• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN STRATEGI BELAJAR MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS IX DI SMP NEGERI 26 MAKASSAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PENERAPAN STRATEGI BELAJAR MATA PELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM KELAS IX DI SMP NEGERI 26 MAKASSAR"

Copied!
80
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I) pada Jurusan Pendidikan Agama

Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar

MUHAMMAD HIDAYAT 105 1901175 10

FAKULTAS AGAMA ISLAM

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1436 H / 2014 M

(2)
(3)
(4)
(5)
(6)

ii

bawah ini, menyatakan bahwa skripsi ini benar adalah hasil karya penulis/peneliti sendiri. Jika kemudian hari terbukti bahwa ia merupakan duplikat, tiruan, plagiat, dibuat atau dibantu secara langsung orang lain baik keseluruhan ataupun sebagian maka skripsi dan gelar yang peroleh karenanya batal demi hukum.

15 Muharram 1436 H Makassar,

08 November 2014 M

Peneliti

MUHAMMAD HIDAYAT

(7)

ii Untuk bisa Memberi harapan baru bagi ku

Seonggok Cacian selalu menghampiri mu secerah hinaan tak perduli bagi mu

selalu kau teruskan langkah untuk masa depan ku mencari harapan baru lagi bagi anak mu

Bukan setumpuk Emas yg kau harapkan dalam kesuksesan ku bukan gulungan uang yg kau minta dalam keberhasilan ku bukan juga sebatang perunggu dalam kemenangan ku tapi keinginan hati mu membahagiakan aku

Dan yang selalu kau berkata pada ku

Aku menyayangi mu sekarang dan waktu aku tak lagi bersama mu aku menyayangi mu anak ku dengan ketulusan hati ku...

Ayah…

Beribu kata telah kau ucapkan..

Beribu cinta tlah kau berikan..

Beribu kasih telah kau curahkan..

Hanya untuk anak mu..

Ayah..

Kau ajarkan ku tentang kebaikan..

Kau tunjukan ku tentang arti cinta..

Kau jelaskan ku tentang makna kehidupan..

Dan kau mendidik ku dengan sungguh kasih sayang..

Ayah..

Betapa mulianya hati mu..

Kau korbankan segalanya demi anak mu..

Kau banting tulang hanya untuk anak mu..

Kini ku berjanji untuk semua kerja keras mu..

Ku berjanji untuk semua kasih sayang mu..

Dan ku berjanji untuk ketulusan hati mu..

Bahwa aku akan selalu menjaga mu..

Aku akan selalu menyayangi mu hingga akhir hiup ku..

Terima kasih bunda dan ayah untuk semua kasih sayang mu...

(8)

x ABSTRAK

MUHAMMAD HIDAYAT, 2014 Penerapan Strategi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Kelas IX Di SMP Negeri 26 Makassar (dibimbing oleh KH. Nasruddin Razak dan Hj. Maryam).

Adapun tujuan penelitian ini 1). Untuk mengetahui penerapan strategi belajar pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar. 2). Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dari penggunaan strategi belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar.3). Untuk mengetahui upaya-upaya untuk memecahkan faktor penghambat dari penggunaan strategi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar.

Populasi dari penelitian adalah siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar yang berjumlah 223 orang. Sedangkan jumlah sampel adalah 33 orang, orang yang diambil menggunakan teknik Purposive Sampling.Teknik pengumpulan data adalah observasi, wawancara, dokumentasi dan angket.

dan selanjutnya, data yang diperoleh dianalisis dengan deskriptif kualitatif.

Hasil penelitian ini adalah: bahwa penerapan strategi belajar mata pelajaran pendidikan agama Islam kelas IX SMP Negeri 26 Makassar sangat menunjang dalam meningkatkan prestasi belajar siswa. Faktor pendukung dari penggunaan strategi belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar bahwa penggunaan strategi belajar yang Digunakan Guru Sesuai dengan Materi yang Diajarkan, sesuai dengan data angket dimana yang menjawab “ya” sebanyak 25 orang atau sekitar 75, 76%, dan yang menjawab “kadang-kadang” sebanyak 6 orang atau sekitar 18, 20% sedangkan yang menjawab “tidak” sebanyak 2 orang atau sekitar 6, 04%. Sedangkan Faktor penghambat dari penggunaan strategi belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar adalah guru yang masih belum mampu mengelolah kelas secara optimal, berdasarkan hasil angket, dimana yang memberi jawaban “ya” sebanyak 5 orang atau sekitar 15, 15%, dan yang menjawab “kadang-kadang” sebanyak 7 orang atau sekitar 21, 21%, sedangkan yang menjawab “tidak” sebanyak 21 orang atau sekitar 63, 6%. Jadi upaya yang dilakukan oleh seorang guru untuk memecahkan faktor penghambat dari penggunaan strategi mata pelajaran Pendidikan Agama Islam siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar adalah guru harus memiliki kepribadian dan kewibawaan, kreatif dalam mengeluarkan pendapat atau ide-idenya sehingga apa yang diajarkan pada saat itu tercapai dengan baik.

(9)

iv

يَس ْنِم َو اَن ِسُفْنَأ ِر ْوُرُش ْنِم ِلِلّاِب ُذوُعَن َو ْهُرِفْغَتْسَن َو ُهُنْيِعَتْسَن َو ُهُدَم ْحَن ِ َّ ِلِلّ َدْمَحْلا َّنِإ ِتاَئ

َلاَف ْلِل ْضُي ْنَم َو ُهَل َّل ِضُم َلاَف ُالله ِهِدْهَي ْنَم ،اَنِلاَم ْعَأ ُالله َّلاِإ َهَلِإ َلا ْنَأ ُدَهْشَأ َو .ُهَل َيِداَه

ُهُل ْوُس َر َو ُهُدْب َع اًدَّم َحُم َّنَأ ُدَهْشَأ َو ُهَل َكْي ِرَش َلا ُهَد ْح َو

Dengan penuh kerendahan hati dan segala puji dan syukur hanya kepada Allah SWT penguasa alam jagat raya, yang telah memberikan hidayah dan Magfirah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.

Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada kepada sang pemimpin yang patut kita teladani yakni Nabiyullah Muhammad SAW, para sahabat dan keluarganya yang patut kita jadikan sebagai uswatun hasanah dalam melaksanakan segala aktivitas demi kesejahteraan dan kemakmuran hidup dunia dan akhirat kelak.

(10)

v

1. Ayahanda Tasrif dan Ibunda tercinta Turaya yang ikhlas mendoakan, membesarkan, membimbing, mendidik serta membiayai penulis hingga seperti sekarang.

2. Dr. H. Irwan Akib, M. Pd Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melanjutkan studi di perguruan tinggi di Universitas Muhammadiyah Makassar.

3. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I Dekan Fakultas Agama Islam yang telah membantu penulis sejak menjadi mahasiswa hingga berakhirnya masa perkuliahan di Fakultas Agama Islam.

4. Amirah Mawardi, S. Ag, M. Si dan Dr. Hj. Maryam, M. Th. I Ketua dan sekertaris jurusan Pendidikan Agama Islam yang dalam kesibukannya tetap memberikan bimbingan dan masukan dengan penuh kesabaran hingga terselesaikan penulisan ini.

5. Drs. KH. Nasruddin Razak, dan Dr.Hj. Maryam, M. Th. I pembimbing pertama dan kedua yang tidak mengenal lelah dan jenuh dalam memberikan petunjuk dan arahan dalam penyusunan skripsi ini.

(11)

vi

7. Semua karyawan Tata Usaha Fakultas Agama Islam yang selalu melayani penulis, penulis ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

8. Teman-teman Jurusan Pendidikan Agama Islam Angkatan 2010 khususnya kelas H yang telah memberikan dorongan dan bantuan kepada penulis dan rekan-rekan seperjuangan lainnya yang tidak sempat penulis sebut namanya satu persatu.

Akhirnya harapan dan doa penulis semoga sumbangsih baik dalam bentuk moril maupun materil dari semua pihak mendapat ridha dari Allah SWT dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua serta bernilai ibadah disisiNya Insya Allah Amin Ya Rabbal Alamin.

Makassar, 20 Muharram 1436 H 13 November 2014 M

Penyusun,

Muhammad Hidayat

(12)

vii

HALAMAN PERYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... ii

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ... iii

HALAMAN PENGESAHAN ….. ... iv

HALAMAN BERITA ACARA ……….. v

HALAMAN PRAKATA... ... vi

HALAMAN ABSTRAK... ... x

DAFTAR TABEL... ... ix

DAFTAR ISI... ... vii

BAB I PENDAHLUAN ... ... ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 8

C. Tujuan Penelitian ... 8

D. Manfaat Penelitian ... 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 11

A. Strategi Belajar ... 11

1. Pengertian Strategi Belajar ... . ... 11

2. Dasar Strategi Belajar ... 13

3. Klasifikasi Strategi Belajar ... 15

4. Jenis-jenis Strategi Belajar... 23

5. Macam-macam Strategi Belajar ... 25

B. Prinsip dan Karakteristik Pembelajaran PAI di SMPN ... 27

1. Prinsip-prinsip pembelajaran PAI di SMP ... 27

2. Karakteristik Pembelajaran PAI di SMP ... 28

(13)

viii

C. Variabel Penelitian ... 32

D. Defenisi Operasional Variabel ... 32

E. Populasi dan Sampel ... 33

F. Instrumen Penelitian ... 36

G. Teknik Pengumpulan Data ... 37

H. Teknik Analisa Data ... 37

BAB IV HASIL PENELITIAN A. Gambaran Umum SMP Negeri 26 Makassar... ... 39

B. Penerapan strategi belajar pada mata pelajaran PAI .... ... 44

C. Faktor Pendukung dan Penghambat dari Penggunaan Strategi Belajar Mata Pelajaran PAI... ... 46

D. Upaya-Upaya Untuk Mengatasi Faktor Penghambat Dari Penggunaan Strategi Mata Pelajaran PAI... ... 54

BAB V PENUTUP A. KESIMPULAN... ... 56

B. SARAN... 57 DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN-LAMPIRAN

(14)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel 1 Keadaan populasi siswa kelas X SMP Negeri 26

Makassar ... 34 Tabel 2 Keadaan sampel siswa kelas X SMP Negeri 26 Makassar .. 35 Tabel 3 Keadaan guru SMP Negeri 26 Makassar ... 41 Tabel 4 Keadaan siswa SMP Negeri 26 Makassar ... 42 Tabel 5 Keadaan sarana dan prasarana SMP Negeri 26 Makassar . 44 Tabel 6 Penggunaan strategi belajar yang digunakan guru sesuai

dengan materi yang diajarkan ... 45 Tabel 7 Pengaruh kepribadian dan kewibawaan guru terhadap

proses belajar mengajar ... 47 Tabel 8 Saat mengajar guru memilki skill mengelolah kelas ... 49 Tabel 9 Guru menguasai materi pelajaran saat mengajar dalam

kelas ... 50 Tabel 10 Profesional guru dapat meningkatkan prestasi belajar

siswa ... 52 Tabel 11 Guru PAI memanfaatkan sarana dan prasarana dengan baik ... 53

(15)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan suatu bangsa, pendidikan mempunyai peran strategis yang penting untuk menjamin kelangsungan hidup bangsa yang bersangkutan. Manusia memiliki banyak potensi dalam dirinya untuk mengembangkan seluruh potensinya tersebut, semua itu dapat ditempuh dengan pendidikan.

Tantangan pertama dunia pendidikan masa depan sejauh ini sudah dapat kita baca yakni bagaimana menyelenggarakan pendidikan yang tanggap terhadap tantangan era globalisasi. Dalam era globalisasi yang dimaksudkan adalah ketika tidak ada satupun masyarakat modern di dunia ini yang dapat mengisolasikan diri dari masyarakat lain. Sehingga, dalam menyongsong era globalisasi tersebut menuntut setiap bangsa di dunia ini untuk berkompetensi dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Salah satu cara untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi tersebut adalah melalui pendidikan formal maupun non formal sehingga tidak mengherankan jika masalah pendidikan merupakan salah satu prioritas utama yang harus dipacu dalam menopang pembangunan suatu bangsa termasuk Indonesia, yang tercantum dalam Al-Quran. Surat Al Mujaadilah 58:11 yaitu:

1

(16)































































Terjemahnya:

Hai orang-orang yang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:

"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Depag RI, 2005: 543).

Muhaimin (2010: 7-8) mengemukakan: bahwa pendidikan agama Islam merupakan salah satu bagian dari pendidikan Islam. Dapat dipahami dalam persepektif, yaitu:

1. Pendidikan menurut Islam, atau pendidikan yang berdasarkan Islam, dan sistem pendidikan yang Islami, yakni pendidikan yang dipahami dan dikembangkan serta disusun dari ajaran dan nilai-nilai fundamental yang terkandung dalam sumber dasarnya, yaitu Al- Quran dan As-sunnah/hadist.

2. Pendidikan ke-Islaman atau pendidikan agama Islam, yakni upaya mendidikan agama Islam atau ajaran Islam dan nilai-nilainya, agar menjadi way of life (pandangan dan sikap hidup) seseorang.

3. Pendidikan dalam Islam, dipahami sebagai proses pembudayaan dan pewarisan ajaran agama, budaya dan peradaban umat Islam dari generasi ke generasi sepanjang sejarah.

Abuddin Nata (2010:13) mengemukakan bahwa :

Ilmu pendidikan Islam studi tentang proses kependidikan yang didasarkan pada nilai-nilai filosofis ajaran Islam berdasarkan Al-quran dan Sunnah.

(17)

Nur Uhbiyati (1999:13) mengemukakan :

Pendidikan Islam adalah sistem pendidikan yang dapat memberikan kemampuan seseorang untuk memimpin kehidupannya sesuai dengan cita-cita Islam, karena nilai-nilai Islam telah menjiwai dan mewarnai corak kepribadiannya.

Abdurrahman An-nahlawi dalam (Hasan Basri:2012:158) mengemukakan: Pendidikan Islam adalah penataan individu dan sosial yang dapat menyebabkan seseorang tunduk dan taat pada Islam dan menerapkannya secara sempurna di dalam kehidupan dan masyarakat.

Hasan Basri (2012:159) mengemukakan: Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani agama Islam.

Pendidikan pada hakekatnya merupakan usaha sadar yang dilakukan Peserta didik untuk mengembangkan kepribadian dan kemampuan di dalam dan di luar sekolah yang berlangsung seumur hidup.Tujuan Pendidikan Nasional, adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, oleh karena itu perlu adanya pembenahan sistem pendidikan di Indonesia. Implikasinya tentu saja berpengaruh pada persoalan peningkatan kualitas, sarana dan prasarana pendidikan, serta kualitas guru.

Hasan Basri (2012:137) mengemukakan: Upaya peningkatan mutu pendidik fasilitator yang pertama dan utama dalam peningkatan mutu pendidikan adalah guru profesional.

(18)

Guru profesional adalah guru yang terdidik dan terlatih dengan baik, serta memiliki pengalaman yang kaya dibidangnya, mengajar, menguasai landasan-landasan kependidikan sekaligus ujung tombak pendidikan, sebab guru secara langsung mempengaruhi, membina, dan mengembangkan kemampuan siswa agar menjadi manusia yang cerdas, terampil dan berakhlaqukarimah. Guru harus mempunyai kemampuan dasar yang diperlukan sebagai pendidik dan pengajar.

Suyanto & Asep Djihad (2012:34) mengemukan: Sebagai pendidik dapat membelajarkan siswa secara tuntas, benar, dan berhasil untuk itu guru harus menguasai keahliannya.

Disiplin ilmu pengetahuan, metodologi mengajarnya dan sebagai pengajar, paling tidak guru harus menguasai bahan yang diajarkannya dan terampil dalam hal mengajarkannya.

Guru juga harus mewujudkan proses belajar mengajar yang efektif dan efisien, bagaimana mengingat, bagaimana berfikir dan bagaimana memotivasi diri mereka sendiri agar pembelajaran berjalan dengan baik. Oleh karena itu, dalam proses belajar mengajar penentuan model pembelajaran harus disesuaikan dengan materi yang diajarkan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh penulis dari adik-adik muslim kelas IX SMP Negeri 26 Makassar mengatakan bahwa metode atau strategi mengajar yang digunakan dalam menyampaikan setiap materi, selalu

(19)

monoton dan masih belum efektif dan efisien, sehingga menimbulkan rendahnya prestasi belajar siswa.

Selain masalah di atas, masalah yang dihadapi oleh siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar sebagian besar siswa menganggap bahwa guru bidang studi pendidikan agama Islam kurang kreatif dalam setiap penyampaian materi, sehingga sulit dipahami dan menjemukan.

Pandangan yang demikian itulah yang menyebabkan minat siswa untuk mempelajari pendidikan agama Islam berkurang yang akhirnya berimplikasi pada rendahnya hasil belajar mereka. Mereka merasa apa yang dipelajarinya kurang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga mereka merasa “dipaksa” untuk mempelajari sesuatu yang berada diluar jangkauan daya pikirnya.

Menghadapi keterpaksaan untuk mempelajari pendidikan agama Islam (PAI) jelas bukan hal menyenangkan. Tidak akan mudah seorang siswa untuk berkonsentrasi belajar pendidikan agama Islam jika ia merasa terpaksa. Oleh karena itu, guru perlu mencari jalan bagaimana agar siswa belajar pendidikan agama Islam menjadi lebih mudah dan menyenangkan sehingga siswa itu tetap semangat, dan dapat memahami lebih mudah dan efektif.

Wina Sanjaya (2010: 97) mengemukakan bahwa: “Unsur proses belajar memegang peranan yang sangat penting, mengajar bagi seorang guru adalah usaha menciptakan suasana belajar bagi siswa secara optimal”.

(20)

Peran utama yang harus dilakukan guru, yaitu guru sebagai perencana, sebagai penyampai informasi, dan sebagai evaluator.

Syaiful Bahri Djamarah (2011:13) mengemukakan bahwa: Belajar merupakan suatu proses perubahan, yaitu perubahan dalam perilaku sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.

Belajar juga berarti suatu serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Pentingnya proses belajar yang dialami siswa maka seorang guru harus kompeten akan lebih mampu untuk membelajarkan siswa karena

“mengetahui” tidak sepenting “memperoleh pengetahuan sendiri atau learning to learn”. Peran guru dalam proses belajar mengajar bukan lagi menyampaikan pengetahuan melainkan memupuk pengetahuan serta membimbing siswa untuk belajar sendiri, karena keberhasilan siswa sebagian besar bergantung pada kemampuannya untuk belajar secara mandiri dan memonitor belajar mereka sendiri.

Kemampuan untuk menemukan sendiri dan belajar sendiri dianggap dapat dipelajari yakni siswa harus belajar berbagai macam strategi yang ada dan bagaimana menggunakan strategi yang benar. Oleh karena itu, adalah penting sekali bagi setiap guru memahami sebaik-baiknya tentang proses

(21)

belajar siswa agar ia dapat memberikan bimbingan dan menyediakan lingkungan belajar yang tepat dan serasi bagi siswa.

Hamzah B.Uno & Nurdin Mohamad (2012:55) mengemukakan : belajar dapat dikatakan sudah terjadi apabila peserta didik telah mengalami perubahan berupa:

1. Pengetahuan (Kognitif): Apa yang saya tambahkan pada apa yang saya ketahui.

2. Perasaan (Afektif): Bagaimana perasaan saya tentang apa yang saya dengar dan saya baca.

3. Perbuatan (Psikomotorik): Apa yang saya perbuat dengan apa yang saya dengar dan saya baca.

Untuk mengembangkan sistem belajar yang efektif dan efisien di SMP Negeri 26 Makassar, maka dalam belajar digunakan strategi belajar pendidikan agama Islam.

Diharapkan dengan strategi tersebut seorang siswa akan mengalami keberhasilan dalam belajar terutama dalam hal kemampuan kognitif.

Kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan teknologi. Setiap orang memiliki persepsi tentang pengamatan atau penyerapan atas suatu obyek.

Dalam kemampuan kognitif terdapat tingkatan pemahaman, pada tingkat pemahaman ini seorang siswa mempunyai kemampuan untuk menyerap arti dari materi atau bahan yang dipelajari.

Dari uraian diatas, penulis mengambil judul penelitian “Penerapan Strategi Belajar Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam Siswa Kelas IX

(22)

SMP Negeri 26 Makassar” dengan harapan dapat memberikan kontribusi bagi Sekolah dan masyarakat setempat terutama dalam pembinaan keagamaan terhadap para siswa dan siswi.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian ini adalah:

1. Bagaimana penerapan strategi belajar pada mata pelajaran pendidikan agama Islam siswa kelas IX di SMP Negeri 26 Makassar?

2. Faktor apa yang menjadi pendukung dan penghambat dari penggunaan strategi belajar mata pelajaran pendidikan agama Islam siswa kelas IX di SMP Negeri 26 Makassar?

3. Bagaimana upaya-upaya untuk mengatasi faktor penghambat dari penggunaan strategi mata pelajaran pendidikan agama Islam siswa kelas IX di SMP Negeri 26 Makassar?

C. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui penerapan strategi belajar pada mata pelajaran PAI siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar.

2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat dari penggunaan strategi belajar mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar.

(23)

3. Untuk mengetahui upaya-upaya untuk mengatasi faktor penghambat dari penggunaan strategi mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar.

D. Manfaat Penelitian 1. Bagi siswa

Dengan strategi belajar mata pelajaran pendidikan agama Islam (PAI) seorang siswa dapat meningkatkan kemampuan kognitif merupakan kemampuan yang berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan teknologi.

Dengan ranah kognitif tersebut siswa dapat memecahkan masalah, menambah rasa percaya diri pada siswa, dan siswa juga memiliki kemampuan secara bertahap mandiri dalam belajar dan melatih suatu keterampilan.

2. Bagi Guru

a. Sebagai bahan masukan dalam usaha peningkatan hasil belajar pendidikan agama Islam (PAI).

b. Melalui penelitian ini diharapkan guru dapat mengetahui strategi pembelajaran yang bervariasi yang dapat memperbaiki dan meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas.

c. Dapat menjadi bahan informasi bagi guru tentang pentingnya variasi strategi dalam mengajar sehingga siswa tidak merasa bosan dalam mengajar.

(24)

3. Bagi Sekolah

Dengan penelitian ini dapat memberi sumbangan pemikiran bagi sekolah dalam rangka perbaikan teknik pembelajaran yang bervariasi sehingga dapat meningkatkan hasil belajar dan menunjang tercapainya target kurikulum sesuai dengan diharapkan.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Strategi Belajar

1. Pengertian Strategi Belajar.

Dalam keseluruhan pendidikan di sekolah, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses belajar yang dialami oleh siswa sebagai anak didik. Agar dapat melakukan hal di atas diperlukan penerapan strategi-strategi belajar yang diterapkan mengacu pada perilaku dan proses-proses berfikir yang digunakan siswa menyelesaikan tugas-tugasnya termasuk proses memori atau mengingat dan metakognitif.

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Di hubungkan dengan belajar mengajar strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Dalam al-quran, kata al-ilm dan turunannya berulang sebanyak 780 kali. Seperti yang termaktub dalam wahyu yang pertama turun kepada baginda Rasulullah SAW yakni surat Al „Alaq 96: 1-5.

11

(26)



















































Terjemahnya:

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.

3. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah, 4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Depag RI, 2005: 596).

Selain al-quran, al-hadist juga banyak menerangkan tentang pentingnya menuntut ilmu. Rasulullah Saw. bersabda:

لَاق مِّل َس َو ِهْيَل َع ُالله ىًّّلَص ْيِبَّنلا ْنَع ُهْنَع ُالله َي ِض َر َة َرْي َرُه يِبَا ْنَع ِمْلِعلْا ُبًّلط

﴿ ٍةَمِل ْسُمْلا َو ٍمِلْسُم ِّلُك ىَلَع ٌةَضْي ِرًّف ﻩاﻮﺮ

﴾ئاسنلاو هخام نبا ,ىذمرتلا

ََ

Artinya :

Menuntut Ilmu itu wajib bagi muslim laki-laki dan muslim perempuan.

(HR. Tirmidsi ibnu Majah dan An Nasaa‟i)

Dari dalil-dalil di atas penulis dapat menarik benang kesimpulan bahwa dalam kehidupan, khususnya dunia pendidikan itu sangatlah penting dalam menunjang kehidupan seorang manusia dari semua medan kehidupan agar lebih mudah menggapai semua impian. Pendidikan merupakan ilmu pengetahuan bukan hanya wajib khususnya bagi kaum muslimin akan tetapi merupakan suatu kebutuhan yang akan mendongkrat strata sosial dan semua elemen kehidupan yang berhubungan dengan pendidikan itu sendiri.

(27)

2. Dasar Strategi Belajar

Syaiful Bahri Djamara & Aswan Zain (2010:120) mengemukakan:

Ada empat strategi dasar dalam belajar yang meliputi hal-hal sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi serta menetapkan spesifikasi dan kualifikasi perubahan tingkah laku dan kepribadian anak didik sebagaimana yang diharapkan.

2. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar berdasarkan aspirasi dan pandangan hidup masyarakat.

3. Memilih dan menetapkan prosedur, metode dan teknik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif sehingga dapat memperoleh tujuan.

4. Menetapkan norma-norma dan batas minimal keberhasilan Slameto dalam Syaiful Bahri djamarah (2011:13) mengemukakan bahwa:

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya.

Sedangkan Hilgard dalam Wina sanjaya (2006:112) mengemukakan:

Belajar adalah proses perubahan melalui kegiatan atau prosedur latihan baik latihan didalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.

Skinner dalam Pupuh Fathurrohman & M. Sobry Sutikno (2010:5) mengemukakan bahwa: Belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuain tingkah laku yang berlangsung secara progresif .

Geoch, dalam Sardiman (2011:20) mengemukakan: Learning is a change in performance as a result of practice (belajar adalah suatu perubahan dalam penampilan sebagai hasil dari latihan).

(28)

Witherington dalam Hamzah B. Uno & Nurdin Mohamad (2012:139) mengemukakan bahwa: Belajar merupakan perubahan dalam kepribadian yang dimanifestasikan sebagai pola-pola respon yang baru berbentuk keterampilan, sikap, kebiasaan, pengetahuan, dan kecakapan.

L. B. Curzon dalam Sahabuddin (2007: 80-81). mengemukakan bahwa :

Belajar adalah modifikasi yang yang tampak dari perilaku seseorang melalui kegiatan-kegiatan dan pengalaman-pengalamannya, sehingga pengetahuan, keterampilan dan sikapnya, termasuk penyesuaian cara- caranya, terhadap lingkungan yang berubah-ubah, yang sedikit banyaknya permanen.

Piaget dalam Dimyati & Mudjiono (2010:13) mengemukakan Belajar adalah pengetahuan dibentuk oleh individu. sebab individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan.

A. Magnesen, mengemukakan bahwa:

Kita belajar berdasarkan 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan.

Syaiful Bahri Djamarah (2011:13) mengemukakan bahwa :

Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Berdasarkan beberapa pengertian tentang belajar yang dikemukakan di atas, maka dapat Strategi Pembelajaran Langsung disimpulkan oleh penulis bahwa belajar adalah suatu proses yang menyebabkan terjadinya

(29)

perubahan tingkah laku seseorang yang diperoleh dari pengalaman dan latihan, dimana perubahan itu akan menghasilkan peningkatan keterampilan, nilai, dan sikap.

3. Klasifikasi strategi pembelajaran

a. Pengertian klasifikasi startegi pembelajaran

Klasifikasi strategi pembelajaran adalah pengelompokan strategi pembelajaran berdasarkan segi-segi yang sejenis yang terdapat dalam setiap strategi pembelajaran. Strategi dapat diklasifikasikan menjadi 5, yaitu:

strategi pembelajaran langsung (direct instruction), tak langsung (indirect instruction), interaktif, mandiri, melalui pengalaman (experimental).

1) Strategi pembelajaran langsung.

Strategi pembelajaran langsung merupakan pembelajaran yang banyak diarahkan oleh guru. Strategi ini efektif untuk menentukan informasi atau membangun keterampilan tahap demi tahap. Pembelajaran langsung biasanya bersifat deduktif.

Kelebihan strategi ini adalah mudah untuk direncanakan dan digunakan, sedangkan kelemahan utamanya dalam mengembangkan kemampuan-kemampuan, proses-proses, dan sikap yang diperlukan untuk pemikiran kritis dan hubungan interpersonal serta belajar kelompok. Agar peserta didik dapat mengembangkan sikap dan pemikiran kritis, strategi

(30)

pembelajaran langsung perlu dikombinasikan dengan strategi pembelajaran yang lain.

2) Strategi pembelajaran tak langsung

Strategi pembelajaran tak langsung sering disebut inkuiri, induktif, pemecahan masalah, pengambilan keputusan dan penemuan. Berlawanan dengan strategi pembelajaran langsung, pembelajaran tak langsung umumnya berpusat pada peserta didik, meskipun dua strategi tersebut dapat saling melengkapi. Peranan guru bergeser dari seorang penceramah menjadi fasilitator. Guru mengelola lingkungan belajar dan memberikan kesempatan peserta didik untuk terlibat.

Kelebihan dari strategi ini antara lain:

a. Mendorong ketertarikan dan keingintahuan peserta didik, b. Menciptakan alternatif dan menyelesaikan masalah,

c. Mendorong kreativitas dan pengembangan keterampilan interpersonal dan kemampuan yang lain,

d. Pemahaman yang lebih baik, e. Mengekspresikan pemahaman.

Sedangkan kekurangan dari pembelajaran ini adalah memerlukan waktu panjang, outcome sulit diprediksi. Strategi pembelajaran ini juga tidak cocok apabila peserta didik perlu mengingat materi dengan cepat.

(31)

3) Strategi pembelajaran interaktif

Pembelajaran interaktif menekankan pada diskusi dan sharing di antara peserta didik. Diskusi dan sharing memberi kesempatan peserta didik untuk bereaksi terhadap gagasan, pengalaman, pendekatan dan pengetahuan guru atau temannya dan untuk membangun cara alternatif untuk berfikir dan merasakan.

Kelebihan strategi ini antara lain:

a. Peserta didik dapat belajar dari temannya dan guru untuk membangun keterampilan sosial dan kemampuan-kemampuan, b. Mengorganisasikan pemikiran dan membangun argumen yang

rasional.

Strategi pembelajaran interaktif memungkinkan untuk menjangkau kelompok-kelompok dan metode-metode interaktif. Kekurangan dari strategi ini sangat bergantung pada kecakapan guru dalam menyusun dan mengembangkan dinamika kelompok.

4) Strategi pembelajaran empirik (experiential)

Pembelajaran empirik berorientasi pada kegiatan induktif, berpusat pada peserta didik, dan berbasis aktivitas. Refleksi pribadi tentang pengalaman dan formulasi perencanaan menuju penerapan pada konteks yang lain merupakan faktor kritis dalam pembelajaran empirik yang efektif.

(32)

Kelebihan dari startegi ini antara lain:

a. Meningkatkan partisipasi peserta didik, b. Meningkatkan sifat kritis peserta didik,

c. Meningkatkan analisis peserta didik, dapat menerapkan pembelajaran pada situasi yang lain.

Sedangkan kekurangan dari strategi ini adalah penekanan hanya pada proses bukan pada hasil, keamanan siswa, biaya yang mahal, dan memerlukan waktu yang panjang.

5) Strategi pembelajaran mandiri

Belajar mandiri merupakan strategi pembelajaran yang bertujuan untuk membangun inisiatif individu, kemandirian, dan peningkatan diri.

Fokusnya adalah pada perencanaan belajar mandiri oleh peserta didik dengan bantuan guru. Belajar mandiri juga bisa dilakukan dengan teman atau sebagai bagian dari kelompok kecil. Kelebihan dari pembelajaran ini adalah membentuk peserta didik yang mandiri dan bertanggungg jawab. Sedangkan kekurangannya adalah peserta MI belum dewasa, sehingga sulit menggunakan pembelajaran mandiri.

b. Komponen Strategi Pembelajaran

Pembelajaran merupakan suatu sistem instruksional yang mengacu pada seperangkat komponen yang saling bergantung satu sama lain untuk

(33)

mencapai tujuan. Selaku suatu sistem, pembelajaran meliputi suatu komponen, antara lain tujuan, bahan, peserta didik, guru, metode, situasi, dan evaluasi. Agar tujuan itu tercapai, semua komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga antarsesama komponen terjadi kerja sama. Oleh karena itu, guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen-komponen tertentu saja misalnya metode, bahan, dan evaluasi saja, tetapi ia harus mempertimbangkan komponen secara keseluruhan.

1) Guru

Guru adalah pelaku pembelajaran, sehingga dalam hal ini guru merupakan faktor yang terpenting. Di tangan gurulah sebenarnya letak keberhasilan pembelajaran. Komponen guru tidak dapat dimanipulasi atau direkayasa oleh komponen lain, dan sebaliknya guru mampu memanipulasi atau merekayasa komponen lain menjadi bervariasi. Sedangkan komponen lain tidak dapat mengubah guru menjadi bervariasi. Tujuan rekayasa pembelajaran oleh guru adalah membentuk lingkungan peserta didik supaya sesuai dengan lingkungan yang diharapkan dari proses belajar peserta didik, yang pada akhirnya peserta didik memperoleh suatu hasil belajar sesuai dengan yang diharapkan. Untuk itu, dalam merekayasa pembelajaran, guru harus berdasarkan kurikulum yang berlaku.

(34)

2) Peserta didik

Peserta didik merupakan komponen yang melakukan kegiatan belajar untuk mengembangkan potensi kemampuan menjadi nyata untuk mencapai tujuan belajar. Komponen peserta ini dapat dimodifikasi oleh guru.

3) Tujuan

Tujuan merupakan dasar yang dijadikan landasan untuk menentukan strategi, materi, media dan evaluasi pembelajaran. Untuk itu, dalam strategi pembelajaran, penentuan tujuan merupakan komponen yang pertama kali harus dipilih oleh seorang guru, karena tujuan pembelajran merupakan target yang ingin dicapai dalam kegiatan pembelajaran

4) Bahan Pelajaran

Bahan pelajaran merupakan medium untuk mencapai tujuan pembelajaran yang berupa materi yang tersusun secara sistematis dan dinamis sesuai dengan arah tujuan dan perkembangan kemajuan ilmu pengetahuan dan tuntutan masyarakat. Menurut Suharsimi (1990) bahan ajar merupakan komponen inti yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran.

5) Kegiatan pembelajaran

Agar tujuan pembelajaran dapat dicapai secara optimal, maka dalam menentukan strategi pembelajaran perlu dirumuskan komponen kegiatan pembelajaran yang sesuai dengan standar proses pembelajaran.

(35)

6) Metode

Metode adalah satu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Penentuan metode yang akan digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran akan sangat menentukan berhasil atau tidaknya pembelajaran yang berlangsung.

7) Alat

Alat yang dipergunakan dalam pembelajran merupakan segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran alat memiliki fungsi sebagai pelengkap untuk mencapai tujuan. Alat dapat dibedakan menjadi dua, yaitu alat verbal dan alat bantu nonverbal. Alat verbal dapat berupa suruhan, perintah, larangan dan lain-lain, sedangkan yang nonverbal dapat berupa globe, peta, papan tulis slide dan lain-lain.

8) Sumber Pembelajaran

Sumber pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat atau rujukan di mana bahan pembelajaran bisa diperoleh. Sehingga sumber belajar dapat berasal dari masyarakat, lingkungan, dan kebudayaannya, misalnya, manusia, buku, media masa, lingkungan, museum, dan lain-lain.

(36)

9) Evaluasi

Komponen evaluasi merupakan komponen yang berfungsi untuk mengetahui apakah tujuan yang telah ditetapkan telah tercapai atau belum, juga bisa berfungsi sebagai sebagai umpan balik untuk perbaikan strategi yang telah ditetapkan. Kedua fungsi evaluasi tersebut merupakan evaluasi sebagai fungsi sumatif dan formatif.

10) Situasi atau Lingkungan

Lingkungan sangat mempengaruhi guru dalam menentukan strategi pembelajaran. Lingkungan yang sah, dan lain sebagainya), dan hubungan antar insani, misalnya dengandimaksud adalah situasi dan keadaan fisik (misalnya iklim, madrasah, letak madra teman, dan peserta didik dengan orang lain. Contoh keadaan ini misalnya menurut isi materinya seharusnya pembelajaran menggunakan media masyarakat untuk pembelajaran, karena kondisi masyarakat sedang rawan, maka diubah dengan menggunakan metode lain, misalnya membuat kliping.

11) Faktor Administrasi dan Finansial

Faktor-faktor yang tidak boleh diabaikan dalam pemilihan strategi pembelajaran adalah segi administrasi dan finansial, seperti jadwal pelajaran, kondisi gedung, dan ruanng belajar. Pada intinya, sarana dan prasarana harus menjadi faktor penunjanng yang benar-benar berfungsi selama proses pembelajaran berlangsung. Keberadaan variabel ini merupakan sebuah

(37)

keharusan. Demikian pula, berkenaan dengan masalah pendanaan atau finansial. Kelancaran proses belajar pun sering bergantung pada faktor ini.

Komponen-komponen strategi pembelajaran tersebut akan mempengaruhi jalannya pembelajaran, untuk itu semua komponen strategi pembelajaran merupakan faktor yang berpengaruh terhadap strategi pembelajaran.

4. Jenis- jenis strategi belajar.

Merupakan bentuk dari pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada guru (teacher centered approach)

a. Strategi Pembelajaran dengan Diskusi

Proses pembelajaran melalui interaksi dalam kelompok, Metode diskusi adalah suatu cara penyampaian materi pembelajaran dengan jalan bertukar pikiran baik antara guru dengan siswa atau antara siswa dengan siswa.seiring dengan itu metode diskusi berfungsi untuk memotivasi siswa untuk berpikir atau mengeluarkan pendapatya sendiri mengenai persoalan- persoalan yang kadang-kadang tidak dapat dipecahkan oleh suatu jawaban atau suatu cara saja,tetapi memelukan wawasa pengeahuan yang mampu mencari jawaban atau jalan terbaik

b. Strategi Pembelajaran Kerja Kelompok Kecil

Mengorganisasikan siswa dalam kelompok kecil merupakan strategi yang banyak dianjurkan oleh para pendidik. Strategi ini dapat dilakukan untuk

(38)

mengajarkan materi-materi khusus. Merupakan strategi pembelajaran yag berpusat kepada siswa.

Metode kerja kelompok dapat diartikan sebagai format belajar- mengajar yang menitikberatpan kepada aianteraksi anggota yang satu dengan anggota yang lain dalam suatu kelopk guna menyelesaikan tugas- tugas belajar secara bersama-sama.

c. Strategi Pembelajaran Cooperative Learning

Strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses kerja sama dalam suatu kelompok yang bisa terdiri 3 sampai 5 orang siswa untuk mempelajari suatu materi akademik yang spesifik sampai tuntas. Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari. Setiap anggota kelompok bertanggung jawab untuk tidak hanya belajar apa yang diajarkan tetapi juga untuk membantu rekan belajar, sehingga bersama-sama mencapai keberhasilan. Semua Siswa berusaha sampai semua anggota kelompok berhasil memahami dan melengkapinya.

Model pembelajaran kooperatif dikembangkan untuk mencapai setidak-

(39)

tidaknya tiga tujuan pembelajaran yaitu Hasil belajar akademik, penerimaan terhadap perbedaan individu, dan pengembangan keterampilan sosial.

d. Strategi Pembelajaran Problem Solving

Teknik untuk membantu siswa agar memahami dan menguasai materi pembelajaran strategi pemecahan masalah. Metode pemecahan masalah (problem solving) adalah penggunaan metode dalam kegiatan pembelajaran dengan jalan melatih siswa menghadapi berbagai masalah baik itu masalah pribadi atau perorangan maupun masalah kelompok untuk dipecahkan sendiri atau secara bersama-sama. Orientasi pembelajarannya adalah investigasi dan penemuan yang pada dasarnya adalah pemecahan masalah.

Belajar pemecahan masalah terjadi bila individu menggunakan berbagai konsep atau prinsip untuk menjawab suatu pertanyaan, misalnya:

mengapa harga bahan bakar minyak naik, mengapa minat masuk perguruan tinggi menurun. Proses pemecahan masalah selalu bersegi jamak dan satu sama lain saling berkaitan.

5. Macam – macam strategi belajar

a) Pengajaran interaktif (interactive teaching) maksudnya guru dominan dalam PBM (= gaya komando), guru menyuruh siswa melakukan, guru bertanya-siswa menjawab. Pengajaran sesama teman (peer teaching).

Pembelajaran cooperative (cooperative learning), dalam prosesnya

(40)

siswa diberi tugas untuk menyelesaikannya secara berkelompok.

Strategi pengajaran diri (self instructional strategies), dlm prosesnya siswa diberi tugas/masalah yg hrs diselesaikan sendiri dalam jangka waktu tertentu. Pengajaran beregu (team teaching), melibatkan lebih dari 1 guru untuk mengajar pada kelompok-kelompok.

b) Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) atau biasa disingkat CTL merupakan konsep pembelajaran yang menekankan pada keterkaitan antara materi pembelajaran dengan dunia kehidupan nyata, sehingga peserta didik mampu menghubungkan dan menerapkan kompetensi hasil belajar dalam kehidupan sehari-hari. Bermain peran merupakan pembelajaran yang diarahkan pada upaya pemecahan masalah-masalah yang berkaitan dengan hubungan antarmanusia (interpersonal relationship), terutama yang menyangkut kehidupan peserta didik

c) Pembelajaran Partisipatif (Participative Teaching and Learning) merupakan pembelajaran dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran.

d) Pembelajaran inkuiri merupakan kegiatan pembelajaran yang melibatkan secara maksimal seluruh kemampuan siswa untuk mencari dan menyelidiki sesuatu (benda, manusia atau peristiwa) secara sistematis, kritis, logis, analitis sehingga mereka dapat merumuskan sendiri penemuannya dengan penuh percaya diri.

(41)

B. Prinsip-Prinsip dan Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN

1. Prinsip-Prinsip Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

Seorang guru perlu megetahui dan meiliki prinsip-prinsip pembelajaran sehingga guru dapat menyusun perencanaan proses pembelajaran dengan baik, bahkan mampu mengimplementasikannya ketika proses pembelajaran berlangsung.

Omar Muhammad Al-Thoumy Al-Saibany, (2007:34) mengemukakan:

prinsip-prinsip Metodologi Pendidikan Islam adalah sebagai berikut:

1. Mengetahui motivasi, kebutuhan, dan minat anak didiknya.

2. Mengetahui tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

3. Mengetahui tahap kematangan, perkembangan, dan perubahan anak didik.

4. Mengetahui perbedaan-perbedaan individu dalam anak didik.

5. Memperhatikan kepahaman, dan mengetahui hubungan-hubungan, integrasi pengalaman dan kelanjutannya, keaslian, pembaharuan, dan kebebasan berfkir.

6. Menjadikan proses pendidikan sebagai pengalaman yang menggembirakan bagi anak didik.

7. Menegakkan uswah hasanah.

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 telah dijelaskan tentang prinsip-prinsip penyusunan rencana proses pembelajaran, yaitu:

1. Memperhatikan perbedaan individu peserta didik.

2. Mendorong partisipasi aktif peserta didik..

3. Mengembangkan budaya membaca dan menulis..

4. Memberikan umpan balik dan tindak lanjut.

5. Keterkaitan dan keterpaduan..

6. Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi..

(42)

Dengan demikian, Penulis menyimpulkan bahwa: prinsip dalam proses pembelajaran sangat penting bagi seorang guru dalam perencanaan dan proses pembelajaran agar pembelajaran menjadi terkontrol dengan baik dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dengan memandang dari segi kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta didik serta lingkungan.

2. Karakteristik Pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN

Setiap mata pelajaran memiliki karakteristik tertentu yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran lain. Adapun karakteristik mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah sebagai berikut:

a. Secara umum Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam agama Islam.

Ajaran-ajaran dasar tersebut terdapat dalam al-Quran dan al-Hadits.

Untuk kepentingan pendidikan, dengan melalui proses ijtihad maka dikembangkan materi Pendidikan Agama Islam pada tingkat yang lebih rinci.

b. Prinsip-prinsip dasar Pendidikan Agama Islam tertuang dalam tiga kerangka dasar ajaran Islam, yaitu: akidah, syariah, dan akhlak. Akidah merupakan penjabaran dari konsep iman, syariah merupakan penjabaran dari konsep Islam, dan akhlak merupakan penjabaran dari konsep ihsan.

(43)

Dari ketiga prinsip dasar itulah berkembang berbagai kajian keIslaman, termasuk kajian yang terkait dengan ilmu dan teknologi serta seni dan budaya.

c. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk menguasai berbagai ajaran Islam, tetapi yang terpenting adalah bagaimana peserta didik dapat mengamalkan ajaran- ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari.

Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam menekankan keutuhan dan keterpaduan antara ranah kognitif, psikomotor, dan afektifnya.

d. Tujuan diberikannya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam dan berakhlakul karimah.

Oleh karena itu semua mata pelajaran hendaknya seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran Pendidikan Agama Islam.

e. Tujuan akhir dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMP adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia. Tujuan inilah yang sebenarnya merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad SAW.

(44)

Dengan demikian, pendidikan akhlak adalah jiwa dari Pendidikan Agama Islam. Mencapai akhlak yang karimah (mulia) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan.

Sejalan dengan tujuan ini maka semua mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan kepada peserta didik haruslah mengandung muatan pendidikan akhlak dan setiap guru haruslah memperhatikan akhlak atau tingkah laku peserta didiknya.

(45)

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis Penelitian

Penelitian ini adalah penelitian Field Research dengan pendekatan kualitatif dan dianalisis secara deskriptif yaitu berusaha memberi gambaran mengenai bagaimana Penerapan Strategi Belajar Mata Pelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 26 Makassar.

Adapun kajiannya menggunakan analisis kualitatif, metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi objek yang alamiah, (sehingga lawannya adalah eksperimen) dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif/kualitatif, dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. (Sugiyono, 2012: 9)

B. Lokasi dan Objek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 26 Makassar, Provinsi Sulawesi Selatan. Penunjukan lokasi ini secara langsung dasar penetapan lokasi penelitian adalah untuk mudahnya mengakses data yang diperlukan.

Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah siswa di kelas IX SMP Negeri 26 Makassar.

31

(46)

C. Variabel Penelitian

Indikator terpenting yang menentukan keberhasilan penelitian adalah kejelasan variabel yang akan diteliti, sebab variabel penelitian adalah objek penelitian, atau yang menjadi kajian dalam suatu penelitian.

Variabel penelitian ini diklasifikasikan kedalam dua bagian :

1. Strategi belajar mata pelajaran pendidikan agama Islam sebagai variabel bebas (independen variabel) yang diberi tanda (x)

2. Belajar pendidikan agama Islam variabel terikat (dependen variabel) yang diberi tanda (y)

D. Defenisi Operasional Variabel

Operasional variabel dimaksudkan untuk memberikan gambaran yang jelas tentang variabel-variabel yang diperhatikan. Pengertian operasional variabel dalam penelitian ini diuraikan sebagai berikut:

1. Strategi Belajar

Secara umum strategi mempunyai pengertian suatu garis-garis besar haluan untuk bertindak dalam usaha mencapai sasaran yang telah ditentukan. Di hubungkan dengan belajar mengajar strategi bisa diartikan sebagai pola-pola umum kegiatan guru dan anak didik dalam perwujudan kegiatan belajar mengajar untuk mencapai tujuan yang telah digariskan.

Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan (Jadi hasil belajar adalah perubahan tingkat

(47)

pemahaman atau tingkah laku dari tidak mengerti menjadi mengerti atau tidak tahu menjadi tahu).

2. Belajar yang penulis maksud dalam penelitian ini

Adalah belajar siswa dengan menggunakan strategi belajar mata pelajaran PAI kelas IX SMP Negeri 26 Makassar terkait dengan nilai setelah penelitian.

E. Populasi dan Sampel Penelitian 1. Populasi

Dalam suatu penelitian, ada objek yang diteliti untuk memperoleh data yang dibutuhkan. Objek tersebut adalah populasi, adalah seluruh objek penelitian. Dengan kata lain, data secara menyeluruh terhadap elemen yang menjadi objek penelitian tanpa terkecuali.

Suharsimi Arikunto (2008:102) dalam bukunya menyatakan bahwa:

Populasi adalah keseluruhan objek populasi penelitian. Apabila seseorang ingin meneliti semua elemen yang ada didalam wilayah penelitian maka penelitiannya adalah merupakan penelitian populasi studi atau penelitiannya adalah studi sensus.

Sugiono (2012: 80) dalam bukunya “Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif dan R&D” menyatakan: Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

(48)

Menyimak beberapa pengertian yang telah dikemukakan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa populasi dalam sebuah penelitian adalah keseluruhan elemen atau aspek yang menjadi objek penelitian berupa orang, barang, binatang, hal atau peristiwa sesuai kriteria yang ditentukan oleh penulis.

Untuk penelitian ini, peneliti mengambil populasi pada siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar yang berjumlah 8 kelas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel. 1 : Keadaan Populasi

No. Kelas Jumlah

1. IX.A 25

2. IX.B 29

3. IX.C 32

4. IX.D 27

5. IX.E 32

6. IX.F 27

7. IX.G 25

8. IX.H 26

Jumlah Keseluruhan 223

Sumber data : KTU SMP Negeri 26 Makassar 2014

2. Sampel

Sampel adalah sejumlah siswa yang diambil dari suatu populasi.

Dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah secara purposive sampling. Teknik pengambilan sampel secara purposive sampling adalah

(49)

teknik pengambilan sampel dengan mencampurkan subjek-subjek di dalam populasi sehingga semua subjek-subjek dianggap sama.

Dengan demikian, peneliti memberi hak yang sama kepada setiap subjek untuk memperoleh kesempatan dipilih menjadi sampel. Besarnya sampel ditentukan oleh banyaknya data dalam sampel itu.

Adapun sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas IX SMP Negeri dengan jumlah 33 siswa sebagai kelas perlakuan.

Suharsimi Arikunto (2006:131) mengemukakan bahwa: Sampel merupakan sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti.

Menurut Sugiyono (2012: 91) Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut.

Tabel 2 : Keadaan Sampel

No Siswa Jumlah

1. Siswa kelas IX.A 7

2. Siswa kelas IX.B 5

3. Siswa kelas IX.C 4

4. Siswa kelas IX.D 6

5. Siswa kelas IX.E 6

6. Siswa kelas IX.F 5

Jumlah Keseluruhan 33

(50)

F. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Jenis instrumen ini digunakan untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas IX SMP Negeri 26 Makassar dengan jenis pedoman observasi, wawancara, angket dan Dokumentasi.

1. Pedoman observasi

Teknik ini dimaksudkan adalah pengamatan secara langsung dan pencatatan secara langsung dan data-data dan keterangan-keterangan yang menyangkut tentang pembahasan penelitian ini.

2. Pedoman wawancara

Yaitu penulis mengumpulkan data dengan cara mengadakan wawancara atau Tanya jawab langsung dengan guru-gurunya.

3. Pedoman angket

Angket adalah daftar pertanyaan yang distribusikan melalui pos untuk di dan dikembalikan atau dapat dijawab pengawasan penelitian (S. Nasution, 2002; 24)

Dalam hal ini angket yang digunakan adalah jenis angket tertutup sehingga responden langsung diberikan kesempatan untuk memilih jawaban yang telah disediakan dan masalah pembobotan nilai penulis memberikan skor pada setiap item yakni skor 3 untuk jawaban selalu, skor 2 untuk jawaban kadang-kadang dan skor 1 untuk jawaban tidak pernah.

(51)

4. Dokumentasi

Pengumpulan data dengan cara ini yaitu meneliti dokumen atau arsip sebagai alat untuk mengetahui banyaknya responden dan nama responden serta catatan-catatan yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian ini.

G. Teknik Pengumpulan Data

Adapun tahap-tahap prosedur pengumpulan data dalam penilitian adalah sebagai berikut:

1. Observasi, yaitu teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan mengamati dan mencatat secara saksama dan sistematis mengenai gejal-gejal yang akan diteliti.

2. Angket, yaitu pengumpulan data yang dilakukan oleh penulis dengan memberikan pertanyaan-pertanyaan tertulis yang berupa pilihan jawaban sampel penelitian.

3. Wawancara, yaitu melakukan wawancara secara langsung kepada kepala sekolah atau pihak yang berkepentingan dalam penelitian ini.

4. Dokumentasi, yaitu pengambilan data yang diperoleh melalui dokumen- dokumen atau sumber-sumber yang berkaitan dengan objek penelitian.

H. Teknik Analisis Data

Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis kuantitatif. Data tentang hasil belajar dalam penelitian ini dianalisis dengan

(52)

menggunakan dua macam teknik statistik, yaitu statistik deskriptif dan statistik inferensial. Hasil analisis deskriptif tersebut ditampilkan dalam bentuk nilai rata-rata dan persentase nilai rata-rata.

1. Analisis kualitatif yaitu analisis data dijabarkan melalui pengamatannya tidak berupa angka-angka, maksudnya dilakukan dengan cara menguraikan dalam bentuk kalimat kemudian direlevansikan dengan ruang teori yang mendukung.

2. Metode induktif yaitu menganalisis data dengan data-data atau faktor- faktor khusus kemudian menarik kesimpulan secara umum dengan kata lain dari kondisi nyata kemudian diambil kesimpulan yang bersifat umum.

Metode deduktif yaitu menganalisis data yang bertitik tolak dari beberapa hal berisifat umum, kemudian menarik kesimpulan bersifat umum, kemudian menarik kesimpulan yang bersifat.

(53)

A. Gambaran Umum SMP Negeri 26 Makassar 1. Sejarah Berdirinya SMP Negeri 26 Makassar

SMP Negeri 26 Makassar pada seperti sekolah-sekolah lainnya yang merupakan lembaga pendidikan formal yang bernaung dibawah kementrian pendidikan Nasional.

Berdirinya SMP 26 Negeri Makassar Riwayat singkat berdirinya SMP Negeri 26 Makassar adalah pada tahun 1990 tepatnya di bulan September pada tgl 09 oleh Menteri Pendidikan dan kebudayaan RI oleh Prof. DR. Fuad Hassan.

Visi Dan Misi :

 Visi : Menuju sekolah berprestasi unggul dalam logika,

etika, praktika, ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) dan (IMPAQ).

Visi tersebut mencerminkan cita-cita sekolah yang berorientasi ke depan dengan memperhatikan potensi keilmian sesuai dengan norma dan harapan masyarakat.

Untuk mewujudkan, sekolah menentukan langkah- langkah strategis yang di nyatakan dalam misi berikut.

39

(54)

Misi :

 Mengembangkan pelaksanaan manajemen berbasis ( MBS )

 Mengembangkan berbagai inovasi pembelajaran dan bimbingan serta meningkatkan hasil belajar siswa

 Mengembangkan lingkungan sekolah menuju komunitas belajar

 Meningkatkan kinerja profesional guru dan pegawai serta keterampilan empirik siswa

 Menggalang partisipasi peran masyarakat dalam mengembangkan pendidikan.

 Melaksanakan kegiatan pembinaan keagamaan.

2. Keadaan Guru

Guru merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam proses pembelajaran, Karena guru tidak diharapkan hanya sekadar mengajar tetapi bagaimana dia menjadi contoh tauladan bagi siswanya, sehingga siswanya tidak hanya memiliiki ilmu pengetahuan tetapi juga memiliki akhlak mulia.

Keadaan guru di SMP Negeri 26 Makassar. Dapat dikatakan cukup baik walau masih perlu dimaksimalkan agar lebih berkualitas lagi, ini bisa

(55)

dilihat dari jenjang pendidikan dan jurusannya masing-masing. Hal ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan siswa, karena setiap mata pelajaran yang diajarkan oleh guru yang memang dari jurusannya, seperti halnya bidang studi pendidikan agama islam yang diajarkan oleh guru yang berasal dari jurusan tarbiyah sehingga kebutuhan siswa tentang agama dapat terpenuhi.

Untuk lebih jelasnya penulis dapat menggambarkan tabel keadaan guru di SMP Negeri 26 Makassar. Tabelnya sebagai berikut :

Tabel 3

Keadaan Guru Di SMP Negeri 26 Makassar

No Nama Jabatan

Bidang studi yang mengajarkan 1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9 10 11 12 13 14 15 16 17 18

Ruslan, S.Pd Drs. Andi Aras, MA Drs. H. Alwi Yunus Dra. Dina Pagalla Dra. Jastian Dra. Halwiah Muhammad Jafar H. Abd. Wahab, S. Pd Drs. Muh. Nusu

Drs. H. Abd. Majid As Dra. Hj. Hafsah Zainal Hunaenah, S.Pd. I Dra. Herjantje Pobuti Syamsul. S.Pd.I St. Hadijah Pot, S.Pd Drs. Yahya

Syafrudin, S. Pd. I Rosmaniar, S.Pd. I

Kep. Sek Wakil kep. Sek Guru

Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru Guru

Membimbing PAI

Bhs indonesia Penjaskes Matematika Ekonomi Biologi Geografi Fisika PAI

Moatan lokal PAI

PKN Kesenian MBTQ Bhs arab SKI KIMIA Sumber Data: Kantor SMP Negeri 26 Makassar 2014

(56)

3. Keadaan Siswa

Siswa merupakan bagian dari komponen yang tidak dapat dipisahkan dari sekolah karena siswa merupakan objek pendidikan dan tujuan untuk diberi pengajaran. Pendidikan tidak mungkin terlaksana tanpa adanya siswa sebagai objek yang menerima pendidikan. Dengan demikian yang menjadi sasaran pokok dalam proses belajar mengajar adalah siswa sehingga tujuan dari pendidikan dan pengajaran adalah merubah pola tingkah laku anak didik kearah kematangan kepribadiannya.Siswa dan guru merupakan dua aspek yang tidak dapat dipisahkan dalam pendidikan karena belajar dari pihak siswa dan mengajar dari pihak guru. Dengan demikian dalam proses mengajar ada 3 komponen utama yaitu siswa merupakan peserta didik dan guru merupakan pendidik dan pembimbing serta isi atau materi pelajaran yang siap untuk di ajarkan.

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih jelas tentang keadaan siswa di SMP Negeri 26 Makassar. Maka dapat dilihat tabelnya dibawah ini :

Tabel 4

Jumlah Siswa SMP Negeri 26 Makassar

No. Siswa Jenis Kelamin

Jumlah Laki-Laki Perempuan

1 Kelas VII 109 129 238

2 Kelas VIII 98 117 215

3 Kelas IX 95 128 223

Jumlah 302 374 676

Sumber Data: Kantor SMP Negeri 26 Makassar 2014

(57)

4. Keadaan Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana pendidikan merupakan salah satu aspek yang dapat memperlancar proses belajar mengajar. Fasilitas belajar mengajar dapat menunjang pencapaian tujuan secara efektif dan efisien, apalagi dewasa ini kita di tuntut untuk menciptakan fasilitas belajar mengajar yang memadai karena situasi dan kondisi yang semakin modern akibat ilmu pengetahuan dan tekhnologi.

Sarana dan prasarana di SMP Negeri 26 Makassar seperti kursi belajar, papan tulis dan alat kelengkapan lainnya sudah memadai. Ini sangat menunjang proses belajar mengajar sehingga kebutuhan siswa dalam belajar dapat terpenuhi, disamping itu pengelolaan kelas seperti pengaturan kursi belajar dan penempatan siswa dalam belajar sudah ditata sedemikian rupa sehingga siswa merasa aman dan nyaman dalam mengikuti pelajaran.

Adapun gambaran sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SMP Negeri 26 Makassar. Dapat dilihat pada table berikut ini:

(58)

Tabel 5

Keadaan sarana dan prasarana SMP Negeri 26 Makassar No Jenis Sarana dan

Prasarana

Jumlah Luas Keterangan

1. Ruang Kepala Sekolah dan Wakil

1 4x4 m Ada

2. Ruang Untuk Guru Rapat

1 5x8 m Ada

3. Ruang Kelas Untuk Belajar

27 4x8 m Ada

4. Ruang Tata Usaha 1 4x8 m Ada

WC/Kamar Kecil 2x2 m - Ada

6. Perpustakaan - - Ada

7. Kantin - - Ada

8. Ruang Praktek - - Ada

9. Laboratorium 1 8x8 m Ada

10. Gedung 1 - Ada

Sumber Data: Kantor SMP Negeri 26 Makassar 2014

Dari tabel keadaan sarana dan prasarana tersebut di atas maka, penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa sarana dan parasarana yang dimiliki oleh Sekolah SMP Negeri 26 Makassar sudah layak untuk melakukan proses belajar mengajar yang efektif.

B. Penerapan Strategi Belajar Pada Mata Pelajaran Pendidiikan Agama Islam Siswa Kelas IX SMP Negeri 26 Makassar

Berdasarkan data yang diperoleh penulis pada objek yang diamati, dapat dikemukakan bahwa penerapan strategi belajar mata pelajaran pendidikan agama islam guru berpengaruh terhadap prestasi belajar siswa di SMP Negeri 26 Makassar. Para siswa tekun dan sangat antusias mengikuti pelajaran, sehingga setiap pertemuan atau kegiatan proses belajar mengajar

Gambar

Tabel 1   Keadaan  populasi  siswa  kelas  X  SMP  Negeri  26
Tabel 2 :   Keadaan Sampel

Referensi

Dokumen terkait

Kreativitas Guru PAI Dalam Menumbuhkan Minat Belajar Siswa Pada.. Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMPN 1

Setrategi Belajar /Metode adalah salah satu cara yang dilakukan agar suatu tujuan pendidikan dapat tercapai. Namun dalam pembelajaran PAI siswa kelas VIII di SMPN 1

Kepala sekolah (MLK) selalu memberikan motivasi kepada guru agama yang menjadi garda terdepan untuk meningkatkan iman dan taqwa anak didik di SMP Muhammadiyah 13

Analisis deskriptif yang dilakukan berdasarkan gambaran penerapan model problem based learning pada mata pelajaran pendidikan agama Islam di SMP Negeri 31 Makassar

mengembangkan kurikulum 2013 mulai dari kepala sekolah, guru, komite sekolah , wali murid dan pihak sekolah lainnya. Sarana dan Prasarana yang mendukung dalam proses pembelajaran,

dilaksanakan di SMA Islam Terpadu Wahdah Islamiyah Makassar. Populasi penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI yang berjumlah 127 orang, sedangkan

mengembangkan bahan ajar untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa di SMPN 1 Sumbergempol,(2) Untuk mengetahui kreatifitas guru pendidikan agama Islam dalam

Berdasarkan wawancara yang penulis lakukan dengan guru Pendidikan Agama Islam SMAN 3 Kota Tangerang, menurut guru Pendidikan Agama Islam tersebut minat atau tidak minat siswa dalam