• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk :

1. Bagi Guru PAI

Manfaat penelitian ini bagi guru ialah sebagai masukan guru Pendidikan Agama Islam untuk dapat memilih metode yang tepat terutama dalam mengatasi kesulitan membaca Alquran sehingga

diharapkan menjadi kreatif dan inovatif dalam menciptakan pembelajaran sehingga dapat meningkatkan prestasi belajar peserta didik.

2. Peserta Didik

Manfaat penelitian ini bagi peserta didik ialah agar dapat membangun motivasi siswa dan lebih semangat dalam mengatasi kesulitan yang dihadapinya dalam belajar membaca Alquran.

3. Bagi Sekolah

Manfaat penelitian ini bagi sekolah ialah penulis berharap dengan adanya peranan guru pai dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi siswa dalam membaca Alquran maka para penanggung jawab di sekolah dapat memberikan perhatian yang lebih lagi agar segala kesulitan yang dihadapi siswa dapat terselesaikan dengan baik.

9

TINJAUAN PUSTAKA

A. Guru

1. Pengertian Guru

Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I Pasal 1 bahwa:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Membicarakan tentang guru dan dunia keguruan ibarat mengurut benang kusut. Sudut pandang sistem pendidikan nasional, atau lebih khusus lagi sistem persekolahan, akan melihat guru sebagai sentral dari segala upaya pendidikan dan agen dalam pembaruan pendidikan hingga ke tataran sekolah. Guru menjadi tumpuan harapan untuk mewujudkan agenda-agenda pendidikan nasional: peningkatan mutu dan relevansi, pemerataan dan perluasan kesempatan, dan peningkatan efisiensi.

Menurut Supriyadi (2013: 11) mengatakan bahwa:

Guru merupakan pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidik formal. Tugas utama itu akan efektif jika guru memiliki derajat profesionalitas tertentu yang tercermin dari kompetensi, kemahiran, kecakapan, atau keterampilan yang memenuhi standar mutu atau norma etik tertentu.

Guru adalah jabatan atau profesi yang membutuhkan keahlian khusus. Pekerjaan sebagai guru ini tidak bisa dilakukan oleh seseorang

tanpa mempunyai keahlian sebagai guru. Menjadi seorang guru dibutuhkan syarat-syarat khusus. Apalagi jika menjadi seorang guru yang profesional maka harus menguasai seluk beluk pendidikan serta mengajar dengan berbagai ilmu pengetahuan lainnya yang harus dikembangkan melalui masa pendidikan tertentu.

Guru yang hebat adalah guru yang kompeten secara metodologi pembelajaran dan keilmuan. Tautan antara keduanya tercermin dalam kinerjanya selama transformasi pembelajaran. Pada konteks transformasi pembelajaran inilah guru harus memiliki kompetensi dalam mengelola semua sumber daya kelas, seperti ruang kelas, fasilitas pembelajaran, suasana kelas, siswa, dan interaksi sinergisnya. Disinilah esensi bahwa guru harus kompeten dibidang manajemen kelas atau lebih luas lagi disebut sebagai manajemen pembelajaran.

Menurut Saiful Bahri Djamarah (Pupuh Fathurrohman, 2007: 43) mengatakan bahwa:

Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan sejumlah ilmu pengetahuan kepada anak didik di sekolah. Selain memberikan sejumlah ilmu pengetahuan, guru juga bertugas menanamkan nilai-nilai dan sikap kepada anak didik agar anak didik memiliki kepribadian yang paripurna. Dengan keilmuan yang dimilikinya, guru membimbing anak didik dalam mengembangkan potensinya.

2. Kompetensi Guru

Dalam kamus bahasa Indonesia, kompetensi berarti (kewenangan) kekuasaan untuk menentukan atau memutuskan sesuatu hal. Pengertian dasar kompetensi yakni kemampuan atau kecakapan. Seorang guru diharapkan dapat menerapkan kemampuannya baik secara emosional,

inteligensi, spiritual sehingga proses belajar mengajar dapat berlangsung secara baik, efektif dan efisien.

Menurut Hawi Akmal (2014: 8) mengatakan bahwa:

Kompetensi guru PAI, diharapkan benar-benar dapat teraplikasikan dalam proses belajar mengajar, baik itu bagi peserta didiknya maupun tenaga pendidik itu sendiri sehingga tercapai tujuan dari pendidikan itu yaitu menciptakan manusia yang beriman dan bertaqwa.

Menurut Syamsul Bachri Thalib (2010: 273) “kompetensi merupakan kebulatan penguasaan pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang ditampilkan melalui unjuk kerja”

Menurut Abdul Majid (2007: 44) “kompetensi adalah seperangkat tindakan inteligen penuh ta nggung jawab yang harus dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu melaksanakan tugas-tugas dalam bidang pekerjaan tertentu”.

Menurut Muhaimin dan Abdul Mujib (2007: 44) bahwa:

Guru adalah orang dewasa yang bertanggungjawab memberi pertolongan pada anak didik dalam perkembangan jasmani dan rohaninya, agar mencapai tingkat kedewasaan, mampu berdiri sendiri dan memenuhi tingkat kedewasaannya, mampu berdiri sendiri memenuhi tugasnya sebagai hamba dan khalifah Allah SWT dan mampu sebagai makhluk sosial dan sebagai makhluk hidup yang mandiri.

Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab I Pasal 1 bahwa:

Kompetensi adalah seperangkat pengetahuan, keterampilan, dan perilaku yang harus dimiliki, dihayati, dan dikuasai oleh guru atau dosen dalam melaksanakan tugas keprofesionalan.

Kompetensi guru merupakan kemampuan seseorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajiban secara bertanggung jawab dan layak.

Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan fungsinya sebagai guru. Artinya guru bukan saja harus pintar, tetapi juga harus pandai mentransfer ilmunya kepada peserta didik.

Menurut Muhibbin Syah (2007: 45), ada sepuluh kompetensi dasar yang harus dimiliki guru dalam upaya peningkatan keberhasilan belajar mengajar, yaitu:

1. Menguasai bahan, yang meliputi:

a) Menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah;

b) Menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi;

2. Mengelola program belajar mengajar, yang meliputi:

a) Merumuskan tujuan instruksional;

b) Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar;

c) Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat;

d) Melaksanakan program belajar mengajar;

e) Mengenal kemampuan anak didik;

f) Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial;

3. Mengelola kelas, meliputi:

a) Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran;

b) Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi;

4. Menggunakan media atau sumber belajar, yang meliputi:

a) Mengenal, memilih dan menggunakan media;

b) Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana;

c) Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses belajar mengajar;

d) Mengembangkan laboratorium;

e) Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar;

f) Menggunakan micro-teaching unit dalam program pengalaman lapangan;

5. Menguasai landasan-landasan kependidikan.

6. Mengelola interaksi belajar mengajar.

7. Menilai prestasi siswa untuk pendidikan dan pengajaran.

8. Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan, meliputi:

a) Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan konseling di sekolah;

b) Menyelenggarakan program layanan dan bimbingan di sekolah;

9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, meliputi:

a) Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah;

b) Menyelenggarakan administrasi sekolah;

10.Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil pendidikan guna keperluan pengajaran.

Setiap guru atau pendidik diharuskan memiliki kompetensi dasar di atas agar dapat menjalankan tugasnya sebagai pendidik dengan baik karena guru yang berkompeten tentu akan dapat menjalankan tugasnya serta siswa dapat pula menerima pelajaran dengan baik dan dapat mencapai hasil yang baik pula.

Dalam proses mengajar, guru sebagai pengajar dan siswa sebagai subjek belajar. Seseorang dikatakan guru tidak hanya cukup tahu dan menguasai materi atau bahan yang akan diajarkan, tetapi pertama kali ia harus merupakan seseorang yang memiliki kepribadian guru dengan segala ciri tingkat kedewasaannya. Dalam hal ini bahwa untuk menjadi pendidik atau guru adalah seseorang yang dapat dipercaya oleh masyarakat dan memiliki sikap dan perilaku yang baik, dan tidak boleh mempermasalahkan siswa ketika tidak mampu mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang diajarkan dalam kehidupan sehari-hari, serta guru harus menjaga tutur katanya dengan baik agar tidak bertolak belakang dengan tingkah lakunya.

Sebagaiman firman Allah SWT dalam Q.S As-Shaff (61):2-3

Hai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Terjemahan surah As-Shaf ini memberikan seruan kepada kita semua agar tidak menyampaikan sesuatu kepada orang lain, apabila disampaikan pada seseorang harus tercermin pada diri kita sendiri, karena pelajarn yang sukses adalah apabila memberikan contoh dalam kehidupan kita sehari-hari kepada orang lain(bukan karena ingin di puji dari orang lain atau riya),sehingga guru dapat dijadikan suri tauladan atau contoh yang baik bagi peserta didik.

3. Peranan dan Fungsi Guru a. Peranan Guru

Peran adalah tingkah laku yang dipentaskan individu berkenaan dengan kedudukan atau statusnya. Peranan merupakan aspek dinamis dari status. Jika seseorang melaksanakan hak dan kewajiban sesuai dengan status yang dimilikinya, maka ia telah menjalankan peranannya.

Seorang guru dalam melaksanakan aktivitas keguruannya memiliki banyak peran yang harus dilaksanakan. Diantaranya dalam kegiatan belajar mengajar,Dimana seorang guru sangat memiliki pengaruh yang besar sekali terhadap keberhasilan kegiatan belajar mengajar, agar tujuan

pendidikan dapat terwujud dengan baik.

Menurut Surya dan Muhammad,(2001:107)mengatakan bahwa:

Peranan guru adalah Keseluruhan tingkah laku yang harus dilakukan guru dalam melaksanakan tugasnya sebagai guru, jadi peranan guru adalah terciptanya tingkah laku yang saling berkaitan yang dilakukan dalam suatu situasi tertentu, serta berhubungan dengan kemajuan perubahan tingkah laku dan perkembangan siswa menjadi tujuannya.

Menurut Nasution (2013: 122-124) mengatakan bahwa sikap guru yang seharusnya terhadap siswa adalah sebagai berikut:

a. Anak atau bahan pelajaran

Macam-macam tes disediakan untuk mengetahui aspek-aspek kepribadian anak. Mengembangkan kepribadian anak rasanya lebih mendapat perhatian daripada perkembangan intelektual untuk menguasai disiplin-disiplin akademis.

Oleh sebab itu guru tidak cukup hanya menguasai bahan pelajaran akan tetapi harus pula mampu melibatkan pribadi anak dalam mencapai hasil yang diharapkan.

b. Guru sebagai model

Fungsi guru yang paling utama adalah memimpin anak-anak, membawa mereka ke arah tujuan yang tegas. Guru itu, di samping orangtua harus menjadi model atau suri teladan bagi anak. Anak-anak mendapat rasa keamanan dengan adanya model itu dan rela menerima petunjuk maupun teguran bahkan hukuman. Hanya dengan cara demikian anak dapat belajar.

c. Kesulitan dalam belajar

Guru yang bersikap sentimental yang berusaha agar belajar itu menjadi kegiatan yang menggembirakan yang dilakukan tanpa jerih payah. Dalam usaha untuk menghormati pribadi anak, menjauhkannya dari frustasi dan konflik, maka dicarilah usaha agar pelajaran itu menyenangkan dan mudah dilaksanakan. Tentu saja tak ada salahnya bila pelajaran dapat dilakukan dalam suasana gembira, namun ini tidak berarti bahwa anak-anak harus dijauhi dari kesukaran. Setiap pelajaran mengandung unsur kesukaran. Mungkin makin berharga pelajaran itu, makin banyak kesulitan yang harus dilalui untuk menguasainya. Ini tidak berarti bahwa pelajaran harus dibuat sulit agar ada nilainya. Akan tetapi kesulitan tidak dapat dielakkan untuk mempelajari banyak hal.

Dalam hidupnya kini dan kelak setiap anak menghadapi kesukaran dan ia harus belajar untuk mengatasi sehingga

kelakuannya berubah dan lebih mampu untuk menghadapi kesukaran-kesukaran baru.

Menurut Adams & Dickey (2001: 123) bahwa peran guru sesungguhnya sangat luas, meliputi:

a. Guru sebagai pengajar (teacher as instructor)

Guru bertugas memberikan pengajaran di dalam sekolah (kelas). Ia menyampaikan pelajaran agar murid memahami dengan baik semua pengetahuan yang telah disampaikan itu. Selain dari itu ia juga berusaha sikap, keterampilan, kebiasaan, hubungan sosial, apresiasi dan sebagainya melalui pengajaran yang diberikannya. Untuk mencapai tujuan-tujuan itu maka guru perlu memahami sedalam-dalamnya pengetahuan yang akan menjadi tanggungjawabnya dan menguasai dengan baik metode dan teknik mengajar.

b. Guru sebagai pembimbing (teacher as counsellor)

Guru berkewajiban memberikan bantuan kepada murid agar mereka mampu menemukan masalahnya sendiri, memecahkan masalahnya sendiri, mengenal diri sendiri, dan menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Murid-murid membutuhkan bantuan guru dalam hal mengatasi kesulitan-kesulitan pribadi, kesulitan pendidikan, kesulitan memilih pekerjaan, kesulitan dalam hubungan sosial, dan interpersonal. Karena itu setiap guru perlu memahami dengan baik tentang teknik bimbingan kelompok, penyuluhan individual, teknik mengumpulkan keterangan, teknik evaluasi, statistik penelitian, psikologi kepribadian, dan psikologi belajar. Harus dipahami bahwa pembimbing yang terdekat dengan murid adalah guru. Karena murid menghadapi masalah di mana guru tak sanggup memberikan bantuan cara memecahkannya, baru meminta bantuan kepada ahli bimbingan untuk memberikan bimbingan kepada anak yang bersangkutan.

c. Guru sebagai Pemimpin

Sekolah dan kelas adalah suatu organisasi, di mana murid adalah sebagai pemimpinnya. Guru berkewajiban mengadakan supervisi atas kegiatan belajar murid, membuat rencana pengajaran bagi kelasnya, mengadakan manajemen belajar sebaik-baiknya, melakukan manajemen kelas, mengatur disiplin kelas secara demokratis.

d. Guru sebagai ilmuwan (teacher as scientist)

Guru dipandang sebagai orang yang paling berpengetahuan. Dia bukan saja berkewajiban menyampaikan pengetahuan yang dimilikinya kepada murid, tetapi juga berkewajiban mengembangkan pengetahuan itu dan terus-menerus memupuk pengetahuan yang telah dimilikinya.

e. Guru sebagai pribadi (teacher as person).

Sebagai pribadi setiap guru harus memiliki sifat-sifat yang disenangi oleh murid-muridnya, oleh orangtua, dan oleh masyarakat. Sifat-sifat itu sangat diperlukan agar ia dapat melaksanakan pengajaran secara efektif. Karena itu guru wajib berusaha memupuk sifat-sifat pribadinya sendiri dan mengembangkan sifat-sifat pribadi yang disenangi oleh pihak luar.

Sebagai seorang guru tentunya harus mengetahui perannya selaku pendidik agar tidak salah memposisikan dirinya jika berada di lingkungan sekolah, dengan begitu tentu seorang pendidik akan bertindak atau melakukan sesuatu berdasarkan perannya itu sendiri.

b. Fungsi Guru

Undang-undang RI Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen Bab II Pasal 4 bahwa:

Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat 1 berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional.

Fungsi guru dalam kelas bukan mengajari namun kehadiran guru membuat siswa belajar sehingga fungsi guru tidak mengajar namun lebih pada empat fungsi yang harus difahami oleh guru yaitu:

1. Menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif, kreatif, menciptakan berbagai kiat dan model penyampaian materi pembelajaran, membuat suasana pembelajaran menjadi menarik.

2. Membangkitkan motivasi para siswa agar lebih aktif dan giat dalam belajar.

3. Membimbing dan memberikan kemudahan bagi siswa dalam pembelajaran, sehingga proses pembelajaran menjadi berkualitas.

4. Memimpin pembelajaran, juga sebagai tempat bertanya bagi para siswa.

Guru melaksanakan fungsinya seperti ini akan mendorong siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Keaktifan siswa tersebut akan meningkatkan mutu pendidikan dan penguasaan ilmu pengetahuan dan keterampilan. Siswa diajak dan ditekankan kepada learning how to learn.

Pemahaman ini akan sangat mendorong para siswa terus mencari ilmu pengetahuan sehingga dapat terbentuk long life learning.

B. Pengertian Kesulitan Belajar 1. Defenisi

Kesulitan belajar merupakan terjemahan dari istilah bahasa Inggris learning disability. Terjemahan tersebut sesungguhnya kurang tepat

karena learning artinya belajar dan disability artinya ketidakmampuan;

sehingga terjemahan yang benar seharusnya adalah ketidakmampuan belajar. Kesulitan belajar merupakan suatu konsep multidisipliner yang digunakan dilapangan ilmu pendidikan, psikologi, maupun ilmu kedokteran.

Menurut Samuel A. Kirk (2003: 7) mengemukakan bahwa:

Untuk pertama kali menyarankan penyatuan nama-nama gangguan anak seperti disfungsi otak minimal, gangguan neurologis, disleksia, dan afasia perkembangan menjadi satu nama, kesulitan belajar. Konsep tersebut telah diadopsi secara luas dan pendekatan edukatif terhadap kesulitan belajar telah berkembang secara cepat, terutama di Negara-negara yang sudah maju.

Kesulitan belajar khusus adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologi dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ujaran atau tulisan. Gangguan tersebut mungkin menampakkan diri dalam bentuk kesulitan mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, atau berhitung.

Kemampuan membaca dan menulis Alquran adalah kewajiban yang harus dipenuhi oleh setiap muslim. Sebab, Alquran adalah dasar hukum sebagai kitab pedoman hidup yang diturunkan Allah SWT. Maka sangatlah buruk bagi yang mengaku dirinya muslim, tapi belum memiliki kemampuan membaca dan menulis Alquran.

Alquran memiliki keutamaan yang banyak sekali bagi siapapun membacanya, menghafalnya, menulisnya, serta mempelajarinya.

Membaca satu huruf saja dari Alquran sudah menjadi satu kebaikan, dan kebaikan itu akan dilipatgandakan sepuluh kali.

Dengan demikian, sangatlah merugi bagi yang tidak memiliki kemampuan membaca Alquran. Kebanyakan masyarakat keengganan mereka belajar baca Alquran karena menganggap bahwa belajar membaca dan menulis Alquran adalah sesuatu yang rumit dan susah, serta membutuhkan waktu yang lama.

Penyebab kesulitan belajar.

1. Penyebab Kesulitan Belajar

Prestasi belajar dipengaruhi oleh dua faktor, internal dan eksternal.

Penyebab utama kesulitan belajar adalah faktor internal, yaitu

kemungkinan adanya disfungsi neurologis; sedangkan penyebab utama problema belajar adalah faktor eksternal, yaitu antara lain berupa strategi pembelajaran yang keliru, pengelolaan kegiatan belajar yang tidak membangkitkan motivasi belajar anak, dan pemberian ulangan penguatan yang tidak tepat.

Menurut Mulyono Abdurrahman (2003: 13) disfungsi neurologis sering tidak hanya menyebabkan kesulitan belajar tetapi juga dapat menyebabkan tunagrahita dan gangguan emosional.

Berbagai faktor yang dapat menyebabkan disfungsi neurologis yang pada gilirannya dapat menyebabkan kesulitan belajar antara lain adalah:

1) Faktor genetik, 2) luka pada otak karena trauma fisik atau karena kekurangan oksigen, 3) biokimia yang hilang misalnya biokimia yang diperlukan untuk memfungsikan saraf pusat, 4) biokimia yang dapat merusak otak (misalnya zat pewarna pada makanan), 5) pencemaran lingkungan misalnya pencemaran timah hitam, 6) gizi yang tidak memadai, dan 7) pengaruh-pengaruh psikologis dan sosial yang merugikan perkembangan anak (deprivasi lingkungan). Dari berbagai penyebab tersebut dapat menimbulkan gangguan dari sarafnya ringan hingga yang sarafnya berat.

Menurut Muhammad Amri (2014: 33) mengemukakan bahwa kesulitan dalam membaca Alquran meliputi beberapa hal yaitu sebagai berikut:

a. Pada saat belajar menggunakan metode tertentu yang memiliki jenjang kenaikan tidak tuntas. Kemudian pada tingkat tertentu, ia berhenti sebelum berhasil pada tingkat mahir.

b. Sudah selesai belajar membaca Alquran, tetapi belum lancar, sehingga terbata-bata dalam membacanya.

c. Setelah bisa dan lancar membaca Alquran, jarang juga membacanya, sehingga hubungan kedekatan dengan Alquran belum terjalin kuat.

d. Masih ada kesalahan dalam bacaan Alquran yang tidak disadari pembacanya.

e. Tidak memahami apa yang dibaca, padahal itu merupakan Kalam Allah SWT yang ditujukan kepada setiap orang yang membacanya.

2. Strategi Menumbuhkan Motivasi Belajar

Menurut Dimyati dan Mudjiono, 1994 (Haling, 2007: 98) bahwa:

Motivasi dipandang sebagai dorongan mental yang menggerakkan perilaku manusia termasuk perilaku belajar. Dalam motivasi terkandung adanya keinginan, harapan, tujuan, sasaran, insentif.

Keadaan inilah yang mengaktifkan, menggerakkan, menyalurkan, dan mengarahkan sikap dan perilaku individu belajar.

Motivasi berpangkal dari kata ‘motif’ yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang ada dalam diri seseorang untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi tercapainya suatu tujuan. Bahkan motif dapat diartikan sebagai suatu kondisi intern (kesiapsiagaan).

Adapun menurut Mc. Donald dalam Sardiman 1986: 73 mengatakan bahwa:

Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya feeling dan didahului dengan tanggapan terhadap adanya tujuan. Dari pengertian yang dikemukakan oleh Mc Donald ini, mengandung tiga elemen penting yaitu bahwa motivasi itu mengawali terjadinya perubahan energi pada diri setiap individu, penampakannya akan menyangkut kegiatan fisik manusia, motivasi di tandai dengan munculnya, rasa yang relevan dengan persoalan-persoalan kejiwaan efeksi dan emosi serta dapat menentukan tingkah laku manusia, motivasi akan dirangsang karena adanya tujuan dan tujuan ini akan menyangkut soal kebutuhan.

Namun pada intinya dapat disederhanakan bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi sebagi suatu proses, mengantarkan siswa

kepada pengalaman-pengalaman yang memungkinkan mereka dapat belajar.

Menurut Daradjat (2001: 41) bahwa sebagai suatu proses, motivasi mempunyai fungsi antara lain:

(a).memberi semangat dan mengaktifkan mereka agar tetap berminat dan siaga; (b) memusatkan perhatian siswa pada tugas-tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar; (c) membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan hasil jangka panjang.

Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memberikan arah kegiatan belajar, sehingga diharapkan tujuan yang ada dapat dicapai.

Menurut Sardiman (1992: 91) menjelaskan bahwa ada beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk membangkitkan motivasi belajar siswa, yaitu:

a. Memberi angka (memberi nilai)

b. Menumbuhkan kesadaran pada diri siswa untuk mencapai prestasi yang baik dengan menjaga harga dirinya;

c. Memberi hadiah (reward) kepada peserta didik;

d. Kompetisi atau permainan, baik persaingan individu atau kelompok;

e. Memberi test;

f. Mengetahui hasil kegiatan

g. Memberikan hukuman (funishment);

h. Memberikan pujian;

i. Menumbuhkan hasrat untuk belajar;

j. Membangkitkan siswa dengan cara-cara sebagai berikut: (1) me mbangkitkan adanya suatu kebutuhan, (2) menghubungkan dengan pengalaman yang lampau, dan (3) menggunakan berbagai bentuk mengajar

k. Tujuan yang diakui dan diterima baik oleh siswa akan merupakan alat motivasi yang penting. Sebab dengan

memahami tujuan yang harus dicapai maka akan menimbulkan gairah untuk terus belajar.

Dalam kegiatan belajar, motivasi tentu sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar, tidak akan mungkin melakukan aktivitas belajar.

Menurut Sardiman (2005: 57) motivasi terbagai menjadi dua, yaitu:

1. Motivasi Intrinsik. Jenis motivasi ini timbul dari dalam diri individu sendiri tanpa ada paksaan dorongan orang lain, tetapi atas dara kemauan sendiri.

2. Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat

2. Motivasi Ekstrinsik. Jenis motivasi ini timbul sebagai akibat