BAB II TINJAUAN PUSTAKA
A. Strategi Belajar
2. Dasar Strategi Belajar
Syaiful Bahri Djamara & Aswan Zain (2010:120) mengemukakan:
Ada empat strategi dasar dalam belajar yang meliputi hal-hal sebagai berikut:
1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.
2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.
3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat memperoleh tujuan.
4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan Slameto dalam Syaiful Bahri djamarah (2011:13) mengemukakan bahwa:
Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya.
Sedangkan Hilgard dalam Wina sanjaya (2006:112) mengemukakan:
Belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan didalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.
Skinner dalam Pupuh Fathurrohman & M. Sobry Sutikno (2010:5) mengemukakan bahwa: Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuain tingkah laku yang berlangsung secara progresif .
Geoch, dalam Sardiman (2011:20) mengemukakan: Learning is a change in performance as a result of practice (belajar adalah suatu perubahan dalam penampilan sebagai hasil dari latihan).
Witherington dalam Hamzah B. Uno & Nurdin Mohamad (2012:139) mengemukakan bahwa: Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respon yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan.
L. B. Curzon dalam Sahabuddin (2007: 80-81). mengemukakan bahwa :
Belajar adalah modifikasi yang yang tampak dari perilaku seseorang melalui kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalamannya, sehingga pengetahuan, keterampilan dan sikapnya, termasuk penyesuaian cara-caranya, terhadap lingkungan yang berubah-ubah, yang sedikit banyaknya permanen.
Piaget dalam Dimyati & Mudjiono (2010:13) mengemukakan Belajar adalah pengetahuan dibentuk oleh individu. sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan.
A. Magnesen, mengemukakan bahwa:
Kita belajar berdasarkan 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.
Syaiful Bahri Djamarah (2011:13) mengemukakan bahwa :
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.
Berdasarkan beberapa pengertian tentang belajar yang dikemukakan di atas, maka dapat Strategi Pembelajaran Langsung disimpulkan oleh penulis bahwa belajar adalah suatu proses yang menyebabkan terjadinya
perubahan tingkah laku seseorang yang diperoleh dari pengalaman dan latihan, dimana perubahan itu akan menghasilkan peningkatan keterampilan, nilai, dan sikap.
3. Klasifikasi strategi pembelajaran
a. Pengertian klasifikasi startegi pembelajaran
Klasifikasi strategi pembelajaran adalah pengelompokan strategi pembelajaran berdasarkan segi-segi yang sejenis yang terdapat dalam setiap strategi pembelajaran. Strategi dapat diklasifikasikan menjadi 5, yaitu:
strategi pembelajaran langsung (direct instruction), tak langsung (indirect instruction), interaktif, mandiri, melalui pengalaman (experimental).
1) Strategi pembelajaran langsung.
Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun keterampilan tahap demi tahap. Pembelajaran langsung biasanya bersifat deduktif.
Kelebihan strategi ini adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan, sedangkan kelemahan utamanya dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan, proses-proses, dan sikap yang diperlukan untuk pemikiran kritis dan hubungan interpersonal serta belajar kelompok. Agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan pemikiran kritis, strategi
pembelajaran langsung perlu dikombinasikan dengan strategi pembelajaran yang lain.
2) Strategi pembelajaran tak langsung
Strategi pembelajaran tak langsung sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penemuan. Berlawanan dengan strategi pembelajaran langsung, pembelajaran tak langsung umumnya berpusat pada peserta didik, meskipun dua strategi tersebut dapat saling melengkapi. Peranan guru bergeser dari seorang penceramah menjadi fasilitator. Guru mengelola lingkungan belajar dan memberikan kesempatan peserta didik untuk terlibat.
Kelebihan dari strategi ini antara lain:
a. Mendorong ketertarikan dan keingintahuan peserta didik, b. Menciptakan alternatif dan menyelesaikan masalah,
c. Mendorong kreativitas dan pengembangan keterampilan interpersonal dan kemampuan yang lain,
d. Pemahaman yang lebih baik, e. Mengekspresikan pemahaman.
Sedangkan kekurangan dari pembelajaran ini adalah memerlukan waktu panjang, outcome sulit diprediksi. Strategi pembelajaran ini juga tidak cocok apabila peserta didik perlu mengingat materi dengan cepat.
3) Strategi pembelajaran interaktif
Pembelajaran interaktif menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan.
Kelebihan strategi ini antara lain:
a. Peserta didik dapat belajar dari temannya dan guru untuk membangun keterampilan sosial dan kemampuan-kemampuan, b. Mengorganisasikan pemikiran dan membangun argumen yang
rasional.
Strategi pembelajaran interaktif memungkinkan untuk menjangkau kelompok-kelompok dan metode-metode interaktif. Kekurangan dari strategi ini sangat bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika kelompok.
4) Strategi pembelajaran empirik (experiential)
Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif.
Kelebihan dari startegi ini antara lain:
a. Meningkatkan partisipasi peserta didik, b. Meningkatkan sifat kritis peserta didik,
c. Meningkatkan analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain.
Sedangkan kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan pada hasil, keamanan siswa, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang panjang.
5) Strategi pembelajaran mandiri
Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri.
Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggungg jawab. Sedangkan kekurangannya adalah peserta MI belum dewasa, sehingga sulit menggunakan pembelajaran mandiri.
b. Komponen Strategi Pembelajaran
Pembelajaran merupakan suatu sistem instruksional yang mengacu pada seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk
mencapai tujuan. Selaku suatu sistem, pembelajaran meliputi suatu komponen, antara lain tujuan, bahan, peserta didik, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga antarsesama komponen terjadi kerja sama. Oleh karena itu, guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen-komponen tertentu saja misalnya metode, bahan, dan evaluasi saja, tetapi ia harus mempertimbangkan komponen secara keseluruhan.
1) Guru
Guru adalah pelaku pembelajaran, sehingga dalam hal ini guru merupakan faktor yang terpenting. Di tangan gurulah sebenarnya letak keberhasilan pembelajaran. Komponen guru tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa oleh komponen lain, dan sebaliknya guru mampu memanipulasi atau merekayasa komponen lain menjadi bervariasi. Sedangkan komponen lain tidak dapat mengubah guru menjadi bervariasi. Tujuan rekayasa pembelajaran oleh guru adalah membentuk lingkungan peserta didik supaya sesuai dengan lingkungan yang diharapkan dari proses belajar peserta didik, yang pada akhirnya peserta didik memperoleh suatu hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, dalam merekayasa pembelajaran, guru harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.
2) Peserta didik
Peserta didik merupakan komponen yang melakukan kegiatan belajar untuk mengembangkan potensi kemampuan menjadi nyata untuk mencapai tujuan belajar. Komponen peserta ini dapat dimodifikasi oleh guru.
3) Tujuan
Tujuan merupakan dasar yang dijadikan landasan untuk menentukan strategi, materi, media dan evaluasi pembelajaran. Untuk itu, dalam strategi pembelajaran, penentuan tujuan merupakan komponen yang pertama kali harus dipilih oleh seorang guru, karena tujuan pembelajran merupakan target yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran
4) Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berupa materi yang tersusun secara sistematis dan dinamis sesuai dengan arah tujuan dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan tuntutan masyarakat. Menurut Suharsimi (1990) bahan ajar merupakan komponen inti yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran.
5) Kegiatan pembelajaran
Agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, maka dalam menentukan strategi pembelajaran perlu dirumuskan komponen kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan standar proses pembelajaran.
6) Metode
Metode adalah satu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Penentuan metode yang akan digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran akan sangat menentukan berhasil atau tidaknya pembelajaran yang berlangsung.
7) Alat
Alat yang dipergunakan dalam pembelajran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.
Dalam proses pembelajaran alat memiliki fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan. Alat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu alat verbal dan alat bantu nonverbal. Alat verbal dapat berupa suruhan, perintah, larangan dan lain-lain, sedangkan yang nonverbal dapat berupa globe, peta, papan tulis slide dan lain-lain.
8) Sumber Pembelajaran
Sumber pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat atau rujukan di mana bahan pembelajaran bisa diperoleh. Sehingga sumber belajar dapat berasal dari masyarakat, lingkungan, dan kebudayaannya, misalnya, manusia, buku, media masa, lingkungan, museum, dan lain-lain.
9) Evaluasi
Komponen evaluasi merupakan komponen yang berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, juga bisa berfungsi sebagai sebagai umpan balik untuk perbaikan strategi yang telah ditetapkan. Kedua fungsi evaluasi tersebut merupakan evaluasi sebagai fungsi sumatif dan formatif.
10) Situasi atau Lingkungan
Lingkungan sangat mempengaruhi guru dalam menentukan strategi pembelajaran. Lingkungan yang sah, dan lain sebagainya), dan hubungan antar insani, misalnya dengandimaksud adalah situasi dan keadaan fisik (misalnya iklim, madrasah, letak madra teman, dan peserta didik dengan orang lain. Contoh keadaan ini misalnya menurut isi materinya seharusnya pembelajaran menggunakan media masyarakat untuk pembelajaran, karena kondisi masyarakat sedang rawan, maka diubah dengan menggunakan metode lain, misalnya membuat kliping.
11) Faktor Administrasi dan Finansial
Faktor-faktor yang tidak boleh diabaikan dalam pemilihan strategi pembelajaran adalah segi administrasi dan finansial, seperti jadwal pelajaran, kondisi gedung, dan ruanng belajar. Pada intinya, sarana dan prasarana harus menjadi faktor penunjanng yang benar-benar berfungsi selama proses pembelajaran berlangsung. Keberadaan variabel ini merupakan sebuah
keharusan. Demikian pula, berkenaan dengan masalah pendanaan atau finansial. Kelancaran proses belajar pun sering bergantung pada faktor ini.
Komponen-komponen strategi pembelajaran tersebut akan mempengaruhi jalannya pembelajaran, untuk itu semua komponen strategi pembelajaran merupakan faktor yang berpengaruh terhadap strategi pembelajaran.
4. Jenis- jenis strategi belajar.
Merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach)
a. Strategi Pembelajaran dengan Diskusi
Proses pembelajaran melalui interaksi dalam kelompok, Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian materi pembelajaran dengan jalan bertukar pikiran baik antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa.seiring dengan itu metode diskusi berfungsi untuk memotivasi siswa untuk berpikir atau mengeluarkan pendapatya sendiri mengenai persoalan-persoalan yang kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja,tetapi memelukan wawasa pengeahuan yang mampu mencari jawaban atau jalan terbaik
b. Strategi Pembelajaran Kerja Kelompok Kecil
Mengorganisasikan siswa dalam kelompok kecil merupakan strategi yang banyak dianjurkan oleh para pendidik. Strategi ini dapat dilakukan untuk
mengajarkan materi-materi khusus. Merupakan strategi pembelajaran yag berpusat kepada siswa.
Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar-mengajar yang menitikberatpan kepada aianteraksi anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelopk guna menyelesaikan tugas-tugas belajar secara bersama-sama.
c. Strategi Pembelajaran Cooperative Learning
Strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam suatu kelompok yang bisa terdiri 3 sampai 5 orang siswa untuk mempelajari suatu materi akademik yang spesifik sampai tuntas. Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya.
Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai
setidak-tidaknya tiga tujuan pembelajaran yaitu Hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.
d. Strategi Pembelajaran Problem Solving
Teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasai materi pembelajaran strategi pemecahan masalah. Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.
Belajar pemecahan masalah terjadi bila individu menggunakan berbagai konsep atau prinsip untuk menjawab suatu pertanyaan, misalnya:
mengapa harga bahan bakar minyak naik, mengapa minat masuk perguruan tinggi menurun. Proses pemecahan masalah selalu bersegi jamak dan satu sama lain saling berkaitan.
5. Macam – macam strategi belajar
a) Pengajaran interaktif (interactive teaching) maksudnya guru dominan dalam PBM (= gaya komando), guru menyuruh siswa melakukan, guru bertanya-siswa menjawab. Pengajaran sesama teman (peer teaching).
Pembelajaran cooperative (cooperative learning), dalam prosesnya
siswa diberi tugas untuk menyelesaikannya secara berkelompok.
Strategi pengajaran diri (self instructional strategies), dlm prosesnya siswa diberi tugas/masalah yg hrs diselesaikan sendiri dalam jangka waktu tertentu. Pengajaran beregu (team teaching), melibatkan lebih dari 1 guru untuk mengajar pada kelompok-kelompok.
b) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Bermain peran merupakan pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik
c) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.
d) Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.
B. Prinsip-Prinsip dan Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN
1. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Seorang guru perlu megetahui dan meiliki prinsip-prinsip pembelajaran sehingga guru dapat menyusun perencanaan proses pembelajaran dengan baik, bahkan mampu mengimplementasikannya ketika proses pembelajaran berlangsung.
Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Saibany, (2007:34) mengemukakan:
prinsip-prinsip Metodologi Pendidikan Islam adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat anak didiknya.
2. Mengetahui tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.
3. Mengetahui tahap kematangan, perkembangan, dan perubahan anak didik.
4. Mengetahui perbedaan-perbedaan individu dalam anak didik.
5. Memperhatikan kepahaman, dan mengetahui hubungan-hubungan, integrasi pengalaman dan kelanjutannya, keaslian, pembaharuan, dan kebebasan berfkir.
6. Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan bagi anak didik.
7. Menegakkan uswah hasanah.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 telah dijelaskan tentang prinsip-prinsip penyusunan rencana proses pembelajaran, yaitu:
1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik.
2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik..
3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis..
4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut.
5. Keterkaitan dan keterpaduan..
6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi..
Dengan demikian, Penulis menyimpulkan bahwa: prinsip dalam proses pembelajaran sangat penting bagi seorang guru dalam perencanaan dan proses pembelajaran agar pembelajaran menjadi terkontrol dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan memandang dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik serta lingkungan.
2. Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN
Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran lain. Adapun karakteristik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:
a. Secara umum Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam agama Islam.
Ajaran-ajaran dasar tersebut terdapat dalam al-Quran dan al-Hadits.
Untuk kepentingan pendidikan, dengan melalui proses ijtihad maka dikembangkan materi Pendidikan Agama Islam pada tingkat yang lebih rinci.
b. Prinsip-prinsip dasar Pendidikan Agama Islam tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu: akidah, syariah, dan akhlak. Akidah merupakan penjabaran dari konsep iman, syariah merupakan penjabaran dari konsep Islam, dan akhlak merupakan penjabaran dari konsep ihsan.
Dari ketiga prinsip dasar itulah berkembang berbagai kajian keIslaman, termasuk kajian yang terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya.
c. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk menguasai berbagai ajaran Islam, tetapi yang terpenting adalah bagaimana peserta didik dapat mengamalkan ajaran-ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari.
Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam menekankan keutuhan dan keterpaduan antara ranah kognitif, psikomotor, dan afektifnya.
d. Tujuan diberikannya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam dan berakhlakul karimah.
Oleh karena itu semua mata pelajaran hendaknya seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.
e. Tujuan akhir dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia. Tujuan inilah yang sebenarnya merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW.
Dengan demikian, pendidikan akhlak adalah jiwa dari Pendidikan Agama Islam. Mencapai akhlak yang karimah (mulia) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan.
Sejalan dengan tujuan ini maka semua mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan kepada peserta didik haruslah mengandung muatan pendidikan akhlak dan setiap guru haruslah memperhatikan akhlak atau tingkah laku peserta didiknya.
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Penelitian ini adalah penelitian Field Research dengan pendekatan kualitatif dan dianalisis secara deskriptif yaitu berusaha memberi gambaran mengenai bagaimana Penerapan Strategi Belajar Mata Pelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 26 Makassar.
Adapun kajiannya menggunakan analisis kualitatif, metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sehingga lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. (Sugiyono, 2012: 9)
B. Lokasi dan Objek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 26 Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Penunjukan lokasi ini secara langsung dasar penetapan lokasi penelitian adalah untuk mudahnya mengakses data yang diperlukan.
Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah siswa di kelas IX SMP Negeri 26 Makassar.
31
C. Variabel Penelitian
Indikator terpenting yang menentukan keberhasilan penelitian adalah kejelasan variabel yang akan diteliti, sebab variabel penelitian adalah objek penelitian, atau yang menjadi kajian dalam suatu penelitian.
Variabel penelitian ini diklasifikasikan kedalam dua bagian :
1. Strategi belajar mata pelajaran pendidikan agama Islam sebagai variabel bebas (independen variabel) yang diberi tanda (x)
2. Belajar pendidikan agama Islam variabel terikat (dependen variabel) yang diberi tanda (y)
D. Defenisi Operasional Variabel
Operasional variabel dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang variabel-variabel yang diperhatikan. Pengertian operasional variabel dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut:
1. Strategi Belajar
Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Di hubungkan dengan belajar mengajar strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.
Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Jadi hasil belajar adalah perubahan tingkat
pemahaman atau tingkah laku dari tidak mengerti menjadi mengerti atau tidak tahu menjadi tahu).
2. Belajar yang penulis maksud dalam penelitian ini
Adalah belajar siswa dengan menggunakan strategi belajar mata pelajaran PAI kelas IX SMP Negeri 26 Makassar terkait dengan nilai setelah penelitian.
E. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi
Dalam suatu penelitian, ada objek yang diteliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Objek tersebut adalah populasi, adalah seluruh objek penelitian. Dengan kata lain, data secara menyeluruh terhadap elemen yang menjadi objek penelitian tanpa terkecuali.
Suharsimi Arikunto (2008:102) dalam bukunya menyatakan bahwa:
Populasi adalah keseluruhan objek populasi penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada didalam wilayah penelitian maka penelitiannya adalah merupakan penelitian populasi studi atau penelitiannya adalah studi sensus.
Populasi adalah keseluruhan objek populasi penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada didalam wilayah penelitian maka penelitiannya adalah merupakan penelitian populasi studi atau penelitiannya adalah studi sensus.