BAB III METODE PENELITIAN
E. Instrumen Penelitian
(Sugiyono, 2015:305) Penelitian kualitatif, yang menjadi instrumen atau alat penelitian adalah peneliti itu sendiri. Peneliti sebagai instrumen
juga harus “divalidasi” seberapa jauh peneliti kualitatif siap melakukan penelitian yang selanjutnya terjun ke lapangan.
Instrumen penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut : 1. Pedoman observasi
Menurut Sudikan (1991:36) Observasi adalah cara mengumpulkan data yang dilakukan dengan indra manusia disertai dengan melakukan pencatatan secara sistematis.
Metode observasi sering disebut pengamatan dan sifatnya secaralangsung terhadap hal-hal yang berkaitan dengan obyek penelitian dan juga merupakan cara yang efektif dalam rangka menyumbangkan ilmu pengetahuan dengan keadaan sebenarnya.
2. Pedoman wawancara (Interview)
Menurut Sugiyono (20015: 194) “Wawancara merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan percakapan atau tanya jawab secara langsung dengan sumber data ( obyek yang diteliti)”.
Metode ini tepat sekali digunakan untuk mendapatkan data-data yang kongkrit atau dengan kata lain interview. Interview adalah proses tanya jawab dalam penelitian yang berlangsung secara langsung informasi-informasi atau yang senada dengan itu. metode interview adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi interview merupakan semacam perlengkapan untuk mendapatkan informasi.
3. Dokumentasi
Menurut Arikunto (1992: 206) metode dokumentasi yaitu“mencari data mengenai hal-hal yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar,
majalah, agenda dan sebagainya. Metode dokumentasi ini digunakan untuk memperoleh data mengenai struktur organisasi, data-data guru dan identitas siswa”.
F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dalam suatu kegiatan penelitian merupakan faktor penting yang harus dilakukan seseorang peneliti.
Penggunaan prosedur pengumpulan data ini sifatnya lebih disesuaikan dengan analisis kebutuhan dan kemampuan peneliti. Jenis teknik pengumpulan data terbagi atas dua yaitu sebgai berikut:
1. Penelitian langsung yaitu penelitian yang dilakukan dengan jalan mengadakan penelitian langsung dilapangan (field research).
2. Penelitian tidak langsung yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara tidak langsung kelapangan yakni dengan jalan mengkaji materi-materi yang berkaitan dengan masalah yang dibahas.
Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah jenis penelitian Field research yaitu metode yang digunakan dalam pengumpulan data dengan jalan mengadakan penelitian langsung di lapangan terhadap masalah yang erat hubungan dengan judul, dalam hal ini digunakan teknik sebagai berikut:
1. Observasi, digunakan dalam pengumpulan data dengan cara mengadakan pengamatan terhadap masalah-masalah yang diperlukan untuk dicatat secara sistematis agar diperoleh gambaran
yang jelas dan memberikan petunjuk untuk memecahkan masalah yang diteliti.
2. Wawancara sering pula disebut kuisioner lisan, yaitu sebuah dialog yang dilakukan oleh peneliti untuk memperoleh informasi dari orang yang diwawancarai .
3. Dokumentasi, yaitu mencatat semua data secara langsung dari literatur dan informasi yang berkaitan dengan masalah penelitian.
4. Triangulasi, digunakan untuk memperkuat data yang diperoleh dengan menguji kredibilitas data melalui berbagai teknik pengumpulan data dan berbagai sumber data.
G. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Pengolahan data pada penelitian ini, peneliti menggunakan sensor data yaitu sebelum data diolah baik melalui kuesioner ataupun interview perlu diadakan sensor terhadap data atau informasi-informasi yang tidak penting atau tidak relevan dengan tujuan penelitian ataupun dengan melengkapi data-data yang dianggap kurang lengkap.
Menurut Bogdan dan TaylorLexy J. Moleong (dalam 2004: 126) mendefinisikan analisis data “sebagai proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu”.
Proses pengumpulan data dan analisis data pada prakteknya tidak mutlak dipisahkan. Kegiatan itu kadang-kadang berjalan secara
bersamaan, artinya hasil pengumpulan data kemudian ditindak lanjuti dengan pengumpulan data ulang. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan selama di lapangan dan setelah proses pengumpulan data.
Keperluan untuk menganalisis data dalam penelitian ini digunakan teknik analisis sesuai dengan sifat dan jenis data yang ada, serta tujuan dalam pembahasan dalam skripsi ini, yaitu dengan menggunakan analisis data deskriptif, yaitu cara menganalisa dengan pemikiran logis, teliti, sistematis terhadap semua data yang berhasil dikumpulkan dengan mengidentifikasi, kategorisasi dan interpretasi.
Proses analis data dalam penelitian ini mengandung tiga komponen utama, yaitu: Reduksi data (Data Reduction), penyajian data (Display Data), dan penarikan kesimpulan (Verifikasi).
H. Pengujian Keabsahan Data Penelitian
Pengujian keabsahan atau validitas data merupakan pembuktian bahwa apa yang telah didapatkan dari penelitian merupakan kebenaran, menurut Sugiyono (2015: 369) ada 6 teknik yang digunakan untuk mengetahui keabsahan data yaitu:
1. Perpanjangan pengamatan
Perpanjangan pengamatan berarti peneliti kembali ke lapangan, melakukan pengamatan, wawancara lagi dengan sumber data yang pernah ditemui maupun yang baru. Melalui perpanjangan pengamatan, hubungan peneliti dengan narasumber akan semakin akrab, semakin terbuka dan saling mempercayai sehingga tidak ada informasi yang disembunyikan lagi.
2. Meningkatkan Ketekunan
Meningkatkan ketekunan berarti melakukan pengamatan secara lebih cermat dan berkesinambungan, dengan cara tersebut maka kepastian data dan urutan peristiwa akan dapat dapat direkam secara pasti dan sistematis.
3. Triangulasi
Triangulasi diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu.
4. Analisis Kasus Negatif
Analisis kasus negatif berarti peneliti mencari data yang berbeda atau bahkan bertentangan dengan data yang telah ditemukan. Bila tidak ada lagi yang bebrbeda atau bertentangan dengan temuan, berarti data yang ditemukan sudah dapat dipercaya. Bila peneliti masih mendapatkan data-data yang bertentangan dengan data yang ditemukan, maka peneliti mungkin akan merubah temuannya.
5. Diskusi dengan Teman Sejawat
Hal ini dilakukan peneliti dengan melakukan diskusi bersama rekan-rekan sejawat atau dengan pihak terkait yang berkompeten untuk memelihara kevalidan data.Semua ini dilakukan setelah adanya data yang telah berhasil dikumpulkan oleh peneliti.
6. Member check
Member check adalah proses pengecekan data yang diperoleh peneliti kepada pemberi data. Data yang diperoleh oleh peneliti dari berbagai sumber akan dilakukan pengecekan agar data tersebut sesuai dengan fokus penelitian yang dilakukan.
43
HASIL PENELITIAN
A. Deskripsikan Lokasi Penelitian
1. Sejarah Berdirinya SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar adalah Sekolah Menengah Pertama Swasta yang didirikan pada tanggal 07 Januari 1987 berdiri di atas tanah seluas 897 m2. berlokasi di Provinsi Sulawesi Selatan tepatnya di JL.Daeng Siraju No.58 Kelurahan Bara-baraya Utara kec.makassar Kabupaten kota makassar dengan SK Pendirian Sekolah 068/KEP/I06/H/94.17/03/19.
SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar merupakan sekolah yang di bentuk oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah yakni Drs. KH.
Jalaluddin Sanusi kemudian didbentuklah kepanitiaan untuk mengelola sekolah tersebut.
SMP Muhammadiyah 14 Kota makassar bekerja sama dengan MIM 11 Kota Makassar sebagai pemilik gedung yang sah. Awalnya jumlah siswa adalah 376 ruangan 3 pagi/sore.
Sampai saat ini SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar telah mengalami 7 kali pergantian Kepala Sekolah, yaitu :
Tabel 1
Daftar Nama Kepala Sekolah SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
No. Nama Periode
1 Drs. Mandeha Laogi 1987-1990 2 H. Mochtar Jalante.B,BA 1990-1994 3 Prof.Dr. Jamaluddin Patta 1994-1997 4 Drs. Nasir Sarri 1997-2002 5 Drs. Surya Darma 2002-2006 6 Lukman Jufri, S.Pd 2006-2010 7 Lisna S.Ag, S. Pd.I 2010-sekarang
Sumber data : SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar 2015-2016
2. Visi, dan Misi SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar Visi
“Terciptanya Sistem Pendidikan yang Kondusif dalam Rangka Meningkatkan Kwalitas Sumber Daya Manusia yang Beriman dan
Bertaqwa .”
Misi
a. Menerapkan Manajemen yang Transparansi Akuntabilitasi dan Objektif
b. Menerapkan Pembelajaran Secara Aktif, Kreatif dan Menyenangkan Serta Melaksanakan Berbagai Inovasi Pembelajaran
c. Melaksanakan Pembinaan Profesionalisme Guru secara kontinyu
d. Meningkatkan Kwalitas dalam Pelaksanaan Ibadah
3. Personal Sekolah
a. Pemimpin Sekolah dan Wakil
Secara administrasi SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar sekarang dipimpin oleh seorang Kepala Sekolah dan dibantu oleh beberapa staf dengan struktur sebagai berikut:
1) Kepala Sekolah : Lisna, S.Ag, S. Pd.I
2) Wakasek Kurikulum : Nuraeni, S. Ag
3) Wakasek Urusan Kesiswaan : Hertati Duma, SS 4) Wakasek Urusan Kemasyarakatan : Munir, S. Ag, S. Pd.I b. Pegawai Administrasi
Adapun jumlah pegawai administrasi di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar sebanyak 5 orang, yang terdiri atas :
1) Kepala Tata Usaha : 1 orang 2) Pengelola Perpustakaan : 1 orang 3) Ketua Komite Sekolah : 1 orang
4) Bujang : 1 orang
4. Profil Sekolah
a. Identitas Sekolah
1. Nama Sekolah : SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
2. Nomor Induk Sekolah : 40311914 3. Nomor Statistik : 202196008003
4. Propinsi : Sulawesi Selatan
5. Otonomi Daerah :
-6. Desa / Kelurahan : Bara-Baraya Utara
7. Kecamatan : Makassar
8. Jalan dan Nomor : Jl. Dg. Siraju No.58
9. Kode Pos : 90143
10. Telepon : 0411-4664690
11. Status Sekolah : Swasta
12. Akreditasi : c
13. Tahun Berdiri : 1987
14. Tahun Perubahan : -15. Kegiatan Belajar Mengajar : Pagi
16. Bangunan Sekolah : Milik Sendiri a. Jarak Ke Pusat Kecamatan
b. Jarak Ke Pusat Otoda c. Terletak Pada Lintasan
17. Organisasi Peenyelenggara : Lembaga swasta
5. Keadaan Guru
Guru yaitu orang yang berwewenang dalam dunia pendidikan dan pengajaran pada lembaga pendidikan formal. Dan untuk mengajar atau memberi pelajaran terhadap peserta didik. Dalam proses pembelajaran peran guru sangat besar karena mereka sebagai pemegang kendali pada lembaga pendidikan. Guru sebagai pendidik, pembimbing, dan motivator dalam proses pembelajaran. Keberhasilan yang didapatkan oleh seorang siswa sangat ditentukan sejauh mana kemampuan guru dalam melaksanakan tugasnya.
Guru di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar dengan berbagai disiplin ilmu yang dimilikinya telah berusaha menjalankan tugas dan tanggung jawab dalam mendidik siswa dengan sebaik-baiknya. Namun demikian, guru perlu membekali diri dengan berbagai keterampilan dan informasi penting tentang pendidikan sehingga dapat memenuhui kebutuhan siswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan, serta memberi contoh tauladan yang baik bagi peserta didiknya. Karena salah satu dari pembentukan kepribadian seorang peserta didik di tentukan oleh lingkungan sekolah dimana mereka menimba ilmu pengetahuan. Dan biasanya mereka mencontoh pada lingkungan sekitarnya termasuk pendidikan. Untuk mengetahui keadaan guru di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 2
Daftar Guru SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
NO NAMA GURU JABATAN MATA
PELAJARAN 1 Lisna,S.Ag.,S.Pd.I Kepala Sekolah PAI
2 Nuraeni,M,S.Ag Wakasek Kurikulum PAI 3 Hertati Duma, SS Wakasek
Kesiswaan
B.Inggris 4 Sutrisna Wulan
Rauf,SE Guru IPS
5 Sri Iriani,S.PdI Guru BK/BP B.Daerah
6 Kamariah,S.P Guru B.Indonesia
7 Nurhasanah,S.Pd Bendahara/Guru IPA
8 Hj. Ramadiyah Guru /K.TU Kemuh.BTQ
9 Drs. Muhammad Anas Guru PKn
10 Fitrimayasari,S.Pd Guru Matematika
11 Moh Lutfi Tirdin,S.Pd Guru PJOk
12 Idris, S.Pd Guru Matematika
13 Muh. Ikbal S,S.Pd Guru / ADM TIK
14 Islamiyah Mansur,S.Pd Guru B. Indonesia
15 Tati Purmayanti,S.Pd Guru PJOk
16 Rahmawati Guntur Laboran/Guru Kemuh.
17 Iin Anggraini
Muhdar,S.Pd.I Guru B. Arab
18 Hartarita Guru Seni Budaya
19 Hasnah Bujang Sekolah
20 Abdullah Pembina Hisbul
Wathan
21 Muh. Reza Junaz Pembina Tapak Suci
Sumber data : SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar 2015-2016
Tabel 3
Nama Staf Tata Usaha di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
NO Nama Jabatan Alamat
1 Hj. Ramadiyah Kepala Tata Usaha
Abu Bakar lambogo Lr. 17 No. 49
2 Hasnah Bujang Sekolah Jln. Muh.Yamin 3 Muh. Ikbal S,S.Pd Administrasi Jln. Tamara III No. 9 Sumber data : SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar 2015-2016
6. Keadaan Peserta Didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar Keadaan peserta didik di pada tahun ajaran 2015-2016. Jumlah peserta didik keseluruhan sampai saat ini tercatat orang 196.
Tabel 4
Jumlah Peserta Didik di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
NO KELAS L P JUMLAH
1 VII 35 25 60
2 VIII 35 37 72
3 IX 32 32 64
Jumlah 102 94 196
Sumber data : SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar 2015-2016
7. Sarana dan Prasarana
Sarana dan Prasarana adalah seluruh fasilitas yang terdapat di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar menunjang kegiatan dan administrasi sekolah dan pencapaian tujuan proses pembelajaran di sekolah. samping itu tersedianya kegiatan ekstrakulikuler yang dapat memberi manfaat kepada siswa di sekolah tersebut.
Tabel 5
Keadaan Sarana dan Prasarana di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
No. Tempat
Keterangan
Jumlah Baik Rusak
1 Ruang Kepala Sekolah √ - 1
2 Ruang Tata Usaha √ - 1
3 Ruang Guru √ - 1
4 Ruang BK √ - 1
5 Ruang Kelas √ - 3 lokal
6 Ruang Perpustakaan √ - 1
7 Kantin √ - 1
8 Mushollah √ - 1
9 WC/Kamar Kecil √ - 1
Sumber data : SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar 2015-2016
Sarana dan Prasarana yang dimiliki oleh SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar sebagaimana yang terdapat pada daftar tabel di atas, penulis dapat menyimpulkan bahwa sarana dan prasarana yang dimiliki oleh SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar dapat menunjang berlangsungnya proses pembelajaran. Karena sarana dan prasarana sebagaimana yang dimiliki oleh SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar tidak hanya pada fasilitas peserta didik, akan tetapi fasilitas yang baik juga dimiliki oleh para guru, seperti ruangan, dan lain-lain.
B. Peranan Guru Pendidikan Agama Islam dalam Mengatasi Kesulitan Membaca Alquran Peserta Didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar memiliki guru khusus Pendidikan Agama Islam 2 orang dan 1 orang guru BTQ dan didukung oleh latar belakang pendidikan keagamaan yang cukup baik akan memberikan kontribusi yang besar terhadap pelaksanaan pembelajaran yang lebih berkualitas. Kemampuan yang dimiliki dalam membuat perencanaan pembelajaran secara keseluruhan cukup disiplin karena para guru telah membuat dan melengkapi lebih awal perangkat pembelajaran, mulai dari program tahunan sampai dengan perencanaan proses evaluasi. Kedisiplinan ini memberikan dampak positif dalam pengelolaan pembelajaran kedepannya, dengan persiapan ini pula maka
guru dapat mengatasi setiap kesulitan siswa khususnya kesulitan dalam membaca Alquran.
Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar selalu memberikan pelajaran tambahan dan waktu untuk membaca Alquran disekolah maupun dirumah. Peran utama seorang guru pendidikan agama islam dalam mengatasi kesulitan membaca Alquran adalah sebagai motivator, fasilitator, dan evaluator bagi para siswanya karena itu seorang guru pendidikan agama islam menjadi ujung tombak bagi keberhasilan belajar siswa di sekolah. Tugas dan tanggung jawab seorang guru PAI tidak hanya hadir untuk menyampaikan materi pelajaran didepan kelas, tetapi juga dapat mengetahui apa saja kesulitan yang dialami siswa sehingga siswa menemui kesulitan dalam membaca Alquran, dengan adanya peran guru pendidikan agama islam tersebut diharapkan dapat mengatasi kesulitan-kesulitan siswa khususnya dalam membaca Alquran.
Guru di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar banyak bertindak dalam menunjukkan segala perhatian terhadap siswa terlebih yang masih mengalami kesulitan. Guru Pendidikan Agama Islam selalu mengupayakan agar dapat menyelesaikan segala masalah yang dihadapi siswa agar dapat tercapai segala tujuan pembelajaran dengan baik. Guru Pendidikan Agama Islam selalu memberikan nasehat kepada siswa khusunya yang mengalami kesulitan membaca Alquran dan membantu mereka mengenal huruf, cara menyebutkan huruf hijaiyah dengan baik
dan benar sehingga siswa mampu membaca Alquran secara benar sesuai dengan kaidah yang telah ditetapkan.
Dalam hal ini guru pendidikan agama islam (BTQ) menjelaskan pentingnya belajar Alquran, karena Alquran merupakan pedoman dalam kehidupan sehari-hari. Pelajaran agama islam dapat menunjang mata pelajaran lainnya, selain itu dapat menunjang dalam acara perlombaan antar sekolah, dengan seperti itu akan mendorong siswa untuk belajar khususnya dalam belajar membaca Alquran sehingga tidak ada lagi siswa yang mengalami kesulitan siswa dalam membaca Alquran.
Adapun peneliti melakukan wawancara kepada Ibu Nuraeni.M,S.Ag yang mengatakan bahwa :
Dari hasil belajar baca tulis Alquran, dapat dilihat bahwa peranan guru pendidikan agama islam dalam mengatasi kesulitan membaca alquran terdapat kesulitan meskipun kemajuannya belum begitu signifikan dan tidak sepesat yang diinginkan. Kami selaku guru selalu berusaha mengajarkan siswa, memberikan motivasi untuk lebih giat dalam baca Alquran dengan baik dan selalu melakukan evaluasi terhadap siswa yang mengalami kesulitan karena terkadang masih banyak yang kami temukan siswa yang memang masalah utamanya datang dari keberagaman faktor keluarga, lingkungannya dan individunya. ( wawancara tanggal 31 Maret 2016 di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar)
Salah satu bentuk Peranan Guru PAI di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar dalam mengatasi siswa yang sulit dalam membaca Alquran yaitu memberikan tugas dan hafalan surah pendek. Sebelum proses belajar mengajar berlangsung guru selalu memberikan waktu untuk siswa membaca Alquran, dan metode yang digunakan oleh guru pendidikan agama islam dalam menyampaikan materi hafalan dengan
metode driil, yaitu suatu metode dalam pengajaran dengan jalan melatih siswa terhadap bahan pelajaran yang sudah diberikan.langkah yang diberikan guru pendidikan agama islam di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar yaitu memberi contoh terlebih dahulu surah yang akan dibacakan atau dihafalkan, kemudian siswa menirukan bersama-sama.
Secara Umum Peranan Guru Pendidikan Agama Islam dari hasil belajar membaca Alquran, dapat dilihat bahwa peranan Puru Pendidikan Agama Islam dalam mengatasi kesulitan membaca Alquran peserta didik SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar Selama penelitian berlangsung dan melakukan wawancara maka peneliti dapat simpulkan bahwa di sekolah ini guru-guru yang ada khususnya guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (BTQ) sangat memperhatikan siswa dalam hal keagamaan khususnya bacaan Alquran.
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan Ibu Hj.Ramadiyah yang mengatakan bahwa :
Hampir setiap kelas dari kelas 1 sampai kelas 3 mempunyai minat untuk membaca Alquran, walaupun kami telah berupaya agar anak setelah lulus mampu membaca Alquran, tetapi masih ada atau 2 orang dalam setiap kelas yang membacanya masih terbata-bata, membutuhkan bimbingan yang cukup, terkadang kami sebagai pembimbing terbatas oleh waktu di sekolah, dan kami selalu memberikan tugas di luar sekolah agar mereka belajar melalui orang tua, keluarga atau teman sebayanya. Secara porsentase 20% minat siswa yang mengalami kesulitan membaca Alquran untuk memperbaikinya.
( wawancara tanggal 31 Maret 2016 di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar)
Guru menganggap pelajaran ini sangat penting dan harus diterapkan di sekolah begitupun dengan kegiatan-kegiatan keagamaan yang lainnya yang sering dilaksanakan di sekolah.
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti pada objek yang diamati, dapat dikemukakan bahwa guru pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar sangat berperan penting dalam meningkatkan mutu dan kualitas peserta didiknya. dengan adanya pembelajaran BTQ di lokasi yang peneliti temukan terbukti bahwa di dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam diselipkan pula waktu untuk siswa untuk membaca Alquran, agar dapat mengetahui kemampuan setiap siswanya.
Selain itu Guru Pendidikan Agama Islam (BTQ) di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar selalu memberikan penjelasan tentang hukum bacaan tajwid, dan selalu mencontohkan cara membaca Alquran yang baik dan benar bagi siswa yang mengalami kesulitan dalam membaca Alquran.
C. Kesulitan yang dialami peserta didik dalam membaca Alquran SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar
Setiap siswa pada prinsipnya harus bisa membaca alquran, tetapi tidak sedikit dijumpai banyak siswa-siswa yang belum mampu membaca alquran dengan baik. Sehingga, penanaman nilai moral keagamaan pada anak yang seharusnya bisa ditanamkan sejak dini tidak bisa ditanamkan. Adapun kesulitan siswa ketika membaca Alquran, hasil
penelitian tersebut menunjukkan kesulitan yang dihadapi siswa adalah penerapan huruf sesuai dengan makharijul ḥuruf, panjang pendek harakat, tajwid dan berhenti pada tempatnya. Dan yang dilakukan adalah menggunakan metode menyimak, metode privat, metode murottal dan menerapkan membaca alquran setiap hari.
Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar selalu membina hubungan-hubungan yang lebih dekat dan akrab dengan para siswa, serta melakukan dialog langsung. Dalam situasi ini guru pendidikan Agama Islam dapat membantu siswa untuk memecahkan persoalan yang dihadapinya.
Adapun Peneliti melakukan wawancara dengan siswa kelas VII.a (Ariska dan Indah) yang mengatakan bahwa :
Masih ada beberapa siswa yang belum mampu membaca alquran dengan baik dan benar, meskipun bisa membacanya tapi masih terbata-bata, misalnya kesulitan yang biasa dialami yaitu penyebutan huruf hijaiyah,panjang pendek bacaan. (wawancara tanggal 31 Maret 2016 di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar)
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan siswa kelas VIII (Syifa) yang mengatakan bahwa :
Seperti biasanya sebelum pelajaran dimulai guru selalu memberikan waktu untuk taddarus. Dan Kesulitan yang sering dihadapi ketika membaca Alquran yaitu penyebutan huruf antara huruf Syin, sin, dan tsa, yang biasanya huruf Syin disebut sin dan sebaliknya, disamping itu siswa kurang menguasai huruf dan makhraj huruf disebabkan karna malas.
(wawancara tanggal 31 Maret 2016 di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar)
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara dengan siswa kelas IX (Nurul Fatiha) yang mengatakan bahwa :
Ketika siswa membaca Alquran memang masih ada beberapa yang belum bisa membaca Alquran dengan baik, contohnya penyebutan huruf, hukum bacaan, terus kurangnya penguasaan ilmu tajwid, dan hukum nun mati dan tanwin. Dan sebelum siswa membaca Alquran Guru yang terlebih dahulu memberikan contoh bacaan Alquran dengan baik, dan siswa mengikutinya (wawancara tanggal 31 Maret 2016 di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar)
Dari hasil wawancara yang peneliti lakukan ternyata masih ada beberapa yang belum mampu membaca Alquran dengan baik dan benar, dan hasil wawancara antara siswa kelas VII VIII dan IX hampir sama semua jawabannya.
Setelah dijabarkan dalam penyajian data hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis dapat diketahui, bahwasannya dalam proses pembelajaran pendidikan agama Islam khusunya BTQ di SMP Muhammadiyah 14 kota Makassar secara manual, adanya media pembelajaran, yang sesuai dengan materi pembelajarannya (kondisional).
Selain itu metode yang digunakan dalam pembelajaran yaitu memakai metode ceramah, cerita, tanya jawab dan diskusi.
Metode menyimak yang digunakan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar merupakan metode yang
Metode menyimak yang digunakan Guru Pendidikan Agama Islam di SMP Muhammadiyah 14 Kota Makassar merupakan metode yang