KESULITAN MEMBACA ALQURAN PESERTA DIDIK SMP MUHAMMADIYAH 14 KOTA MAKASSAR
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Program Studi Pendidikan Agama
Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
DIRMAWATI NIM. 105 191 604 12
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERISTAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1437 H - 2016 M
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I) Program Studi Pendidikan Agama
Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar
DIRMAWATI NIM. 105 191 604 12
FAKULTAS AGAMA ISLAM
UNIVERISTAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 1437 H - 2016 M
i
v
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt atas limpahan kesempatan sehingga skripsi ini dapat di selesaikan sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Skripsi ini berjudul “Peranan Guru Pendidikan Agama Islam Dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Alquran Peserta Didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar”.
Dalam penulisan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan banyak terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Teristimewa kepada kedua orang tua, Ayahanda Hamang dan Ibunda Hadirah serta kakakku Erna H, Ewin dan Imank, serta seluruh keluarga yang telah memberikan bimbingan, kasih sayang, doa, sumbangan moril dan materil. Semoga tercatat sebagai amal Ibadah di sisi Allah Swt.
2. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd, selaku rektor Universitas Muhammadiyah Makassar.
3. Drs. H. Mawardi Pewangi, M.Pd.I, selaku Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar.
4. Amirah Mawardi, S.Ag, M.Si, selaku Ketua Prodi Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Makassar serta staf yang membantu
vi
5. Dr. Abd Rahim Razaq, M.Pd selaku pembimbing I dan Dra. St. Rajiah Rusydi, M. Pd.I selaku pembimbing II yang penuh dengan keikhlasan dan kesabaran dalam meluangkan waktu untuk memberikan bimbingan saran dan motivasi sejak penyusunan proposal sampai pada penyelesaian skripsi ini.
6. Bapak/Ibu dosen Jurusan Pendidikan Agama Islam pada khususnya dan seluruh Dosen. Dan staf Universitas Muhammadiyah Makassar, yang telah memberikan kami ilmu selama menempuh pendidikan di bangku kuliah.
7. Lisna,S.Ag,S.Pd.I selaku Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar atas bimbingannya.
8. Hj. Ramadiyah dan Nuraeni.M,S.Ag selaku guru PAI serta siswa SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar atas bantuannya.
9. Teman-teman seangkatan dan yang teristimewa kepada teman-teman dari kelas C tahun 2012-2016 Prodi Pendidikan Agama Islam.
Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan sumbangan yang berarti bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan khususnya dibidang keagamaan.
vii
dan sebagai wujud keterbatasan penulis. Semoga segala bantuan dari berbagai pihak mendapat nikmat dari Allah Swt, Aamiin.
Makassar, 03 Rajab 1437 H 11 April 2016 M
Penulis
Dirmawati
viii
HALAMAN JUDUL ... i
PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii
PENGESAHAN SKRIPSI ... iv
KATA PENGANTAR ... v
DAFTAR ISI... viii
DAFTAR TABEL ... xi
ABSTRAK ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 6
C. Tujuan Penelitian ... 7
D. Manfaat Penelitian ... 7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 9
A. Guru ... 9
1. Pengertian Guru... 9
2. Kompetensi Guru ... 10
3. Peranan danFungsi Guru ... 14
B. Pengertian KesulitanBelajar ... 18
C. Membaca Alquran ... 26
1. Kesulitan kesulitan dalam membaca Alquran ... 26
ix
3. Etika Membaca Alquran... 30
BAB III METODE PENELITIAN... 35
A. Jenis Penelitian ... 35
B. Pendekatan Penelitian ... 35
C. Lokasi dan Obyek Penelitian... 35
D. Sampel Sumber Data ... 36
E. Instrumen Penelitian ... 37
F. Teknik Penguumpulan Data ... 39
G. Teknik Pengelolaan Data dan Analisis Data ... 40
H. Pengujian Keabsahan Data Penelitian ... .41
BAB IV HASIL PENELITIAN... 43
A. Deskripsi Lokasi Penelitian ... 43
1. Sejarah Berdirinya SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar... 43
2. Visi Misi SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar ... 44
3. Personal Sekolah ... 45
4. Profil Sekolah.. ... 46
5. Keadaan Guru... 47
6. Keadaan Peserta Didik ... 49
7. Sarana Dan Prasarana ... 50
x
Makassar... 51
C. Kesulitan Yang Dialami Peserta Didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar dalam Membaca Alquran ... 55
D. Faktor-Faktor Yang Menjadi Penyebab Kesulitan Membaca Alquran Peserta Didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar... 58
BAB V PENUTUP... 62
A. Kesimpulan ... 62
B. Saran ... 63
DAFTAR PUSTAKA... 65
xi
Tabel. 1 Daftar Nama Kepala Sekolah ...44
Tabel. 2 Daftar Guru SMP Muhammadiyah 14 Makassar ...48
Tabel. 3 Nama Staf Tata Usaha ...49
Tabel. 4 Jumlah Peserta Didik ... ..49
Tabel. 5 Keadaan Sarana dan Prasarana ...50
xii
dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Alquran Peserta Didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar. Skripsi, Program SudiPendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam UniversitasMuhammadiyah Makassar. (DibimbingolehAbd Rahim Razaqdan St. RajiahRusydi)
Penelitian ini bermaksud untuk memberikan gambaran tentang Peranan Guru PAI dalam mengatasi kesulitan membaca Alquran peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar.
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan Peranan Guru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kesulitan membaca Alquran Peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
Jenis penelitian ini adalah kualitatif yang dianalisis deskriptif, yang menjadi objek pada penelitian ini adalah guru dan siswa. Dalam penelitian ini terdapat dua variabel yang diteliti yaitu peranan guru pai terhadap siswa dan kesulitan siswa membaca Alquran. Seluruh data yang diperlukan dalam penelitian ini diperoleh melalui instrumen berupa interview/wawancara, dan dokumentasi. Seluruh data yang terkumpul selanjutnya dianalisis deskriptif.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peranan guru PAI terhadap siswa SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar yaitu selalu memberikan solusi seperti menanamkan pengertian tentang keistimewaan membaca Alquran, memberikan motivasi agar belajar dengan sungguh-sungguh, kemudian memberikan bimbingan secara perlahan-lahan misalnya mulai dari iqro 1-6 dan guru memberikan tugas kepada siswa untuk membaca dan memperlancar dirumah, kemudian membaca ulang di sekolah.Kesulitan yang dialami peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar dalam membaca Alquran yaitu penerapan huruf sesuai dengan makharijul ḥuruf, panjang pendek harakat, tajwid dan berhenti pada tempatnya. Dan yang dilakukan adalah menggunakan metode menyimak, murottal dan menerapkan membaca alquran setiap hari.
Faktor-faktor yang menyebabkan siswa kesulitan dalam membaca Alquran yaitu lemahnya pemahaman mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Alquran seperti sulitnya mengenali huruf hijaiyah yang berjumlah 28,selain itu karena faktor keluarga,lingkungan, dan diri sendiri (malas) kurangnya perhatian dari orang tua merupakan lingkungan yang utama untuk mewujudkan tujuan yaitu mampu membaca Alquran.
1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Alquran adalah kitab suci terakhir yang diturunkan oleh Allah Swt.
Kepada Nabi Muhammad saw. Setiap muslim wajib mengimani Alquran dan juga kitab-kitab suci yang diturunkan sebelumnya, yaitu zabur, taurat dan injil. Alquran berfungsi untuk membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjelaskan hukum-hukum yang telah ditetapkannya. Kita sebagai pedoman hidup, untuk mengenal Alquran hendaknya dimulai dengan memahami apa pengertian Alquran serta segala hal yang berkaitan dengannya. Dan yang paling penting lagi adalah memahami isinya,untuk selanjutnya dapat melaksanakan ajaran- ajarannya. Alquran merupakan sumber ajaran islam yang pertama, Setiap muslim b erkewajiban untuk berpegang teguh kepada hukum-hukum yang terdapat di dalamnya agar menjadi manusia yang taat kepada Allah Swt.
Yaitu mengikuti segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya.
Alquran diturunkan Allah kepada manusia untuk dibaca dan diamalkan. Ia telah terbukti menjadi pelita agung dalam memimpin manusia mengarungi perjalanan hidupnya. Tanpa membaca manusia tidak akan mengerti akan isinya dan tanpa mengamalkannya manusia tidak akan dapat merasakan kebaikan dan keutamaan petunjuk Allah dalam Alquran.
Menurut Muhammad Amri (2014 :15) mengatakan bahwa :
Alquran merupakan kitab suci di antara kitab-kitab yang diturunkan ke muka bumi. Ia tidak hanya sebagai tuntunan hidup, tetapi sebagai bacaan dan mukjizat yang berperan juga untuk menundukkan orang-orang yang menolak kebenaran Alquran.
Semua hal yang terdapat dalam Alquran merupakan mukjizat, baik bacaan, isi, dan hasil dari keyakinan dan pengalamannya.
Alquran bagi kaum muslimin adalah kalamullah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad Saw melalui perantaraan malaikat Jibril. Kitab suci ini memiliki kekuatan luar biasa yang berada di luar kemampuan apapun, kandungan pesan Ilahi yang disampaikan kepada Rasul pilihan- Nya pada permulaan abad ke-7 itu telah meletakkan basis untuk kehidupan individu dan sosial kaum muslimin dalam segala aspeknya.
Pembacaan Alquran di pandang sebagai tindak kesalehan dan pelaksanaan ajarannya merupakan kewajiban setiap muslim. Dengan mempelajari dan sering membaca Alquran, berarti kita telah berupaya melestarikan ajaran agama melalui kitab suci yang diturunkan kepada Rasul pilihan-Nya. Dan kita akan mengetahui petunjuk-petunjuk Ilahi dan Rasul-Nya sebagai pedoman hidup.
Pemahaman terhadap Alquran bukan hanya dijadikan untuk memperoleh teoritik saja, tetapi harus diaplikasikan ke dunia pendidikan dalam arti praktek. Pendidikan dalam arti praktek adalah suatu proses pemindahan pengetahuan ataupun pengembangan potensi-potensi yang dimiliki subyek didik untuk mencapai perkembangan secara optimal, serta membudayakan manusia melalui proses transformasi nilai-nilai yang utama.
Setiap mukmin mempunyai kewajiban dan tanggungjawab terhadap Alquran. antara kewajiban dan tanggungjawab itu ialah mempelajari dan mengajarkannya. Sebagai kitab suci yang diagungkan dan sumber tertinggi norma hukum hidup dan kehidupan. Alquran sendiri dalam ayat- ayatnya banyak memberi norma-norma yang secara langsung memotivasi umatnya untuk belajar, mentradisikan, dan mengaplikasikan kemampuan baca tulis menulis dalam kehidupan.
Secara eksplisit Alquran menyebutkan hal tersebut dalam wahyu pertama kali turun, yaitu Surah Al-‘Alaq:1-3
Terjemahnya:
1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, 2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
3. Bacalah,dan Tuhanmulah yang Maha pemurah,(QS.Al-‘Alaq:1-3) Alquran yang secara eksplisit memerintahkan umatnya untuk belajar menulis yaitu, “Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam”. Pena (kalam) dijadikan sebagai sarana komunikasi antara sesama manusia, sekalipun letaknya paling berjauhan, sekaligus menjadi awal mula sejarah pembelajaran baca tulis Alquran. Alquran diturunkan Allah kepada manusia untuk dibaca dan diamalkan. Ia telah terbukti menjadi pelita agung dalam memimpin manusia mengarungi perjalanan hidupnya.
Tanpa membaca manusia tidak akan mengerti akan isinya dan tanpa mengamalkannya manusia tidak akan dapat merasakan kebaikan dan keutamaan petunjuk Allah dalam Alquran. Di Era globalisasi ini, banyak
sekali pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat dikarenakan para generasi kita masih banyak yang belum mampu untuk membaca Alquran secara baik apalagi memahaminya. Oleh karena itu, sebagai orang tua harus mengusahakan sedini mungkin untuk mendidik dan membiasakan membaca Alquran.
Dengan membaca Alquran atau mendengarkan bacaan Alquran dengan hikmah serta meresapinya isinya niscaya akan mendapat petunjuk dari Allah SWT, serta dapat menenangkan hati. Itulah yang dinamakan Rahmat dari Allah SWT.
Alquran tidak hanya sebagai kitab suci, tetapi ia sekaligus merupakan pedoman hidup, sumber ketenangan jiwa serta dengan membaca Alquran dan mengetahui isinya dapat diharapkan akan mendapat Rahmat dari Allah SWT. Sebagaimana firman Allah SWT. dalam surat Al-Isra’ ayat 82:
Terjemahnya :
Dan Kami turunkan dari Alquran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Alquran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.(Qs. Al- Isra: 82)
Dalam kehidupan kaum muslimin tidak akan terlepas dari Alquran karena Alquran yang sangat lengkap dan sempurna isinya itu diyakini sebagai petunjuk yang sekaligus menjadi pedoman hidup dalam urusan duniawi dan ukhrawi sehingga tidaklah mengherankan jika kaum muslimin selalu kembali kepada Alquran setiap menghadapi permasalahan
kehidupan. Di samping itu Alquran juga berfungsi sebagai sumber ajaran Islam, serta sebagai dasar petunjuk di dalam berfikir, berbuat dan beramal sebagai khalifah di muka bumi. Untuk dapat memahami fungsi Alquran tersebut, maka setiap manusia yang beriman harus berusaha belajar, mengenal, membaca dengan fasih dan benar sesuai dengan aturan membaca (ilmu tajwidnya), makharijul huruf, dan mempelajari baik yang tersurat maupun yang terkandung di dalamnya (tersirat), menghayatinya serta mengamalkan isi kandungan Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana janji Allah dalam Alquran Surah Al-Qamar ayat 22:
Terjemahnya:
Dan Sesungguhnya Telah kami mudahkan Al-quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran ?
(QS.Al-Qamar:22)
Ayat tersebut dapat dipahami bahwa wajib hukumnya bagi setiap muslim yang beriman kepada Allah dan Kitab-kitabnya untuk mempelajari isi kandungan dengan baik dan benar. Namun demikian, dewasa ini banyak sekali di tengah masyarakat generasi muda Islam yang belum mampu atau bahkan ada yang sama sekali tidak dapat membaca Alquran padahal bacaan Alquran termasuk juga bacaan dalam sholat.
Uraian tersebut memberikan wawasan pemahaman bahwa Islam mengarahkan dan memandu umat untuk mempelajari agamanya secara sistematis dan terencana melalui metode membaca. Dalam pengertian lain Islam mewajibkan kepada pemeluknya untuk belajar membaca dan
menulis Alquran. Bagi umat Islam, melalui membaca dan menulis Alquranlah mereka berharap kontinuitas dakwah Islamiyah terus berlanjut.
Membaca Alquran bagi umat Islam merupakan Ibadah kepada Allah SWT. Oleh karena itu keterampilan membaca Alquran perlu diberikan kepada anak sejak dini mungkin, sehingga nantinya diharapkan setelah dewasa dapat membaca, memahami dan mengamalkan Alquran dengan baik dan benar.
Dalam kegiatan belajar yang dilakukan siswa tidaklah selalu lancar seperti apa yang diharapkan. Kadang-kadang mereka mengalami kesulitan atau hambatan dalam kegiatan belajar dalam hal ini kesulitan membaca Alquran. Tapi tidak semua siswa yang mengalami kesulitan belajar. Berbagai kesulitan yang dihadapi peserta didik adalah masih banyak ditemui kesalahan peserta didik dalam membaca Alquran, misalnya ada beberapa siswa yang masih terbata-bata dalam membaca, belum mampu mempraktikkan bacaan mad dengan benar yaitu terkadang bacaan mad tidak dibaca panjang dan yang seharusnya pendek malah dibaca panjang. Oleh karena itu penulis ingin meneliti peranan guru PAI dalam mengatasi kesulitan membaca Alquran peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang tersebut, penulis dapat merumuskan beberapa permasalahan berikut ini :
1. Bagaimanakah peranan guru PAI dalam mengatasi kesulitan membaca Alquran peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar ?
2. Kesulitan apa saja yang dialami peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar dalam membaca Alquran ?
3. Faktor-faktor apakah yang menjadi penyebab kesulitan membaca Alquran peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar ?
C.Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui peranan guru PAI dalam mengatasi kesulitan membaca Alquran peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar.
2. Untuk mengetahui kesulitan apa saja yang dialami peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar dalam membaca Alquran.
3. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab kesulitan membaca Alquran peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar.
D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :
1. Bagi Guru PAI
Manfaat penelitian ini bagi guru ialah sebagai masukan guru Pendidikan Agama Islam untuk dapat memilih metode yang tepat terutama dalam mengatasi kesulitan membaca Alquran sehingga
diharapkan menjadi kreatif dan inovatif dalam menciptakan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.
2. Peserta Didik
Manfaat penelitian ini bagi peserta didik ialah agar dapat membangun motivasi siswa dan lebih semangat dalam mengatasi kesulitan yang dihadapinya dalam belajar membaca Alquran.
3. Bagi Sekolah
Manfaat penelitian ini bagi sekolah ialah penulis berharap dengan adanya peranan guru pai dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa dalam membaca Alquran maka para penanggung jawab di sekolah dapat memberikan perhatian yang lebih lagi agar segala kesulitan yang dihadapi siswa dapat terselesaikan dengan baik.
9
TINJAUAN PUSTAKA
A. Guru
1. Pengertian Guru
Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I Pasal 1 bahwa:
Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Membicarakan tentang guru dan dunia keguruan ibarat mengurut benang kusut. Sudut pandang sistem pendidikan nasional, atau lebih khusus lagi sistem persekolahan, akan melihat guru sebagai sentral dari segala upaya pendidikan dan agen dalam pembaruan pendidikan hingga ke tataran sekolah. Guru menjadi tumpuan harapan untuk mewujudkan agenda-agenda pendidikan nasional: peningkatan mutu dan relevansi, pemerataan dan perluasan kesempatan, dan peningkatan efisiensi.
Menurut Supriyadi (2013: 11) mengatakan bahwa:
Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidik formal. Tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat profesionalitas tertentu yang tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan, atau keterampilan yang memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu.
Guru adalah jabatan atau profesi yang membutuhkan keahlian khusus. Pekerjaan sebagai guru ini tidak bisa dilakukan oleh seseorang
tanpa mempunyai keahlian sebagai guru. Menjadi seorang guru dibutuhkan syarat-syarat khusus. Apalagi jika menjadi seorang guru yang profesional maka harus menguasai seluk beluk pendidikan serta mengajar dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang harus dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.
Guru yang hebat adalah guru yang kompeten secara metodologi pembelajaran dan keilmuan. Tautan antara keduanya tercermin dalam kinerjanya selama transformasi pembelajaran. Pada konteks transformasi pembelajaran inilah guru harus memiliki kompetensi dalam mengelola semua sumber daya kelas, seperti ruang kelas, fasilitas pembelajaran, suasana kelas, siswa, dan interaksi sinergisnya. Disinilah esensi bahwa guru harus kompeten dibidang manajemen kelas atau lebih luas lagi disebut sebagai manajemen pembelajaran.
Menurut Saiful Bahri Djamarah (Pupuh Fathurrohman, 2007: 43) mengatakan bahwa:
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Selain memberikan sejumlah ilmu pengetahuan, guru juga bertugas menanamkan nilai- nilai dan sikap kepada anak didik agar anak didik memiliki kepribadian yang paripurna. Dengan keilmuan yang dimilikinya, guru membimbing anak didik dalam mengembangkan potensinya.
2. Kompetensi Guru
Dalam kamus bahasa Indonesia, kompetensi berarti (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Pengertian dasar kompetensi yakni kemampuan atau kecakapan. Seorang guru diharapkan dapat menerapkan kemampuannya baik secara emosional,
inteligensi, spiritual sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara baik, efektif dan efisien.
Menurut Hawi Akmal (2014: 8) mengatakan bahwa:
Kompetensi guru PAI, diharapkan benar-benar dapat teraplikasikan dalam proses belajar mengajar, baik itu bagi peserta didiknya maupun tenaga pendidik itu sendiri sehingga tercapai tujuan dari pendidikan itu yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa.
Menurut Syamsul Bachri Thalib (2010: 273) “kompetensi merupakan kebulatan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja”
Menurut Abdul Majid (2007: 44) “kompetensi adalah seperangkat tindakan inteligen penuh ta nggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu”.
Menurut Muhaimin dan Abdul Mujib (2007: 44) bahwa:
Guru adalah orang dewasa yang bertanggungjawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT dan mampu sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk hidup yang mandiri.
Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I Pasal 1 bahwa:
Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.
Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.
Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Artinya guru bukan saja harus pintar, tetapi juga harus pandai mentransfer ilmunya kepada peserta didik.
Menurut Muhibbin Syah (2007: 45), ada sepuluh kompetensi dasar yang harus dimiliki guru dalam upaya peningkatan keberhasilan belajar mengajar, yaitu:
1. Menguasai bahan, yang meliputi:
a) Menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah;
b) Menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi;
2. Mengelola program belajar mengajar, yang meliputi:
a) Merumuskan tujuan instruksional;
b) Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar;
c) Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat;
d) Melaksanakan program belajar mengajar;
e) Mengenal kemampuan anak didik;
f) Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial;
3. Mengelola kelas, meliputi:
a) Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran;
b) Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi;
4. Menggunakan media atau sumber belajar, yang meliputi:
a) Mengenal, memilih dan menggunakan media;
b) Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana;
c) Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar;
d) Mengembangkan laboratorium;
e) Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar;
f) Menggunakan micro-teaching unit dalam program pengalaman lapangan;
5. Menguasai landasan-landasan kependidikan.
6. Mengelola interaksi belajar mengajar.
7. Menilai prestasi siswa untuk pendidikan dan pengajaran.
8. Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, meliputi:
a) Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan konseling di sekolah;
b) Menyelenggarakan program layanan dan bimbingan di sekolah;
9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, meliputi:
a) Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah;
b) Menyelenggarakan administrasi sekolah;
10.Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil pendidikan guna keperluan pengajaran.
Setiap guru atau pendidik diharuskan memiliki kompetensi dasar di atas agar dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan baik karena guru yang berkompeten tentu akan dapat menjalankan tugasnya serta siswa dapat pula menerima pelajaran dengan baik dan dapat mencapai hasil yang baik pula.
Dalam proses mengajar, guru sebagai pengajar dan siswa sebagai subjek belajar. Seseorang dikatakan guru tidak hanya cukup tahu dan menguasai materi atau bahan yang akan diajarkan, tetapi pertama kali ia harus merupakan seseorang yang memiliki kepribadian guru dengan segala ciri tingkat kedewasaannya. Dalam hal ini bahwa untuk menjadi pendidik atau guru adalah seseorang yang dapat dipercaya oleh masyarakat dan memiliki sikap dan perilaku yang baik, dan tidak boleh mempermasalahkan siswa ketika tidak mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari, serta guru harus menjaga tutur katanya dengan baik agar tidak bertolak belakang dengan tingkah lakunya.
Sebagaiman firman Allah SWT dalam Q.S As-Shaff (61):2-3
Terjemahnya:
Hai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
Terjemahan surah As-Shaf ini memberikan seruan kepada kita semua agar tidak menyampaikan sesuatu kepada orang lain, apabila disampaikan pada seseorang harus tercermin pada diri kita sendiri, karena pelajarn yang sukses adalah apabila memberikan contoh dalam kehidupan kita sehari-hari kepada orang lain(bukan karena ingin di puji dari orang lain atau riya),sehingga guru dapat dijadikan suri tauladan atau contoh yang baik bagi peserta didik.
3. Peranan dan Fungsi Guru a. Peranan Guru
Peran adalah tingkah laku yang dipentaskan individu berkenaan dengan kedudukan atau statusnya. Peranan merupakan aspek dinamis dari status. Jika seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya, maka ia telah menjalankan peranannya.
Seorang guru dalam melaksanakan aktivitas keguruannya memiliki banyak peran yang harus dilaksanakan. Diantaranya dalam kegiatan belajar mengajar,Dimana seorang guru sangat memiliki pengaruh yang besar sekali terhadap keberhasilan kegiatan belajar mengajar, agar tujuan
pendidikan dapat terwujud dengan baik.
Menurut Surya dan Muhammad,(2001:107)mengatakan bahwa:
Peranan guru adalah Keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, jadi peranan guru adalah terciptanya tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu, serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa menjadi tujuannya.
Menurut Nasution (2013: 122-124) mengatakan bahwa sikap guru yang seharusnya terhadap siswa adalah sebagai berikut:
a. Anak atau bahan pelajaran
Macam-macam tes disediakan untuk mengetahui aspek-aspek kepribadian anak. Mengembangkan kepribadian anak rasanya lebih mendapat perhatian daripada perkembangan intelektual untuk menguasai disiplin-disiplin akademis.
Oleh sebab itu guru tidak cukup hanya menguasai bahan pelajaran akan tetapi harus pula mampu melibatkan pribadi anak dalam mencapai hasil yang diharapkan.
b. Guru sebagai model
Fungsi guru yang paling utama adalah memimpin anak-anak, membawa mereka ke arah tujuan yang tegas. Guru itu, di samping orangtua harus menjadi model atau suri teladan bagi anak. Anak- anak mendapat rasa keamanan dengan adanya model itu dan rela menerima petunjuk maupun teguran bahkan hukuman. Hanya dengan cara demikian anak dapat belajar.
c. Kesulitan dalam belajar
Guru yang bersikap sentimental yang berusaha agar belajar itu menjadi kegiatan yang menggembirakan yang dilakukan tanpa jerih payah. Dalam usaha untuk menghormati pribadi anak, menjauhkannya dari frustasi dan konflik, maka dicarilah usaha agar pelajaran itu menyenangkan dan mudah dilaksanakan. Tentu saja tak ada salahnya bila pelajaran dapat dilakukan dalam suasana gembira, namun ini tidak berarti bahwa anak-anak harus dijauhi dari kesukaran. Setiap pelajaran mengandung unsur kesukaran. Mungkin makin berharga pelajaran itu, makin banyak kesulitan yang harus dilalui untuk menguasainya. Ini tidak berarti bahwa pelajaran harus dibuat sulit agar ada nilainya. Akan tetapi kesulitan tidak dapat dielakkan untuk mempelajari banyak hal.
Dalam hidupnya kini dan kelak setiap anak menghadapi kesukaran dan ia harus belajar untuk mengatasi sehingga
kelakuannya berubah dan lebih mampu untuk menghadapi kesukaran-kesukaran baru.
Menurut Adams & Dickey (2001: 123) bahwa peran guru sesungguhnya sangat luas, meliputi:
a. Guru sebagai pengajar (teacher as instructor)
Guru bertugas memberikan pengajaran di dalam sekolah (kelas). Ia menyampaikan pelajaran agar murid memahami dengan baik semua pengetahuan yang telah disampaikan itu. Selain dari itu ia juga berusaha sikap, keterampilan, kebiasaan, hubungan sosial, apresiasi dan sebagainya melalui pengajaran yang diberikannya. Untuk mencapai tujuan-tujuan itu maka guru perlu memahami sedalam- dalamnya pengetahuan yang akan menjadi tanggungjawabnya dan menguasai dengan baik metode dan teknik mengajar.
b. Guru sebagai pembimbing (teacher as counsellor)
Guru berkewajiban memberikan bantuan kepada murid agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mengenal diri sendiri, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Murid-murid membutuhkan bantuan guru dalam hal mengatasi kesulitan-kesulitan pribadi, kesulitan pendidikan, kesulitan memilih pekerjaan, kesulitan dalam hubungan sosial, dan interpersonal. Karena itu setiap guru perlu memahami dengan baik tentang teknik bimbingan kelompok, penyuluhan individual, teknik mengumpulkan keterangan, teknik evaluasi, statistik penelitian, psikologi kepribadian, dan psikologi belajar. Harus dipahami bahwa pembimbing yang terdekat dengan murid adalah guru. Karena murid menghadapi masalah di mana guru tak sanggup memberikan bantuan cara memecahkannya, baru meminta bantuan kepada ahli bimbingan untuk memberikan bimbingan kepada anak yang bersangkutan.
c. Guru sebagai Pemimpin
Sekolah dan kelas adalah suatu organisasi, di mana murid adalah sebagai pemimpinnya. Guru berkewajiban mengadakan supervisi atas kegiatan belajar murid, membuat rencana pengajaran bagi kelasnya, mengadakan manajemen belajar sebaik-baiknya, melakukan manajemen kelas, mengatur disiplin kelas secara demokratis.
d. Guru sebagai ilmuwan (teacher as scientist)
Guru dipandang sebagai orang yang paling berpengetahuan. Dia bukan saja berkewajiban menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya kepada murid, tetapi juga berkewajiban mengembangkan pengetahuan itu dan terus-menerus memupuk pengetahuan yang telah dimilikinya.
e. Guru sebagai pribadi (teacher as person).
Sebagai pribadi setiap guru harus memiliki sifat-sifat yang disenangi oleh murid-muridnya, oleh orangtua, dan oleh masyarakat. Sifat-sifat itu sangat diperlukan agar ia dapat melaksanakan pengajaran secara efektif. Karena itu guru wajib berusaha memupuk sifat-sifat pribadinya sendiri dan mengembangkan sifat-sifat pribadi yang disenangi oleh pihak luar.
Sebagai seorang guru tentunya harus mengetahui perannya selaku pendidik agar tidak salah memposisikan dirinya jika berada di lingkungan sekolah, dengan begitu tentu seorang pendidik akan bertindak atau melakukan sesuatu berdasarkan perannya itu sendiri.
b. Fungsi Guru
Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab II Pasal 4 bahwa:
Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.
Fungsi guru dalam kelas bukan mengajari namun kehadiran guru membuat siswa belajar sehingga fungsi guru tidak mengajar namun lebih pada empat fungsi yang harus difahami oleh guru yaitu:
1. Menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, kreatif, menciptakan berbagai kiat dan model penyampaian materi pembelajaran, membuat suasana pembelajaran menjadi menarik.
2. Membangkitkan motivasi para siswa agar lebih aktif dan giat dalam belajar.
3. Membimbing dan memberikan kemudahan bagi siswa dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi berkualitas.
4. Memimpin pembelajaran, juga sebagai tempat bertanya bagi para siswa.
Guru melaksanakan fungsinya seperti ini akan mendorong siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Keaktifan siswa tersebut akan meningkatkan mutu pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Siswa diajak dan ditekankan kepada learning how to learn.
Pemahaman ini akan sangat mendorong para siswa terus mencari ilmu pengetahuan sehingga dapat terbentuk long life learning.
B. Pengertian Kesulitan Belajar 1. Defenisi
Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris learning disability. Terjemahan tersebut sesungguhnya kurang tepat
karena learning artinya belajar dan disability artinya ketidakmampuan;
sehingga terjemahan yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan belajar. Kesulitan belajar merupakan suatu konsep multidisipliner yang digunakan dilapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran.
Menurut Samuel A. Kirk (2003: 7) mengemukakan bahwa:
Untuk pertama kali menyarankan penyatuan nama-nama gangguan anak seperti disfungsi otak minimal, gangguan neurologis, disleksia, dan afasia perkembangan menjadi satu nama, kesulitan belajar. Konsep tersebut telah diadopsi secara luas dan pendekatan edukatif terhadap kesulitan belajar telah berkembang secara cepat, terutama di Negara-negara yang sudah maju.
Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung.
Kemampuan membaca dan menulis Alquran adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim. Sebab, Alquran adalah dasar hukum sebagai kitab pedoman hidup yang diturunkan Allah SWT. Maka sangatlah buruk bagi yang mengaku dirinya muslim, tapi belum memiliki kemampuan membaca dan menulis Alquran.
Alquran memiliki keutamaan yang banyak sekali bagi siapapun membacanya, menghafalnya, menulisnya, serta mempelajarinya.
Membaca satu huruf saja dari Alquran sudah menjadi satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatgandakan sepuluh kali.
Dengan demikian, sangatlah merugi bagi yang tidak memiliki kemampuan membaca Alquran. Kebanyakan masyarakat keengganan mereka belajar baca Alquran karena menganggap bahwa belajar membaca dan menulis Alquran adalah sesuatu yang rumit dan susah, serta membutuhkan waktu yang lama.
Penyebab kesulitan belajar.
1. Penyebab Kesulitan Belajar
Prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor, internal dan eksternal.
Penyebab utama kesulitan belajar adalah faktor internal, yaitu
kemungkinan adanya disfungsi neurologis; sedangkan penyebab utama problema belajar adalah faktor eksternal, yaitu antara lain berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan yang tidak tepat.
Menurut Mulyono Abdurrahman (2003: 13) disfungsi neurologis sering tidak hanya menyebabkan kesulitan belajar tetapi juga dapat menyebabkan tunagrahita dan gangguan emosional.
Berbagai faktor yang dapat menyebabkan disfungsi neurologis yang pada gilirannya dapat menyebabkan kesulitan belajar antara lain adalah:
1) Faktor genetik, 2) luka pada otak karena trauma fisik atau karena kekurangan oksigen, 3) biokimia yang hilang misalnya biokimia yang diperlukan untuk memfungsikan saraf pusat, 4) biokimia yang dapat merusak otak (misalnya zat pewarna pada makanan), 5) pencemaran lingkungan misalnya pencemaran timah hitam, 6) gizi yang tidak memadai, dan 7) pengaruh-pengaruh psikologis dan sosial yang merugikan perkembangan anak (deprivasi lingkungan). Dari berbagai penyebab tersebut dapat menimbulkan gangguan dari sarafnya ringan hingga yang sarafnya berat.
Menurut Muhammad Amri (2014: 33) mengemukakan bahwa kesulitan dalam membaca Alquran meliputi beberapa hal yaitu sebagai berikut:
a. Pada saat belajar menggunakan metode tertentu yang memiliki jenjang kenaikan tidak tuntas. Kemudian pada tingkat tertentu, ia berhenti sebelum berhasil pada tingkat mahir.
b. Sudah selesai belajar membaca Alquran, tetapi belum lancar, sehingga terbata-bata dalam membacanya.
c. Setelah bisa dan lancar membaca Alquran, jarang juga membacanya, sehingga hubungan kedekatan dengan Alquran belum terjalin kuat.
d. Masih ada kesalahan dalam bacaan Alquran yang tidak disadari pembacanya.
e. Tidak memahami apa yang dibaca, padahal itu merupakan Kalam Allah SWT yang ditujukan kepada setiap orang yang membacanya.
2. Strategi Menumbuhkan Motivasi Belajar
Menurut Dimyati dan Mudjiono, 1994 (Haling, 2007: 98) bahwa:
Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, tujuan, sasaran, insentif.
Keadaan inilah yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.
Motivasi berpangkal dari kata ‘motif’ yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).
Adapun menurut Mc. Donald dalam Sardiman 1986: 73 mengatakan bahwa:
Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc Donald ini, mengandung tiga elemen penting yaitu bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu, penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia, motivasi di tandai dengan munculnya, rasa yang relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan efeksi dan emosi serta dapat menentukan tingkah laku manusia, motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan dan tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.
Namun pada intinya dapat disederhanakan bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi sebagi suatu proses, mengantarkan siswa
kepada pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka dapat belajar.
Menurut Daradjat (2001: 41) bahwa sebagai suatu proses, motivasi mempunyai fungsi antara lain:
(a).memberi semangat dan mengaktifkan mereka agar tetap berminat dan siaga; (b) memusatkan perhatian siswa pada tugas- tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar; (c) membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil jangka panjang.
Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan yang ada dapat dicapai.
Menurut Sardiman (1992: 91) menjelaskan bahwa ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, yaitu:
a. Memberi angka (memberi nilai)
b. Menumbuhkan kesadaran pada diri siswa untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya;
c. Memberi hadiah (reward) kepada peserta didik;
d. Kompetisi atau permainan, baik persaingan individu atau kelompok;
e. Memberi test;
f. Mengetahui hasil kegiatan
g. Memberikan hukuman (funishment);
h. Memberikan pujian;
i. Menumbuhkan hasrat untuk belajar;
j. Membangkitkan siswa dengan cara-cara sebagai berikut: (1) me mbangkitkan adanya suatu kebutuhan, (2) menghubungkan dengan pengalaman yang lampau, dan (3) menggunakan berbagai bentuk mengajar
k. Tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa akan merupakan alat motivasi yang penting. Sebab dengan
memahami tujuan yang harus dicapai maka akan menimbulkan gairah untuk terus belajar.
Dalam kegiatan belajar, motivasi tentu sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.
Menurut Sardiman (2005: 57) motivasi terbagai menjadi dua, yaitu:
1. Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dara kemauan sendiri.
2. Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat pengaruh dari luar individu, apakah karena adanya ajakan, suruhan, atau paksaan dari orang lain sehingga dengan keadaan demikian siswa mau melakukan sesuatu atau belajar.
Menurut Muhibbin Syah (2013: 53) bahwa:
Belajar membaca Alquran memerlukan semangat kuat dan jiwa yang mandiri. Keyakinan akan keutamaan membaca Alquran harus menjadi batu bara pemompa semangat dalam belajar. Disaat orang- orang berhenti di tengah jalan atau tidak berkeinginan untuk belajar, maka itu tidak ada pengaruhnya terhadap jiwa-jiwa yang bersemangat dalam menggapai tujuannya.
Menurut Muhammad Amri (2014: 41) mengatakan bahwa agar tetap semangat dalam belajar Al-quran, seseorang hendaknya memiliki perangkat-perangkat kuat yang mendukung program mulia ini, di antaranya:
1. Menetapkan akhirat sebagai tujuan utama, yang kekal dan pasti.
Kehidupan akhirat akan menjadikan semangat seseorang dalam usaha lebih kuat dan tidak mudah pudar. Karena motivasi ini pasti akan kekal, berbeda ketika motivasi itu hanya berupa hal-hal duniawi yang tidak pasti terwujud. Atau, jika terwujud nikmatnya tidak senantiasa dirasakan terus-menerus. Ada batas waktu, ada saatnya bosan, atau tidak bisa memanfaatkannya.
2. Mengingat kematian, karena kematian itu suatu yang pasti datangnya. Namun, tidak pasti kapan datangnya. Kedatangan kematian merupakan kepastian, tetapi kapan ia dating merupakan
rahasia bagi manusia. Waktu kematian dapat diketahui setelah ajal datang. Oleh karenanya, siapa saja yang mengingat mati, akan senantiasa memperbaiki diri agar husnul khatimah. Perbaikan diri ini di antaranya adalah belajar membaca Alquran. Ia merupakan salah satu sumber amal kebaikan yang akan menemani seorang hamba ketika bertemu Allah SWT.
3. Do’a. Do’a merupakan proses pengharapan seseorang kepada Allah SWT. Do’a merupakan ibadah yang dianjurkan Allah SWT dan Rasul-Nya, Muhammad SAW. Kekuasaan Allah SWT atas hamba-Nya tidaklah terbatas. Kemauan dan motivasi dalam diri kita merupakan bagian kecil yang dikuasai-Nya. Maka, salah satu penguat motivasi agar tidak putus ditengah jalan adalah memohon kepada-Nya keistiqamahan dalam belajar, khususnya belajar membaca Alquran.
4. Harus bersungguh-sungguh dalam kebaikan. Membaca Alquran adakalanya merupakan sesuatu yang berat bagi sebagian umat Islam. Dengan kesungguhan dalam mengatasi kesulitan yang ada, Insya Allah akan semakin mudah dan mudah. Kenikmatan- kenikmatan membaca Alquran akan semakin terasa dan tentunya motivasi diri dalam belajar semakin kuat.
5. Mencari lingkungan pendukung. Ibarat sebuah permata yang ada dikubangan lumpur, mudah terkena kotoran dan kemilaunya tersembunyi oleh kesuraman warna lumpur. Berbeda ketika ia berada di tempat bersih. Keindahannya tidak akan tertutupi kotoran dan kemilaunya akan semakin nampak. Begitu juga semangat seseorang dalam berbuat kebaikan. Ia akan mudah terhalang rintangan dan kekuatannya berkurang ketika berada di lingkungan yang tidak mendukung. Maka, bagi siapa saja yang ingin memperbaiki bacaan Alqurannya, harus menjaga dirinya agar tetap berada di lingkungan yang bersemangat menekuninya.
6. Bergaul dengan orang-orang yang baik, ikhlas, dan suka member nasihat. Kebaikan dalam diri seseorang adakalanya perlu dibuka oleh orang lain. Dalam artian, setiap orang memiliki kebaikan.
7. Bersegera dan kontinu. Motivasi untuk belajar membaca Alquran dengan baik dan benar jangan dibiarkan padam. Saat ada peluang dan keinginan, segeralah dilanjutkan dengan aksi nyata.
Fungsi motivasi menurut Oemar Hamalik (2001: 161) menyebutkan bahwa ada tiga fungsi motivasi:
1. Mendorong manusia untuk berbuat, jadi sebagai penggerak atau motor yang melepaskan energi. Motivasi dalam hal ini merupakan langkah penggerak dari setiap kegiatan yang akan dikerjakan.
2. Menentukan arah perbuatan yakni kearah tujuan yang hendak dicapai. Dengan demikian motivasi dapat memberikan arah dan kegiatan yang harus dikerjakan sesuai dengan rumusan tujuannya.
3. Menyeleksi perbuatan, yakni menentukan perbuatan-perbuatan yang harus dikerjakan yang serasi guna mencapai tujuan, dengan menyisihkan perbuatan-perbuatan yang tidak bermanfaat bagi tujuan tersebut.
Dari beberapa uraian di atas, nampak jelas bahwa motivasi berfungsi sebagai pendorong, pengarah, dan sekaligus sebagai penggerak perilaku seseorang untuk mencapai suatu tujuan. Guru merupakan faktor yang penting untuk mengusahakan terlaksananya fungsi-fungsi tersebut dengan cara dan terutama memenuhi kebutuhan siswa.
Menurut Pupuh Fathurrohman (2007: 20-21) ada beberapa strategi untuk menumbuhkan motivasi belajar siswa, yakni:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik. Pada permulaan belajar mengajar seharusya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai tujuan yang akan dicapainya kepda siswa.
Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam melaksanakan kegiatan belajar.
2. Hadiah. Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bias belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
3. Saingan/kompetisi. Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, dan berusah memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
4. Pujian. Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian.
5. Hukuman. Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau berubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar.
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal kepada peserta didik.
7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
8. Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun komunal (kelompok).
9. Menggunakan metode yang bervariasi
10.Menggunakan media yang baik serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.
C. Membaca Alquran
Alquran secara bahasa berasal dari bahasa Arab yaitu qara’a- yaqra’u- qur’anan, yang berarti bacaan atau membaca. Sedangkan menurut
istilah ialah firman Allah yang berbentuk mukjizat, diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw, melalui malaikat jibril yang tertulis dalam mushaf, yang diriwayatkan kepada kita dengan mutawatir merupakan ibadah bila membacanya, dimulai dengan surah Al-fatihah dan diakhiri dengan surah an-Naas.
Dari pengertian membaca Alquran di atas penulis dapat simpulkan bahwa membaca Alquran adalah suatu perbuatan atau kegiatan yang dilakukan seseorang untuk memperoleh kesan dan pesan dari sebuah ajaran Ilahi dan sudah berbentuk kitab yang merupakan ibadah bagi orang yang membacanya, karena merupakan kalamullah yang diturunkan kepada Rasul-Nya yaitu Muhammad Saw dan sebagai pedoman serta petunjuk bagi manusia kepada jalan yang lurus yaitu jalan keselamatan di dunia dan di akhirat.
1. Kesulitan-kesulitan dalam membaca Alquran
Yang sering kita jumpai dalam membaca Alquran diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Melafalkan Huruf-huruf Hijaiyah (Makharijul Huruf)
Mengenal huruf hijaiyah adalah langkah awal bagi siapa saja sebelum membaca Alquran dengan baik, demikian juga dengan siswa.
Oleh karena itu, bila belum mengenal dengan baik huruf-huruf aksara Alquran maka untuk melafalkannya akan terasa sulit.
Ketika membaca Alquran setiap huruf harus dibunyikan sesuai makhrajnya. Kesalahan dalam pengucapan huruf dapat menimbulkan perbedaan makna atau kesalahan arti pada bacaan yang sedang di baca.
Dalam kondisi tertentu, kesalahan ini bahkan dapat menyebabkan kekafiran apabila dilakukan dengan sengaja dan benar.
b. Penguasaan Ilmu Tajwid
Kaidah ilmu tajwid merupakan hal penting bagi siapapun yang membaca Alquran. Tajwid sebagai suatu disiplin ilmu mempunyai kaidah- kaidah tertentu yang harus dipedomani dalam pengucapan huruf-huruf dari makhrajnya. Disamping itu harus pula diperhatikan hubungan setiap huruf dengan yang sebelum dan sesudahnya dalam cara pengucapannya. Oleh karena itu tidak dapat diperoleh hanya sekedar dipelajari namun harus melalui latihan, praktek dan menirukan orang yang baik bacaannya.
Membaca Alquran termasuk ibadah, oleh karena itu membacanya harus sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Sikap memperbaiki bacaan Alquran dengan menata huruf sesuai dengan tempat atau haknya merupakan suatu ibadah pula, sama halnya meresapi, memahami, dan mengamalkan isi kandungan Alquran merupakan suatu ibadah.
3. Kelancaran Bacaan
Kurangnya kemampuan siswa baik dalam melafalkan huruf hijaiyah (makharijul huruf) maupun kaidah ilmu tajwid dapat menyebabkan
pengucapan atau bacaannya terbata-bata. Hal ini disebabkan kurangnya latihan anak (siswa) dalam membaca Alquran baik di sekolah maupun di rumah, sehingga anak (siswa) dalam membaca Alqurannya masih kurang lancar. Membaca Alquran tidak sama dengan membaca bahan bacaan lainnya karena Alquran adalah kalam Allah swt. Oleh karena itu, membacanya mempunyai etika zahir, yaitu membacanya dengan tartil.
Makna tartil adalah dengan perlahan-lahan sambil memperhatikan huruf dan barisnya.
a. Faktor-faktor Kesulitan Membaca Alquran
Faktor penyebab kesulitan belajar dalam membaca Alquran dapat digolongkan ke dalam dua golongan, yaitu:
1. Faktor Intern Siswa, meliputi gangguan atau kekurang mampuan psiko- fisik siswa, yakni:
a. Yang bersifat kognitif (ranah cipta), antara lain seperti rendahnya kapasitas intelektual atau intelegensi siswa;
b. Yang bersifat afektif (ranah rasa), antara lain seperti labilnya emosi c. Yang bersifat psikomotorik (ranah rasa), antara lain terganggunya alat- alat indera penglihat dan pendengar.
2. Faktor Ekstern Siswa, melputi semua situasi dan kondisi lingkungan sekitar yang tidak mendukung aktivitas belajar. Faktor ini dapat dibagi tiga macam:
a. Lingkungan keluarga, contohnya: ketidakharmonisan hubungan ayah dengan ibu, dan rendahnya kehidupan ekonomi keluarga.
b. Lingkungan perkampungan/masyarakat, contohnya: wilayah
perkampungan kumuh (slum area), dan teman sepermainan yang nakal.
c. Lingkungan sekolah, contohnya: kondisi letak gedung sekitar yang buruk seperti pasar, kondisi guru serta alat-alat belajar yang berkualitas rendah.
Dalam diri siswa memiliki intelegensi yang berbeda-beda untuk menerima suatu pelajaran. Siswa yang memiliki intelegensi yang rendah akan menemui kesulitan dalam menerima pelajaran, yang demikian dapat menyebabkan kesulitan dalam belajar. Dalam membaca Alquran, alat indera yang memegang peranan penting adalah lisan (alat ucapan), mata (alat lihat), dan telinga (alat dengar). Jika alat indera ini berfungsi kurang baik, maka hal ini akan menjadikan hambatan dan kesulitan bagi anak untuk menerima pengajaran dengan baik dan sempurna.
2. Cara Mengatasi Kesulitan Membaca Alquran
Agar dapat membaca Alquran dengan baik dan benar maka usaha yang harus kita lakukan yaitu dengan cara bertahap. Adapun cara-cara yang dapat kita lakukan, diantaranya yaitu:
Menurut Agus Syafii, cara mudah belajar membaca Alquran itu secara garis besar seseorang harus menguasai 6 hal berikut;
1. Menguasai huruf hijaiyyah yang berjumlah 28 huruf berikut
makharijul hurufnya. Hal ini dikarenakan untuk bisa membaca Alquran, 90 % ditentukan oleh penguasaan huruf hijaiyyah dan selebihnya 10 % lagi sisanya seperti tanda baca, hukum dan lain- lain.
2. Menguasai tanda baca (a, i, u atau disebut fathah, kasrah, dan dhommah).
3. Menguasai isyarat baca seperti panjang, pendek, dobel (tasydid), dan seterusnya
4. Menguasai hukum-hukum tajwid seperti cara baca dengung, samar, jelas dan sebagainya.
Menurut Zakiyah Daradjat yang paling penting dalam pengajaran Alquran ialah:
Mengenal keterampilan membaca Alquran dengan baik dan sesuai dengan kaidah yang disusun dalam ilmu tajwid.
Selanjutnya latihan dan pembiasaan pengucapan huruf dengan makhrajnya yang benar pada tingkat permulaan, yang akan membantu dan mempermudah mengajarkan tajwid".
Dari beberapa uraian di atas yang paling terpenting agar dapat membaca Alquran terlebih dahulu yaitu seorang anak harus dapat mengenal huruf-huruf hijaiyah dan terus praktek bagaimana cara pengucapan makhraj yang baik dan benar, kemudian selalu berlatih membaca Alquran di rumah oleh seorang guru yang ahli atau mahir dalam membaca Alquran.
3. Etika Membaca Alquran
Alquran sebagai Kitab Suci, wahyu Ilahi, mempunyai adab tersendiri bagi orang-orang yang membacanya. Adab itu sudah diatur dengan sangat baik, untuk penghormatan dan keagungan Alquran tiap- tiap orang harus berpedoman kepadanya dalam mengerjakannya.
Mengingat Alquran bukan buku atau kitab karya manusia, melainkan diturunkan dari langit, terdapat beberapa etika tertentu ketika seorang yang beriman hendak membacanya. Hal ini bukan untuk memberatkan orang yang hendak berinteraksi dengan Alquran, tapi justru untuk menyempurnakan kemuliaan yang akan diterima.
Menurut Ahda Bina (2011: 23-26) ada beberapa etika yang diajarkan sendiri oleh Allah dan Nabi-Nya kepada kita bila hendak membaca Alquran:
1. Menjaga Niat
Hendaknya kita selalu menanamkan niat dalam melakukan segala sesuatu adalah semata-mata menggapai ridha-Nya dan memperoleh ketinggian derajat di surga-Nya. Bukan untuk tujuan duniawi, baik berupa harta, wibawa, ataupun martabat sosial.
Apalagi dalam belajar membaca Alquran, tentu kita harus lebih hati- hati menjaga niat.
2.Bersuci
Alquran merupakan kitab suci. Ia diturunkan oleh Zat Yang Maha suci, yaitu Allah SWT. Ia turun melalui makhluk yang selalu identik dengan kesucian, yaitu malaikat. Bahkan malaikat tersebut adalah malaikat yang paling mulia, yaitu Jibril AS. Lalu Alquran itu diturunkan pertama kali kepada manusia yang paling suci, yaitu Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu tidak mengherankan, kita pun amat disunnahkan untuk membaca Alquran dalam keadaan suci.
3.Ta’awudz
Bila akan membaca ayat-ayat Alquran, hendak kita mulai dengan berta’awudz. Ta’awudz yaitu membaca a’udzu billahi minasy- syaithanir-rajim. Artinya: Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl (19): 98
Terjemahnya:
Apabila kamu membaca Alquran hendaklah kamu meminta perlindungan kepada Allah dari syaitan yang terkutuk.
4. Berusaha memahami artinya
Alquran diturunkan sebagai petunjuk. Lalu bagaimana hendak menjadikan Alquran sebagai petunjuk bila kita tidak memahami makna ayat-ayat yang kita baca? Memang benar, bahwa membaca Alquran itu meskipun tidak paham maknanya tetap mendatangkan pahala. Namun tentu tujuan membaca Alquran itu akan semakin sempurna bila kita juga berusaha memahami makna ayat-ayat yang kita baca.
Pada zaman sekarang, sarana untuk memahami Alquran demikian melimpah. Buku-buku tafsir demikian mudah kita dapatkan, baik yang tebal maupun yang tipis. Baik yang berbentuk buku, maupun file yang dengan mudah kita copy-paste. Demikian pula majelis- majelis yang mengajarkan tafsir Alquran bermunculan bagai jamur di musim hujan. Tentu saja keadaan kemurahan Allah yang harus kita syukuri dengan cara memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya.
Allah SWT berfirman, QS. Shaad (38): 29
Terjemahnya:
Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-
ayatNya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.
5. Berusaha Menangis
Di antara kesempurnaan etika membaca Alquran adalah berusaha menangis. Allah SWT menerangkan sifat orang-orang yang sempurna imannya ketika membaca Alquran itu dengan firman- Nya, QS. Al-Isra’ (17): 109
Terjemahnya:
Dan mereka menyungkur atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyuk.
6. Memperhatikan Tajwid
Bagi kita yang sudah mahir membaca Alquran dengan tajwid, hendaknya menggunakan ilmu yang telah diberikan oleh Allah itu dengan sebaik-baiknya. Bukan malah menyia-nyiakan kemampuan itu dengan membaca Alquran secara asal-asalan.
Adapun bagi kita yang belum mahir membaca Alquran dengan tajwid, hendaknya segera belajar ilmu ini. Dengan belajar tajwid, keterampilan kita membaca Alquran menjadi semakin sempurna.
Alquran adalah kitab suci yang memiliki keistimewaan luar biasa yang telah diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW baik di dunia maupun di akhirat. Membaca Alquran tidaklah sama dengan membaca buku-buku lainnya, karena dengan membaca Alquran disertai dengan memahami dan mengamalkannya akan membawa kita kepada kehidupan yang lebih baik dan kepada Alquranlah semua kehidupan umat Islam dirujukan. Oleh karena itu, setiap orang Islam harus membacanya supaya bisa memahami isinya kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. Untuk memompa semangat belajar membaca Alquran, sangat penting mengetahui fadilah (keutamaan) membaca Alquran diantaranya yaitu;
Irfan Abdul Azhim menjelaskan bahwa:”Orang yang membaca Alquran akan mendapat banyak kebaikan di dunia dan di akhirat, hidupnya dinamis, penuh gairah, jauh dari duka dan dekat Yang Maha Kuasa".
Pertama, Hal ini terdapat dalam hadits yang diriwayatkan dari Utsman bin Affan RA, ia berkata:
ﮫَﻣﱠﻠَﻋ َو َنآ ْرُﻘْﻟا َمﱠﻠَﻌَﺗ ْنَﻣ ْمُﻛُرْﯾَﺧ )
يرﺎﺧﺑﻟا هاور
( ...
...Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Alquran dan mengajarkannya.” [Al-Bukhari.]
Kedua, menjadi perniagaan yang tidak akan merugi, Allah SWT berfirman QS.Faathir (35): 29
Terjemahnya:
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah dan mendirikan shalat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang- terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi. QS.Fathir(35): 29
Ketiga, mendapat derajat atau kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Rasulullah bersabda: "Orang yang membaca Alquran dengan mahir akan bersama-sama malaikat yang mulia lagi taat (HR Bukhari dan Muslim).
Keempat,mendapat sakinah (ketenangan jiwa) dan rahmat (kasih sayang).
35 BAB III
METODE PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah Penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan field research. Pendekatan ini diambil karena dalam penelitian ini berusaha menelaah fenomena sosial dalam suasana yang berlangsung secara wajar atau alamiah bukan dalam kondisi terkendali atau laboratoris Lexy J Moleong, (2002:3) mendefenisikan
“pendekatan kualitatif sebagai prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati”.
B. Lokasi dan Obyek Penelitian
Penelitian ini dilakukan di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar Sedangkan objek penelitian adalah Guru Pendidikan Agama Islam dan Siswa SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar.
C. Pendekatan Penelitian
Pendekatan penelitian dalam penelitian sangat diperlukan. Sesuai dengan judul proposal ini, penulis menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis.
Menurut Turnomo Rahardjo (2005:5) mengatakan bahwa:
Pendekatan fenomenologis secara konseptual adalah sebuah studi tentang penampakan sebuah objek, peristiwa atau kondisi dalam persepsi individu. Dalam pendekatan ini peneliti juaga berupaya menangkap proses, interprestasi dan berupaya melihat segala sesuatu dari sudut pandang orang-orang yang diteliti.
Pendekatan fenomenologis ini digunakan peneliti, dikarenakan peneliti ingin menemukan dan memahami apa yang tersembunyi di balik fenomena yang kadangkala merupakan sesuatu yang sulit untuk diketahui atau dipahami, pendekatan ini juga diharapkan mampu memberikan penjelasan secara utuh dan terperinci tentang fenomena yang menjadi fokus penelitian peneliti.
D. Sampel Sumber Data
Menurut Sugiyono (2005:292) mengatakan bahwa :
Penelitian kualitatif, sampel sumber data dipilih secara porpuse dan bersifat snowball sampling. Penentuan sampel sumber data, pada proposal masih bersifat sementara, dan akan berkembang kemudian setelah penelitian di lapangan. Sampel sumber data pada tahap awal memasuki lapangan di pilih orang yang memiliki power dan otoritas pada situasi sosial atau objek yang diteliti, sehingga mampu membuka pintu kemana saja peneliti akan melakukan pengumpulan data.
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data asli yang dikumpulkan sendiri oleh periset untuk menjawab masalah risetnya. Data sekunder adalah data yang diperoleh dari literatur-literatur yang terkait topik penelitian.
Perlunya sumber data yang akan memberikan informasi diantaranya yaitu
1. Sumber data primer
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data. (Sugiyono, 2005: 62) Dalam penelitian kualitatif posisi narasumber sangat penting, bukan sekedar memberi respon, melainkan juga sebagai pemilik informasi, sebagai sumber informasi (key informan). Data diartikan sebagai fakta atau informasi yang diperoleh dari yang didengar, diamati, dirasa dan dipikirkan peneliti dari aktivitas dan tempat yang diteliti. Sumber data primer di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar adalah guru Pendidikan Agama Islam dan peserta didik di SMP Muhammadiyah Kota Makassar. Dukungan kedua subyek primer ini berkait langsung dengan permasalahan yang menjadi faktor dalam penelitian ini.
2. Sumber data sekunder
Menurut Sugiyono (2005: 62) Sumber data sekunder merupakan sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau dokumen. Data dari sumber sekunder atau informan pelengkap ini berupa cerita dari lingkungan sekolah maupun luar sekolah seperti masyarakat ataupun orang tua, penuturan atau catatan mengenai model pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran.
E. Instrumen Penelitian
(Sugiyono, 2015:305) Penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti sebagai instrumen