BAB II LANDASAN TEORI DAN PENGEMBANG MODEL…9
2.2. Landasan Teori
2.2.3. Dasar Teori Pemungutan Pajak
Pemahaman akan teori pemungutan Pajak berikut ini diharapkan memberikan suatu kesadaran akan pentingnya pemungutan pajak bukan lagi menjadi beban semata, tetapi menjadi suatu kewajiban yang menyenangkan dalam hidup masyarakat, Waluyo dan IIyas (2002:14), menjelaskan bahwa teori-teori pemungutan pajak yang dimaksud yaitu:
1. Teori Asuransi
Perjanjian Asuransi diperluhkan pembayaran premi. Premi tersebut dimaksudkan sebagai pembayaran atas usaha untuk melindungi orang dan segala kepentingan, misalnya kesalamatan atau keamanan harta bendanya. Teori Asuransi ini menyamahakan pembayaran premi dengan pembayaran pajak, walaupun kenyataannya menyatahkan hal hal tersebut dengan premi tidaklah tepat.
2. Teori Kepentingan
Teori kepentingan ini memperhatikan beban pajak yang harus dipungut dari masyarakat. Pembebanan ini harus didasarkan pada kepentingan setiap orang pada tugas pemerintah termasuk perlindungan jiwa dan hartanya, oleh karena itu, pengeluaran Negara untuk melindunginya dibebankan pada masyarakat.
3. Teori Daya Pikul
Teori ini mengandung maksud bahwa dasar keadilan pemungutan pajak terletak dalam jasa-jasa yang diberihkan oleh Negara kepada masyarakat berupa perlindungan jiwa dan harta bendanya, oleh karena itu, untuk kepentingan
perlindungan, maka masyarakat akan membayar pajak menurut daya pikul seseorang.
4. Teori Bakti
Teori Bhakti disebut juga teori kewajiban pajak mutlak. Teori ini berdasarkan pada pendapat bahwa Negara mempunyai hak mutlak untuk memngut pajak. Di lain pihak, masyarakat menyadari bahwa pembayaran pajak sebagai suatu kewajiban untuk membuktikan tanda baktinya kepada Negara, dengan demikian dasar hukum pajak terletak pada hubungan masyarakat dengan Negara.
5. Teori Asas Daya Beli
Teori berdasarkan pada pendapat bahwa penyelenggaraan kepentingan masyarakat dianggapa sebagai dasar keadilan pemungutan pajak yang bukan kepentingan individual atau Negara sehingga lebih menitiberatkan pada fungsi mengatur.
Pencapaian tujuan pemungutan pajak perlu dipegang teguh asas-asas pemungutan dalam memilih aternatif pemungutannya, dengan demikian, terdapat keserasian pemungutan pajak dengantujuan dan asas yang masih diperluhkan lagi, yaitu pemahaman atas perlakuan pajak tertentu.Asas-asas pemungutan pajak sebagai mana dikemuhkakan oleh Adem Smith dalam buku “ An Inquiri into the
Nature and Cause of the Wealth of Nations” menyatahkan bahwa pemungutan
pajak hendaknya didasarkan sebagai berikut (Waluyo danIIyas, 2002:12): 1. Azaz Equality
Pemungutan pajak harus bersifat adil dan merata, yaitu dikenahkan kepada orang pribadi yang harus sebanding dengan kemampuan membayar pajak atau ability to pay dan seuai dengan manfaat yang diterima.
Adil dimaksudkan bahwa setiap wajib pajak menyumbang uang untuk pengeluaran Pemerintah sebanding dengan kepentingan dan manfaat yang diterima.
2. Azaz Certainty
Penetapan pajak itu tidak ditentuhkan sewenag-wenag. Oleh karena itu, Wajib pajak harus mengetahui secara jelas dan pasti pajak yang terutang, kapan harus dibayar, serta batas waktu pembayaran.
3. Azaz Convenience
Kapan wajib pajak itu harus membayar pajak sebaiknya sesuai dengan saat-saat yang tidak menyulitkan wajib pajak, sebagai contoh pada saat wajib pajak memperoleh penghasilan. Sistem pemungutan ini disebut Pay as You Earn.
4.Azaz Economy
Secara ekonomi biaya pemungutan dan biaya pemenuhan kewajiaban pajak bagi Wajib Pajak diharapkan seminimum mungkin demikian pula beban yang dipikul wajib pajak.
Menurut Richard A.Musgrave dan Peggy B.Musgrave dalam buku Public
Finance isn Theory and Practice terdapat dua macam asas keadilan dalam
keadilan pemungutan pajak , yaitu: ( Waluyo dan IIyas, 2002: 12 )
1. Benefit Principle
Dalam sistem perpajakan yang adil, setiap wajib pajak harus membayar sejalan dengan manfaat yang dinikmati pemerintah. Pendekatan ini disebut Revenue and Ex-penditure Approach.
2. Ability Principle
Dalam pendekatan ini disarankan agar pajak dibebankan kepada wajib pajak atas kemampuan membayar.
Masalah Keadilan dalam pemungutan pajak, dibebankan secara lain dalam: (Waluyo dan IIyas, 2002:13)
1. Keadilan Horizontal
Pemungutan pajak adil secara horizontal apabila beban pajaknya sama tas semua wajib pajak yang memperoleh penghasilan yang sama dengan jumlah tanggungan yang sama, tanpa membedahkan jenis penghasilan atau sumber penghasilan. 2. Keadilan Vertikal
Keadilan dapat dirumuskan (Horizontal dan Vertikal) bahwa pemungutan pajak adil apabila orang dalam kondisi ekonomi yang sama dikenahkan pajak yang sama, demikian sebaliknya.
Sebagai perwujudan dari adanya reformasi (Rusjdi, 2007) di bidang perpajakan diantaranya kebijakan perpajakan yang baru dikeluarkan oleh pemerintah, antara lain:
1. UU Nomor 12 tahun `1994 tentang perubahan atas UU Nomor 12 Tahun 1985 tentang Pajak Bumi dan Bangunan.
2. Peraturan Pemerintah Nomor 46 tahun 200 tentang Penetapan Besarnya Nilai Jual Kena Pajak untuk perhitungan Pajak Bumi dan Bangunan.
3. Kepitusan Menteri Keuangan Nomor 1007/KMK/.04/1985 tentang pelimpahan wewenang penagihan PBB kepada Gubernur Kepala Daerah Tingkat 1 dan/atau Bupati/ Walikota Madya Kepala Daerah Tingkat II.
4. Keputusan Mnteri Keuangan Nomor 523/KMK.04/1998 tentang penentuan klasifikasi dan besarnya Nilai Jual Objek Pajak sebagai dasar pengenaan pajak Bumi dan Bangunan.
5. Keputusan Menteri Keuangan Nomor 1006/KMK.04/1985 tentang tata cara penagihan PBB dan penunjukan pejabat yang berwenang mengeluarkan surat paksa.
2.2.4. Pajak Bumi dan Bangunan
2.2.4.1. Definisi PBB
Pengertian Bumi menurut Mardiasmo (2006:295) adalah sebagai berikut: “Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya. Permukaan bumi meliputi tanah dan perairan pedalaman (termasuk rawa-rawa tambak perairan) serta laut wilayah republik Indonesia”.
Pengertian bangunan menurut Mardiasmo (2006:295) adalah sebagai berikut: “ Bangunan adalah konstruksi teknik yang ditanam atau diletakkan secara tepat ditanah dan atau perairan untuk tempat tinggal,tempat usaha dan tempat diusahakan”.
Pajak Bumi dan Bangunan adalah Pajak negara yang sebagian besar penerimaannya merupahkan pendapatan daerah yang diantara lain dipergunakan untuk penyedian fasilitas yang juga dinikmati oleh pemerintah pusat dan pemerintah daerah, oleh sebab itu wajar pemerintah juga ikut membiayai penyedian fasilitas tersebut melalui Pajak Bumi dan Bangunan.
2.2.4.2. Subjek Pajak Bumi dan Bangunan
Beberapa ketentuan khusus tentang siapa saja yang menjadi subjek dalam Pajak Bumi dan Bangunan adalah (Achmad dan Husain, 1997, 434) :
1. Jika suatu subjek pajak memanfaatkan atau menggunahkan bumi dan bangunan milik orang lain bukan karena suatu hak berdasarkan Undang-Undangatau bukan perjanjian, maka subjek pajak yang memanfaatkan atau menggunahkan bumi dan bangunan ditetapkan sebagai wajib pajak.
2. Suatu objek pajak yang masih dalam sengketa pemilikan dipengadilan, maka orang atau badan yang memanfaatkan atau menggunahkan objek pajak tersebut ditetapkan sebagai wajib pajak.
3. Subjek pajak dalam waktu yang lama berada di dalam luar wilayah letak objek pajak, sedang untuk merawat objek pajak tersebut dikuasakan kepada orang atau badan yang diberi kuasa dapat ditunjuk sebagai wajib pajak.
2.2.4.3. Sifat Pajak Bumi dan Bangunan
Pajak Bumi dan Bangunan adalah pajak yang dikenahkan atas harta tak bergerak, maka oleh sebab itu yang dipentingkan adalah objeknya dan oleh karena itu keaadan atau status orang atau badan yang dijadikan subjek pajak tidak penting dan tidak mempengaruhi besarnya pajak, maka sebab itu pajak bumi dan bangunan disebut juga pajak obyektif, walaupun pajak ini merupakan pajak objektif tetapi dipunggut dengan surat ketetapan pajak yang pada perinsipnya setiap tahun dikeluarkan (Vitriani, 2006 : 30 )
2.2.4.5. Ketentuan Umum
BAB 1, Pasal 1 : Umum ( Undang-Undang Pajak : 2007 ) a. Bumi adalah permukaan bumi dan tubuh bumi yang ada dibawahnya.
b. Bangunan adalah konsruksi tehnik yang ditanam atau diletakan secara tepat pada tanah atau perairan.
c. Nilai jual objek pajak adalah harga rata–rata yang diperoleh dari transaksi jual beli secara wajar, dan bila mana tidak terdapat transaksi jual beli, nilai objek pajak ditentukan melalaui perbandingan harga dengan objek lain yang sejenis atau nilai perolehan baru atau nila jual pajak pengganti.
d. Surat keputusan objek pajak adalah surat yang dipergunakan oleh wajib pajak untuk melaporkan data objek pajak menurut ketentuan undang – undang.
e. Surat pemberitauaan pajak terutang yang dipergunakan oleh direktorat jendral pajak untuk memberitahukan besarnya pajak terutama kepada wajib pajak. (Mardiasmo, 2002 : 315-316 )
BAB II, Pasal 2 : Obyek Pajak ( Undang-Undang Pajak : 2007 ) 1. Yang menjadi obyek pajak adalah bumi dan bangunan.
2. Klasifikasi obyek pajak yang sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) diatur oleh mentri keuangan.
Pasal 3 :
(1). Obyek pajak yang tidak dikenahkan pajak bumi dan bangunan adalah objek pajak yang:
a. Digunahkan semata-mata untuk melayani kepentingan umum dibidang ibadah, sosial, kesehatan, pendidikan, dan kebudayaan nasional yang tidak dimaksudkan untuk memperoleh keuntungan.
b. Digunahkan untuk kuburan, peninggalan purbakala, atau yang sejenis dengan itu.
c. Merupahkan hutan lindung, suaka alam, hutan wisata, taman nasional,tanah pengembalaan yang dikuasai oleh desa dan tanah negara belum dibebani suatu hak.
d. Dipergunahkan oleh perwakilan diplomatic.
d. Dipergunahkan oleh badan atau perwakialn organisasi internasional yang ditentuhkan oleh menteri keuangan
(2). Obyek pajak yang dipergunahakn oleh Negara untuk menyelenggarakan pemerintahan, penentuan pengenaan pajaknya diatur lebih lanjut dengan peraturan pemerintah.
(3). Besarnya Nilai Jual Objek Pajak Tidak Kena Pajak (NJOPTKP) ditetapkan 8 juta untuk setiap bangunan
2.2.4.5Subjek Pajak
BAB III, Pasal 4 ( Undang-Undang Pajak : 2007 )
(1). Yang menjadi subjek pajak adalah orang atau badan yang secara nyata mempunyai uatu hak atas bumi, dan atau memperoleh manfaat ata bumi, dan atau memiliki,menguasai dan atau memperoleh manfaat atas bangunan.
(2). Subyek pajak sebagaimana dimaksudkan dalam ayat (1) yang dikenahkan membayar pajak menjadi wajib pajak menurut Undang-Undang ini.
(3). Dalam hal obyek pajak belum jelas diketahui wajib pajaknya,direktur jenderal pajak dapat menetapkan subyek pajak sebagaimana dimaksud pasal (1) sebagai wajib pajak.
(4). Subyek pajak sebagaiamana dimaksudkan dalam ayat (3) dapat memberikanketerangan secara tertulis pada direktur jendral pajak bahwa ia bukan wajib pajak terhadap obyek pajak yang dimaksud.
(5). Bila keterangan yang diajuhkan oleh wajib pajak sebagaimana dimaksud dalam ayat (4) disetujui maka direktur jenderal pajak membatalkan penerapan sebagai wajib pajak sebagaimana dalam ayat (3) dalam jangka waktu satu bulan sejak diterimahnya ssurat keterangan dimaksud.
(6). Bila keterangan yang dimaksud itu tidak disetujui, maka direktur jenderal pajak mengeluarkan surat keputusan penolakan denggan disertai alasan-alasannya.
(7). Apabila setelah jangka waktu satu bulan sejak diterimahnya keterangan sebagaimana dimaksud dalam ayat (4), direktur jendral pajak tidak memberikan keputusan, maka keterangan yang diajuhkan dianggap tidak disetujui.
2.2.4.6. Tarif Pajak
Tarif pajak yang dikenahkan atas obyek pajak adalah sebesar 0,5 % (lima persepuluh persen), yang berlaku secara menyeluruh terhadap obyek pajak macam apapun diseluruh wilayah Indonesia, karena dikenal sebagai tarif tunggal.
2.2.4.7. Dasar Pengenaan dan Cara Menghitung Pajak
BAB 5 Pasal 6 ( Undang-Undang Pajak : 2007 ) 1. Dasar pengenaanpajak adalah Nilai Jual Objek Pajak.
2. Besarnya Nilai Jual Objek Pajak sebagaimana dimaksud dalam ditetapkan setiap tiga tahun oleh menteri keuangan, kecuali untuk daerah tertentu ditetapkan setiap tahun sesuai dengan perkembangan daerahnya.
3. Dasar perhitungan pajak adalah Nilai Jual Kena Pajak yang ditetapkan serendah-rendahnya 20% (dua puluh persen) dan setinggi-tingginya 100% (empat puluh persen) dari Nilai Jual Objek Pajak.
4. Besarnya presentase Nilai Jual Kena Pajak ditetapkan oleh Peraturan Pemerintah dengan memperhatikan kondis ekonomi nasional.
5. Cara Menghitung Pajak : Besarnya pajak yang terutang dihitung dengan cara mengalihkan tarif pajak dengan Nilai Jual Kena Pajak.
2.2.4.8. Tahun Pajak, Saat dan Tempat yang Menentukan Pajak Terhutang
BAB VI Pasal 8 ( Undang-Undang Pajak : 2007 )
(1).Tahun pajak adalah jangka waktu satu tahun takwin. Jangka waktu satu tahun takwin adalah dari 1 Januari sampai dengan 31 Desember.
(1). Saat yang menentuhkan pajak yang terhutang adalah menurut keadaan obyek pajak pada tanggal 1 januari.
(1). Tempat pajak yang terutang:
a.Untuk daerah Jakarta, di wilayah daerah khusus Ibukota Jakarta b.Untuk daerah lainnya, di wilayah Kabupaten atau Kota.