BAB I PENDAHULUAN
G. Metode Penelitian
4. Analisis Data
Analisis data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan menggunakan data dalam pola, kategori dan sataun uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan suatu hipotesa kerja seperti yang disarankan oleh data.30Di dalam penelitian hukum normatif, maka maksud pada hakekatnya berarti kegiatan untuk mengadakan sistematisasi terhadap bahan-bahan hukum tertulis, sistematisasi yang berarti membuat klasifikasi terhadap bahan hukum tertulis tersebut untuk memudahkan pekerjaan analisis dan konstruksi.31 Sebelum dilakukan analisis, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap semua data yang dikumpulkan. Setelah itu keseluruhan data tersebut akan dianalisis dan disistematisasikan secara kualitatif.
29Jhonny Ibrahim, Teori dan Metodologi Penelitian Hukum Normatif, Banyu Media, Malang, 2005, hal. 28
30Bambang Sunggono, Metode Penelitian Hukum, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2002, hal 106.
31Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI Press, Jakarta, 1986, hal 25.
Universitas Sumatera Utara
Metode kualitatif merupakan metode penelitian yang digunakan untuk menyelidiki, menemukan, menggambarkan dan menjelaskan kualitas atau keistimewaan dari suatu penelitian yang dilakukan dengan cara menjelaskan dengan kalimat sendiri dari data yang ada baik primer, sekunder maupun tertier.
Sehingga menghasilkan klasifikasi yang sesuai dengan permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini, untuk memperoleh jawaban yang benar mengenai prosedur dan tata cara pelaksanaan perkawinan campuran dan proses pencatatannya di Indonesia berdasarkan Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan agar pelaksanaan perkawinan campuran tersebut memiliki ketentuan dan kepastian hukum bagi pasangan suami istri yang melaksanakan perkawinan campuran tersebut, sehingga dapat ditarik suatu kesimpulan yang tepat dengan metode deduktif, yaitu melakukan penarikan kesimpulan diawali dari hal-hal yang bersifat umum untuk kemudian ditarik kesimpulan yang bersifat khusus, sebagai jawaban yang benar dalam pembahasan permasalahan yang terdapat pada penelitian ini.
Universitas Sumatera Utara
Meskipun diketahuinya kelengkapan persyaratannya dalam suatu perkawinan campuran tidak lengkap.
BAB III
AKIBAT HUKUM DARI PERKAWINAN CAMPURAN YANG DIBATALKAN OLEH PENGADILAN KARENA MENGGUNAKAN DOKUMEN YANG
TIDAK SAH
A. Pengertian Pencegahan dan Pembatalan Perkawinan
Pencegahan perkawinan adalah menghindari suatu perkawinan berdasarkan larangan hukum Islam yang diundangkan. Pencegahan perkawinan dilakukan bila tidak terpenuhi dua persyaratan ini. Pertama, syarat materiil adalah syarat yang berkaitan dengan pencatatan perkawinan, akta nikah, dan larangan perkawinan.
Kedua, syarat administratif adalah syarat perkawinan yang melekat pada setiap rukun perkawinan, yang meliputi calon mempelai laki-laki dan wanita, saksi, wali, dan pelaksanaan akad nikahnya.
Pengertian tentang pencegahan adalah para pihak yang memiliki kewenangan untuk melakukan pencegahan sebelum perkawinan tersebut berlangsung. Hal ini berbeda dengan pembatalan perkawinan dimana para pihak yang memiliki hak untuk
Universitas Sumatera Utara
mengajukan gugatan pembatalan perkawinan ke Pengadilan dapat dilakukan setelah perkawinan tersebut berlangsung dan sah secara hukum. Dengan demikian perbedaan antara pencegahan dan pembatalan perkawinan adalah terletak kepada sebelum atau setelah berlangsungnya perkawinan. Pencegahan ditujukan kepada perkawinan yang belum berlangsung sedangkan pembatalan ditujukan kepada perkawinan yang telah berlangsung dan mempunyai kekuatan hukum yang sah.
Pencegahan perkawinan diatur dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dalam Pasal 13 yang berbunyi: “Perkawinan dapat dicegah, apabila ada pihak yang tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan.” Tidak memenuhi persyaratan seperti yang dimaksud didalam ayat diatas mengacu kepada dua hal yaitu syarat administratif dan syarat materiil. Syarat administratif berhubungan dengan administratif perkawinan pada bagian tata cara perkawinan. Adapun syarat materiil menyangkut hal-hal mendasar seperti larangan perkawinan.55
Perkawinan dapat dicegah bila salah seorang ataupun kedua calon pengantin masih terikat dalam perkawinan dengan orang lain (pencegahan ini tidak termasuk bagi suami yang telah mendapatkan dispensasi dari pengadilan untuk berpoligami) dan seorang bekas istri yang masih dalam keadaan berlaku waktu tunggu (iddah) baginya, begitu juga dengan mereka yang belum mencapai umur 19 tahun bagi pria dan 18 tahun bagi wanita dapat dicegah untuk melangsungkan perkawinan kecuali
55Hardono Putranto, Legalitas Perkawinan Campuran di Indonesia Ditinjau Dari Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, Tarsito, Bandung, 2011, hal. 85
Universitas Sumatera Utara
telah mendapat dispensasi dari pengadilan menurut Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Adapun mekanisme yang ditempuh bagi pihak-pihak yang akan melakukan pencegahan adalah dengan cara mengajukan pencegahan perkawinan ke Pengadilan dalam daerah hukum dimana perkawinan itu dilangsungkan dan memberitahukannya kepada pegawai pencatat nikah. Pencegahan perkawinan dapat dicabut dengan menarik kembali permohonan pencegahan yang telah dimasukkan ke Pengadilan oleh yang mencegah atau dengan putusan Pengadilan, selama pencegahan belum dicabut maka perkawinan tidak dapat dilangsungkan, kecuali ada putusan Pengadilan yang memberikan dispensasi kepada para pihak yang akan melangsungkan perkawinan.56
Disamping itu undang-undang perkawinan juga mengenal pencegahan perkawinan secara otomatis yang dilakukan oleh pegawai pencatat perkawinan meskipun tidak ada pihak yang melakukan pencegahan perkawinan (Pasal 20).
Pencegahan otomatis ini dapat dilakukan apabila pegawai pencatat perkawinan dalam menjalankan tugasnya mengetahui adanya pelanggaran dari ketentuan dalam Pasal 7 ayat 1, Pasal 8, Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 12 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.
Berkenaan dengan orang-orang yang dapat melakukan pencegahan dimuat dalam Pasal 14 UUP yang berbunyi:
56Ibid, hal. 86
Universitas Sumatera Utara
1) Yang dapat mencegah perkawinan ialah para keluarga dalam garis keturunan lurus keatas dan kebawah, saudara, wali nikah, wali pengampu dari salah seorang calon mempelai dan pihak-pihak yang berkepentingan.
2) Mereka yang tersebut pada ayat (1) Pasal ini berhak juga mencegah berlangsungnya perkawinan apabila salah seorang calon mempelai berada dibawah pengampuan, sehingga dengan perkawinan tersebut nyata-nyata mengakibatkan kesengsaraan bagi calon mempelai lainnya, yang mempunyai hubungan dengan orang-orang seperti tersebut dalam ayat (1) Pasal ini.
Selanjutnya Pasal 15 menyatakan: “Barangsiapa karena perkawinan dirinya masih terikat dengan salah satu dari kedua belah pihak dan atas dasar adanya perkawinan, dapat mencegah perkawinan yang baru, dengan tidak mengurangi ketentuan Pasal 3 ayat 2 dan Pasal 4 undang-undang ini.” Undang-undang perkawinan seperti yang terdapat dalam Pasal 16 ayat 1 dan 2, juga memberi wewenang kepada pejabat untuk melakukan pencegahan perkawinan. Mengenai pejabat yang berwenang diatur dalam paraturan perundang-undangan . Sebaliknya pejabat yang berwenang dilarang membantu melangsungkan perkawinan bila ia mengetahui terjadinya pelanggaran terhadap undang-undang tersebut. Dalam Pasal 20 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dinyatakan dengan tegas:
Pegawai pencatat perkawinan tidak diperbolehkan melangsungkan atau membantu melangsungkan perkawinan bila ia mengetahui terjadinya pelanggaran terhadap undang-undang tersebut.
Universitas Sumatera Utara
Dalam Pasal 20 Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dinyatakan dengan tegas: Pegawai pencatat perkawinan tidak diperbolehkan melangsungkan atau membantu melangsungkan perkawinan bila ia mengetahui adanya pelanggaran dari ketentuan dalam Pasal 7 ayat 1, Pasal 9, Pasal 10, dan Pasal 12 undang-undang ini meskipun tidak ada pencegahan perkawinan.
Berkenaan dengan pencegahan ini, agaknya KHI mengikut rumusan-rumusan UUP walaupun dalam bagian tertentu ada beberapa penambahan dan modifikasi.
Secara eksplisit KHI menyatakan perkawinan dapat dicegah jika terdapat syarat-syarat yang tidak terpenuhi, baik yang berkenaan dengan syarat-syarat administrative ataupun syarat materiil. Tujuannya untuk menghindari perkawianan yang terlarang.
Lebih jelasnya dapat dilihat di bawah ini:
Pasal 60 KHI yang menyebutkan bahwa :
1) Pencegahan perkawinan bertujuan untuk menghindari suatu perkawinan yang dilarang hukum Islam dan peraturan perundang-undanganan.
2) Pencegahan perkawinan dapat dilakukan bila calon suami atau calon istri yang akan melangsungkan perkawinan tidak memenuhi syarat-syarat untuk melangsungkan perkawinan menurut hukum Islam dan peraturan perundang-undangan.
Pasal 61 KHI yang menyebutkan bahwa, “Tidak sekutu tidak dapat dijadikan alasan untuk mencegah perkawinan, kecuali tidak sekufu karena perbedaan agama atau ikhtilafu al-din”.
Pasal 62 yang menyebutkan bahwa,
Universitas Sumatera Utara
1) Yang dapat mencegah perkawinan ialah para keluarga dalam garis keturunan lurus keatas dan kebawah, saudara, wali nikah, wali pengampu dari seoramg calon mempelai dan pihak-pihak yang bersangkutan.
2) Ayah kandung yang tidak pernah melaksanakan fungsinya sebagai kepala keluarga tidak gugur hak kewaliannya untuk mencegah perkawinan yang akan dilakukan oleh wali nikah yang lain.
Pasal 63 KHI yang menyebutkan bahwa, “Pencegahan perkawinan dapat dilakukan oleh suami atau istri yang masih terikat dalam perkawinan dengan salah seorang calon istri atau calon suami yang akan melangsungkan perkawinan.” Pasal 64 KHI yang menyebutkan bahwa, “Pejabat yang di tunjuk untuk mengawasi perkawinan berkewajiban mencegah perkawinan bila rukun dan syaarat perkawinan tidak terpenuhi.”
Dari Pasal-Pasal pencegah di atas, sebenarnya ada beberapa hal penting untuk dicatat. Pertama, diaturnya masalah pencegahan ini di dalam KHI adalah untuk menghindari perkawinan terlarang. Kedua, sebab pencegahan dapat dilakukan adalah ketika tidak terpenuhinya syarat-syarat bagi kedua mempelai untuk melangsungkan perkawinan. Ketiga, tidak sekufu tidak dapat dijadikan alasan untuk melakukan pencegahan perkawinan. Keempat, yang dapat melakukan pencegahan perkawinan itu adalah para keluarga, wali, pengampu, dan pihak-pihak yang berkepentingan.
Dalam kajian hukum Islam, suatu tindakan baik yang berhubungan dengan hukum taklifi maupun hukum wad’I bisa bernilai sah dan bisa bernilai fasad (fasid) atau batal (batil). Fasad dan fasakh nikah pada hakikatnya adalah rusak dan putusnya
Universitas Sumatera Utara
akad perkawinan karena putusan pengadilan. Agak tipis perbedaan antara keduanya, sebab apa yang disebut fasakh oleh sebagian dianggap sebagai fasad oleh sebagian yang lain.
Dalam hukum Islam, pembatalan perkawinan disebut juga fasakh. Fasakh berarti mencabut atau menghapus. Karena berdasarkan pengamatan kami terhadap literatur fiqih, tidak kami temukan istilah pembatalan perkawinan. Hukum Islam hanya mengatur poligami terbatas, tidak mengatur atau mengenal pembatalan atas perkawinan. Kalau ternyata di dalam kehidupan suami istri tidak dapat dipertahankan lagi hubungan yang dibina, maka perceraianlah yang dilakukan.
Dalam kajian Hukum Islam, suatu tindakan baik yang berhubungan dengan hukum taklifi maupun hukum wad’I bisa bernilai sah dan bisa bernilai fasad (fasid) atau batal (batil). Fasad dan fasakh nikah pada hakikatnya adalah rusak dan putusnya akad perkawinan karena putusan pengadilan. Agak tipis perbedaan antara keduanya, sebab apa yang disebut fasakh oleh sebagian dianggap sebagai fasad oleh sebagian yang lain.
Dalam hukum Islam, pembatalan perkawinan disebut juga fasakh. Fasakh berarti mencabut atau menghapus. Karena berdasarkan pengamatan kami terhadap literatur fiqih, tidak kami temukan istilah pembatalan perkawinan. Hukum Islam hanya mengatur poligami terbatas, tidak mengatur atau mengenal pembatalan atas perkawinan. Kalau ternyata di dalam kehidupan suami istri tidak dapat dipertahankan lagi hubungan yang dibina, maka perceraianlah yang dilakukan. Arti fasakh ialah
Universitas Sumatera Utara
merusakkan atau membatalkan. Ini berarti bahwa perkawinan itu diputuskan atau dirusakkan atas permintaan salah satu pihak oleh hakim Pengadilan.57
Tuntutan pemutusan perkawinan ini disebabkan karena salah satu pihak menemui cela pada pihak lain atau merasa tertipu atas hal-hal yang belum diketahui sebelum berlangsungnya perkawinan. Pada asasnya fasakh adalah hak suami dan istri, tetapi dalam pelaksanaan lebih banyak dilakukan oleh pihak istri dari pada pihak suami. Hal ini mungkin disebabkan karena suami telah mempunyai hak talak yang diberikan agama kepadanya.
Adapun talak adalah menghilangkan ikatan perkawinan sehingga setelah hilangnya ikatan perkawinan itu istri tidak lagi halal bagi suaminya, dan ini terjadi dalam talak ba’in. sedangkan arti mengurangi pelepasan ikatan perkawinan ialah berkurangnya hak talak bagi bagi suami yang mengakibatkan berkurangnya jumlah talak yang menjadi hak suami dari tiga menjadi dua, dan dari dua menjadi satu dan dari satu menjadi hilangnya hak talak itu, yakni menjadi talak raj’i.58
Adapun fasakh, baik karena hal-hal yang terjadi belakangan ataupun karena adanya syarat-syarat yang tidak terpenuhi, ia mengakhiri ikatan perkawinan seketika itu. Selain itu, pisahnya suami istri karena talak dapat mengurangi bilangan talak. Jika suami mentalak istrinya dengan talak raj’I, lalu rujuk lagi semasa iddahnya, atau akad lagi sehabis iddahnya, dengan akad baru, maka perbuatannya dihitung satu kali talak,
57Soemiyati, Hukum Perkawinan Islam Dan Undang-Undang Perkawinan (Undang-Undang No.1 Tahun 1974), Liberty, Yogyakarta, 2004, hal. 113.
58 Kamal Muchtar, Asas-asas Hukum Islam Tentang Perkawinan, Jakarta, Bulang Bintang, 2014, hal. 194.
Universitas Sumatera Utara
dan ia masih ada kesempatan melakukan talak dua kali lagi. Adapun pisahnya suami istri karena fasakh, maka hal ini tidak berarti mengurangi bilangan talak, sekalipun terjadinya fasakh karena khiyar baligh, kemudian kedua orang suami istri tersebut kawin dengan akad baru lagi, maka suami tetap punya kesempatan tiga kali talak.59
Fasakh dalam arti bahasa adalah batal sedangkan dalam arti istilah adalah membatal dan lepasnya ikatan perkawinan antara suami dan istri, adakalanya disebabkan terjadinya kerusakan atau cacat pada akad nikah itu sendiri dan adakalanya disebabkan hal-hal yang datang kemudian dan menyebabkan akad perkawinan tersebut tidak dapat dilanjutkan.
Dalam arti terminologis ditemukan beberapa rumusan yang hampir bersamaan maksudnya, di antaranya yang terdapat dalam kamus hukum sebagai berikut :
“Pembatalan ikatan pernikahan oleh Pengadilan berdasarkan tuntutan istri atau suami yang dapat dibenarkan Pengadilan atau karena pernikahan yang telah terlanjur menyalahi hukum pernikahan”. Definisi tersebut di atas mengandung beberapa kata kunci yang menjelaskan hakikat dari fasakh itu, yaitu, Pertama: kata “pembatalan”
mengadung arti bahwa fasakh mengakhiri berlakunya suatu yang terjadi sebelumnya.
Kedua: kata “ikatan pernikahan” yang mengandung arti bahwa yang dinyatakan tidak boleh berlangsung untuk selanjutnya itu adalah ikatan perkawinan dan tidak terhadap yang lainnya. Ketiga: kata “Pengadilan” mengandung arti pelaksanaan atau tempat dilakukannya pembatalan perkawinan itu adalah lembaga Peradilan yang dalam hal ini adalah Pengadilan, bukan ditempat lain. Keempat: kata “berdasarkan tuntutan istri
59Abdurrahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, Kencana, Jakarta, 2003, hal.86.
Universitas Sumatera Utara
atau suami yang dapat dibenarkan oleh Pengadilan atau karena pernikahan yang telah terlanjur menyalahi hukum pernikahan”.60Ungkapan ini merupakan alasan terjadinya fasakh, yaitu pengaduan pihak istri atau suami yang dapat dibenarkan dan atau pernikahan yang telah berlangsung ketahuan kemudian hari tidak memenuhi ketentuan hukum pernikahan.61
Fasid nikah merupakan suatu Putusan Pengadilan yang diwajibkan melalui persidangan bahwa perkawinan yang telah dilangsungkan tersebut mempunyai cacat hukum. Hal itu dibuktikan seperti tidak terpenuhinya persyaratan atau rukun perkawinan atau disebabkan dilanggarnya ketentuan yang mengharamkan perkawinan tersebut. Contoh: Pertama, karena persyaratan, missal keduanya dinikahkan tanpa wali atau wali tidak berhak menjadi wali. Kedua, karena ketentuan nikah tidak boleh dilaksanakan, misal menikahi wanita yang masuk dalam kelompok yang diharamkam untuk dinikahi. Kalau diketahui sebelum akad, hal itu berakibat terhalangnya perkawinan tersebut. Akan tetapi, kalau halangan tersebut baru diketahui setelah akad dilangsungkan, nikah tersebut difasid-kan.
Dalam praktek di Pengadilan, sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa pembatalan perkawinan dilakukan terhadap perkawinan yang cacat hukum atau kurang syarat dan rukunnya, sebagaimana yang telah disyari’atkan dalam syari’at Islam, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam.
Pembatalan perkawinan dapat terjadi apabila berdasarkan atas alasan yang
60 Abdul Azis Dahlan, Ensilopedi Hukum Islam, Jakarta, Ikhtiar Baru, 2003, hal. 217.
61 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Di Indonesia, Antara Fiqh Munakahat Dan Undang-Undang Perkawinan, Jakarta, Kencana, 2007, hal. 242.
Universitas Sumatera Utara
dikemukakan, dan dari alasan tersebut pembatalan perkawinan tidak dapat disamakan dengan perceraian karena alasan yang digunakan dalam perceraian tidak sama dengan alasan pembatalan perkawinan. Begitupula para pihak yang berhak menggunakan atau mengajukan pembatalan tidak terbatas pada suami atau istri saja.
Menurut Kitab Hukum Kanonik (Kitab Hukum Agama Katolik), pembatalan perkawinan dikenal dengan tiga istilah, yakni: pertama, pernyataan tidak sahnya perkawinan (proses anulasi); kedua, pemutusan ikatan perkawinan ratum non consummatum; dan ketiga, pemutusan ikatan perkawinan demi iman in favorem fidei). Selain itu juga telah diterbitkan juga tentang Instrusksi Dignitas Connubii (Martabat Mempelai) yang dikeluarkan paus sehubungan dengan anulasi perkawinan.
Hal-hal ini akan dijelaskan sebagai berikut:
1. Pernyataan Tidak Sahnya Perkawinan (Proses Anulasi)
Lembaga yang berwenang dalam mengurusi perkara perkawinan yang dibatalkan adalah tribunal. Ada tiga tingkatan tribunal dalam gereja Katolik, yakni Tribunal tingkat pertama (Tribunal Kolegal, Tribunal Hakim Tunggal dan personalia lainnya), Tribunal tingkat kedua dan tribunal takhta Apostolik. Beberapa lembaga ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
a) Tribunal Tingkat Pertama/ Kolegal
Tribunal kolegal adalah tribunal yang berbentuk majelis, terdiri dari tiga atau lima orang hakim (Kanon 1421 ayat 1). Tribunal tingkat pertama berkedudukan di keuskupan dengan Uskup Diosesan sebagai hakim tingkat pertamanya. Uskup diosesan dapat melaksanakan kuasa yudisialnya secara pribadi, atau lewat orang lain
Universitas Sumatera Utara
(Kanon 1419). Tribunal tingkat pertama juga bisa dipernakan oleh rota romana untuk perkara-perkara seperti pada Kanon 1405 ayat 3. Dalam hal ini rota romana juga mengadilinya dalam tingkat kedua dan selanjutnya (Kanon 1444 ayat 2). Ketua tribunal kolegal adalah Vikaris Yudisial atau vikaris yudisial pembantu (Kanon 1426 ayat
2). Satu dari anggota majelis bisa seorang beriman awam (Kanon 1421 ayat 2).
Yang berperan sebagai hakim adalah uskup diosesan (Kanon 1419 ayat 1) dan hakim-hakim keuskupan yang diangkat oleh uskup atas izin KWI (Kanon 1421 ayat 2). Selain uskup, juga vikaris yudisial atau ofisial sebagai pelaksana kuasa yudisial uskup diosesan. Selain hakim dan vikaris yudisial, dikenal juga ada Auditor, dan Relator atau Ponens. Auditor adalah petugas tribunal yang ditunjuk oleh ketua tribunal kolegal, dengan tugas mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti perkara (Kanon 1428 ayat 1 dan 3). Sedangkan relator atau ponens adalah petugas tribunal yang ditunjuk oleh ketua tribunal kolegal dan bertugas melaporkan perkara dalam sidang para hakim dan merumuskan putusan tertulis (Kanon 1429). Kewenangan tribunal kolegal adalah dalam mengadili dan memutuskan perkara-perkara perdata (berkaitan dengan ikatan tahbisan suci dan ikatan perkawinan), dan dalam mengadili perkara-perkara pidana.62
b) Tribunal Hakim Tunggal
62 Gharko Zebulo, Perkawinan Campuran Menurut Agama Katolik, Kesaint NIBlaNC, Jakarta, 2004, hal. 43
Universitas Sumatera Utara
Tidak semua keuskupan mampu membentuk sebuah tribunal gerejawi kolegal tingkat pertama, karena keterbatasan tenaga. KWI dapat mengizinkan seorang uskup menyerahkan perkara-perkara kepada seorang klerus sebagai hakim tunggal (Kanon 1425 ayat 4). Hakim tunggal biasanya disertai dengan seorang asesor dan seorang auditor (Kanon 1425 ayat 4 dan Kanon 1424). Asesor adalah petugas tribunal yang ditunjuk hakim untuk membantu hakim menilai bukti-bukti, terutama kalau hakim tidak terbiasa dengan budaya kelompok tertentu (Kanon 1424 dan Kanon 1425 ayat 4). Sedangkan auditor dapat dilihat dalam penjelasan di atas.
c) Personalia lainnya
Untuk personalia lainya dapat dilihat dalam Kanon 1435 dan 1432.
Personalia lainnya dapat berupa promotor iustitiae (Kanon 1435), defensor vinculi (Kanon 1432 dan 1435) dan notarius atau panitera (kanon 483 ayat 1 dan kanon 1437 ayat 2).
d) Tribunal Tingkat Kedua
Tribunal tingkat kedua adalah tribunal banding bagi tribunal tingkat pertama.
Tribunal yang bertindak sebagai tribunal tingkat kedua berkedudukan di Tribunal uskup Metropolit. (Kanon 1438). Uskup metropolit adalah uskup ketua propinsi gerejawi, sekaligus uskup agung keuskupan agung yang dipimpinnya (Kanon 435).
Yang berfungsi sebagai tribunal tingkat kedua selain uskup metropolit adalah rota romana (Kanon 1438 dan 1444 ayat 1 nomor 1). Kewenangan tribunal tingkat kedua ini ditentukan atas dasar tingkat seperti diatur pada Kanon 1438 dan 1439.
e) Tribunal Takhta Apostolik
Universitas Sumatera Utara
Tribunal tahkta apostolik berkedudukan di Roma, yaitu Rota Romana dan Mahkamah Agung Signatura Apostolik. Paus adalah hakim tertinggi untuk seluruh dunia Katolik. Kuasa yudisial tersebut bisa dilaksanakan secara pribadi, atau lewat tribunal biasa rota romana atau lewat hakim-hakim yang ditunjukkan olehnya (Kanon 1442).
Rota Romana bisa bertindak sebagai tribunal tingkat pertama, tingkat kedua, dan tingkat selanjutnya. Mahkamah Agung Signatura Apostolik mempunyai tiga kelompok kewenangan seperti diatur dalam Kanon 1445. Jadi dapat disimpulkan bahwa lembaga yang berwenang adalah para uskup, vikaris yudisial, dan paus sebagai pimpinan tertinggi dalam menangani kasus-kasus pembatalan perkawinan.
Kanon 1671 dan 1476 menegaskan bahwa perkara-perkara perkawinan orang-orang yang telah dibaptis dari haknya sendiri merupakan wewenang hakim gerejawi dan siapapun baik dibaptis maupun tidak, dapat menggugat di pengadilan. Adapun pihak tergugat secara legitim harus menjawabnya. Dengan demikian perkawinan apa saja, di mana salah satu pihak sudah dibaptis dapat dinyatakan batal oleh tribunal perkawinan gerejawi.63
Berdasarkan Kanon 1673 maka Tribunal yang berwenang atas perkara-perkara tidak sahnya perkawinan yang tidak direservasi bagi tahkta suci adalah:
(1) Tribunal tempat perkawinan diteguhkan.
(2) Tribunal dari domisili atau kuasi-domisili responden.
63 F.X. Purwaharsanto, Pedoman Perangkat Pelayanan Kasus Perkawinan Gerejawi (Instrimentarium Tribunalis), Kanisius, Yogyakarta, 1995, hal. 23.
Universitas Sumatera Utara
(3) Tribunal dari domisili pemohon, asal:
(a) Pemohon dan responden tinggal dalam satu wilayahKonferensi Waligereja;
(b) Disetujui Vikaris Yudisial wilayah pihak responden;
(c) Mendengarkan pendapat pihak responden.
(4) Tribunal dimana de facto kebanyakan bukti dapat dikumpulkan asal:
Disetujui Vikaris Yudisial wilayah pihak responden, yangsebelumnya telah ditanya.
Personalia dan Tugasnya dalam proses peradilan Gereja Katolik, yaitu:
a) Hakim Ketua
Tugas hakim adalah mendengarkan kasus dan mengambil keputusan apakah
Tugas hakim adalah mendengarkan kasus dan mengambil keputusan apakah