiga sangat beragam,

kegeragaman tersebut dilihat dari mulai aspek latar belakang ekonomi

keluarga, pekerjaan orang tua ( nelayan, petani, pedagang, wiraswasta, buruh

dan PNS), faktor perbedaan kemampuan beragama, perbedaan latar belakang

sekolah.

Prosentase terbanyak siswa MTs Negeri Salatiga justru dari kalangan

ekonomi menengah kebawah, dan dari luar kota seperti Ambarawa, Bawen,

(45)

45

ini disebabkan oleh pemahaman masyarakat bila menyekolahkan putra

putrinya di Madrasah akan mengeluarkan biaya sedikit atau gratis sama

sekali, dengan fasilitis lengkap dan mutu pendidikan yang mampu bersaing

dengan sekolah lain serta tempat yang strategis berada dekat dengan Jalan

Raya.

Selain itu jika ditinjau dari segi latar belakang semangat masyarakat

Kota Salatiga dalam menjalankan agama Islam secara umum belum seratus

persen. Namun demikian masih ada beberapa kalangan masyarakat yang

masih peduli dengan dunia pendidikan dan peduli perkembangan syiar Islam.

Oleh karena itu Tim Pengembang MTs Negeri Salatiga bersama dengan

pemerintah dalam hal ini Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Prov.

Jawa Tengah, Kantor Kementerian Agama Kota Salatiga, Pemerintah Kota

Salatiga beserta jajarannya, tokoh agama Islam Kota Salatiga, Masyarakat

Salatiga, instansi terkait, dunia usaha, dan komite MTs Negeri Salatiga

berupaya selalu meningkatkan mutu pendidikan khususnyanya pada MTs

Negeri Salatiga berbagai dukungan dari kalangan tersebut diatas berupa

bantuan dana Pengembangan Madrasah dan Bantuan sarana prasarana belajar

lainnya seperti LCD, Lab. Bahasa, rehab ringan, bantuan pemeliharaan

gedung sarana pendidikan dan lain-lain, sampai pada upaya peningkatan mutu

Guru berupa MGMP dan diklat, serta Workshop.

Kurun waktu Lima Tahun kedepan insyaallah, Tim Pengembang

Madrasah kami mentargetkan berbagai fasilitas dan instrumen dalam

(46)

46

Belajar Mengajar (KBM) saja, tetapi lewat kegiatan Ekstrakurikuler, Prestasi

Olahraga, Prestasi Seni, Kepramukaan, Life Skill, Kemandirian,

Kemasyarakatan, ritual ibadah juga mentargetkan bahwa nilai-nilai Islam

merasuk dan tertancap dengan kuat dalam hati peserta didik. Sehingga

diharapkan mereka bisa menjadi penerus generasi Islam yang unggul dalam

prestasi berpijak pada budaya bangsa dan nilai-nilai Islami.

Jika ditinjau dari Tujuan Pendidikan Nasional dan program Wajib

Belajar (WAJAR) sembilan tahun yang dicanangkan oleh Pemerintah pusat

maka sesungguhnya MTs Negeri Salatiga memiliki peran dan posisi yang

sangat penting dalam mewujudkan dan mensukseskan sistem pendidikan

nasional terutama dalam konteks di masyarakat Kota Salatiga bagi sistem

Pendidikan Nasional dari segi praktis adalah mewujudkan dan menuntaskan

program WAJAR DIKNAS 9 tahun. Dan jika ditinjau dari aspek moralitas

MTs Negeri Salatiga memiliki peran terutama untuk generasi mudanya yang

berakhlaqul Karimah. Efek lainnya secara umum karena hadirnya MTs

Negeri Salatiga di tengah-tengah masyarakat yang majemuk adalah

diupayakan untuk menyadarkan dan memberikan pencerahan kepada

masyarakat dalam menghadapi permasalahan kehidupan baik dengan

menggunakan pendekatan spritualitas maupun ilmu pengetahuan. Sehingga

bisa membentuk masyarakat madani yang demokratis, terbuka, dan

(47)

47 2. Letak Geografis MTs Negeri Salatiga

MTs Negeri Salatiga beralamatkan di jalan Tegalrejo 1. Salatiga.

Telepon 0298-323950

3. Visi Dan Misi MTs Negeri Salatiga

a. Visi

Unggul Dalam Prestasi, Berpijak pada Budaya Bangsa dan Nilai-Nilai Islami.

b. Misi

1) Meningkatkan pengetahuan dan profesionalisme tenaga pendidik.

2) Menyelenggarakan kegiatan ekstrakulikuler bidang olahraga dan

kesenian.

3) Mengikutsertakan tampil serta berbagai lomba olympiade MIPA,

lomba seni dan olahraga.

4) Mewujudkan rasa nasionalisme lewat Kegiatan Belajar Mengajar dan

Pembiasaan.

5) Menjalin kerjasama yang baik, diantaranya stake holder, instansi lain

dan masyarakat, serta dunia usaha.

6) Mewujudkan pembelajaran dan pembiasaan dalam mempelajari

Al-Qur‟an dalam menjalankan Agama Islam.

7) Mewujudkan pembentukan karakter Islami yang mampu

mengaktualisasikan Akhlaqul Karimah.

(48)

48

9) Memanfaatkan sumberdaya pendukung kegiatan pendidikan dan non

kependidikan secara efektif dan efisien.

10)Mengembangkan prasarana pendukung kegiatan pendidikan dan non

kependidikan.

11)Melengkapi sarana dan prasarana pendidikan.

12)Menyelenggarakan kegiatan proses penddikan secara tertib dan

berkualitas.

4. Struktur Organisasi MTs Negeri Salatiga

Adapun struktur organisasi MTs Negeri Salatiga tahun ajaran

2015/2016 adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1

Struktur Organisasi MTs Negeri Salatiga

Tahun 2015/2016

No Jabatan Nama

1 Kepala Madrasah Dra.Hj. Zayinatun, M.Pd

(49)

49

25 Wali Kelas IX D Miftah Syarifudin, S.Si 26 Wali Kelas IX E Atik Prasetyowati, S.Pd

27 Wali Kelas IX F Suyanto, S.pd

28 Wali Kelas IX G Munjayanah, S.Pd

29 Wali Kelas IX H Dra. Syariful Hadi

5. Data Keadaan Guru

Tabel 3.2

Daftar Guru Mata Pelajaran MTs Negeri Salatiga

Tahun 2015/2016

12 Supangat,S.Pd S1 Matematika, BK

13 Dra. Nunuk Samiasih S1 IPS (Geografi, Sosiologi)

14 Umar faruq,S.Pd.I S1 Aqidah Akhlak

15 Ainy Dharyati,S.Pd S1 IPS (Ekonomi, Sejarah)

16 Dra. Arini S1 PKn

17 Hj. Sri Hidayati,S.Pd S1 Penjaskes

18 Dra. Hj. Dihliz Zuna‟im S1 Qur‟an Hadis

19 Miftah Syarifudin,S.Si S1 Matematika, TIK

20 Mutiah Setyowati,S.Ag S1 SKI, Aqidah Akhlak

21 Rita Budiarti,S.Pd S1 BK

(50)

50

23 Heni Haswarini,S.Pd S1 Bhs. Indonesia

24 Nova Zaeni.N,S.Pd.I S1 Bhs. Inggris

25 Siti Riayah,S.Pd S1 IPS (Geografi, Sosiologi) 26 Ida Widminingsih,S.Ag S1 Bhs. Arab, Muhadatsah, Fiqih

27 Muhammad Taufiq,S.Pd S1 Matematika, BK

28 Nida Usholha,S.Si S1 Matematika, BK

29 Feviana Sofia.I,S.Pd S1 BK

30 Munawar, S.Ag S1 Bhs. Arab, Muhadatsah,

Aqidah Akhlak 31 Dra. Ernawati Susanti S1 Bhs. Arab, Muhadatsah,

Aqidah Akhlak

32 Ismiyati, S.Pd.I S1 SKI, Qur‟an Hadis

33 Lis Arifah, S.Ag S1 SKI, Fiqih

34 Budi Latiful T,SE S1 TIK, Prakarya

35 Khoirul Rakhman. A,S.Pd.I S1 Bhs. Inggris

36 Farida. N, S.Pd.I S1 Bhs. Inggris

37 Sri Hariyati, S.Pd S1 Bhs. Indonesia

38 Eko Firatno, A. Md D3 IPA( Fisika, Kimia)

39 Suyanto, S.Pd S1 IPA (Biologi, Kimia)

40 Nuning Widyani, S.Pd S1 IPS (Sejarah, Ekonomi)

41 Atik Prasetyowati, S.Pd S1 Bhs. Indonesia

42 Kartini, S.S S1 Bhs. Jawa

43 Nur Khamim, S.Pd.I S1 Bhs. Inggris

44 Fajar Ardiansyah, S.Pd S1 Seni Budaya, TIK

6. Keadaan Siswa

Tabel 3.3

Keadaan Siswa MTs Negeri Salatiga

Tahun 2015/2016

Kelas Jml. Kelas Jml. Siswa Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan

VII 8 273 124 148

VIII 8 255 115 140

IX 8 258 112 136

(51)

51 7. Data Fasilitas Pendukung Belajar Mengajar

Tabel 3.4

Sarana dan Prasarana MTs Negeri Salatiga

Tahun 2015/2016

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini adalah data mengenai

pengaruh pola asuh otoriter orang tua terhadap perilaku keagamaan anak. Untuk

pertama tentang pola asuh otoriter orang tua peneliti memberikan angket yang

berisi 25 pertanyaan berisi tentang pertanyaan variabel X (pola asuh otoriter orang

tua). Dengan pilihan jawaban yang telah disediakan adalah: SS (Sangat Sesuai

dengan dirimu), S (Sesuai dengan dirimu), TS (Tidak Sesuai dengan dirimu), STS

( Sangat tidak sesuai dengan dirimu). Yang diberikan kepada siswa kelas VIII.

Kemudian untuk angket yang kedua yaitu tentang perilaku keagamaan

(52)

52

Keagamaan). Dengan pilihan jawaban yang telah disediakan adalah: A (Ya), B

(Sering), C (Kadang-kadang), D (Tidak Pernah). Yang diberikan kepada siswa

kelas VIII sebanyak 50 siswa.

Adapun responden yang penulis ambil dalam penelitian ini adalah sebagai

berikut:

12 Febrinna Hannis Faradilla VIII A

13 Ilham Dwi Atmojo VIII A

14 Lina Radhiyatun Nikmah VIII A

15 Maulana Azriel. H VIII A

16 Maulida Khoirotun Nisa‟ VIII A

17 Maya Lesady VIII A

18 Muhammad Akbar Angga Agarta VIII A

19 Muhammad Ircham Sholahudin VIII A

20 Muhammad Nur Yasin VIII A

21 Ratna Intan K VIII A

22 Ratna Nur Masyfuah VIII A

23 Rizadhatul dhiya „ulhaq VIII A

24 Tiara Nur Rakhmawati VIII A

(53)

53

31 Firman Abas Fauzan VIII B

32 Harish Fakhruddin VIII B

33 Hecifa Fairuz Ghaisani VIII B

34 ijlal Zakia VIII B

35 Mira Adelia Shafira VIII B

36 Muhammad Abiyyu Ma'aly VIII B

37 M. Avib Pratama VIII B

38 M. Farkhan Farid VIII B

39 M. Rifqi Anggoro VIII B

40 M. Sutan Abrar. D VIII B

41 Musa Ali Sodiqin VIII B

42 Nicha Ayunanda Utami VIII B

43 Nidaa Ussa'adah VIII B

44 Nurul Hidayah VIII B

45 Restu Septian Ayu Vita Evendi VIII B

46 Rima Ayu Aslamiyah VIII B

47 Rista Cahyawati VIII B

48 Siti Munadhiroh VIII B

49 Siti Zaidatul VIII B

50 Yeni Sulistiawati VIII B

(54)

54 BAB IV

ANALISIS DATA

A. Analisis Data

Peneliti akan menganalisis data yang telah terkumpul sehingga diketahui

ada tidaknya Pengaruh antara Pengaruh Pola Asuh Otoriter Orang Tua Terhadap

Perilaku Keagamaan Siswa Kelas VIII MTs Negeri Salatiga. Analisis ini

diperlukan untuk mengetahui tujuan penelitian.

Maka data yang diperoleh akan dianalisis statistik dan analisa kuantitatif.

Dalam menganalisis data tersebut peneliti menggunakan teknik product moment

(55)

55

Langkah selanjutnya yaitu menyiapkan tabel nilai pola asuh Otoriter orang

tua dan tabel nilai perilaku keagamaan dan tabel kerja untuk mencari koefisien

korelasi antara variabel pola asuh Otoriter orang tua dan Perilaku keagamaan.

1. Data Tentang Pola Asuh Otoriter Orang Tua

Setelah data terkumpul yakni angket pola asuh otoriter orang tua yang

terdiri dari 25 pertanyaan. Dan masing-masing pertanyaan disediakan empat

alternatif jawaban yakni:

a. Alternatif jawaban SS (Sangat Setuju) memiliki nilai 4

b. Alternatif jawaban S (Setuju) memiliki nilai 3

c. Alternatif jawaban TS (Tidak Setuju) memiliki nilai 2

d. Alternatif jawaban STS (Sangat Tidak Setuju) memiliki nilai 1

Kemudian untuk mengetahui pola asuh otoriter orang tua dengan 25

pertanyaan diketahui nilai tertinggi adalah 82 dan nilai terendah adalah 42, maka

berdasarkan rumus interval sebagai berikut:

i = (Xt-Xr)+1

Ki

keterangan:

i = interval item

Xt = nilai tertinggi ideal

Xr = nilai terendah ideal

(56)

56

Kemudian dimasukkan dalam tabel untuk mengetahui berapa banyak

siswa dipengaruhi pola asuh otoriter orang tua: Tinggi, Sedang, maupun Rendah.

i = (Xt-Xr)+1

Ki

= 100-25+1

3

=

=25

Tabel 4.1

Pola Asuh Otoriter Orang Tua

Interval Jumlah Siswa Nilai Nominasi

76-100 12 A

51-75 37 B

25-50 1 C

Jumlah 50 -

Maka dari pada itu dapat diketahui:

a. Pola asuh otoriter orang tua yang mendapatkan nilai tinggi antara 76-100

adalah 12 siswa.

b. Pola asuh otoriter orang tua yang mendapatkan nilai Sedang antara 51-75

adalah 37 siswa.

c. Pola asuh otoriter orang tua yang mendapatkan nilai Rendah antara 25-50

(57)

57 Tabel 4.2

Nilai Nominasi Pola Asuh Otoriter Orang Tua

No Nilai Nilai

Nominasi No Nilai Nilai Nominasi

1 66 B 26 72 B

Setelah diketahui berapa banyak siswa yang memperoleh nilai tinggi,

sedang dan rendah, kemudian masing-masing variabel diprosentasekan dengan

rumus:

(58)

58 Keterangan:

P = Prosentase

F = Frekuensi

N = Jumlah responden

100 = Bilangan Konstan

a. Untuk mengetahui pola asuh otoriter orang tua, siswa yang mendapat nilai A

sebanyak 12 siswa :

P=

P=

P=24%

b. Untuk mengetahui pola asuh otoriter orang tua, siswa yang mendapat nilai B

sebanyak 37 siswa :

P=

P=

P= 74%

c. Untuk mengetahui pola asuh otoriter orang tua, siswa yang mendapat nilai C

sebanyak 1 siswa :

P=

P=

(59)

59 Tabel 4.3

Daftar Prosentase Pola Asuh Otoriter Orang Tua

No Kategori Interval Frekuensi Prosentase Nilai

1 Tinggi (A) 76-100 12 24%

2 Sedang (B) 51-75 37 74%

3 Rendah (C) 25-50 1 2%

Jumlah 50 100%

Dari tabel tersebut kemudian diketahui bahwa:

a. Siswa yang mendapat nilai A pada pola asuh otoriter orang tua sebanyak 12

siswa dengan prosentase 24%

b. Siswa yang mendapat nilai B pada pola asuh otoriter orang tua sebanyak 37

siswa dengan prosentase 74%

c. Siswa yang mendapat nilai c pada pola asuh otoriter orang tua sebanyak 1

siswa dengan prosentase 2%

2. Data Tentang Perilaku Keagamaan

Setelah data terkumpul yakni angket perilaku keagamaan yang terdiri

dari 25 pertanyaan. Dan masing-masing pertanyaan disediakan empat

alternatif jawaban yakni:

a. Alternatif jawaban A memiliki nilai 4

b. Alternatif jawaban B memiliki nilai 3

c. Alternatif jawaban C memiliki nilai 2

(60)

60

Kemudian untuk mengetahui perilaku keagamaan dengan 25 pertanyaan

diketahui nilai tertinggi adalah 89 dan nilai terendah adalah 45, maka berdasarkan

rumus interval sebagai berikut:

i = (Xt-Xr)+1

Ki

keterangan:

i = interval item

Xt = nilai tertinggi ideal

Xr = nilai terendah ideal

Ki = kelas inteval

Kemudian dimasukkan dalam tabel untuk mengetahui berapa banyak

siswa dipengaruhi perilaku keagamaan : Tinggi, Sedang, maupun Rendah.

i = (Xt-Xr)+1

Ki

= 100-25+1

3

=

(61)

61 Tabel 4.4

Perilaku Kegamaan

Interval Jumlah Siswa Nilai Nominasi

76-100 25 A

51-75 24 B

25-50 1 C

Jumlah 50 -

Maka dari pada itu dapat diketahui:

a. Perilaku Keagamaan yang mendapatkan nilai tinggi antara 76-100 adalah 25

siswa.

b. Perilaku Keagamaan yang mendapatkan nilai Sedang antara 51-75 adalah 24

siswa.

c. Perilaku Keagamaan yang mendapatkan nilai Rendah antara 25-50 adalah 1

(62)

62

Setelah diketahui berapa banyak siswa yang memperoleh nilai tinggi,

sedang dan rendah, kemudian masing-masing variabel diprosentasekan dengan

rumus:

(63)

63 Keterangan:

P = Prosentase

F = Frekuensi

N = Jumlah responden

100 = Bilangan Konstan

a. Untuk mengetahui perilaku keagamaan, siswa yang mendapat nilai A

sebanyak 25 siswa :

P=

P=

P=50%

b. Untuk mengetahui perilaku keagamaan, siswa yang mendapat nilai B

sebanyak 24 siswa :

P=

P=

P= 48%

c. Untuk mengetahui perilaku keagamaan, siswa yang mendapat nilai C

sebanyak 1 siswa :

P=

P=

(64)

64 Tabel 4.6

Daftar Prosentase Perilaku Keagamaan

No Kategori Interval Frekuensi Prosentase Nilai

1 Tinggi (A) 76-100 25 50%

2 Sedang (B) 51-75 24 48%

3 Rendah (C) 25-50 1 2%

Jumlah 50 100%

Dari tabel tersebut kemudian diketahui bahwa:

a. Siswa yang mendapat nilai A pada pola asuh otoriter orang tua sebanyak 12

siswa dengan prosentase 24%

b. Siswa yang mendapat nilai B pada pola asuh otoriter orang tua sebanyak 37

siswa dengan prosentase 74%

c. Siswa yang mendapat nilai C pada pola asuh otoriter orang tua sebanyak 1

(65)

65 Tabel 4.7

Persiapan Untuk Mencari Korelasi Antara Pola Asuh Otoriter Orang Tua Dengan

(66)

66

36 59 65 3481 4225 3835

37 73 81 5329 6561 5913

38 74 69 5476 4761 5106

39 64 72 4096 5184 4608

40 66 61 4356 3721 4026

41 69 76 4761 5776 5244

42 58 76 3364 5776 4408

43 81 67 6561 4489 5427

44 52 77 2704 5929 4004

45 73 55 5329 3025 4015

46 59 76 3481 5776 4484

47 78 45 6084 2025 3510

48 63 72 3969 5184 4536

49 66 77 4356 5929 5082

50 65 75 4225 5625 4875

Jumlah 3.308 3.620 222.856 266.360 237.928

Diketahui:

N = 50

ΣX = 3.308

Σ Y = 3.620

Σ X2 = 222.856

Σ Y2 = 266.360

(67)

67

Selanjutnya dimasukkan ke dalam rumus product moment sebagai berikut:

 

rxy : koefisien korelasi

N :jumlah

X :Nilai variabel 1

Y :Nilai variabel 2

(68)

68 B. Interpretasi Data

Setelah diperoleh nilai tersebut, langkah selanjutnya adalah mengadakan

konsultasi hasil perhitungan (rxy) dengan tabel statistik sebagai berikut:

- Jika rxy < tabel r product moment: maka Ha diterima

- Jika rxy > tabel r product moment: maka Ho ditolak

Keterangan:

Ha: Ada pengaruh negatif yang signifikan antara variabel x dan y

Ho: Tidak ada pengaruh negatif yang signifikan antara variabel xdan y

Kemudian hasil tersebut dikonsultasikan dengan tabel r, dengan N

(responden)50.r tabel taraf signifikan 5% adalah 0,279, dan signifikan 1%

diperoleh 0,361 dari hasil penelitian diketahui rxy adalah -0,380 lebih kecil.

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengaruh pola asuh otoriter

orang tua terhadap perilaku keagamaan berada pada kategori rendah. Maka

hipotesis penelitian ini diterima dengan tingkat hubungan yang rendah. Koefisien

korelasi yang negatif memperlihatkan bahwa variabel Pola Asuh Otoriter Orang

Tua menunjukkan semakin tinggi pola asuh otoriter orang tua maka semakin

rendah perilaku keagamaan siswa. Dan sebaliknya semakin rendah pola asuh

otoriter orang tua maka semakin tinggi perilaku keagamaan siswa.

Hasil pemaparan tersebut menunjukkan bahwa ada korelasi negatif antara

pola asuh otoriter orang tua terhadap perilaku keagamaan siswa kelas VIII MTs

Negeri Salatiga. Hubungan negatif antara variabel pola asuh otoriter orang tua

dengan Perilaku Keagamaan siswa hal ini disebabkan karena sikap orang tua yang

(69)

69

perilaku keagamaan siswa. Hal ini sesuai dengan pendapat Baumrind (Santrock,

2002: 257) orang tua yang menerapkan pola asuh otoriter cenderung yang

membatasi dan menghukum yang menuntut anak untuk mengikuti

perintah-perintah orang tua. Tingginya dalam menerapkan aturan-aturan dalam keluarga

namun rendah dalam penerimaan dan kehangatan yang jarang ditampakkan oleh

orang tua. Cenderung anak tidak bahagia dengan apa yang dia lakukan, karena

perhatian orang tua yang berlebihan maka akan menimbulkan sifat pembangkang

dalam diri anak. Maka dari itu menjadikan perilaku keagamaan siswa menjadikan

rendah.

Berdasarkan hasil koefisien korelasi yang diperoleh yakni berupa

hubungan negatif bahwa semakin tinggi pola asuh otoriter orang tua semakin

rendah perilaku keagamaan siswa. Sebaliknya semakin rendah pola asuh otoriter

orang tua maka semakin tinggi perilaku keagamaan siswa. Orang tua menerapkan

tingkat pengawasan dan kontrol yang tinggi namun rendah penerimaan dan kasih

sayang terhadap siswa. Keadaan seperti ini akan menyebabkan perilaku

keagamaan siswa menurun.

Berdasarkan hasil statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh

negatif antara pola asuh otoriter orang tua terhadap perilaku keagamaan siswa

(70)

70 BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan dari hasil penelitian yang lakukan tentang Pengaruh Pola

Asuh Otoriter Orang Tua terhadap Perilaku Keagamaan siswa kelas VIII MTs

Negeri Salatiga, maka peneliti dapat simpulkan sebagai berikut :

1. Pola asuh otoriter orang tua menunjukkan kategori dengan rincian sebagai

berikut prosentase tinggi 24%, sedang 74% dan rendah 2%.

2. Perilaku keagamaan menunjukkan kategori dengan rincian sebagai berikut

prosentase tinggi 50%, sedang 48% dan rendah 2%.

3. Pengaruh negatif antara pola asuh otoriter orang tua dengan perilaku

keagamaan diperoleh rxy sebesar -0,380 setelah dikonsultasikan dengan

tabel product moment denganN 50 pada taraf signifikansi 1% (0,361) maka

to<tabel (-0,380<0,361),

Dengan demikian harga r observasi lebih kecil dari r tabel, baik taraf

signifikan 1%. Dinyatakan apabila r observasi lebih kecil dari r tabel maka

ada hubungan yang negatif dan hipotesis yang menyatakan pengaruh negatif

Gambar

Tabel 1.1 Adapun Indikator Pola Asuh Otoriter Orang Tua adalah :
Tabel 1.2
Tabel 3.1 Struktur Organisasi MTs Negeri Salatiga
Tabel 3.2
+7

Referensi

Dokumen terkait

Sedangkan yang dimaksud dengan “perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya yang berkaitan dengan sumber daya alam” adalah perseroan yang tidak mengelola dan

Berdasarkan uraian diatas dapat diketahui bahwa rata-rata nilai ditahun 2011 nilai rata-rata 68,4 dengan nilai tertinggi 93 dan nilai terendah 47 dari 32 siswa yang mendapat

Sampai tahun 2013, jumlah tenaga kependidikan untuk menunjang kegiatan administrasi akademik, administrasi keuangan dan kepegawaian serta administrasi umum pada

Penderajatan utk NSCLC ditentukan menurut International Staging System For Lung Cancer berdasarkan sistem TNM. Pengertian T tumor yg dikatagorikan atas

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis statistik yang dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa: 1) ada perbedaan kemampuan koneksi matematis siswa sebelum

(4) Dari hasil analisa dan perhitungan Internal Rate of Return (IRR) dari investasi dana yang ditanamkan dalam bentuk pemberian kredit kepada konsumen,

Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat dan pertolonganNya kepada penulis hingga dapat melaksanakan skripsi berjudul “Konstruksi Citra Kaum Pria dalam

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa metode CALDEA dan metode EVAMECAL merupakan suatu kakas yang dapat digunakan untuk menganalisis sistem