BAB IV DASAR PERTIMBANGAN MAJELIS HAKIM PENGADILAN
B. Dasar Pertimbangan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta
Perkawinan Campuran Antara Jessica Iskandar Dan Ludwig Franz Willibald
Sebelum persidangan perkara gugatan pembatalan perkawinan berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan maka Majelis Hakim telah berupaya semaksimal mungkin berdasarkan Pasal 3 ayat (1) Peraturan Mahkamah Agung RI No. 1 tahun 2008 tentang Prosedur Mediasi untuk berusaha mendamaikan kedua belah pihak berperkara. Akan tetapi upaya perdamaian yang dilakukan oleh hakim tersebut tidak berhasil dan Majelis Hakim telah berupaya untuk mendamaikan kedua belah pihak dalam persidangan akan tetapi juga tidak berhasil. Maka pemeriksaan perkara dilanjutkan. Oleh karena pemeriksaan dilanjutkan maka sidang pertama kasus pembatalan perkawinan pun dimulai di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
Di dalam pertimbangan hukumnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan setelah memeriksa bukti-bukti yang diajukan baik oleh penggugat maupun oleh tergugat menyatakan bahwa gugatan penggugat tidak dinyatakan lewat waktu (melewati batas waktu 6 bulan) dan gugatan penggugat dapat diterima karena belum lewat waktu. Disamping itu di dalam pertimbangan hukumnya Majelis Hakim menemukan bukti bahwa Gereja Yesus Sejati dalam hal ini adalah Tergugat II tidak pernah menikahkan penggugat dan tergugat serta tidak pernah memiliki pendeta
Universitas Sumatera Utara
bernama Simon Jonathan dan setelah itu penggugat dan tergugat tidak pernah tercatat sebagai jemaat dari Gereja Yesus Sejati sebagai turut Tergugat II dalam kasus ini.
Di dalam pertimbangan hukum lainnya mengenai dasar hukum pembuktian dalam perkara perdata adalah sebagaimana dirumuskan di dalam Pasal 163 HIR / 172 RBg sebagai berikut : “Barang siapa mendalilkan mempunyai sesuatu hak atau menyebutkan sesuatu kejadian untuk meneguhkan haknya itu, atau untuk membantah hak orang lain maka orang itu harus membuktikan adanya hak itu atau adanya kejadian”. Yang menjadi dasar dikeluarnya kutipan akta perkawinan No. 05/A/2014 pada tanggal 8 Januari 2018 oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta sebagai turut Tergugat I pada pokoknya dikarenakan adanya surat perkawinan No. 081/SKP/VIII/2013 tertanggal 11 Desember 2013 yang dikeluarkan oleh turut Tergugat II dikeluarkan oleh Gereja Yesus Sejati sebagai turut tergugat II, sehingga dengan demikian Majelis hakim terlebih dahulu akan mempertimbangkan mengenai surat perkawinan No. 081/SKP/VIII/2013 tertanggal 11 Desember 2013 tersebut yang diajukan sebagai bukti oleh Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta sebagai turut tergugat I.
Dalam pertimbangan hukumnya selanjutnya sebagai pembanding pihak Gereja Yesus Sejati sebagai turut tergugat II telah pula mengajukan bukti berupa surat pemberkatan nikah. Namun demikian terbukti dipersidangan pihak turut tergugat II tidak pernah melakukan pemberkatan nikah terhadap tergugat dan penggugat bertempat di Gereja Yesus Sejati milik turut tergugat II, yang lokasi di Jakarta Barat dan oleh karena itu pertimbangan majelis hakim karena surat
Universitas Sumatera Utara
pemberkatan nikah dari gereja Gereja Yesus Sejati sebagai turut Tergugat II diperoleh oleh tergugat Jessica Iskandar diperoleh dengan cara melawan hukum atau tidak sah dengan sendirinya maka surat keterangan perkawinan No. 081/SKP/VIII/2013 tertanggal 11 Desember 2013 dinyatakan juga mengandung cacat hukum karena dasar penerbitannya didasarkan dengan pemberkatan nikah yang diperoleh dengan cara tidak sah oleh tergugat.
Dalam pertimbangan selanjutnya majelis hakim berpendapat bahwa penggugat tidak pernah melakukan perkawinan dengan tergugat di tempat Gereja Yesus Sejati turut tergugat II dihadapan pendeta Simon Jonathan sehingga diterbitkan kutipan akta Gereja Yesus Sejati dimana di kolom bagian tanda tangan tercantum kalimat pengurus Jakarta Barat dan yang bertanda tangan adanya Pendeta Simon Jonathan dan telah distempel dengan berbentuk kotak dengan bertulisan Gereja Yesus Sejati Saman Hudi, Jl. Saman Hudi 23 Jakarta Pusat. Majelis hakim dalam pertimbangan hukumnya berpendapat berdasarkan temuan di persidangan terlihat adanya suatu ketidaksinkronan antara isi pada awal surat keterangan perkawinan No.
081/SKP/VIII/2013 tertanggal 11 Desember 2013 dengan bagian stempel dan bagian tanda tangan pada bukti tandatangan terseut, selain itu sepengetahuan majelis hakim Kecamatan Taman Sari terletak di wilayah kota administrasi Jakarta Barat dan bukan terletak kota administrasi Jakarta Pusat, sebagaimana tertulis pada bagian awal surat keterangan perkawinan No. 081/SKP/VIII/2013 tertanggal 11 Desember 2013 dan Kecamatan Taman Sari tidak memiliki kelurahan yang bernama Pasar Baru, karena
Universitas Sumatera Utara
wilayah kelurahan wilayah pasar baru termasuk dalam Kecamatan Sawah Besar dan terletak di kota administrasi Jakarta Barat.
Dalam pertimbangan selanjutnya majelis hakim setelah melakukan pemeriksaan alat-alat bukti tentang surat keterangan perkawinan tersebut di atas terlihat bahwa banyak informasi yang salah dalam surat keterangan perkawinan No.
081/SKP/VIII/2013 tertanggal 11 Desember 2013 yang dijadikan dasar terbitnya kutipan akta No. 05/A/2014 pada tanggal 8 Januari 2014. Oleh karena itu majelis hakim dalam, pertimbangan hukumnya menyatakan bahwa surat keterangan pemberkatan perkawinan yang diperoleh tergugat tersebut bukan dari Gereja Yesus Sejati melainkan direkayasa dan diperoleh secara tidak sah dan melawan hukum.
Oleh karena itu akta perkawinan No. 05/A/2014 pada tanggal 8 Januari 2014 yang terbitkan oleh Tergugat I Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta berdasarkan surat pemberkatan nikah No. 081/SKP/VIII/2013 tertanggal 11 Desember 2013 merupakan bukti akta perkawinan yang tidak sah karena penerbitanya didasarkan terhadap dokumen yang tidak sah pula dan tidak memiliki hukum mengikat.
Dalam pertimbangan hukum selanjutnya majelis hakim menyatakan karena terbukti bahwa surat keterangan perkawinan No. 081/SKP/VIII/2013 tertanggal 11 Desember 2013 memuat suatu ketidakbenaran maka menurut pendapat majelis hakim terbukti bahwa tidak pernah ada perkawinan yang sah antara Penggugat dan Tergugat sebagaimana didasarkan pada Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentnag Perkawinan, sehingga dengan demikian maka pihak penggugat berhasil
Universitas Sumatera Utara
membuktikan dalil-dalilnya dan petitum angka 2 gugatan penggugat mengenai pembatalan perkawinan patut dikabulkan. Dalam pertimbangan hukum selanjutnya majelis hakim menyatakan bahwa oleh karena petitum utama gugatan penggugat dikabulkan, maka turut Tergugat I dan turut Tergugat II patut dihukum dan patuh terhadap putusan ini. Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan di atas maka Majelis Hakim Pengadilan Jakarta Selatan menyatakan mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya. Pertimbangan selanjutnya bahwa terhadap bukti-bukti yang diajukan oleh para pihak selama tidak memiliki relevansi dengan pokok perkara ini harus dikesampingkan dan tidak perlu dipertimbangkan terlebih jauh.
Menimbang bahwa penggugat rekonpensi / tergugat konpensi mengajukan gugatan rekonpensi terhadap tergugat rekonpensi / penggugat konpensi dengan alasan bahwa gugatan penggugat konpensi / tergugat rekonpensi telah menyebabkan nama baik penggugat rekonpensi / tergugat konpensi sebagai publik figure menjadi tercemar dan dikhawatirkan pihak tergugat rekonpensi / Penggugat konpensi tidak mau mengakui anak yang lahir dari perkawinan antara tergugat rekonpensi / penggugat rekonpensi dengan penggugat rekonpensi / tergugat konpensi yang dapat menyebabkan pertimbangan psikologis anak tersebut terganggu, sehingga pihak penggugat rekonpensi / tergugat konpensi memohon agar majelis hakim memerintahkan dilakukannya tes DNA untuk membuktikan bahwa benar anak yang dilahirkan oleh penggugat rekonpensi / tergugat konpensi adalah benar merupakan anak dari tergugat penggugat rekonpensi / tergugat konpensi.
Universitas Sumatera Utara
Dalam pertimbangan hukumnya majelis hakim pengadilan negeri Jakarta selatan selanjutnya menyatakan bahwa terhadap permohonan dalam gugatan rekonpensi majelis hakim telah menerbitkan penetapan provisi No.
586/PDT.G/2014/PN.Jkt.Sel tertanggal 15 Agustus 2015, namun ternyata terhadap isi provisi tersebut tidak pernah dijalankan oleh para pihak. Dalam pertimbangan hukum selanjutnya Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan menyatakan terlepas dari benar tidaknya anak yang dilahirkan oleh penggugat rekopensi / tergugat konpensi merupakan anak hasil dari hubungan penggugat rekopensi / tergugat konpensi dengan tergugat rekonpensi / penggugat konpensi adalah mengenai pembatalan perkawinan, karena menurut tergugat rekopensi / penggugat konpensi dirinya tidak pernah melangsungkan perkawinan dengan penggugat rekonpensi/
tergugat konpensi, dan sebagaimana telah majelis hakim pertimbangan dalam pertimbangan pokok konpensi, dimana telah terbukti bahwa tidak pernah ada perkawinan antara penggugat rekopensi / tergugat konpensi dengan tergugat rekonpensi / penggugat konpensi yang dilangsungkan di tempat turut Tergugat II (Gereja Yesus Sejati) dihadapan Pendeta Simon Jonathan, karena terbukti bahwa Surat Keterangan Perkawinan No. 081/SKP/VIII/2013 tertanggal 11 Desember 2013 memuat isi yang tidak benar, dan pihak turut tergugat II (Gereja Yesus Sejati) pun membantah adanya seorang pendeta di Gereja Yesus Sejati yang bernama Simon Jonathan.
Menimbang bahwa berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tersebut di atas maka menurut Hemat Majelis Hakim, gugatan rekonpensi yang diajukan oleh
Universitas Sumatera Utara
penggugat rekonpensi / tergugat konpensi tidak berdasar dan harus ditolak. Dalam konpensi dan rekopensi pertimbangan majelis hakim pengadilan negeri Jakarta selatan menyatakann bahwa oleh karena gugatan penguggat rekonpensi / tergugat konpensi telah dinyatakan dikabulkan seluruhnya sedangkan gugatan konpensi yang diajukan oleh penggugat rekopensi / tergugat konpensi telah dinyatakan ditolak, maka pihak tergugat dan para turut tergugat adalah sebagai pihak yang dikalahkan dan harus dihukum untuk membayar ongkos perkara secara tanggung renteng.
Mengadil dalam konpensi dan dalam eksepsi menolak eksepsi yang diajukan oleh tergugat untuk seluruhnya. Dalam pokok perkara :
1. Mengabulkan gugatan penggugat untuk seluruhnya
2. Menyatakan perkawinan antara penggugat dan tergugat batal yang dimulai sejak keputusan pengadilan memiliki kekuatan hukum tetap dan berlaku sejak saat berlangsungnya perkawinan.
3. Memerintahkan kepada turut tergugat I dan turut tergugat II untuk mematuhi dan melaksanakan putusann ini.
Dalam rekonpensi menolak gugatan rekonpensi seluruhnya. Dalam konpensi dan rekopensi menghukum tergugat konpensi / penggugat rekonpensi serat turut tergugat I dan turut tergugat II untuk turut membayar biaya perkara secara tanggung renteng yang hingga kini ditaksir sebesar Rp 2.116.000 (dua juta seratus enam belas ribu rupiah). Keputusan ini diucapkan dalam sidang terbuka untuk umum pada hari kamis tanggal 15 Oktober 2015 oleh majelis Hakim Made Sutrisna (Ketua), Husman (Anggota), dan Bachtiar Nasution (Anggota) serta dibantu dengan Effi Sugiati
Universitas Sumatera Utara
sebagai panitera pengganti pada Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan dihadiri kuasa tergugat, tergugat I dan Tergugat II .
Dari uraian di atas maka dapat dikatakan bahwa dokumen-dokumen yang menjadi dasar dalam pertimbangan hakim untuk membatalkan perkawinan campuran antara Jessica Iskandar dan Ludwig yang dinilai Majelis Hakim yang diperoleh dengan cara tidak sah atau cacat hukum. Dokumen-dokumen tersebut antara lain adalah :
1. SKP GYS menggunakan bentuk surat portrait orientation, sedangkan SPN Gereja Yesus Sejati menggunakan bentuk surat landscape orientation.
2. SKP GYS menggunakan format tulisan, jenis huruf, besar huruf yang berbeda dengan SPN Gereja Yesus Sejati.
3. SKP GYS menggunakan logo 3 salib yang bertumpukan, sedangkan SPN Gereja Yesus Sejati menggunakan logo salib yang bercahaya kemudian ditambahkan gambar Alkitab dan burung yang melambangkan Roh Kudus.
4. SKP GYS menggunakan nomor surat yang tidak ada tulisan GYS di dalam nomor surat tersebut, sedangkan SFN Gereja Yesus Sejati menggunakan tulisan GYS di dalam nomor surat tersebut.
5. Di dalam SKP GYS terdapat nomor surat yang di dalamnya tercantum tulisan Romawi yaitu angka VII, padahal SKP GYS ditandatangani pada bulan Desember, sehingga seharusnya menggunakan angka XII Romawi pada nomor surat SKP GYS tersebut.
Universitas Sumatera Utara
6. SKP GYS menggunakan kalimat “Dengan rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa, dalam perlindungan Yesus Kristus Juru Selamat, sedangkan SPN Gereja Yesus Ssjati menggunakan kalimat “Dalam nama Tuhan Yesus Kristus Upacara Pemberkatan ini telah dilakukan”.
7. SKP GYS mencantumkan alamat Turut Tergugat II di Kecamatan Taman Sari, padahal alamat Turut Tergugat II bukan di Kecamatan Taman Sari, tetapi seharusnya alamat Turut Tergugat II berada di Kecamatan Sawah Besar.
8. SKP GYS mencantumkan tulisan “Dengan upacara yang dipimpin oleh Pdt.
Simon Jonathan”, sedangkan Turut Tergugat II tidak memiliki Pendeta yang bernama Pdt Simon Jonathan.
9. SKP GYS mencantumkan tulisan “dan disaksikan oleh Ming Jauw Go dan Henry”, sedangkan Turut Tergugat II tidak mengenal Ming Jauw Go dan Henry.
10. Di dalam bagian atas kolom tandatangan di SKP GYS tercantum tulisan
“Pengurus Jakarta Barat, sedangkan alamat pada cap stempel di SKP GYS adalah Jakarta Pusat, sehingga terlihat ketidak sinkronannya”.
Dokumen-dokumen yang tersebut di atas dinilai hakim diperoleh dengan cara tidak sah atau bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga hal tersebut mengandung cacat hukum dan pengadilan memiliki cukup alasan berdasarkan bukti-bukti tersebut untuk membatalkan perkawinan campuran antara Jessica Iskandar dan Ludwig.
Universitas Sumatera Utara
C. Analisis Pertimbangan Hukum Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta